Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Hingga tiga hari berikutnya, Feliks tidak berkunjung ke kamar mereka. Natalya berhasil menyelesaikan sebuah baju rombakan, yang ia dapatkan dari lemari, yang modelnya ia benci.
Kata seseorang di rumah itu, yang belakangan mereka ketahui bernama Joan, wanita blasteran Prancis-Polandia yang berada di sana sebagai juru tulis laporan mingguan Feliks, Feliks sering bepergian dalam waktu lama, bahkan bisa berminggu-minggu. Ia keluar-masuk desa, kota, bahkan negara, dan ia lebih suka bergerak sendiri. Kadang ia datang dengan berita besar, tak jarang pula dalam keadaan terluka, karena ia lebih sering menyamar sebagai orang yang hidup di jalan.
Mereka berdua menikmati hidup dengan tenang, saat-saat seperti inilah yang selalu mereka kejar dan cari sejak lama. Tak ada yang menyadari bahwa hal seperti inilah yang ideal hingga mereka menemukannya. Mereka berbagi cerita, mimpi, dan rasa takut di malam-malam yang sunyi dan petang-petang yang mendung.
Alfred mulai mengerti ketakutan Natalya yang kompleks. Ia tidak ingin hidup di cara yang ia tempuh di masa lalu, ketika ia tidak bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain. Hal itu merupakan salah satu alasan ia merasa tidak bisa meneruskan hidupnya lagi di suatu titik, sehingga ia melakukan percobaan bunuh diri. Akan tetapi, di sisi lain, ia juga ingin menemukan cara baru lagi, meski ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus memulai.
Sementara itu, Natalya mulai mengerti hasrat Alfred untuk selalu mencoba hal baru. Ketentaraan pada awalnya adalah hasrat besarnya, tetapi dengan cepat semua itu surut ketika ia tidak bisa lagi menemukan kebebasan, sementara itu ia harus selalu terikat peraturan.
Alfred sadar Natalya selalu membutuhkan teman walaupun ia tidak terlihat seperti menginginkannya. Natalya hanya tidak bisa menyadarinya. Ia selalu mengelak pada kemauan alam bawah sadarnya sendiri.
Natalya mulai tahu bahwa Alfred tidak bisa ditahan-tahan. Ia butuh partner yang mengerti harapan-harapannya, menyesuaikan dengan ritme hidupnya, tetapi juga harus menamparnya di suatu titik saat ia terlalu larut dengan kehendaknya sendiri.
Natalya, bagi Alfred, susah membuka diri untuk orang lain karena ruang-ruang di hatinya telanjur diisi oleh kedua kakaknya.
Alfred, bagi Natalya, harus menemukan seseorang yang tegas dan keras padanya agar ia lebih membuka pikiran terhadap kehidupan.
Satu minggu setelahnya, barulah Feliks berkunjung lagi.
Dia merangsek masuk, mengejutkan Natalya yang sedang menjahit sebuah sarung bantal dari kain bekas yang ia dapat dari Joan, dan Alfred yang sedang membaca buku yang ia temukan di meja pertemuan di ruang tengah.
"Mohon maaf karena membiarkan kalian menjadi pengangguran selama beberapa hari ini! Akhirnya kalian tiba pada tugas pertama—dan, oh, Alfred, kau sedang membaca konsep kemerdekaan dan masa post-borjuisme itu? Dari mana kau mendapatkannya?"
Alfred membolak-balik buku itu dengan canggung. "Aku memungutnya, begitu saja. Ah, apakah buku ini penting? Cepatlah, kami sudah berlumut di sini!"
"Aku sengaja, tahu! Apa kaki Natalya sudah lebih baik?" Feliks langsung menunjuk pada Natalya yang berada di seberang Alfred.
Alfred tersadar, ia langsung melihat ke arah kaki Natalya. Natalya sudah mulai terbiasa dengan kakinya, bahkan ia sudah bisa berjalan dengan lebih leluasa sekarang, walaupun seringkali masih harus menggunakan tongkat. Salah satu orang yang berada di rumah ini, yang merupakan sepupu Joan, pernah mendapat pendidikan keperawatan dan ia membantu Natalya beberapa kali dengan obat-obatan anti nyeri atau sejenisnya. Setelah ia pikir-pikir lagi, perhitungan waktu Feliks hebat juga.
"Sekarang, ini dia," Feliks memotong kalimatnya sendiri dengan menghamparkan sebuah peta berukuran kecil ke atas meja, di hadapan mereka berdua, "desa ini berada lima kilometer dari sini. Aku mendengar di sini masih ada beberapa tentara Jerman yang bercokol, entah sebagai mata-mata untuk mengantisipasi serangan Soviet atau satu peleton yang membajak kehidupan warga. Pergilah ke sini dengan truk makanan yang akan berangkat malam ini, oke?"
