Chapter 5.
Sehun POV.
Sejauh mata memandang, hanya salju putih yang menyapa penglihatan. Jam dinding menuntukkan pukul 19.36, dan aku masih di perpustakaan kampus. Aku masih punya waktu beberapa jam hingga gedung ini ditutup, pulang ke rumahpun rasanya sangat malas. Aku tak memiliki alasan untuk pulang bukan. Tak ada yang menungguku untuk dimasakkan, dan tak ada yang menungguku karena rindu.
'Kruukkk..' akhirnya aku lapar juga. Semenjak aku hidup sendiri aku kehilangan nafsu makanku. Rasanya ingin muntah tiap kali mencium makanan. Kantin kampus sudah tutup sejak satu jam lalu. "Haahh.." artinya aku harus beli makanan di tempat lain.
'Akhirnya kau berhenti belajar juga Sehun.' Aku dan Kai sepakat agar ia tak muncul saat aku sedang belajar. Aku ingin lulus dengan nilai memuaskan dan Kai juga setuju dengan keinginanku itu. "Yahh.. jika aku tak lapar, mungkin aku tak akan berhenti belajar." Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang karena salju yang tebal. 'Kau harus makan makanan yang sehat Sehun. Jangan berhenti di MC Donald. Aku benci makanan cepat saji.' Aku tertawa rendah mendengar nada sebalnya.
"Baiklah aku akan berhenti di KFC." Dan decakan serta helaan nafas kesal kembali terdengar. "Aku bercanda. Aku akan berhenti di restoran cina." 'Begitu lebih baik.' Beberapa menit kemudian aku berhenti di restoran kecil pinggir jalan. Menu makanan yang terisisa tak terlalu banyak. Aku memilih take away bebek pecking dan nasi putih.
'Sejak kapan kau meminati makanan cina? Kau bilang makanan cina menggunakan banyak MSG?' Aku memutar mata, masih saja ia bertanya. "Restoran ini yang kebetulan aku lewati. Jadi tak ada salahnyakan dicoba. Lagi pula tiap kali aku lewat sini, restoran ini selalu ramai." Aku memandang beberapa orang yang memperhatikanku. Tak ada headset yang menyampir di telingaku, dan aku juga tak menggenggam ponselku. Aku hanya tersenyum pada mereka. mungkin mereka sedang mengataiku gila sekarang.
"Nona, ini pesanan anda." Pelayan pria itu memberikan sebuah tas plastik dan aku membayarnya sekalian. "Kau ingin ke suatu tempa setelah ini?" 'Tidak, langsung pulang saja. Diluar dingin sekali.' Dan pelayan itu memberikan tatapan aneh kepadaku. "Anda berbicara dengan saya?" aku tersenyum. "Bukan. Aku berbicara pada diriku sendiri. Selamat malam." Pandangannya terlihat mengekoriku dari belakang. Dasar orang-orang normal tak ber perasaan. Ia pikir itu sopan?!
Aku menyalakan penghangat di apartemen ini dan lima menit kemudian suhu hangatnya telah merata di seluruh penjuru ruangan. Apartemen ini tidak terlalu besar, tapi ini lebih dari cukup untukku. Ada dua lantai dalam apartemen ini, ada ruang tamu dengan tv besar, dapur dengan bar dan peralatan lengkap, balkon, kamar mandi, dan ruang olah raga dengan tradmil, dan beberapa peralatan lain. Di lantai dua ada kamar utama dengan closet luas, satu kamar tamu yang sekarang berganti fungsi mejadi ruang musik, sebenarnya di dalam ruangan ini masih ada ranjang, hanya saja aku tak pernah menerima tamu, jadi aku meletakkan koleksi, biola dan gitarku di dalamnya. Juga ada kamar mandi utama di lantai dua. Lantai ini memiliki dua balkon. Satu di kamarku, dan satu lagi di gang yang menghubungkan antar ruangan. Chanyeol memang bisa menata ruangan dengan baik.
