Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pagi berikutnya, Natalya yang membangunkannya—
—dengan sebuah nampan makanan!
Alfred merasa berada di surga. Meski hanya satu mangkuk, sup itu banyak sekali. Kuahnya meluber hingga ke baki. Ada dua sendok yang diberikan, dan ia tak menghabiskan waktu untuk bertanya-tanya.
Walaupun terlihat seperti sebongkah emas, rasanya aneh. Isinya hanya sayur-sayuran, dan tidak seperti yang biasanya ia konsumsi. Walaupun begitu, masih lebih menyenangkan daripada daun-daun hutan.
Natalya makan dengan lahap. Alfred iba padanya—kapan terakhir kali ia makan dengan pantas? Seingat Alfred, ia menjalani tiga misi berturut-turut tanpa henti, tanpa makan. Wajar saja tubuhnya kurus. Ia pasti berkorban banyak dalam dinas ketentaraan.
"Setelah ini, apa?" Alfred membuka pembicaraan. Barangkali saja Natalya sudah punya ide yang ia dapat di tidurnya.
"Kau?" Natalya membalik pertanyaan, membuat kening Alfred berkedut.
"Dalam hal kedinasan ... aku ... wah, aku juga tidak tahu. Baiknya seperti apa ya?"
Natalya mengerutkan hidungnya. Ia ingin sekali berkomentar tidak tegas, tetapi memangnya ia tahu apa yang akan ia lakukan pada hidupnya? Natalya terdiam sambil menghabiskan makanannya. Jika kembali ke divisi, apakah yang akan ia lakukan? Semuanya akan kembali seperti biasa. Misi, bahaya, jawaban akhirnya hanyalah pulang atau mati. Siklus itu akan terus terjadi entah sampai kapan.
Namun untuk pulang, ia tidak yakin rumah akan menyambutnya sedemikian rupa. Keindahan kata pulang itu utopis. Kakak-kakaknya tidak ada di rumah. Mereka tengah menjalani kehidupan mereka sendiri. Ketika mereka berpisah berbulan-bulan lalu (—atau mungkin tahun? Natalya mulai kehilangan memori soal waktu), mereka sudah saling merelakan. Berkumpul lagi adalah sebuah ide yang jauh. Mereka telah menemukan jalan masing-masing.
Natalya pada awalnya menyukai ide tersebut—tetapi pada akhirnya, ialah yang kehilangan arah. Hal yang ia jalani bukanlah akhir yang ia tuju. Ia merasa harus menemukan jalan yang baru.
"Ketakutan juga, huh?"
Natalya ingin membantah, tetapi Alfred menatap langsung ke dalam matanya. Ia mendadak tak bisa menghindar.
"Oh—mungkin takut bukan kata yang tepat. Tapi ... apakah ada yang lebih tepat? Aku sendiri merasakan sesuatu yang aneh, bukan tentang keinginan kembali ke divisiku, aku tidak ingin disebut takut—lalu apalagi memangnya?"
Natalya menggeleng. "Aku tidak bisa mundur lagi. Aku harus mencari—tapi apapun itu, aku masih belum tahu."
Alfred menarik salah satu sudut bibirnya. "Perasaan anehku adalah keinginan untuk meneruskan perjalanan ini. Barangkali aku akan menemukan sesuatu di depan sana."
Giliran Natalya yang menemukan mata Alfred. "Berarti kita sama."
Alfred tertawa kecil. "Kita adalah pengkhianat?"
"Dalam artian kemanusiaan, kita adalah pencari identitas."
"Ha," Alfred hampir-hampir tertawa lagi, "usia kita sebenarnya adalah usia berkeluarga untuk orang-orang pada umumnya. Aku bertanya-tanya apakah di masa depan, di usia kita sekarang masih merupakan waktu pencarian identitas."
"Bisa jadi," Natalya menjawab diplomatis, kemudian ia melongok ke dalam mangkuk, sadar bahwa sebenarnya ia telah memakan lebih dari jatahnya, "apa yang kita tahu tentang masa depan? Untuk hari besok saja kita masih bingung."
Pemuda itu tertawa lepas. "Benar juga." Lalu rasanya dunia benar-benar damai—jika petak kecil di antara kuda-kuda itu bisa disebut dunia. Namun dunia terkadang lebih semu daripada teori-teorinya sendiri, sehingga siapapun bisa mengatakan apapun kehendaknya. "Jadi," Alfred menyimpulkan, "kita akan menuju kota, mencari klinik atau sejenisnya, kemudian kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan pada hidup kita?"
Alfred bertaruh ia melihat senyuman Natalya—yang sangat pudar dan lelah. Natalya lalu melanjutkan dengan lemah, "Kukira kau memiliki hari-hari yang menyenangkan selama di ketentaraan. Sekarang kau berubah pikiran?"
