Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Tak ada yang mengomando, tetapi mereka berlari seolah sinkron. Alfred memucat saat di belakang mereka terdengar rusuh, dan ia tahu tembakan itu tak akan berakhir hanya di tiga korban yang dieksekusi tadi. Suasana menjadi semakin membunuhnya saat ia mendengar bunyi tubuh jatuh—Natalya terjerembab karena sebuah akar, dan Alfred dengan cepat kembali.
Ia mengangkat tubuh Natalya, Natalya menggerutu sambil mengaduh.
"Naik ke punggungku!"
"Alfred—"
"Naiklah!"
Natalya berusaha sekuat tenaga mengangkat kakinya, meskipun Alfred telah berjongkok di depannya, masih terasa sulit memanjat tubuhnya.
Alfred berlari seperti kijang ketika Natalya sudah berpegangan erat pada lehernya. Natalya hampir tak mempercayai kekuatan itu—tetapi dia tak peduli pada apapun lagi ketika bunyi berisik di belakang semakin mendekat.
Alfred masuk ke bagian hutan yang lebih dalam, sama seperti tempat mereka melakukan perjalanan sebelumnya. Ia tiba-tiba berhenti di depan sebuah pohon besar, dan tanpa tedeng aling-aling ia memanjatnya.
"Alfred? Apa yang—" tanyanya, serupa bisikan was-was.
"Berhentilah bicara! Jangan ragukan kemampuan peraih nilai tertinggi dalam pelatihan bertahan hidup di hutan!"
Natalya nyaris mencekik Alfred saat pemuda itu memanjat—ia tak mau melihat ke bawah. Kecepatan Alfred memanjat tak dipercayainya. Apakah tubuhnya seringan kapas? Alfred melakukannya seolah tak punya beban. Hingga saat Alfred berhenti, dan Natalya merasakan angin yang berbeda, baru laki-laki itu menyuruh Natalya membuka matanya, masih dengan berbisik,
"Semoga kita aman."
Natalya bisa menaksir ketinggian dengan mudah, tetapi bukan berarti ia masih percaya. Pohon ini setinggi jarak terbangnya, tapi bukan yang terendah. Jarak dengan tanah kali ini adalah jarak yang biasa ia setel sebelum melepaskan bom pada titik-titik target.
Di bawah sana, derap kaki tentara-tentara berseragam hijau gelap semakin dekat, tak lama kemudian satu, dua, tiga orang melewati pohon tempat mereka berada. Yang keempat dan kelima berjalan dengan kecepatan seperti tentara yang berpatroli, memandangi sekeliling dan memeriksa di balik-balik pohon.
"Jerman lagi," bisik Alfred. Ia begitu berhati-hati saat memindahkan tumpuan tangannya di antara dahan-dahan. "Kukira tadi kau sudah tertembak ..." Alfred menoleh perlahan, Natalya menyadari bahwa jarak ini sudah terlalu intim, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa. "... Syukurlah."
Natalya meneguk ludah. "Maafkan kakiku."
Alfred menggeleng, kali ini mengawasi sekitar lagi. "Bukan salahmu."
Natalya melonggarkan pegangannya, tetapi belum berani turun dari punggung Alfred. Kakinya sakit bukan main. Jatuh karena tak stabil dalam berpijak di atas pohon dengan dahan-dahan kecil bukanlah sebuah masalah kecil. Hasratnya untuk hidup malah menyala-nyala di saat seperti ini. Ia merinding memikirkan keputusannya beberapa waktu lalu soal terjun bebas menyambut kematian.
Mereka diam dalam ketegangan sampai-sampai Natalya bisa mendengar dua detak jantung yang beradu cepat. Satu seperti menggedor-gedor gendang telinganya, dan yang lain lagi bisa ia rasakan melalui tangannya. Pegangannya menjadi licin karena leher Alfred berkeringat. Natalya benar-benar takut akan jatuh, tetapi ia tak sampai hati mencekik Alfred lagi. Maka, ia pun menunduk, menyembunyikan wajahnya di tengkuk Alfred, rambut pirang itu tak cukup menggelitiknya.
Ia sempat memikirkan soal aroma yang menjijikkan dari tubuh seorang tentara yang tak punya akses memadai untuk mandi, tetapi bukan itu yang ia temukan. Ia mendapati aroma keringat yang khas, tetapi tidak menusuk, lalu aroma hutan. Aroma lumut, kulit kayu yang basah, dan tanah yang lembap, aroma embun yang tak terjelaskan. Ia tahu persis aroma itu, karena di masa kecilnya ia kerap mendatangi hutan setiap kali ibunya membawanya ke desa untuk bertemu dengan keluarga yang tak begitu ia kenal. Ia tak bisa mengakrabi mereka, maka sebagai penghibur diri dari kebosanan ia lari ke hutan, pagi dan sore.
Alfred tak juga memberinya komando untuk turun. Natalya memutuskan untuk diam saja. Ia juga merasa tak berdaya. Menahan rasa sakit di kaki semakin menghabiskan energinya, dan ia merasakan sebuah luka di sekitar area yang patah. Bagus sekali.