'Hei, makan yang benar. Jangan sambil melamun.' "Aku sedang berpikir." Kai tak bisa mendengar pikiranku meskipun ia berada di dalamnya. Ia hanya bisa mendengar apa yang aku katakan. Karena itu aku selalu membawa headset saat keluar, agar orang-orang tak mengataiku gila.
"Makanan ini tak terlalu buruk. Aku suka tekstur lembut dagingnya dan kulitnya yang kering. Sausnya juga lumayan." 'Kejeniusan otakmu akan hilang jika kau terlalu sering memakannya.' Aku memutar mata lagi. "Ini baru yang pertama dan kau menghantuiku dengan menyumpahi otakku?" 'Aku hanya mengingatkan saja.'
'Kau masih akan belajar lagi setelah ini?' "Entahlah.. aku telah menyelesaikan tugas. Mungkin aku akan mereview beberapa bab. Setelah itu pergi tidur." Kai berdecih. 'Beberapa bab? Aku yakin kau akan berakhir dengan beberapa buku dan tertidur pukul 3 dini hari. Seperti biasanya.' Ia sangat tau kebiasaan baruku. "Aku pikir aku terserang insomnia. Aku tak bisa tidur jika belum pagi." 'Jangan menggunakan obat tidur. Itu tak baik untukmu.'
"Rasanya aku seperti memiliki asisten pribadi." 'Kau harus bersyukur aku ada untukmu.' "Aku rindu Kai yang bar-bar." Aku ingin memancingnya. 'Katakan selamat tinggal pada Kai si bar-bar. Karena ia tak akan kembali lagi.' Dan aku tersenyum mendengarnya. Setelah makan aku mengambil kembali bukuku.
Ilmu tak ada habisnya bukan, seperti halnya membaca buku. Satu buku selesai, maka aku akan pindah ke buku lainnya. Kurasa frekuensisku membaca buku semakin menguat semenjak aku tinggal sendirian. Aku tak ingin berkahir menyedihkan karena mengingat-ingat cerita manisku dari masa lalu. Meskipun tak dipungkiri aku masih sangat mencintainya. Menyibukkan diri dengan belajar adalah hal yang bisa aku lakukan untuk mengesampingkan kebutuhanku untuk memikirkannya. Sampai kapanpun ia akan tetap berada di barisan terdepan orang-orang yang menjadi fevoritku.
Jika orang-orang mengatakan bahwa belajar disaat hatimu hancur sama dengan membuang energi karena toh yang kau pelajari tak akan menancap di kepalamu, maka aku kebalikannya. Aku ingin membuktikan pada Chanyeol bahwa aku akan hidup dengan baik tanpa bantuannya. Aku mulai bisa menerima keadaan, yang terjadi dalam hidup memanglah yang tebaik. Meskipun dalam hidupku tak ada hal baik yang terjadi.
'Sehun ini sudah jam 2 pagi. Kau menghabiskan waktu empat jam untuk membaca buku-buku ini. tidurlah. Kau perlu istirahat.' Aku menutup buku. "Aku tak mengantuk. Aku akan berhenti belajar tapi aku akan menonton tv." Aku berjalan ke kamar dan menyalakan tv.
Beberapa menit kemudian aku merasa sangat lelah.. dan aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Author POV
"Jika aku tak mengambil tubuhmu, kau tak akan istirahan Sehun." Kai mematikan remot tv. Dan berusaha tidur untuk Sehun. Yang mengidap insomnia hanya Sehun bukan? Kai tidak.
Kai selalu menemani Sehun di dalam mimpinya, dan Sehunpun tak menunjukkan ketidaknyamanannya saat bertemu Kai. Mereka menikmati waktu terbatas yang mereka miliki. Karena saat alarm berbunyi maka pertemuan mereka akan berakhir, dan Sehun akan kembali dengan rentetan jadwal aktifitas yang menunggu untuk dilaksanakan.
Sehun membuka matanya, ia kembali ke dunia dimana hanya ada warna putih di dalamnya. "Hai Sehun." Sapa Kai. "Kai? Jika kau disini berati aku sedang bermimpi. Benar?" Kai tersenyum. "Maaf aku mengambil alih tubuhmu agar kau bisa istirahat lebih lama. Besok kau memiliki jadwal padat." Sehun mengangguk. "Sehun kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Kai menarik tangan Sehun dan membawa Sehun ke suatu tempat.
