Chapter 3

SEHUN POV

Hari yang indah. Sayang sekali aku sedang dalam suasana hati yang buruk. Si bulan merah itu datang lagi, sialan. Aku sudah meminum pilnya, memang rasa sakitnya berkurang tapi obat itu tak berpengaruh dengan suasana hatiku. Duduk di taman kampus dengan segelas coklat juga tak mengubah suasana hatiku. Sial sekali.

"Sehun!" suara pria terdengar memanggilku. "Hi Taeyong.. apa kabar?" Taeyong duduk di sampingku. Ia membawa tumpukan buku tentang bahan-bahan kimia. "Not good. My mood swings so badly." Ada kerutan tipis di dahinya. "Memangnya bulan itu sedang datangnya?" Dan toyoran kecil di bahuku adalah jawabannya.

"Aku sedang bertengkar dengan Jaehyun. Ia ingin waktu sendiri, jadi kubiarkan dulu dia. nanti juga ia akan baikan." Keluh Taeyong. "Bagaimana denganmu?" dan aku menjawabnya dengan tarikan nafas panjang. Taeyong dapat membaca suasana dengan baik, ia tertawa pelan. "Dan disinilah kita. Dua orang dengan suasana hati buruk."

"Ini adalah tahun terakhirku. Mungkin itu yang menyebabkan aku sedikit tak senang." Taeyong tersedak ludahnya. "Dasar aneh, apa kepalamu terbentur sesuatu? Berada di tahun terakhir adalah impian semua mahasiswa. Aku saja ingin cepat-cepat lulus. Sakit sekali kepalaku jika harus dijejali rumus kimia." Omel Taeyong. "Yah.. kau benar. Aku akan sangat merindukan kampus ini." yang kumaksud bukan itu Taeyong-ah. Tinggal beberapa bulan lagi dan aku akan kembali sendiri.

.

.

.

"Baby im home.." Suara Chanyeol terdengar dari dalam kamar. Aku bergegas turun menemuinya. "Aku merindukanmu." Aku memeluknya. "Aww.. benarkah? Apa kau sudah makan princess?" tanya Chanyeol. Aku mengangguk. "Bagaimana keadaan di hongkong? Apa menyenanagkan? Bagaimana cuacanya? Beberapa hari terakhir cuaca disini sangat baik." Chanyeol tertawa.

"Sepertinya kau lebih tertarik tentang Hongkong dari pada tentang hariku." "Tidak bukan begitu maksudku Channie. Aku sudah bilang aku merindukanmu, dan a-" kalimatku terpotong oleh tawaan rendahnya. "Aku tau sayang.. kau ini mudah sekali digoda." Chanyeol memelukku. "Apa kau ingin ikut ke Hongkon? Kita bisa mengambil sabtu dan minggu untuk berlibur. Jadi kau tak perlu bolos kuliah."

Tawaran yang lumayan juga. Chanyeol selalu mengajakku ke luar negri jika ada kesempatan, dan aku selalu menikmati waktu-waktu kami. "Ceritakan dulu bagaimana suasana disana lalu aku akan mempertimbangkan untuk ikut atau tidak." ia mengecup dahiku, "Cuacanya indah dan kotanya bersih. Aku yakin Hongkong memiliki tempat-tempat yang menarik. Aku yakin kau akan menyukainya." Aku berpikir sebentar. Aku masih harus belajar. Tapi tak ada salahnya bukan jika memberi waktu bersantai untuk diriku sendiri.

"Jadi bagaimana?" "Baiklah aku akan ikut."

.

.

.

.

.

.

Kami tiba di Hongkong dengan jet pribadi Chanyeol. Setelah jalan-jalan sebentar kita menuju apartemen. Kata Chanyeol setelah makan malam aku akan ia ajak menonton opera. Jadi tak membuang waktu, setelah kami sampai aku langsung bersiap untuk mandi. "Babe are you gonna take a shower?" tanya Chanyeol setelah melepas sepatunya. Aku mengangguk.

