'Aku mendukung apapun yang ingin kau lakukan Sehun.' Kai memang selalu baik kepadaku. "Kai, aku juga memiliki hadiah untukmu." Kuharap ia tak akan menolak.
'Kau tau aku tak membutuhkan apapun.' Aku tersenyum. "Aku yang membutuhkan ini. Kumohon terimalah." Aku berjalan menuju cermin dalam kamar mandi. Perlahan bayangan Kai muncul di dalamnya. "Kau pernah menginginkan jantung yang berdetak bukan? Ambillah milikku."
.
.
.
.
Chapter 7
Author POV.
"Kau pernah menginginkan jantung yang berdetak bukan? Ambillah milikku." Sehun tersenyum tipis memandang bayangan Kai dalam cermin. Ia telah mencapai ujung kenormalannya hingga rasannya menghilang adalah keputusan terbaik. 'Apa yang kau bicarakan Sehun?' Sehun menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
"Aku sunggu lelah. Tak bisakah kau membantuku? Ambilah tubuhku. Lakukan apapun sesukamu. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesakitan yang kau alami Kai." Pandangan Sehun berkunang-kunang. Ia berpegangan pada permukaan cermin di hadapannya untuk menjaga keseimbangan.
'Menebus kesakitan? Kau tak memiliki dosa apapun kepadaku, untuk apa kau harus melakukan itu?!' Kai menggeleng kepala merasa pemikiran Sehun yang tak masuk akal. "Aku sangat sadih. Setiap hari aku merasa kesedihan yang tak memiliki ujung. Aku selalu mencekoki diriku dengan fakta bahwa kau adalah sumber kebahagiaanku, tapi entah mengapa rasanya itu tak cukup."
"Aku lelah.. saat semua orang sedang tertidur nyenyak, aku akan mendapati diriku kembali merenung dengan perasaan hancur. Aku ingin bahagia. Aku sangat ingin. Butiran-butiran obat itu tak akan pernah menolongku! Mereka hanya membantuku berlari menjauhi kenyataan! Mereka membuatku kehilangan kesadaran dan bangun dengan dengan penyesalan tanpa sebab!" tubuh Sehun merosot ke lantai. Air matanya keluar begitu saja tanpa isakan.
'Sehun, aku selalu disini bersamamu. Maafkan aku jika aku tak cukup nyata untukmu. Aku tak akan memaksamu untuk sembuh. Aku.. aku, tak tau harus berkata bagaimana. Karena yang kemampuan yang kumiliki hanya sebatas ini.' Sehun menutup telinganya.
"Berhenti minta maaf karena jelas ini bukan salahmu. Aku telah menerimamu. Hanya saja, penyakit mentalku semakin parah Kai. Depresi bukanlah sesuatu yang dapat disembuhkan dengan obat. Aku setengah gila." Sehun menundukkan kepalanya. Air mata berlinang menetes lantai karena kepala yang menunduk.
"Bantu aku. Kumohon." Suaranya dingin dengan nada yang datar. 'Apa yang harus kulakukan untukmu Sehun?' Sehun menghela nafasnya panjang. "Ambil alih tubuhku untuk selamanya." Kai terdiam beberapa saat.
'Aku tak akan mengambil hidupmu. Kau pemilik tubuh ini, dan kau memiliki kehidupan sosial. Kau memiliki pekerjaan dan pasien yang harus kau tangani. Aku tak dapat membantu mereka, hanya kau. Jangan pernah menyerah Sehun. Di dunia ini bukan hanya kau yang mengalami depresi. Dan aku ingin kau menjadi salah satu diantara mereka yang dapat memenagkan kewarasanmu.'
"Jangan membawa pekerjaan dalam rumah ini Kai. Depresi tak ada hubungannya dengan mereka." Suara datar Sehun terdengar tak bersemangat. "Jadi kau tak ingin membantuku?" Sehun menengadahkan kepalanya metap Kai yang berdiri di hadapannya.
'Aku tak bisa membantumu. Kau memiliki hidupmu dan aku tak dapat menggantikanmu karena tanggung jawabmu diluar sana yang besar. Kau adalah seorang dokter Sehun. Seorang wanita cantik berpendidikan. Sedangkan aku hanya tau cara berjudi dan berkelahi.' Sehun tersenyum miring dengan pandangannya yang menajam.
