Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


Di luar masih terlalu gelap bagi orang-orang memulai hari-hari mereka, tetapi Alfred sudah terbangun. Instingnya masih bekerja, dan di saat seperti ini, ia cukup membenci hal itu. Ia masih butuh istirahat, tetapi terlalu lama di atas bantal tanpa bisa tertidur hanya membuat kepalanya sakit.

Ia keluar dari kamar dengan mengendap-endap, kemudian menengok ke bawah melewati birai.

Arthur mengakhiri pembicaraan dengan Michelle, ia berseragam lengkap, lalu pergi tanpa menyadari Alfred mengamatinya dari atas. Michelle yang entah mengapa, mungkin hanya secara refleks setelah berbalik dari mengunci pintu, memandang ke atas dan melambaikan tangan.

"Ayo turun! Kita minum teh bersama."

"Akan kubangunkan Natalya dulu."

Di dalam kamar, Natalya menimbun dirinya dengan selimut. Alfred sudah bersiap Natalya akan marah atau minimal menggerutu setelah ia menarik selimut itu, tetapi Natalya rupanya masih mempunyai insting yang sama dengan dirinya.

"Aku akan bangun, tidak usah memaksaku."

"Michelle mengundang kita untuk minum teh."

Natalya menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti bahasa ibunya bagi Alfred, tetapi ia mengabaikannya. Ia segera keluar dan meninggalkan pintu kamar dalam keadaan terbuka.


Michelle tengah mengaduk teh untuk dirinya saat Alfred tiba di bawah, disusul oleh Natalya tak lama kemudian.

"Maaf, tidak ada sarapan. Masih belum waktunya. Arthur berangkat terlalu cepat."

"Siklus hidup laki-laki itu memang susah diikuti. Kau keren sekali, bisa tahan hidup bersamanya."

"Dia memang menyebalkan, tapi aku juga orang yang menyebalkan." Michelle menyengir seolah hal tersebut adalah fakta membanggakan. "Jadi kami impas. Apa yang menyebalkan darinya tidak sama dengan yang menyebalkan dari diriku, jadi kami saling menutupi."

Alfred mengerutkan hidungnya. "Cara yang keren juga untuk tetap menjaga komitmen."

"Cara yang luar biasa juga agar Arthur tidak terlalu sibuk dengan dirinya sendiri." Michelle mengetukkan sendok pada bibir gelasnya. Cara yang dianggap Alfred menarik karena dia melakukannya seperti sedang menciptakan sebuah irama. "Serius, dia seharusnya hidup tenang dengan semua yang ia miliki. Tetapi dia terus mengejar, mengejar, dan mengejar. Dia butuh seseorang untuk diperhatikan agar dia tidak dimakan oleh ambisinya sendiri."

"Hal itu yang pertama kali kupikirkan di kali pertama aku marah pada Arthur." Alfred memandangi sesaat wadah gula yang bermotif sama dengan cangkirnya. Bunga biru muda, dengan daun-daun merah gelap dan sulur-sulur cokelat. Entah ide Michelle atau Arthur untuk mengoleksi benda seperti ini. Jika itu ide Arthur, ia berniat menjadikannya senjata pamungkas, kapan-kapan. Ia tersadar kemudian, ia menggantung kalimatnya. "Arthur keras kepala sekali soal kode etik dan pangkat. Dia butuh banyak orang untuk mencubitnya agar dia berpuas diri saja dengan apa yang ia punya."

Setelah menyeruput tehnya beberapa kali, Michelle berkata tenang, "Kata orang-orang, Arthur punya segalanya. Yah, orang-orang juga bisa salah." Ia menyengir lebar. "Dia seringkali tidak punya kekuatan untuk menahan diri."

"Baguslah kau berada di sini."

Michelle hanya tersenyum. Ia beralih pada Natalya. "Natalya, boleh tahu lebih banyak hal tentangmu? Aku senang sekali punya teman perempuan!"

Natalya melirik Alfred, tetapi Alfred tak menganggapnya sebagai permintaan tolong.

"Apa saja. Kalian bermaksud tinggal lama di sini, 'kan? Kita harus mengenal satu sama lain dengan baik."

"Soal itu sebenarnya tergantung," Alfred menyahut, sambil mengedikkan dagu ke arah Natalya entah untuk apa. "Kami hanya belum memutuskan."

