Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


"Aku pernah mendengar nama itu!" Feliks berteriak sambil menunjuk Alfred. "Aku tahu dia, aku pernah hampir bertemu dengannya satu kali sebelum gerakan di Warsawa, tetapi dia sibuk jadi dia digantikan wakilnya! Serius, orang itu keluargamu? Dia orang termuda yang berhasil menjadi komandan!"

"Silsilah kami rumit. Jangan tanya. Keluarga dari sisi ayahku merepotkan untuk diceritakan."

"Aku punya nomor telepon kantornya."

"Kau yang bicara. Aku tidak bisa mengungkapkan keberadaanku sebelum aku datang secara langsung ke hadapannya. Bisa-bisa aku ditolak duluan."

"Lho?"

Alfred memutar bola matanya. "Jika mereka tidak menemukan pesawatku, aku pasti dianggap gugur dalam misi. Tapi jika mereka menemukannya, aku pasti dianggap desertir. Arthur pasti akan mengutuk dan bisa saja aku tidak boleh datang ke sana. Bilang saja bahwa ada seseorang yang mencarinya."

"Oooh, baiklah, aku ahlinya dalam mengatur sebuah pertemuan. Tapi pertama-tama, jika pergi ke sana, kurasa kalian harus tetap menyiapkan paspor. Na-ah, apakah kalian membawa benda seperti itu?" Feliks membuat jarinya seperti pistol dan menembak Alfred dan Natalya bergantian. "A-ha?"

Alfred dan Natalya mematung.

Melihatnya, Feliks tertawa keras. "Senang sekali melihat ekspresi kalian, dua pelarian yang tidak membawa apa-apa! Tenang saja, kalian berada di tempat yang tepat!"

"Jangan bilang kau membuka jasa paspor palsu."

"Apalagi yang kalian harapkan dari organisasi bawah tanah yang kerap melanggar aturan demi kebebasan? Banyak anggota kami yang harus keluar-masuk negara lain demi alasan mata-mata, untuk kepentingan akhir kami—dan kami harus punya solusi sendiri."

"Kami tidak punya pilihan."

Natalya buka suara setelah sekian lama. "Dengan apa kami harus membayar ini?"

"Waktu."

Alfred merasa seperti ditampar dengan sepiring keanehan. "Maksudmu?"

"Paspor tidak bisa jadi dalam sehari. Barangkali tiga sampai empat hari. Dua, jika lancar dan tidak ada antrian. Kami berusaha secepat mungkin. Jadi, mohon menunggu lagi!"

"Tidak harus ada uang?"

Feliks tertawa. "Apa yang bisa kalian berikan? Tempat ini memang menampung semua orang yang tidak bisa mendapatkan uang. Kami punya donatur di bawah tanah—lebih dalam lagi daripada ini, tidak secara harfiah tentunya—yang memberi makan dan sokongan. Tidak usah memikirkan itu."

Alfred dan Natalya saling lirik.

"Jadi, anggap saja ini kebaikan dari Polandia yang akan kalian ingat suatu saat nanti. Kami sedang membuat sejarah, dan kuharap kalian akan menyumbangkan cerita tentang kami. Verbal atau tulisan, mana saja!" Feliks kemudian berdiri. "Tunggu kedatanganku malam ini atau besok. Selamat bersenang-senang, jangan lupa pintunya dikunci!"

Telinga Natalya memerah.


Malam itu, Natalya sedang mengeringkan ujung-ujung rambutnya saat Alfred tiba, membantu memperbaiki kamar di seberang yang akan dihuni orang baru.

"Hei." Alfred duduk di samping Natalya di atas tempat tidur.

"Mm."

"Apa kau yakin?"

Natalya berhenti, kemudian mengangkat pandangannya ke arah Alfred. "Apa?"

"Ikut bersamaku?"

"Satu pilihan terbaik. Berbahaya jika aku kembali ke Soviet."

"Kakak-kakakmu mungkin ada di sana. Aku bisa mengantarmu."

Natalya menatap Alfred tajam. Alfred hampir-hampir mundur dari hadapannya jika ia tidak mengenal Natalya sebaik ini. "Orang-orang akan tahu aku mengundurkan diri secara tidak hormat dari ketentaraan. Kau tidak tahu bahaya apa yang mengancam para desertir dari pihak kami. Ada cerita-cerita buruk yang beredar dan aku tidak ingin mengalaminya. Dan jika kau mengantarku, setelahnya, apa yang akan terjadi padamu saat kau melarikan diri sendirian, sebelum keluar dari wilayah Soviet?"

Alfred menunduk, seolah-olah ia bisa menghitung kerutan pada sprei kusam. Ia menyukai tempat baru, tetapi jika disertai ancaman pada nyawa, lebih baik ia kembali pada apa yang ia miliki. Sesaat kemudian ia mempertemukan pandangannya lagi dengan Natalya. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku."

"Apakah masih perlu kata terima kasih saat kita sudah sejauh ini bersama?"