"Aku memiliki ide lain." Sehun pergi dari depan cermin menuju dapur. Ia mengambil sebuah pisau dan berjalan kembali ketempat Kai. 'Apa yang akan kau lakukan?!' Kai untuk pertama kalinya membentak Sehun, dan Sehunpun tak terlihat takut dengan nada tingginya. "Kau tak bisa membantuku, maka aku akan membantu diriku sendiri." Sehun tersenyum.
'Sehun jangan bodoh! Berhenti!' Kai berteriak semakin kencang seiring dengan Sehun yang membawa pisau itu menuju pergelangan kiri tangannya. "selamat tinggal Kai. Kuharap kita bisa bertemu lagi." Dengan yakin ia menggerakkan pisaunya menekan kulit pucatnya.
'Prangg..'
Pisau itu jatuh. "Sialan kau Sehun. Bukan kau saja disini yang gila. Aku juga!" Kai mengambil alih tubuh Sehun hingga Sehun tertarik kedalam. Ia berhasil menghentikan percobaahn Sehun kali ini. "Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Kai sambil menyentuh pipi Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
Kai POV.
Hari ini adalah hari tujuh Sehun beristirahat. Ia tak menarikku kedalam mimpi sama sekali. Ia benar-benar menghilang tanpa jejak. Kuharap ia tak menyelami dirinya terlalu dalam, dan kuharap ia tau jalan kembali. Tentang pekerjaan Sehun, aku terpaksa mengirim email dengan alasan sakit. Tak mungkin aku mengani orang-orang sakit itu dengan pengetahuanku yang hanya sebatas peraturan permainan judi.
"Sehun, untuk kesekian kalinya tolong jawab aku." Aku berdiri depan cermin kamar mandi Sehun.
"Aku tau kau mendengarku Sehun. Kumohon katakan sesuatu." Seperti yang sebelum-sebelumnya, aku akan berusaha berbicara dengan Sehun selama berjam-jam. Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku mencicipi udara segar. Tak dipungkiri aku menikmati ini. Tapi ini bukanlah hal yang benar. Kehidupan ini milik Sehun. Dan aku tak berhak menempatinya.
"Sehun, aku tak tau cara memasak. Dan apa kau tak keberatan saat aku membasuh tubuhmu ketika mandi?" aku menghela nafas Panjang. "Kau tak peduli? Aku sungguh mencintaimu Sehun, dan melihatmu seperti ini sangat membuatku sedih. Kumohon jangan meninggalkanku dengan cara seperti ini."
Author POV.
"Jangan mengurung dirimu. Sehun.. maafkan aku. Seharusnya aku tak pernah hadir dalam hidupmu. Aku yang telah merusakmu. Aku yang telah membuatmu seperti ini. semua ini salahku. Jika aku tak muncul mungkin saat ini kau sedang bahagia. Aku menyesal.. sungguh menyesal.." Kai menagis dalam diam. Ia merasa sangat bersalah pada Sehun, tapi disisi lain ia tak tau harus bagaimana.
"Kau adalah wanita terkuat Sehun. Kau sungguh luar biasa. Aku kagum denganmu. Kau berjalan sejauh ini sendirian, dan berhasil mencapai kesuksesan yang kau miliki. Kau benar-benar hebat. Aku bangga denganmu." Suara Kai serak karena isakan di sela-sela kalimatnya.
"Kau ingat, saat aku perlahan muncul dalam kepalamu. Kau menamaiku Kai. Segala sesuatu yang kau berikan kepadaku adalah hal terindah Sehun. Maaf kita tak memiliki banyak kenangan indah untuk dikenang. Maaf aku membuat masa kecilmu menjadi hal buruk yang tak ingin kau ingat. Semua itu karenaku. Percayalah, aku juga sangat membenci diriku sendiri." Kai menghapus air matanya.
"Aku sungguh menyesal. Aku berjanji kepadamu Sehun, aku akan selalu ada untukmu dalam kesuramanmu dan aku akan menghilang saat kebahagiaan menyelimutimu. Harga dari kesalahanku."