"Ingin mandi bersama?" pertanyaan itu memiliki dua arti. Mandi biasa atau mandi dengan kegiatan lain. aku memicingkan mata. "Apa kau ingin?" Chanyeol menunjukkan ekspresi gelinya. Kekehan itu sangat merdu di telingaku. "Kau tau aku selalu ingin saat bersamamu." Ia berjalan sambil melepas kancing kemejanya. Sial, mengapa ia sangat jantan. "Kau bilang kita harus segera makan malam lalu langsung ke opera?" Wajahnya langsung memasam. Aku terkekeh melihat perubahan ekspresinya.

"Kau benar." "Hei.. aku bisa membantumu." Kuremas lembut selangkangannya dan ia memandangku dengan senyuman. "Ya..!Park Chanyeol turunkan aku!" ia memikulku, dasar pria. Pasti bersemangat jika tentang itu. "Kau memanggilku apa?" suaranya bercampur kekehan. "Park Chanyeol!" dan aku merasa pantatku ditampar pelan. Chanyeol berbelok arah kembali ke dalam kamar. Ia menurunkanku di depan ranjang.

"Lepas bajumu." Tatapannya menajam. Aku mengangguk dan menuruti perintahnya. Celana dalam putih dan bra putih menempel di tubuhku. "Kemarilah." Katanya sambil menyentuh dua pahanya, ia duduk di pinggir ranjang. Gerakan itu berarti aku harus menungging di pangkuannya. Sudah lama kami tak melakukannya.

"What are you waiting for lil girl?" Aku masih berdiri dan melihat apa yang akan ia lakukan jika aku tak melakukan perintahnya. "Kau mulai berani rupanya. Kemarilah sebelum aku melalukan hal-hal yang tak akan kau sukai." Aku berjalan pelan. Ia menarikku berlutut di depannya membuatku berhadapan dengan dada bidangnya yang sedikit terekspos.

"Apa yang harus kulakukan kepadamu pincess? Kau mulai berani akhir-akhir ini." Aku mengangguk. Perlakuannya kepadaku membuatku tiba-tiba sangat menginginkannya untuk melakukan hal-hal yang tak kusukai. "Maaf daddy." Ia mencakup dua pipiku dengan tangan besarnya. "Kau tau daddy sangat tak suka saat kau main-main dengan nama daddy?" Aku mengagguk. "Gunakan mulutmu untuk menjawab lil girl." Aku menelan ludahku. "Aku mengerti daddy."

"Lalu mengapa kau masih melakukannya?" Chanyeol menggigit bibir bawahku pelan. "Ahh.. karena aku ingin menarik perhatian daddy." Chanyeol menaikan satu alisnya. "Apa aku tak memberimu cukup perhatian?" Aku memajukan tubuhku agar semakin dekat dengannya. "Kurasa aku hanya merindukanmu daddy." Aku menggigit dagunya pelan dan meraba selangkangannya. "Eits.. kau harus diberi pelajaran sebelum menyentuhnya." Aku bernafas kesal. "Spank me dad." Aku benci ini, tapi entahlah aku sedang sangat ingin merasakannya.

Chanyeol mengerutkan dahi. "Kau sendiri yang minta. Kau ingin berapa kali lil girl?" aku meraih tangannya yang masih menempel di pipiku dan menciumnya. "Lima kali daddy." Dalam sekejap ia mengangkat tubuhku keatas pangkuannya dengan posisi menungging. "Hitunglah Sehun." Ia memijat pantatku dan memainkannya pelan. 'Plaak..!' tamparnya pada pantat kananku. "One.." ia mengusap bekas tamparannya. 'Plakk..!' "Two.." kali ini pada pantat kiri.

'Plakk..!' "Three.." Kembali pada pantat kanan. Ia memainkan pantatku sedikit lama sebelum menampar bagian kiri. 'Plakk..!' "Four.." ia menarik lepas celana dalamku. Jari tengah dan telunjuknya masuk kedalamku. "Ahh.." desahku pelan. "Kau menyukainya?" aku mengangguk. "Yes daddy."

