Chapter 2

Sehun POV

Dulu saat aku datang Chanyeol memberiku sebuah mobil range rover putih. Ia memilihkanya untukku. Siapa yang tidak senang jika dihadiahi mobil mewah? Aku. Saat itu aku masih terlalu abu-abu. Aku tak yakin dengan segala hal. Tapi Chanyeol datang dan membangun rasa percaya diriku, ia meyakinkanku bahwa aku pantas mendapatkan semua ini. ia terlihat begitu yakin, dan aku luluh.

Kepribadianku berubah. Sekarang hanya ada Sehun Oh, identitasku yang baru. Sehun Oh yang percaya diri, sosial, selalu berpikir positif, dan yang lebih kuat dari dirinya yang lain. Di sisi Chanyeol aku menemukan kekuatanku. Ia adalah obat dari kesakitanku. Dan aku berharap kita akan selalu bahagia.

'Ping...' Ponselku berbunyi tanda pesan masuk.

From: Chanyeol Park

Princess, daddy akan pulang telat.Ada rapat penting jam 5 sore, jadwal tak bisa diubah karena keterbatasan waktu client kita di Korea. Jika kau ada waktu luang untuk makan siang, daddy akan sangat senang untuk datang menjemputmu.

Sialnya, aku sedang mengerjakan tugas kelompok di salah satu kedai kopi dekat kampus. Kupikir-pikir sudah dua jam kami duduk disini membahas projek kami. Dua jam yang sangat produktif.

To: Chanyeol Park

Kurasa bisa dad, aku sedang mengerjakan projek dengan teman-temanku. Tapi kurasa akan selesai dalam 15 menit. Aku di kedai kopi biasanya.

From: Chanyeol Park

Ok, later babe.

"Teman-teman, jadi sudah jelaskan bagian-bagian kita?" tanyaku.

"Kurasa semua sudah jelas. Kita minggu adalah deadline kita untuk tugas individu. Setelahnya kita bisa merapatkan tentang bagian selanjutnya." Jelas Lucas, salah satu teman seorganisasiku. "Ini sudah jam makan siang. Bagaimana jika kita makan siang bersama?" saran Lisa. "Ide bagus, aku harus menghindar dari Min soek. Ia akan terus memohon-mohon untuk kembali kepadaku." Kata Jong dae, mereka adalah salah satu pasangan gay terpopuler di kampusku.

"Aku tak bisa ikut teman-teman. Pacarku akan datang menjemput." Dan seketika mereka menatapku dengan tatapan mengintainya. "Aku iri denganmu Sehun. Apa dia ada kemungkinan jadi gay? Aku ingin mencobanya." Aku tersedak kopiku. "Gila.. dia suka dada wanita." Aku tau ia sedang bercanda. "Lagipula, pacarnya Sehun itu sangat jantan. Misalkan dia gay, tentu saja dia akan jadi top yang powerful." Cetus Lucas. Aku tak bisa membayangkan Chanyeol jadi gay.

"Aku rela jadi botom jika Pacarmu topnya." 'Plaakk..' Sebuah buku melayang ke wajah Jong dae. "Thanks, lucas. Kau mewakiliku." Aku tertawa mendengar rengekan jongdae tentang imajinasi-imajinasi ngawurnya tentang ingin jadi botom.

"Sehun.." Chanyeol menyentuh bahuku. Ia berdiri di belakangku. "Kau sudah disini? Cepat sekali." aku membereskan bukuku, sedangkan teman-temanku sibuk menggoda Chanyeol. Chanyeol buka orang yang kaku, ia memiliki humor yang bagus dan mudah dekat dengan orang lain. karena itu teman-temanku tak sungkan membuatnya sebagai bahan guyonan.

"Kita pergi sekarang?" tanya Chanyeol. Aku mengangguk. "Baiklah teman-teman kita pergi dulu. See you tomorrow!" Kami berjalan lurus ke mobil Chanyeol. Mobilku kuparkir di kampus. Aku masih ada kelas dua jam lagi, Chanyeol akan mengantarku nanti.

