Chapter 6

Author POV

Cuaca hari ini sedang baik. Matahari bersinar terang meskipun suhu hanya 11 drajat. Jalanan terlihat sepi karena ini memang diluar jam sibuk. Paris. Orang bilang Paris adalah kota yang romantis, kota cinta kata mereka. Setiap pasangan kekasih pasti menempatkan kota ini sebagai tujuan impian mereka. Kota yang memiliki auranya sendiri. Terlihat dari orang-orang yang berlalu lalang mereka terlihat penuh dengan cinta. Senyuman terlukis cantik di tiap wajah pemiliknya, dan suara tawa menggema seolah Paris memanglah kota sempurna. Kota yang memiliki sejarah mengagumkan dimata dunia.

Bagaikan perut yang lapar, jika kita lapar maka makanan apapun yang masuk akan terasa lezat. Berbeda dengan perut yang kenyang, makanan terlezat dan termahal apapun rasanya tak akan nikmat jika perut tak lapar. Begitu juga dengan suasana hati. Mau di tempat yang kata orang penuh dengan cintapun jika hati tak bersuasana baik rasanya akan tetap seperti berada di tempat asing.

Sehun menggerai rambut hitamnya. Sebuah kacamata hitam terletak di atas meja. Akhir-akhir ini Sehun tak mengenal warna lain selain hitam dan merah. seperti hari ini, dari ujung kepala hingga kaki, hanya warna hitam yang ia kenakan. Jaket berbulu dengan turtle neck dan celana hitam polos dengan sepatu lars.

'Tingg..'

Sehun memandang si pengunjung kafe yang baru saja memasuki ruangan. Pria dewasa dengan pakaian kantor menggandeng seorang gadis kecil yang cantik. Langkah antusias si gadis kecil membuat siapa saja akan menoleh dan tersenyum karena tingkahnya yang menggemaskan. Begitu juga Sehun. Ia tersenyum untuk pertama kalinya hari ini.

"Ehemm.." pria dewasa itu berdiri di depan Sehun, ia terpaksa memutuskan pandangannya pada gadis kecil yang sedari tadi mencuri perhatiannya. "Yixing.." Sehun tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk pria itu. Ya, Sehun memanggil Yixing hanya dengan namanya. Karena mereka dibesarkan dalam kultur barat yang tak memiliki panggilan yang sopan untuk orang yang lebih dewasa. Pria itu menyambutnya dengan hangat. "Kau berubah banyak Shixun." Sehun tersenyum tipis. "Ini dinamakan dengan tumbuh menjadi dewasa."

"Lyan sayang, perkenalkan dirimu nak." Gadis kecil itu dengan senyuman ceria dan membungkuk sopan memperkenalkan diri. "Hallo, namaku Lyan Wu. Aku putri daddy." Setetes air tumpah dari mata Sehun. Gadis kecil ini adalah alasannya. "Mengapa tante menangis?" Sehun menghapus air matanya. "Tidak sayang, tante hanya sedikit flu. Jadi air mata keluar begitu saja." Sehun memeluk gadis kecil itu.

"Tante siapa? Apa tante teman daddy?" Sehun tersenyum kecut. Ia ingin memperkenalkan dirinya sebagai seorang keluarga. Tapi apakah ia masih termasuk anggota keluarga? Ia tak tau. "Namaku Sehun. dan aku adalah-" "Teman lama daddy." Yixing memotong kalimat Sehun. Sehun tersenyum pahit. Ia memang bukan lagi bagian dari mereka.

Mereka duduk saling berhadapan. Dua cangkir kopi panas dan secangkir coklat panas terletak di atas meja. "Lyan masih umur tiga setengah. Ia tak pernah tau aku memiliki saudara perempuan lain selain Kyungsoo." Sehun tersenyum tipis tanda mengerti. "Untuk apa kau mencariku Shixun?" Sehun terdiam. Keinginannya untuk bertemu dengan keluarganya tiba-tiba hilang begitu saja saat mengetahui ia memang tak dianggap.

"Terima kasih kau mau menemuiku disela-sela kesibukanmu. Sebenarnya aku hanya ingin mengetahui kabar ayah, ibu dan Kyungsoo saja. Lama sekali aku tak mendengar kabar kalian." Sehun menundukkan kepalanya. "Kami baik-baik saja." Jawab Yixing pendek. "Dulu aku berusaha menghubungi nomor kalian, tapi operator mengatakan nomor itu tak terdaftar. Jadi aku menyimpulkan kalian mengganti nomor dan aku memutuskan menyerah." Yixing terdengar tak tertarik dengan cerita pendek Sehun, dan Sehun menyadarinya.