'Apa kau sudah selesai?' suara Sehun muncul dalam kepalanya. Kai tersenyum tipis dengan pipi yang basah karena air mata. "Kau adalah gadis kecil yang nakal." Kata Kai dengan nada candaan. 'Aku lelah mengatakan bahwa ini bukan salahmu, jadi untuk kali ini aku tak akan mengatakannya lagi.' Kai tersenyum. "Aku sangat merindukanmu." Kai memeluk tubuhnya.
'Kau bahkan sedang memeluk diriku saat ini.' "Hanya tubuhmu bukan kau yang sebenarnya." Kai menghapus air matanya. 'Aku tak pernah mendengar suara isakanmu sebelumnya. Kau selalu tenang.' Kai tersenyum kecut. "Karena aku sangat merindukanmu."
'Apa dulu kau juga menangis saat aku mendorongmu pergi?' senyuman Kai menghilang. "Tidak. Karena kau bahagia. Dulu aku hanya sangat sedih. Apa kau merasa lebih baik Sehun?" Jawab Kai. 'Aku tak tau jawaban dari pertanyaanmu.' Suara helaan panjang Kai terdengar. "Sehun mengapa kau tak menarikku dalam mimpi?" tanya Kai. 'Karena kau membutuhkan waktu sendirian.' "Aku saangat merindukanmu." 'Maafkan aku.' Kepala Kai pusing tiba-tiba. Ia berpegangan pada pinggir wastafel. Pandangannya mengabur dan beberapa detik selanjutnya ia tak sadarkan diri.
.
.
.
"Sehun!" panggil Kai dalam ruangan putih itu. Sulit mencari ruang ini karena Kai maupun Sehun tak mengetahui cara kerja alam bawah sadar. Yang jelas saat salah satu diantara mereka berada dalam ruang putih dan mengundang yang lainnya untuk datang maka mereka akan bertemu melalui mimpi. Kai berlari menyusuri ruangan itu sebelum tubuh Sehun bangun. Ia terus berlari mencari keberadaan Sehun, hingga tujuan akhirnya terpusat pada ujung ruang putih ini. Tempatnya merenung saat sedih.
"Akhirnya aku menemukanmu." Kai terengah, dadanya naik turun karena berlari. Sehun duduk di sudut ruangan itu dengan memeluk lututnya. Kai berjalan cepat ke arah Sehun dan merengkuhnya erat. "Aku sungguh merindukanmu." Kai mengecup dahi Sehun. Sedangkan Sehun hanya diam dan memperhatikan tingkah Kai.
"Kau gadis nakal! Sepertinya aku harus menghukummu." Kata Kai dengan suara penuh kekhawatiran. Sehun tersenyum tipis. "Kau masih bisa tersenyum setelah menempatkanku pada kondisi seperti ini?" untuk beberapa menit mereka hanya saling memandang. Kai duduk di atas kaki selonjor Sehun dengan kedua tangannya pada kedua bahu Sehun. "Aku sangat merindukanmu." Kai mengecup dahi Sehun lagi.
"Apa benci saat kau mengatakan hal-hal itu." Sehun akhirnya membuka suaranya. "Dan aku benci dengan kebodohanmu minggu lalu. Kau benar-benar sangat baik dalam membuatku sakit kepala." Sehun menggelengkan kepalanya. "Berapa lama kau di dalam tubuhku?" "Tujuh hari." Sehun tersenyum. "Bagaimana istirahatmu?" Kai mengusap pipi Sehun. "Aku seperti benar-benar tertidur. Kepalaku kosong dan pikiranku tenang. Aku bahkan tak sadar bahwa sudah tujuh hari aku menghilang. Setelah mendengar isakanmu aku tertarik kedalam ruangan ini." Sehun menarik telapak tangan Kai pada ciumannya.
"Aku tak pernah mendengarmu menangis sebelumnya." Kai menarik tubuh Sehun dan mengganti posisi mereka dengan Sehun duduk di atas pangkuannya. Ia memeluk tubuh Sehun erat. "Semua itu karenamu. Aku sangat merindukanmu Sehun." Sehun mengangguk dan membalas pelukan Kai. "Berjanjilak padaku tak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Kau membuatku ketakutan." Ucap Kai pada ceruk Sehun dan Sehun hanya bergumam sebagai jawaban.