"Kau tentu sudah tahu, impianku adalah menempuh perjalanan yang panjang ke sana dan sini. Di ketentaraan, tentu aku mendapatkannya—namun jika ada celah seperti ini, mengapa tidak? Mungkin aku bisa memulai kehidupan seperti kakekku, tetapi dengan cara yang berbeda. Siapa yang tahu?"
"Begitu mudah pemikiran berubah dalam hitungan hari."
"Memangnya kau tidak mengalaminya?" Alfred sengaja membalik pertanyaan lagi, sekadar untuk membalas.
Natalya tak menjawab. Alfred pasti mengerti sesuatu.
Alfred mendorong baki itu menjauh darinya, mereka benar-benar menghabiskan hingga ke tetes terakhir. "Pada akhirnya, terkadang pilihan terbaik kita pun tidak terasa benar. Kita hanya bisa menjalani."
"Kehidupan itu berat."
Alfred mengiyakan dengan anggukan. "Sekarang, maukah kau mengembalikan benda ini dan berterima kasih? Kurasa larangan berbicara itu masih berlaku untukku."
Natalya mendengus, tetapi hanya main-main, dan Alfred menyambutnya dengan tawa.
Malam itu mereka sama-sama terjaga dalam kegelapan, terlalu lama sejak mereka merebahkan diri.
Alfred mengajukan usul, "Bagaimana kalau kita sama-sama bercerita?"
"Kurasa dengan begitu kita akan semakin susah tidur."
"Hmm. Menurutku kita susah tidur karena memikirkan banyak hal. Tidakkah bagus jika kita membicarakannya? Kita perlu mengeluarkan beban itu, Natalya."
Natalya mengalah. "Bicarakanlah ceritamu dulu." Ia lantas bergeser sedikit, lengannya tak sengaja menyentuh lengan Alfred. Namun ia tak punya ruang lagi. Di sisi kanannya ada tumpukan jerami, lama-lama membuat gatal.
"Aku ingin mendengar darimu dulu."
"Aku tidak punya banyak hal untuk diceritakan."
"Oh ayolah, kau hidup lebih lama dariku. Kau pasti punya. Tidak apa-apa, mulutku memang besar tetapi aku bisa menjaga rahasia."
Natalya tak memberikan reaksi secara langsung. Ia membiarkan keheningan menjadi lebih bermakna, kemudian ia memecahnya dengan kalimat yang membuat Alfred terkejut,
"Sebelum ini aku ingin mati."
Natalya dapat mendengar napas Alfred tercekat. "Kau benar-benar serius?"
"Misi terakhirku adalah misi bunuh diri. Aku kehilangan banyak teman, kemudian tujuan hidup. Selesai."
Alfred menelan kalimat itu mentah-mentah. Meresapkannya ke dalam pikiran, mencoba berada di posisi Natalya. Ia menduga bahwa hidup perempuan itu memang lebih sulit darinya, tetapi ia bukanlah orang yang memandang bunuh diri sebagai opsi. Setidaknya sampai saat ini. Alfred berdeham. "Aku lega kau masih hidup."
"Kenapa?"
"Huh, perlukah alasan lain? Aku menghargai kehidupan."
"Kenapa?"
"Natalya, kau terdengar seperti anak kecil."
"Kita semua punya anak kecil di dalam diri kita yang tak pernah mati. Coba lihat pada impianmu sendiri. Bukankah itu sisa dari masa kecilmu?"
"Kurasa itu ada benarnya." Alfred bergeser sedikit, memberikan ruang untuk Natalya. "Apa kau sekarang sudah mengantuk?"
"Belum."
"Apa aku perlu menceritakan kisah hidupku yang paling membosankan agar kau mengantuk?"
Natalya merenungi malam yang sangat sunyi ini. Bahkan kuda pun tak mau mengusik mereka. "Sebenarnya apa yang kita kejar esok hari? Bukankah tidak apa-apa jika kita menghabiskan semalaman tanpa tidur?"
"Yakin kau tidak lelah?"
"Kita sudah jauh lebih lelah di hari-hari sebelumnya."
Alfred nyaris tertawa. "Aku tidak pernah sesering ini setuju pada orang lain. Padahal aku baru mengenalmu beberapa hari."
Natalya memejamkan mata, melihat ke belakang. Ia mengira perjalanannya sudah berminggu-minggu. Waktu memang begitu mengerikan, seolah punya kendali atas kejadian-kejadian pada semesta. Ia yakin ia memang tak akan menang melawan waktu. Natalya menjadi gelisah, ketakutan pada waktu yang semakin tak jelas. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Kengerian itu menggelitik tengkuknya lagi, tanah menjadi semakin dingin. Ia pun berputar, berbaring miring ke arah Alfred. Ia mencium aroma rumput sekarang, bercampur dengan aroma tubuh Alfred yang sangat khas. Mereka dekat sekali, hingga Natalya pun bisa merasakan embusan napasnya menyerbu wajahnya kembali. Sedikit ia berharap Alfred tak akan keberatan.