Namun, meski merasa sepayah ini, ia masih lebih takut saat memikirkan soal kematian. Apa yang akan ia dapatkan setelah ia jatuh? Ia akan dihukum, barangkali, karena hidupnya tak diisi dengan hal-hal yang baik, dan ia tidak mati dengan cara heroik. Ia merasa miris karena sekarang ia mengemis-ngemis soal kehidupan, tetapi ia memiliki terlalu banyak penyesalan untuk dirasakan atau diresapi satu per satu.
Matahari telah naik cukup tinggi saat Alfred akhirnya mengembuskan napas yang panjang.
"Kau boleh turun. Hati-hati."
Alfred membantunya untuk duduk pada pangkal dahan, bersandar pada batang pohon.
"Aku sering memanjat ... tapi tidak sampai setinggi ini ..."
Alfred duduk dengan membiarkan kakinya berjuntai, "Sepertinya ini rekor baruku. Kau tidak terlalu berat."
Natalya memutuskan untuk tidak mengomentari hal itu.
"Masih banyak bahaya rupanya." Alfred mengeluarkan pisau lipatnya, kemudian melemparnya ke udara, menangkapnya. Begitu berulang-ulang.
"Tapi kita harus lanjut terus. Paling tidak menemukan sebuah desa untuk berganti baju."
Alfred mendongak, kemudian memandangi sekeliling. "Sepertinya, selalu ada sebuah keberuntungan. Permisi, Nat, aku akan memanjat di atas kepalamu."
Natalya menyadari keadaan. Secara kebetulan Alfred memilih pohon yang tertinggi di sekitar sini. Ia mengizinkan pemuda itu dengan sekali anggukan.
Alfred hanya perlu memanjat sedikit lagi untuk mencapai puncak pohon, sebelum batangnya mengecil dan tidak memberikan ruang lagi untuk dipanjat.
"Yah, tidak terlihat satu pun perkampungan," ucap Alfred dari atas, berusaha sekuat mungkin untuk tidak terdengar nyaring. "Tapi kita sudah dekat dengan tepian. Area bersih, semoga saja."
"Tidak ada tanda-tanda musuh?"
"Mereka sudah pergi, semoga saja."
Natalya benci memikirkan bahwa mereka harus menempuh satu malam lagi untuk bersembunyi, apalagi kali ini di atas pohon, tetapi ia menekan dirinya untuk bersabar.
Alfred pun turun. Dengan hati-hati, ia melangkah melewati Natalya, berusaha untuk tidak menginjak kaki Natalya. Ia menghadap perempuan itu, dengan kedua kaki berada pada sisi kiri-kanan dahan. Ia menarik bagian bawah celana Natalya, mengamati kakinya. Batang kayu yang menjadi penyangga kaki Natalya sudah awut-awutan, perbannya hampir lepas, dan sepertinya ujung kayu itulah yang membuat kaki Natalya terluka saat jatuh tadi.
Tanpa kata-kata, Alfred melepaskan perbannya, ganti membalutkannya pada bagian luka. Kayu barusan diperbaiki lagi letaknya, dan ia menggunakan ujung celana Natalya yang ia potong sebagai penguatnya.
"Bagaimana bisa kau terlihat setenang ini?"
Pertanyaan itu membuat Alfred mendongak, lalu duduk tegak. "Kaupikir aku tidak ketakutan?"
Natalya menggeleng. "Mungkin aku yang terlalu takut sehingga kau terlihat baik-baik saja."
Alfred bergumam, seperti bernyanyi saat menyelesaikan pekerjaannya di kaki Natalya. "Entahlah. Mungkin karena aku belum tiba di ambang batasku." Alfred menyelesaikannya sambil mengangguk-angguk, lebih kepada dirinya sendiri. "Kita harus menunggu," tukasnya, mengalihkan pembicaraan, "dan kita harus membicarakan banyak hal agar tidak bosan."
Natalya berkata seolah tak berpikir, "Katakan tentang ketakutanmu."
Alfred mengubah posisi duduknya, menjadi berjuntai seperti semula. "Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Namun, mungkin, yah, ditinggalkan sendirian. Baik secara harfiah ataupun misalnya kesendirian dalam keramaian. Namun aku jarang sekali merasakannya, karena aku selalu berusaha membaur pada apapun, siapapun."
Natalya menekuk salah satu kakinya, bertopang di atas lututnya. Ia mulai sedikit mengerti. Alfred selalu banyak bicara, dan alasannya tak begitu sulit untuk dimengerti.
"Ketakutanmu?"
Natalya menyeringai pahit. "Kau sudah tahu bahwa hidupku berubah saat aku tahu bahwa aku adalah anak tiri, hm?"
"Hmmm."
"Suatu waktu, bibi kakak-kakakku berkunjung hanya untuk menemui mereka, saat ibu dan ayahku tidak ada di rumah. Ia benci ibuku, lebih-lebih ayahku. Dia mengata-ngataiku."
"Kutebak. Soal posisimu, hm? Dia mengutukmu."
Sorot mata Natalya menggelap saat memandang tanah. "Kurang lebih begitu. Ayahku adalah perusak rumah tangga ibuku dan ayah kakak-kakakku. Sejak saat itu, aku selalu merasa pada posisi yang salah."