Alfred dan Natalya berpandangan. Alfred buka suara, "Apakah ada rincian khusus dari misi ini?"
Feliks menggembungkan pipinya bergantian, kiri dan kanan, seperti sedang memainkan bola di dalam mulutnya.
Alfred mendengus. "Jangan bilang kau belum memikirkannya sama sekali."
"Memang belum."
Natalya memutar bola matanya. Feliks nyengir. Alfred mulai belajar bahwa mungkin tidak apa-apa jika sesekali bermain-main dengan anak ini.
"Oh, oke, aku tahu!" Feliks mengetuk-ngetukkan jarinya dengan cepat di atas peta. "Berpura-pura saja kalian baru keluar dari tempat tinggal kalian di dekat hutan, dan membutuhkan banyak keperluan hidup. Natalya, kau bisa berbahasa Polandia, hm?"
"Aku bisa mencampurnya dengan sedikit bahasa kampung halamanku sebagai penyamaran."
"Ide bagus. Kau memang cerdas! Peran sebagai mata-mata cocok untukmu!"
Alfred begitu tergoda dengan ide itu untuk Natalya. Sayang sekali, dirinya sendiri sepertinya tak cocok untuk jadi mata-mata. Ia lebih suka menjadi prajurit, jika harus memilih, walaupun sesungguhnya menjadi petualang jauh lebih menggiurkan.
"Berbelanjalah di sana. Membaur dengan keramaian. Cari titik-titik yang mencurigakan. Maksimal tiga hari. Pulang, laporkan padaku atau Joan, atau siapapun yang berada di sini yang kalian percayai. Ada yang kurang jelas?"
Alfred memandangi peta itu sesaat, kemudian ia mengangguk-angguk. "Aku siap berangkat. Natalya?"
"Kapan saja."
"Jangan buka penyamaran kalian. Tetaplah berperan menjadi sepasang suami-istri yang baru keluar dari hutan."
"Keluar dari hutan. Oke. Sementara itu aku tidak bisa berbahasa Polandia atau menggunakan kata-kata dari Soviet sama sekali. Mencurigakan sekali."
"Jangan bicara sama sekali, kalau begitu."
Alfred mulai menduga Feliks dan Natalya punya jalan pikir yang serupa dalam banyak hal.
"Baiklah, aku kalah. Tidak ada yang perlu kami persiapkan?"
Feliks menggeleng.
"Bagaimana dengan tempat tidur?"
Feliks tertawa sebentar. Alfred mengernyit. Ia membaca suatu pertanda tidak enak.
"Tentu saja kalian akan tinggal di pinggir jalan atau di gang—tidurlah di manapun tempat aman yang bisa kalian temukan."
Alfred mengembuskan napas panjang, lelah dan jenuh. "Aku mencium aroma nostalgia."
"Hutan lebih buruk, Alfred."
Dari semua orang yang ia duga bisa membeirnya motivasi, ia cukup terhibur bahwa Natalya-lah yang bisa melakukannya saat ini.
"Oke, kurasa cukup." Feliks berdiri sembari melipat peta tersebut, kemudian melemparkannya pada Alfred, yang dengan refleks menangkapnya. "Sisanya, kubiarkan kalian berimprovisasi. Kalian mantan prajurit, kalian tahu bagaimana harus bertindak dan apa saja yang tidak boleh dilakukan."
Sebelum Feliks melangkah keluar dari ruangan, Alfred mendengus keras. "Prajurit dan mata-mata itu berbeda."
Feliks menoleh, salah satu tangannya bertopang pada bingkai pintu. "Kalau begitu, tunjukkan padaku perbedaannya. Selamat bekerja!"
Alfred meregangkan tangannya tinggi-tinggi. Peta itu sudah berpindah tangan pada Natalya, yang sedang mencermati titik-titik kecil di sekitar tempat mereka berada.
"Sudah dua kali kita nyaris mati karena prajurit Jerman, saatnya menjadikan diri kita umpan," tukas Alfred dengan nada ironis.
Natalya tak langsung menjawab. Sejurus kemudian, ia mengantongi peta itu. "Kau tahu caranya bertindak, aku tahu caranya berbicara. Kitalah yang paling tepat untuk tugas ini."
Alfred menyeringai untuk sesaat. "Kelihatannya kau menikmati tugas baru ini, Natalya."
"Seharusnya itu kau."
Lelaki itu tergelak. "Ini pantas untuk dicoba."
"Ya. Ini cara terbaik untuk menghindarkanku dari keputusasaan. Setidaknya aku punya agenda yang tidak perlu dilakukan di tengah kegelapan."
"Penyerang Malam Hari. Aku lupa tugasmu sebelumnya."