"Kami sempat membicarakanmu beberapa waktu yang lalu. Kebetulan sekali kau muncul tiba-tiba seperti ini. Ada beberapa hal yang harus kami sampaikan." Perasaan Sehun tak enak. "Memangnya ada apa?" Sehun menelan ludahnya. "Berapa lama kau akan disini Sehun?"

"Hanya dua hari. Aku menginap di Hotel di daerah 74 avenue des Champs." "Kalau begitu kita tak memiliki waktu banyak. Ikutlah denganku untuk makan malam Bersama." Jantung Sehun berdetak lebih kencang. Ia tak menyangka akan seperti ini. "Hari ini?" Sehun masih memproses ajakan tiba-tiba Yixing. "Ya hari ini. Lebih cepat lebih baik. Percayalah mereka juga menunggumu. Ada hal penting yang harus kau ketahui."

"Aku benar-benar tak dalam kondisi yang baik. Maksudku, aku pergi dari rumah dengan tidak baik. Aku masih-" "Aku tak perduli dengan alasanmu. Ini menyangkut keluarga kami. Dan kau terlibat Shixun." Sehun menyerah dan akhirnya menyetujui ajakan mendadak Yixing.

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Aku masih hafal jalanan ini. Pohon cemara tinggi menjulang tiap sepuluh meter. Papan peringatan tentang rusa liar juga masih berdiri di tempat yang sama. Semua masih sama. Hanya saja waktu yang berbeda. Lyan tertidur pulas di kursi belakang. Sedangkan Yixing menyetir dengan tenang. Keadaan memang canggung antara kami berdua. Apa yang akan terjadi nanti? Apa aku akan disambut dengan pelukan hangat? Tangisan rindu? Sebaiknya jangan mengandai-andai dulu Sehun, kau tak tau apa yang akan terjadi.

"Kita sampai." Rumah megah yang pernah kutinggali selama 17 tahun. Kenangan-kenangan lama muncul dalam kepalaku. Kuharap aku memiliki kenangan indah untuk dikenang. Sayangnya aku tak memilikinya.

Pintu ukir kayu itu berdiri dengan kokoh. Aku sungguh masih ingat seluk beluk rumah ini dengan baik. Rumah yang pernah kuharapkan dimana aku akan menjadi salah satu tokoh utamanya. Bukannya menjadi bayangan yang ssemua orang ingin tutupi. Seperti saat acara ulang tahun Kyungsoo yang ke 17. Aku terpaksa harus menyaksikannya meniup lilin dari lubang kunci kamarku. Atau seperti saat makan malam dimana keberadaanku selalu diabaikan hingga aku lelah untuk mencoba terlihat.

Pintu itu terbuka dari dalam. Seorang pembantu yang tak pernah kukenali membuka pintu. Setelah memberi salam pembantu itu langsung mengangkat tubuh Lyan dari gendongan Yixing dan aku yakin ia akan memindahkan Lyan ke kamarnya. Aku berjalan memasuki ruang tamu. Baru beberapa langkah saja aku kembali kesakitan. Di dalam ruang tamu mewah ini pandanganku terpaku pada sebuah foto keluarga yang terpampang elegan di dinding bercorak coklat kemerahan. Ayah, ibu, Yixing dan Kyungsoo. Hanya mereka berempat. Si anak terakhir itu tak masuk hitungan lagi untuk kesekian kalinya. Si keparat tak tau malu yang tak bisa membanggakan orang tuanya. Si mengecewakan. Si kepribadian ganda.

"Foto itu diambil sekitar enam tahun lalu." Yixing berada di sampingku. Aku yakin ia tau bagaimana perasaanku. Hancur. Dan disinilah aku, siap untuk menghancurkan diriku sendiri lagi. Aku tersenyum. "Hal penting apa yang harus aku ketahui sebenarnya?" "Kau akan tau. Kuharap kau tak akan kaget."

Suara tawa dari ruang tengah mengganggu konsentrasiku. Itu suara ibu dan Kyungsoo. Aku rindu sekali dengan mereka. Yixing memimpin langkah. "Bu, aku menemukannya." Kata Yixing, dan seketika tawaan itu berhenti. Yixing meminggirkan tubuhnya hingga tubuhku terlihat sempurna oleh mereka. Tahan Sehun, jangan menangis disini! Semua pandangan mengarah kepadaku.

"Hai bu, lama tak bertemu." Aku memasang senyuman tipis. Ada jeda Panjang sebelum ia mengatakan sesuatu. "Yixing, apa kita harus menjelaskannya sekarang?" ibu tak membalas sapaanku. Aku memandang ke arah Kyungsoo, dan tersenyum untuk menyapanya. Ia mengangguk dan tersenyum tipis juga. "Kita bisa menjelaskannya setelah makan malam bu. Shixun adalah tamu, paling tidak biarkan dia istirahat dulu." Ibu mengangguk setuju dan pergi dari ruang tengah.