Chanyeol menggerakkan tangannya dengan cepat. Aku menyukai foreplay dengan jarinya ketimbang dengan mainan-mainan bodoh itu. "Ahh there.. daddyy.." dan saat itu juga Chanyeol melepaskan jarinya. "Daaddd.. i was almost there!" rengekku. 'Plakkk..!' "Ahh.. five.." Chanyeol tertawa rendah. "Kau masih ingat angkanya?" aku mengangguk. Chanyeol kembali memberikan pijatan. akhirnya..

Aku yakin pasti kulitku merah. Aku menyukainya. Warna merah selalu terlihat cantik pada tubuhku. seperti kata... Kai. Sialan! Mengapa aku tiba-tiba ingat nama itu?! "Dad, would you let me to cum?" aku hanya menginginkan Chanyeol. Bukan si keparat Kai!

"Kau sungguh tak sabaran." Ia kembalu memasukkan dua jarinya kedalamku. Ia bergerak dengan tempo sedang kemudian semakin cepat seiring permainan kami. Titiik itu kembali ia temuakan. Nikmat sekali. aku menggigit bibir bawahku, dan menahan orgasmeku sejauh yang kubisa. "Kau menahannya princess? Good girl." Ia mempercepat gerakannya. Ini sangat menyenangkan. "Aaahh Daddyy..!" aku meledak diatas pangkuannya. Celana kainnya basah karena airku.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil memeluk tubuhku. Aku mengangguk. Seperti biasa, jika sudah bermain pasti kita lupa waktu. Chanyeol mengecupi wajah dan leherku. "You are so tasty." Aku tersenyum. Benar seperti itu.. pujalah aku Chanyeol..

"On your knees. Now." Kalimat mutlak Chanyeol kembali terdengar. Aku kembali berdiri dengan lututku. Ia berdiri di depanku. Aku melepas kancing celananya. Ia sudah tegang di dalam sana. kujilat dari luar miliknya dan kutekan pelan. kubuka celananya dan kejantanan itu mengacung tegak.

Kumasukkan kepalanya dalam mulutku. Kubelai seluruh permukaannya. Licin dan halus. Kumasukkan sejauh yang kubisa dan kuhisap pelan. otol-ototnya menonjol bergesekan dengan bibir, lidah, adn permukaan tanganku. Ia sungguh lelaki yang perkasa. Aku melepasnya dan menjilatnya dari bawah ke atas.

Kukecup tiap permukaan kulitnya. Aku menyukai erangan rendahnya. Jari-jarinya menjambak rambutku seolah memberi kode untuk bergerak lebih cepat. Aku bergerak menuruti naliriku. Chanyeol semakin keras. aku ingin ia keluar dalam mulutku. Kuhisap dia lebih kencang dan beberapa menit kemudia Chanyeol keluar dalam mulutku. "Arrggh.." erangnya rendah. Aku berdiri dan memeluknya. "Kau menelannya?" aku mengangguk. "Eumm.. dad, kita masih harus makan malam lalu menonton opera kan?" Chanyeol melihat jam tangannya. "Besok opera itu masih akan dimainkan." Aku tersenyum lebar. "Jadi kita tak perlu berhenti sekarangkan?" tanyaku dengan nada antusias. "Kau masih ingin lanjut?"

"Daddy sepertinya masih ingin, aku tak keberatan jika harus menonton operanya besok." Chanyeol tertawa karena alasanku. "Aku sangat menginginkanmu Sehun." dan ia kembali memasukan jarinya kedalamku.

.

.

.

.

.

.

"Sehun?" Chanyeol memanggilku dari dalam kamar. "Aku tidak di ruang tengah." Jawabku asal-asalan. Suara langkah kaki Chanyeol terdengar mendekat. "What the heck are you doing?" aku sudah menduga ia akan berreaksi seperti itu. "like you see, im drinking." Jawabku tanpa melihat kearahnya.

