Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


Alfred memberi isyarat agar Natalya tetap duduk, sementara itu ia mengintip melalui badan pesawatnya. Ia memicingkan mata juga membetulkan letak kacamatanya. Di kejauhan, sekelompok prajurit Jerman sedang berjalan ke arah mereka, sebagian di antaranya masih mengacak-acak bangkai pesawat Natalya.

Alfred segera menarik tangan Natalya—yang dengan sigap mengangkat peta yang baru saja mereka dapatkan. Natalya tertatih-tatih di langkah awalnya, ia meringis, sehingga Alfred tak pikir panjang lagi untuk mengangkat tubuhnya. Natalya terlihat ingin marah karena terkejut, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun.

Dengan sisa kekuatan yang ia punya, Alfred melarikan dirinya dan Natalya ke hutan. Menerobos pohon demi pohon, mencari bagian yang sudah mulai menggelap karena rimbunnya vegetasi, menaiki tanah yang agak berbukit, kemudian bersembunyi di balik sebuah batang yang cukup besar. Ia terengah-engah setelah meletakkan Natalya di tanah.

"Seharusnya kau bilang-bilang dulu."

Alfred menjatuhkan dirinya. "Mana sempat memberi peringatan di suasana seperti itu." Dia beringsut untuk bersandar, napasnya masih belum normal. "Berarti berita itu benar ..."

"Selalu ada bagian yang bisa kita percayai dari mata-mata."

"Di tempatmu juga ada?"

Natalya hanya mengangkat bahu.

"Oh, yeah, Soviet dan rahasia-rahasianya. Terima kasih banyak."

Alfred mengamati, Natalya sedikit cemberut. Ia tertawa untuk mencairkan suasana. Bagaimanapun juga, berada di tengah hutan, keadaan kembali gelap seperti mendung berkepanjangan, dan dalam keadaan bahaya, tidak ada yang bisa menghibur selain kita mencoba melakukannya sendiri.

Natalya kembali membuka peta yang ia buat kumal. Dengan cahaya yang seadanya ini, dia hanya bisa memicingkan mata. Alfred mendekat lagi padanya untuk mengamati.

"Tanda X ini apa? Pangkalan prajurit Jerman?" tanya Natalya.

"Dan yang dicurigai." Alfred kemudian melepaskan kacamata dan menggeleng-gelengkan kepala, mengusap pangkal rambut di keningnya yang mulai basah karena berkeringat. "Kota apa yang terdekat dengan posisi kita?"

"Tergantung di bagian hutan Bielovieza mana kita berada." Natalya mendekatkan peta itu ke wajahnya. "Aku hanya pernah mendengar hutan ini lewat cerita-cerita, atau bacaan. Aku tidak tahu banyak tentang Bialowieza—atau dalam bahasa negara asalku, Bielaviezskaja."

"Oh, nama yang pertama itu lebih enak diucapkan." Alfred lantas menjeda sebentar. "Jadi, apa yang kauketahui? Tidak ada rahasia, Natalya, karena kita sedang dalam keadaan darurat."

"Aku pun tidak tahu, sudah kubilang," jawab Natalya sinis. "Kalaupun aku tahu—" Natalya dihentikan tiba-tiba oleh Alfred yang langsung menutup mulutnya, dan laki-laki itu merapat padanya di batang pohon yang sama. Matanya langsung melirik pada Natalya dengan aura ketakutan. Bibirnya memberi isyarat, musuh, sementara itu Natalya hampir-hampir tak mengerti. Alfred menunjuk telinganya, dan memang, tak seberapa lama, terdengar bunyi ranting-ranting yang diinjak.

Mata Alfred mengawasi sekitar dengan waspada. Tak lama, dia luar biasa memucat setelah mendapati sesosok prajurit berjalan dari arah jam satu dari posisinya berada, menyisir sekitar secara garis lurus. Tepat melintasi mereka berdua, tetapi terhalang barisan pepohonan.

Di belakang, terdengar bunyi-bunyian yang sama. Natalya mengepalkan kedua tangannya, matanya turut bergerak-gerak mengawasi seperti Alfred, walaupun tak ada yang bisa mereka lakukan. Natalya mengikuti gerakan orang yang berlalu di depan sana, kadang-kadang menghilang karena pepohonan, sesekali terlihat. Mengecil, menjauh. Lantas tak terlihat lagi. Sekarang ia hanya bisa memasang telinga untuk yang kedua, yang pasti sudah dekat sekali di belakang. Natalya meraih apapun yang bisa ia cengkeram, karena untuk kali pertama setelah sekian lama, ia merasa ketakutan. Entah mengapa, ia tidak ingin mati saat ini. Saat ini bukan saat yang tepat untuk mati. Dia tidak mati dengan cara yang terhormat, cara yang heroik. Mati tertangkap musuh bukanlah hal yang membanggakan di kehidupan selanjutnya.

Namun, yang lebih mengerikan daripada kematian adalah jatuh ke tangan musuh. Bisa saja dia tidak membunuh, tetapi melakukan apapun yang ia mau. Menyiksa hingga mati pun terasa lebih menyenangkan. Natalya benci membayangkannya.

Sekian lama, jejak kaki di belakang itu tak lagi terdengar. Alfred menjauhkan tangannya dari Natalya, merasa sedikit lebih lega.

"Ow, Natalya, tanganku ..."

Natalya hampir melotot. "Maaf," bisiknya, nyaris tak terdengar. Dia sendiri bisa melihat bekas kukunya di telapak tangan Alfred. Sekarang gilirannya yang nyaris kehabisan napas. Kepalanya pusing, kedua pundaknya berat. Sekarang dia baru ingat, dia telah menjalani empat misi secara berturut-turut, hampir-hampir tidak makan. Oh, atau memang sama sekali tidak? Ia lupa pukul berapa terakhir kali ia memasukkan roti ke dalam mulutnya.