"Bukan salahmu."
"Banyak hal di dunia terjadi bukan karena kesalahan kita, tetapi hanya kitalah yang menanggungnya, Alfred."
Alfred tercenung sebentar. "Kurasa aku bisa mengerti."
"Aku selalu takut aku menjadi beban mereka. Aku anak paling kecil. Mereka harus menjagaku. Namun di sisi lain, aku adalah orang yang tak seharusnya berada di kehidupan mereka. Aku takut aku selalu membebani mereka. Oleh karena itu, cita-cita utamaku adalah ... bebas."
"Tapi kau menyayangi mereka."
"Aku terlalu menyayangi mereka sampai-sampai aku terlalu takut aku akan membebani hidup mereka. Mereka terlalu baik."
"Rumit," komentar Alfred, ia masih terlihat santai dengan menggoyang-goyangkan kakinya. "Kita berasal dari keluarga yang hancur, tetapi kisah kita berbeda. Walaupun begitu, aku bisa mengerti posisimu. Rasanya mengerikan sekali dikata-katai. Sudah pernah mencoba menampar mulut kerabatmu itu dengan sepatu?"
Natalya menyeringai, masih tak menatap Alfred. "Aku menyesal tidak melakukannya."
Alfred tergelak, sesaat lupa dengan posisinya yang masih bersembunyi.
Tidak ada yang mereka bicarakan sampai matahari meninggi, hampir melewati ubun-ubun. Alfred sempat menyangka Natalya tertidur karena memejamkan mata, maka ia biarkan saja.
"Kurasa sudah aman. Perlu bantuan untuk turun?"
"Aku bisa turun sendiri." Natalya terlihat segar, meski baru membuka matanya. Ia tak sepenuhnya tidur. "Aku duluan. Bersabarlah."
Natalya menuruni pohon perlahan-lahan, sesekali ia tetap harus menggunakan kakinya yang cedera, tetapi kaki yang lain masih begitu kooperatif untuk diandalkan. Alfred hanya menuruni beberapa langkah sebelum melompat ke tanah dengan mudah. Ia berhenti sebentar sambil memegang bahu Natalya.
"Boleh kita mengandalkan instingku?"
Natalya tampak bertarung dengan egonya selama beberapa saat, tetapi ia mengangguk pada akhirnya.
Alfred yang berjalan lebih dahulu, menuju arah jam dua. Mereka tak banyak bicara. Lebih banyak berhenti, Alfred berulang kali mengecek perban kaki Natalya sampai gadis itu sebal. Sesekali Alfred mempersilakan Natalya berjalan di depan, karena perempuan itu kelihatan kesal setiap kali Alfred menoleh untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. Ia tahu apa yang ia lakukan, katanya, dan ia tak butuh kekhawatiran Alfred yang berlebihan.
Natalya terlihat mungil di hadapannya. Namun, Alfred mulai merasakan pegal pada punggung dan di sekitar bahunya hingga ke pangkal lengan. Ketika ia memikirkannya kembali, ia baru menyadari bahwa aksi nekatnya memanjat pohon sambil menggendong seseorang di punggung itu termasuk ekstrem. Memanjat dengan membawa beban berat memang menjadi bagian dari latihan, tetapi membawa manusia yang cedera adalah kasus yang berbeda.
Omong-omong, sepertinya baru kali ini ia mengamati Natalya lekat-lekat dari belakang.
Rambut pendek platina itu berantakan sekali, kusut terutama di bagian tengkuk. Potongannya kasar. Alfred berfirasat bahwa Natalya mungkin pernah berambut panjang, dan dia tak tahu cara memotong rambut yang benar karena ia membiarkannya panjang secara alami. Alfred mulai membayangkan Natalya yang berambut panjang.
Pasti cantik.
"Hei."
"Apa?"
"Kau pernah memanjangkan rambutmu, tidak?"
"Selalu. Hanya karena dinas militer aku membuat rambutku jadi sependek ini."
"Kau lebih suka yang mana?"
Natalya tak langsung menjawab. "Aku merasa lebih seperti diriku sendiri saat rambutku panjang."
"Wah, aku jadi ingin melihatnya."
Tidak ada jawaban. Alfred melangkah lebih cepat, mengimbangi Natalya. Vegetasi sudah menipis, udara terasa hangat.
Mereka berhenti secara bersamaan.
Sebuah rumah berada di pinggir hutan, asap tipis mengepul dari cerobong asap tunggalnya. Ada dua ekor domba terikat pada pohon yang merupakan bagian dari hutan. Di kejauhan, ada beberapa ekor kuda yang sedang merumput, mereka tidak diikat. Bebas berkeliaran di padang rumput sempit yang dipagari hutan.
Tidak ada kata, mereka sama-sama menuju rumah tersebut.
Pintu depannya terbuka, ada aroma harum yang mengingatkan Alfred pada rumah. Ia dan Matthew pernah memanggang kue bersama, sesaat sebelum kepulangannya ke Amerika Serikat, saat ia sudah terbiasa bolak-balik kedua rumah tanpa pengawasan ayahnya lagi. Saat-saat indah itu tidak sering terjadi dalam kehidupannya.
