Chapter 8

"Selamat pagi nona Oh. Perkenalkan saya Kim Jong In psikiater anda." Sehun tertegun, jantungnya berdetak kencang. "Apa kau Kai?"

Author POV.

"Apa kita pernah bertemu?" tanya Jong in dengan satu alis yang di angkat. Sekilas Sehun berpikir bahwa dirinya benar-benar gila. Tak mungkin Kai hidup di dunia nyata. "Entahlah. Saya hanya merasa kita pernah bertemu. Tapi sepertinya aku hanya salah orang." Sehun tersenyum tipis. "Pasti karena wajah saya seperti pria Korea pada umumnya." Jong in tersenyum lepas, "Anda ingin minum apa nona? The? Kopi?" Jongin berjalan ke arah mesin minuman hangat dalam ruangannya. "Kopi hitam saja. Tanpa apapun." Tak lama kemudian Jong in kembali dengan dua cangkir kopi hitam tanpa gula atau kremer.

"Kebanyakan orang yang tinggal di Korea akan memilih teh atau iced coffe. Kopi hitam bukanlah kultur Korea bukan?" Sehun meraih cangkir kopinya. "Anda benar. Saya memang sedikit berbeda." Jong in kembali tersenyum. Rambut coklat tua itu tertata rapi menyamping menunjukkan dahinya. ' Rahan tegas, hidung bangir dan senyuman itu sangat mirip dengan Kai.' Pikir Sehun.

"Baiklah nona Oh. Dari dokumen saya, anda menuliskan bahwa anda menderita depresi. Untuk mencapai kesembuhan rohani yang efektif, saya sangat menganjurkan anda untuk jujur. Saya tak akan menyakiti dan melakukan hal-hal yang anda tak sukai. Bisa anda jabarkan dengan detail tentang yang anda rasakan?" Sehun menghela nafasnya. "Apa aku bisa mempercayaimu?" sehun membuang embel-embel anda secara tak sadar karena aura yang pria ini miliki sungguh hangat, ditambah lagi paras yang sangat ia kenal.

"Anda bisa mempercayai saya sepenuhnya. Apa anda merasa sulit untuk mempercaya orang lain?" Sehun mengangguk. "Aku disakiti berkali-kali." Jong in mengerti arah permasalahan yang ingin Sehun bahas. "Saya mengerti. Bagaimana dengan perkenalan sebelum kita ke inti permasalahan? Karena saya pikir saya harus mengatur tempo kita lebih lambat, melihat anda yang menunjukkan sifat defensive." Sehun kembali mengangguk setuju.

"Perkenalkan nama saya Kim Jong in. Umur saya 27 tahun. Dan ini adalah tahun ke lima saya sebagai psikiater. Saya tumbuh dan dibesarkan di Soul. Saya memiliki seorang saudara laki-laki, dia dua tahun lebih tua dari saya. Ibu saya adalah seorang pengacara dan ayah saya seorang arsitek. Bukankah potret keluarga yang ideal? Singkat cerita, mereka bercerai karena kurangnya kominikasi dalam keluarga kami dan karena keduanya sibuk." Jong in menjeda ceritanya. Untuk memandang Sehun sekilas. Wanita itu mendengarkan dengan baik.

"Kakak saya tinggal dengan ibu dan aku dengan ayah. Ayah saya adalah pribadi yang abusive. Ia tak segan-segan melepas ikat pinggannggnya dan menggunakannya sebagai cambuk sebagai bentuk hukuman." Raut Sehun menegang, ia mulai menerka-nerka apa yang terjadi dengan Jong in.

"Saat nilai saya dibawah tujuh, maka saya tau apa yang sudah menunggu saya di rumah. Tak ada kesempatan bagi saya untuk menyembunyikan nilai saya karena system di sekolah saya dulu adalah, guru akan menghubungi wali murid mengenai segala sesuatu termasuk kepribadian siswa di sekolah dan nilai. Bekas cambukan-cambukan itu masih ada hingga sekarang. Banyak sekali hal-hal buruk yang terjadi kepada saya. Sangat Panjang jika harus diceritakan satu per satu. Dan itu adalah alasan mengapa saya memilih menjadi psikiater. Karena kehidupan yang saya alami sangat berat dan saya merasa bangga bisa hidup baik setelah hal-hal buruk itu." Ceritanya memang menyedihkan tapi cara pembawaannya membuat si pendengar mengasumsikan bahwa ia adalah pria yang kuat.