Alfred tertawa kecil. "Aku terlihat naif. Tidak menyenangkan sekali." Alfred kemudian menyadari suatu hal. Natalya meletakkan tangan di atas punggung tangannya di atas tempat tidur.

"Aku pernah terlalu putus asa dalam hidupku hingga aku benar-benar ingin mati. Aku bertanya pada dunia apakah aku bisa mengubahnya. Sampai saat ini mungkin aku tidak bisa ... tetapi mungkin itulah kesempatan untuk orang lain."

Alfred merasakan napas Natalya yang tenang pada wajahnya. "Aku tidak pernah dipercayai setulus ini, kecuali oleh Matthew."

Natalya tidak menanggapi lagi, ia menutup matanya. Alfred menganggapnya sebagai izin, maka ia pun mencium Natalya. Tangannya juga bergerak untuk menggenggam tangan Natalya dan membawa tangan itu ke pangkuannya.

Setelahnya, Alfred berbisik tepat di depan telinga Natalya setelahnya, "Kita bisa saling percaya untuk seterusnya."


"Aku sudah menelepon markas di Inggris." Feliks meletakkan dua paspor ke atas meja sambil menyeringai tipis. "Dan aku bicara pada Arthur Kirkland secara langsung. Dia terkejut. Aku hanya bilang ada janji dari Warsawa dan ada dua orang yang akan menemuinya. Dia tidak banyak bertanya. Dia selalu berada di markasnya pada pukul enam petang. Hari apapun kalian datang, dia akan menyambut kalian."

Alfred langsung berdiri dan merangkul Feliks. "Terima kasih, Kawan. Aku tidak tahu apa yang harus kami lakukan lagi padamu, pada kalian semua."

"Oh, santai! Orang-orang sudah biasa datang dan pergi." Feliks balas menepuk punggung Alfred.

Natalya melirik, menemukan bahwa di bawah paspor itu juga ada tiket kereta menuju London. "Omong-omong, kapan kereta kami akan tiba?"

Feliks mengangkat pergelangan tangannya. "Pukul delapan lima belas. Stasiun, kalian bisa menemukannya dengan berjalan lurus dari jalan utama, belok kiri, terus, hingga kalian menemukan petunjuk arah di tepi jalan. Jarak stasiunnya dua puluh menit jalan kaki dari sini."

Alfred melirik jam dinding. "Sekarang pukul delapan kurang sepuluh menit—sial! Sekarang! Kami harus berangkat sekarang?!"

"Ups, sori karena baru ke kamar kalian sekarang," Feliks berkata sambil mengangkat bahu, tersenyum tanpa rasa bersalah. "Tidak ada waktu untuk basa-basi lagi. Ayo cepat!"

Natalya mendengus, tetapi ia langsung mengambil mantel tebal yang dia dapatkan dari penghuni sebelah yang baru pergi kemarin malam. Kemudian, dia menghampiri Feliks, hanya menghadapnya sesaat sambil mengangguk. "Terima kasih. Aku akan mengingatmu."

"Cintailah Polandia sebagai salah satu rumahmu, Natalya. Aku suka bahasa Polandia-mu dengan dialek yang menarik itu. Sampai jumpa lagi, semoga berbahagia!"

Mereka hanya sempat melambaikan tangan di depan kamar itu.


Mereka hampir-hampir ketinggalan kereta karena jam di rumah itu sebenarnya lebih lambat lima menit dari seharusnya.

Tidak seperti dugaan Alfred, kereta itu sepi sekali. Di gerbong tempat mereka berada, hanya ada lima orang, dan mereka berada pada kursi yang berbeda-beda.

"Tidurlah jika kau ingin. Tidak perlu memaksakan diri."

Natalya mendekat pada Alfred, tetapi tidak bersandar sepenuhnya. Ia memandang langit-langit yang kotor. "Terakhir kali aku naik kereta ... kami berempat. Aku dan saudara-saudaraku, lalu ayahku."

"Ke mana ibumu?"

"Tidak pulang selama empat hari. Aku curiga dia menghabiskan waktu bersama pria lain."

Alfred memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya. "Ibumu cukup liar juga. Jangan marah, ya."

Natalya tertawa sinis. "Kurasa dia punya nafsu yang besar dan tidak mudah puas hanya dengan satu lelaki dalam waktu lama."

Alfred melirik tanpa Natalya ketahui. "Kau tidak seperti itu, 'kan?"

Natalya hanya tertawa.

"Kalau kau tidak bilang apa-apa, aku menganggap itu sebagai ya."

"Tidak. Kau pasti sudah mengerti aku tidak terbiasa dengan laki-laki kecuali kakakku sendiri."

Alfred menyunggingkan senyum yang sedikit licik. "Kalau begitu, kenapa kau bersandar pada bahuku?"

Natalya mendecakkan lidah, bergeser sedikit hingga kepalanya yang awalnya sedikit menyentuh pundak Alfred kembali tegak lagi, bersandar pada kursi yang keras. "Sekarang aku belajar bahwa situasi tertentu bisa mengubah pendirian dan kebiasaan."