"Siapa yang menyuruhmu minum wine pagi-pagi begini?" aku memutar mataku, "Siapa yang mengijinkanmu memakan gummy bearku?" tanyaku balik. Ia tertawa rendah "Jadi ini semua karena daddy memakan gummy bearmu tanpa ijin?" ia duduk di sebelahku dan menjauhkan gelas wine dari jangkauanku. Aku mengangguk. "Aku akan membelikanmu lagi nanti princess. Kita masih harus melakukan banyak hal dan aku tak mau rencana kita gagal lagi karena baby girl-ku mabuk." Ia menarikku dalam pelukannya.

Aku mendorongnya agar ia berbaring di atas sofa. Sofa ini berukuran besar, bahkan cukup untuk ditiduri tiga orang dengan ukuran tubuh sama sepertiku, tapi Chanyeol sangat besar. Tubuhnya kekar dan bahunya lebar. "Daadd.. aku terjepit." Ini sangat tidak nyaman. Ia menarikku keatas dadanya. "Ini jauh lebih baik. daddy besar sekali sih.." kekehan itu terdengar, ia bermain dengan rambutku.

Melihat apa yang kita alami enam tahun terakhir ini, aku yakin Chanyeol sudah sepenuhnya menyukaiku. Kami tak pernah bertengkar atau berargumen tentang masalah besar. Paling-paling hanya tentang aku yang bandel atau masalah-masalah kecil lainnya. Aku sangat menyukai Chanyeol, aku mencintainya.

Beberapa minggu lagi, hari itu akan datang. Aku yakin Chanyeol akan memperpanjang kontrakku atau malah menghapusnya dan kita akan bahagia selamanya. Bagaimana mungkin aku sangat yakin dengan kalimatku? Karena Chanyeol selalu memujiku, dan menunjukkan perhatian penuhnya kepadaku, ia juga selalu menuruti kemauanku. Aku yakin ia sudah sangat tergantung kepadaku. Terima kasih tuhan, kau telah mengirimkan cinta pertama yang sempurna untukku.

Tangannya behenti memainkan rambutku. Aku bergerak protes untuk beberapa saat sampai ia kembali memainkan rambutku. "Hei kau tau kau harus belajar bagaimana hidup tanpa aku bermain dengan rambutmu princess." Aku membuka mataku lebar. Apa ia sadar mengatakannya? "Aku tau. Tapi tidak hari ini." aku tersenyum dan mengecup bibirnya. Aku tak ingin hari itu datang.

.

.

.

.

.

.

Aku mencintai Chanyeol. Sangat mencintainya. Tak terasa lima hari lagi adalah tanggal resmi kami menjadi sepasang kekasih. Ada perasaan senang dan takut dalam hatiku. Senang karena tak terasa kami sudah enam tahun bersama. Dan takut karena mungkin saja Chanyeol akan bosan denganku.

Selama enam tahun ini kami selalu bahagia. Chanyeol memberiku segala sesuatu yang kubutuhkan. Perhatiannya. Ia merubahku menjadi individu yang lebih baik. Ia membangun lagi kepingan-kepingan diriku yang hancur karena masa lalu. Ia membuatku kuat. Ia adalah orang terpenting dalam hidupku. Dan aku tak ingin kehilangannya.

"Hei.." seseorang menyentuh bahuku. "Hei Lucas, hei Jongdae" mereka duduk di sampingku. "Apa yang sedang kau pikirkan?"tanya Jongdae. "Tidak ada.." "Eeii jangan bohong.. kami memanggilmu beberapa kali dan kau tak mendengarnya. Tak mungkin kau sedang tak memikirkan sesuatu." Nah sekarang aku harus memberikan alasan.

"Kau ingin tau?" Lucas dan Jongdae mendekat sambil menganggukkan kepala antusias. "Jika aku mengatakan kalau aku sedang berpikir tentang kau yang pernah mengatakan ingin memiliki dua lubang pantat agar kau bisa memuaskan dua pacar laki-lakimu apa kau akan percaya?" suara Jongdae tersedak permen karetnya terdengar.