"Kau ingin mengajakku kemana?" Sehun yang masih mengikuti langkah cepat Kai, mencuri pandang ke sekitarnya. Pohon-pohon dan tanah yang mereka lewati berwarna putih. Angin berhembus pelan membuat semak-semak berwarna sama itu bergerak. "Kai aku takut!" Seru Sehun dan Kai pun menghentikan langkahnya. Angin kembali berhembus, gaun pendek Sehun berkibar pelan."Apa yang kau takutkan? Hanya ada kita berdua disini." Kai mencakup kedua pipi Sehun. Darah Sehun mengumpul di kepala. "Semak-semak itu membuatku takut." Kata Sehun pelan.
"Percayalah semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu." Kalimat Kai sangat kental dengan keyakinan. Entah karena Sehun terlalu putus asa atau karena ia mudah percaya, kalimat Kai membuat Sehun semakin terperosok dalam dirinya sendiri. Ia merapalkan dua kalimat itu berulang kali dalam kepalanya hingga akhirnya ia yakin bahwa memang hanya Kai yang boleh ia percaya.
"Sehun? Kau baik-baik saja?" Kai menarik dagu Sehun agar sejajar dengan pandangannya. Sehun terbangun dari lamunan singkatnya. "Kau ini, entah dimimpi atau di dunia nyata tetap saja senang melamun." Sehun tersenyum dan memeluk erat Kai. Kai membalas pelukan Sehun "Aku iri dengan siapapun yang sedang kau pikirkan saat ini." Kai merengkuh Sehun erat dan menghirup dalam aroma wanita itu dari ceruknya. "Itu artinya kau iri dengar dirimu sendiri." Sehun tak mengelak. Ia malah membawa lehernya kearah berlawanan agar Kai lebih leluasa.
"Waw.. aku merasa beruntung jika sampai kau pikirkan." Sehun terkekeh pelan. Ia mengusap surai abu-abu milik Kai. "Aku ingin menunjukkanmu sesuatu tapi berada di posisi ini sangat nyaman." Kekehan Sehun kembali terdengar. "Kita akan melakukannya lebih sering. Sekarang tunjukkan aku apa yang ingin kau tunjukkan." Kai menarik lehernya dan menatap Sehun lekat. "Benarkah?" tanya Kai dengan nada bersemangat. "Tentu saja."
"Aku senang kau mulai bisa menerimaku Sehun." Kai menggenggam angan Sehun erat dan mereka kembali berjalan menuju sebuah tebing. Tak lama mereka berjalan, kini keduanya telah sampai pada di sebuah ujung jurang. "Waw.. ini indah sekali Kai." Sehun menatap segala sesuatu yang terhampar luas di hadapannya. Mereka berada di ujung salah satu tebing yang tak begitu tinggi. Ngarai indah ini bagaikan dunia yang tak nyata. Tebing-tebing tinggi menjulang melingkari daratan rendah di bawahnya. Padang rumput luas terhampar sejauh mata memandang.
"Kemarilah!" Kai turun menuju bebatuan putih, Sehun mengikutinya. "Ini indah sekali." Dengan berani Sehun berdiri di ujung tebing itu. "Kau menyukai apa yang kau lihat?" Sehun mengangguk. Kai duduk bersandar pada bebatuan di belakang Sehun. Sehun menikmati keindahan ini. segala sesuatu dalam dunia ini berwarna putih. "Waw.." kata Sehun pelan. Ia memperhatikan pria yang sedang bersandar dengan mata tertutup. Rambut abu-abunya bergoyang terhembus angin, struktur sempurna tulang wajahnya membuat Sehun kagum. Warna hitam sangat cocok dengan kulit kecoklatan miliknya.