"Memang seharusnya seperti itu, 'kan? Karena tidak satu pun dari kita bisa menduga kehidupan di masa yang akan datang."

Natalya mengembuskan napas panjang, ia menyerah dengan kembali menyandarkan kepalanya ke pundak Alfred.

Alfred rasa ia tak perlu bertanya lagi. Natalya lebih senang menjelaskannya tanpa kata-kata. Diam-diam ia tersenyum, lalu memejamkan mata. Ia tertidur lebih dulu daripada Natalya.

Keduanya sama-sama terbangun lagi di dini hari yang semakin dingin. Alfred tidak ingin mengeluarkan tangannya sama sekali dari saku. Di sebelahnya, Natalya terus-terusan menggosokkan kedua tangannya.

"Kita tidak membawa sarung tangan sama sekali, rupanya."

"Aku tidak sempat mencari di lemari itu."

"Masukkan ke dalam sakumu."

Natalya melakukan saran Alfred. Dia bisa lebih tenang sesaat. "Aku tidak tahu bahwa kakak sepupumu berada di militer Inggris."

"Dia terasa lebih seperti atasanku, bukan kakakku. Saudaraku hanya Matthew."

"Dia pasti tegas."

"Keras dan konservatif. Kau akan tahu begitu bertemu dengannya."

Natalya mengangguk-angguk pelan. "Aku menduga apakah dia seperti ibuku ... tetapi ibuku tetaplah lebih liar. Dia tegas dan keras, dia tidak terlalu suka melihat perempuan yang suka belajar. Dia suka pernikahan. Dia suka hubungan romantis. Dia rasa jika aku atau kakak perempuanku tidak menikah muda, dia akan gagal sebagai seorang ibu."

"Suatu pandangan yang menarik untuk dilawan."

"Aku tidak masalah soal usia—yang kupermasalahkan adalah cara dia memaksakannya." Natalya menarik napas sembari memejamkan mata. Ia menutup mulutnya yang menguap.

Alfred meraih tangan Natalya, lebih dingin dari tangannya. Ia lantas menangkupkan kedua tangannya pada tangan Natalya. "Apakah lebih baik? Atau aku terkesan memaksamu?"

Natalya tidak menjawab. Ia menyelipkan tangannya yang lain ke bawah tangan Alfred. Ia jatuh tertidur tidak lama kemudian.


Alfred tidak tahu tanggal berapa sekarang. Yang ia sadari, cuaca di London lebih parah. Dingin dengan angin yang tidak henti-hentinya menyerbu. Ada banyak orang di stasiun yang memakai mantel yang lebih tebal.

Di ingatan Alfred, terakhir kali ia berada di sini untuk menerima misi sudah samar-samar. Ia terbiasa melewati jalan-jalan London, tetapi sekarang semuanya terlihat asing. Ia tahu ia pernah berada di tempat ini, tetapi tidak ada hal yang khusus yang tertinggal di benaknya. Natalya tidak henti-hentinya melihat ke sekeliling, Alfred yakin ini adalah kali pertamanya ke daratan di luar kampung halamannya dan area-area di dekatnya.

Akan tetapi, dirinya seperti masuk ke dalam mode autopilot saat menuju markas yang dimaksud Feliks. Feliks hanya memberi gambaran singkat petunjuk arah dari stasiun, tetapi Alfred sudah terlalu familiar dengan tempat itu.

Markas itu berada di tepian kota, setengah jam berjalan kaki. Alfred meneguk ludah saat ia melihat beberapa orang di pos penjagaan.

Dan, ia seperti diantarkan pada Arthur dengan sendirinya. Orang itu berada di pos tempat melapor, tidak sedang memakai seragamnya, dan tengah mengobrol dengan seorang bawahan yang sedang berjaga.

"Kau?!"


Pipi kanan Alfred sudah merah, dan sekarang bagian kirinya.

"Desersi?! Kau melakukan ini? Kau punya banyak cara untuk menghubungiku, tahu!"

Alfred tidak menjawab.

"Kami semua mengira kau sudah mati!"

Alfred memandangi sekeliling tanpa melihat ke arah Arthur sama sekali.

"Aku tidak siap jika harus kehilangan dua orang sekaligus. Seharusnya kau bisa mengabariku!"

Alfred langsung menujukan tatapan pada Arthur. "Matthew?! Apa yang terjadi pada Matthew?"

"Hampir."

"Di mana dia sekarang?! Dia masih hidup, 'kan?" Alfred hampir saja menarik kerah baju Arthur jika Natalya tidak menarik tangannya.

"Dia sedang berada di rumah sakit Prancis. Tidak tahu kapan bisa keluar. Kabar dia sekarat datang bersamaan dengan kabar hilangnya pesawatmu."

Alfred mengusap wajahnya.

"Dan kau hanya mementingkan keinginanmu sendiri untuk bebas. Kau tidak tahu rasanya kehilangan, hm? Kau hanya ingin melarikan diri dan menuruti hasrat bodohmu itu."

