Chapter 4
Sehun POV.
Cuaca hari ini tak sesuai dengan ramalan cuaca yang kemarin siang aku dengar. Seharusnya hari ini mendung, hujan gerimis, dan angin. Bukannya langit cerah dengan sinar matahari yang melimpah seperti ini. Sesuatu yang dapat diramalkan seperti cuaca saja dapat membalikkan perkiraan dan menampar di pembuat ramalan. Gumpalan awan dilangit bergerak dengan cepat menandakan bahwa angin hari ini ingin menunjukkan keberadaannya. Sialan, sepertinya semesta sedang mengejekku.
Mengapa semesta mengejekku? Karena kau pantas diejek Sehun. Aku sudah sering disakiti dan ditinggalkan, mengapa aku tak mati rasa saja? Karena kau pantas merasakan sakitnya Sehun. Aku takut. Aku sangat takut pada diriku sendiri. Bisakah aku menjadi lebih berani? Kau sudah berani sekali selama 6 tahun terakhir ini Sehun. Kau tak bisa lebih berani dari pada ini.
Menyedihkan. Aku sendiri dapat menemukan jawaban dari deretan pertanyaan labil itu. Mengapa masih saja pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku?! Sialan. Ayolah Sehun, anggap saja kau patah hati karena pacarmu selingkuh. Bukankah ini hal yang wajar? Jika aku memiliki hidup normal dan riwayat kesehatan mental yang baik maka jawabannya adalah ya ini hal yang wajar. Sayangnya aku tak memiliki kata normal dalam hiidupku.
Semua melenceng dan salah. Aku takut jika suatu saat nanti aku akan kehilangan diriku. Tidak, bukan kehilangan diriku yang kumaksud. Aku takut jika suatu saat nanti aku memilih untuk menyerah dan menghilang. Aku tak ingin meninggalkan cerita si Sehun yang menyedihkan. Aku benci dikasihani. Aku benci menjadi emosional karena itu berarti bahwa aku memiliki perasaan yang selalu ingin kusembunyikan.
Siapa kau sebenarnya Sehun Oh? Mengapa semua orang menjauhimu? Aku.. adalah si saudara perempuan yang tak cantik, si anak perempuan yang menakutkan, aku bahkan bukan pilihan kedua, aku hanyalah yang tersisa, aku bukan yang normal, aku juga bukan yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, aku adalah yang tak memiliki bakat, dan aku adalah 'mengapa kau ada disini?'
I wish i was enough for someone.
.
.
.
Flashback
Author POV.
Chanyeol mengamati tubuh telanjang wanita di sebelahnya dengan seksama. Dada dan pantatnya lebih kecil dari Sehun, kulitnya lebih putih, rambutnya pirang, dan tekstur tubuhnya lebih kenyal dibanding tubuh Sehun yang keras karena otot-otot yang sering dilatih. Sebenarnya ini belum waktunya ia membawa wanita itu pulang, hanya saja semalam kebutuhan biologisnya yang sudah terpancing membuatnya tak berpikir panjang. Chanyeol melihat refleksi tubuhnya di cermin dalam kamar mandi di kamar tamu. Tampak luka cakaran yang tak terlalu dalam tergores di bahu dan punggungnya, beberapa kissmarks kemerahan juga terlihat jelas di perut dan pingganggnya.
"Kau berbeda dengan Sehun." Kata Chanyeol dengan senyuman miringnya. ia menarik dan mengenakan kemeja serta celana kainnya yang kemarin ia pakai. Dua kancing teratasnya lepas berhubung kegiatannya kemarin terbilang liar.
Setelah selesai membersihkan diri, ia kembali ke dalam kamar dan menyelimuti wanita yang semalam menemaninya. "Ahh.. jangan pergi.." rengek si wanita. Chanyeol tertawa pelan dan mengecup pelipisnya, "Ada hal yang harus kukerjakan, tidurlah. Aku akan kembali." Dan wanita itu melepaskan cengkramannya pada lengan Chanyeol.
Chanyeol tersentak pelan karena baru menyadari pintu kamar yang tak tertutup sempurna. Saat ia melangkah keluar 'dukk..' sebuah apel merah menggelinding ke ruang tengah karena tak sengaja tertendang kakinya. "Sehun." Katanya dengan nada datar.
Author POV.