"Saatnya hari baru, Alfred. Jauhkan dirimu dari masa laluku dan masa lalumu sendiri."
Mereka tiba di kota itu dengan truk yang dimaksud Feliks. Dengan membayar sopirnya dengan beberapa keping uang yang diberikan Feliks, sopir itu dengan ramah mengatakan selamat berlibur—begitu yang diartikan Natalya, ia pun sempat ragu-ragu apakah pendengarannya benar atau tidak—lalu mengatakan bahwa ia akan kembali dua hari lagi jika mereka butuh tumpangan untuk kembali.
Di atas semua kehancuran dan kekacauan—yang mulai mereka berdua sadari turut disebabkan oleh mereka berdua—Alfred dan Natalya sadar bahwa masih ada banyak orang baik dan polos. Intrik-intrik bermain bahkan hingga di belakang panggung, tetapi masih ada orang-orang yang berada di luar gedung pertunjukan.
Tak jauh dari tempat mereka diturunkan, sebuah pasar menyambut.
"Jangan bicara apa-apa tanpa komandoku, oke? Apa kau mengingat kata-kata penting yang kuajarkan tadi?"
"Yeah, yeah. Harganya berapa, aku butuh tumpangan, tolong kami—hanya tiga itu, 'kan?"
"Tujuh, Alfred."
"Saat ini aku hanya ingat tiga. Lagipula kita menerapkan kebijakan 'jangan-pernah-terlepas', hm?"
Natalya mendengus pelan. Alfred tampak bangga atas caranya membungkam Natalya.
Saat mereka berjalan menuju pasar tersebut, Alfred bertanya, "Sebenarnya ... mengapa harus pasar?"
"Karena pasar adalah titik pertemuan berbagai kepentingan. Tidak ada yang tidak membutuhkan pasar."
Sesudahnya, Alfred memang benar-benar patuh untuk tidak berbicara sama sekali. Natalya seringkali bersinggah untuk menawar buah-buahan, tetapi tidak membeli sebagian besarnya. Alfred mendengar perempuan itu mencampur dua bahasa, yang kadang juga membuat si penjual kebingungan, tetapi sejauh ini Alfred pikir mereka berhasil mengecoh orang-orang.
Di tengah-tengah pasar, Alfred tertarik pada sebuah toko yang menjual buah plum. Dia tak menyadari Natalya bersinggah untuk menawar sayur-sayuran yang kelihatannya paling segar sejauh yang mereka saksikan hingga sekarang. Begitu ia separuh jalan menuju toko itu, ia baru menyadari, menoleh, tepat sekali bertemu mata dengan Natalya. Alfred memberi isyarat, kemudian Natalya mengangguk.
Natalya serius untuk membeli sayuran itu sekarang. Barangkali tak akan memakan banyak biaya, dan sayur-sayuran ini bisa dimakan mentah untuk lain kali.
Penjualnya cukup ramah, ia bercerita tentang harga pangan yang terus menanjak di masa perang. Kebun-kebunnya rusak, orang-orang tak mau membeli dalam jumlah banyak. Natalya memutuskan ini saat yang pas untuk menggali informasi sedikit-sedikit.
"Kebunmu rusak? Pasukan melewatinya dan tidak bertanggung jawab?"
"Benar sekali. Kendaraan berat mereka melindasnya sembarangan. Aku tidak tahu harus marah pada siapa."
"Mereka hanya berlalu begitu saja? Tidak bersinggah di desa ini?"
"Nampaknya tidak. Desa ini tidak menarik, mungkin."
Natalya tersenyum kecil sambil menunduk memilih sayuran yang daunnya besar-besar. "Dalam perang, lokasi tidak hanya tentang menarik dan tidak. Biasanya begitu."
"Yeah, aku mengerti. Maksudku mungkin mereka hanya tidak menemukan tempat bersembunyi yang bagus di tempat ini."
"Nona, kau tahu banyak tentang perang, sepertinya."
Natalya mengangkat kepala secepat kilat. Seorang—tidak, ada dua, tiga, bahkan—pria turut bergabung dengannya memilih-milih sayuran. Matanya mendelik cepat ke kiri dan kanan. Alfred belum kembali.
"Kita seharusnya tahu banyak di saat-saat seperti ini, 'kan? Kita harus waspada," jawab Natalya dengan nada sesantai mungkin. Ia menghindari kontak mata dengan pria di sampingnya. Sementara itu, si penjual sayuran sibuk dengan pembeli lain yang datang dari arah samping.
Natalya lekas-lekas membayar barang yang dipilihnya. Penjual itu hampir-hampir tidak menyadari uang yang diberikannya. Natalya segera berjalan menjauh, tetapi pria-pria tersebut mengekorinya. Dua di antaranya berjalan maju, mengurungnya, menggiringnya ke tepian pasar.