"Kau menyebut hasrat sederhanaku bodoh, Tuan Ambisius?! Memangnya hanya kau yang boleh dan bisa mengejar tujuanmu untuk mendapat posisi tinggi di ketentaraan? Kau dilahirkan sebagai orang besar, dan kau mengejar tujuan yang lebih besar—dan kau menghardikku yang ingin mengubah nasibku yang terbuang dari keluarga?!"

"Tutup mulutmu, Bocah. Kau tidak mengerti apa-apa."

"Lebih baik aku tidak mengerti apa-apa daripada aku berlagak seperti tahu segalanya dan menampar keluargaku sendiri hanya karena ia menginginkan sesuatu yang baik."

"Baik bagimu, tidak untuk yang lain, Jones!"

"Kalau itu baik untukku, kenapa aku tidak boleh memilikinya? Kebebasan itu?"

Bahu Arthur melemas, bibirnya terkatup rapat tetapi keningnya berkerut dalam. Ia langsung berbalik pergi, kemudian mengunci ruang kerja pribadinya.

Alfred mengusap wajahnya dengan keras sekali lagi. Ia menendang kursi kerja Arthur, lalu tubuhnya longsor di dinding dekat jendela, di samping kursi yang terjengkang itu. Natalya mengetukkan tongkatnya di hadapan Alfred dengan canggung, tetapi setelah menggeleng-geleng, ia ikut duduk di lantai di sisi Alfred.

"Keras kepala sekali, hm?"

"Dia merasa tahu apa yang terbaik untukmu."

"Dia punya pengaruh. Itu saja."

Natalya menyelonjorkan kakinya dengan hati-hati. Baru ia sadari betapa pegalnya kakinya yang sehat, dan kaki yang masih dalam proses penyembuhan itu hampir mati rasa. "Kalian mirip dalam beberapa hal."

Alfred tertawa sinis. "Mungkin karena kami masih punya gen yang sama. Tapi silsilah kami rumit."

"Rumit?"

"Sampai saat ini aku masih tidak mengerti. Dia yang paham. Dia yang mengenaliku saat kami bertemu sebelum misi-misiku. Katanya kami pernah bertemu saat usiaku empat atau lima tahun. Dia bilang dia harus menganggapku kakak sepupunya, karena ibunya bisa disebut sepupu jauh ayahku."

Natalya meletakkan tongkatnya di lantai. "Lebih baik kau tidak usah mengerti."

"Ha." Alfred kemudian melepaskan mantelnya. "Dia orang besar. Dia berdarah bangsawan, ibunya masih berkerabat dengan Raja. Dia pernah masuk istana dan bertemu dengan Raja. Keluarganya kaya, dia sebenarnya bisa hidup tenang tanpa mengharapkan pensiun sebagai anggota perwira tinggi yang sedang diusahakannya. Keluarganya pun punya puri, satu di pinggir kota, satu lagi di pedesaan di utara Inggris. Tempat mereka semua mengungsi saat Blitz terjadi. Aman, damai, kehidupan yang agung. Dia dan aku terlalu berbeda, tetapi dia masih menganggapku bagian dari hidupnya."

"Bukankah itu bagus? Memiliki seseorang yang masih peduli padamu?"

"Aku adalah bagian hidupnya, maka dari itulah dia mengaturku semaunya." Alfred mengacak-acak rambutnya. "Sekarang, apa?" Pertanyaan itu jadi terlalu familiar sekarang. Tahapan-tahapan hidup mereka seolah harus dimulai dengan pertanyaan itu.

"Maaf."

"Heh?"

Natalya memusut-musut mantelnya. "Kau menjadi desertir bersamaku. Kau mengikuti langkahku. Setelah ini, kau tidak tahu apa yang harus kaulakukan pada hidupmu, pada hidup kita. Aku yakin saat kau kembali ke Amerika Serikat, orang-orang akan mencemoohmu. Kau akan sulit mendapatkan pekerjaan."

Alfred malah tertawa, meskipun hanya sesaat saja. "Karena kau? Aku memilih, Nona. Ini hanya bagian dari pilihan itu. Kita akan menemukan cara. Entah bagaimana. Selama kita masih ingin hidup, kita pasti akan mendapatkan jalan. Kau masih ingin hidup, hm?"

Anggukan Natalya pelan dan takut. Seakan-akan Alfred sedang mengujinya. "Kau bilang dia suka mengaturmu semaunya. Namun nyatanya, kau hanya kembali padanya di saat-saat seperti ini."

"Yah, aku memilih, aku punya harapan. Kupikir dia masih punya belas kasihan, terutama karena aku adalah keluarganya. Namun Arthur tetaplah Arthur. Jalan hidup kita bukan hanya berada di tangannya."

Natalya menyandarkan kepalanya dan mendongak. Ia masih merasa bingung terhadap Inggris, dan sekarang ia harus turut memikirkan pilihan-pilihan yang harus diambil pula. Kepalanya sakit.

"Hei." Alfred memainkan tangan di hadapan wajahnya. "Kau boleh tidur kalau kau lelah."

"Tidak. Aku hanya berpikir."