"Bagaimana harimu?" Chanyeol duduk di kursi kemudi. "Baik. akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Tugas kuliah tak ada habisnya." Aku merangkul lengan kokohnya. "Aww.. apa babyku sedang tidak mood?" Ia mengecupi rambut dan pelipisku. "Kau adalah semangat dihari melelahkanku." Dan kekehannya terdengar, "Heii.. itu adalah kalimatku." Aku ikut tertawa, ia masih mengingatnya. "Aku terdengar sangat keren sekali saat mengatakan itu kepadamu." "Kau ini percaya diri sekali." Aku mencubit perutnya.

"Kau menggemaskan jika tertawa begitu. Come here give daddy his kisses." Aku masuk dalam rengkuhannya dan menerima kecupan-kecupan basah darinya. "Kau cantik Sehun." "Tentu saja cantik, jika tidak kau mana mau denganku?" dan gigitannya di bibir bawahku sebagai balasannya. "Kau pintar sekali menjawab." "Aku belajar darimu."

Lima belas menit kemudian kami tiba di sebuah lunch cafe, cuaca sedang indah jadi kami memutuskan duduk di luar. Cafe ini adalah salah satu spesialis makanan eropa, dan itu mengingatkanku pada masa lalu. Aku tak membenci masa laluku, aku sudah berteman dengan masa-masa gelap itu. Aku tak lagi terpuruk dan aku menyukai hidupku yang sekarang.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol setelah kembali dari kamar mandi. "Cafenya bagus. Kuharap masakannya akan sesuai dengan ekspektasi." Kami berbincang tentang banyak hal. Chanyeol menceritakan tentang client-nya yang berasal dari Jepang dan pesawatnya akan terbang jam 20.30. pertemuan hari ini sangat mendadak katanya, karena ia menerima berita dari kantor cabangnya di Jepang bahwa kepala cabangnya melakukan tindak korupsi, dan tindak korupsi dalam suatu cabang perusahaan dianggap sebagai penghianatan.

Tapi bagi Chanyeol penghianatan dalam dunia bisnis adalah hal wajar. Mencari sekutu, mendapat musuh, dan bermain resiko adalah makanan sehari-hari. Ia adalah pria yang sangat tenang, tak ada raut kesal ataupun kata-kata penuh emosi yang keluar dari bibirnya. "Apa hal ini membuat suasana hatimu memburuk?" tanyaku. "Tidak. Aku sudah menduga ia melakukan korupsi sejak bulan lalu. aku hanya menunggu apakah para pekerjaku peka tentang hal ini. Kurasa mereka kurang peka, aku harus meningkatkan kedisiplinan mereka. tentang kerugian yang kutanggung, itu akan tertutup dengan omset bulan ini."

"Bagaimana caramu melakukannya? Dan lagi, kau terlihat sangat tenang." Ia tertawa pelan. "Aku memiliki banyak pengalaman dalam dunia bisnis Sehun. Tenang adalah sifat bawaanku." Ia mencium tanganku. Makanan kami datang. Kami memesan beef wellington dan segelas lemonade. Dua menu yang sama.

"Makanan disini enak." Chanyeol mengagguk setuju. "Bagaimana harimu Sehun?" "Tentang pelajaran dan projek, semuanya baik-baik saja. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan tuan Choi?" Chanyeol meneguk minumannya. "Tuan Choi yang tinngi dan berkaca mata itu?" aku mengagguk. "Ia mengajakku makan malam dan-" dan Chanyeol tersedak minumannya. "Whatt?!" seru Chanyeol rendah.

"Dengarkan dulu, makan malam itu karena aku bertanya banyak tentang projek kami. Karena ia ada waktu luang dua jam lagi sedangkan aku ada kelas sampai jam lima sore dan ia juga akan selesai mengajar jam lima ia mengusulkan untuk membahas projek ini sambil makan malam." Chanyeol masih menunjukkan wajah protesnya. "Kalian bisa bertemu di perpustakaan dan membahasnya bukan? Tak perlu makan malam bersama. Apa dia tau kau sudah punya pacar?" Ia terlihat menggemaskan jika seperti ini.