"Kau sebelumnya ingin mati," Alfred membuka pembicaraan tentang itu lagi, tak peduli seberapa sensitif ide itu, "kalau begitu, kematian bukanlah lagi ketakutan terbesarmu."
"Sekarang hal itu mengerikan. Keadaan berbalik."
"Kalau begitu, apa ketakutan keduamu?"
Natalya tersenyum pada dirinya sendiri. "Satu saja sudah menyedihkan. Aku tidak mau repot-repot memikirkan yang berikutnya."
"Kalau begitu, jalani saja."
Natalya mengangguk, walaupun ia tahu Alfred takkan mengetahuinya.
Lama sekali pemuda itu tak memberikan tanggapan. Natalya menganggap Alfred sudah tidur, maka ia pun memejamkan mata.
Yang ia lihat adalah masa kecilnya, saat ia belum tahu banyak.
Dunia menjadi damai lagi untuk sesaat.
Truk untuk tumpangan ke kota datang dua hari kemudian, anehnya Alfred belum terlalu bosan dengan kandang kuda, meski ia benar-benar membencinya di awal. Truk itu membongkar muatan di pasar desa, kemudian membawa beberapa orang yang bermaksud ke kota setelah urusannya selesai. Si pemilik rumah memberikan sejumlah uang untuk kuda mereka berdua yang ditinggal di sana—di satu Alfred lega karena ia tak perlu lagi berrodeo ria dengan si kuda, di sisi lain ia merasa cukup sedih karena, meski pertemuan mereka sangat singkat, kuda itu berjasa besar.
Di kota, Natalya mengizinkan Alfred berbicara beberapa patah kata jika perlu, tetapi dirinya masih mendominasi. Mereka membuat kesepakatan tentang cerita yang mereka buat-buat sebagai identitas: Natalya adalah orang Soviet yang lama tinggal di Inggris, kemudian saat mengajak suaminya, Alfred, yang berasal dari Inggris, untuk pulang ke kampung halamannya, mereka disergap perang. Alfred masih merasa oke-oke saja dengan identitas palsu sebagai suami-istri, meski di balik semua itu ia yakin ada sesuatu yang aneh.
Seorang pedagang di perbatasan kota menunjukkan jalan menuju rumah sakit.
Rumah sakit itu tak terlalu besar, tetapi mereka tampaknya baru saja kedatangan serbuan pasien. Seorang perawat, yang menyambut Natalya dengan wajah lelah, bercerita bahwa gelombang prajurit yang terluka sebagian dikirim ke sini, tetapi karena mereka tak sanggup menanganinya, semuanya diangkut lagi dengan ambulans militer ke Warsawa.
Natalya mendapatkan pengobatan seadanya di sana, diperbolehkan pulang setelah diberi gips dan tongkat yang entah sudah berapa ratus kali dipakai.
Mereka beristirahat di bawah sebuah pohon, di bangku yang kecil, dan di sisi lain ada seseorang lain yang asyik membaca koran. Tubuhnya kecil, ia menyipitkan mata ketika membaca, sesekali menggumam komentar-komentar dalam bahasa Polandia. Alfred dan Natalya mengabaikannya, lebih penting membicarakan apa yang harus mereka lakukan dengan sedikit uang di tangan.
"Sebenarnya kita pun masih belum tahu apa yang harus kita lakukan pada hidup kita," simpul Natalya, masih terdengar ragu-ragu di telinganya sendiri. "Mau kita apakan uang ini? Kita bahkan tidak tahu apakah setelah ini kita berpisah jalan atau bagaimana."
Ide itu sempat terbersit di benak Alfred, tetapi ia sangat malas memikirkan kelanjutannya sehingga baru sekaranglah ia mengingat ia memang pernah memikirkan itu. "Kau sendiri, apakah kau ingin pulang?"
Natalya menjawab tetapi bukan untuk itu, "Jika kita ingin bertahan hidup, uang ini tak akan cukup jika tidak diputar. Kita harus bekerja. Apa kau tetap ingin melakukannya?"
"Kalau ada yang cocok, mengapa tidak?"
"Bagaimana kalau kalian bekerja bersama kami saja?"
Alfred dan Natalya menoleh hampir bersamaan pada lelaki di sudut lain bangku. Alfred mengerutkan keningnya.
"Siapa kau?" Natalya menatap orang itu penuh selidik.
"Oh yaaa, sebagai tuan rumah yang baik, aku harus memperkenalkan diri." Orang itu mendekat lalu mengulurkan tangan. Caranya tersenyum sangat ganjil, tetapi bukan dalam artian minta dicurigai. "Feliks. Feliks Łukasiewicz." Lantas ia duduk kembali, dengan santai, kedua tangannya bertopang di atas punggung bangku. "Kalian berasal dari mana?"