"Berpikir membuatmu lelah. Tidurlah."

Natalya baru saja membuka mulut saat pintu dibuka kembali dengan kasar.

"Aku sudah menelepon Michelle. Ikut aku ke sana. Tinggal di sana sampai kau tahu apa yang harus kaulakukan."

"Hah?" Alfred berdiri, mendekati Arthur yang sedang menyilangkan tangan di depan dada. "Siapa itu Michelle? Ikut ke mana? Apa yang akan kaulakukan pada kami berdua?"

Arthur berdecak keras. "Tunanganku. Dia tinggal di rumahku. Dia pasti senang mendapat teman."

"Kau tinggal bersama tunanganmu?! Apa yang keluargamu katakan?"

"Banyak sekali pertanyaanmu? Cepat. Kita pergi ke sana sebelum lebih banyak orang tahu bahwa kau, orang yang dianggap hilang dan mati berminggu-minggu lalu, kembali ke sini. Buatlah sebuah alasan heroik untuk berjaga-jaga, karena orang-orang pasti akan penasaran atas hilangnya seragam dan dog tag-mu."

Alfred melirik pada Natalya yang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum tipis. "Aku menolong seorang wanita. Pesawat kami sama-sama jatuh, tepat saat itu pasukan Jerman datang menyisir lokasi. Kami tidak punya pilihan lain selain melarikan diri bersama."

"Dia tidak mengarang cerita," timpal Natalya. "Kami melakukan ini bersama."

Arthur memandang mereka berdua bergantian dengan rahang menggantung. Ia langsung berbalik. "Ck. Orang brengsek sepertimu bisa mendapat kisah romantis. Dasar."

"Kau punya tunangan yang tinggal di rumahmu dan kau mengatai aku romantis?"

"Aku tidak bisa pulang sering-sering, bodoh! Makanya kubiarkan dia tinggal di rumahku."

Alfred mengangkat alis, memberikan senyum isengnya pada Natalya.


Tidak ada yang bicara di sepanjang perjalanan tadi. Arthur mungkin masih marah, kesal, tetapi juga lega pada saat bersamaan sehingga ia tidak bisa mengungkapkan semuanya dengan benar sekaligus. Natalya duduk sendirian di kursi belakang, sesekali memijat kakinya yang ia yakin akan membuatnya susah tidur malam ini.

Benar saja kata Alfred: tujuan mereka benar-benar sebuah puri. Halaman depannya tertata apik dan punya beberapa lampu dan bangku, sampai-sampai Natalya berpikir bahwa biaya pembuatan dan perawatan halaman depan ini saja akan sama dengan harga rumahnya dulu.

Sangat menyedihkan bahwa rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dua orang, dan salah satunya tidak bisa sering pulang.

Pintu depan tidak terkunci.

"Michelle! Sudah berapa kali kubilang, kuncilah pintu depan mulai dari sore hari!"

Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu yang luas dan diisi banyak perabot khas era Victoria itu. Kursi-kursinya terbuat dari kayu dan beledu, lampu antik menggantung di atas dan dipajang di atas meja. Hanya dari sisi sini pun Natalya sudah membenarkan perkataan Alfred; Arthur benar-benar bisa hidup tenang hingga masa tuanya meskipun tanpa mengejar jenjang karir atau ambisinya. Ia benar-benar punya segalanya, setidaknya dari segi fisik.

Ruang tengah disusun mirip dengan ruang tamu, akan tetapi lebih besar dan lengang. Hanya ada tiga kursi di sudut-sudut, sebuah meja besar ... dan berlembar-lembar peta juga banyak buku yang dihamparkan di lantai.

"Wah, aku lupa. Sori."

Gadis itu berada di tengah-tengah peta dan buku, pensil di tangan dan di atas telinganya, lalu ia memandang Arthur sekilas. Kemudian ia berdiri, mengibaskan tangannya di kedua sisi roknya, menyambut Arthur. Hanya pelukan singkat dan Arthur yang mengecup keningnya, tetapi membuat Natalya memikirkan kembali pilihan hidupnya. Memiliki seorang partner dalam hidup sepertinya menyenangkan sekali. Seringkali ia memang harus sendiri, tetapi kadangkala ia pikir melakukan sesuatu bersama-sama juga menyenangkan. Lantas ia melirik lelaki di kirinya. Alfred tidak sedang melihat ke arahnya, tetapi Natalya ingin sekali berharap.

"Kau—tunggu sebentar." Michelle mengetuk-ngetukkan jarinya ke bibir. Sesaat kemudian ia menjentikkan jari. "Alfred Jones? Ciri-cirimu cocok dengan yang pernah Arthur ceritakan. Benar, ya?"

Alfred mengangguk. Michelle dengan cepat menyalaminya. "Kami kira kau sudah gugur di medan perang."

"Hampir saja. Aku menyelamatkan gadis ini." Alfred merangkul bahu Natalya dan mengajaknya maju ke arah Michelle. "Kami hampir diketemukan oleh tentara Jerman. Kami menyamar menjadi orang biasa agar tidak menjadi tawanan. Perkenalkan, Natalya Arlovskaya."