Alfred mengetuk daun pintu. Tak terlalu lama, seorang pria tua keluar. Pakaiannya lusuh, ada aroma yang tak menyenangkan dari tubuhnya—tetapi di luar itu, penampilannya tak begitu mengecewakan. Wajahnya bersih dari kumis dan janggut, keriput-keriput halus tak mengganggu kewibawaan rautnya.
Natalya buka suara sebelum Alfred sempat berkata-kata. Perempuan itu berbicara lancar dalam bahasa ibunya. Alfred memutuskan untuk diam saja.
Terjadi pembicaraan yang cukup panjang hingga akhirnya laki-laki itu membiarkan mereka berdua masuk, hanya sebatas di ruang tamu yang sangat sempit, dengan meja rendah berkaki timpang. Wajahnya tak terlalu senang saat membiarkan mereka berdua melangkah ke dalam. Alfred bertanya lewat tatapan pada Natalya saat lelaki itu tak melihat, tetapi Natalya menyergahnya dengan sorot dingin. Nanti saja, seolah ia berkata begitu.
Pria itu masuk, meninggalkan atmosfer yang aneh—hanya untuk Alfred. Natalya tampak tenang, atau barangkali itu hanya topengnya, pikir Alfred. Semua bisa terjadi kapan saja, termasuk semua kekhawatirannya, oleh karena itu ia meraba sakunya, memastikan pisau kecilnya masih ada di sana.
Pemilik rumah itu datang lagi, kali ini dengan teko dan sepiring roti. Alfred tak pernah merasa selapar ini dalam hidupnya! Roti itu dingin ketika disentuh, dan aromanya tidak seperti roti yang ia temui, tetapi begitu Natalya bilang ia boleh memakannya, ia melupakan segala kemungkinan. Ia minum air seperti tidak pernah melakukannya selama satu tahun. Roti itu habis dalam sekejap. Masa bodoh dengan kesan jelek di pertemuan pertama.
Terjadi obrolan yang singkat tetapi intens, kalimat demi kalimat dilempar bergantian dengan cepat. Alfred mendengar nada yang tak menyenangkan, tetapi mana dia tahu soal bahasa lokal. Alfred sibuk menjilati ujung jarinya, dan menjumput remah-remah yang tertinggal di atas piring roti. Ia tak peduli bahwa bisa saja setelah ini si Pak Tua akan membombardir tentara manapun yang meminta perlindungan hanya karena ia trauma pada dirinya yang begitu rakus dan tak punya etika. Pak Tua itu masuk sebentar, Alfred hampir-hampir tak menyadarinya.
Dia kembali dengan sepasang kemeja tua, yang untungnya, tidak begitu bau. Kemeja itu diserahkan padanya juga Natalya, ekspresinya datar. Alfred ragu-ragu, tetapi ia memasangnya di atas seragamnya setelah Natalya melakukan hal tersebut. Sekarang mereka sama-sama terlihat seperti petani kurang tidur.
Tiba-tiba saja, Natalya sudah berdiri mengikuti lelaki itu keluar dari rumah. Bingung, ia cepat-cepat merapat saja pada Natalya. Perempuan itu punya apa yang tidak ia punya: kemampuan bicara. Mereka tidak boleh terpisah bagaimanapun caranya.
Tuan rumah membawa mereka mendekati kuda-kuda yang sedang merumput. Dia dan Natalya terus bicara. Natalya memilih satu kuda, mengelus surainya. Kuda itu tak bereaksi apa-apa, ia tetap melanjutkan makannya. Alfred tiba-tiba saja tak bisa menahan hasrat untuk bercita-cita menjadi kuda itu barang sesaat. Setidaknya dia bisa makan enak.
Pada akhirnya, Natalya menyalami orang itu. Alfred mengikutinya meski tak tahu mengapa.
Natalya menggiring kuda itu menjauh, lelaki itu juga kembali ke rumahnya. Alfred tak menunggu lagi untuk memberondong Natalya dengan pertanyaan,
"Apa yang terjadi? Kenapa mesti kuda? Kita akan ke mana? Natalya—"
"Satu per satu, Ceroboh."
Alfred menggerung.
"Aku bilang kita bukan musuh. Aku terluka, kita perlu ke kota untuk obat-obatan. Kita hanya makan daun hingga tiba di sini."
"Dia percaya semudah itu?"
Natalya mengangkat bahu seraya berhenti melangkah. "Katakanlah kita beruntung. Ia mungkin punya lebih banyak rasa kemanusiaan dari yang kita kira. Barangkali ia tak terdampak perang secara langsung, jadi ia tak banyak mempertimbangkan saat akan menolong."
"Tapi rotinya dingin dan hampir basi."
"Tutup mulut dan bersyukurlah!"
Alfred mengalah, "... Oke." Alfred pun mendekati kuda itu, mencoba mengakrabkan diri. "Kau bisa bahasa yang sama dengannya ..."
"Ini bahasa kampung halamanku. Secara geografis, tempat ini cukup dekat dengan kota kelahiranku. Sekali lagi, anggaplah kita memang beruntung."