"Bagaimana kabarmu Shixun?" Kyunngsoo datang menyapaku. "Aku.. baik. Bagaimana denganmu?" aku tidak mungkinkan berkata jujur dengan mengatakan bahwa hidupku sedang dalam proses kehancuran. "Aku juga baik. Hari ini sedang libur jadi aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku dan Yixing sudah memiliki rumah masing-masing ngomong-ngomong." Tak kuduga Kyungsoo menyambutku dengan hangat. Ia memang wanita yang baik.

"Diusia yang masih muda dan sudah berpisah rumah dengan orang tua pasti kalian memiliki pekerjaan yang baik. Mengingat harga rumah di Paris bisa setinggi langit." Kyungsoo membawaku menuju kamarku dulu. "Kau ini bisa saja. Aku lulus jurusan bisnis beberapa tahun yang lalu. Kemudian ayah memberikan salah satu bisnisnya untukku dan dengan berjalannya waktu aku mulai bisa mengembangkan apa yang perlu dikembangkan dan mencapai hasil maksimal." Aku tersenyum. "Pasti mereka bangga kepadamu."

Pintu itu terbuka. Sebuah kamar yang masih sama. Tak ada perubahan besar yang terjadi. Meja rias, rak buku, ranjang, dan almari maasih di tempat yang sama. "Ini benar-benar membawa kenangan lama." Kyungsoo menutup pintu kamar dari dalam. "Yahh.. dan aku merasa gagal menjadi kakak yang baik karena aku yakin sebagian besar kenanganmu bukan kenangan yang menyenangkan." Aku tersenyum tipis. Paling tidak Kyungsoo telah sedikit lebih peduli. Meskipun aku rasa kepeduliannya hanya sebatas formalitas saja.

Kami berbincang-bincang dalam kamar ini. Aku duduk di kursi meja rias yang kuhadapkan ke ranjang, dan Kyungsoo berbaring di atas ranjang menghadapku. Kami membicarakan hidupnya selama ini, apa saja yang ia lalui setelah beranjak dewasa, pencapaian-pencapaiannya dalam dunia bisnis dan lain-lain. Sedangkan aku? Aku hanya mendengarkan ceritanya sambil sesekali memberikan reaksi.

'tok..tok..tok..' ketukan dipintu membuat kami berhenti. "Nona, makan malam telah siap." Dan kamipun bergerak dari tempat masing-masing menuju ruang makan. Jantungku berdebar, apa yang akan terjadi sebenarnya. Aku tak pernah menyangka akan kembali ke rumah ini.

Disana, diujung meja makan, ayahku duduk dengan wibawanya. Ia masih terbilang tampan untuk pria yang berusia hampir 60 tahun. Ia memandangku dengan tatapan datarnya. Seperti yang kuduga, ini tak akan berakhir dengan baik. "Duduklah." Kyungsoo menarikku duduk di sampingnya. Makan malam dimulai. Menu eropa tentu saja. Lasagna dua macam, vegetaris dan daging. Ayahku adalah seorang vegan. Karena itu kami selalu memiliki dua macam menu saat makan malam.

Kami mengambil makanan sesuai umur, yang muda harus menunggu hingga yang lebih tua selesai. "Kemarikan piringmu Shixun." Kyungsoo membantuku setelah ia selesai mengambil porsinya. Makan malam berjalan dengan sangat canggung. Aku merasa seperti balok es yang membuat suasana menjadi sangat dingin. "Shixun ceritakan pada kami apa yang terjadi setelah kau pergi." Yixing membuka pertanyaan dengan kalimat langsungnya.

"Setelah lulus SMA, aku pindah ke Korea Selatan. Disana aku bekerja paruh waktu untuk kebutuhanku sambil kuliah. Korea Selatan memiliki system dimana siapapun yang dapat melewati tes universitas dengan nilai yang telah ditentukan, makai ia akan mendapat beasiswa untuk seluruh semester." Aku tak menceritakan apapun tentang Chanyeol, itu hanya akan memperkeruh suasana.

"Jadi kau kuliah? Jurusan apa?" suara Kyungsoo terdengar. "Aku mengambil jurusan kedokteran. Dan beberapa hari yang lalu aku mendapat IPK akhirku." Aku meneguk segelas air putih setelah selesai bicara. "Jadi kau di tahun terakhir ya. Berapa IPKmu Shixun?" aku mengambil kertas yang menerangkan nilai-nilaiku dari dalam tas dan memberikannya pada Kyungsoo.

"Cumlaud? 3,9 adalah IPK yang sangat sulit dicapai Sehun. Terlebih lagi kau mengambil kedokteran." Aku mendengar nada kagum dari Kyungsoo. Yixing mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas itu. Ia tersenyum tipis kepadaku. "Nama yang tertera bukan Shixun Wu?" tanyanya. "Ya.. aku mengganti namaku menjadi Sehun Oh saat aku pindah ke Korea. Negara baru, identitas baru."