"Itu hanya bentuk formalitas saja Chanie, lagi pula aku telah menolaknya. Aku yakin ia tau aku punya pacar, berhubung cuaca akhir-akhir ini panas sekali hingga aku berkeringat dan keringat itu melunturkan make up yang kupakai untuk menutupi kiss marks buatanmu." Chanyeol memicingkan matanya. Bagaimana mungkin ia lebih bersikap tenang saat ia kehilangan uang jutaan dolar, dari pada saat mengetahui tentang ajakan makan malam itu.

"Kau benar, logikanya disituasi seperti itu ajakan makan malam hanya untuk formalitas." Sudah kubilang Chanyeol sangat dewasa bukan? "Tapi ingatlah ini baik-baik miss Oh, you are fucking mine. You understand?" Aku suka caranya menyatakan kepemilikannya. "Yes sir, i understand." Jawabku dengan senyuman manis agar untuk meluluhkannya. Ini adalah tahun terakhir. Kuharap tahun depan kita akan tetap seperti ini.

.

.

.

.

.

.

Kelas pertamaku hari ini mulai pukul 8.30 pagi dan kelas terakhirku selesai pukul 13.30. Aku memutuskan untuk tidak makan siang di kampus dan langsung pulang saja. Beberapa temanku mengajak untuk ke pusat kota untuk belanja, tapi aku menolaknya. Rasanya panas sekali hingga aku ingin segera mandi.

Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Jika Chanyeol pulang tepat waktu, ia akan sampai di rumah pukul 18.15. Masih ada banyak waktu sebelum ia sampai.

Aku keluar kamar mandi. Rumah sudah bersih, kemarin kami juga sudah meloundry pakaian kami. Mau memasakpun aku tidak lapar. 'Pinngg..' pesan masuk dari Chanyeol.

From: Chanyeol Park

Baby, kau ada kelas?

To: Chanyeol Park

No, aku sudah di rumah.

From: Chanyeol Park

Ahh begitu.. aku sedang makan siang. Kau sudah makan siang?

To: Park Chanyeol

Aku sedang makan youghurt dan buah.

Aku ingin sedikit menggoda Chanyeol. Kulepas jubah mandiku lalu kuletakkan ponselku di atas meja yang berhadapan dengan ranjang dan membuka kamera dengan timer. Timer itu mulai berjalan, hanya dengan celana dalam putih aku berdiri dengan lutuku sambil menggigit sedikit ujung sendok yoghurt yang kupegang. 'klikk..' foto itu jadi. Aku menyukai hasilnya. Aku mengirimnya langsung ke chat room kami.

From: Chanyeol Park

What are you doing!?

Aku tertawa akan reaksinya.

To: Chanyeol Park

Eating my yoghurt.

From: Chanyeol Park
Apa kau bermain dengan dirimu?

To: Chanyeol Park

Tidak, tapi jika daddy ingin aku bermain, aku akan melakukannya untuk daddy. Daddy ingin kukirimi foto lagi?

Aku yakin Chanyeol tak akan menolaknya. Lagi pula ini adalah hari Jum'at. Besok weekend, seperti jadwal kami biasanya, kami akan bercinta. Tak apa kan jika aku menncuri start.

From: Chanyeol Park

Daddy sudah selesai makan siang dan sekarang sedang di ruangan Daddy. Tak ada rapat penting hari ini hanya perlu mempelajari beberapa dokumen. Jadi daddy bisa pulang lebih awal. Jika kau ingin bermain dengan dirimu, kau boleh mengambil beberapa mainan. Dan daddy akan senang jika kau mau mengabarkan apa saja yang kau lakukan.

Aku tersenyum lebar membaca jawaban panjangnya. Sesuai dugaanku, Chanyeol tak akan menolak.

To: Chanyeol Park

Terima kasih Dad. Aku sedang bermain dengan ini.

Aku mengirim sebuah foto. Dalam foto itu aku masih berdiri dengan lutuku membelakangi kamera dengan wajah menoleh ke samping. Sebagian dadaku terlihat. Butt plug bunny berwarna putih menjadi point dalam foto itu.