Michelle mengibaskan tangannya di udara. "Santailah. Kalian punya banyak waktu."

"Apa ... yang harus kuceritakan?" Natalya menekuri permukaan meja, yang diukir pada tepiannya. Sungguh pekerjaan yang apik sekali. "Hidupku tak menarik."

"Sesuatu tak perlu menarik agar bisa diceritakan."

"Dua saudara, masa kecil yang tidak bahagia, ibu yang hobi laki-laki." Natalya kemudian mengangkat bahu. "Kurasa semua itu sudah cukup agar kau mengerti masa laluku."

"Wow, Natalya, aku adalah arkeolog, bukan penerawang masa lalu."

"Arkeolog?" Natalya menjauhkan cangkirnya sedikit agar kedua tangannya bisa bertumpu di tepian meja. "Oh, seharusnya aku ingat. Kau akan pergi ke Afrika untuk ... penggalian? Benarkah?"

Michelle mengangguk antusias. "Aku arkeolog amatiran, hanya anggota dari tim yang terdiri dari senior-seniorku. Aku juga masih kuliah untuk sebuah gelar tambahan, dan bisa dibilang, aku bekerja sambil kuliah."

Alfred meletakkan cangkirnya. "Itu tidak terlalu menjelaskan hidupmu. Bisakah kau yang lebih dahulu bercerita? Aku ingin tahu bagaimana bisa kau bersama orang macam kakak sepupuku itu."

Mata Michelle berbinar seakan dia baru saja menemukan hadiah. "Aku berasal dari Afrika. Asli. Aku pindah ke Inggris bersama kakekku saat ia kuliah, lalu mengajar. Aku sempat kembali lagi ke pulau asalku, tetapi kemudian aku menjadi sukarelawan medis perang di Eropa ... yang kemudian diperbantukan ke Inggris saat Blitz. Aku dan Arthur bertemu di sana. Dia cedera saat itu, tahu."

"Ha?" Alfred seperti menemukan senjata pamungkas lainnya. "Orang itu juga bisa kalah, rupanya! Bagaimana bisa dia jatuh?"

Michelle menggeleng sambil mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu. Aku hanya petugas paramedis. Saat kutangani, dia sudah terbaring di tandu dan tampaknya dia hampir saja tidak diperhatikan orang lain kalau aku tidak berteriak bahwa dia orang penting!"

"Sepertinya dia berutang nyawa padamu."

Michelle hampir saja tersenyum. "Aku tidak menganggapnya seperti itu—tetapi baguslah jika Arthur berpikiran begitu. Tapi aku yakin dia takkan mengatakan apapun."

"Seperti biasanya." Alfred kemudian merasa berdosa turut menertawakan Arthur di belakangnya, bahkan bersama tunangan Arthur sendiri, tetapi ia kira ia bisa melakukan kebaikan kapan-kapan sebagai balasannya. Nanti saja memikirkannya.

Mereka hanya menikmati teh itu tanpa bicara hingga beberapa saat. Natalya tidak ingat kapan terakhir kali ia menikmati teh yang hangat, di dalam rumah yang nyaman, tanpa rasa takut akan bahaya—aman sepenuhnya. Mungkin tidak pernah seumur hidupnya. Tidak ada tradisi seperti ini dalam keluarganya. Sekarang ia berpikir bahwa mungkin wajar bagi keluarga mereka untuk menjadi hancur pada akhirnya, karena tak ada waktu untuk membicarakan hal-hal ringan dalam suasana akrab, di dalam keadaan yang nyaman tanpa berpikir untuk saling meneriaki satu sama lain.

"Karena kalian tidak memiliki rencana dalam waktu dekat—bagaimana kalau aku yang membuat rencana?"

Alfred berpura-pura bodoh. "Bisakah kau membantu kami?"

"Natalya bisa jadi asistenku. Aku selalu kerepotan membuat laporan, mencatat, memikirkan kesimpulan, memikirkan kata-kata dosenku—yah, semuanya. Aku jarang bisa ikut belajar berkelompok karena kesibukanku yang ganda ... dan, yah, itu sulit. Aku benar-benar butuh seseorang untuk bertukar pikiran, dan Arthur tidak bisa berada di sini setiap hari."