"Apa yang kalian lakukan?" secara tak sengaja Natalya berbicara dalam bahasa ibunya secara keseluruhan. Sesaat setelah ia menyadari kecerobohannya, mata pria yang sebelumnya bicara padanya seperti mendapatkan sebuah jawaban. Saat ia sudah berniat untuk kabur, ia sudah dikurung di tepian, di balik punggung orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Natalya memandang mereka semua bergantian. Satu-satunya senjatanya hanyalah tongkatnya, tetapi bukan berarti ia harus segera melakukannya. Penyamarannya akan terbongkar dengan bodohnya.
Salah satu dari mereka mendekat, tatapannya mencurigakan. "Kau kelihatannya bukan berasal dari sini. Kau pasti punya banyak uang."
Natalya harusnya sudah menduganya dari awal. Namun ia masih diam.
"Berikan uangmu, atau ..." Yang satu pun semakin mendekat, mulai menyentuh lengan Natalya. Dia tak ragu-ragu mendekatkan wajahnya pada Natalya, yang jauh lebih mungil daripada dirinya. "... Puaskan kami."
Natalya menangkap dialek yang mencurigakan dari orang tersebut, tetapi sebelum ia memikirkan lebih jauh tentang itu, orang itu sudah roboh duluan karena tinju dari samping.
"Sialan!"
Natalya tercengang. Kata-kata itu jelas berbahasa Polandia dan ia hampir tak percaya Alfred mengucapkannya. Sementara itu Alfred masih mengepalkan tinjunya, kemudian melirik kedua orang yang lain. Belum sempat ia mengatakan apapun, yang tadi ia tinju bangkit lagi. Ia tidak ragu untuk melayangkan tinju berikutnya, di tempat yang sama, mulut lelaki itu menyemburkan darah.
Tanpa kata-kata, dua orang yang lain pun membantu temannya berdiri, lalu pergi sambil mendengus ke arah Alfred.
"Dari mana kau belajar sumpah-serapah itu?" tanya Natalya dengan bisikan tidak sabar.
"Hah, syukurlah kalau itu artinya sumpah-serapah. Aku tidak salah gaya, kalau begitu." Jawab Alfred sama pelannya, sembari menggemeretakkan buku-buku jarinya.
Natalya memandangnya heran. Seolah-olah peristiwa barusan kalah menarik dengan cara Alfred mengucapkannya.
"Aku mendengar Feliks mengatakan hal itu saat ia menjatuhkan kardus yang ia bawa, sesaat sebelum memanggilkan sopir untuk kita."
Natalya berdecak.
"Yang barusan ..." Alfred menggaruk bagian belakang kepalanya. "Maaf telah meninggalkanmu. Dan mungkin, caraku agak gegabah?" Untuk sesaat ia terlihat menyesal, memandangi ke arah tiga pria tadi menghilang.
"Lupakan saja. Kita harus mundur dari keramaian dulu untuk mengatur strategi."
"Mereka memberimu petunjuk?"
"Tunggu sampai kita keluar dari sini."
Alfred agak terheran-heran melihat langkah Natalya yang cepat meski ia memakai tongkat. Natalya masih terlihat gugup, maka dari itu Alfred pun merapat ke arahnya, kemudian melingkarkan tangannya ke punggung Natalya. Natalya mendongak sebentar, Alfred pun berbisik, "Penyamaran. Kamuflase. Kau adalah istriku, bukankah begitu? Aku tidak akan membiarkan orang-orang seperti itu mendekatimu lagi."
"Ya, Suamiku," tanggap Natalya dengan nada sarkastis.
Mereka menjauh dari pasar, menemukan jalan yang kecil, yang bercabang-cabang menjadi beberapa gang. Natalya menuju gang yang tidak terlalu sempit, tetapi kelihatannya paling sepi karena tidak banyak rumah di dalamnya.
"Orang-orang itu punya dialek yang sangat kukenali."
Mata Alfred menjadi tajam. "Jerman?"
Natalya mengangguk. "Bekas luka di kening kanan, pipi, lengan yang cedera, telapak tangan yang kasar karena terlalu banyak memegang benda keras. Kulit jari yang aneh."
Dengan cepat Alfred memrosesnya. "Pasukan infanteri?"
"Begitu yang kupikirkan. Salah satu di antara mereka pincang."
Mata Alfred menyapu sekeliling dengan cepat untuk sesaat. "Desertir?"
"Tidak bisa disimpulkan seperti itu dengan cepat. Namun, ada kemungkinan seperti itu."
Alfred mengerjap. "Oke, dicatat."
"Cari tahu lagi?"
Alfred menggeleng. "Tugas kita hanya sampai di sini. Belum apa-apa kau sudah mendapat bahaya. Aku tidak bisa membiarkannya."