"Bisakah kita bertukar tempat sekarang?" Sehun memberi jeda beberapa saat. "Aku tak ingin kembali." Kai menghela nafas lagi. "Kau adalah pemilik tubuh ini Sehun. Kau memiliki kehidupan dan tanggung jawab. Jika saja aku bisa membantumu, percayalah aku sungguh ingin melakukannya. Aku tak mengetahui banyak hal seperti cara memasak, cara menangani pasien-pasienmu, bahkan cara menangani bagian privatmu yang berdarah." Kai merendahkan akhir kalimatnya.
"Apa yang kau maksud datang bulan?" "Jika yang kau maksud bagian bawahmu mengeluarkan darah kental yang bahkan terkadang kau tak tau kapan ia keluar, maka ya, kau sedang datang bulan." Wajah Kai memerah karena malu menjelaskan hal ini. "Sudah berapa lama?"
"Kemarin darah itu keluar begitu saja saat aku mandi. Aku panik karena hari ini darahnya semakin banyak. Kau harus menangani ini Sehun, aku tak pernah melihat darah sebanyak ini. suasana hatiku juga berubah dengan cepat. Aneh sekali. Perutku sakit sekali dari beberapa hari lalu. Jika kau tak ingin menangani ini aku akan membuat janji dengan dokter hari ini." Kai memijit perutnya pelan.
"Lalu apa yang kau lakukan untuk menanganinya?" "Haahhh.. seharian penuh aku di kamar mandi duduk di atas closet karena darah mengucur dari dalam. Tak mungkin kan aku mengenakan celana? Sehun tolonglah dirimu." Suara kekehan Sehun terdengar. "Hei.. ini bukan sesuatu yang lucu. Aku menderita, dan tubuhmu sedang sakit. Aku benar-benar akan menelpon dokter setelah ini."
"Jangann… aku hanya datang bulan. Aku tak akan mati." "Rasanya ada pukulan-pukulan kecil yang menyerang organ dalamku, nyeri dan sakit sekali untuk bergerak dan kau pikir ini tak berbahaya? Kalau begitu, cepat ambil alih tubuh ini dan lakukan apa yang harus kau lakukan karena aku tak tau apa yang harus kulakukan."
"Ya tuhan.. kau ternyata benar-benar tak tau apapun." "Aku bahkan tak tau cara memasak. Kau tau apa yang kumakan untuk menjagamu tetap hidup? Aku hanya makan sayuran yang ada dalam kulkas tanpa mengolahnya." Kai terdengar tak bersemangat dan Sehun terdengar sedikit terhibur.
"Aku memiliki uang dan kau bias menggunakannya untuk memesan makanan." Sanggah Sehun dengan nada yang lebih riang. "Oya tentu saja, kau adalah wanita yang tak memiliki uang cash karena kau merasa lebih senang membayar dengan kartu kredit. Coba tebak apa yang terjadi selanjutnya, aku tak tau pin kode kartu kreditmu. Yang artinya aku tak bisa menggunakannya." Nada frustasi Kai membuat Sehun semakin terhibur.
"Kumohon.. ambil tubuh ini sekarang. Darah itu keluar lagi, aku tak berani menengok ke dalam closet karena aku tau pasti merah. dan perutmu dari tadi bunyi, kurasa tubuhmu lapar." Setelah perdebatan yang menguras emosi dan setelah menceritakan kejadian-kejadian bodoh Kai, akhirnya Sehun setuju untuk kembali lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun POV.
Pikiranku lebih tenang dibandingkan beberapa bulan lalu saat aku mencoba bunuh diri, syukurlah. Terima kasih pada Kai karena telah merawat tubuhku dengan baik. Paling tidak ia berusaha semaksimal mungkin untuk membuatku tetap hidup. Aku duduk di dalam ruang kerjaku dengan tumpukan data pasien yang harus kutangani. Benar kata Kai, ia tak mungkin menangani mereka. Nyawa mereka ada di tangaku, tangan seorang dokter. Aku tak boleh terus bergelut dengan kesedihanku. Tuhan tak akan memberikan cobaan yang berat jika orang itu tak kuat. Tuhan mengujiku dengan segala kepahitan dalam hidupku. Dan aku siap untuk menerima segalanya, karena kata Kai aku adalah wanita yang kuat. Termia kasih Kai.