"Baguslah kalau begitu kami tak perlu membujukmu untuk memiliki identitas baru." Ayah membuka suaranya untuk pertama kali. Aku rindu suara rendahnya. Aku rindu berbicara dengannya. Tapi apa arti kalimatnya barusan? "Maksud ayah?" tanyaku pelan, memanggilnya dengan sebutan ayah adalah kebanggaan tersendiri untukku.

"Aku akan menjelaskan nya kepadamu saat kita selesai makan malam." Aku mengangguk. "Kerja sampingan apa yang kau lakukan Shixun?" "Aku pernah bekerja di sebuah toko roti selama satu tahun, lalu menjadi pelayan restoran, aku juga pernah kerja di swalayan." Jawabku. "Apa kau yakin dengan jawabanmu? Aku akan lebih percaya jika kau mengatakan casino, judi, balap liar, menari di club malam, atau menjual diri." Aku tersedak mendengar kalimat ibuku. Citraku memang sudah buruk saat aku meninggalkan mereka, tak heran jika kesan itu yang menempel padaku.

"Tidak bu. Sekarang hanya ada Sehun Oh. Aku menekan diriku lainnya dan memulai hidup baru seperti orang normal lainnya. Dan, aku tak menjual diri." Bohong! Aku menjual diriku pada pria itu. Aku menjual harga diriku. Aku adalah pelacur bu. Maaf aku mengecewakanmu lagi. "Kau terdengar seperti seseorang yang sedang berbohong. Kau menggetarkan kakimu, kau menghindari kontak mata. Suaramu terdengar gugup, dan tanganmu tak berhenti memainkan garpu. Kau lebih terlihat seperti orang yang memiliki gangguan mental tapi berusaha menyembunyikannya." Ibu memang pintar menganalisa sesuatu. Aku harus lebih berhati-hati dengan kalimatku.

"Ibu benar. Aku menderita kepribadian ganda, depresi, insomnia, Emotional Deprivation Disorder, dan kupikir aku mulai memasuki fase awal selfharm. Kuharap ibu tak mengungkitnya lagi. Aku berusaha untuk sembuh." Aku tersenyum tipis. Nadaku pelan, aku takut ibu akan semakin takut kepadaku. "Sebaiknya kita menyimpan omongan ini setelah makan malam." Suara ayah terdengar. Nafsu makanku hilang.

"Kau menyedihkan." Maki ibu dengan suara pelan. "Maaf aku tak pernah cukup untukmu." Jawabku dengan suara pelan. Hatiku sakit sekali Kai. Hanya kau yang mampu membuatku merasa aman. "Aku selesai makan!" ibu berdiri dari kursinya dengan makanan yang belum habis sempurna. Aku mengacau lagi. Jantungku berdebar kencang dan darahku mengumpul dikepala. Aku mengambil pilku dari dalam tas dan meneguknya dengan air.

"Kau tak apa?" tanya Kyungsoo. Aku menggeleng. "Kurasa ibu sangat tak ingin bertemu denganku. Bisa kita langsungkan saja apa yang harus aku ketahui? Supaya aku bisa langsung pergi dari rumah?" Ayah mengangguk. Ikutlah denganku. Ia berjalan menuju ruang kerjanya. Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Semoga hatiku bisa menahan rasa sakitnya.

Ayah menyodorkan sebuah map hijau. Aku membacanya dengan seksama. Dan tubuhku kembali memanas. Memangnya apa yang kau harapkan Sehun. Kau tak akan pernah mendapat sambutan hangat dalam keluarga ini. Mereka sempurna tanpamu.

"Kau telah membacanya?" aku mengangguk. "Seperti yang tertera dalam kertas ini. Jika kau menandatangani surat pernyataan ini, itu berarti kau akan mendapat kekayaan 10% dari yang kumiliki. Dengan syarat, kau harus melepas marga Wu. Dan kau telah melakukannya bukan? Tinggal tanda tangan maka urusan kita selesai." Kai aku sedih sekali. "Sepertinya aku terlalu mengecewakan untuk kalian. Boleh aku tau alasan mengapa pernyataan ini ada?"

"Kau tau jelas alasannya. Sejak kau kecil kau sudah merasakan perbedaan cara kami mengasuh kalian. Dan surat pernyataan untuk menegaskan bahwa kami bukan lagi keluargamu. Kau sendiri telah memiliki identitas baru. Maka tak akan sulit untukmu menandatangani surat ini." Kata ibu yang berjalan memasuki ruang kerja ayah.