"Apa yang sedang kau perhatikan Sehun?" Dan mata hitam tajam itu menatap Sehun lekat. "Kau.." dan detik selanjutnya Sehun sudah berada di atas pangkuan Kai dengan tangan yang mengalung ke lehernya. "Bagaimana mungkin satu-satunya warna selain putih dalam dunia ini hanya hitam?" tanya Sehun. Ia membawa jarinya pada garis rahang tegas Kai. "Kami semua berada dalam alam bawah sadarmu Sehun. Kau yang selalu menginginkannya. Hanya saja, kau tak pernah sadar kau menginginkannya."
"Apa kau hadir karena aku menginginkanmu?" Kai kembali memejamkan mata, ia menikmati usapan lembut pada rahangnya. "Aku hadir karena kau membenci dirimu sendiri." air mata Sehun menetes. "Apa saat aku mulai mencintai diriku, kau akan pergi?" Kai membuka matanya. "Aku akan menjadi apapun yang kau inginkan." Dan bibir mereka bertemu. Sehun memeluk Kai erat. Tangan Kai mendorong pinggang Sehun agar lebih dekat dengannya. Sapuan lidah di bibir Sehun terasa sangat nyata. Ia membuka mulutnya dan lidah pria di depannya dengan berani menyentuh segala sesuatu di dalamnya. Sehun menikmati permainan kecil mereka. Ia membalas ciuman itu dengan mengulum lidah Kai dan menghisapnya pelan. Keduannya larus dengan suasana yang mereka ciptakan. Sehun menegang saat tangan Kai menyentuh kulit paha atasnya. Sehun tak menolak, ia sadar betul dengan segala sesuatu yang terjadi. Sehun meremat rambut Kai untuk memperdalam cumbuan mereka. tempo yang terkesan tak terburu-buru membuat keduanya terlena.
Sehun dengan sengaja menggigit pelan bibir bawah Kai. Untuk beberapa detik mereka saling memandang satu sama lain dengan senyuman tipis. "Aku senang kau tak lagi menolakku." Kai mengecup dagu Sehun. "Aku senang karena akhirnya aku yakin kau tak akan pernah menyakitiku." Kai mengangguk. "Aku tak akan pernah menyakitimu Sehun." Sehun mendekat dan mengecup dahi Kai. "Aku memegang perkataanmu."
Kai menarik Sehun duduk membelakanginya. Dengan renkuhan Kai, Sehun menyamankan posisi duduknya bersandarkan dada bidang Kai. "Akhirnya aku bisa merasakan kehangatanmu Sehun." Bisik Kai pada ceruk Sehun. Ia memberikan kecupan-kecupa kecil pada wanita yang berada dalam pelukannya. Sehun membalasnya dengan usapan-usapan lembut pada rambut Kai. 'Aku yakin semua akan baik-baik saja saat bersamamu.' Kata Sehun dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Sehun berdiri di depan cermin dalam kamar mandinya. Ia terlihat segar setelah mandi. Dengan santai ia menyemprotkan parfume pada tubuh telanjangnya dan berjalan dengan santai ke kamar. Ia tinggal sendirian, tak ada yang melihatnya termasuk Kai. Ia berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Musim dingin selalu membuat suasana rumah terasa lebih hangat. Tentu saja karena pemanas yang harus dinyalakan dan secangkir coklat panas yang lezat. Dan saat tubuhmu bersih, perutmu kanyang, serta pikiran yang lelah, maka istirahat adalah hal yang paling diinginkan. Sehun tertidur setellah hari melelahkannya berakhir.
Siluet seseorang yang amat Sehun kenal berdiri membelakangi Sehun. Tanpa berpikir panjang Sehun berlari menghampirinya. "Kaii..!" Seru Sehun sambil mengeratkan pelukannya pada punggung Kai. "Oh? Hai Sehun. Tak biasanya kau tidur jam segini." Kai mengusap tangan Sehun. "Aku mungkin terlalu lelah. Beberapa hari terakhir aku terlalu memaksakan diri untuk belajar." Kai terkekeh. "Kau selalu memiliki kekuatan ekstra untuk belajar Sehun." Kai membalikkan tubuhnya, dan ia sangat terkejut melihat apa yang ada dihadapannya.