Alfred merasa ada yang perlu dicurigai dari lelaki ini, maka ia pun diam saja, lalu mendelik pada Natalya, katakan-saja-cerita-itu.
"Aku Natalya, dan ini suamiku, Alfred, berasal dari Inggris. Aku berasal dari Soviet, tetapi tinggal bersamanya di London. Saat kami pulang ke kampung halamanku, kami menjadi korban perang. Kami perlu perlindungan."
"Oh ya?" Feliks tersenyum miring, ia menelengkan kepala. "Dari Inggris? Serius? Dialek Inggris tak seperti itu."
Alfred merasakan hawa dingin pada tengkuknya. Natalya tidak berbicara sepatah kata pun. Pertanda buruk bagi Alfred. Sementara itu, Feliks tetap tersenyum.
"Aku tahu banyak, lho. Begini-begini aku sering bolak-balik Inggris. Bagaimana kalau kita bicarakan ini di tempat tertutup saja, hm, orang Amerika?"
Alfred tak sadar ia mencengkeram tangan Natalya saat mendengarkan tuduhan itu. Natalya sempat membalas genggaman kuatnya, hanya untuk segera melepaskannya begitu tersadar. Mereka berpandangan, masih belum tahu harus memutuskan apa.
"Tenang saja, kami bukan orang jahat! Kami juga bermusuhan dengan Jerman—walaupun aku tidak yakin soal ... hm," suara Feliks sesaat dihela oleh keraguan, tetapi ia cerdas sekali untuk mengalihkan perhatian dengan senyumannya, "orang Soviet. Bukan berarti kami punya masalah, hanya saja, hm—kadang kami tidak bisa beriringan dalam segala hal."
Mata Alfred mendesak Natalya, bagaimana?!
"Kami akan ikut, tetapi bukan berarti kami seratus persen mempercayaimu," jawab Natalya tegas. "Dan kami membutuhkan uang. Itu yang utama."
"Ooh, tenang, tenang, Natalya! Kami punya urusan yang lebih penting daripada sekadar mengkhianati orang yang kami undang sendiri secara langsung. Kita bisa berbuat banyak bersama."
Natalya dan Alfred saling lirik lagi. Feliks berdiri, menggulung korannya dan memukul-mukulkannya ke telapak tangan yang lain. "Ayo, ikut aku."
Alfred membiarkan Feliks berjalan lebih dahulu, ia menjaga jarak agar setidaknya bisikan-bisikannya pada Natalya tak bisa didengar. Setelah beberapa langkah, barulah ia menyadari hal yang sedari tadi mengusik pikirannya:
Feliks bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik, walaupun dialek aslinya masih terdengar. Feliks bukan orang sembarangan.
"Apa kau bisa menghajar seseorang di saat-saat darurat jika diperlukan?"
"Walaupun aku pincang, Alfred, bukan berarti aku lemah."
"Baguslah," bisik Alfred lebih pelan lagi. "Firasatku kurang baik."
"Kita lihat saja."
Feliks, untuk saat ini, memang tak tampak mencurigakan. Ia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi, sesekali mengomentari orang yang berpapasan dengannya, meskipun kebanyakan tak dipedulikan. Ia memilih jalan yang memutar-mutar, sesekali melewati gang kecil, jalan besar, bahkan menggunakan pintu belakang sebuah kedai. Natalya harus menahan diri untuk tidak membalas lirikan-lirikan orang di kedai tersebut yang sangat intens.
Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah besar, orang-orang memasak menyebar di seluruh sudut ruangan yang tak punya sekat. Perabot yang ada hanyalah lemari, alat-alat masak, dan alat-alat untuk mencuci di dekat wastafel di dinding. Semua orang sibuk dengan wajan dan panci besar, bahan-bahan makanan yang telah dipotong-potong banyak sekali jumlahnya, diletakkan di mana-mana, bahkan di lantai dengan hanya beralaskan koran. Namun Feliks tak berhenti. Ada sebuah pintu yang disamarkan di balik tirai besar, pintu itu terkunci rapat. Di baliknya hanya ada lorong sempit, di depan mereka dinding yang solid, tetapi di kanan, pintu sangat samar menjadi dinding, tetapi di dalamnya ada ruangan yang gelap, dan pintu di lantai yang di baliknya ada tangga menuju ke bawah, curam dan gelap.
Namun tidak dengan ruangan bawah tanah yang menyambut mereka. Bagian itu penuh dengan penerangan, terlihat seperti sebuah penginapan, tetapi memiliki ruang tengah—seperti ruang keluarga—yang sangat luas. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang, sisanya adalah pintu-pintu yang tertutup.