Sehun berantakan. Ia bahkan tak ingin kembali ke rumah karena tak ingin bertemu Chanyeol. Hatinya masih sangat hancur. Tapi ia sadar, ia berada diposisi dimana ia tak berhak untuk sakit hati. Dengan segala keberanian yang tersisa Sehun kembali memasuki rumah mewah ini. Suasananya masih sama, sepi dan dingin. Sehun menarik nafas panjang mempersiapkan hati dan pikirannya.
"Sehun?" suara berat Chanyeol terdengar dari ruang tengah. Ia duduk sendiri dengan secangkir kopi di atas meja. Sehun tersenyum dan berjalan menghampirinya, dengan mendengar suaranya saja dapat membuat Sehun senang. "Soree.." sapanya dengan nada riang. "Kita perlu bicara." Nada Chanyeol datar, tak ada Chanyeol si perayu yang sangat menyukai Sehun.
"Aku tau ada hal penting yang harus kita bahas, tapi bisakah kita membicarakannya setelah makan malam?" Kata Sehun dengan kalimat bernada manjanya. Tak ada raut putus asa ataupun sedih. Hanya ada raut ceria yang selalu ia tunjukkan untuk orang paling berharga dalam hidupnya.
"Tapi.." "No no no.. kita harus makan dulu sebelum berbicara yang berat-berat. Aku tak ingin bayi besarku kelaparan hehe.." jawab Sehun masih dengan nada gurauannya. "Baiklah. Aku akan menunggu disini." Chanyeol menyerah dan Sehun tersenyum lebar. Sehun berjalan mendekati Chanyeol, ia belum mendapat ciuman Chanyeol beberapa hari terakhir ini.
Sehun menatap dua mata Chanyeol lekat dan berjinjit agar dapat meraih bibir tebal milik pria yang memiliki hatinya. Sayangnya Chanyeol menoleh agar bibir Sehun tak menyentuh miliknya. Sehun tersenyum kecut. Chanyeol tak pernah menolaknya. "Kenapa? Perjanjian itu berakhir pukul 9 malam nanti. Kau masih milikku sekarang." Dan dengan tangan kanannya Sehun menarik dagu Chanyeol lalu mengecup lembut bibirnya. 'cupp..' Kecupan sepihak Sehun tak membuat suasana membaik. Setidaknya ia tau dan yakin, Chanyeol sudah tak sabar ingin lepas darinya.
Sehun berjalan membelakangi Chanyeol menuju dapur. Air matanya menetes tanpa perintah. Bergelut dengan perasaan dan air mata. Ia tak ingin Chanyeol melihatnya menangis. Ia hapus air matanya dan mulai menyibukkan diri di dapur. Di ruang tengah Chanyeol memperhatikan Sehun. Wajah serius Sehun terlihat saat ia beberapa kali harus mengerutkan dahinya.
Sehun adalah satu-satunya wanita yang hidup dengannya dalam waktu yang lama. Sehun menarik dari segi manapun. Awalnya memang sulit untuk membentuk Sehun yang seperti sekarang, yang berkepribadian baik, menarik, cakap dan berani. Chanyeol mengorbankan banyak waktu dan tenaganya. Sebagai pria yang menyukai tantangan, menaklukan Sehun dan membuatnya seperti yang Chanyeol inginkan adalah suatu tantangan yang menarik.
Tak ada kata menyerah atau gagal dalam hidup Chanyeol. Dan disinilah ia sekarang, memenangkan hati Sehun dan memenangkan tantangan yang ia buat untuk membentuk Sehun. Lalu apa yang akan ia lakukan jika ia telah berhasil memenangkan tantangannya? Membuat tantangan baru dengan objek baru.
"Hei.. aku sudah selesai." Panggil Sehun dari ruang makan. Chanyeol menutup laptopnya dan menghampiri Sehun. "Mungkin ini adalah yang terakhir kalinya aku memasak untukmu, jadi aku membuat beef wellington, kentang oven, dan salad. Kau bilang kau menyukai beef wellington buatanku kan?" Sehun tak menunjukkan raut sedihnya sama sekali. Ia masih tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit. "Pilihan yang baik. Sulit sekali menemukan orang yang bisa memasak daging yang sesempurna ini." Sehun tersenyum lagi mendengar pujian tak langsung Chanyeol.
Mereka makan dengan tenang. Tak ada gurauan atau pertanyaan-pertanyaan basa-basi seperti apa kabar atau bagaimana harimu. Sehun yang selalu curi-curi pandang pada Chanyeol, dan Chanyeol yang sibuk dengan pikirannya. Tak lebih dari 30 menit mereka menyelesaikan makanan utama dan yoghurt sebagai penutup. Chanyeol meminta Sehun untuk mengikutinya ke ruang kerjanya.