"Dasar wanita binal. Kau ini bicara dipikir dulu kita dimana.." Lucas mengeratkan rahangnya menahan malu, berhubung kita sedang di kafe tempat kita biasa berkumpul.

"Kau pernah mengatakannya?" tanya Lucas pada Jongdae. "Aku? kau yang mengatakannya dasar kepala penis." Sungguh dua orang ini selalu berdebat. "Kita sedang di tempat umum. Kau ini tak tau malu ya, apa penismu bengkok?!" dan pembicaraan tentang penis ini berhenti karena seseorang yang berdehem kencang karena tak nyaman dengan bahasan mereka.

"Anyway Sehun, hari ini adalah hari jadi kejombloan Lucas yang ke tujuh. Good job bro! Ayo kita rayakan" Jongdae mengangkat cangkir kopinya. "Aaww selamat ya Lucas. Tujuh tahun? wow.. jika kau punya anak seharusnya ia sudah masuk SD." Aku tertawa melihat wajah merana Lucas. "Dasar anjing-anjing keparat. Kudoakan kalian mati saat bersenggama!" dan sumpahan konyol itu membuat kami makin tertawa.

"Maksudku, bagaimana bisa kau melewati malam-malammu tanpa dipuaskan?" balas Jongdae. "Sialan kau! dari semua hal mengapa itu yang harus kau bahas." Senyuman masam Lucas terlukis diwajahnya. "Karena aku menyukai wajah meranamu." Kamipun tertawa dengan cerita yang seharusnya menyedihkan ini.

"Suck my dick man!" Umpat Lucas. "Aaww.. bisakah kau jadi lebih romantis?" tanya Jongdae dengan wajah sok manisnya. "Like suck my dick in the rain?" dan tawaan kami kembali pecah. Dasar orang-orang gila.

.

.

.

.

.

.

Matahari tenggelam lebih cepat, tanda musim dingin hampir tiba. Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Tugas-tugas kampus selalu kuselesaikan lebih cepat agar aku memiliki waktu banyak untuk menyelesaikan kadoku untuk Chanyeol. Ngomong-ngomong tiga hari lagi adalah hari jadi kami yang ke-6.

Aku juga tak perlu sembunyi-sembunyi untuk menyelesaikannya, karena Chanyeol masih di Hongkong. Biasanya ia akan pulang hari Sabtu dan Senin pagi ia akan kembali ke Hongkong. Tak mustahil baginya untuk keluar masuk negri orang karena dia adalah Chanyeol Park.

Setelah sampai di rumah aku memasak masakan yang mudah dan cepat, nasi putih, tuna sarden, telur goreng, dan beberapa lembar rumput laut. Setelah itu aku langsung mengambil peralatanku dan menyelesaikan kado untuk Chanyeol. Deadline-ku untuk kado Chanyeol sebenarnya masih dua hari. Tapi entahlah, instingku mengatakan aku harus menyelesaikannya hari ini.

Sebuah sweater hangat berwarna merah marun. Aku menyukai warna merah. Seperti...Kai. Sialan! Nama itu lagi?! Tidak.. aku memilih warna merah karena merah cocok dengan Chanyeol. Iya merah sangat cocok dengan Chanyeol. Aku tak memilihnya karena si bajingan Kai. Aku memilihnya karena aku menyukainya. Aku sungguh membenci Kai dan aku akan selalu membencinya.

Memikirkan tentang si keparat itu saja langsung membuat emosiku naik. Aku harus istirahat sebentar. Aku mengambil segelas air putih dan menegaknya habis. Sekarang waktunya serius Sehun. Aku kembali mengambil alat sulamku dan menyelesaikan sweater ini.

Tak terasa sudah jam sebelas malam. Berarti sudah empat jam aku duduk disini menyelesaikan rajutanku. Aku memandang jerih payahku. Sebuah sweater rajut merah marun telah selesai. Aku tak menambahkan warna lain karena aku tau Chanyeol menyukai warna-warna polos, dan aku sengaja memilih bahan yang lembut dan ringan agar Chanyeol nyaman saat memakainya.