"Yang tadi itu dapur umum?" Alfred bertanya dengan suara yang keras, bergema di ruang bawah tanah.
"Benar sekali!" Feliks berbalik sembari berjalan mundur. "Oke, sekarang, mana kamar yang kosong ya—ah, itu, di sebelah sana!" Ia menunjuk pada pintu di arah jam satu. "Mari, tamuku!"
Alfred dan Natalya lagi-lagi hanya bisa berpandangan.
Feliks membuka pintu itu setelah menggerutu pada serangkaian kunci pada sakunya. "Silakan, silakan!" Ia membukakan daun pintu lebar-lebar. "Tapi jangan berisik di tengah malam, ya!" Ia mengedipkan salah satu matanya.
Natalya beralih ke arah Alfred, kebingungan, tetapi setelah membaca ekspresi Alfred yang, dengan mata membulat tapi tak mau balas memandangnya, Natalya menggerutu kesal dalam hatinya, tapi pipinya panas, detak jantungnya seakan menggedor-gedor telinganya sendiri.
Ruangan itu kecil, tetapi hanya ada tempat tidur, meja dan sepasang kursi, serta sebuah nakas, sehingga kelihatan cukup nyaman untuk ditinggali tanpa merasa sesak.
"Baiklah, aku akan minta jatah makanan untuk kalian dulu. Buatlah diri kalian nyaman!"
Alfred menekan telunjuknya ke atas meja rendah di samping tempat tidur seakan-akan membuat sebuah daftar: satu.
"Tempat pengungsi?"
Natalya menggeleng. "Tidak mungkin tempat untuk pengungsi dibuat seprivat ini. Alfred, jika ini tempat untuk pengungsi, tempatnya tak akan mungkin di sini. Mereka akan menaruh orang-orang yang berdatangan di atas sana."
Alfred menyuap supnya dengan lahap, mengunyahnya cepat. Matanya langsung berbinar. Makanan yang lezat dan banyak memang membuatnya berpikir lebih cepat. "Kurasa aku mengerti."
Natalya ikut-ikut menekan jarinya di atas meja, menambah daftar di bawah nomor satunya Alfred. "Ini adalah ruang untuk para simpatisan. Ruang pertemuan rahasia. Gerakan bawah tanah."
Alfred mengelus dagunya. "Ah, itu bisa berarti secara harfiah maupun metafora—"
Natalya mengabaikan candaan Alfred, "Feliks akan memanfaatkan kita."
"Waktunya untuk kabur?"
Natalya menggeleng. "Tidak. Ia pasti akan memberikan kita pilihan. Begitu polanya. Mereka berseberangan dengan orang-orang yang menggunakan mesin propaganda, mempengaruhi orang lain dengan cuci otak—mereka membenci cara itu. Mereka akan melakukan hal sebaliknya. Ini bukan penculikan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi."
"Bagaimana kau bisa tahu—oh, tunggu, tunggu, aku tahu. Tidak bisa beriringan dalam segala hal."
Natalya mengangguk satu kali. "Namun selalulah waspada."
"Oh Natalya—seolah itu bukan hal yang berada dalam darahku."
Feliks tidak datang sampai tengah malam, tidak seorang pun mengetuk pintu mereka. Mereka memutuskan untuk tidak keluar kecuali ada yang berbicara pada mereka. Sejauh ini tidak ada masalah. Lantai bawah tanah itu aman, dan ketika sesekali mereka mengintip ke ruang tengah, hanya ada beberapa kali pertemuan kecil yang pembicaraannya tak begitu terdengar.
Alfred mengambil salah satu bantal saat mereka pikir sudah waktunya untuk menikmati tempat tidur.
"Kau mau ke mana?" Natalya menghamparkan selimut ke atas tubuhnya.
Alfred menunjuk lantai, "Tidur di sini. Aku tidak akan ke mana-mana, kok."
Natalya mengamati lantai. Keras dan dingin. Ia tahu inilah saatnya mereka memuaskan diri sendiri setelah berhari-hari tidur dalam bahaya dan beralaskan tanah. Alfred pantas mendapatkannya. Ia pun beringsut, memberikan ruang untuk Alfred di atas tempat tidur. Dipan itu bukan yang terkecil, yang biasanya untuk ukuran para prajurit di lapangan, setidaknya masih ada cukup ruang untuk berdua.
"Tidurlah di sini. Tidak adil jika aku hanya sendiri."
"Natalya ... kau serius? Jangan memaksakan dirimu. Kalau tidak nyaman tidur berdua—"
"Aku sudah terbiasa tidur berdesakan bertiga di rumah kami dahulu. Kau bahkan tidak sebesar Ivan. Lagipula aku sudah terbiasa denganmu saat di kandang kuda."