Alfred berdiri di sampingnya, nyaris tidak ia sadari. Pandangannya berkunang-kunang, kakinya lemas sekali.

"Ayo. Kita kembali ke sana. Aku masih punya beberapa barang untuk diambil—Natalya! Hei!" Alfred berlutut, mengguncang bahu Natalya. "Natalya! Bangunlah!"

Natalya terkulai lemas di tangannya. Alfred panik, melihat ke kiri dan kanan seolah-olah dia bisa menemukan pertolongan. Ia merasakan kening dan pipi Natalya, tidak panas. Mungkin perempuan ini hanya kelelahan, dia menyimpulkan dengan kepala dingin—atau setidaknya dia berusaha begitu.

Tidak mungkin meninggalkan Natalya di sini sementara ia mengambil perbekalan yang mungkin masih saja tersisa. Lagipula, belum tentu ia bisa menemukan tempat ini lagi. Keningnya berkeringat lagi, sebuah kebiasaan bawah sadar yang terjadi setiap kali ia tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.

Akhirnya, Alfred mempertaruhkan kekuatannya sekali lagi untuk mengangkat tubuh Natalya, dan asumsikanlah dia dapat menuju keluar dari hutan dengan sekali jalan. Dia sendiri hampir kehabisan energi karena hal-hal yang membuat syok, belum lagi perjalanan yang panjang sebelum itu. Maka, dengan kenekatan, Alfred pun mempertaruhkan nasibnya.

Menggendong Natalya tak terasa seberat yang sebelumnya, mungkin karena Natalya lemas karena pingsan, atau Alfred sendiri yang punya kekuatan di saat kepepet. Entahlah, yang jelas, pada akhirnya setelah dia bisa keluar, dia telah mengitar cukup jauh dari jalan masuknya semula. Dan dia tidak lagi memikirkan soal Jerman. Dia terlalu lelah untuk itu, tidak ada ruang di dalam pikirannya. Dengan hati-hati diletakkannya tubuh Natalya di samping pesawat, sementara itu ia mengacak-acak lagi kokpitnya.

Nyaris tidak ada apapun. Tas ransumnya hilang, kokpitnya sangat berantakan, seperti dipukul-pukul untuk dirusak semua komponen atau tombol-tombolnya.

"Jerman brengsek!" teriaknya sambil terjun keluar. Harapan lain adalah pesawat Natalya, tetapi ia lebih tidak yakin lagi. Pesawat Natalya pasti telah diacak-acak lebih parah daripada ini, apalagi dia terjatuh dengan cara yang lebih sial.

Alfred meraba-raba sakunya, menggali ingatan lagi apa saja yang sempat ia selamatkan saat mengambil peta sebelumnya. Hanya ada pemantik api dan sebatang pisau kecil. Sekarang ia malah berharap ia bisa memiliki busur panah dan anak-anak panahnya. Sejenak kemudian ia tahu idenya sangat konyol. Memangnya ia bisa menggunakannya untuk berburu?

Dengan langkah yang lunglai, Alfred pun menuju hutan lagi. Natalya berada di punggungnya, masih terkulai lemas. Seorang tentara telah dididik untuk kelayapan di hutan, sekalian membasmi musuh dan mencari makan, pikirnya, dan ia tidak mungkin menyerah hanya karena tas ransumnya dicuri.

Alfred kemudian menurunkan Natalya di tempat yang cukup padat pepohonannya. Dia mendengar aliran air dari kejauhan, dan tempatnya bersinggah memang tepat. Setelah membuat Natalya berada dalam posisi yang bagus dan tak akan membuat leher atau badannya sakit, Alfred mengamati aliran air yang sempit seukuran parit tersebut. Kalaupun ia bermaksud menangkap ikan, dia tidak punya bahan apapun untuk dijalin sebagai jaring. Mungkin tombak bisa diakali dengan menaruh pisau lipat kecilnya di ujung ranting panjang, tetapi besar di kota membuatnya nol besar dalam hal berburu di sungai. Pelatihan memang diberikan, tetapi bukan berarti Alfred jenius. Ia ingat cerita lama di keluarganya, bahwa dia memang memiliki darah suku asli Amerika. Ia harap ia bisa mengubah secuil darah itu menjadi kekuatan untuk berburu.

Alfred pun bersandar pada batang pohon yang sama dengan Natalya, bahu mereka berimpitan, kakinya berselonjor kaku. Alfred merenung, berpikir keras-keras sampai keningnya berkerut.

Saat itu, seekor tupai lewat. Kurang akrab dengan manusia, ia berhenti dan memandang. Remah-remah biji masih terlihat di sekitar mulutnya. Tanpa tedeng aling-aling, Alfred segera melemparkan pisau kecilnya.

Tepat mengenai perut hewan itu. Tupai tersebut menggelepar-gelepar sebelum akhirnya terbujur kaku; darah merembes pelan dari luka di perutnya. Ketika Alfred menghampirinya, pandangan Alfred mengabur.

"Maafkan aku, tupai kecil." Rasanya pedih sekali melihat kehidupan itu terpaksa diakhiri. Ia telah berdinas perang sekian lama, dan sekarang dia baru merasa benar-benar payah dalam hal memaknai kemanusiaan. Perang itu untuk apa, kalau dia hanya meminggirkan kemanusiaan, padahal yang melakukannya adalah manusia-manusia, yang sebagian besar di antaranya cerdas? Medan perang dan tembakan-tembakan menjadi sangat mengerikan untuk sesaat.