Aku menambahkan tulisan 'ik hou van jou' yang berarti 'aku mencintaimu ' di pergelangan kiri bagian dalamnya. Aku sengaja merajutnya di bagian dalam agar kalimat itu bergesekan langsung dengan nadinya. Chanyeol adalah pria peka yang memiliki segalanya, itulah mengapa aku memilih sweater rajutan untuk hadiah hari jadi kami. Karena ia tak akan mendapatnya di toko manapun.

.

.

.

Author POV.

Sehun meletakkan sweater rajutannya dalam sebuah kotak cantik dan menyimpannya di bawah tempat tidur. Besok Chanyeol akan pulang. Dan rencana-rencana kejutan untuk merayakan hari jadi mereka telah Sehun susun rapi dalam kepalanya.

Pukul 2.12 dini hari Sehun terbangun karena haus. Ia berjalan ke arah dapur dengan sebuah apel ditangannya. Niatnya ia ingin mengembalikan apel itu ke atas meja makan karena semalam ia tak sempat memakannya. "Ahh..ahhh..ahh.." desahan wanita dapat Sehun dengar dengan jelas dari arah kamar tamu di lantai satu.

"No way.." kata Sehun lemah. Ia berjalan ke arah garasi untuk memastikan sesuatu. Mobil kerja Chanyeol terparkir diantara mobil-mobil lainnya. Hati Sehun hancur. Ia bahkan lupa tujuan awalnya. Skenario-skenario terburuk muncul dalam kepalanya.

Sehun hancur lagi. Semakin langkahnya dekat dengan sumber suara, semakin gelap pikirannya. Pintunya tak tertutup sempurna. Lampu dalam kamar itu menyala menerangi ruang tengah yang hanya bercahayakan lampu bar dari arah dapur.

Desahan-desahan hebat terdengar dari dalam sana. Wanita itu terdengar lebih vokal dari pada Sehun. Bayangan-bayangan buruk mulai menghantui Sehun. Apapun yang Sehun sedang pikirkan, yang jelas ia hanya ingin tau apa yang sedang terjadi di dalam sana.

'pukk..' apel dalam genggaman Sehun terjatuh dari genggamannya saat ia berdiri tepat di depan pintu. Ia dapat melihat jelas apa yang terjadi. Tubuh besar Chanyeol memerangkap wanita di bawahnya. Mereka tak mengenakan pakaian apapun dan tubuh bagian bawah mereka menyatu. Meskipun Chanyeol menyembunyikan wajahnya di ceruk wanita itu, Sehun hafal betul bentuk tubuh pria itu. pria yang memiliki hatinya.

Wanita itu menoleh ke arah Sehun dan tersenyum. "Bagaimana jika tiba-tiba ia masuk kamar ini...? ahh.. Apa kita akan berhenti?" tanya wanita itu dengan senyuman miring pada Sehun di sela-sela desahannya. "Tidak." jawab Chanyeol singkat. Dari pertanyaan wanita itu Sehun tau bahwa wanita itu adalah penggantinya. Sehun mengerti bagaimana akhir ceritanya. Air matanya keluar begitu saja. Ia mengangguk pelan ke arah wanita itu lalu menutup pintu.

"Sehun.. kau ditinggalkan lagi." Kata sehun pada dirinya saat ia sampai dalam kamarnya. Tubuhnya terasa sakit, tapi jantungnya lebih sakit. Darah keluar mengucur dari hidungnya. "Sudah lama sekali aku tak merasakan sakit hati." Sehun tersenyum pada bayangannya dalam cermin. Ia menatap dirinya yang menyedihkan. Dahinya berkerut menahan sakitnya. Rencananya hancur. Ia bukan sesuatu yang berharga lagi. Perjanjian itu akan berakhir dalam hitungan jam, dan disinilah Sehun terpuruk dengan hati yang hancur. "Apa yang harus aku lakukan saat aku merindukanmu nanti Channie?"