"Setelah serentetan kemalangan," tukas Alfred sambil memutar bola mata. "Dan kuda ini?"
"Ia bilang banyak kuda yang berdatangan ke sini karena gelombang perang, atau pemukiman yang diserang, dan mereka terlepas begitu saja. Ia kewalahan mengurus kuda-kuda ini. Beberapa sudah mati karena berebut makanan, atau karena stres."
"... Kuda-kuda ini pengungsi?"
Natalya menggerutu dalam bahasa ibunya, lalu menyerahkan kekang kuda itu pada Alfred. "Sekarang, daripada kau banyak bicara, jadilah pengemudi. Kita gunakan ini menuju kota terdekat, arah barat laut."
Air muka Alfred berubah cerah. Tanpa ragu, ia menepuk-nepuk punggung kuda itu dengan keras. Kuda itu terkejut sesaat, tetapi ia tak lari ketakutan. "Aku pernah tinggal di Texas, jangan ragukan aku. Kau bisa naik? Akan kubantu!"
Natalya berusaha sendiri, tetapi Alfred dengan ringan hati membantu mengangkat tubuhnya ke atas punggung si kuda. Dalam hitungan detik, ia pun melompat ke bagian depan, segera memacu kuda itu tanpa berpikir dua kali. "Pegangan yang erat, karena aku menganggap kuda ini pesawatku!"
Natalya hanya sempat berseru gila, lalu Alfred langsung memacu kuda tersebut. Dengan refleks, Natalya memeluk pinggang Alfred erat-erat.
Hutan di belakang sana, yang ia lintasi dengan penuh ketegangan, sangat dingin, Alfred sesekali masih merasakan sensasi itu, ditambah dengan angin yang tercipta karena ia memacu kuda itu begitu cepat. Namun pelukan yang hangat di punggungnya memberikan sensasi yang melawan semuanya. Ia tentu pernah dipeluk, tetapi rasanya tidak seperti ini. Ia merasa bebas sekaligus aman pada saat yang bersamaan. Mirip dengan perasaan yang membanjiri dadanya setiap kali ia lepas landas dengan pesawatnya. Ia tersenyum tanpa ia sadari, dan untuk sesaat, setelah sekian lama, semuanya terasa baik-baik saja.
Natalya, di balik punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat. Ia teringat masa lalu yang hangat sekaligus menegangkan, kilasan-kilasan baik itu bermain di balik kelopak matanya, sampai-sampai ia takut bahwa ini pertanda kematiannya—karena ia pernah mendengar, sebelum mati, kilas balik kehidupan seseorang akan berlalu cepat di depan matanya. Namun mungkin semua ini semata-mata hanya karena ia tak bisa mengendalikan dirinya. Ia melupakan rasa sakit di kakinya. Ia melupakan ketakutannya akan kematian. Ini petualangan yang baru, dan rasanya ia bisa merasa bersemangat lagi.
"Apa aku terlalu cepat?"
"... Apa?"
Alfred mengulangi pertanyaan yang sama.
"Tidak—begini tidak apa-apa," ucap Natalya, berusaha berteriak tepat di samping telinga Alfred. Pemuda itu tampak terkejut sambil mengangkat bahunya secara refleks. "Terlalu pelan bisa membuka kesempatan untuk kita tertangkap!"
Alfred melaju lagi, hanya untuk berhenti tiba-tiba di samping sebuah pohon besar. Kuda itu meringkik ketika Alfred menarik talinya, dan di belakang Natalya terdengar seperti marah, tetapi dalam bahasa yang tak Alfred mengerti. Ia memilih mengabaikannya, kemudian terjun dan melepaskan kemeja luarnya.
"Apa yang kaulakukan?"
"Seragam. Buang seragammu. Paling tidak kita membuang sedikit identitas untuk lebih aman."
Natalya memandangi Alfred yang melepaskan jaket penerbangnya, lalu kemeja seragamnya yang sudah kotor itu. Namun anehnya, ia tetap memasang kembali jaket tersebut, ditutupi oleh kemeja pemberian si tuan rumah.
"Kau tidak membuang jaket itu."
Alfred melemparkan kemeja seragamnya ke balik pohon. "Jaket ini punya banyak kenangan. Aku keberatan membuangnya. Paling tidak jika ditanyai nanti, aku bisa menjawab aku menemukannya di suatu tempat. Jaket ini akan menimbulkan lebih sedikit kecurigaan."
Natalya ingin membantahnya, tetapi urung melakukannya.
Alfred memandangnya sebentar, dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Oke, karena kau akan kesulitan untuk turun dan naik, bukalah pakaianmu di atas sana. Aku akan bersembunyi. Cepatlah lakukan, sebelum ada yang lewat."
Natalya menggerutu lagi, kali ini Alfred dapat mengerti tetapi tak begitu mendengar kata-katanya, karena ia dengan segera berlalu menuju balik pohon.
Setelah cukup lama ia bersembunyi, memandangi padang pohon-pohon yang jarang, yang tak juga bisa disebut hutan, sebuah kemeja dilemparkan ke sampingnya. Ia tertawa kecil.