"Dokter, ada seorang pasien kecelakaan. Ia membutuhkan bantuan dokter segera." Seorang suster memanggilku. Ini memang jadwal piketku. Bagaimanapun keadaanku jika sudah di rumah sakit, aku tak boleh mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan.
Aku berlari menuju ruang gawat darurat. Seorang wanita dengan wajah yang besimbah darah tergeletak tak sadarkan diri. Rambutnya hitam panjang dan pakaian yang ia kenakan seperti pakaian kantor. Tipikal orang kaya. Tak peduli dengan status sosial seseorang, aku akan selalu menjalankan tugasku dengan benar. Suster telah memasangkan alat medis untuk wanita ini yang artinya aku hanya tinggal melakukan tugas terberatnya.
Wanita ini kehilangan banyak darah. "Priksa golongan darah dan segera lakukan tranfusi." Perintahku pada seorang suster. Aku berusaha menghentikan pendarahan di kepalanya. Karena itu adalah hal yang terpenting saat ini. setelah beberapa proses rumit darah itu berhenti kuhentikan. "Apa luka luarnya telah terjait?" aku mendengar jawaban 'ya' dari beberapa suster. Ada luka robek yang telah terjahit di bagian lengan kanan dan goresan-goresan ringan akibat pecahan kaca.
Aku menatap wajah pucat yang telah berisih dari noda darah. Dan jantungku rasanya berhenti berdetak. "Kyungsoo?" air mataku turun begitu saja. Aku harus menyelamatkannya. Selang transfusi darah itu telah tersambung, dan suster sedang membawanya ke ruang rontgen dalam ruang UGD untuk memeriksa bagian dalamnya.
Aku sungguh syok. Kakiku melemas begitu saja. Jantungku berdebar kencang. Aku berpegangan pada lengan salah satu susterku. "Dok, anda tak apa?" tanyanya. Aku menarik nafas kencang dan mengeluarkannya beberapa kali. "Aku hanya sedikit kelelahan." Aku segera memeriksa hasil foto x-ray pada komputer. Beberapa suster kembali membawa Kyungsoo ke posisi awal ranjang. "Tulang lengan kanannya patah dan dua rusuk kiri retak. Tak ada pendarahan dalam. Hanya luka lebam saja akibat benturan keras." Kalian tolong bersihkan nona ini. Aku akan menemui keluarganya.
Aku melepas masker dan sarung tanganku. Entah siapa yang menunggu di luar, yang jelas kemungkinan besar aku akan bertemu kembali dengan keluarga Wu. Pintu UGD terbuka, empat orang dewasa berdiri di ruang tunggu. Mereka saling berpandangan setelah melihatku keluar dari ruangan dengan jubah dokter. "Keluarga nona Wu." Tuan dan nyonya Wu serta dua orang dewasa lain, entah aku tak mengenal mereka.
"Shixun?" tanya nyonya Wu. Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kami tak memiliki hubungan apapun. "Nona Wu sempat mengalami masa kritis karena kekurangan darah. Beruntung ia memiliki golongan darah O dan kami memiliki persediaan cukup. Ia sudah melewati masa kritisnya. Kami juga telah merontgen secara keseluruhan. Tulang lengan kanan dan dua rusuk kiri retak. Selebihnya hanya luka goresan dan lebam karena benturan."
Aku berusaha menjaga keprofesionalanku di hadapan mereka. Aku pikirr kami tak akan pernah bertemu. "Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Kyungsoo-ku selamatkan?" kyungsoo-ku? Nyonya Wu menempatkan kata kepemilikan dibelakang namanya.
"Nona Wu sedang dalam pengaruh obat bius. Transfusi darah berjalan dengan lancar. Untung saja kami bergerak cepat. Untuk tulang rusuk yang retak, kami tak perlu melakukan perawatan khusus karena retakannya tidak fatal. Dan untuk lengan kanannya, ada dua kemungkinan yang bisa saya lakukan, pertama meembiarkan tulang itu sembuh secara natural atau dengan operasi."