"Jangan perlakukan aku lemah, Alfred. Aku bisa melakukan beberapa hal sendirian."
"Satu lawan satu, benar. Tidak jika tiga atau lebih. Aku tidak punya apa-apa untuk menjagamu. Aku bahkan tidak punya senjata."
Tatapan mata Natalya menantang Alfred.
"Kita dilatih untuk menjadi prajurit. Bukan mata-mata."
Bahu Natalya melemas. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia terlalu terbawa. Barangkali karena pekerjaan ini membuatnya lupa pada hal-hal yang sempat melukainya di belakang sana, sehingga ia bisa menjadi begitu terpacu.
"Kita sangat mencolok di sini. Itulah alasan mengapa mereka langsung mendekatimu."
"Mencolok?"
"Aku yakin mereka punya semacam insting. Sama seperti kita."
Natalya terjebak. Jika ia melanjutkannya, ia akan terancam. Alfred pun sama. Berbahaya. Sementara itu, ia sedang berusaha keras untuk tidak memikirkan soal mati. Sudah cukup yang sebelumnya. Ia memang tidak bisa menghindari kematian, tetapi paling tidak ia bisa memikirkan tentang kehidupan. Yang seperti ini bukan caranya.
"Kita hentikan ini. Memangnya kita melakukan ini untuk siapa? Feliks dan Polandia bukanlah bagian dari kehidupan kita. Apakah kau berencana membuatnya begitu?"
Natalya menemukan hati nuraninya sendiri yang bicara, "Tidak."
"Kita akan temukan cara lain. Ayo, kita pulang. Setidaknya kita sudah memegang sebuah laporan."
Natalya tidak bertanya bagaimana cara mereka pulang, ia hanya membiarkan Alfred membawanya kembali ke perbatasan desa, berdiri di gerbang tak resmi, menengok ke kiri dan kanan apakah ada truk barang yang bersedia ditumpangi.
Ia diam seribu bahasa berjam-jam, terkantuk-kantuk karena heningnya sendiri, hingga Alfred berdiri agak ke tengah jalan, menghentikan sebuah truk yang lebih kecil, yang telah ditumpangi beberapa orang yang sepertinya juga akan pergi ke kota.
Hanya pada saat meminta tolong pada pengemudinya untuk mengantarkan mereka pulang Natalya berbicara. Sesudahnya, di belakang, berhimpitan dengan orang-orang lain, Natalya masih diam saja. Alfred sengaja membiarkannya seperti itu, masih ada hal yang harus ia khawatirkan selain Natalya yang sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Efek dari orang-orang yang hampir saja melecehkannya barusan mungkin baru menyerbunya sekarang. Alfred memilih untuk tidak berkata apa-apa.
Satu pertanyaan tersisa di benaknya; selanjutnya, apa? Ia dan Natalya tentu tak bisa berlama-lama di markas Feliks. Ada sesuatu yang salah dari cara mereka terlibat. Sejak awal mereka tidak benar-benar berencana untuk ini. Seharusnya mereka bisa memilih. Menakutkan jika mereka harus merisikokan hidup mereka lagi, padahal mereka baru saja melepaskan seragam terakhir mereka dan enggan menengok ke belakang lagi.
Pengecut? Benar, Alfred sadar. Tetapi kadang berlari lebih baik daripada bertahan. Berlari, menemukan dunia baru, meninggalkan apa yang sudah tidak bisa mereka pertahankan lagi. Itu terdengar lebih baik daripada membiarkan segalanya berjalan seperti biasa. Ia muak dengan perang. Ia muak berjuang, sementara itu ia tak bisa memperjuangkan dirinya sendiri. Alfred ingin membuat perubahan.
Entah apa yang diinginkan Natalya.
"Cepat sekali! Seperti yang kuduga dari kalian!" respons Feliks, membuat Alfred merasa tak boleh sok tahu. Lelaki yang satu ini memang tidak bisa ditebak.
"Apa yang kalian temukan? Wajah kalian berkata banyak hal—sudah kuduga tempat itu memang sarangnya!"
Alfred mengabaikan hasratnya untuk bertanya mengapa Feliks sangat yakin dengan mereka—barangkali hanya karena mereka adalah mantan prajurit. "Natalya."
"Desertir. Tiga orang. Dialek Jerman yang sangat kental. Berpakaian sipil, meminta uang di pasar."
"Desertir? Seyakin itu?"
"Warga sipil tidak mungkin terluka seperti itu dalam kegiatan sehari-hari. Di samping itu, tangan prajurit mudah dikenali jika terlalu sering memegang senjata."