From: Chanyeol Park

You look gorgeous lil princess. Daddy is looking forwaard for another messages.

Aku membuka video recorder dan meletakkan ponselku di nakas meja. Kali ini dildo transparan menjadi mainanku. "Daddy... ahhh..." aku mendesah menghadap ponselku. "Dadd.. hahh.." dildo itu keluar masuk vaginaku pelan. Desahan-desahan halus keluar begitu saja tanpa khawatir akan ada orang yang mendengar. Video berdurasi tiga menit itu berakhir. Aku mengirimkannya pada Chanyeol.

To : Chanyeol Park

Dad, apa daddy masih lama? Aku ingin daddy yang melakukannya. Tak ada yang lebih baik dari kejantanan daddy.

From: Chanyeol Park

Bersabarlah lil girl. Daddy ingin mendengar suaramu lagi.

Aku mengiriminya vidio lagi. Kali ini aku terlentang di atas ranjang dengan butt pug dan dildo dalam lubangku. "Ahh daddy.. ahh.. thereee.. dadd.." aku menemukan titikku sendiri. "Daddy harder.. ahh.. im cumminggg.. Daddyyy..!" dan aku mencapai orgasmeku. Dadaku naik turun, spreiku basah.

To : Chanyeol Park

Kuharap daddy menyukainya

From : Chanyeol Park

Daddy sangat menyukainya princess. How many times did my lil princess cum?

To: Chanyeol Park

Hanya satu kali dad. Aku ingin daddy yang melanjutkannya nanti.

'Kringgg..' panggilan video call dari Chanyeol.

"Daddy?" Chanyeol terlihat sedang duduk dalam kantornya. ia memiliki ruang kerja yang sangat nyaman. Luar dan bersuasanana seperti ruang keluarga. "Hei baby girl, kau berhenti?" tanyanya langsung. "Aku tak ingin. Tapi daddy sedang kerja, dan aku tak ingin mengganggu daddy lebih lama." Aku mendengar kekehannya. "Tak ingin mengganggu daddy? Baby girl, kau bahkan sudah membuat daddy tegang." Aku tersenyum. "Aku ingin melihatnya." Rengekku. "Daddy ingin melihat baby girl daddy bermain lagi."

Aku mengangguk "Baiklah dad, tapi tunjukkan aku kejantanan daddy supaya lebih.. supaya feelnya lebih.. dapat." Kataku pelan. "Kau mulai berani frontal dengan daddy rupanya." "Aku ingin melihatnyaaa.." aku pura-pura merajuk, dari tadi ia hanya berputar-putar. "Kau ini tak sabaran sekali. Bermainlah dengan lubangmu dan daddy akan menunjukkan milik daddy." "Yee!" aku kembali mengambil sebuah dildo, "Dadd.. mengapa dildoku kecil semua? Tak ada yang seukuran milik daddy." Chanyeol tertawa.

"Kini kau tau bedanyakan sayang. Gunakan saja seadanya, jangan banyak protes." Katanya dengan nada kekehan. "Aku tak terbiasa dengan yang kecil." "Kalau begitu bayangkan itu jari daddy." Sarannya. "Tidak bisaaa.. rasanya tidak seenak daddy yang melakukannya." Aku mengambil dildo terbesar yang kupunya. Tak lebih besar dari milik Chanyeol. Aku memasukan dildo hitam itu kedalamku.

"Dad tunjukkan aku kejantanan daddy." Aku cemberut. Dan angel Chanyeol berubah. ia menunjukkan kejantanan yang mengacung tegak. Kkemejanya ia tarik keatas. "Kau menyukainya?" "Yes daddy. Daddy sudah tegang sekali. aku ingin menyentuhnya." "Gerakan dildomu princess." Aku menggerakkan dildoku lagi.