Alfred bersorak, "Wooho! Aku beruntung!" Ia melemparkan bantal itu kembali ke ranjang dan segera mengempaskan diri ke atasnya sambil mengeluarkan suara-suara aneh sebagai bentuk kelegaan.
"Tapi aku punya satu syarat."
"Jangan yang berat-berat!"
Natalya menahan senyum. "Jangan menendang."
Alfred membuat gestur hormat, wajahnya dibuat pura-pura serius, "Akan kupatuhi, Letnan!"
Natalya segera merebahkan diri, membungkus dirinya dengan selimut hingga ke separuh wajah. Ia benar-benar merindukan benda ini.
Alfred mendengkur lebih dahulu.
Prajurit selalu dilatih siaga dan waspada bahkan untuk suara terkecil sekalipun.
Dari balik punggungnya, Natalya meringis. Alfred berbalik dengan hati-hati, berusaha keras agar ranjang tidak bergerak sedikit pun.
Perempuan itu memunggunginya, tangannya mencengkeram bantal dan selimut, ia mengaduh lagi.
Tidak ada yang ingat untuk mematikan lampu sebelum tidur. Alfred dapat dengan jelas mengamati wajah Natalya, tidak pernah sama sekali sebelum ini. Wajahnya penuh dengan bekas luka yang samar, sebagian goresan, sebagian berupa lubang-lubang. Wajah tidurnya sama sekali tidak damai. Bibirnya komat-kamit, sesekali suara yang keluar tidaklah nyaman didengar.
Secara naluriah Alfred mengulurkan tangannya, meletakkannya ke atas tangan Natalya. Ia sudah terbiasa bermimpi buruk sendiri, kali ini ia benar-benar tidak bisa membiarkan Natalya mengalaminya. Mungkin ia sering ditenangkan saudara-saudaranya, mungkin ia butuh itu lagi saat ini. Begitu banyak kemungkinan yang tidak bisa ditebak Alfred, dan tak berani ia tanyakan keras-keras.
Alfred menepuk-nepuk halus tangan yang mencengkeram selimut itu sampai tidak lagi terdengar suara sedih Natalya.
"Aku ... sudah baik-baik saja."
Refleks, Alfred menarik tangannya.
"Maaf membangunkanmu," suara Natalya datar dan dingin.
"Aku tidak terganggu. Sungguh." Alfred pun berputar, mengubah posisi menjadi telentang. Langit-langit terlihat bersih meskipun bahannya nampak tua. Ia begitu terhibur dengan ruangan yang sangat sederhana dan perabotan seadanya. Bagaimanapun tetap lebih baik daripada hutan belantara atau kandang kuda.
"Aku bermimpi ..."
Alfred terkejut. Natalya tidak biasanya seterbuka ini. Ia memilih untuk tidak berkata apa-apa untuk mempersilakan.
"... Seseorang menyiksaku, mengikatku, mencambukku ... lalu memasukkanku ke dalam lubang hitam. Rasanya terlalu nyata."
"Menghayati mimpi burukmu tidak akan membawamu ke mana-mana."
"Aku tahu."
"Kau mengetahuinya, tetapi tidak bisa keluar dari kotakmu."
Natalya berbalik, Alfred merasakan tatapannya pada dirinya. Perempuan ini memang memiliki pengaruh yang benar-benar kuat. "Aku sedang berusaha terbuka padamu. Aku tidak pernah dekat pada siapapun."
"Kuhargai sekali itu."
"Kedengarannya tidak."
"Aduh, Natalya, apakah kau sedang berusaha menggodaku?"
Alfred mendengar decakan lidah.
"Baiklah, baiklah, aku cuma bercanda." Alfred berputar sedikit, sekarang mereka berhadapan—dan ia baru menyadari bahwa tempat tidur ini cukup sempit juga. "Terima kasih. Sekarang, maukah kau menahanku untuk tetap melakukan perjalanan denganku?"
"Aku tidak ingin melakukan perjalanan untuk sementara sampai kakiku benar-benar sembuh. Saat itulah aku bisa berjalan dengan kaki yang utuh ... dan aku lebih bebas menentukan apapun."
"Artinya kau akan mengikuti apapun yang diarahkan Feliks nanti?"
"Bagaimana denganmu?" Natalya mengangkat alis.
"Yah ... karena aku sedang tidak ingin kembali ke kamp yang membosankan itu ... maka, baiklah. Kita tetap di sini."
Natalya mengubah anggukan dengan isyarat gerakan kelopak mata, yang berujung pada ia yang segera terlelap kembali.
Alfred masih sempat memandangi Natalya sampai akhirnya ia benar-benar tertidur juga.
Ketukan yang keras mengejutkan mereka berdua—yang telah sama-sama bangun tetapi sedang memeriksa seluruh bagian ruangan, kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan atau bisa menjadi petunjuk.
Feliks datang, ia merentangkan tangan lebar-lebar sambil mengucapkan selamat pagi. Ia pun dengan ringan duduk di atas tempat tidur.