Mereka duduk berhadapan di depan meja kerja Chanyeol. Sudah ada sebuah map biru di hadapan Sehun. "Kau ingat map ini Sehun?" Sehun tersenyum manis. "Mana mungkin aku melupakan secarik kertas yang sangat berharga ini." Sehun meraba map itu. "Perkembanganmu sangat baik Sehun, dibanding enam tahun lalu." Seringaian kecut terlukis dibibir Sehun. "Ya aku dapat merasakannya. Thanks to you." Dan ingatannya kembali pada saat ia bertemu dengan Chanyeol, enam tahun yang lalu.
Flashback
Sehun POV.
Aku bekerja di sebuah toko roti rumahan. Sudah lima bulan aku tinggal di negara ini, Korea. Negara asal ibuku. Aku mencintainya, sangat mencintainya hingga aku memutuskan untuk pindah ke tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Aku ingin mengenal tradisi, pemikiran dan gaya hidup orang Korea. Agar aku bisa menjadi seperti ibu. Wanita Asia yang lemah lembut, berkepala dingin, dan dewasa.
Beberapa hari yang lalu ada seorang pria tampan yang sepertinya tertarik kepadaku. Yang benar saja. Sekarang boleh saja ia tertarik, tapi tunggu sampai si bajingan itu muncul dan membuat si pria tampan ini lari terbirit-birit karena ketakutan. Seperti cerita-cerita yang lalu.
Hari ini ia datang lagi. Ia sangat keras kepala. Bahkan ia menungguku di luar toko hingga aku selesai bekerja. Ia sangat tampan, dan dari pakaian dan mobilnya aku yakin ia adalah orang penting. Aku tak ingin terlihat seperti orang yang tidak sopan, jadi aku berencana akan menjelaskannya tentang siapa dan apa diriku ini.
"Masuklah tuan. Lebih baik kita berbicara di dalam." Tawarku pada si pria asing. Ia tersenyum tipis. Tampan dan menawan. Secangkir kopi kusiapkan untuknya di atas meja. "Anda bisa menjelaskan tentang tawaran anda." Aku tak takut dengan pria asing, karena tiap kali mereka akan berbuat jahat kepadaku, Kai akan muncul dan menghajar mereka. Ia memiliki sabuk hitam taekwondo ngomong-ngomong. "Saya akan memperkenalkan diri sekali lagi, jaga-jaga jika anda lupa, nama saya Park Chanyeol. Dan saya telah mencari banyak informasi tentang anda nona Wu." Satu alisku terangkat. "Wow.. melihat dandanan anda yang seperti orang penting, ternyata orang seperti anda bisa melakukan tindakan yang sangat tidak sopan."
Ia terkekeh "Mencari informasi tentang seseorang client sangatlah wajar di dunia perbisnisan nona." "Huaahh.." aku sengaja menguap untuk menunjukkan kesan bahwa aku sangat tak tertarik dengannya. "Aku ingin mendengar intinya langsung, agar aku bisa segera menolakmu dan pergi tidur." Ia menunjukkan tatapan sarkastisnya.
"Baiklah. Saya mengetahui segala sesuatu tentang anda nona Wu. Anda adalah seorang pelajar berwarga negaraan Perancis yang baru lima bulan lalu pindah ke Korea. Anda hidup sendirian tanpa orang tua. Jika dilihat dari dokumen yang saya miliki, kemungkinan besar hubungan anda tak baik dengan orangtua anda atau jika tidak, mereka telah meninggal." Sialan, siapa dia sebenarnya? 'Shixun apa aku perlu memukulnya sekarang?' suara Kai dalam kepalaku. "Jangan, aku ingin mendengarkan apa yang ia inginkan sebenarnya." "Anda berbicara dengan saya?" wajahnya terlihat bingung.
"Tidak. Bisa kita langsung ke intinya saja?" aku sungguh tak sabar. "Anda dapat membacanya sendiri." Ia menyodoriku sebuah map biru. Aku membacanya dengan seksama dan aku tak percaya akan keterangan-keterangan yang tertulis di dalamnya. Manusia ini benar-benar gila. Kupikir ia memiliki uang yang terlalu banyak hingga permainan yang ia ciptakan sebegini mahalnya. "Anda benar-benar gila tuan. Pintu masuk yang anda lewati barusan juga berfungsi sebagai pintu keluar."