Alfred menguliti tupai itu sambil menghampakan dirinya. Kalau tidak, dia tidak bisa melakukannya sama sekali.

"Bodoh sekali. Kau menangis untuk hal ini. Bahkan Matthew pun akan menertawakanmu," gumamnya pada dirinya sendiri, sambil mencuci daging tupai yang tak seberapa itu.

Alfed menyiapkan api, dikumpulkannya ranting-ranting kering yang menua. Sengaja dia membuat api tak jauh dari Natalya agar perempuan itu hangat. Dengan tongkat yang dibuat seadanya dari ranting-ranting yang lebih besar, ia menaruh daging tupai tersebut di atas api kecil, memutar-mutarnya.

Aroma pembakaran itu membangunkan Natalya. Alfred menyadarinya karena tangan yang terkulai di sampingnya mulai bergerak-gerak.

"Hei. Halo. Selamat ... pagi, mungkin? Maaf, hanya ada daging tupai."

"Uh." Natalya berusaha bergerak, tangannya memegangi kepala. Ia bergumam dalam bahasa ibunya, kemudian membetulkan cara duduknya. "Aku merepotkanmu."

"Tidak perlu minta maaf."

Dengan suara parau, Natalya melawan, "Aku tidak minta maaf padamu."

Alfred tersenyum, akhirnya, setelah cukup lama. "Kau tidak pingsan karena ketakutan, 'kan?"

"Bodoh," gerutu Natalya, "aku menjalani tiga misi berturut-turut sebelum ini ... tanpa makan."

"Gila! Wanita-wanita Soviet memang menge—maksudku luar biasa! Bagaimana cara ibu-ibu kalian mendidik kalian?"

"Ibuku tidak mendidikku," sambar Natalya dingin.

Alfred tertegun, ia berhenti memutar daging tupai untuk memandang Natalya. Mata Natalya diliputi api, tetapi Alfred rasa bukan karena itu ia terlihat garang. "Maaf," hampir-hampir tanpa sadar ia mengatakannya. Kemudian, untuk menutupi suasana yang canggung, ia memberikan daging tupai yang sudah mulai matang. "Untukmu. Maaf kita harus berbagi."

Natalya mengerutkan kening. "Kau mengucapkan terlalu banyak kata maaf dalam satu hari. Aku tidak mengira kau bisa seperti itu."

Alfred, mau tak mau tertawa. "Baiklah. Kita bisa mulai makan sekarang?" Alfred membiarkan Natalya memakan daging tupai yang telah dipotong, yang ditaruhnya di atas daun.

Lawan bicaranya hanya mengiyakan dengan anggukan. Natalya dengan cepat menyambar apa yang ada di hadapannya. Air mukanya mulai berubah ketika ia mulai mengunyah daging. Mereka tidak mengatakan apapun, tidak juga untuk Alfred hingga makanannya tinggal secuil.

"Setelah ini, kita harus pergi ke mana?" Dia membuang tulang-tulang sembarangan.

"Yang kutahu," Natalya berkata sambil mengatup-ngatupkan rahangnya, menemukan bagian daging yang mentah yang sangat keras, "ujung dari hutan ini, di satu sisi, adalah Soviet. Namun, jauh sekali. Lihatlah." Natalya menunjuk pada peta yang dihamparkan Alfred di antara mereka berdua. "Kecuali kau memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di hutan selama berhari-hari, dan naluri navigasi yang baik."

Alfred mengeluarkan suara yang bagi Natalya malah terdengar seperti lenguhan sapi.

"Kalau memperhitungkan tempat jatuh kita ... mungkin kita lebih dekat dengan Polandia."

Alfred menyandarkan punggungnya. Tenggorokan Alfred terasa kering. "Sepertinya kita harus menjawab sesuatu dulu sebelum memutuskan akan pergi ke mana."

Natalya menoleh pelan. "Apa itu?"

"Apa kau masih ingin kembali divisimu?"

Mereka bertatapan, lalu diam. Alfred teringat pada hari-hari yang penuh tantangan, tetapi juga kebahagiaan yang berbeda yang dihabiskannya bersama rekan-rekannya. Dia selalu berada di udara, memandang sesuatu dari ketinggian, mencoba berprestasi, mengenal alam liar dan kerasnya kehidupan perang. Namun, apakah dia benar-benar bahagia dengan semua itu? Dan, jika dia diberikan pilihan lain, apakah dia akan lebih bahagia lagi?

Ia melirik Natalya, yang tampaknya juga bimbang, pandangannya kosong.

"Eh," putus Alfred, "sepertinya kita baru akan menemukan jawaban jika kita menemukan pemukiman, ya?"

"Entahlah."

"Siapa yang tahu?" Alfred membereskan ranting-ranting yang masih menyala kecil di hadapannya, lalu membuangnya dengan cara tersebar. "Mungkin kita hanya harus mencoba. Paling tidak kita harus menemukan pemukiman atau tim medis untuk mengobati kakimu."

"Kau bisa meninggalkanku sendiri di sini."

"Apa?! Tidak mungkin. Tidak bisa—tidak akan."

Pandangan Natalya melayang begitu jauh. "Aku tidak bisa berjalan cepat. Untuk apa kau menungguku? Aku juga bisa berusaha untuk bertahan hidup sebisaku."

Benar juga, pikir Alfred. Dia bisa pergi ke manapun dia ingin, berlari seorang diri, bebas.

"Kita bahkan tidak berada pada pihak yang sama."

"Oh, yeah." Alfred mengangguk-angguk. "Kau Soviet, aku Amerika Serikat. Kita memang berada pada kelompok yang berbeda, tapi tentunya kelompok kita punya kepentingan yang sama."

Natalya melirik.