"Aku bisa membayangkan apa yang kau rasakan. Kita sama-sama memiliki masa lalu yang buruk. Jangan gunakan Bahasa formal saat berbicara. Terdengar sedikit aneh saat kau menceritakan masa kelammu pada orang yang baru saja kau kenal."

"Ini adalah pertanda baik, kau mulai membuka diri dengan menhilangkan bahasa formal kita. Baiklah aku akan melakukannya. Panggil saja aku Jong in, dan aku akan memanggilmu Sehun." Jong in tersenyum. "Apa kau pria yang abusieve Jong in?" jong in menggeleng pelan.

"Tidak. Karena selalu berada di posisi yang berhadapan dengan pria seperti ayahku, kepribadianku terbentuk sebagai seorang yang lebih mementingkan kebutuhan orang lain yang kucintai. Dalam arti lain, aku membiarkan ayahku menyiksaku karena aku mencintainya." Sehun mengangguk.

"Bagaimana dengan ayah, ibu dan kakakmu sekarang?" tak berniat lancang, Sehun hanya ingin mendengar kelanjutan cerita sedihnya. "Ayahku meninggal satu tahun yang lalu karena serangan jantung. Ibu dan kakakku tinggal di Jepang karena kakakku bekerja di sana dan memiliki istri orang Jepang. Hubunganku dengan mereka hanya sebatas keformalan saja, karena sejak umur 9 tahun mereka berdua menghilang dari kehidupanku dan meninggalkan aku dengan seorang ayah yang abusieve." Sehun mengangguk lagi, ini adalah kali pertamanya ia mendengar cerita atau aib orang lain yang sama sekali tak ia kenal sebelumnya.

"Mengapa kau menceritakan ini kepadaku?" Sehun tak bodoh, mungkin saja pria ini mengarang cerita hanya untuk mengundang simpati Sehun. "Karena aku melihat diriku dari pandangan matamu Sehun. Aku melihat seorang wanita yang sedang berjuang sendirian karena kesakitannya. Mungkin ini akan terlihat aneh, tapi kumohon biarkan aku menunjukkan kepadamu bukti bekas ikat pinggang kulit milik ayahku." Jong in berdiri dari kursi kerjanya, ia membelakangi Sehun dan mulai melepas satu per satu kancing kemeja biru mudanya.

Jong in menurunkan kemejanya hingga setengah punggunnya terlihat. Bekas-bekas luka yang tumpang tindih itu terlihat sangat mengerikan. Panjang dan dalam. Tak lebih dari lima detik, Jong in menarik kemejanya dan mengenakannya seperti semula. Saat ia berbalik, ia mendapati Sehun yang diam tanpa sepatah kata apapun. "Aku tak biasanya menunjukkan lukaku kepada orang lain Sehun. Aku selalu menutup diri karena aku tak ingin terlihat lemah oleh siapapun. Hanya saat kau melangkah memasuki ruanganku dan menyebut nama orang yang tak kukenal dengan pandangan sendu, aku dapat melihat segala sesuatu yang kau tutupi dengan jelas."

"Aku disini untuk membantumu. Semua cerita yang kau dengar benar-benar terjadi kepadaku. Dan aku ingin kau percaya bahwa aku tak akan menyakitimu." Sehun menelan ludahnya. Kopinya mulai dingin. Ia meneguknya hingga setengah. "Aku kemari untuk meminta bantuanmu bukan? Jadi aku akan mengikuti apa yang kau sarankan. Aku menghargai keterbukaanmu kepadaku." Jong in tersenyum.

"Baiklah. Kita akan memulainya dengan perkenalan." Kai mengambil catatannya dan sebuah pena. "Namaku adalah Oh Sehun. Umurku 25. Sudah setahun ini aku bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit Assan MC." Sehun berhenti. "Kau berhenti tepat setelah kau selesai menceritakan tentang dirimu Sehun. Kau tak menceritakan tentang keluargamu atau hal lain dalam hidupmu." Kai menuliskan sebuah kalimat dalam catatannya.