Janntungku berdetak kencang sekali. Rasanya sangat gila. "Dioprasi saja. Lebih cepat. Apa kau yang akan menangani putriku?" mengapa tiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menyakitiku? Mengapa ia tak menerima saja bahwa aku yang akan menangani anaknya. "Jika pihak keluarga menginginkan untuk dioprasi, mari ke ruangan saya untuk menandatangani surat-suratnya. Dan iya tuan Wu. Kebetulan jadwal piket saya hari ini, jadi mau tak mau saya yang harus menangani nona Wu. Mari ikuti saya."
Aku berjalan ke ruanganku. Kau kuat Sehun, kau kuat. Aku mempersilahkan mereka berdua duduk. Dua orang lainnya menunggu di luar ruangan. Setelah menjelaskan hasil rontgen keseluruhan kepada mereka aku mempersiapkan surat pernyataan keputusan operasi. Nyonya Wu terlihat tak bersemangat, aku yakin ia pasti sangat syok putri kesayangannya kecelakaan. Sedangkan tuan Wu, ia terlihat selalu menemani nyonya Wu, sesekali beliau mengusap lengan wanita itu untuk memberi ketenangan. Kuharap suatu saat nanti aku akan dicintai seperti nyonya Wu.
"Silahkan tanda tangan." Aku menyodorkan surat itu. Mereka memilih untuk mengoprasi Kyungsoo secepat mungkin, dan melihat keadaan Kyungsoo yang tak terlalu parah, oprasi itu sangat mungkin dilakukan. Tuan Wu menandatangani surat itu. "Kau bekerja disini Shixun?" aku mengalihkan pandanganku dari layar komputer dan memandang mereka. "Nama saya Sehun Oh nyonya. Dan iya, saya bekerja disini." Aku menjawabnya dengan sopan.
"Saya akan segera menyiapkan operasinya hari ini juga. Anda bisa menunggu diluar atau beristirahat." Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka semua ada di Korea? Tak mungkin mereka mencariku lagi kan? Aku telah lepas dari Wu sejak hampir satu tahun yang lalu. "Terima kasih telah menyelamatkan putri kami dokter Oh." Aku memandang tuan Wu.
"Sama-sama tuan. Sudah kewajiban saya melakukan hal itu." Mereka berjalan keluar ruangan. Benar kata orang. Yang bisa menyembuhkan sakit hatimu hanya waktu. Aku memang masih sakit hati dengan kejadian tahun lalu. Apapun yang terjadi, semua telah diatur. Aku kembali ke ruang UGD dan melakukan usaha terbaikku untuk menangani Kyungsoo. Tak lebih dari dua jam kami telah selesai dengan operasinya. Hari ini sangat melelahkan. Bukan hanya fisikku yang lelah, batinku juga.
.
.
.
.
.
.
"Haahh.." aku menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya hari ini. Kyungsoo adalah pasienku, yang artinya aku harus mengecek keadaannya dua kali sehari selama satu minggu. Dan itu artinya aku akan bertemu keluarga Wu lebih sering. Membayangkan mereka saja membuat hatiku sakit, apa lagi harus bertemu dua kali sehari.
"Selamat padi dokter Oh." Seorang suster menyapa dari pintu ruanganku. Aku mempersilahkan ia masuk. "Saya sudah mengirimkan arsip milik nona Wu pada anda. Dan saya hanya ingin mengulang jadwal kita hari ini, mulai pukul 9 pagi kita akan memeriksa nona Wu, tuan Choi dan nyonya Brown, lalu pukul 11 siang anda memiliki jadwal oprasi transplantasi usus, pukul 3 sore mengecek kondisi tuan Tijn dan pukul 18.00 kembali pada nona Wu." Suster Kim selalu mengingatkan tentang jadwalku. Aku senang ia selalu bekerja dengan profesional.
"Terima kasih suster Kim. Kalau tidak salah hari ini adalah hari terakhir tuan Choi dirawat bukan?" "Benar dokter. Apa anda sudah sarapan dok?" Ia selalu menanyakan ini setiap pagi, dan tak jarang pula ia membawakanku makanan untuk makan siang. Ia benar-benar baik. "Sudah suster. Anda tak perlu khawatir." "Tentu saja saya khawatir, anda sering melewatkan sarapan. Dan hari ini jadwal anda padat sekali." Aku tersenyum mendengarkan kalimat semi omelannya. "Baiklah sebaiknya kita segera memulai jadwal kita." Aku berdiri dan mengenakan jas dokterku. Sepertinya hariku akan kuawali dengan luapan emosi.