"Aku bisa saja memiliki identitas lain, tapi mengapa kalian ingin melakukannya dengan surat resmi? Apa kalian benar-benar ingin menyingkirkanku dari keluarga?" Mati-matian aku menahan air mata agar tak keluar begitu saja. "Karena kami tak ingin saat semua sudah tertata kau muncul lagi dan meminta bagian dari jerih payah kami. Kau tak memiliki kontribusi apapun dalam keluarga ini." Jawaban datar ayah menyadarkanku bahwa semua ini memang karena uang.

"Jadi karena masa depan perusahaan yang baik kalian memutuskan ini agar suatu saat aku tak mengemis warisan? Aku memang tak memiliki mental yang sehat, tapi bukan berarti aku tak memiliki harga diri." Aku memandang orang tuaku lagi. Mereka berdiri dengan wajah angkuhnya sambil melipat tangannya di dada.

"Ini hanya bentuk pencegahan dari kami. Tinggal tanda tangan saja apa susahnya." Suara kecut ibuku terdengar. Ia sungguh cantik meskipun sedang marah. "hahh.." aku kembali membaca isi pernyataan itu. Dengan surat ini, tandanya aku resmi menjadi orang lain. "kau tinggal tanda tangan. Kami akan mengurus kelanjutannya dan uang akan mengalir langsung ke rekeningmu." Kata ayah.

Aku mengambil selembar kertas A4 kosong dan menulis surat pernyataanku sendiri. Bahwa aku yang bertanda tangan dibawah ini bersedia menandatangani surat pernyataan pelepasan marga Wu tanpa menerima 10% dari Wu group seperti yang tertera dalam surat pernyataan tersebut. Kurang lebih seperti itulah inti dari pernyataan yang kutulis tangan untuk mereka.

"Aku menandatangani ini." Pernyataanku telah kutandatangani, begitu juga dengan pernyataan yang dibuat keluargaku. "Sekarang kau boleh pergi." Aku tersenyum pada mereka. "Aku tak percaya orang tuaku melakukan ini." Mereka mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. "Ini adalah kesepakatan yang telah kita capai. Semoga ini yang terbaik." Kata ayah. Aku menjabat tangan ibuku. "Kuharap kalian selalu bahagia. Senang bertemu dengan kalian lagi. Tuan dan nyonya Wu."

Aku keluar ruangan dengan perasaan yang kacau. Sialan! Aku mendapati diriku menangis lagi. 'Doorrr…!' gelegar suara petir menggema di dalam rumah. Gemuruh angin terdengar sangat kencang meskipun aku berada di dalam. Sekilas aku melihat Kyungsoo yang terkejut karena suara petir. "Aneh sekali, cuaca tiba-tiba buruk." Yixing berjalan dari dapur setelah membersihkan meja makan.

Aku berjalan memasuki dapur untuk mengambil segelas air putih. Jantungku berdetak kencang lagi, darah keluar dari hidungku, dan aku kesakitan lagi. Hanya obat penenang ini yang mampu menolongku. "Shixun.." nafasku terengah dan tanganku bergetar. Dengan cekatan aku menelan dua butir obat itu. Kupejamkan mata untuk mencari ketenangan, seharusnya Kai ada untuk menenangkanku. Kemana dia?

"Shixun.. kau tak apa?" aku membuka mata dan menemukan Yixing berdiri di sampingku. "Aku telah menandatangani surat itu. Mulai sekarang tolong panggil aku Sehun." Obat itu bekerja dengan cepat. Aku kembali menjadi Sehun. "Kau terlihat tak baik barusan." Aku mengangguk kecil. "Itu hanya terjadi saat aku sedih. dan aku sudah baikan. Aku akan menelpon taksi untuk mengantarku ke hotel." Yixing mencegahku. "Istirahatlah untuk semalam disini. Aku akan mengantarmu besok pagi. Cuaca buruk sekali, aku dengar akan ada badai malam ini." Aku diam saja dan berjalan melaluinya ke kamar.

Kututup pintu kamar. Kunyalakan lampu nakas untuk menerangi ruangan ini. Kamar yang menyimpan ribuan cerita sedih. Kini aku kembali kedalamnya, dengan cerita sedih lainnya."Kai bisakah kau kembali? Aku tau kau mendengarku." Disaat seperti ini hanya Kai yang ada untukku. Aku sungguh ingin ia kembali. "Kumohon jangan tinggalkan aku.. hikss.." dan untuk pertama kalinya menangis tersedu-sedu memohon agar Kai tak pergi. "Aku sungguh minta maaf. Aku menyesal Kai. Kata-kataku kemarin sangat kasar.. kau benar tentang segala hal.. kumohon.. katakan sesuatu.." gemuruh angin berhembus kencang, bulan tak memancarkan sinarnya, suhu malam ini sangat dingin.