"Mengapa kau pikir kau mengalami depresi Sehun?" sehun menarik nafas dan meneguk kopinya hingga habis. "Aku kesepian. Dan aku selalu sedih. Aku merasa tak ada yang bisa membantuku. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena berpikir seperti ini. aku pikir aku cukup kuat untuk sembuh, aku benar-benar melakukan segala hal untuk membuatku senang. Tapi semuanya tak berhasil." Pandangan Sehun berubah sendu. "Aku pergi ke taman bermain, ke pantai, ke manapun tak akan berhasil menghilangkan perasaan kecewaku." Sehun bercerita dengan wajah datarnya.

"Aku memiliki hubungan buruk dengan keluargaku. Katakanlah aku terbuang dan aku menyalahkan diriku atas hal itu." Sehun tak terlalu terbuka dengan pria ini. ia berusaha untuk bercerita sesedikit mungkin, barang kali Jong in dapat membantunya keluar dari masalah ini dengan bekal berupa secuil dari cerita hidupnya. "Mengapa kau merasa terbuang? Apa yang mereka lakukan?" sehun menghela nafas panjang. "Aku bisa membuatmu merasa relax saat bercerita Sehun. Dengan pil ini kau akan merasa relax, kita juga bisa menggunakan methode terapi-" sehun menggeleng. "Aku akan menceritakan apa yang ingin kuceritakan. Tanyakan segala sesuatu yang ingin kau ketahui, dan aku akan jujur kepadamu." Kai mengangguk.

"Mengapa aku merasa terbuang? Karena saat aku berumur 17 tahun, aku adalah anak yang nakal. Aku sering bermain ke tempat yang tidak umum untuk anak seusiaku. Casino, arena balap liar, dan club. Aku lahir di st. Daniel, sebuah kota besar di Prancis. Orang tua memiliki karir yang hebat, dan aku bukan sesuatu yang mereka harapkan. Hingga akhirnya mereka mengusirku dari rumah karena aku menang judi dan menggunakan hasilnya untuk membeli sebuah motor balap." Kai mengangguk mengerti.

"Pada dasarnya 17 tahun adalah masa pubertas, wajar sekali jika kau ingin mencoba hal-hal baru. Hanya saja aku tak menyangka hal-hal baru yang kau alami sangat bertolak belakang denganmu yang sekarang." Sehun masih menunjukkan wajah datarnya.

"Setelah keluar dari rumah aku mulai hidup sendirian, aku pindah ke Korea dengan sisa uang yang kumiliki dan memulai hidup baru. Aku pernah bekerja sebagai kasir di mini market atau sebagai pelayan kafe. Hingga aku memenangkan beasiswa untuk jurusan kedokteran dan lulus setahun yang lalu." Kai mengangguk paham.

"Sehun, dengan profesimu sebagai dokter aku yakin mereka bangga kepadamu. Mengapa kau tak menemui mereka jika itu yang ingin kau buktikan?" sehun tersenyum miring, "Aku pernah menemui mereka dengan undangan khusus dari universitas sebagai salah satu mahasiswi dengan IPK tertinggi. Harapanku tinggi untuk kembali ke keluargaku. Dan saat aku menemui mereka, aku malah disodori kertas pernyataan pelepasan marga. Kau bisa membayangkan posisiku?" Jong in menghentikan goresannya pada buku catatannya.

"Mereka melakukannya?" Jong in menunjukkan ekspresi kagetnya. "Ya, nama asliku adalah Wu Shixun. Jika saja aku tak seperti ini, mungkin mereka akan bangga kepadaku." Sehun tersenyum kecut. "Aku mengerti garis besar ceritamu Sehun. Lalu hal apa yang kau lakukan untuk melampiaskan stresmu?"

"Aku akan menyiksa diriku. Dulu aku akan menyiksa diriku dengan tak makan seharian, atau belajar non stop untuk membohongi diri bahwa aku sedang sedih. Aku juga mengkonsumsi pil tidur agar bisa instirahat dengan tenang." Jong in menunjukkan raut mengreyitnya. "Pola hidupmu tidak sehat Sehun. Tapi tenang saja, kita bisa menanganinya. Hal terburuk apa yang pernah terbesit dalam otakmu untuk melampiaskan perasaanmu?" Sehun terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya.