"Infanteri, huh ..." Feliks seperti sedang membuat sebuah catatan mental. "Jika dicocokkan dengan informasi-informasi lain, berarti mata rantai peleton yang putus itu berada di sana, dan mereka menjadi desertir. Desertir bukanlah prioritas kami—tetapi mereka tetap senjata yang tangguh jika sesuatu yang terjadi. Terima kasih banyak atas informasinya! Kami bisa menyusun sebuah rencana jika melihat persebaran pasukan Jerman ini."
Alfred dan Natalya saling berpandangan.
"Kalian boleh kembali ke kamar! Tunggu saja perintah selanjutnya—bersantailah dulu!" Feliks mempersilakan dengan irama yang sangat ceria, seolah informasi itu bukanlah hal yang serius atau menyangkut sebuah strategi besar.
Malamnya, Alfred menemukan Natalya yang belum tertidur meski ia sudah terlelap sesaat.
"Ada yang mengganggumu?"
Natalya menengok melalui bahunya. Ia pun menarik selimut yang tadi tersingkir hingga ke betisnya. Tak lama kemudian, ia berbalik. Namun ia tak mengatakan apa-apa, hanya berusaha keras memejamkan mata. Seberkas cahaya yang menyelinap dari ruang tengah, Alfred bisa melihat betapa keras usaha Natalya untuk memaksakan dirinya agar tertidur melalui kerut-kerut di keningnya.
"Katakan saja—apakah aku boleh berada di sini atau aku harus turun agar kau merasa tenang?"
Natalya menangkap pergelangan tangan Alfred. Matanya masih terpejam. "Di sini saja." Dia perlahan membuka matanya. "Terima kasih."
"Hah? Untuk apa?"
"Telah meninju orang-orang itu."
Alfred ingin tertawa, tetapi ia menahan diri. Rasanya kurang tepat.
"Menakutkan. Menakutkan."
Kedua pengulangan itu sudah cukup menegaskan apa yang Natalya rasakan. Alfred bergerak lebih dekat lagi, hingga ia bisa merasakan napas Natalya yang memburu tepat di depan wajahnya.
"Aku mengerti. Kau tidak bisa tidur karena itu?"
"Aku tidak ingin kehidupan seperti ini, Alfred. Ini masih serupa dengan yang sebelumnya. Aku tidak bisa mencintai ini semua."
"Kau ingin pulang?"
Natalya tidak menjawab. Pegangannya pada pergelangan tangan Alfred melemah.
"Katakan saja. Aku bisa mencarikan cara."
"Pulang pada siapa? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kakak-kakakku begitu jauh."
"Kita bisa mencari mereka."
"Terlalu jauh dan terlalu susah, Alfred."
Alfred jadi berpikir keras. Ia meneguk ludah, membayangkan penolakan Natalya atas jawabannya berikutnya. "Tetaplah bersamaku. Kita bisa menemukan jalan bersama. Kau mungkin tidak bisa pulang sendirian ... tetapi kita bisa pergi bersama."
Sekali lagi, genggaman itu mengerat.
"Meski aku akan pergi ke manapun, apakah itu baik-baik saja untukmu?"
Natalya meneguk ludah. "Karena aku tahu kau tidak akan kembali ke dinas militer ... maka, ya ..."
Giliran Alfred yang menutup mata. Ia membayangkan perjalanan yang panjang, mereka yang tersesat, tempat baru, tetapi mendadak semua itu terlihat baik-baik saja, terasa lebih benar daripada apa yang ia alami sekarang. Natalya akan baik-baik saja karena itu semua, dan bukan karena berada di sini. Memikirkannya membuat Alfred sadar, bahwa Natalya sudah menjadi bagian dari dirinya, bagian dari perjalanannya. Mereka seolah telah saling mengenal bertahun-tahun lalu, saling percaya, mengerti bahwa hidup mereka harus diubah karena apa yang mereka perlukan bukan ini.
"Tetap bersamaku?"
Natalya mengangguk.
Saat itulah Alfred merasa benar dalam memutuskan, ia merasa lebih baik, meski ia tahu ini semua pada awalnya bukan untuk dirinya. Ia tidak mencari kesempurnaan dalam hidupnya sejak awal, ia hanya mencari petualangan. Ia merasa inilah waktu yang tepat. Sesuatu yang baru dalam jangka waktu yang berdekatan. Tidak hanya sebuah aturan yang dibuat demi sebuah tujuan politis. Ia memeluk Natalya dengan salah satu tangannya, berharap tak ada penolakan, tetapi gadis itu menyerahkan dirinya, menunduk di pelukan Alfred, meringkuk seperti anak kecil yang menginginkan perlindungan, ia menyetujui keramahan Alfred.
Hal berikutnya yang mereka ketahui adalah, mereka terbangun dalam posisi itu keesokan harinya, terlalu siang untuk jam internal mereka.