Michelle menjabat tangan Natalya hangat. "Michelle Hoarau. Tunangan si berisik ini."

"Enak saja." Arthur duduk di kursi paling besar, kursi miliknya sendiri. "Untuk apa semua buku dan peta ini? Mau pergi lagi?"

"Memangnya apalagi? Aku akan pergi ke Afrika bulan depan. Ekskavasi di Bamako dan Timbuktu." Dia duduk di kursi yang berseberangan dengan Arthur.

Arthur termenung, lalu melakukan gestur defensifnya lagi—menyilangkan tangan. "Bulan depan aku harus pergi ke Prancis. Aku mungkin tidak bisa mengantarmu separuh jalan seperti biasanya."

"Aku akan berhati-hati, tenang saja. Aku tidak akan mengubur diriku sendiri dengan tanah galian."

"Terakhir kali kau berjanji seperti itu, tanganmu bengkak karena kejatuhan alat."

"Ayolah, aku akan lebih sungguh-sungguh di kesempatan yang akan datang."

"Ck." Arthur kemudian beralih pada Alfred dan Natalya. "Duduklah. Kita harus membicarakan hal penting tentang kalian berdua dulu."

Alfred mempersilakan Natalya untuk duduk di kursi, sementara itu ia di atas lengan kursi tersebut. "Eksekusi?" tanya pemuda itu.

Tatapan Arthur menjadi tajam sesaat.

"Mereka akan tinggal di sini, Arthur?"

"Kita tidak mungkin mengirimnya balik ke Amerika Serikat. Desertir. Apa-apaan itu? Tetangganya akan mengatainya. Mau jadi apa dia di sana? Pengemis?"

Natalya merasakan Alfred tetap tenang di sampingnya. Di satu sisi, ia lega.

"Tinggal bilang saja dia cedera dalam lalu tidak bisa melanjutkan pengabdian, susah sekali ya? Atau katakan saja dia terkena virus, jadi dia dipulangkan mendadak."

"Orangnya sehat-sehat saja begitu. Kebohongan akan terungkap, tahu."

"Mungkin saja tidak," balas Michelle. "Dia selamat dari kecelakaan pesawatnya sendiri pun mungkin. Kenapa tidak untuk sebuah kebohongan sederhana? Lagipula dia melakukan sesuatu yang bagus. Ia menyelamatkan Natalya, bukankah begitu?"

Arthur memijat pangkal hidungnya. "Baik, baik, aku mengerti itu! Tapi mengirimnya hanya beberapa minggu setelah dia mengalami kecelakaan akan memberikan petunjuk pada kebohongan kita sendiri."

Michelle memandangi Natalya dan Alfred sebentar. "Boleh juga. Dan—oh, Natalya, kakimu?"

"Patah karena kecelakaan pesawatku."

"Hei, kau perlu rumah sakit!"

"Sudah—di Polandia kami sudah ke sana," jawab Alfred, "meskipun baru satu kali. Mungkin kami butuh beberapa kali kunjungan lagi sampai kami bisa menentukan nasib kami berdua."

"Kalian tetap di sini. Michelle, punya rencana untuk dua anak ini?"

"Arthur, mereka baru saja datang. Kau menyuruh mereka bekerja?"

"Alfred harus dididik untuk terus mandiri! Dia tidak boleh hanya bersenang-senang."

"Kau ingin menghukumku karena aku memilih jalan ini?"

Natalya berbisik menyebut namanya, menegur sambil mendesis ssshh.

"Hidup tidak hanya tentang membuat pilihan, tetapi juga menjalaninya, tahu! Apa yang akan kaulakukan di masa depan?"

"Yaaa, ya, aku tahu aku bukan dirimu yang punya segalanya. Harta, jabatan, jaminan pensiun yang besar. Apalagi yang kurang darimu? Dan aku, di sini, kekurangan segalanya. Pengetahuan, pengalaman, rencana untuk masa depan. Aku tidak boleh berdiam di masa kini. Aku harus punya rencana. Aku harus punya jaminan hidup sepertimu."

"Alfred!"

"Sssh," tegur Michelle, menghentikan Arthur yang hendak berdiri. "Kau terlalu terburu-buru. Dia bisa berada satu-dua hari di sini tanpa memikirkan apapun. Aku akan membantunya, jadi kau tidak perlu memikirkan semuanya sendirian. Kita akan menemukannya nanti."

Natalya meletakkan tangan di atas tangan Alfred agar laki-laki itu tetap diam.

Arthur mengelus keningnya. "Aku tidak ingin dia berlarut-larut."

"Dia akan bisa melakukannya," tambah Michelle lagi. "Santailah dulu. Kalian berdua, apakah sudah makan? Aku akan memanggilkan Peggy untuk memasak lagi."

"Dia tidak datang hari ini?" nada bicara Arthur sudah bisa lebih tenang.

"Peggy hanya datang siang hari. Aku tidak makan malam, jadi kubiarkan dia pulang saat sore."