"Hikkss.. maafkan aku.." aku kembali terisak. Aku memang manusia yang tak berhak bahagia. Kupikir aku adalah seorang pendosa di kehidupanku sebelumnya. "Mengapa aku mudah sekali untuk disakiti?" Hatiku sakit sekali. Aku sedih lagi Kai. Kai kumohon.. tolong aku.." aku duduk di lantai dan bersandar pada ranjang. 'Sehun..' aku tersenyum. Aku tau ia tak akan pergi begitu saja. "Aku sungguh minta maaf."

'Aku telah memaafkanmu Sehun.' Suaranya membawa ketenangan dalam diriku. Aku sangat bersyukur memilikinya. "Kau sungguh berharga untukku. Kumohon jangan pernah tinggalkan aku." Reaksinya lebih lambat dari yang kuperkirakan. 'Aku berharga untukmu?' aku tersenyum lagi. "Ya Kai, kau tak salah mendengarnya. Kau sungguh berharga untukku."

'Aku senang Sehun. Terima kasih.' Aku menggelengkan kepala. "Tidak Kai. Terima kasih untukmu. Kau menyelamatkan aku lagi hari ini." Aku memeluk diriku sendiri. 'Kau ingat Sehun, di kamar ini aku pertama kali menunjukkan diri kepadamu.' Aku tersenyum kecut. "Ya, saat itu aku tak pernah menyangka suara yang selama ini berada di kepalaku adalah seorang anak kecil seumuranku dengan wajah datar."

'Aku tampan Sehun.' Aku tertawa kecil. "Aku sungguh ingin kau peluk. Apa aku boleh minum obat yang lain agar aku tertidur dan agar kita bisa bertemu?" aku memang selalu meminta ijin pada Kai saat ingin meminum obat yang seharusnya tak boleh dikonsumsi berlebihan. 'Tidak. Kau sudah meminum lebih dari dosis hari ini. Aku akan menemanimu berbicara sampai kau tertidur.'

"Tapi aku sungguh merindukanmu. Aku ingin memelukmu." Aku merengek kecil. Kai memang hiburanku saat aku terpuruk. 'Percayalah aku lebih merindukanmu.' Aku percaya itu. Sungguh percaya. Aku tau Kai mencintaiku. Dan aku? "Kai.. aku pikir aku tak bisa hidup tanpamu."

'Tidak Sehun, kau bisa hidup tanpaku. Aku yang tak bisa hidup tanpamu.' Ia benar. Jika aku mati, maka Kai juga akan mati. Tapi apa mungkin kita akan bersama? Sepertinya tidak. "Aku memang bisa hidup tanpamu. Tapi itu berarti aku tak akan bisa menjadi Sehun yang sama." 'Kau benar, kau pernah melakukannya bukan. Melupakanku, dan kau menjadi pribadi yang berbeda.'

"Aku tak ingin melupakanmu. Aku ingin mejadi Sehun yang seperti sekarang untuk selamanya." Kai tak bersuara untuk beberapa detik. 'Aku sungguh mencintaimu Sehun.' Pernyataan cinta Kai sungguh tak terduga. Aku tau apa jawabanku. Dan aku tak ingin mengatakannya. Karena aku tau, Kai adalah bayangan yang aku ciptakan. 'Kumohon hiduplah dengan bahagia. Aku tak akan memaksamu melakukan hal-hal yang tak ingin kau lakukan. Aku sungguh ingin mendengar tawa bahaagiamu. Bukan tangisan. Aku rela melakukan apapun asal kau bahagia, termasuk mengunci diriku dan menghilang. Aku sungguh akan melakukan apapun untukmu. Tapi disatu sisi, aku merasa sangat tak berguna. Aku tak akan cukup untukmu. Kau tak akan mendapatkan kebahagiaan sempurna jika bersamaku.'

"Kai.. dengarkan aku, aku juga sangat ingin bersamamu. Maka tetaplah disisiku." 'Aku akan selalu ada disisimu Sehun. Dalam keadaan apapun.' Secara perlahan pandanganku mengabur. Kelopak mataku berat sekali untuk diangkat. Aku yakin ini karena pengaruh obat penenang barusan.

.

.

.

Author POV.

Sehun berdiri di sebuah ruangan putih yang sudah sangat ia kenal. ruangan putih yang sangat kontras dengan pakaiannya yang serba hitam. Tak ada apapun dalam ruangan ini. Dengan perlahan, ia merasa ada direngkuh oleh seseorang dari belakang. Tak terkejut sama sekali, Sehun malah bersandar pada dada bidang orang di belakangnya dan memejamkan mata seolah menikmati perlakuan itu.

"Kau bilang ingin kupeluk?" bibir si pemilik menempel di kulit lehernya. Kecupan-kecupan ringan dapat Sehun rasakan disana. Sehun berdehem rendah tak menolak sama sekali. "Aku sangat ingin kau peluk." Sehun mendongakkan lehernya saat merasakan belaian basah pria itu di kulit lehernya. Cumbuan-cumbuan itu berjalan ke rahang dan pipi tirus Sehun. Sehun masih memejamkan mata hingga saat ia merasa rahangnya digigit tipis oleh pria yang sedari tadi memeluknya.