"Aku memang gila Shixun. Karna itu kita cocok. Aku berjanji akan memenuhi kebutuhan finansialmu. Kau tak perlu bekerja, aku akan membayarmu, dan untuk mempermudah hubungan ini, aku menyarankan untuk tinggal bersama. Itu tak sulit untuk dilakukan." Bagaimana mungkin ia menjelaskannya dengan ringan? Ini bukan sekedar ajakan untuk makan siang.
"Bisa anda jelaskan lagi tawaran apa ini?" aku ingin mendengar langsung dari mulutnya. "Ini adalah kontrak hubungan. Aku menawarkan hubungan mutualisme untukmu. Kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini." "Dan maksud anda dengan mutualisme adalah?" aku masih memojokkannya.
"Semua sudah tertera dalam kontrak ini nona Wu. Tapi jika kau ingin mendengarnya langsung, akan kujelaskan. Jangan membayangkan hubungan yang aneh-aneh. Anggap saja kita sepasang kekasih yang saling mencintai. Aku akan menganggapmu sebagai kekasihku. dan layaknya hubungan sepasang kekasih, kita akan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Pergi berkecan, saling mengucapkan 'i love you', menjemput dan mengantarmu sekolah, makan malam di restoran mewah, tidak selingkuh, yang artinya selama kita terikat perjanjian ini kau ataupun aku dilarang keras selingkuh. Dan sebagai sepasang kekasih, kita juga akan melakukan hubungan untuk menyalurkan kebutuhan biologis kita. Satu hal yang ingin kutegaskan, aku tak menyukai hubungan sepasang kekasih biasa nona Wu. Jika sepasang kekasih memiliki rasa vanilla, maka rasa hubungan kita akan menjadi campuran antara strawberry, vanilla dan banana. Aku menyukai kinky stuf. Yang artinya kau adalah sugar babby dan aku adalah sugar daddymu." Dan saat itulah aku kebahisa kata-kata.
"Jadi ini seperti kekasih bayaran? Anda bisa mencari wanita lain. Aku yakin dengan wajah tampan anda tak akan kesulitan mencari wanita." Rasanya sungguh muak. "Memang tak sulit. Tapi aku tipe orang yang pilih-pilih nona Wu. Kepribadian adalah yang utama, kau terlihat kuat, dan diikuti oleh fisik." Aku tertawa rendah. "Kepribadian? Anda akan terkejut saat mengetahui seperti apa kepribadian saya." Ia tak menjawabnya.
"Aku menderita bipolar. Aku memiliki dua kepribadian. Aku bukan wanita seutuhnya. Ada saatnya aku menjadi seorang wanita, dan ada saatnya aku menjadi seorang pria. Seperti dua orang yang hidup dalam satu tubuh." Ada jeda beberapa detik sebelum ia memberikan rekasi.
"Dan aku sangat tertarik untuk menarik sisi wanitamu keluar dan menjadikanmu yang dominan. Aku yakin kau membutuhkan bantuanku. Kau tak akan bisa mengalahkan sisi lainmu sendirian tanpa dorongan dari orang lain. Aku akan berperan dalam hubungan kita, aku akan selalu memperhatikanmu. Tidakkah kau ingin memiliki tubuhmu seutuhnya? Percayalah, aku benar-benar bisa membantumu. Ini tak akan sulit Shixun, setelah kau menandatangani perjanjian ini, aku akan menempatkan dirimu sebagai kekasihku. membuatmu nyaman, selalu diperhatikan, terjaga, dan dicintai." Apa?..
"Maksud anda dengan dicintai?" bagaimana rasanya dicintai? belum pernah ada yang mau mencintaiku. "Dalam kontrak ini, kita adalah sepasang kekasih. dan sepasang kekasih saling mencintai bukan? Aku akan mencintaimu nona Wu. Tapi kembali lagi, its just a contract afterall." Tuhan selalu bermain dengan perasaanku. Tak pernah sekalipun ia memberiku perhatian. Dan aku adalah gadis bodoh yang selalu mengikuti garis hidup yang ia buat.
"Cinta..? apa anda akan perhatian kepadaku?" Ia tersenyum dan mengusap pelan rambutku. "Tentu saja. Aku akan menjadikanmu ratuku. Memenuhi segala kebutuhanmu dengan waktu, perhatian dan permainan-permainan menyenangkan." Apa ini salah untuk dicoba?