Natalya dan Alfred saling melirik, tetapi tak ada pandangan dengan cara khusus. Natalya menyetujuinya dengan santai, "Aku rasa aku bisa melakukannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku belajar, dan mungkin ini permulaan yang bagus."

"Dia belajar banyak bahasa sendiri, Michelle, kau bisa mempercayainya!"

"Wow, keren sekali! Bahasa inggrismu lancar sekali!"

"Yeah, untuk menutupi masa-masa yang buruk, aku harus melakukan sesuatu."

Sorot mata Michelle berubah untuk sesaat, tetapi ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja. "Kita akan mengisi hari-hari baru dengan cara yang baru juga."

"Kuharap bisa lebih baik ..."

"Tentu saja. Kita selalu boleh punya harapan. Dunia boleh mati di sekitar kita, tetapi selama hati masih menyimpan harapan, selalu ada yang bisa kita lakukan."

Natalya langsung menghabiskan tehnya. Alfred tahu ini pasti pertanda untuk sesuatu.

Meskipun kedengarannya tak begitu menyenangkan, tapi ia siap berbagi posisi dengan siapapun di hati Natalya. Natalya butuh lebih banyak orang di dalam hatinya.

"Dan, kau, Alfred ... aku tahu apa yang harus kulakukan untukmu—tetapi aku harus tahu pendapatmu dulu."

Alfred harus melirik Natalya sekali lagi, tetapi perempuan itu tidak memandangnya balik. Ia merasa harus menenangkan dirinya sedikit.

"Keadaanku saat ini adalah saat-saat untuk selalu mencoba."

Michelle mengangguk cepat. "Selalu ada masa untuk tenang, selalu ada masa untuk begrerak cepat. Mungkin saatnya untuk yang kedua, Alfred—dan, oh, mungkin aku belum mengatakan ini sama sekali, tetapi aku suka formalitas; selamat datang di keluarga ini. Arthur mungkin tak akan pernah mengatakannya sama sekali, tetapi kita semua tahu dia memang sangat bersedia. Selamat datang di rumah yang sangat sepi ini. Semoga kehidupan kalian bisa lebih menyenangkan."

Alfred bisa tahu Natalya menahan senyumannya.


Natalya bisa menyesuaikan diri dengan mudah dengan jadwal Michelle. Pagi-pagi sekali di hari berikutnya, dia telah bekerja sama dengan Michelle untuk memberantaki ruang tengah dengan hamparan peta dan buku-buku, dan kertas-kertas catatan yang entah mengapa bisa begitu banyak. Alfred bertanya-tanya apakah dengan cara ini juga Natalya memulai karirnya sebagai penerbang—atau mungkin dia telah menemukan sesuatu yag baru.

Lalu Natalya keluar rumah untuk pertama kalinya pada sore itu, ikut bersama Michelle untuk mengunjungi perpustakaan, menyempatkan waktu sebelum tutup karena Michelle mendadak membutuhkan satu literatur untuk sebuah laporan yang nyaris dilupakannya.

Pada hari berikutnya Michelle pergi ke kampus, dan Natalya yang mengambil alih hamparan kertas di lantai. Ia banyak mencatat. Alfred memilih membiarkannya sendiri, karena mungkin, mungkin, Natalya juga perlu jarak darinya. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu berdua, dan harus selalu ada kesempatan untuk bernapas. Alfred ingin meromantisasi bahwa dengan berjarak mereka akan tahu seberapa berharganya waktu berdua, tetapi ia sadar Natalya bukanlah orang yang sering memikirkan hal-hal seperti itu. Dia memang butuh waktu untuk kehidupannya sendiri, ruang baru untuknya bergerak, karena tak selamanya ia bisa bergantung dengan Alfred.

Natalya datang ke kamar lebih terlambat, terkadang Alfred tidur lebih dulu. Ia juga keluar lebih sering bersama Michelle. Alfred tak mempermasalahkan meski mereka pulang malam, karena ia tahu Michelle lebih tahu. Alfred memanfaatkan koleksi-koleksi buku Arthur yang banyak berhubungan dengan militer atau memoar-memoar tua untuk mengalihkan diri. Ia seringkali tidak mengutamakan membaca, tetapi saat ini ia tidak punya pilihan yang lebih baik.