"Sehun.. kau.. euh.." Kai sempat salah tingkah beberapa saat sebelum ia membuka kancing kemeja hitamnya. "Hei.. hei.. hei.. mengapa kau buka baju?" Sehun berusaha mengancingkan kembali kancing kemeja Kai yang barusan ia buka. "Kau tak merasakan apapun?" tanya Kai sambil terus membuka kembali kancing yang Sehun kancingkan.
"Aku merasa kau aneh!" "Sehun lihat tubuhmu." Dan kalimat Kai membuat Sehun menjerit histeris. "Kau..! mengapa baru bilang sekarang?!" sehun berjongkok berusaha menutupi tubuh telanjangnya. "Aku butuh waktu untuk memproses segalanya." Balas Kai sambil membantu Sehun mengenakan kemeja hitamnya. Terlalu besar tentu saja untuk Sehun. Paling tidak, ini lebih baik dari pada telanjang.
"Bagaimana bisa aku telanjang?" tanya Sehun, ia masih membungkuk sambil mengancingkan kemeja itu sendiri. "Apa kau tidur telanjang? Kau bisa masuk angin!" nada Kai terdengar kesal. "Aku baru saja selesai mandi. Dan, tertidur di kamar. Tenang saja, kamarku hangat. Aku tak akan masuk angin." Kai mengusap kepala Sehun. "Baiklah, paling tidak kau menyalakan pemanasnya." Kai membantu Sehun berdiri. Tapi Sehun masih saja menundukkan kepalanya. "Heii.. kenapa jadi pendiam begini?"
"Apa kau melihat semuanya?" kai tertawa. "Ya Sehun. Aku melihat semuanya." Sehun menghempaskan tangan Kai dari bahunya. Dan Kai semakin tertawa. "Dasar semua pria sama saja!" Kai berhenti tertawa. "Aku pernah melihatnya Sehun. Dulu, saat aku sering mengabil tubuhmu." Sehun terbelalak kaget. "Apa?! Kau sudah mecehkanku Kai!" Sehun berjalan menjauh dari pria itu.
"Hei.. kau tau aku sering ganti baju dengan tubuhmu. Maksudku, pakaianmu terlalu girly untukku saat itu. Ayolah Sehun, kau tau itu." Sehun masih berjalan mendahului Kai. "Apa saja yang pernah kau lakukan dengan tubuhku?" Kai berjalan di belakangnya. "Hal terparah yang pernah kulakukan pada tubuhmu hanya menggosoknya saat mandi." Sehun berhenti sambil menolehkan kepala dengan pandangan mematikannya. "Hanya kau bilang?!" Sehun berjalan dengan pandangan menghakiminya. "Aww.. Sehun.. maaf.. sakiiitt.." Ia mencubiti perut, bahu, dan dada Kai yang tak tertutupi kain bertubi-tubi.
"Saat itu tubuhmu harus berlumpur karena perlombaan motor cross beberapa tahun lalu. Aku tak ingin kau marah-marah karena tubuh yang berlumpur sangatlah buka Shixun Wu." Sehun berhenti. "Ayolah Sehun.. Aku sungguh minta maaf. Aku mengurung diriku bertahun-tahun untukmu dan sekarang kau marah lagi denganku? Aku ingin berbicara denganmu. Bukan hanya mendengarkanmu dari satu sisi." Sehun berhenti.
"Sudahlah lupakan. Aku hanya kesal saja." Kai berjalan menuju Sehun dan memeluknya dari belakang. "Aku minta maaf." Sehun menarik nafas. "Bukan salahmu." Ia mengecup pipi kiri pria itu. "Kau berjalan sesukamu memang kau tau ini arah kemana?" tanya Kai. "Entahlah.. kau tau?" kai mengangguk, ia menggenggam tangan Sehun. "Ini adalah tempat yang paling sering kukunjungi. Saat aku sedih aku selalu memilih tempat ini."