"Aku pernah ingin memotong nadiku dengan pisau." Nada Sehun melemah. "Dan apa yang membuatmu berpikir untuk tidak melakukannya?"

"A..aku, memikirkan tentang pasienku dan perjuanganku untuk menjadi dokter. Karirku baru dimulai dan aku harus bisa menahan depresi ini lebih lama." Sehun tak sepenuhnya bohong, hanya saja ia memotong keterlibatan Kai dalam hidupnya.

"Sisi rasionalmu masih berjalan dengan baik Sehun." Sehun tersenyum miring karena itu sama sekali tak benar, jika saja Kai tak muncul dan mengambil alih tubuhnya maka Jong in dan Sehun tak akan pernah bertemu.

"Lalu keluhan apa yang kau alami?" "Saat aku sedang bekerja, maka aku tak akan merasakan apapun karena aku sibuk. Tapi saat aku di rumah sendirian, entahlah melihat suasana rumah yang sepi saja membuatku sedih. Aku juga menderita insomnia. Dalam sehari mungkin aku hanya akan tidur dua sampai tiga jam. Dan sisanya hanya untuk merenung dan menangis."

Jongin mengangguk mengerti. "Aku akan memberikan obat penenang untukmu. Jangan mengkonsumsinya secara berlebih. Hanya saat kau merasa tertekan, jika kau pikir kau bisa menahannya maka jangan konsumsi obat ini. bagaimanapun juga ini adalah salah satu bentuk soft drugs, jika terlalu sering dikonsumsi dapat menyebabkan kecanduan." Sehun mengerti betul tentang hal itu.

"Sehun, aku ingin kau yakin bahwa aku akan membantumu sembuh. Kita bisa melalui ini. Saat kau yakin maka hal yang kau pikir tak mungkin akan menjadi mungkin. Percaya itu." Ucap Jong in dengan yakin. "Kita akan memulai treatment kita pada pertemuan selanjutnya. Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan apapun. Jika kau sedih, hubungi aku segera, jika kau ingin bercerita tentang harimu, kabari aku dan aku akan langsung menghubungimu." Sehun merasa pertemuannya dengan Jong in tak sia-sia. Awalnya memang aneh karena ia bukan orang yang terbuka tentang pengalaman buruknya. Tapi kembali lagi, ini adalah hal yang Sehun inginkan. Bukan karena ia membenci Kai, ia hanya lelah dengan penderitaannya.

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Setelah bercerita dengan Jong in beberapa hari lalu aku merasa sedikit lebih baik. Melihat Jong in membuatku sedikit bersyukur karena orang tuaku tak pernah melukaiku secara fisik. Aku tau mereka tak mengharapkan ku, tapi jika kusamakan dengan cerita Jong in, pasti ia sangat menderita. Diusianya yang masih sangat muda ia harus menerima siksaan fisik dan batin dari ayahnya sedangkan ibunya, ia tau Jong in menderita, tapi ia tak melakukan apapun untuk menolongnya. Sungguh kasihan sekali. Dan sekarang, ia tumbuh menjadi pria yang ingin menolong para penderita mental lain karena ia pernah di posisi mereka. Ia adalah pemenang sebenarnya dalam cerita ini.

"Dokter Oh!" seorang wanita memanggilku dari belakang. Nyonya Wu. "Ada yang bisa saya bantu nyonya?" wanita itu berdandan cantik sekali. Aneh sekali ia sendirian, biasanya ada tuan Wu atau beberapa pengawal yang menemaninya. "Tentang Kyungso, beberapa hari yang lalu anda menyatakan bahwa Kyungsoo boleh pulang setelah minimaal dua minggu dirawat, apa ada kemungkinan ia pulang lebih awal?" Jujur saja aku tak ingin Kyungsoo pulang lebih cepat. Bukan karena aku tak ingin ia sembuh, tapi karena aku ingin ia mendapat perawatan yang maksimal. Dan selain itu, aku ingin merawatnya.

"Semua tergantung dengan kondisi nona Wu. Saya tak bisa memulangkan pasien yang masih butuh perawatan." Nyonya Wu menarik nafas Panjang. "Baiklah, saya mengerti. Saya akan menunggu pernyataan anda tentang kondisi kyungsoo lebih lanjut setelah anda mengkontrolnya nanti." Aku mengangguk. "Baik nyonya. Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya."