Suatu waktu, saat Michelle pergi dan Natalya berkutat dengan konsep-konsep yang harus dibuat Michelle sebelum kepergiannya, Alfred menghampiri Natalya.

"Menyenangkan?"

"Daripada bertaruh nyawa, hal ini masih jauh lebih baik."

"Jauh atau sangat jauh?"

Mata Natalya berserobok dengan Alfred dengan cara yang selalu Alfred sukai, tatapan dari bawah bulu matanya yang tipis dan mudah sekali memantulkan cahaya. "Hal seperti ini yang kulakukan setiap hari saat aku kesepian. Hal itu yang membentuk diriku saat ini."

"Dan kau membentuk dirimu yang baru di masa depan dengan cara yang sama. Menyenangkan sekali melihatnya."

Natalya memandangnya begitu lama setelahnya tanpa berkata apa-apa, membuat Alfred sedikit curiga, sehingga ia pun duduk bersila di samping Natalya. "Ada apa?"

Natalya pun kembali pada pekerjaannya. "Tidak apa-apa. Michelle orang baik."

"Dan apa hubungannya dengan memandangku begitu lama?"

Perempuan itu mendelik sebentar. "Kau yang mempertemukanku dengan Michelle."

Alfred ingin mengatakan banyak hal, tetapi yang bisa disimpulkan bibirnya hanyalah senyuman. Saat ini, ia dan Natalya seolah bisa melakukan apapun berdua.


Seseorang datang beberapa hari kemudian, yang begitu mirip dengan Arthur. Michelle mengakrabinya seperti bicara dengan Arthur sendiri. Mereka saling mengenal dengan baik. Alfred yakin ia bisa mengenali orang ini dengan mudah lain kali, meskipun ia tidak melihat wajahnya. Suara nyaring dan seraknya sangat khas, yang disertai dengan dialek yang unik.

Dia Allistor, sepupu Arthur. Ia menjabat tangan Alfred ringan, padahal Alfred sudah mempersiapkan diri atas sentimen yang mungkin saja ditularkan Arthur padanya.

"Jadi, aku sudah tahu beberapa hal tentangmu," Allistor memulai. Ia duduk di hadapan Alfred, dan Michelle di sisinya. Ia duduk dengan santai, seolah rumah ini juga miliknya, salah satu tangan diletakkan dengan nyamannya di lengan kursi dan ia menumpukan kakinya di atas kaki yang lain. "Yah, memang berat. Tapi aku akan tetap menjaga rahasia."

"Seberapa banyak yang diceritakan Arthur?"

Allistor mengangkat bahu. "Tidak terlalu pribadi, tapi aku tahu banyak."

Alfred bersyukur ia tidak menjelaskan apa saja yang ia telah lakukan pada Natalya pada Arthur. Laki-laki itu ternyata juga sulit menjaga mulutnya. "Yah, mungkin kau bisa membantu. Terima kasih sebelumnya, dan terima kasih juga karena tidak perlu membuatku bercerita lagi hal-hal yang sebaiknya kutinggal saja di masa lalu."

"Kau tampaknya tidak punya pilihan, ya, Jones?"

"Seperti yang kaulihat."

"Jadi kau tidak mungkin menolak. Hm, aku tidak perlu repot-repot lagi, kalau begitu." Ia pun merapikan posisi duduknya, seolah yang berikutnya adalah pembicaraan yang sangat formal. "Aku punya gudang di sini. Kepala gudangnya berhenti karena terlalu royalis. Ia pergi mengabdi untuk ditugaskan ke Asia dan Pasifik. Jadi, gantikan dia."

"Gudang apa?"

"Logistik. Usaha keluarga. Aku dan Arthur yang memegangnya secara khusus. Berbagi bersama, seperti yang sering kami lakukan di masa kecil dulu. Namun karena Arthur juga kadang-kadang terlalu royal, aku yang harus mengambil lebih banyak peran."

"Dan mereka sering ribut karena itu."

"Kalau tidak ada Michelle, mungkin aku sudah pernah menampar anak itu. Aku hanya tidak tega pada perempuan. Aku tidak ingin menyakitinya dengan menampar tunangannya sendiri."

Alfred mulai mencium aroma persaudaraan yang rumit, tapi bukan urusannya. "Aku hanya mengatur gudang kalian, mencatat persediaan, begitukah?"