Sehun memandang sekitarnya, hanya sudut ruangan berwarna putih. Akhirnya ia menemukan sudut alam bawah sadarnya. "Tak ada apapun disini. Hanya dua dinding putih yang bertemu membentuk sudut." Kai mengangguk. "Tepat sekali. Aku senang duduk di sudut itu." Sehun teringat akan dirinya sendiri. saat ia sedih ia akan mematikan lampu dan duduk di pojokan merenungi kesedihannya. "Apa yang kau sedihkan?" Kai tersenyum tipis. "Aku sudah tak sedih lagi. Ayo kita pergi." Sehun menghindari gandengan Kai dan duduk tepat di sudut itu. "Apa yang kau sedihkan?" Kai memandang Sehun lekat dan dengan berani Sehun membalas pandangan itu.
"Aku sedih karena kau melakukan segala cara untuk melupakanku." Sehun tak mengharapkan jawaban itu. "Kemarilah!" sehun menarik Kai duduk di sampingnya dan memeluknya erat. "Aku sudah tak sedih lagi Sehun." Kai mengangkat kepalanya agar bisa memandang wajah Sehun. "Sebagai apa kau memandangku Kai?" pertanyaan berani Sehun akhirnya terucap. "Sebagai wanita." Sehun masih memfokuskan pandangannya pada Kai. "Sejak kapan?" Kai menempelkan dahi mereka lalu memejamkan mata. "Sejak kau pertama kali mengatakan bahwa kau membenciku." Air mata Sehun tumpah.
"Maafkan aku." Kai mengusapnya pelan lalu mencium dua kelopak mata Sehun. "Bukan kau yang salah sayang." Sehun kembali merengkuh Kai dalam pelukannya. Ia sadar, bukan hanya Sehun yang pernah merasa disakiti oleh Kai, Kaipun juga sebaliknya.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat Sehun, aku sungguh bangga kepadamu." Jongdae menghampiri Sehun yang sedang duduk sendirian. Untuk ukuran mahasisswa yang baru saja menerima IPK akhirnya, Sehun justru terlihat biasa saja. "Terima kasih Jongdae. Kau juga menerima hasil yang memuaskan. Orang tuamu pasti bangga." Sehun tersenyum kecil sebagai bentuk formalitas. "Cumlaud dengan IPK 3,9. Tidakkah itu sesuatu yang pantas untuk dirayakan?" tanya Jongdae. "Berhenti menyebut-nyebut angkanya. Jika ingin mengadakan pesta, adakan saja." Jawab Sehun tanpa memandang ke arah Jongdae.
"Tentu saja kami akan mengadakan pesta. Dan kau wajib datang." Sehun menghela nafas panjang. "Aku memiliki banyak hal yang harus diselesaikan. Tak yakin ada waktu." Dan helaan nafas dari Jongdae terdengar. "Kau aneh Sehun. Tidakkah kau senang? Atau paling tidak banggalah dengan dirimu sendiri." Jongdae mengerutkan alisnya. "Aku bangga dengan diriku sendiri, hanya saja aku tak menunjukkannya."
"Kau berubah akhir-akhir ini Sehun." Ia merasa Sehun menghindar dari semua orang dalam beberapa bulan terakhir ini. di tahun terakhir pendidikan mereka, maka tak ada lagi tugas kelompok. Hanya ada tugas individu. Sehun juga tak memperpanjang kontraknya menjadi salah satu anggota UNICHEF. Ia benar-benar menutup pintu untuk semua orang. "Semua orang akan selalu berubah Jongdae." Kata Sehun sambil kembali membaca bukunya.
"Aku merasa perubahanmu sangat tak wajar. You shout me out!" Sehun tak mempercayai siapapun. Ia tak ingin terlalu tergantung dengan kehidupan sosialnya. Ia benci membuat orang lain berpikir bahwa mereka berarti dalam hidup Sehun. "No, i shout everybody out." Jawab Sehun dengan santai. "Kenapa Sehun? Apa yang terjadi? Aku minta maaf jika memang aku salah." Sehun tertawa rendah. "Aku yang salah Jongdae. Dan aku ingin membayar kesalahanku." "Dengan mengasingkan dirimu dari semua orang? Aku tau Chanyeol segalanya untukmu. Tapi bukan berarti kau hancur tanpanya. Bangkitlah Sehun!"