"Giliranku." Sehun tersenyum tipis dan berbalik lalu menubruk tubuh Kai hingga ia terjengkang ke belakang. kekehan rendah terdengar dari keduanya saat Sehun menyerang ceruk Kai. Kekehan itu perlahan menghilang karena keseriusan Sehun menciumi telinga dan rahang Kai. "Kau sungguh mengagumkan Kai." Puji Sehun sambil menempelkan dahi mereka.

"Boleh aku menciummu?" ijin Kai. Sehun tersenyum lebar dan mengangguk. Detik selanjutnya Sehun sudah berada di bawah Kai. Kai tersenyum tulus sebelum memejamkan mata dan mencumbu bibir Sehun. Keduanya terlihat menikmati suasana yang tercipta. Sehun membuka mulutnya dan membiarkan Kai melakukan apapun yang ia mau.

Jemari lentik Sehun meremat helaian silver Kai untuk memperdalam cumbuan mereka. Lidah itu membelai seluruh bagian mulut Sehun. Bertukar liur, dan dan kehangatan. Lengan kiri Kai membantali leher Sehun agar Sehun merasa nyaman, sedangkan tangan kanannya membelai kulit punggung Sehun pelan.

"Eung.." sehun mendesah pelan saat Kai menjilati tulang selangkanya. Jantungnya berdetak kencang. Sehun menikmati apapun yang Kai lakukan padanya. "Sehun.. katakan berhenti jika kau tak menyukainya." Nafas hangat Kai menyapu leher Sehun membuatnya meremang. "Aku tak akan mengatakannya Kai.. lakukan semaumu." Dan setelah itu Kai mengecupi leher Sehun turun ke dadanya.

Merematnya dari luar dan mengecupi kulit yang terekspos. Nafas sehun memberat, ia telah terselimuti nafsu. Dengan cekatan Kai melepas atasan Sehun hingga hanya bra hitam Sehun yang tersisa. Sehun menarik Kai kembali mendekat, meremat rambutnya dan memeluk punggung lebarnya.

Prngait itu terbuka, Kai melepas bra Sehun dan mengamati apa yang ada di depannya. "Kau sungguh indah Sehun." Wajah Sehun memerah, ia meraih ujung kaos hitam Kai. "Lepass.." bisik Sehun pelan. Kai tersenyum miring dan melepas kaosnya. Saat Sehun akan menyentuh tubuh atletis itu Kai mengarahkan halauan kedua tangannya kebelakang hingga Sehun kembali terlentang dengan tangan diatas. Mata mereka bertabrakan untuk beberapa detik sampai Kai memutuskannya dengan mengecup ujung hidung Sehun.

Kai membelai perut datar Sehun dan mengulum putingnya. Basah hangat dan nikmat yang Sehun rasakan. Dahinya mengerut karena gerakan Kai yang lembut dan pelan. Setelah beberapa waktu memainkan dada Sehun, Kai mengecupi perut Sehun turun hingga ke bagian kewanitaannya. Dengan sekali tarik, Sehun telanjang seutuhnya.

Kai menuntun Sehun untuk berdiri, mengecupnya lembut dan mengarahkan tangan Sehun pada celananya. Tanpa perkataan apapun Sehun melakukan apa yang telah menjadi instingnya. Sehun merosot berlutut seiring tangannya yang menurunkan celana Kai.

Dengan tangan bergetar, ia mengusap kejantanan tegang milik Kai. Mengurutnya keatas dan kebawah dengan tempo pelan. Kai mengangguk, dan Sehun memasukkan kejantanan itu kedalam mulutnya. Besar dan hangat. Ia sedikit kesulitan karena ukuran Kai yang besar. Lidahnya ia bawa mengusap seluruh permukaan kulit Kai. Jambakan di rambut Sehun nafsunya semakin terbakar.

"Sehun cukup." Perintah Kai. Sehun berhenti. Kai menuntunnya untuk berbaring di lantai. Ia menempatkan tubuhnya diantara kaki Sehun dan mengusapkan ujung kejantanannya pada kewanitaan Sehun. "Sshh.."desis Sehun pelan saat Kai perlahan memasukkannya. Bibir mereka kembali bertemu. "Perihh.." rengek Sehun pelan. "Tak akan lama sayang.." dan Kai mengecup dahi Sehun.

Ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan. Sehun memejamkan matanya. Ia merasa sangat penuh di bawah sana. "Aah.." desahan pendeh Sehun keluarkan tiap kali Kai menabrak dinding terdalamnya. Ia memeluk punggung Kai erat untuk menyalurkan rasa sakit yang mulai memudar tergantikan nikmat yang mulai menguat.