"Dan, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini. Musuh masih berkeliaran. Kau perempuan, sedang terluka. Tidakkah kau memikirkan apa saja yang bisa mereka lakukan padamu? Mereka mungkin bisa membunuhmu, tetapi itu masih merupakan opsi yang lebih baik daripada mereka melukaimu, memperkosamu beramai-ramai, lalu meninggalkanmu, tidak mati, tetapi daya hidup yang tersisa itu akan menyiksamu seperti selamanya."

"Aku tahu."

"Iya, kau tahu, tetapi kau tidak memikirkannya lebih jauh. Aku akan melindungimu. Setidaknya, walaupun aku berisik, rasa tidak nyamanmu tidak akan semenyiksa apa yang akan dilakukan musuh-musuh kita padamu."

Natalya tak menjawab, Alfred sempat menganggapnya sebagai persetujuan. Perempuan itu bermain-main dengan satu ranting yang masih membara. Dia menggores-goreskannya ke atas tanah, bara itu padam ketika bersentuhan dengan rumput-rumput yang keras dan tajam.

"Apa kau selalu seperti ini?"

"Ha? Maksudmu?"

"Begini." Natalya mengangkat bahu. "Memberi janji. Bertindak seolah pahlawan. Apakah itu sesuatu yang kau anggap benar?"

Alfred berkedip lebih cepat. Dia menangkap sesuatu berkelebat di depan sana, begitu jauh, seperti seekor rusa yang melompat melewati batu, tetapi dia begitu terdistraksi hingga tak punya niat untuk memburunya. "Entahlah. Aku hanya ingin mengatakannya. Karena, tidak mungkin aku meninggalkanmu begini saja, 'kan?"

"Apa karena aku wanita?"

Kening Alfred berkerut. "Berhenti berpikir bahwa aku akan berbuat macam-macam padamu. Kita adalah partner mulai dari sekarang, aku tidak peduli bahwa kau adalah perempuan. Kita sama-sama prajurit. Jangan berpikir bahwa aku melihat ini dengan cara sebaliknya."

Natalya memandang Alfred, untuk beberapa saat tatapannya nampak kosong, kemudian bola matanya berputar-putar, seperti berlari menghindari tatapan Alfred. Dia hampir-hampir mundur saat Alfred tiba-tiba tertawa.

"Menjadi pahlawan adalah cita-cita masa kecilku, tahu. Pahlawan itu keren. Tidakkah kata-kataku tadi keren—mencerminkan seorang pahlawan?"

Natalya memukul lengan Alfred sekuat yang ia bisa. Tupai kecil cukup memberinya energi untuk memberi pemuda itu pelajaran. Dia semakin marah karena Alfred kembali tertawa sambil mengusap-usap lengannya, benar-benar tidak terpengaruh pada ancaman. Natalya mendengus lalu membuang muka.

Tidak terpengaruh ancaman, ya, Natalya menekankan itu pada mentalnya sendiri. Kalau begitu, Alfred cukup bisa diandalkan. Setidaknya dia bukan orang yang akan mati dengan cara yang mudah, atau paling tidak, dia akan mati dengan cara yang cukup bernilai. Natalya bisa membaca bahwa jikalau Alfred ditembak diam-diam, dia akan menerjang balik meski nyawa sudah berada di tenggorokannya. Ia mulai mempertimbangkan untuk berada di sini lebih lama dengan pemuda itu. Tidak buruk juga bersama orang yang menganggap dirinya sebagai pahlawan, walaupun mulutnya besar, dia kelihatannya cukup bisa diandalkan di banyak kesempatan.

"Baik, kita harus pergi sekarang," Natalya mengakhiri pembicaraan itu dengan nada tegas. Dia berdiri, bertopang pada pohon, dan kakinya yang tidak cedera menginjak-injak bekas api. Dengan kasar dia meraup tanah yang terpanggang, kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Ia juga mencabut sebagian rumput, menimbunnya pada bagian yang tadi terbakar.

"Wow, aku tidak tahu bahwa hal itu adalah sebuah cara."

"Jika mereka tidak cukup pintar, mungkin mereka akan mengira ada rusa bodoh yang merumput dengan cara yang tidak biasa di sini."

Alfred mengelus dagunya, "Kuanggap itu cara pertahanan diri yang baik. Oke—baiklah, sekarang kita ke mana?"

"Ke manapun angin menuju." Natalya memandu, tertatih-tatih pada awalnya, tetapi dia cukup kuat untuk berjalan sendiri.

"Hei, serius, jika kau tidak sanggup lagi, kau bisa minta aku menggendongmu."

Natalya mendecih. "Mengapa harus? Tidak perlu."

"Yah, karena aku percaya kau akan melakukan hal serupa jika hal yang terjadi adalah sebaliknya."

Natalya harus menoleh untuk memastikan bahwa yang barusan bicara adalah benar-benar Alfred. Pemuda itu nyengir lebar, sampai-sampai suara Natalya tercekat di tenggorokannya. Ia berdeham untuk membuang rasa malu. Sial, pasti ujung telinganya memerah sekarang. Rambut pendek sialan, dia pasti akan melihatnya.

Alfred menyusul Natalya, berjalan di sisinya. "Aku tahu perjalanan ini akan sangat membosankan. Bertahan hidup di hutan sampai kita menemukan desa. Bertemu binatang liar, waspada akan musuh, tidur bergantian, makan daun dan minum air dari pohon atau sungai ... hingga kita menemukan desa. Akhirnya aku tahu pelajaran saat masuk militer itu ada gunanya!"

"Tutup mulutmu. Kau bisa memancing musuh dengan cara begitu."

"Oke ... kalau begitu, bagaimana dengan begini," Alfred berbisik.