Sehun kembali terkekeh, "Chanyeol? Ia memang meninggalkanku. Tapi ini semua bukan untuknya Jongdae. Sudahlah kau tak akan pernah mengerti." Sehun mengemasi buku-bukunya. "Kau mendorong semua orang menjauh. Ada apa denganmu sebenarnya?" Sehun tak menjawabnya dan langsung berjalan menjauh.
Ia duduk di tepi danau yang tak jauh dari apartemennya. Pemandangan disini sangat indah. berbeda dengan Seoul yang penuh dengan kebisingan dan gedung-gedung tinggi. "Aku akan memulai semuanya dari awal. Setelah lulus, aku akan menjadi Sehun yang baru Kai." Sehun membuka sebuah map coklat yang hari ini baru saja ia terima. Logo universitarnya tertera di ujung kanannya. Sehun membukanya pelan, dan sebuah surat yang mencantumkan IPK sempurnanya.
'Aku bangga kepadamu Sehun.' Sehun tersenyum. "Terima kasih Kai. Aku senang, mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu." Sehun terlihat murung dari biasanya. 'Apa yang sedang kau pikirkan Sehun?' Sehun menghela nafas panjang. "Aku ingin.. kau tau Kai, sebentar lagi akan ada acara kelulusan. Dan dengan IPK seperti ini, aku harus memberi pidato singkat. Tapi pertanyaan sebenarnya adalah, siapa yang akan datang ke acara kelulusanku nanti? Aku tak memiliki siapapun."
Nada frustasi Sehun terdengar. Ia kembali sadar bahwa ia benar-benar sendiri. Bahwa Kai saja tak cukup untuknya. Ia butuh keluarga yang akan mengatakan betapa bangganya mereka pada hasil dari jerih payah yang Sehun lakukan untuk pendidikannnya. Sehun meremat jantungnya, memikirkan keluarganya saja sudah membuatnya sangat rindu. "Ayah, Ibu aku merindukan kalian."
'Sehun, aku sungguh minta maaf.' dan kembalilah Kai dengan segala rasa bersalahnya. Sehun tak menjawab, karena ia kembali pada pertanyaan-pertanyaan mengapa Kai harus muncul dan merusak segalanya. Benar, Sehun kembali menyalahkan dirinya. Ia kembali menyalahkan Kai.
.
.
.
.
.
.
Sehun masih berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Mungkin saja dengan menunjukkan tentang hasil belajarnya yang memuaskan pada mereka dan berpura-pura normal, Sehun akan kembali diterima. Tak dipungkiri Sehun selalu ingin memiliki keluarga. Ia tak ingin sendirian seumur hidupnya. Tapi ia terlalu takut untuk mempercayai seseorang. Sudah tujuh tahun Sehun tak bertemu dengan mereka, ia adalah sesuatu yang tak pernah diharapkan. Meskipun ia pergi dari kehidupan keluarganyapun tak akan ada yang sudi mencarinya.
Sehun memandang tiket pesawat di tangannya. Dengan hati gelisah ia berjalan menuju gate keberangkatan pesawatnya. Ya, Sehun sedang berada di bandara. Hari ini ia akan berangkat ke Prancis. Ia tak akan lama disana hanya dua hari, karena kecil kemungkinan ia akan berani menunjukkan dirinya pada si keluarga yang tak menginginkannya. Lalu bagaimana dengan Kai?
Flashback last night.
Sehun duduk di depan laptopnya. Ia kembali membaca undangan resmi acara kelulusan dari universitasnya. Terhitung masih 16 hari lagi. Ia pikir ia memiliki waktu cukup untuk memberi tahu keluarganya, dan berharap ia masih memiliki tempat. Dengan pikiran yang kalut ia memberanikan diri memesan tiket pesawat dan hotel untuk dua hari. Ya hanya dua hari, karena ia tak yakin akankah semua baik-baik saja.