Di atas kuda, Natalya sudah menunggunya dengan wajah datar.
"Heh. Cepat juga," komentar Alfred sambil menaiki kuda pelan-pelan, memikirkan Natalya yang bisa saja terkena bahaya jika ia melakukannya dengan terburu-buru.
Natalya tak menanggapi, Alfred pun kembali memacu si kuda. Ia tertawa dan berteriak seperti koboi selama beberapa kali, ia seolah kembali berada di pesawatnya. Mereka berkuda hingga berjam-jam tanpa berhenti, hingga matahari mulai meluncur ke barat, dan mereka mulai melihat satu-dua orang berkeliaran. Beberapa dengan gembala, beberapa lagi tampak keluar dari hutan yang jarang-jarang. Desa sudah di hadapan mata. Alfred memelankan kudanya, Natalya pun melonggarkan rangkulannya. Terasa ada yang hilang bagi Alfred.
"Baiklah, kita tuntun saja tuan berkaki empat ini." Alfred benar-benar berhenti. "Lebih ramah untuk penduduk sekitar. Kau bisa turun sendiri?"
Natalya memilih untuk tidak keras kepala, ia mengulurkan tangan pada Alfred. Alfred menyambutnya, menolong perempuan itu untuk turun.
"Dengar. Aku punya rencana," tukas Natalya tanpa tedeng aling-aling, seketikanya ia mendarat, berbisik di depan telinga Alfred saat ia masih menggenggam tangan lelaki itu sebagai bantuan. "Kau, jangan bicara kecuali kuizinkan. Tidak ada bantahan. Aku sedang berusaha dengan caraku agar kita mendapat pertolongan."
"Oh," Alfred, setengah kagum setengah mengaduh, "kau sudah melakukannya di rumah pemilik kuda tadi!"
"Maka biarkanlah aku melakukannya lagi," bisikannya penuh nada geram, seperti macan yang siap menerkam, "kau sudah melakukan banyak hal. Jangan halangi perempuan untuk jadi pahlawan." Perempuan itu pun menjauh.
"Heeei, aku tidak bermaksud merendahkan begitu!"
"Dimulai dari sekarang, diamlah!"
Alfred, meski sebal, berusaha untuk menurut. Ia hanya berkomat-kamit untuk sumpah-serapahnya. Ia membiarkan Natalya satu langkah di depan, berjalan menuju perkampungan yang sudah berada di depan hidung mereka.
Tidak ada seorang pun yang nampak curiga, paling-paling sebagian dari mereka hanya mengamati kuda yang menyeruak di kesibukan warga.
Alfred tidak mengerti sebagian besar pembicaraan orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka menggunakan bahasa yang terdengar berbeda dengan pemilik kuda sebelumnya. Alfred tak tahu bagaimana harus menggambarkannya.
Mereka berpapasan dengan seorang pemilik kuda, yang juga menggiring peliharaannya tersebut. Natalya menghentikannya, berbicara dengan cara yang sama dengan orang-orang itu. Sesekali dia berhenti, menggambarkannya dengan gestur tangan meski mereka sama-sama tahu hal itu tak berguna. Namun cara Natalya berbicara masih membuat Alfred terperangah. Sebenarnya ada berapa bahasa yang mampu diucapkan oleh gadis ini?
Pernah ada kabar yang sekelebat berlalu di antara prajurit Sekutu, teman sejawatnya; bahwa jangan sekali-kali meremehkan mata-mata Soviet. Entah siapa yang menciptakan kabar itu—Alfred awalnya mengira hal tersebut hanyalah ancaman, tetapi tuduhannya sendirilah yang ternyata omong kosong. Jangan-jangan Natalya adalah bagian dari skuad mata-mata—dan Alfred merupakan salah satu objeknya? Satu-satunya yang menenangkan Alfred di detik berikutnya ia mendapatkan penyadaran tersebut adalah, Amerika dan Soviet berada dalam kubu dan kepentingan yang secara garis besar sama.
Pemilik kuda itu mengedikkan dagu ke arah belakang bahunya. Natalya mengangguk. Alfred gatal sekali ingin berteriak, kalian membicarakan apa, sih? Perjodohan kuda? Namun semesta beruntung karena pemuda itu masih punya lebih banyak kontrol terhadap dirinya sendiri.
Alfred mengekor saat Natalya hanya berlalu saja tanpa berkata apa-apa. Keramaian desa mulai semakin padat, dan Alfred yakin mereka mengarah menuju pasar. Perutnya tidak lagi bergemuruh ganas, tapi ide berbelanja cukup menggelitiknya. Ia benar-benar rindu makanan yang dinikmati dalam suasana nyaman.
Natalya menghampiri seorang yang berbicara cepat pada seorang lelaki tua lain. Yang dihampiri Natalya itu memegang sejumlah uang dan ... seekor kuda juga. Alfred mulai muak dengan kuda dan berharap ia bisa menyate salah satu dari mereka—apalagi jika ia harus berhadapan dengan kuda satu kali lagi.
Perempuan itu menghela pembicaraan dua lelaki tersebut. Alfred memutar bola mata. Tentu saja mereka melakukannya. Ada perempuan manis di sini yang meminta bantuan.