Aku berjalan ke arah kamar rawat Kyungsoo. Aku yakin ia pasti sudah sadar. Perasaanku sedikit tak enak entah mengapa. Apa aku gugup? Tapi untuk apa? Tenanglah Sehun, ini hanya akan sebentar. Tak lebih dari sepuluh menit, tahanlah. Pintu itu sudah di depan mata. Aku mengetuknya beberapa kali sebelum masuk. "Selamat pagi. Saya akan memeriksa keadaan nona Wu hari ini." sapaku dengan nada riang.
Kyungsoo terlihat terkejut saat mata kami bertatapan. Aku hanya tersenyum tipis. Nyonya Wu duduk di samping ranjang Kyungsoo dengan ekspresi yang tak tertebak. Kurasa ia tak menceritakan apapun tentangku pada Kyungsoo. "Shixun? Kau dokter yang merawatku?"
Aku mengangguk dan berjalan kearahnya. "Benar. Saat kau datang kemarin kau dalam keadaan tak sadarkan diri." Aku mengecek seluruh keadaannya. Luka-lukanya, dan selang infusnya. "Semua dalam keadaan baik dok." Kata suster Kim. Aku mengangguk setuju. "Shixun, dunia sangat kecil bukan? Ini benar-benar kebetulan yang tak terduga." Kyungsoo menggenggam tanganku.
"Selamat pagi." Suara seseorang yang sangat aku kenal. Aku tak ingin menoleh ke belakang karena aku takut itu benar-benar dia. Nyonya Wu menyambutnya dengan hangat, ia langsung berjalan kearah pria itu. "Selamat pagi. Kau pasti khawatir sekali dengan Kyungsoo. Dokter sedang memeriksanya."
Suster kim sibuk mengganti perban Kyungsoo. Dan aku sibuk dengan pikiranku. "Yeolie!" seru Kyungsoo. Dan saat itu juga jantungku kembali berdegup kencang. "Kau benar-benar membuatku khawatir!" dan langkah pria itu semakin mendekat.
Ia berjalan kearah lain ranjang. Dan disana, tatapan kami bertemu. Park Chanyeol berdiri di hadapanku dengan ekspresi terkejutnya. Apa ia mengencani Kyungsoo sekarang? Sialan, hatiku sakit lagi. Mengapa semua yang terjadi dalam hidupku selalu kesalahan?! Dosa apa aku? Kyungsoo memeluk lengan pria itu manja. Suasana antara aku dan Chanyeol sangat canggung. "Kau benar Kyungsoo, benar-benar kebetulan tak terduga." Aku tersenyum miring.
"Shixun, kenalkan dia Chanyeol Park. Kekasihku." Kekasih? Benar dugaanku. Kyungsoo masih menggenggam tanganku. Suaranya sedikit lebih ceria dari yang tadi kudengar. "Sehun Oh. Kerabat Kyungso." Jawabku dengan senyuman palsu. Chanyeol terlihat kaget karena aku mengenal Kyungso. Sebenarnya takdir aku yang kau siapkan untukku tuhan?! Mengapa ini jadi rumit sekali?!
"Sehun, terima kasih atas kado yang kau berikan untukku. Gantungan itu sangat lucu. Aku akan selalu menyimpannya." Kata Kyungsoo. Aku tersenyum tipis dan mengangguk. "Buka mulutmu Kyungsoo, aku harus memeriksa keadaanmu." Aku memeriksa tenggorokan dan matanya. Semua terlihat normal.
"Aku akan menjelaskan sekali lagi. Syukurlah keadaanmu tak terlalu parah Kyungsoo. Lenganmu masih dalam proses penyembuhan, operasi kemarin berjalan dengan lancar. Aku menyarankanmu untuk tak terlalu banyak bergerak. Luka jahitan tak boleh terkena air. Jadi aku menyarankan jika kau ingin mandi, basuh saja tubuhmu dengan tisu basah, rumah sakit akan menyediakannya. Dan untuk luka memar yang kau alami, oleskan obat ini tiga kali sehari. Untuk obat yang lainnya, sudah tertera berapa kali harus di konsumsi pada kemasannya. Apa ada pertanyaan?" Kyungsoo menggeleng. Sedangkan Chanyeol, ia tak mengatakan apapun sedari tadi.