"Kau tidak makan malam lagi?"

"Perut yang kenyang tidak membantuku belajar tiap malam hari. Jadi kuabaikan saja. Tidak masalah. Aku sehat-sehat saja."

Arthur berdecak. "Ya sudah. Apakah aku perlu mengantarmu?"

"Tidak usah. Sebentar saja. Dia pindah ke flat yang dekat dari sini, jadi aku akan kembali dalam waktu lima menit." Michelle pun beranjak, sempat bertukar senyum dengan Natalya sebelum ia mengambil mantelnya.

Perang tatapan antara Alfred dan Arthur tidak berhenti sampai Natalya memecah keheningan. "Kamar mandi di sebelah mana?"

Arthur mengedikkan dagu ke arah lorong di seberang kiri Natalya. "Lurus saja, lalu belokan pertama di kanan, dekat lemari besar."

Begitu Natalya pergi, Arthur berdiri. Dia mendekati Alfred, tetapi tidak lagi melakukan gerakan defensifnya. "Kita harus bicara. Dua pria."

"Kuharap kau lebih bijak."

Arthur menarik napas panjang, menahannya beberapa saat. "Kau dan Natalya. Aku tidak tahu apa persisnya hubungan kalian, tetapi, sedekat apapun itu, kuharap kalian mempertimbangkan soal anak. Semoga tidak sampai terjadi di tempat ini."

"Kata orang yang tinggal serumah dengan tunangannya. Ha."

"Kau yang tidak bijak menilai saranku kali ini." Arthur duduk di tempat Michelle tadi. "Siapa yang akan membiayai kehidupan kalian? Itu yang kukhawatirkan. Aku mungkin bisa memberi dalam jangka waktu tertentu, tetapi kehidupan kalian tidak mungkin hanya bergantung seperti itu."

"Arthur, kau berpikir terlalu jauh. Kami bahkan belum memulai apa-apa. Pikiranmu terlalu kompleks."

"Aku hanya berjaga-jaga."

"Ini kehidupanku."

"Aku juga bertanggung jawab!" Arthur tidak bisa menahan intonasinya lagi. "Kau adalah bagian dari keluarga besarku. Aku tidak mungkin membiarkanmu begitu saja. Aku mungkin terdengar mengatur-aturmu, atau seperti orang dewasa yang brengsek, tetapi siapa lagi yang akan memberimu petunjuk—karena ayahmu kehilangan kesempatan untuk melakukan itu?"

Alfred tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau dan Natalya. Hak kalian untuk memulai kehidupan bersama, tetapi pertimbangkan lebih banyak hal dulu."

Alfred menghindari pandangan Arthur. "Kami tidak menyukai anak-anak. Kami masih jauh dari hal-hal seperti itu. Aku ingin menata hidupku dulu. Begitu juga Natalya."

Natalya kembali. Arthur mengangkat kedua tangannya. "Aku akan mengecek kamar di atas. Kalian ingin terpisah atau bersama?"

Alfred dan Natalya hanya sekali saling lirik sebelum Alfred memutuskan, "Satu kamar yang sama tapi tempat tidur yang terpisah, bisa?"

Arthur memandang mereka berdua dingin. Saat ia berbalik, ia bergumam, "Kalian pikir rumahku hotel, rupanya."


Mereka mendapatkan kamar di lantai dua, di tengah-tengah, di depannya adalah birai dan langsung menampilkan ruang tengah di bawahnya. Alfred diminta mengatur sendiri kamar itu, mengangkut tempat tidur dari kamar sebelah sendiri dan menata isinya sesuai yang ia kehendaki.

Natalya mendapat pinjaman baju dari Michelle, dan ia sedang berganti pakaian di dalam. Alfred berdiri di luar kamar, membereskan barang-barang penuh debu membuatnya butuh udara yang lebih segar.

Ia tidak bermaksud menguping, tetapi suara Michelle dan Arthur dari bawah sana mustahil tidak terdengar dari posisinya yang bersandar pada birai.

"Alfred sudah pernah kuliah di sana. Berhenti di semester kedua. Barangkali karena bukan jurusan favoritnya."

"Kita bisa menyarankan salah satu jurusan di sini. Salah satu pabrik tekstil keluargamu juga sedang butuh staf, huh? Cabang dari yang di Glasgow, yang membuat Allistor ribut berkali-kali meminta kejelasan cabang yang di sini."

"Yang kedua aku setuju walaupun aku yakin Alfred butuh waktu. Yang pertama susah sekali. Administrasi, nomor satu. Mereka tidak mungkin menerima orang tanpa identitas sama sekali hanya karena dia keluarga seseorang yang tinggal di sini."

"Baiklah, paling tidak satu pemecahan. Natalya?" Michelle berusaha mencari jawaban sendiri. "Aku berminat mengajaknya belajar atau bekerja bersamaku sebagai asisten."

"Kau tidak bisa membawanya bepergian untuk ekskavasi semaumu."