.

.

.

.

.

Pukul enam sore. Aku yakin Kyungsoo telah selesai makan malam. Dan aku juga yakin, nyonya Oh akan ada di sana. Kuharap aku tak akan bertemu Chanyeol. Secara kontrak, memang aku tak memiliki hubungan apapun dengan Chanyeol, tapi yang ia hadapi sekarang adalah kakakku. Aku tak ingin pria itu bermain dengannya.

Pintu ruangan Kyungsoo terbuka. Pasti mereka telah menungguku. "Selamat sore, saya akan memeriksa keadaan nona Wu." Seluruh keluarga Wu telah berkumpul di sana. "Hi Kyungsoo, bagaimana keadaanmu?" aku mengecek infus dan kondisinya yang lain. "Aku merasa lebih baik. Tak kusangka kita kembali berkumpul dengan keadaanku yang seperti ini." aku tersenyum kecut.

"Kalian memang selalu bersama kan." Jawabku acuh, aku sedang dengan suster Choi sekarang, ia tak akan mengerti apa yang kami bicarakan. "Maksudku denganmu juga Shixun." Aku tersenyum miring. "Dunia memang kecil sekali." Jawabku. "Suster, anda sudah selesai?" suster Choi mengangguk. Aku memangdang nyonya Wu yang sudah tak sabar menunggu keputusanku. "Keadaan nona Wu sudah semakin membaik. Luka-lukanya mulai mengering dan memarnya mulai memudar. Kau juga mulai bisa mengangkat benda-benda ringan. Jadi jika nyonya Wu memang ingin kau segera pulang, aku bisa mengatakan bahwa keadaanmu cukup baik untuk pulang. Besok pagi akan ada suster yang datang menjelaskan apa saja yang harus kau lakukan untuk mengurus lukamu dan besok siang kau boleh pulang." Kyungsoo tersenyum.

"Sehun terima kasih." Ia mennggenggam tanganku. "Ini sudah kewajibanku sebagai dokter." Kyungsoo tersenyum. "Tidakkah kau penasaran tentang kedatangan kami ke Korea?" aku memang penasaran tentang hal itu. "Jujur saja itu bukan urusanku, kalian bebas pergi kemanapun yang kalian inginkan." aku tak ingin terdengar terlalu penasaran.

"Kami ke Korea karena aku akan segera bertunangan. Dengan pria yang minggu lalu kukenalkan kepadamu. Park Chanyeol." Senyum palsu ku luntur. "Sebenarnya kami akan bertunangan minggu ini. Tapi karena kecelakaan itu, akhirnya diundur. Mungkin dalam dua minggu lagi." Aku menggigit bibir bawahku. "Apa kau bahagia?" Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. "Baguslah. Selamat atas pertunanganmu." Aku mengusap rambutnya. "Aku akan sangat senang sekali jika kau datang." Sialan. "Akan kuusahakan. Aku harus segera memeriksa pasienku yang lain." Kyungsoo melepaskan genggamannya. "Terima kasih Sehun." Kata nyonya Wu saat aku berjalan melewatinya. Aku mengangguk dan keluar ruangan. Hariku kembali berat. Terima kasih tuhan, kau selalu memberikan kejutan untukku.

.

.

.

.

.

.

.

Author POV.

Jadwalnya selesai tepat pukul tujuh malam. Seharian yang mengisi perutnya hanya kopi hitam dan sepotong roti isi coklat. Nafsu makannya benar-benar hilang. Ia berjalan ke arah mobilnya. "Sehun-ah.." Sehun mengenal betul suara siapa itu. Perasaannya campur aduk, muak, kecewa, sakit hati, dan cinta. Ia membalikkan badan dan menemukan Chanyeol berbalut kemeja merah marun dan celana hitam. Sehun tak mengatakan apapun. Ia hanya berdiri mematung memandang pria itu.

"Aku tak tau akan serumit ini." Chanyeol berjalan mendekat. Sehun masih diam di tempatnya. "Aku perlu meluruskan semuanya." Sehun menggeleng pelan. "Aku pikir semuanya telah jelas." Sehun tersenyum tipis. "Ikuti aku Sehun kita bicara dalam mobil." Chanyeol menggandeng tangan Sehun dan berjalan ke mobilnya. Sehun memperhatikan letak jemari Chanyeol pada tiap ruas jemarinya. Sehun tersenyum.