"Ya, hanya."

Alfred merasa ditampar secara halus.

"Dasarnya memang begitu. Sisanya, kau akan tahu di lapangan. Ini berbeda dengan medan perang, tetapi kau akan merasakan persamaannya nanti. Mungkin kau akan mudah beradaptasi, mungkin juga tidak. Tergantung. Yang mana duniamu sebenarnya, militer ataukah berusaha sendiri, kau bisa melihatnya nanti. Bagaimana?"

"Akan kucoba."

Allistor berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. "Kadang-kadang, dalam kehidupan, coba-coba bukanlah hal yang baik, Alfred. Mari. Kutunjukkan sekarang tempatnya dan apa yang harus kaulakukan."

Terakhir kali Alfred mencoba menyerah mungkin sudah lama sekali. Ia tidak menyerah di hari-hari sebelumnya, hanya mencari jalan keluar yang berbeda. Ia masih berlalu. Namun sekarang ... kelihatannya berbeda. Ia secara harfiah mengangkat kedua tangannya, kemudian bangkit. "Biarkan aku merapikan diriku dulu."


Natalya hendak memeluk Alfred sebelum lelaki itu berangkat tadi, karena ia hanya merasa ia membutuhkannya, tetapi ada dua pasang mata yang membuatnya tak nyaman. Rasanya sangat berbeda saat hanya ada mereka berdua dan orang yang masih berjarak dengannya menyaksikan apa yang ia lakukan, meskipun ia ingin sekali.

Maka Natalya pun menyibukkan diri lagi dengan sebuah buku yang beberapa hari lalu ia dan Michelle pinjam di perpustakaan. Michelle memintanya menandai halaman-halaman penting yang berhubungan dengan Afrika Barat agar bisa menjadi dasar dari penelitian arkeologi yang akan ia lakukan sebentar lagi.

"Hey. Mengalami kesulitan?"

"Tidak juga." Natalya tak mengalihkan pandangannya dari halaman yang berada di tengah-tengah buku tersebut. "Maaf jika aku agak lamban. Aku membaca beberapa bagian pelan-pelan agar mengerti."

"Itulah tujuanku. Aku tidak hanya ingin mengajakmu bekerja. Siapa tahu saja kau bisa tertarik dan lebih banyak tahu."

Michelle suka berdiskusi panjang-lebar, begitu yang Natalya tangkap setelah beberapa hari—atau mungkin sudah masuk hitungan minggu, ia benar-benar kehilangan arah soal waktu—mengenal Michelle. Natalya menurunkan buku itu ke pangkuannya. "Bagaimana bisa kau menyukai bidang ini?"

"Terjadi begitu saja. Karena aku sering menemani kakek di malam-malam belajarnya, aku tertarik pada banyak hal. Salah satunya pada masa lalu. Mungkin bagi beberapa orang, ada yang salah dengan terlalu banyak menengok ke belakang, teetapi, masa depan atau masa lalu, sama saja. Semakin kita menggali, semakin banyak yang bisa kita pelajari."

"Ya ... mungkin beberapa orang tidak." Natalya menelusuri tulisan di atas kertas dengan ujung jarinya. Tulisan itu timbul dengan cara yang aneh. Tintanya kasar, bagian-bagian dari spasinya tak beraturan. "Aku takut menengok ke masa lalu."

"Mohon maaf, tapi, apakah kau punya trauma?"

"Keluarga yang buruk."

"Ah, ayahku juga meninggalkan ibuku di usia pernikahan yang masih sangat muda. Ibuku kemudian juga meninggalkanku."

Natalya sempat tercengang sebentar. Ia tidak terbiasa memberikan simpati—karena seringkali ia merasa tak pernah ada yang menyamai dukanya.

Michelle tersenyum simpul, membuat Natalya kembali mempertimbangkan apa yang harus dia katakan.

"Dalam keluargaku, kematian selalu dianggap sebagai kepergian. Bukan sebuah kehilangan. Mereka hanya melakukan sebuah perjalanan baru, di tempat yang berbeda, dan roh pun sama seperti jasad fisik. Satu hal yang membuatku tertarik pada arkeologi, ingin mencari jejak tentang cara mereka memandang kehidupan dan kematian di masa lalu, membuka pikiranku."