"Maaf aku tidak datang pada kalian tadi malam! Aku sibuk di desa dekat sini, untuk pertemuan kecil yang ternyata cukup penting!"
"Oke ..."
"Jadi, sekarang, apa yang harus kita bicarakan?" Mata Feliks menatap mereka bergantian secara liar, ia menggosokkan telapak tangannya bergantian.
Alfred dan Natalya mengerutkan dahi pada satu sama lain. "Bukankah kau yang seharusnya bicara?"
Feliks terkekeh-kekeh. "Benar juga. Jadi—selamat datang di rumah simpatisan, tetapi keanggotaan di sini bersifat longgar, asalkan kalian tidak membelot atau menjadi mata-mata! Apakah kalian warga sipil, atau—" senyuman Feliks berubah menjadi seringai, "—desertir?"
Alfred merasa keberatan dengan sebutan itu, tetapi ia tidak bisa mengelak bahwa sekarang ia bagian dari golongan itu.
"Apa yang akan kami dapatkan jika kami memberitahukan identitas sebenarnya dan bergabung denganmu?"
"Kalian mendapatkan makan, rumah tinggal yang nyaman, sesekali uang jika ada donatur yang cukup murah hati, dan akses gratis ke luar negeri untuk kegiatan bersama anggota pemerintahan dalam pengasingan, jika kalian sudah membuktikan diri dapat dipercaya! Kalian juga boleh tinggal di luar markas ini, asalkan dengan identitas yang mantap dan kalian bisa menjalankan tugas dengan baik dengan laporan rutin!"
Natalya melirik Alfred dan seakan berkata, sudah kubilang pasti akan seperti ini.
"Kumulai dengan pertanyaan sederhana," nada bicara Alfred seakan sedang menawar, "siapa sebenarnya kalian?"
"Oh, yeah," Feliks menggoyang-goyangkan kakinya, untuk sesaat dia benar-benar terlihat seperti anak kecil dan dialah yang penasaran, "Polandia punya posisi yang rumit. Aku tidak bermaksud menguliahi kalian sejarah, tapi perlu diingatkan lagi bahwa kami termasuk korban awal dan pertanda meletusnya perang. Setelah itu, kami berada dalam cengkeraman musuh, posisi kami benar-benar sial. Singkat cerita, dari timur sana, Soviet datang. Seolah merekalah penyelamat. Jerman masih bertahan di sebagian dari tanah kami. Yang kami inginkan? Kemerdekaan atas diri kami sendiri, yang kami peroleh dengan tangan sendiri. Biarpun dalam pengasingan, pemerintahan kami juga tetap aktif, tahu."
Kedua prajurit itu lagi-lagi bertukar pandangan. Kali ini ekspresi mereka setengah yakin, setengah horor.
"Kalian adalah perpanjangan tangan pemerintahan dalam pengasingan?"
"Benar sekali. Kami tetap bergerak di bawah tanah meskipun percobaan besar pertama kami gagal."
Alfred bersandar pada kursinya. "Kalaupun kami bergabung, apa saja tugas kami?"
Feliks memberikan senyuman lebarnya. "Tergantung siapa kalian sebenarnya dan apa yang kalian lakukan sebelum ini."
Natalya tak meminta persetujuan Alfred, "Natalya Arlovskaya. Divisi Penerbang Soviet."
Alfred menggerutu. "Alfred F. Jones, Angkatan Udara Amerika Serikat."
"Nah!" Feliks mengacungkan pistol jari. "Kalian tidak bisa mendapat tugas yang strategis, kalau begitu. Pekerjaan kalian cukup berbahaya. Maaf-maaf saja, kalian tidak akan bisa menjadi agen yang bepergian lintas negara kalau begitu."
"Kami juga tidak menginginkan posisi itu." Natalya berusaha mengumpulkan kembali aura dinginnya.
"Sebagai penegasan kembali, tempat ini memiliki sifat keanggotaan yang longgar. Jika menurut kalian tawaran kami tidak menyenangkan, kalian boleh melanjutkan perjalanan."
"Tugas kami," tegas Alfred, "sebutkan."
Feliks menjentikkan jari. "Gampang. Jalan-jalan setiap hari, kumpulkan informasi. Pergi ke desa terdekat, curi dengar. Satu hari sekali."
Alfred mendelik. Natalya sedang berpikir keras sambil menggigit bibir bawahnya. Perempuan itu akhirnya memberikan kesimpulan yang ditunggu-tunggu Alfred,
"Beri kami berpikir hingga nanti siang. Datanglah lagi."
"Oh tentu saja! Kami juga tidak suka terburu-buru. Pertimbangkan masak-masak, kami akan menunggu dan berbahagia apapun hasil yang kalian katakan!" Feliks kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit. "Tapi ada satu hal yang harus kalian lakukan sebagai penjamin jika memang ingin bergabung."