Sehun tak memiliki alasan yang kuat untuk merebut kembali Chanyeol. Ia bukan lagi sesuatu yang Chanyeol inginkan. Sejak awal hubungannya dengan Chanyeol sudah salah. Tapi ia tetap egois mengesampingkan resikonya dan menerima tawaran Chanyeol. Bukankah sejak awal Sehun hanya ingin dicintai? Dan dengan begitu ia terperangkap dalam hubungan rumit ini.

Ia memandang gelang cantik pemberian Chanyeol enam tahun lalu. "Cheerful Sehun." suara serak Sehun terdengar. "Aku harap aku selalu bisa tersenyum untukmu." Kenangan-kenangan indah Sehun hanya bersumber dari Chanyeol. Chanyeol adalah penyembuh Sehun. Cintanya tulus, bukan karena harta Chanyeol, tapi karena Chanyeol adalah satu-satunya orang yang mau memeluknya meskipun ia tau bahwa Sehun telah hancur.

"Hei Kai.. apa kau mendengarku? Jika kau disini, aku yakin sekarang kau sedang tertawa terbahak-bahak." Sehun tersenyum miring. "Kau benar tentang segalanya. Sekarang aku harus mengawali semua dari awal. Sendirian." Sehun lelah. "Aku rasa aku adalah orang yang sangat jahat di kehidupanku yang sebelumnya hingga semesta tak mengijinkanku bahagia." Ia ingin istirahat.

"Semesta tak memberiku kebahagiaan abadi Kai. Apa aku memang tak pantas dicintai? Bisakah kau tanyakan pada semesta alasannya? Apa.. apakah kau bisa datang lagi dan menemaniku? Aku tak suka sendirian." Dalam ambang kesadarannya, seseorang berbicara dalam kepala Sehun "Aku tak akan membiarkanmu sendirian Sehun."

.

.

.

.

.

.

Setelah apa yang Sehun saksikan, ia tak dapat tidur dengan nyenyak. Pikirannya berkeliaran kesegala arah. Hidupnya yang sangat sempurna tiba-tiba gelap dan sepi. Wajah Sehun kusut dan tak bersemangat. Ini adalah hari jum'at. Sehun memiliki dua kelas. Ia bangun dan menyiapkan meja sarapan. Pintu kamar tamu masih tertutup.

"Seperti janjiku, aku akan menjadi Sehun yang riang." Kata Sehun pada dirinya setelah menyiapkan sarapan untuk dua orang. Bukan untuk dirinya, nafsu makannya telah hilang. Sehun mengambil sebuah catatan kecil untuk meninggalkan pesan. Seperti hari-hari biasa saat ia harus bangun pagi dan sarapan lebih dulu dari Chanyeol.

I made bacon, eggs and toasty. Hope you enjoy it ;)

Pesan singkat yang terdengar formal. Tak ada kata-kata manis atau panggilan sayang. Karena mulai hari ini kontrak mereka selesai.

"Channie.. aku akan sangat merindukanmu." Kata Sehun sambil menutup pintu rumah.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallooo... chapter 3 is updated!

Gimana udah ada gambaran tentang hubungan Chanhun gak? Sebenernya mereka keiket hubungan apa sih? Kenapa Sehun keliatan putus asa banget pas Chanyeol selingkuh? Sebagai sehun yang kuat seperti yang author gambarin di chapter 1 dan 2, reaksi Sehun di setelah tau Chanyeol main belakang harusnya lebih tangguh dong? Atau gak dia harusnya galak? Ya nggak sih? Untuk penjelasan selanjutnya author jawab di chapter 4 ya..

Dan untuk Kai... author no coment aja deh, ntar kita liat aja gimana kelanjutan cerita Sehun di chapter depan.

Keluarga Sehun ntar juga bakal author keluarin, tapi di chapter akhir. btw enaknya Sehun baby dipasangin siapa ya..?

sama author aja lah ya hehe.. yahh gini lah nasib fangirl -_- bayangin hidup sm bias doang bisanya.. *ngeness..

btw see ya in the next chapter... mumumu