Chanyeol memijat kejantanannya pelan. "Ahhh.. daddy sangat tegang.." tubuhku masih sensitif. "Dadd.. ahh.." Aku mendesah, mataku tak luput dari layar ponsel. Chanyeol adalah pria terseksi yang pernah kutemui. Jari-jari besarnya menggenggam kejantanannya dengan kuat. Aku hampir tak pernah melihat Chanyeol masturbasi.

"Daaddyy.." aku memanggilnya. "Aku menyukainya. Desahkan lagi." Aku yakin Chanyeol sedang tersenyum miring sekarang. "Channiiee.. aku dekat.. ahh.. Daddyy..!" dan aku kembali orgasme. Chanyeol masih memijat miliknya dengan cepat. Tak lama kemudian ia juga orgasme. Cairan itu mengotori perut berototnya. "Aku harap aku ada disana untuk menjilatinya." Kataku dengan senyuman. "Kau akan merasakannya nanti."

.

.

.

.

.

.

Aku adalah mahasiswa yang aktif dalam sebuah organisasi yang bekerja sama dengan UNICEF. Organisasi yang didirikan untuk kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia. Kami sering mengadakan penggalangan dana untuk membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan.

Seperti hari ini, aku dan anggota organisasi yang lainnya sedang berada di Singapura. Tujuan kami kesini adalah untuk membantu para pengungsi Rohingya dari Myanmar. Pasokan makanan, peralatan mandi, pakaian, selimut, dan obat-obatan kami bawa langsung dari Korea untuk membantu mereka.

Seorang anak mencuri perhatianku. Ia sedang bermain kantong plastik yang diberi tali rafia. Ia memainkannya seolah itu adalah layang-layang. Ia berlari kesana-kemari untuk menerbangkannya. Hatiku hancur. Hal sesederhana itu bisa melukiskan senyuman lebar diwajah lelahnya.

Melihat anak itu, mengingatkanku tentang masa kecilku. Aku memiliki dua orang kakak. Perempuan dan laki-laki. Kakak laki-lakiku bernama Yixing Wu ia adalah yang tertua, kakak keduaku bernama Kyungso Wu, dan perkenalkan aku adalah anak ketiga namaku Shixun Wu. Ayahku adalah pria blasteran China dan Prancis, namanya Kris Wu. Sedangkan ibuku adalah wanita asal Korea bernama Junmyeon Wu.

Aku lahir dan di besarkan di kota pusat fashion dunia, Paris Prancis. Tiap sudut kota ini sangat artistik. Ramai, bising, dan selalu sibuk. Orang tuaku adalah pebisnis. Mereka termasuk dalam kalangan orang atas.

Aku iri dengan kedua saudaraku. Yixing adalah anak sempurna, baik hati, pintar, dan ulet. Ia adalah anak kesayangan ayahku. Dan Kyungso adalah anak perempuan yang sempurna bagi ibuku. Penurut, pintar, jago masak, dan sedikit jahil.

Aku adalah anak yang bisa dikatakan tak diperhatikan. Aku dianggap tak pernah ada karena aku sangat pendiam, dan perasaanku selalu diabaikan karena aku dianggap tak berperasaan. Aku bukan anak bandel yang selalu melanggar perintah orang tua, aku hanya sangat penurut. Saking penurutnya aku tak protes saat ayah dan ibu menyuruhku angkat kaki dari rumah ketika aku berusia 18 tahun.

Flashback

Author POV.

Yixing remaja sedang berjalan ke taman belakang untuk mengerjakan tugas. Ia adalah pecinta alam, jadi saat cuaca sedang bagus ia akan memilih berada di luar ruangan. "Bisakah kau menggunakan tubuhku dengan lebih manusiawi? Aku manusia bukan robot." Yixing mendengar suara seseorang saat ia melewati kamar Shixun. pintunya tak tertutup sempurna hingga ia bisa mendengar jelas kalimat Shixun. Yixing mengintip kedalam kamar.

Tirai anti sinar matahari itu tertutup setengah mengakibatkan sebagian besar ruangan itu terselimuti kegelapan. Bayangan samar seorang gadis yang sedang duduk di meja rias terlihat.