Manis. Alfred mengulanginya di dalam hati. Memang, secara diam-diam, Alfred mengakui hal itu. Natalya bukanlah perempuan yang pesonanya bisa diremehkan. Ia pemberani, keras kepala, sekaligus cantik. Ia memang berbahaya. Khas Soviet sekali. Alfred merasa bangga sekaligus takut bersama-sama gadis ini dalam pelarian mereka. Namun bukan berarti Alfred akan mengakui hal-hal ini nyaring-nyaring.
Alfred memutuskan untuk tidak menyimak pembicaraan itu. Hal itu berpotensi untuk mengundang rasa sakit kepala. Ia sudah muak dengan kuda, jangan pula ditambah oleh hal-hal yang tak bisa dimengertinya.
Ia memusatkan perhatian pada pasar. Di sini, orang-orang tampak tak begitu terganggu oleh perang. Para ibu membawa anak-anak mereka berjalan-jalan, sebagian membawa belanjaan dalam jumlah banyak. Barangkali ada perkebunan di sekitar sini, atau tempat ini semata-mata tak tersentuh Jerman. Alfred merasa lega untuk mereka, tetapi ia yakin tak selamanya hal ini bertahan. Keadaan ini sangat rentan.
Alfred tak ingat kapan terakhir kali ia menjalani hidup yang damai seperti orang-orang ini. Ia tak pernah pergi berbelanja, ia tak pernah memiliki masa lalu yang menyenangkan dan cukup berkesan di tengah-tengah keakraban sebuah desa yang hangat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sekolah, tetangga, rumah, tetangga, sekolah, dan kampung halaman kakaknya, Matthew.
Natalya menyentakkan tangannya. Alfred kembali dari alam masa lalu. Natalya tak mengatakan apa-apa, tetapi membawanya pergi dari sana.
Alfred terlalu paham untuk tidak bertanya. Walaupun begitu, ia sudah cukup muak. Natalya sebaiknya segera mengatakan sesuatu sebelum malam tiba, atau ia akan lepas kontrol.
Kelihatannya hari, menurut pengamatan Alfred, memang sudah menjelang malam, tetapi masih cukup terang untuk mengenali wajah-wajah orang. Namun saat mereka bersembunyi di atas pohon sudah terasa seperti berhari-hari yang lalu.
Tak terlalu jauh dari sana, ada sebuah rumah. Tumpukan jerami memenuhi sisi sampingnya. Alfred punya firasat jelek, tetapi ia tetap mengikuti Natalya masuk ke samping rumah, melewati tumpukan jerami, menuju sebuah pintu yang terbuka setengah.
Benar saja firasat jelek Alfred.
Kandang kuda.
Ada tiga ekor kuda yang berada di balik palang-palang. Kandang itu tertutup dan gelap, cahaya hanya datang dari pintu utama dan celah-celah kecil di atas, dekat atap, tepat di atas kepala kuda-kuda itu. Alfred, mengetahui bahwa tak ada siapapun lagi di sekitar, mengeluh keras-keras,
"Kuda lagi!"
Natalya tak menghiraukan. Ia mengambil tempat di depan sebuah kandang yang kosong, di samping jerami yang dibuat membentuk balok. Ia menyelonjorkan kaki, mengembuskan napas lega, seolah berada di rumah.
"Natalya!"
Natalya menelengkan kepala sembari menepuk tanah di sampingnya. "Anggap saja seperti di rumah."
"Demi Tuhan, ini kandang kuda!"
"Memangnya apa lagi? Kau ingin sebuah hotel? Sadarilah siapa dirimu!"
Alfred ingin membantah, tetapi yang terlihat dari dirinya hanyalah gestur-gestur tangan tak jelas, yang berakhir pada dirinya yang melangkah marah dan memukul tiang kayu—namun akhirnya, memang tak semua orang bisa memiliki banyak pilihan. Ia mengempaskan dirinya di sisi Natalya.
"Oke, baiklah. Terima kasih atas kemampuan bahasamu."
Ringkikan kuda menyela. Alfred belajar untuk mengendalikan diri.
"Bahasa apa itu tadi? Berbeda dari yang di rumah pemilik kuda—kurasa. Ya?" Alfred mencari topik lain untuk dibicarakan, dengan tujuan menghindarkannya dari mengutuk kuda-kuda lagi.
"Polski."
"... Apa?"
"Polandia," Natalya menjawab ringan. Seolah bukan hal sulit.
"Ada berapa bahasa yang bisa kauucapkan?"
"Jangan menghitungnya. Pertimbangkan masa laluku sebagai jawaban: aku tidak pernah bersekolah formal dengan benar. Aku menghabiskan waktu di rumah."
"... Wow?"
"Reaksi yang biasa. Itulah alasan kenapa aku selalu di peringkat terbawah dalam kemiliteran."
"Tidak selalu. Aku bertaruh."
Natalya memutuskan untuk menyimpan jawabannya sendiri.