Natalya mendesis. Alfred tertawa lagi, tidak berhenti bahkan ketika Natalya memukul lengannya lagi, tetapi tidak sekuat yang sebelumnya.

"Kau pengendali yang baik," tambah Alfred, masih dengan bisikan yang sanga pelan, "akhirnya aku tahu juga manfaat aku dipasangkan dengan seorang penyusun strategi di latihan dasar kesintasan." Alfred lantas berkedip lagi, seperti mendapat sebuah ide. "Jangan-jangan kau adalah penyusun strategi, Nat?"

"Aku adalah yang paling bodoh dalam skuad. Peringkat terbawah. Orang paling keras kepala. Orang yang tidak ingin kautemui di dalam sebuah tim."

"Oh, aku adalah orang yang akan orang perebutkan dalam tim. Aku bisa membuat lelucon!"

Natalya begitu menahan diri untuk tidak berkomentar lelucon sampah, tetapi dia merasa harus menyembunyikannya untuk sementara ini.

"Kita pergi ke arah mana?" tanya Alfred sambil mengamati peta.

"Kalau asumsiku benar tentang lokasi kita, diperhitungkan dari perkiraan posisi terakhir pesawatku dan pesawatmu, kita sebaiknya menuju arah barat daya. Lihatlah di petamu, ada desa atau kota di sisi barat daya, yang terdekat. Cara teraman adalah dengan menyisir hutan, tidak terlalu dalam, karena alam terbuka membahayakan kita. Dan sebaiknya kau diam saja jika tidak punya ide yang lebih baik."

"Natalya, kau sungguh luar biasa dalam menentukan arah! Aku suka tipe yang seperti kau!"

"Berisik." Alfred pun mengira Natalya akan berhenti, tetapi dia salah. "Aku seringkali menjadi pembawa bom yang harus terbang dalam kegelapan, hanya berpedoman pada suar kecil dari teman-temanku di depan, yang bisa saja jatuh kapanpun karena mereka dengan mudah terdeteksi. Aku pernah kembali sendirian, teman-temanku hilang, atau tewas saat bertugas."

"Begitu cara kerja kalian?" Alfred menengok pada wajah Natalya. "Kalau begitu, peranmu sangat mirip dengan penyihir."

"Apakah itu penting? Tutuplah mulutmu sekarang."

"Aaah, oke, tunggu lima menit."

Natalya kira Alfred bercanda, tahu-tahunya dengan perhitungan waktu di dalam kepalanya, laki-laki itu benar-benar kembali bicara.

"Boleh tahu siapa nama belakangmu?"

Berpikir bahwa itu bisa mendiamkan Alfred, Natalya langsung buka mulut, "Arlovskaya. Natalya Alexandrovna Arlovskaya."

"Nama yang manis. Apa kau juga berpikir Alfred Frederick Jones juga begitu?"

Natalya berhenti sebentar, pandangannya menyiratkan seolah ia siap mencincang Alfred.

"19 tahun. Lahir di Arkansas, tetapi orangtuaku lebih suka meninggalkanku di New York. Punya saudara tiri di Kanada, aku punya banyak memori yang bagus di sana, dan saudaraku juga lumayan menyukai rumah kecil kami di Amerika Serikat."

"Kau sedang berusaha menceritakan tentang dirimu sendiri?"

"Memangnya kenapa? Kita adalah partner yang saling percaya, 'kan?"

Natalya mengembuskan napas panjang yang berisik. Alfred hanya tersenyum, menikmati keheningan yang kemudian menjawabnya.

"20 tahun. Lahir di Minsk, tetapi besar di Moskow. Hidupku berubah saat aku tahu bahwa aku adalah adik tiri kakak-kakakku. Ayahku mengganggu kestabilan hidup masa kecil kedua kakakku, tapi ibuku juga bukan orang baik."

"Ow, ayahku juga merusak rumah tangganya sendiri. Dia punya dua istri. Dia meninggalkan istri pertamanya di Kanada untuk ibuku, tapi aku juga tak begitu mengenal ibuku dengan baik."

Natalya menelengkan kepala, berhenti tepat sebelum melangkahi sebuah akar yang besar. Alfred mengabaikan tatapannya, melewati akar itu duluan, kemudian memegang tangan Natalya untuk membantunya melangkah dengan sedikit mengangkat tubuhnya. Ia tidak tahu Natalya menatapnya sebal karena hal itu.

"Ibu dari kakakmu yang itu?"

"Benar sekali."

"Tapi kelihatannya kau tidak punya masalah dengan saudaramu."

"Memang tidak. Yang punya masalah adalah orangtua kami. Kami tidak boleh. Dia adalah satu-satunya harapanku. Satu-satunya orang yang kupunya saat itu. Tuhan, lindungilah Matthew di manapun dia berada. Amin."

"Dia juga sedang berdinas?"

"Hm-mm. Namun karena identitasnya masih merupakan warga Kanada, dia ikut wajib militer di bawah Inggris. Susah sekali mengontaknya. Bagaimana dengan saudara-saudaramu?"

"Hubungan kami baik-baik saja." Namun ia secara tak sadar mengangkat bahu. "Mereka sedang berdinas juga. Aku tidak tahu di mana mereka berada."

"Perang memang penghancur persaudaran, ya. Kita bahkan tidak tahu mereka masih hidup atau tidak."

Natalya menelan rasa pahit yang tiba-tiba naik ke mulutnya. "Ya."

"Tapi setidaknya aku tidak benar-benar sendirian kali ini."

Natalya mengabaikan Alfred yang menoleh lagi pada wajahnya. Jatah energinya untuk bicara sudah habis, ia putuskan untuk diam saja, mengarahkan kompas mentalnya untuk tetap fokus dan menguatkan tubuhnya sendiri.