"Kau harus jadi kuat Shixun. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri!" Nada seruan yang penuh energi terdengar sebagai jawaban. "Bukan aku yang jadi kuat tapi kau! kau yang mempelajari semua hal tentang berjudi dan kau juga yang selalu menantang anak-anak badung itu untuk mengukur keahlian bela dirimu! Tubuh ini masih sangat muda. Ini bukan waktunya untuk hal-hal seperti itu!" kalimat panjang ini bernada pelan dan lebih lembut memberi penjelasan.

"Kau ini bodoh atau bagaimana? Kita berada dalam satu tubuh! Kita harus berbagi! Kau urusi urusanmu sendiri, dan jangan pernah ikut campur urusanku!" kalimat itu keluar dengan suara yang sama tetapi dengan nada dan penekanan berbeda. "Tapi tiap kali giliranku, aku selalu merasa kesakitan. Kau juga yang selalu menguasai tubuh ini tiap kali ada kesempatan untuk keluar rumah. Giliran saat di sekolah, atau saat menghadapi ayah dan ibu kau kabur entah kemana." Nada lain itu terdengar kesal.

"Kita sudah sepakat tentang itu bukan? kau yang selalu ingin bersama dengan keluargamu dan aku yang ingin bebas. Itu adalah pernyataan tak tertulis yang sudah sangat kita ketahui. Bisa-bisanya kau melarangku mengambil hakku!" Nada itu meninggi. "Aku juga ingin bermain di luar, aku ingin menghirup udara segar. Kau mengambil kebebasanku dan menggunakannya untuk hal-hal buruk."

"Hal buruk apa yang kau maksud? Berjudi? Taruhan? Tubuh ini sudah 18 tahun Shixun. Kita legal melakukan apapun. dan dari mana kau dapat uang jika bukan dari jerih payahku? Kau tak akan dapat membeli baju-baju bagus itu atau membayar uang kursusmu jika tidak menggunakan uang pemberianku! Orang tua yang kau elu-elukan itu tak peduli denganmu. Uang saku yang mereka berikan tak cukup untuk kebutuhan kita! jangan melihat dari mana aku mencari uang itu, tugasmu hanya belajar dan pura-pura stabil secara mental. Maaf aku menggunakan tubuhmu terlalu keras. Aku ingin segera memiliki sabuk hitam." Suara yang dari tadi berseru kini melembut dan memberi penjelasan panjang.

"Aku memaafkanmu. Kau benar, aku hanya perlu belajar dan berpura-pura stabil secara mental. Kau baru saja mengingatkanku bahwa aku sangat menyedihkan Kai." Shixun duduk membelakangi cermin di depannya. "Tidak bukan begitu Shixun. Dengarkan aku.."

"Kau berbicara dengan dirimu lagi Shixun?" Tanya Yixing yang berjalan mendekati Shixun. Shixun tertangkap basah. Ia hanya menunduk karena tak tau harus menjawab bagaimana. "Kau sungguh mengerikan. Ayah dan ibu pasti sangat kecewa akan kelahiranmu." Yixing mengusap rambut Shixun pelan. tatapannya sendu, Shixun sangat putus asa. Ia harap ia lebih kuat dari dirinya yang lain.

'Sreett..' Shixun menampik tangan Yixing. "Orang tuamu tak pernah mengajari tata krama ya? Tujuan pintu itu dibuat adalah agar orang lain mengetuknya saat ingin memasuki wilayah pribadi seseorang!" Shixun memandang Yixing tajam.

Yixing tersenyum. Shixun berjalan memasuki clossetnya tak lama kemudian ia keluar dengan tampilan berbeda. celana jeans hitam sobek-sobek, kaos tanpa lengan hitam polos, dan sepatu kets hitam. "Pintu itu juga berfungsi sebagai pintu keluar ngomong-ngomong." Kata Shixun setelah menguncir rambut dan membersihkan jaket kulit hitamnya. "Kau adalah suatu kegagalan! Ingat itu baik-baik Kai." kata Yixing sambil berjalan keluar kamar.

.

.