End of flashback
Sehun POV
"Perjanjian kita berakhir hari ini Sehun." Chanyeol terlihat tenang. "Aku tau. Dan itu tandanya aku akan segera berada di atas sepatuku sendiri." Chanyeol tersenyum tipis mendengar kalimat lancar Sehun. "Aku bangga dengan perubahanmu. Aku tak dapat menemukan Shixun Wu yang kaku, dingin, dan tanpa ekspresi." Sehun tersenyum. "Kau benar, aku membutuhkanmu untuk menyembuhkanku. Dan kau menepati semua kata-katamu. Kau memberiku enam tahun terbaik dalam hidupku. Kau merubahku, memperbaikiku, menumbuhkan semangat-semangat hidup yang kupikir tak akan pernah tumbuh di dalamku. Kurasa terima kasih tak akan pernah cukup." Suara Sehun bergetar di akhir kalimmatnya. Chanyeol tau Sehun menyembunyikan perasaannya. Dan ia juga tau bahwa ia adalah bajingan yang berusaha memanfaatkan ketegaran palsu Sehun.
"Kau telah sembuh Sehun, percayalah kau adalah satu-satunya wanita yang hidup denganku dalam waktu yang lama. Kau tumbuh menjadi wanita yang kuat, kuharap ini tak akan sulit untukmu. Aku telah mempersiapkan segala sesuatu yang kau butuhkan untuk hidup sendiri." Sehun mati-matian menahan air matanya. "Ini adalah lima menit terakhirku sebagai wanitamu. Bolehkah aku menciummu?"
Chanyeol berdiri berjalan menuju Sehun dan Sehun dengan reflek segera berdiri dan meraih leher pria yang sangat ia cintai ini. Bibir mereka bertemu. Chanyeol menghisap bibir Sehun lembut agar Sehun membuka bibirnya. Rengkuhan hangat Chanyeol pada punggung Sehun membuat perasaan Sehun semakin tak karuan. Hatinya hancur, tapi ia tak ingin menunjukkan sehancur apa dirinya. Tempo lambat dan lembut masih mereka jaga. Lidah yang saling menghisap dan rengkuhan yang semakin erat. Sehun meraih rambut Chanyeol dan merematnya pelan. Sebentar lagi ia tak akan bisa merasakan keberadaan prianya.
Chanyeol mendorong ringan pinggang Sehun, dan disaat itu ia tau ia harus berhenti. Sehun menatap paras tampan Chanyeol untuk beberapa saat. Mengamatinya selagi ia bisa. Mencintai Chanyeol adalah hal terindah yang terjadi dalam hidup Sehun. Ia tau itu salah, tapi bukankah dalam hidupnya ia selalu melakukan kesalahan? Sehun membelai pipi dan rahang tegas Chanyeol. "Apa kau pernah mencintaiku?" Tanyanya. Ada jeda beberapa saat sebelum Chanyeol menjawabnya. "Maafkan aku Sehun." Dan air mata yang sedari tadi terbendung akhirnya tumpah juga.
.
.
.
.
.
.
Sehun POV.
Aku kehilangan diriku lagi. Setiap hari hatiku sakit sekali. Siapa yang harus kusalahkan? Jawabannya adalah diriku sendiri. Aku yang membuat ini rumit. Tapi aku ingin dicintai, dan saat itu terjadi aku tak dapat menolong diriku untuk tak mencintainya. Aku jatuh kedalam permainan hitam yang ditawarkan semesta lewat tangannya. Tangan cinta pertamaku. Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik.
Yang terbaik pantatku?! Tuhan menyiapkan rencana yang sangat luar biasa. Sungguh tak dapat dipercaya, ia merencanakan hidupku dengan sangat sempurna. Kesakitan yang sangat sempurna. Ia menyakitiku lalu saat aku sangat terpuruk ia menyodorkan kebahagiaan yang sangat menggiurkan dengan sengat berbisa diujung periodenya. Sungguh rencana yang hebat!
Air mata sialan ini tak mau berhenti. Sangat menyedihkan, alasan mengapa aku tidak membunuh diriku sendiri adalah karena aku tak ingin menyakiti Chanyeol. Aku tak ingin ia menyalahkan dirinya sendiri. Tapi alasan mengapa aku ingin membunuh diriku adalah karena ia menyakitiku.
Tidak, Chanyeol tak menyakitiku. Aku yang menyakiti diriku sendiri. Tapi aku tak ingin menyakii diriku karena ada orang lain yang hidup di dalamnya. Aku.. apa yang terjadi?! Aku bingung sekali. Apa yang harus kulakukan? aku tak mungkin mengikat tali di leherku.