'Apa rencanamu Sehun? Kau ingin menyembunyikannya dariku?' tanya Kai. Sehun memang selalu mendiskusikan apapun dengan Kai. Hanya saja untuk kali ini, ia merencanakan segalanya tanpa sepengetahuan dirinya yang lain.
"Aku akan menjelaskan semuanya saat aku selesai." Sehun kembali memilih maskapai pesawatnya dan hotel yang akan ditinggalinya. Seperempat jam berlalu. Ia memandang boarding pass- nya. "Kai, aku memutuskan untuk mengunjungi mereka." Kai tak merespon untuk beberapa saat. "Aku ingin melihat mereka Kai. Aku sangat merindukan mereka." tambah Sehun lagi.
'Apa itu artinya kau akan mengemis pada mereka agar bisa masuk dan diakui?' Hati Sehun memanas. Kai terdengar sangat tak setuju dengan rencananya. "Aku mungkin tak akan menemui mereka Kai. Aku hanya ingin melihat dari jauh." Kai kembali terdiam. "Aku tau kau membenci mereka, tapi tak bisakah kau memperhalus kalimatmu?"
'Sehun, selama tujuh tahun kau pergi, tak sekalipun kau merasa mereka mencarimu bukan? Mengapa kau harus yang mencari mereka?' Kai menyodori Sehun dengan fakta yang terdengar masuk akal. "Karena aku pergi jauh dari mereka, ribuan mil dari mereka. mana aku tau mereka mencariku atau tidak."
'Sehun aku tak ingin kau kembali terpuruk. Aku tak ingin melihat Sehun yang penuh dengan air mata. Hatiku sakit jika kau sakit Sehun.' "Jadi kau menentangku untuk pergi?" suara dingin Sehun terdengar. 'Ya, aku menentangmu. Acara wisuda hanyalah sebatas acara. Kau tak membutuhkan siapapun disana. Tak perlu pengakuan orang lain Sehun.'
"Kau tak mengerti apa yang kau bicarakan! Kau tak pernah memiliki orang tua, kau hanyalah diriku yang lain Kai. Aku menciptakanmu! Aku membuatmu mencintaiku agar aku merasa dicintai! Kau tak berhak menentukan apa yang harus kulakukan. Karena kau bukan yang dominan! Aku adalah yang dominan. Kau hanyalah bayangan!" Sehun mengungkapkan kekesalannya. 'Kau memang benar tentang itu, tapi alasanku mencegahmu karena aku benar-benar tak ingin kau disakiti.'
"Tidak Kai, alasanmu mencegahku adalah karena kau tak ingin aku kembali dan menemukan kebahagianku. Kau ingin menyimpanku untuk dirimu sendiri. Kau ingin menjauhkanku dari siapapun!" Hening. Tak ada yang berbicara, nafas menderu Sehun menjadi satu-satunya hal yang terdengar dalam kamarnya. 'Aku sungguh minta maaf Sehun.' Dan setelahnya Sehun tak mendengar apapun di dalam kepalanya.
Flasjback end
Sehun pov.
Aku duduk di dalam kafe di daerah st. Daniel. Kulihat kearah jalan raya, seorang pria gagah dengan pakaian rapi turun dari dalam mobil dengan menggandeng gadis kecil berumur lima tahunan. "Dia sangat mirip denganmu."
.
.
.
.
.
.
TBC
Hallo readers..! ketemu lagi di chapter 5..
Kaihun udah tambah deket ini, walaupun akhir chapter mereka agak berantem. Author ada dua jalan cerita sih sebenernya, sad sama happy ending. Nanti juga bakal ada karakter baru. Untuk salah satu reader yang kemaren tanya jalan ceritanya, tenang aja, jalan cerita yang author bikin nggak yang kyk gitu kok ;) disini Sehun kembali labil, Dan Kai gak bisa bantu apapun karena kata Sehun dia gak berhak nentuin apapun. Mohon reviewnya ya.. kalo baca review biasanya tambah semangat nuli hehe..
Ciao ciao sampe ketemu dichapter depan!