Shixun pulang mengendarai motor besar yang beberapa jam yang lalu menjadi miliknya. Motor itu adalah hadiah dari kemenangannya bermain poker di sebuah casino ternama. Atau lebih tepatnya Kai yang memenangkannya. "Shixun! Kita perlu bicara!" Kris memanggil Shixun dari depan rumah saat ia sedang memarkir motornya. Shixun tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia mengikuti Kris ke ruang keluarga.

"Jam berapa sekarang?" Shixun melihat jam tangannya, "Jam 1 pagi." Jawabnya santai. "Dari mana kau mendapat motor itu?" Kris menarik tubuh Shixun hingga ia terjatuh dengan kasar di atas sofa. "Tak perlu kujawab kau juga sudah tau dari mana asalnya. Aku lapar, apa kau ingin kubuatkan sesuatu?" Shixun mengatakannya dengan tenang.

"Dasar tak tau sopan santun! Hargai aku sebagai ayahmu! Kau tinggal di rumahku. Jika kau mengikuti peraturan rumah ini dan menjauhi masalah, kau tak akan berurusan denganku." Shixun terkekeh pelan, "Apa menjauhi masalah yang kau maksud adalah dengan mengurung diri di kamar saat keluarga lain datang berkunjung agar kau tak malu? Apa dengan tak mengatakan kepada publik bahwa aku adalah anak ketiga dari seorang Kris Wu dan Junmyeon Wu? Atau dengan menyetujui tawaranmu agar aku dirawat di rumah sakit jiwa? Ayah macam apa yang ingin menyingkirkan darah dagingnya sendiri?" Shixun mengatakannya dengan pelan, ia tak ingin membangunkan seisi rumah.

"Bagaimana dengan menutup mulutmu dan cobalah bersikap baik dan normal pada siapapun? O iya dan lagi, berhentilah keluyuran di club atau casino! Ingatlah kau menyandang margaku Shixun Wu! Jika orang lain tau identitasmu, mau ditaruh dimana wajah keluarga Wu?"

" Aku bukan Shixun! Aku Kai! Jangan khawatir. Orang-orang tak tau aku adalah salah satu dari Wu. Keluarga ini membuatku sangat jijik. Sial sekali Shixun memiliki ayah sepertimu!" "Shixun Wu!" Seru Junmyeon dari depan kamarnya. Ia terlihat marah akan kalimat Shixun.

"Ibu, tidurlah. Kami sudah selesai. Aku lapar sekali, apa ibu menyisihkan makan malam untukku?" Shixun kembali dalam tubuhnya, dan Kai terdorong kembali dalam pikiran Shixun.

'Kumohon ini giliranku. Jangan merebut tubuhku saat dengan ibu. Hatinya sangat lembut.' Mohon Shixun pada Kai dalam hati. Pandangan Shixun berubah, nadanya melembut dan kemarahannya mereda. "Aku berhasil merebut tubuhku lagi bu. Kai sudah hilang." Kata Shixun dengan senyuman tulus. Saat Kai mengambil alih tubuh Shixun, Shixun akan tertidur dan Kai dapat melakukan apapun tanpa sepengetahuan Shixun. Tapi ada kalanya Shixun dapat mendengar dan merasakan tubuhnya meskipun saat itu Kai yang menguasainya. Hal itu tak sering terjadi, hanya jika Shixun sangat ingin memberontak.

"Aku lapar sekali." cengir Shixun. Ia tak tau apa yang baru saja Kai katakan, yang jelas saat ia kembali, keadaan sudah menegangkan. 'Kuharap kau tak mengacau' kata Shixun dalam hati. Ia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, ada seporsi makanan disana. Nasi putih , ayam dan kimchi. Seporsi makanan untuk Yixing yang akan pulang larut karena menonton konser.

"Itu untuk Yixing!" Junmyeon berjalan dengan wajah memerah ke arah Shixun, ia merebut ayam yang sedang Shixun gigit dan menggosokkannya pada kepala serta wajah Shixun. Shixun kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Tak berhenti di situ, Junmyeon mengambil piring Sehun dan melemparkan isi piring itu ke badan Sehun. Butiran nasi putih dan kimchi menempel di pakaiannya.