Natalya sekarang melihat huruf-huruf di hadapannya menari. Tidak lagi berbentuk kata yang utuh. "Itu tujuan hidupmu?"

"Saat ini, ya."

Natalya berusaha menggali miliknya, tetapi ia tidak menemukannya. Apakah ia hidup hanya untuk mati pada akhirnya? Kalau begitu, ia akan selamanya menganggap kematian adalah kehilangan. Ia ingin memandang semuanya dengan cara yang berbeda. "Apakah tujuan hidup kita bisa sama?"

Michelle tersenyum simpul. "Saat ini, apa yang paling kauinginkan?"

"Apa yang kuinginkan berbeda dengan apa yang kubutuhkan, Michelle, dan aku sendiri pun tak pernah tahu."

Michelle menepuk bahunya. "Mungkin perkara itu bukan tentang hari ini. Mungkin besok?"

"Tapi aku sangat membutuhkannya ... karena ... jika terlalu terlambat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Aku pernah berniat dan berusaha untuk mati ... dan rasanya mengerikan. Jika bukan karena pertolongan Alfred, mungkin aku sudah mengalami kematian yang hampa."

"Hiduplah untuk Alfred, kalau begitu."

Natalya tidak bisa tersenyum. Ia masih merasa ada yang kurang. Ia tahu ia menganggap Alfred sama berharganya dengan hidupnya sendiri, tetapi ia tak bisa memastikan hidupnya begitu saja.

"Oh, aku mengerti." Michelle beringsut lebih dekat. "Benar, kita tidak bisa hidup hanya bergantung pada orang lain, betapa pun kita mencintainya. Aku tahu itu. Karena ... lihatlah, aku juga mengalaminya."

Dari tempatnya duduk, Natalya bisa melihat mata Michelle yang ramah dan hangat, dan ia mulai berpikir apakah semua yang terjadi di sekelilingnya ini adalah hal sebaliknya: Arthur-lah yang bergantung pada Michelle?

"Aku akan mengajakmu mencari tahu lebih banyak. Mungkin kau bisa menemukannya."

"Caranya?"

"Bepergian selalu membuka pikiran. Ikutlah denganku bulan depan."


Alfred bisa mengatakan kehidupannya kembali menjadi normal. Bahkan jika definisi normal itu adalah seperti ini, maka yang sebelum-sebelumnya pun, berbagai rangkaian peristiwa semenjak ia diberangkatkan ke medan perang, bukanlah sebuah kenormalan.

Allistor kurang-lebih seperti Arthur, tetapi ia memberi lebih banyak toleransi. Ia bisa menceritakan pengalaman hari pertamanya bekerja pada Natalya sambil tertawa. Ia masih bisa santai bercerita bahwa Allistor tidak bisa menjanjikan gaji yang tetap hingga beberapa waktu. Tak masalah, ucapnya pada Natalya, karena hal yang terbaik bagi mereka saat ini adalah rutinitas.

Hari pertama Natalya keluar rumah yang selanjutnya adalah seminggu kemudian, ia mengikuti Michelle ke kampusnya, membantu perempuan itu mencari literatur di perpustakaan yang membuatnya betah berlama-lama di sana. Dia mulai menyimpan ketertarikan pada naskah-naskah berbahasa Latin, tetapi saat ini hanya dirinya sendiri yang tahu.

Namun, bagi Natalya, masih ada yang mengganjal.

"—Hei."

Natalya tersentak. Alfred memainkan tangan di hadapan wajahnya.

"Kau masih memikirkan beban kehidupan?" Alfred bisa saja tertawa jika ia tidak mempertimbangkan mood Natalya. "Kita berada di satu titik yang menjanjikan. Jangan buat kepalamu berat. Kita mungkin belum mendapatkan kehidupan yang ideal, tetapi di sinilah kita memulainya."

Natalya menyusuri pola kusut sprei di bawah kakinya. Mendadak pola itu terlihat seperti lukisan yang lebih menarik daripada memandangi wajah Alfred.

Alfred duduk di sampingnya. "Aku tidak tahu bahwa di rumah ini, walaupun rumah ini cukup aneh untuk ukuranku, ada sebuah gangguan yang bisa membuatmu sakit hati lagi."

Natalya menggeleng. "Bukan masalah itu."