"Apa itu?" Natalya terdengar waspada sekali.
"Serahkan semua identitas yang menunjukkan bahwa kalian adalah tentara padaku."
Alfred dan Natalya tak menjawab. Tak begitu mengancam.
"Baiklah, itu saja. Selamat pagi—kalian boleh mengambil makanan di atas tanpa minta izin!" Dia sudah melangkah keluar kamar, tetapi ia kembali lagi, hanya menyembulkan kepalanya untuk memberi pesan, "Kalau perlu baju ganti, di ruang tengah ada lemari besar. Di sana ada berbagai macam pakaian. Silakan pilih sesuka hati!"
Feliks pergi semudah dia datang. Alfred segera menutup pintu dan menguncinya.
"Mata-mata," tukas Alfred terburu-buru sambil duduk kembali. "Secara teknis, kita sudah melanggar kode etik kita sebagai tentara."
"Apakah kau masih merasa kau bagian dari divisimu?"
"Mmm, tidak juga. Kau sendiri?"
"Terakhir kali aku berada di divisiku, aku ingin bunuh diri. Sekarang aku tidak berani memikirkannya lagi. Aku takut kembali pada fase itu."
Alfred merenung lagi. Ia antusias, tetapi saat ia menoleh ke belakang lagi, rasanya hari-hari di belakang memanggil-manggilnya dengan keras.
"Keanggotaan longgar, Alfred. Kita masih bebas. Di samping itu, kita bisa makan di sini, kita punya tempat bernaung. Satu hari keluar setiap harinya. Semua itu kemewahan."
"Benar juga ..." Alfred mengelus dagunya. "Saat bosan, kita bisa langsung pergi. Perkumpulan macam apa ini?"
"Sudah kukatakan, mereka pasti membenci cara yang memaksa ala propagandis. Mereka punya cara sendiri."
"Bagaimana kalau ternyata seseorang yang bergabung akan menjadi pembelot?"
"Itu urusan mereka, Alfred. Kita di sini bukan untuk mempermasalahkan itu. Kita berada di sini untuk makan."
Alfred tertawa, suaranya menyedihkan. Setelah memberi jeda untuknya sendiri, ia buka suara untuk hal lain. "Bangkitnya rakyat Polandia untuk memberikan perlawanan ... ha, semua ini adalah bagian dari misi-misiku sebelumnya ..."
"Dan aku yakin tugasku juga punya andil untuk ini ..."
Alfred seolah tenggelam di kursinya sendiri. "Kami ditugasi untuk memperlengkapi pejuang Polandia, Sekutu nekat mengerahkan armada meskipun susah sekali untuk berangkat, melakukan misi di langit Polandia, lalu kembali lagi tanpa boleh ada persinggahan di Soviet. Orang-orangmu baru mengizinkannya di saat-saat terakhir."
Natalya memutar bola matanya. "Oh, itu bukan urusanku."
Mereka berpandangan seperti tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Alfred menarik napas panjang, menutup mata, memikirkan bahwa dia memang tidak bisa lama-lama memandangi Natalya tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan hari ini, hari berikutnya, dan banyak hari setelahnya. Ia ingin memulai sesuatu yang baru, ia ingin mengajak gadis itu. Akan tetapi ... rasanya terlalu jauh. Kenyataannya, mereka baru memulai ini—hari pertemuan mereka baru menyentuh hitungan minggu—walaupun rasanya sudah sangat lama mereka melakukan ini bersama.
"Kita sudah melewati itu semua."
Alfred menelengkan kepala. "Apakah ini pertanda bahwa kita memulai babak baru?"
"Menurutmu?"
Alfred sudah membaca sebagian dari sifat Natalya. Perempuan itu tidak suka sesuatu yang gamblang. Dia lebih menginginkan orang lain untuk menerjemahkan apa yang ia katakan atau tunjukkan, sehingga ia bisa diam-diam menilai orang itu.
"Kita akan melaluinya bersama, 'kan, Nat?"
Natalya hanya melirik, tetapi ia juga menelengkan kepala.
Dua-tiga hari berikutnya, Feliks tidak datang. Menurut seseorang yang meminjamkan Natalya alat-alat jahit, Feliks memang selalu sibuk. Dia keluar-masuk kota dan desa. Dia melakukan banyak hal sendiri.
Maka, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar itu. Natalya mulai menjahit, beberapa kali menggerutu karena hasilnya tidak begitu baik. Ia mengaku pernah belajar menjahit, tetapi dengan lekas melupakannya karena ia cepat bosan.
Namun Alfred merasa bahwa ini semua baik-baik saja. Ini cukup. Setidaknya sampai saat ini, rumah adalah hal terbaik yang bisa mereka dapatkan.