Mereka berdua berhenti beberapa kali, Alfred juga menawarkan kesempatan tidur untuk Natalya, tetapi ia menolak mentah-mentah. Mereka terus berjalan, hingga Alfred merasa tak yakin karena suasana sekitar menggelap, padahal ia yakin ia tak salah menentukan waktu.

"Hanya hutannya yang bertambah gelap," tanggap Natalya santai.

"Sebaiknya kita berhenti."

"Kita barus aja berhenti kurang lebih setengah jam yang lalu!"

"Natalya, kubilang, berhenti."

Natalya memaku sebentar. Nada bicara Alfred sedikit berbeda.

"Kita sudah berjalan terlalu jauh. Kau tidak sadar batasmu sendiri."

Natalya baru saja membuka mulut, tetapi dia tidak jadi marah karena bunyi berisik yang terdengar tiba-tiba, yang membuat Alfred tertawa keras, kamuflase menutupi rasa malu.

"Kau kelaparan," cetus Natalya, dongkol dan ingin tertawa pada saat yang bersamaan. "Dedaunan ini cukup untukmu." Natalya mengedikkan dagu ke arah atas seraya berjalan untuk bersandar pada pohon yang besar.

"Tidak ada acara berburu, nih?"

"Berhentilah memikirkan daging sekarang. Kau mau berburu pakai apa?"

"Bodohnya aku tidak membawa senjataku."

"Berhentilah berisik." Natalya menjangkau dahan yang paling rendah, dan ia beruntung, karena daun-daunnya padat sekali di ranting-rantingnya. Ia memetik beberapa lembar, menyuapnya tanpa masalah.

Alfred menirunya, mau tak mau. Wajahnya berkerut-kerut pada kunyahan awal, tetapi pada akhirnya dia mulai terbiasa.

Natalya menikmati makan sorenya dalam keheningan, ia tampak begitu puas dengan keadaan, hingga ia menambah porsi daunnya beberapa kali.

Tiba-tiba Alfred meledak, "Serius! Aku tidak tahan kalau begini terus!" Ia membanting ranting yang ia mainkan sedari tadi. "Aku harus banyak bicara! Aku tidak bisa diam lama-lama."

Natalya, seolah telah memrediksinya, hanya memutar bola mata.

"Ayo kita cerita beberapa hal. Atau, kau mendengarkan ceritaku. Terserahlah. Asal jangan hanya suara-suara serangga dan suara aneh itu yang mengganggu telingaku." Alfred pun duduk menghadap Natalya, kakinya bersilang. "Ceritakan padaku, bagaimana bisa kau bisa bicara bahasaku dengan lancar?"

Natalya memetik daun-daun dari ranting bengkok di tangannya, kemudian membuang ranting itu, dengan senang hati memakan berlembar-lembar daun itu dengan sekali suapan.

"Ibuku adalah pengajar yang baik ... seandainya ia mau. Aku hanya belajar lewat buku-bukunya, yang kutemukan sendiri. Dia tak pernah punya waktu untuk benar-benar mengajariku."

"Kau terhitung hebat untuk orang yang belajar sendiri."

"Kakakku bilang bahwa ... kami masih punya garis keturunan dari Inggris. Orang-orang elit yang pernah memerintah Soviet di masa lalu. Mereka berasal dari Inggris, yang mungkin menolongku untuk bisa beradaptasi dengan mudah karena bakat."

"Oh ... rasanya aku pernah mendengarnya dari Matthew, si kutu buku itu ... kaum elit? Mantan Tsar di masa lalu? Yang mana pengikutnya pernah disebutkan Matthew juga, apa, ya namanya ... Tentara Putih?"

Natalya meletakkan telunjuk di depan bibirnya.

"Wow."

"Faktanya, Tsar terakhir memang punya hubungan yang sangat dekat dengan Kemaharajaan Inggris. Tsar adalah sepupu satu kali salah satu raja Inggris, George V."

"Jadi kau adalah keturunan Tsar terakhir?"

"Tidak, bodoh. Dia dan keluarganya tewas dihabisi dalam revolusi."

"Lalu, bagaimana?"

"Ceritanya rumit." Natalya membuat ukiran lagi di tanah, seolah berusaha untuk menggambarkan silsilahnya. "Salah satu anggota, konon ada yang bisa meloloskan diri dari pembersihan karena dia tidak tinggal di istana dan memilih untuk menjadi orang biasa. Kami berasal dari sana, begitu katanya. Entahlah. Namun kurasa mungkin ada benarnya. Kadang-kadang aku merasakan firasat bahwa ibuku memalsukan identitasnya. Merupakan sesuatu yang wajar jika dia adalah bagian dari orang yang pernah dianggap berbahaya untuk pemerintahan yang sekarang."

Alfred tak berkedip hingga beberapa saat, dan Natalya hampir terperangah karenanya. Untung saja dia segera sadar diri.

"Kau, kenapa?"

"Sepertinya ini kali pertama kau bicara panjang lebar begitu!"

Natalya mati-matian menahan hasrat untuk menggampar Alfred. Sayang sekali ia harus menyimpan energi. Perjalanan mereka mungkin masih panjang, dan ia masih dalam masa bertaruh pada dirinya sendiri soal arah. Ia tidak boleh menghabiskan energi untuk masalah tak penting, karena ia cenderung untuk panik saat kelelahan. Kepanikan adalah hal terakhir yang ia harapkan untuk terjadi.

"Sekarang giliranmu. Aku sudah menghabiskan jatahku dalam sekali bicara."