Kris juga terlihat kaget akan apa yang Junmyeon lakukan.

"Aku tau ini terdengar salah, tapi sebagai ibu aku tak memiliki ikatan batin denganmu. Aku tak bisa mencintaimu seperti aku mencintai Yixing dan Kyungso. Kau cacat mental Shixun, dan fakta itu masih kurang kuat untuk membuat aku dan ayahmu menyayangimu! Aku yakin kau menyadarinya." Penjelasan singkat itu terlalu berat untuk Shixun pahami. "Pergilah dari rumah ini." kalimat terakhir Junmyeon menghancurkan hatinya.

"Sayang sekali aku tak cukup gila untuk dapat memahami kalimat ibu." Shixun tersenyum lemah. Shixun berjalan menuju pintu utama. "Oiya.. yang membenci kalian hanya Kai. Aku tidak." Kata Shixun sebelum menutup pintu dari luar.

Flashback end

Sehun POV

"Kau tidak haus?" Taeyong memberiku sebotol air mineral. "Thanks." Ia melihat ke arah yang sama denganku. Kini datang beberapa anak lain untuk ikut bermain dengan anak tadi. mereka berlombaan mencari tas plastik dan seutas tali rafia. "Tidakkah mereka sangat lugu? Nada ceria dalam kalimat mereka tercipta karena layangan yang terbuat dari tas plastik." Aku melihat beberapa wanita dewasa duduk di bawah pohon, salah seorang dari mereka meneriakan sesuatu dalam bahasa mereka, dan nada ceria yang diselingi tawa dari salah satu anak terdengar sebagai jawaban. Rasa cinta yang tak pernah dan tak akan pernah aku rasakan.

"Aku ingat dulu saat aku pergi ke rumah nenek di daerah jeju, ayah sering mengajakku bemain layangan. Kami akan berangkat menjelang siang dan kembali sore hari dengan wajah gosong karena berpanas-panasan. Kami sering beradu layangan dengan milik orang lain. Aku akan sangat senang saat berhasil memutuskan tali lawan. Tapi saat taliku yang putus, aku akan menangis." Cengir Taeyong diakhir cerita pendeknya.

"Bagaimana dengan masa kecilmu Sehun?" Aku mencari pengalaman menyenangkan di masa kecilku yang setidaknya pantas untuk kuceritakan. Beberapa detik berlalu tetapi aku masih tak dapat menemukannya. Tidak, kenangan indah yang kumaksud Itu bukan sesuatu yang terlupakan tetapi sesuatu yang tak pernah terjadi.

"Aku lahir dan tumbuh besar dalam kultur eropa. Jika kau mendengar nama Prancis, maka selain fashion, wine adalah salah satu bintangnya. Nenek dan kakekku memiliki perkebunan anggur yang luas. Saat aku kerumah nenek di pinggiran Prancis, aku selalu senang jika diajak ke kebun karena aku bisa memakan anggur sepuasnya. Saat itu awal musim semi, anggur-anggur belum sepenuhnya masak. Aku memetik sebuah anggur dan memakannya. Rasanya getir, pahit, dan asam. Nenek dan kakekku tertawa saat aku merajuk dan mengatakan bahwa anggurnya tidak enak." Aku tersenyum pada kebohongan itu. Tak ada satu halpun yang nyata dari ceritaku.

"Pasti senang bisa makan anggur sepuasnya.." tanggap Taeyong. Aku hanya mengangguk.

.

.

'Kau yang membuatku kehilangan masa-masa kecilku Kai! aku tak akan membiarkanmu kembali!' kataku dalam hati.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallooo chapter 2 is updated..

Karakter lain mulai masuk nih.. penasaran gak sih sama Kai? apa Kai harus diceritain? Terus ada yang aneh gak sih sama hubungan Sehun dan Chanyeol? Chapter depan Author bahas tentang hubungan ChanHun yaa ..

Mohon dukungan buat ff ini ya..:) author harap angka review bakal naik..

See you in the next chapter..