'Shixun..' Aku mendengar suara yang sudah lama sekali tak kudengar. "Kai? Kau kembali? Hei.. aku menggunakan tubuh ini terlalu lama. Kau menunggu giliranmu?" Suaranya lebih dalam dari yang kuingat. 'Apa kau yakin dengan... kalimat terakhirmu?' eh? "Kau datang lagi.. Kalimat yang mana?" ada jeda beberapa detik sebelum suara berat pria itu kembali terdengar dalam kepalaku.
'Tentang mengikatkan tali dilehermu. Jangan melakukannya Shixun.' lelehan air panas kembali membasahi pipiku. "Konyol bukan? Sekonyol jika aku mengatakan bahwa aku merindukanmu." Tuhan mengembalikan Kai kepadaku. Sempurna sekali permainannya. Sepertinya ia berusaha membuatku gila. 'Jangan melakukannya kumohon.' Kau dengar itu Sehun? Seseorang memohon agar kau tak mengakhiri hidupmu.
'Kau masih membenciku?' Entahlah.. "Aku selalu berpikir begitu Kai. Sudah lama sekali sejak seseorang memanggilku Shixun." Aku mendengar tawa rendahnya. 'Maafkan aku Shixun. Aku pernah membuatmu sakit.'
"Saat itu kau hanya melakukan apa yang instingmu katakan Kai. Aku telah memaafkanmu. Suasana hatiku sedang buruk, mungkin itu yang menyebabkan kau kembali. Kini kita kembali bersama. Kali ini dengan suasana berbeda. Hahh.. hatiku hancur lagi Kai." 'Shixun, kau tak sendirian. Aku akan selalu bersamamu. Sampai kau cukup kuat untuk berdiri sendiri dan jika saat itu datang, dengan berbesar hati aku akan kembali melepasmu.' Kemana perginya Kai yang keras kepala, suka memaksa, dan seorang pria dengan sifat dominan yang kental? "Aku tak percaya kau mengatakan itu kepadaku. Kau selalu kuat dan memiliki semangat menggebu-gebu untuk menguasai tubuh ini sendirian. Sekarang kau mengatakan ingin pergi begitu saja?"
'Aku juga tak percaya dengan kalimatku sendiri.' Kekehan itu terdengar lagi. 'Aku bersungguh-sungguh tentang itu Shixun. Aku tak ingin kau menderita sendirian.' Nada suaranya menenangkan. dan ia terdengar tulus. 'Aku akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun. Aku ingin menjadi teman yang baik.'
"Teman huh.. Apa kau tau yang terjadi dalam hidupku selama lima tahun terakhir?" jika memang ia tau, maka artinya ia sembunyi dalam kepalaku selama ini. Dengan arti lain, aku tak pernah sembuh sempurna. 'Bukankah kita berbagi tubuh dan hati? Diantara kita kau adalah pemenangnya Shixun. apapun yang kau lalui aku mengetahui dan merasakannya. Tapi apa yang aku lalui dan yang aku rasakan kau tak akan mengetahuinya. Karena kau adalah si dominan.'
"Memangnya apa yang kau lalui dan rasakan?" ada jeda lagi beberapa detik, sepertinya ia masih ragu mengatakannya. 'Patah hati.' Aku sudah menebak jawabannya. "Suck.. i know.." aku menghela nafas lagi "Itu artinya selama ini kau masih hidup." Suaraku merendah, ia mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. 'Kau berharap aku mati?' "Tidak bukan begitu. Lima tahun terakhir aku selalu berpikir kau sudah hilang." 'Maafkan aku.' nadanya rendah dan halus. Apa aku menyakitinya? "Hei.. kita bersama sekarang. Aku tak ingin kau pergi Kai. Mari kita ulang semuanya dari awal. Perkenalkan aku Sehun Oh. Kau bisa memanggilku Sehun mulai sekarang. Karena itu identitas baruku di Korea. Aku senang kau mau kembali menemaniku."
'Perkenalkan aku Kai. Dan aku tak akan mengambil tubuhmu diam-diam saat kau tidur atau tanpa izinmu.' Aku tertawa karena perkenalannya. Dan mulai saat ini aku berteman dengan Kai. Kepribadianku yang lainnya.
.
.
.
.
.
.
Sudah terhitung tujuh hari semenjak aku keluar dari mansion megah Chanyeol. Kini aku tinggal di apartemen mewah di pinggir Soul. Chanyeol yang memberikannya kepadaku. Lengkap dengan mobil yang sering kugunakan. Awalnya aku menolak keras, tapi melihat keadaanku saat itu aku pikir tak ada salahnya mengambil tawarannya.