"Yah, seharusnya aku sudah menduganya." Alfred beringsut, duduk bersandar di samping Natalya sampai bahu mereka bersentuhan. "Jadi, begini. Aku punya kakek yang merupakan seorang petualang. Aku sangat menyesali takdir mengapa ayahku tidak sehebat dia. Walaupun kutahu dalam perjalanannya dia pasti telah melakukan banyak hal buruk, tapi dia masih lebih berani daripada ayahku. Aku mendapatkan cita-citaku darinya."

Isyarat mata dari Natalya membuat Alfred meneruskannya. Ia anggap itu persetujuan.

"Aku ingin bebas seperti yang kakekku lakukan di masa mudanya. Hanya Matthew yang mengerti kehendakku. Aku masuk dinas militer dengan berharap aku bisa menjelajah banyak tempat. Bisa dibilang ... aku menganggap perang tidak seperti apa adanya. Aku menggunakannya sebagai jalan pintas untuk tujuanku sendiri. Sepertinya aku salah ... dan aku dihukum dengan cara ini."

Alfred berani bertaruh Natalya menarik sudut bibirnya perlahan, tetapi segera menyembunyikan senyumannya lagi.

"Ah ... apa yang bisa kuceritakan lagi, ya? Apakah boleh termasuk pengakuan dosa?"

Natalya tampak terhibur dengan bagian ini. "Lanjutkanlah."

"Aku pernah nyaris meniduri seorang perempuan, tetapi berakhir menamparnya. Aku tahu itu kasar ... tapi aku juga bodoh. Aku pura-pura mabuk agar aku punya alasan dan tidak dipersalahkan sepenuhnya karena tidur dengannya. Tiga gelas, padahal sesungguhnya ambang batas toleransiku jauh dari itu. Namun ternyata, karena mengira aku benar-benar mabuk, dia berusaha mencuri dompetku, mengeluarkan pisau diam-diam—di saat itulah aku membongkar kedokku. Ternyata dia adalah pencopet! Kurang ajar sekali. Sejak saat itu aku pikir-pikir untuk mencoba mengajak seorang wanita."

Natalya benar-benar tersenyum, tetapi lebih kepada seringai bahagia. "Itu namanya pengakuan kebodohan."

"Yeah, terserah kau."

"Jadi, kau masih perjaka?"

Alfred membuat gerak bibir wow, tanpa suara. Tak menyangka pertanyaan seperti itu bisa meluncur dari bibir Natalya. Ia buru-buru pura-pura tidak heran. "Heh, iya. Sudah kubilang, aku jadi sedikit waspada pada wanita."

"Padaku?"

"Oh, berbeda. Karena kita sama-sama prajurit yang terdampar."

"Kau belum pernah melihat prajurit wanita?"

Alfred tersenyum kecil. "Di Angkatan Udara Amerika Serikat juga ada divisi untuk penerbang wanita, tetapi aku hanya melihat mereka dari jauh. Tidak pernah mengenal satu pun." Alfred kemudian meluruskan kedua kakinya. "Karena kau mempertanyakan hal yang tidak terduga barusan—berarti sekarang giliranku. Hanya ingin tahu. Walaupun mungkin budaya dan kebiasaan kita berbeda. Pernah tidur dengan lelaki?"

Kening Natalya mengerut sedikit. "Seorang laki-laki pernah mengajakku menikah saat usiaku tujuh belas. Awalnya aku mengiyakan, karena saat itu aku sedang dalam keadaan bingung pada hidupku sendiri. Tiga hari kemudian aku mencampakkannya. Sesudah itu aku tak pernah didekati laki-laki lagi."

"Cadas," komentar Alfred.

"Aku yakin saat itu dia memanipulasiku."

"Kau tahu nasibnya?"

"Setahun setelah itu, kudengar dia menikahi seorang perempuan desa. Mana aku peduli."

"Aku suka caramu." Alfred lantas tertawa. "Beberapa temanku pergi ke rumah bordil sebelum berangkat tugas. Kata mereka, bisa jadi kali itu adalah saat-saat terakhir mereka merasakan kenikmatan duniawi, lalu bermainlah mereka bersama wanita."

"Tidak ingin melakukannya juga?" tanya Natalya penuh selidik.

"Sudah kubilang, pengalaman mengatakan segalanya tentang pandanganku soal wanita. Mana aku tahu perempuan di rumah bordil itu akan melakukan apa saat aku lengah? Bisa jadi mereka mengambil seluruh uangku, lalu memotong kakiku agar aku tidak bisa berkutik, dan akibatnya aku tidak bisa pergi keliling dunia!"

Natalya tidak mampu lagi menahan tawa, meski hanya singkat ia merasa puas.

Alfred, di sisi lain, terdiam.

"Kau memang pelit. Mengerikan. Tapi kutebak kau adalah orang kaya, hm. Kau sangat protektif pada uangmu."

Alfred tersadar. "Yang kaya adalah ayahku. Aku mencurinya."

Natalya menyeringai. "Tidak buruk."

"Wah, apakah aku baru mendapat nilai seratus dari seorang Natalya?"

"Bermimpilah," Natalya menyanggah sambil mendengus, "tujuh puluh delapan."

Alfred meniru gaya Natalya berikut seringainya, "Tidak buruk." Kemudian, ia menjeda untuk berdiri mengambil dedaunan lagi. "Bisa ceritakan sedikit tentang saudara-saudaramu?"

Natalya menarik napas, menghelanya lama. "Yekaterina dan Ivan. Kadang-kadang aku merasa tidak pantas untuk mereka. Mereka sangat baik padaku meski aku bukan adik kandung mereka. Apalagi Ivan. Dia seperti pengganti seorang ayah ... tetapi dengan cara yang berbeda, dengan caranya sendiri. Mungkin salah satu alasan mengapa aku tak perlu laki-laki lain adalah karena dia. Aku sudah punya dia sebagai sosok laki-laki yang lebih baik daripada seorang ayah yang tidak berguna."