"Kapan putriku boleh pulang?" kata kepemilikan itu kembali ia sematkan. "Jika Kyungsoo mengikuti semua yang kukatakan tadi, maksimal satu minggu ia bisa pulang." Mereka mengangguk. Keadaan kembali canggung. "Suster Kim, anda sudah selesai?" suster Kim memberesi peralatannya. "Sudah dok." Aku mengangguk. "Saya akan kembali mengecek keadaan Kyungsoo nanti pukul 18.00. selamat pagi." Aku dan suster Kim berjalan keluar ruangan.
Aku penasaran sebenarnya manusia macam apa aku di kehidupanku sebelumnya. Mengapa hidupku penuh dengan kesialan. Apapun yang terjadi dalam hidupku pasti akan membawa luka. Bahkan Chanyeol juga. Ia masih terlihat tampan dan kuat. Aku yakin ia mengetahui apa yang terjadi. Ia tau nama asliku, dan aku percaya ia juga tau marga Kyungsoo. Kami sama-sama tau skenario dalam cerita bodoh ini. Dan aku kembali menjadi tokoh yang disakiti.
Tuhan pasti sangat membenciku. Ini sangat tak dapat dipercaya. "Suster aku harus ke toilet." Aku langsung menuju toilet terdekat. "Kai.. kaii.. kaii… tolong akuu.." Tubuhku terasa sangat berat. Dadaku sangat sesak. Dan kepalaku pusing. 'Sehun.. Tarik nafas dalam dan keluarkan pelan..' aku mengikuti Kai. "Chan.. chan.." 'Ssstt.. aku tau Sehun. Kau harus sadar pasienmu yang lain sedang menunggumu. Aku akan menemanimu saat kita di rumah nanti. Aku selalu bersamamu Sehun.'
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV.
Suasana hati Sehun kembali gelap. Pikirannya penuh dengan Chanyeol dan Kyungsoo. Ia pikir semakin sering hatinya hancur maka ia akan semakin tahan banting. Kenyataanya tak seperti yang ia bayangkan. Sehun hancur berkali-kali, ia tak akan pernah mati rasa. Ia akan selalu merasakan sakitnya dan tak akan ada yang peduli karena ia tak berarti untuk siapapun, termasuk pada dirinya sendiri.
"Aku melakukan ini karena aku ingin sembuh dari depresi sialan ini." Sehun keluar dari mobilnya. Ia telah membuat janji dengan seseorang yang ia pikir dapat menolongnya. Sebuah klinik psikiater ternama di Soul.
"Kau harus optimis Sehun." Sehun berjalan ke resepsionis dan menunggu gilirannya dipanggil. "Nona Oh, mari ikuti saya. Saya akan mengantar anda beremu dengan psikiater anda." Sehun berdiri dan mengikuti wanita paruh baya itu. Wanita itu membawanya ke ruang kerja si psikiater. "Silahkan duduk. Mohon tunggu sebentar." Sehun duduk di depan meja psikiaternya, si wanita paruh baya itu menutup pintu dari luar dan si psikiater sendang mempersiapkan berkas-berkasnya di meja lain.
"Selamat pagi nona Oh. Perkenalkan saya Kim Jong In psikiater anda." Sehun tertegun, jantungnya berdetak kencang. "Apa kau Kai?"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Halooooo… lama gak update..
Menguras tenaga chapter ini, sehun kasian banget dia sakit mulu.. chanso udah muncul, Jongin juga dah muncul. Ini ff aku gak pernah baca ulang, soalnya bikinnya bener-bener ngebut. Soalnya sibuukk banget. Tapi disempet-sempeting buat nglanjutin cerita. Buat yang nunggu ff author yang sebelum-sebelumnya mohon sabar yaa.. review ff ini paling dikit sih kalo disbanding ama yang lainnya kek nggak ada yang baca lol..
Oke,, Spoiler ttg jongin, dia punya suatu kesamaan sama Sehun . Semoga kalian masih mau baca ff ini yakk.. mohon reviewnya..