Sebenarnya saat itu aku memilih tinggal sementara di rumah Lisa dan aku berencana mencari kerja sampingan agar dapat menyewa apartemen kecil, tapi Chanyeol menolak keras ide itu. Ia memaksaku menempati apartemen ini dan membawa mobil pemberiannya. Aku tak dapat menolak karena dokumen kepemilikan apartemen dan mobil ini mengatasnamakan diriku.
Jadi aku tak perlu membayar sewa rumah. Hanya listrik dan pajak tahunan. Barang-barang dalam rumah ini pun juga sangat lengkap. Ia juga berjanji bahwa ini adalah bentuk pertolongannya yang terakhir. Aku tak ingin berhubungan dengannya lebih jauh, semakin sering melihatnya hatiku semakin sakit. Bohong jika aku bilang aku telah melupakannya.
Ngomong-ngomong hari ini turun salju pertama. Udara di luar sangat dingin, aku yakin besok lalu lintas akan sangat kacau. Jalanan akan licin dan banyak sekolah diliburkan karena terlalu berbahaya. Dicuaca yang mulai dingin seperti ini, biasanya aku dan Chanyeol akan berpelukan di ruang tamu tanpa melakukan apapun. Hari ini aku merindukannya lagi. Mungkin saat ini ia sedang memeluk pacar barunya. Aku iri sekali. Paling tidak dalam hubungan ini hanya aku yang jatuh cinta, jadi Chanyeol tak perlu merasakan sakitnya.
Dan tentang kadoku untuk Chanyeol, aku tak memberikannya secara langsung. Aku terlalu pengecut. Saat itu, berada dalam satu ruanggan dengannya saja sangat sulit. Jadi saat aku mengemasi pakaianku, aku meletakkannya di atas ranjang. Semoga ia sudi memakainya.
'I can show you the world. Shining, shimmering splendid. Tell me, princess, now when did. You last let your heart decide? I can open your eyes. Take you wonder by wonder. Over sideways and under. On a magic carpet ride.' Seseorang menyanyikannya di dalam kepalaku. Suara rendah seorang pria. Merdu dan menyejukkan.
"Aku benci lagu ini." sialan sekali dia, 'Aku menyukai lagu ini. Dulu kau juga sangat menyukainya. Saat kita masih bersama. Sebelum pria itu datang.' Aku diam. Seharusnya ia tau dulu aku membencinya setengah mati yang berarti aku membenci segala sesuatu yang ia sukai. "Aku terbiasa membenci lagu itu, dan kupikir sekarang aku tak terbiasa mendengarkannya dengan suaramu."
'Kau masih membenciku.' Yahh sedikit. "Aku berusaha menerima keberadaanmu Kai. Kumohon mengertilah. Jangan membuatku kesal." Dan aku tak mendengar rekasinya lagi. "Apa kau memiliki perasaankan Kai?" Jeda setelah pertanyaanku sedikit panjang. Ini adalah pertanyaan yang sedikit berat, seharusnya aku tak bertanya. 'Ya Sehun.'
"Apa kau pernah bahagia?" kupikir pertanyaanku terlalu sulit untuk dijawab. Jeda kali ini lebih panjang dari sebelumnya. 'Entahlah.. aku tak ingat bagaimana rasanya.' Apa? Bukankah ia bahagia saat berhasil menguasai tubuhku? "Saat kau menguasai tubuhku dan bisa melakukan hal-hal yang kau inginkan, tidakkah kau bahagia?"
'Aku mengambil alih tubuhmu karena kau membutuhkannya Sehun. Bukan berarti aku bahagia bisa melakukan segala hal yang kau tak bisa.' Jawabannya membuatku bingung. "Bisa kau jelaskan mengapa aku membutuhkanmu untuk mengambil alih tubuhku?" 'Aku mencari uang untuk kita berdua, meskipun caraku saat itu sangat salah. Aku berlatih bela diri karena saat itu kau adalah seorang yang sangat lemah, aku ingin melindungi tubuh ini. Melindungi mu. Aku tak merasa senang saat melakukan hal-hal itu Sehun.'
"Apa kau ingin bahagia? Aku ingin bahagia." 'Kita menempati satu tubuh Sehun, dan aku adalah seorang pria. Aku akan mengalah padamu jika harus memilih, aku ingin kau yang bahagia.' Aku tak ingin jawaban seperti itu. "Aku tak bisa bahagia Kai." 'Tentu saja kau bisa. Kau harus bersabar.' Jawaban klasik. "Lalu kira-kira hal apa yang dapat membuatmu bahagia?" aku tau pertanyaan-pertanyaanku terlalu berat untuknya. 'Jika aku memiliki detak jantungku sendiri.' Itu hal yang tak mungkin terjadi. Ia bukan manusia. Aku yang dominan dalam tubuh ini. Dan ini adalah tubuh wanita. Dari perbincangan ini aku mulai mengerti bahwa Kai lebih menyedihkan dari pada aku.