"Kuharap dia sebaik penggambaranmu." Alfred mengunyah tiga lembar daun sekaligus. Ia teringat pada domba milik tetangganya saat ia kecil, padahal mereka tidak makan daun. Lembaran-lembaran itu membuatnya merasa aneh, perasaan yang sama ketika menyaksikan domba mengunyah jerami, jijik sekaligus heran. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan bertanya lagi, "Kakak perempuanmu bagaimana?"

"Dia terlalu baik untuk diceritakan dengan caraku. Seharusnya itu sudah mengatakan banyak hal."

Alfred mengangguk-angguk. Sesaat kemudian mendongak, sadar cahaya sudah semakin menghilang dari sekeliling. "Sudah saatnya tidur."

"—Tidak."

"Natalya, untuk kali ini, dengarkanlah kata-kataku."

"Aku masih bisa berjalan!"

"Lihatlah kakimu. Bengkak sekali. Kau harus tidur. Tidurmu saat pingsan saja tidak cukup. Cepatlah tutup matamu, kita bisa melanjutkannya di tengah malam buta jika kau sudah mendapat cukup tidur."

Natalya ingin membantahnya, tetapi dengan mendengarkan kalimat Alfred pun, yang tinggi dan nyaring, dia sadar dia sudah tidak punya energi sebesar Alfred bahkan untuk melawan argumennya saja. Natalya pun bersandar pada pohon, mengembuskan napas panjang. "Berjanjilah segera membangunkanku jika kau mengantuk, bahkan jika sedikit saja."

"Tentu."

Alfred meresapi keheningan dengan memandangi dahan-dahan yang sesekali bergemerisik karena angin. Ia masih mengandai-andai, apakah yang sedang ia lakukan jika misinya mulus, ia bisa mencapai markas dengan selamat, dan mungkin dia sekarang sedang bersenang-senang di atas kasur, atau membuat lelucon bersama yang lain.

Di sisi lain ia juga memikirkan Natalya dan apa yang terjadi seandainya dia juga bisa kembali ke markasnya. Natalya masih merupakan seorang sosok kelabu yang belum banyak ia ketahui, tetapi Alfred punya firasat, bukanlah sesuatu yang baik jika Natalya terus berada di skuadnya. Ada suatu hal dalam diri Natalya yang mengatakan bahwa dia berbeda, terkadang dia ingin meminta pertolongan, tetapi dia tidak bisa membuka dirinya lebih jauh. Kompleks sekali.

Ia berpikir terlalu lama hingga benar-benar tidak ada lagi cahaya di sekitar mereka, kegelapan seluruhnya. Ia merapat pada Natalya, merasakan tangannya, kemudian menggenggamnya. Apa saja bisa terjadi di dalam kegelapan malam, apalagi Natalya masih cedera. Ia harus memastikan bahwa perempuan itu aman.

Semakin malam, entah karena sebuah kebiasaan atau hanya naluri, kepala Natalya jatuh ke pundak Alfred. Alfred yang sempat terkantuk-kantuk dan kepalanya nyaris terkulai karena terlelap secara tak sengaja, kembali membuka mata lebar-lebar. Ia bertopang pada kepala Natalya, menekuri kehampaan. Ia mengurungkan niatnya untuk tidur hingga berjam-jam lamanya.

Ia setengah bahagia, setengah kesal ketika Natalya terbangun dan menyuruhnya untuk berganti giliran berjaga. Ia menyayangkan tak dapat melihat wajah gadis itu saat dia tahu dia tertidur sambil bersandar.

Alfred tak bermimpi apa-apa, membuat tidurnya terasa benar-benar singkat, tahu-tahu saat Natalya menggoyangkan tubuhnya, ia sudah melihat secercah cahaya. Saat ia tersadar, posisi tubuhnya dalam keadaan berbaring di tanah, entah bagaimana caranya ia bisa melorot jatuh. Natalya, mungkin dengan nalurinya untuk bekerja dalam gelap, sudah memiliki sebuah tongkat dari dahan yang tadinya menaungi mereka.

"Lanjut?" Alfred meregangkan tubuhnya.

"Mm. Ambillah makanan di atasmu dulu."

Dengan enggan Alfred meraih daun-daun. "Apakah kita sudah bisa keluar dari area yang lebih dalam ini, untuk menyisir tepian hutan saja? Siapa tahu ada satu-dua rumah."

Natalya diam cukup lama, sembari berjalan ia tampaknya berpikir keras.

"Belum. Sedikit lagi."

"Baiklah," jawab Alfred malas sembari mengunyah daun. Ia benar-benar merasa seperti herbivora bertanduk.

Natalya memandunya, kali ini bisa lebih cepat karena tongkat barunya. Alfred masih belum sembuh dari rasa kantuknya, sesekali ia merasa berjalan di udara, sesekali ia melihat binatang di kejauhan, walaupun ia tak begitu yakin.

Mereka berjalan menuju arah yang lebih terang, di mana vegetasi tak begitu padat, dan mereka tak perlu begitu sering menghalangi langkah. Alfred mulai merasa lebih hidup saat mereka menemukan lebih banyak cahaya.

Natalya tiba-tiba berhenti, begitu pula Alfred. Mata mereka melotot.

Arah pukul sebelas, ada sekelompok orang yang mengelilingi tiga tahanan, kaki dan tangan mereka diikat, mata mereka ditutup, lalu berondongan peluru membunuh ketiganya. Beberapa dari mereka meneriakkan kata-kata dalam bahasa yang asing, yang artinya kemungkinan besar buruk dan berbau sumpah-serapah.

Salah satu dari mereka bertemu pandang dengan Alfred dan Natalya.

tbc.