Feliks tidak berada di rumah pada hari berikutnya, juga keesokan harinya. Natalya dan Alfred telah sepakat untuk suatu rencana meskipun mereka tidak begitu banyak membicarakannya. Mereka mengalihkan diri untuk hal lain, menghabiskan hari lebih banyak di kamar.
Alfred mencoba untuk menjahit. Bagian bawah celananya robek saat ia membantu membetulkan langit-langit yang bocor tadi pagi. Sementara itu, Natalya menemukan lebih banyak buku di dasar lemari pakaian besar di ruang tengah. Ia berada di tempat tidur, membacanya dalam posisi tengkurap.
Selama beberapa saat, yang terdengar hanyalah sumpah-serapah Alfred, entah karena benang yang ia gunakan terlalu pendek, putus di tengah jalan, atau ia tidak berhasil memasukkannya ke lubang jarum. hingga hasil yang jelek sehingga ia harus mengulanginya dari awal lagi.
Kemudian, saat Natalya bicara, yang terdengar adalah hal yang senada dengan Alfred, tetapi dengan cara Natalya sendiri.
"Mereka seharusnya memberi judul buku ini 'Prokreasi' saja. Tidak cocok sama sekali." Ia menutup buku di hadapannya dengan keras, lalu menepuk-nepukkannya ke permukaan tempat tidur.
Alfred melepaskan kacamatanya serta membebaskan diri dari pekerjaannya sebentar. Celana yang ia jahit ia biarkan kumal di pangkuannya. "Memangnya buku tentang apa itu?"
Natalya menelusurkan jari di sampul depannya, seperti sedang berusaha menyingkap kebohongan yang ia anggap ada di sana. "Filosofi kehidupan. Begitu yang dikatakan judulnya. Tapi, isinya? Ini seharusnya diberi peringatan, 'tidak boleh disentuh anak di bawah umur'."
"Tapi kau bukan anak di bawah umur."
"Masalah utamanya terletak pada judul dan isi yang tidak sinkron."
"Filosofi kehidupan." Alfred memasang kembali kacamatanya, lantas menaruh begitu saja celana barusan ke atas meja. Ia bergabung dengan Natalya di tempat tidur. "Prokreasi. Ada benarnya. Karena kehidupan kita dimulai dari apa yang dilakukan orangtua kita. Tujuan kita lahir adalah bagian dari filosofi orangtua kita. Selanjutnya kita harus menemukannya sendiri. Dua filosofi bisa jadi bersatu, bisa jadi tidak."
"Kuharap buku ini membahas dan mengembangkan hal-hal seperti itu. Aku membaca hingga halaman dua ratus dari dua ratus lima puluh, yang mereka bahas hanyalah tentang kenikmatan prokreasi."
Alfred mengambil buku itu dari Natalya. Ia membukanya secara acak, pada halaman seratus delapan ia temukan pembahasan tentang cara sebuah keluarga yang baru dibentuk merumuskan dunia. Kelihatannya membosankan baginya. Ia mungkin akan tidur di halaman ketiga jika dipaksa membacanya dari awal.
"Prokreasi. Kedengarannya berat."
"Menakutkan."
Saat itu, Alfred menemukan mata Natalya yang menurutnya percampuran dari rasa sedih dan khawatir. Ketakutannya bukan main-main. Dengan mulut yang tiba-tiba terasa kering, Alfred mencoba bertanya, "Keluarga, anak-anak, apakah itu mengerikan untukmu? Kau tidak ingin berkeluarga?"
Natalya meneguk ludahnya. Jarinya membuat pola tidak tentu di atas sampul buku yang masih berada di tangan Alfred. "Berkeluarga dan memiliki anak itu berbeda."
"Bagi sebagian orang, sama."
"Aku bukan bagian dari mereka." Natalya sekali lagi mempertemukan pandangan mereka. "Aku ... aku tidak yakin anak adalah hadiah untuk para orangtua. Anak bukanlah penghias kehidupan semata. Kehidupan anak itu sendiri adalah hal besar yang menjadi tanggung jawab kita. Membuat sebuah kehidupan terlahir ke dunia itu tidak bisa dibiarkan senatural adanya. Di saat itulah dunia kita berubah. Kita tidak mendapatkannya untuk kesenangan. Itu adalah tanggung jawab. Pilihan besar yang tidak bisa diubah. Satu orang anak bisa mengubah dunia, bisa jadi baik, bisa pula sangat buruk, dan jika dirunut, orangtualah yang menjadi awal dari itu semua."
Alfred tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia berusaha untuk melihat ke arah lain, tetapi ia selalu mencari tatapan Natalya, dan bola mata Natalya seolah hanya mengikutinya. Ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat selain ucapan bodoh yang salah waktu dan tempat, "Wow ..."