Perbincangan ini berhenti perlahan. Aku lelah sekali hari ini, dan aku mengentuk.
Seingatku beberapa menit yang lalu aku berada dalam kamar. Dan sekarang aku berada di sebuah ruangan yang amat sangat luas. Tanpa dinding. Tak ada apapun di dalamnya. Hanya berwarna putih. Aku bahkan tak tau berapa tinggi langit-langit ruangan ini, yang jelas sejauh mata memandang hanya warna putih yang mendominasi.
"Sehun.." Suara pria yang amat sangat aku kenal terdengar dari belakang. Aku membalikkan tubuh. Pria tinggi berambut abu-abu dengan pakaian serba hitam itu yang memanggilku. Ia berjalan mendekat tanpa alas kaki. Kulitnya coklat muda, rahangnya tegas, dan rambutnya ditata rapi hingga dahinya terlihat. Sungguh pria yang tampan. Aku memandanginya lekat. Aku mengenal pria ini. Ia seperti seseorang dari masa laluku. "Kai?" tanyaku.
Senyumannya melebar. Ia benar-benar tampan. "Aku senang kau mengingatku." Aku terkejut. Terakhir kali kami bertemu sekitar lima tahun lalu saat kami bertengkar. Saat itu rambutnya hitam legam dan raut wajahnya masih remaja. Sangat berbeda dengan yang sekarang. Ia adalah pria dewasa sekarang.
"Kau berubah." Aku ikut tersenyum melihatnya. "Kita berdua berubah Sehun." Ia menilai penampilanku. Entahlah dalam mimpi ini aku mengenakan sebuah gaun pendek berwarna merah. Warna kesukaan Kai. Aku berjalan mendekatinya dan menangkup wajahnya dengan dua tanganku. "Kau terasa sungguh nyata Kai." Ia menarik tangan kananku dan menciumnya.
"Dalam duniaku aku memang nyata Sehun." Dan selanjutnya ia menarikku kedalam pelukannya. Ia memelukku erat sekali seolah-olah ia sangat merindukanku. Tak terasa air mataku mengalir. Entah mengapa. Ia melepas rengkuhannya dan menghapus air mataku.
"Tidakkah kau kedinginan? Tidurlah aku akan memelukmu." Dan secara ajaib ranjangku tiba-tiba muncul di hadapan kami. Kai menuntunku ke ranjang. Ia berbaring di sebelahku, meletakkan tangan kirinya di bawah tengkukku dan tangan kanannya memeluk tubuhku. Tak pernah terbayangkan olehku kami akan sedekat ini. "Kai? Apa kau akan pergi saat aku terbangun nanti?"
.
.
.
.
.
.
TBC
Halloooo.. Chapter 4 is done..
Dichapter ini udah dijelasin gimana hubungan Chanhun yang sebenarnya. Dan karakter Kai disini udah muncul. Ntar chapter depan bakal ada flashback-flashback ttg hubungan Kaihun dan hidupnya Sehun tentu aja. Let me know if you have a question
Anyway author Kaihun Shipper kok, di ff ini awalnya agak bingung sih karakter yg di jadiin other selfnya sehun Kai atau Chanyeol, dan setelah ditimang-timang kayaknya emang Kai aja yang jadi. Dan beginilah sampe chapter 4 baru dimunculin Kainya. Author masih bisa dibilang kacangan,soalnya nulis cerita asal-asalan dan banyak typos mohon dimaklumi ya gaes. Mood kadang-kadang juga berubah-ubah. Kadang hari ini gtw tbt sedihhhh banget, sensitifff banget sm hal kecil eh trs sorenya pas habis makan biasa aja.. feel angst ilang dehh..
Oiya untuk si my angel, ntar dulu ya.. masih pengen ngerjain yang ini. makasih banget buat readers yang mau ngereview lebih dari 10 kata hehe.. author seneng bacanya,, meskipun belum banyak sih.. but you know i wrote this chaptered story just for fun..
Makasih buat yang mau ngereview, dan yang belum review mohon reviewnya..
Sampe ketemu chapter depan.. byee...
Review ;)