"Lantas?"

"Lusa Michelle akan berangkat."

"Oh ... ya, ya, aku ingat. Kalau kau kesepian di rumah, kita bisa pergi bersama ke tempatku bekerja. Allistor sedang berada di Glasgow, aku bisa membawa satu orang untuk diselundupkan."

Natalya tetap memelihara ekspresi dinginnya. "Aku akan ikut."

Wajah Alfred yang berubah. "Kau ... ikut? Afrika? Tidak, Natalya, tidak."

Natalya memutar bola matanya, seolah telah menduganya. "Seharusnya aku tidak terkejut kau bereaksi seperti yang kutakutkan."

"Bisakah kau tetap di sini saja? Michelle memaksamu?"

"Alfred, ini bukan soal peperangan. Ini bukan soal bahaya maut perang—aku malah menghindarinya. Begitu jauh."

"Justru karena itu!" nada Alfred meninggi. "Ini memang bukan soal bahaya. Aku tahu kau lebih berani dan lebih menakutkan daripada yang kupikirkan, tetapi—"

"Tapi apa? Kalau kau juga berani, kau harus mengatakan apa alasanmu."

Alfred membuka mulut, tetapi tidak jadi mengatakan apa yang sudah meluap-luap di kepalanya. Ia mendongak, mengembuskan napas begitu panjang. "Setelah hal panjang yang kita lalui di belakang, Natalya—berpisah denganmu adalah hal terakhir yang kuinginkan. Aku ingin menjalani semuanya denganmu, mulai dari sekarang."

"Hentikan semua keposesifan itu, Alfred."

"Ini bukan posesif!"

"Kalau begitu, katakan apa namanya!"

Sesaat mereka berdua bertatapan, napas sama-sama memburu.

"Kita semua memulai segalanya sendiri. Mengapa takut kehilangan pada akhirnya, Alfred?"

"Karena setelah mengalami kesendirian itu, kurasa saat ini aku lebih bahagia bersamamu. Ketakutan itu berasal dari sana, tahu." Alfred pun mengusap wajahnya. "Tapi, memang benar. Kita memulainya masing-masing. Semuanya akan sama."

"Ini bukan deklarasi putus, bodoh." Natalya membuang mukanya, cukup lama sampai ia merasakan tatapan Alfred pada wajahnya. "Hanya saja, kita punya hal-hal untuk dilakukan sendiri, pun berdua, tanpa mengubah keadaan yang sedang terjadi."

"Dan jika aku kehilanganmu?"

"Alfred yang kutahu lebih berani daripada yang sekarang."

"Cih," Alfred kemudian menyela dengan seringai sinisnya, "Cinta mengubah seseorang. Menyakitkan sekali mendengarnya."

"Namun masih lebih baik daripada menghabiskan hidupmu tanpa arah. Kau membutuhkan itu untukmu berlabuh."

Alfred mengerjap, tidak mengatakan apa-apa.

"Aku membebaskanmu. Kau membebaskanku. Kita sama, tanpa mengubah satu hal pun di antara kita. Semua hal di luar itu adalah risiko. Kau sudah mengambil banyak risiko sebelumnya, dan dengan mengambil yang satu ini, semua terjadi untuk sebuah pelajaran, Alfred, apapun itu."

"Kau bicara seperti itu seolah kau telah mendapatkan pelajaran yang kau bangga-banggakan itu."

"Memang benar." Natalya menyentuhkan tangannya pada tangan Alfred di atas tempat tidur. "Setelah aku terjatuh, aku sempat bertanya-tanya mengapa aku tidak dibiarkan mati saja. Namun, saat bersamamu, akhirnya aku mengerti. Kita kehilangan satu hal untuk mendapatkan yang lain, peganglah itu."

Alfred menarik napas panjang. Tanpa kata-kata lagi, ia memeluk Natalya.


Natalya pergi selama hampir dua minggu. Alfred mulai masuk ke dalam rutinitas yang mungkin akan membunuhnya jika ia tidak mengalami hal-hal yang sebelum ini. Dikejar-kejar musuh, hampir mati di negara orang, tanpa sempat memutuskan hal apapun untuk hidupnya selanjutnya. Namun setelahnyalah Alfred merasakan dunia dewasa yang sesungguhnya. Ia masuk kemiliteran saat darahnya masih mendidih, dan ia masih terlalu muda untuk mengerti lebih banyak hal di luar tujuannya, dan jika bukan maut yang mengintainya, maka ia tak akan tahu bagaimana rasanya menerima, bersabar, dan menghargai setiap pencapaian kecil.