"Ahh thereee.." Sehun mendongakkan kepalanya. Kai menjilati tulang selangka Sehun ditengah kegiatan inti mereka. Desahan-desahan lembut menggema, suhu diantara mereka meningkat. Kai mempercepat gerakannya. Sehun menahan nafasnya saat puncak itu hampir tercapai. "Aahhhh…"/"Aargh.." dan keduanya keluar disaat bersamaan.

Kai menggulingkan tubuhnya kesamping dan memindahkan tubuh Sehun keatasnya tanpa melepas ikatan mereka. "Aku mencintaimu Sehun." "Aku juga mencintaimu Kai." Dan Sehun memejamkan matanya dengan senyuman.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Bulan April datang lagi Kai. Tahun lalu aku sangat menantikan bulan ini, karena aku tau aku akan menerima hadiah. Tahun ini, aku tak menantikan apapun. Aku sendirian. Bisakah kita bertukar tempat? bersamamu membuatku senang. Tapi disaat yang bersamaan aku juga sangat sedih. Bisakah kau tolong aku? Aku benci kesedihan. Tapi aku selalu mendapati diriku tergulung bersama kesakitan. Tuhan.. tolong ambil aku.

'Hei.. mengapa melamun? Apa yang kau pikirkan?' Suara Kai terdengar. "Aku hanya sedang berpikir apakah ini hal yang baik?" aku memandang kertas kado dan beberapa benda yang kubeli kemarin. Rencananya aku akan mengirimkan ini untuk keluarga Wu. Sebuah dasi untuk tuan Wu, Bros untuk nyonya Wu, sebuah pena kuno untuk Yixing Wu, dan gantungan kunci berbentuk lonceng untuk Kyungsoo Wu.

Aneh bukan, mendekati ulang tahunku aku malah yang memberi hadiah untuk mereka. 'Kau yang ingin memberi hadiah terakhir untuk mereka kan? Kupikir tak ada salahnya.' Kata Kai lagi. "Kau benar. Aku akan segera mengirimkannya." Aku menulis sebuah surat untuk mereka.

Untuk keluarga Wu,

Dengan surat ini aku ingin menyampaikan terima kasihku untuk kalian. Aku memiliki hadiah kecil untuk kelian, kuharap kalian menyukainya. Meskipun jika tidak, tolong simpanlah. Aku menjalani hidupku dengan baik, dan melakukan hal-hal menyenangkan setiap hari. Tuhan menciptakan kebahagiaan dan kesedihan untuk satu alasan. Kebahagiaan hanya untuk mereka yang berhak bahagia. Dan kesedihan hanya untuk mereka yang pantas mendapatkannya karena suatu alasan tertentu.

Aku harap kalian selalu bahagia dan kuharap di kehidupan yang lainnya kita dapat mencintai satu sama lain dengan cara yang benar. Kalian adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Terima kasih.

Aku mencintai kalian.

Setelah semua terbungkus dengan rapi, aku mengirimnya lewat pos. Petugas disana mengatakan karena jarak negara yang jauh, kemungkinan pos ini akan sampai dalam waktu satu minggu. Tak buruk.

"Aku sudah mengirimkannya Kai." 'Aku mendukung apapun yang ingin kau lakukan Sehun.' Kai memang selalu baik kepadaku. "Kai, aku juga memiliki hadiah untukmu." Kuharap ia tak akan menolak.

'Kau tau aku tak membutuhkan apapun.' Aku tersenyum. "Aku yang membutuhkan ini. Kumohon terimalah." Aku berjalan menuju cermin dalam kamar mandi. Perlahan bayangan Kai muncul di dalamnya. "Kau pernah menginginkan jantung yang berdetak bukan? Ambillah milikku."

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallo readers.. ketemu lagiii.. kehidupan college sungguh menyebalkan ye.. tugas numpuk-numpuk, mana ke kampus jamnya cm dikit tp PR segudang. Anyway, redaddict balik dengan chapter 6. Nggak Panjang-panjang banget sih soalnya nyesuain sama ketersediaan waktu. anyway, tolong review ya teman-teman...

Jalan cerita masih ambigukan ni nanti bakal sad atau happy ending.. author kasih bocoran ya.. chapter depan bakalan ada kejadian yang gak terduga bagi Sehun, melibatkan Chanyeol dan salah satu keluarga Wu, dan kejadian ini akan mengantar Sehun ketemu sama suatu sosok. Siapakah dia?...
.

.

.

.

.

Namanya terdiri dari 3 kata..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Marganya : nama pertama dari anak kedua dari Kris Jenner dan Robert Kardashian

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nama tengahnya: sepuluh. lima belas. empat belas. tujuh

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nama belakang: When its too cold outside so you go ….side :)

.

.

.

mohon banget reviewnya...