"Apa rencanamu setelah ini?" Alfred memainkan tali sepatunya. Tidak ada pekerjaan yang berharga yang bisa ia lakukan selain mengagumi benda itu, yang setidaknya mengamankannya dari kehilangan alas kaki sebagai pelarian. Selalu ada cara untuk berterima kasih.
"Ada, tapi—entahlah. Kau?"
Alfred mengerjap. "Oh—tentu saja. Temukan rumah sakit untuk kakimu!"
"Itu nomor dua. Yang terpenting adalah kita menemukan tempat untuk beristirahat." Natalya membuat dirinya nyaman dengan bersandar. Sesuatu yang tak bisa dilakukannya dengan tenang selama beberapa hari. "Kita perlu waktu untuk menyembuhkan mental. Setidaknya kita aman di sini untuk beberapa hari. Aku hanya memikirkan soal itu."
"Oh, yeah, sangat wajar untuk orang yang kelelahan." Alfred melakukan hal yang sama, dan ia berterima kasih lebih tulus lagi daripada yang ia lakukan pada si tali sepatu. "Apa yang kaukatakan hingga kita diperbolehkan menginap di tempat mewah ini?"
"Kubilang kita pengungsi dari desa sebelah yang hancur karena penarikan mundur tentara Jerman. Kita butuh waktu untuk beristirahat, kemudian mencari tumpangan ke Warsawa. Pemilik kandang ini memperbolehkan kita untuk menginap, truk tumpangan yang biasanya membawa barang datang dua hari sekali—atau bisa tiga atau empat, tergantung kondisi."
"Kau sungguh-sungguh ingin ke Warsawa."
Natalya menggeleng. "Tidak juga. Hanya alasan tambahan."
"... Yah, tapi itu bisa dipertimbangkan. Kita nikmati istirahat saja dulu," Alfred terdengar pasrah.
Setelah jeda cukup lama, Natalya mengejutkan Alfred yang sedang kosong pikirannya. "Satu lagi. Kuberitahu agar kau jangan terkejut. Aku tidak menerima protes."
"Apa itu?"
"Aku menyebut kita sebagai suami-istri," Natalya mengakhiri kalimatnya cepat-cepat, kemudian berbaring, punggungnya menghadap Alfred.
Alfred kehabisan kata-kata. Natalya sudah memejamkan mata, entah untuk berpura-pura atau memang dia sudah terlalu lelah.
Kalau dipikir-pikir, tempat ini memang jauh lebih baik daripada hutan yang tak aman, tak tersedia makanan, dan penuh halang-rintang. Tentu saja Natalya berbahagia atas hal ini. Maka Alfred pun berusaha untuk berada di posisi Natalya.
Ia akhirnya juga berbaring, menatap langit-langit hingga terlelap.
Alfred terbangun karena angin kencang yang menyusup lewat sela di antara dinding dan atap, yang berisik sekaligus dingin. Ia butuh beberapa detik hingga menyadari di mana ia berada.
Tepat di sampingnya, Natalya menghadap ke arahnya. Matanya masih tertutup, tubuhnya menekuk. Rambut pendeknya menghampar di tanah.
Alfred membayangkan hari-hari jaya Natalya sebagai penerbang. Ia pasti gagah berani, berbahaya, sekaligus cantik. Sangat tidak tergapai. Namun saat ini, Natalya berada di sisinya. Rapuh, membutuhkan perlindungan, tetapi masih punya banyak energi untuk keberanian dan kecerdasan untuk bersembunyi. Hal-hal itu membuat Natalya lebih manusiawi, tidak seperti dewi langit yang tak teraih. Ia sangat dekat dengan Alfred.
Alfred mengangkat tangannya. Ujung jarinya hampir-hampir menyentuh Natalya—
—tetapi gadis itu bersuara,
"Kukira cara tidurmu lebih beringas daripada ini."
Alfred buru-buru menarik tangannya. "Kukira kau tidur."
"Lima menit yang lalu."
Alfred membuat catatan mental, perempuan ini memang tak bisa diremehkan. Lima menit yang lalu—Alfred pun tersadar. Angin itu ...
Alfred bangun, melepaskan kemejanya, kemudian jaket yang berada di dalamnya. Ia memakai kembali kemeja lusuh paling luar, lalu jaket itu ia gunakan sebagai selimut Natalya.
"Jangan terlalu baik padaku," gumam Natalya, matanya tertutup lagi, "aku bisa pergi kapan saja."
"Untuk kali ini tidak." Alfred berbaring lagi sambil tersenyum miring. "Kau masih membutuhkanku."
Alfred mendengarkan gerutuan dengan suara pelan, ia mengabaikannya.
Malam ini, ia merasa lebih tenang daripada berhari-hari sebelumnya. Ia merasakan napas Natalya pada lehernya. Rasanya hangat sekali, masih bisa menemukan kehidupan di sisinya, yang berdenyut, yang tak menyisakan jejak darah di saat-saat seperti ini. Saat perang berkecamuk, saat nyawa ditukar dengan kemenangan semu, saat kebahagiaan dibakar dengan api dendam.
Ada kehidupan yang ia jaga di sisinya. Ada kehidupan yang berhasil ia pertahankan sejauh ini.
Alfred tersenyum hingga ia terlelap lagi.
tbc.