"Keadaan kita, apa yang terjadi dan kita terlibat di dalamnya, berkaitan dengan ini, Alfred. Satu orang mengubah Eropa. Efek domino. Mengerikan."
Alfred kemudian menanggapi, ia pun tidak tahu mengapa suaranya berubah menjadi seperti bisikan saja, "Kau begitu serius memikirkan tentang keturunan."
Sesaat kemudian, Alfred berharap ia salah ketika ia menyadari tatapan Natalya turun ke bibirnya selama beberapa detik.
Namun gadis itu kemudian melanjutkan, "Dalam beberapa bagian dalam hidupku, aku merasa seperti korban."
Giliran Alfred yang tak bisa menghentikan dirinya melihat gerakan bibir Natalya.
"Memiliki anak bukan hanya sekadar hasil dari kenikmatan di atas tempat tidur."
"Harus ada pertimbangan panjang dan matang, begitu?"
Natalya mengangguk.
Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, tetapi sekarang ujung hidung mereka sudah hampir bersentuhan satu sama lain.
"Hidupku jarang diisi oleh pertimbangan, Natalya."
"Kalau begitu, kau harus sering-sering mendengarkanku," suara Natalya tegas, terkesan dingin, dan tajam, tetapi Alfred tak menganggapnya kejam. Natalya telah membangun dindingnya sendiri sejak dahulu, kokoh dan beku, tetapi selalu ada jalan untuk masuk.
Tak ada kata-kata lagi setelah itu. Alfred bertanya-tanya apakah ini yang dirasakan oleh semua orang yang berciuman dengan sepenuh hati dan perasaan. Ciuman pertamanya adalah jebakan, dan yang lain bukanlah sesuatu yang sungguh-sungguh. Yang kali ini ia lakukan seolah-olah sembari membuka seluruh pintu harapan untuk Natalya. Ia sekarang bisa mengerti Natalya, ia bisa menemukan harapan dan permintaan Natalya; dan ciuman ini adalah perjanjian. Perjanjian untuk saling menemukan makna setelah ini.
Mereka tidak tahu seberapa lama mereka bertahan, tetapi ketika mereka mundur bersama, napas Natalya yang memburu menerpa wajah Alfred begitu panas dan cepat.
"Prokreasi bukan hanya satu-satunya kebahagiaan dua orang yang memilih hidup bersama, 'kan?" Alfred bertanya tanpa ragu-ragu, masih terdengar seperti bisikan.
"Aku berusaha mengatakan itu sejak awal."
Lalu mereka melakukannya lagi.
Tidak bisa bertahan lama sebab bunyi ketukan pada pintu sungguh berisik.
Feliks datang, langsung merentangkan tangannya. "Haaa-lo! Wajah kalian merah—apakah aku mengganggu suatu kegiatan khusus?"
Natalya mendecih keras-keras. Feliks tertawa lebih keras lagi.
"Hmmm, setelah misi yang pertama, apakah kalian ingin misi yang kedua?"
Alfred dan Natalya bertukar pandangan lebih dahulu, kemudian Alfred mengedikkan kepala. "Masuk sebentar, Feliks. Kita harus membicarakan beberapa hal."
"Wah, aku membaca suatu keinginan yang lain."
Alfred dengan tegas mengatakan tidak saat mereka semua sudah duduk.
"Kenapa, hm? Kalian ingin pergi?"
Alfred mengangkat kedua tangannya. "Kehidupan ini tidak cocok dengan kami. Kami tidak akan meminta bayaran untuk yang barusan kami kerjakan, kami akan mengembalikan hak atas kamar ini asalkan kau membantu kami untuk terakhir kali."
"Hmm. Orang-orang datang dan pergi. Pilihan. Yang terbaik menurut kami bisa jadi tidak cocok untuk kalian berdua. Begitu pula sebaliknya." Feliks pun bersandar pada kursi. "Katakan. Jawabanku bergantung pada permintaanmu."
"Kami tentu harus memiliki tempat lain setelah pergi dari sini."
"Mmm-hm."
Alfred menyeringai tipis. "Kau tentu tahu beberapa akses ke Angkatan Udara Britania Raya, hm? Polandia dan Inggris memiliki kerja sama yang lumayan menjanjikan."
"Oh-hmmm. Kau mengenal seseorang? Aku tahu beberapa akses khusus ke Angkatan Udara Inggris yang berpatroli di sekitar sini. Terutama yang beberapa waktu lalu membantu kami di gerakan-gerakan—ehm, khusus."
"Aku bagian dari operasi itu."
"Wow, aku merasa terhormat." Feliks kemudian meluruskan punggungnya. "Siapa yang kaubutuhkan?"
"Kakak sepupuku. Pemimpin sebuah unit angkatan udara Britania."
"Siapa namanya?"
"Arthur Kirkland."
tbc.