"Itu benar juga, tapi paling tidak aku punya asisten untuk riset dokumentasi atau pendamping ke museum-museum, atau asisten saat ada konsultasi atau diskusi dengan rekan-rekan. Bisa kuusahakan."

"Bisa kuterima."

"Bisa lihat, 'kan, kita bisa melakukannya dengan pelan-pelan? Tidak dengan diskusi saat kepalamu masih mendidih."

"Sudahlah, kau tidak tahu aku benar-benar kesal dan marah saat menemukannya—selain lega, tentunya, tetapi aku juga panik karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padanya. Aku turut bertanggung jawab atas dia baik sebagai mantan atasannya maupun keluarganya yang tersisa."

"Aku tidak tahu kau masih punya sisi lembut itu." Michelle tersenyum, hampir-hampir tertawa.

"Kau berkata seperti itu seolah-olah aku adalah setan tak berhati. Kalaupun aku tidak punya sisi lembut, untuk apa kita masih bersama?"

"Kata-katamu kejam." Michelle menotol hidung Arthur. "Aku akan buatkan teh khusus untukmu, yang Peggy tidak tahu takarannya."

Sebelum membiarkan Michelle pergi, Arthur menahan tangannya lalu mencium pipi perempuan itu, lalu menggumamkan terima kasih. Alfred menyaksikannya sungguh-sungguh.

Andai saja ia punya kehidupan seperti Arthur, mungkin ia akan menghentikan mimpinya tentang berpetualang. Ia jadi sadar, jangan-jangan sebelum ini ia ingin berpetualang karena ia tidak pernah bisa membayangkan memiliki hidup yang tak berkekurangan seperti ini, sehingga ia memilih untuk pergi membebaskan diri.

Ia hampir saja memikirkan godaan itu jika Natalya tidak menepuk pundaknya.

"Kau ... tidak ingin membersihkan dirimu?"


Alfred melihat Natalya memijat kakinya saat ia beranjak untuk keluar kamar, di tengah malam itu.

"Kakimu tambah parah? Besok aku akan membujuk Arthur agar mau mengantarkan kita mengobati kakimu lagi."

"Sudah tidak perlu. Ini normal. Aku hanya kelelahan karena berjalan kaki dan terlalu lama duduk di kereta."

"Kau prajurit, Natalya. Kau tidak seharusnya cepat lelah atau mengalami sakit seperti ini."

"Aku sudah bukan prajurit lagi." Natalya seakan-akan ingin tersenyum, tetapi dia menahan dirinya. Kemudian perempuan itu berdiri, berjalan menuju Alfred. Alfred yang awalnya berdiri di ambang pintu langsung berbalik menghampirinya.

"Kau membutuhkan sesuatu?"

Lama Natalya menahan pandangannya pada Alfred, dan tidak ada yang keluar dari bibirnya selama beberapa saat. Natalya menyadari rambut Alfred sudah memanjang dari yang pertama kali mereka bertemu dahulu. Ia bahkan bisa menemukan rambut-rambut halus di atas dan di bawah bibirnya. Pemuda ini juga harus memikirkan dirinya sendiri. Natalya selalu merasa pertanyaan-pertanyaan Alfred atas keadaan dirinya berlebihan. Dia harus mengamati dirinya sendiri juga.

"Ya?"

Natalya memejamkan mata sesaat. Untuk beberapa detik, ia mengingat kembali saat-saat menyenangkan dari masa kecilnya, yang tak seberapa dan hanya bisa ia ingin satu-dua peristiwa. Perasaan itu kembali lagi saat ini. "Mungkin aku belum mengucapkan ini—aku tidak pandai mengatakannya ..."

"Sebenarnya ada apa?"

"Terima kasih."

Alfred mengulum senyum, seakan hal itu tak pernah menjadi pertimbangannya. Seakan-akan ia tak perlu hal tersebut. "Kenapa malah memikirkan itu?"

"Banyak hal yang kaulakukan padaku."

"Sudah merupakan kewajibanku."

"Kewajiban atas apa? Aku bukanlah kenalanmu. Kita tidak satu divisi, bahkan tidak berada di pihak yang sama. Kau tidak wajib melakukannya."

"Mungkin tidak, tetapi aku memilih untuk melakukannya. Ada sisi kemanusiaan yang tidak pernah mati di diriku. Kita sama-sama berjuang. Kita adalah orang-orang yang mempertaruhkan diri. Kita bisa mati kapan saja. Kalau kita masih punya harapan untuk hidup, dan bisa membaginya dengan orang lain, kenapa tidak?" Alfred memegang bahu Natalya, menarik tubuhnya lalu mengecup keningnya. "Mungkin juga yang saat itu bukan hanya tentang harapan, tetapi juga bagian dari takdir yang lebih baik daripada apapun yang bisa kita pilih."

Natalya mengangguk pelan, dia tidak berkata apa-apa lagi. Alfred menepuk bahunya pelan, kemudian keluar dari kamar. Natalya menarik napas dalam-dalam.

Ia menunggu hingga Alfred kembali, barulah ia memejamkan mata.

tbc.