Hari ketika Natalya pulang bukanlah seperti yang ia pikirkan. Tidak ada reuni yang romantis, tidak ada kedatangan yang ditakutkan Alfred. Semua rasanya berlalu seperti saja, mereka berangkat tidur seperti tak pernah ada perpisahan sebelumnya, dan itu semua mengatakan pada Alfred bahwa ia harus lebih sering percaya pada intuisi ketimbang logika.

Natalya, sebelum tidur, berkata padanya, "Dulu aku pernah ketakutan pada keberanianmu. Sekarang, jangan sampai sebaliknya."

Alfred mencoba melupakan hal-hal yang terjadi sebelum kepergian Natalya—baru bisa ia lakukan setelah melihat Natalya tertidur nyenyak dan ia sendiri memulai mimpinya dengan sebuah senyuman.


Michelle nampaknya kembali tidur setelah mereka berpamitan untuk jalan-jalan pagi. Mereka meninggalkan rumah begitu jauh, menuju jalan yang makin menyempit dan yang tertinggal adalah bangunan-bangunan yang lebih tua. Mereka mendengar beberapa pembicaraan di antara pintu-pintu yang baru dibukakan untuk antaran susu di pagi hari, tentang perang yang masih berkecamuk tetapi gaungnya begitu jauh, dan arus kemenangan sudah berbalik ke arah yang masih berupa desas-desus.

"Sudah jauh sekali ..." Alfred pun menggandeng tangan Natalya. "Kadang-kadang aku merasa bersalah, aku pergi meninggalkan tugasku ... untuk kebahagiaanku sendiri ..."

"Semua orang berhak bahagia ... apalagi setelah mereka nyaris mati. Berkali-kali."

"Apakah itu sebuah pembenaran?"

Natalya tidak menjawab, tetapi langkahnya melambat. Ia melihat beberapa orang keluar dari kapel. Disusul oleh sekelompok orang lain, mengelilingi sepasang manusia yang berpakaian rapi dan memasang senyum bahagia di wajah mereka. Natalya mengabaikan fakta bahwa mereka berada di tempat itu di waktu sepagi ini bukanlah sesuatu yang lazim.

"Perang mengakhiri banyak hal ..."

"Tetapi bisa mengawali beberapa hal lain ..."

Alfred pun berhenti seperti Natalya. Menengok ke arah mana perempuan itu memusatkan perhatian.

Orang-orang yang keluar dari kapel tertawa bahagia. Mereka menghamburkan kelopak bunga pada sepasang pria dan wanita yang mereka kelilingi, mereka mengucapkan selamat secara beruntun hingga hampir tak terdengar apa saja yang mereka katakan.

Perang memang tak pernah bisa dibenarkan. Alfred melihat ke belakang dan menyadari betapa mengerikan efek yang ditimbulkan, bahkan untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, semua yang terjadi membawanya pada hal lain.

Ia melihat Natalya, memandangnya dari dekat, lalu keriuhan itu tertinggal begitu jauh di belakang sana. Yang ia lihat hanya Natalya, di tangannya hanya ada Natalya, dan itu alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa hidupnya berubah secara drastis. Perubahan terbaik adalah masa ketika kita tidak ingin kembali ke masa lalu. Alfred tidak sadar apakah ia menarik Natalya ke rengkuhannya, tetapi yang ia tahu detik kemudian adalah Natalya juga mendekat padanya, dan mereka melupakan masalah-masalah yang pernah terjadi. Hanya ada mereka berdua di dunia, seolah begitu, dan itu cukup untuk mengatakan bahwa mereka puas dengan kehidupan, walaupun tak semua tujuan berada di tangan. Mungkin hanya belum, atau bagaimana pun itu, mereka menemukan perubahan yang lebih baik untuk hidup mereka.

Mereka tidak memilihnya; karena memang hal-hal terbaik tidak berada dalam pilihan yang ditawarkan.

Ia disembunyikan pada awalnya, merupakan sebuah hadiah pada akhirnya.

end.