"Tidakkah kau pikir aku pria yang brengsek Sehun?" Sehun tersenyum. "Jawab aku." Kata Chanyeol karena Sehun hanya diam saja. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Bukankah semuanya sudah jelas?" Chanyeol menghela nafas panjang. "Aku tak pernah menyangka ia adalah ka-" "Apa kau benar-benar ingin memperjelas luka yang sedang kututupi?" Senyuman Sehun hilang dan tatapannya kosong. Tak dipungkiri Chanyeol merasa bersalah. "Sehun, aku merasa berada di posisi dimana jika aku memperjelas semuanya maka aku akan menyakitimu, dan jika aku tak menjelaskannya aku merasa seperti bajingan yang-" "Sstt.. kau bukanlah bajingan. Ini memang jalan cerita yang dibuat tuhan." Kata Sehun diiringi dengan tawaan kering.

"Aku merasa ini sangat tak adil untukmu." Chanyeol menggenggam tangan Sehun. "Apa kau juga menggunakan kontrak untuk Kyungsoo?" Chanyeol memberi beberapa detik sebelum menjawabnya. "Tidak." Sehun tersenyum. Jelas Kyungsoo tak akan merasakan apa yang Sehun rasakan. Sekali lagi Sehun merasa tak pernah berarti untuk seseorang. "Baguslah, kuharap kau serius dengannya. Ia sangat berarti untukku."

"Ia juga sangat berati untukku Sehun." Sehun tersenyum. "Baguslah." Chanyeol memandang Sehun lekat. "Aku benar-benar tak mengetahui tentang hubungan kalian." Sehun tertawa rendah. "Memangnya jika kau tau kami sedarah apa kau akan lakukan?" Chanyeol terdiam. "Sudahlah.. jangan merasa bersalah, aku bukan siapa-siapa untuk kalian. Aku bukanlah saudara Kyungsoo, dan aku bukan mantan kekasihmu. Kita hanya rekan kerja." Sehun menahan air matanya.

"Aku tak bermaksud menyakitimu Sehun. Dan aku tak dapat melakukan apapun untuk membuat segalanya membaik." Sehun mengangguk pelan. Chanyeol menyentuh pipi Sehun dengan dua telapak tangannya, berusaha memberikan kehangatan untuk wanita yang ia sakiti secara tak langsung. "Kau masih hangat Chanyeol. Tapi aku sadar, kau bukanlah seseorang yang dapat kusandari." Sehun mengecup pergelangan pria itu. "Cheerful Sehun. Kau masih mengggunakan gelang ini." Chanyeol menggenggam tangan kiri Sehun. "Gelang ini adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa pernah berarti untuk seseorang." Sehun menarik tangannya. "Kurasa tak ada hal lain yang harus kita bicarakan. Aku akan segera pulang." Chanyeol mengulum bibirnya. "Selamat atas pertunangan kalian." Lanjut Sehun. "Sehun tunggu!" seru Chanyeol saat Sehun hendak melangkah keluar mobil. "I just wanna tell you that, i did love you." Sehun tersenyum dengan air mata menggenang, "Glag to hear that." Dan Sehun berjalan lurus kea rah mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Sialan. Sakit sekali. Seharian hatiku digempur habis-habisan. Jelas posisiku dan Kyungsoo berbeda. Aku hanyalah pelampias nafsunya sedangkan Kyungsoo adalah cintanya, wanita yang berarti untuknya. Paling tidak dia pernah mencintaimu Sehun. Hanya saja cintanya padamu tak sebesar cintanya pada Kyungsoo.

'kringg…' ponselku berbunyi. Kim Jong In is calling.

"Hai Jong in dengan Sehun." Aku berusaha menahan isakanku. "Hai Sehun, maaf mengganggumu. Aku ingin bertanya apa kita bisa mengubah jadwal treeatment kita besok? Aku kurang enak badan, dan aku besok berencana untuk mengambil libur." "Oh, baiklah kalau begitu. Memangnya apa yang terjadi? Siapa tau aku bisa membantu." Aku bisa mendengar kekehannya dari sebrang. "Aku lupa bahwa client ku kali ini adalah dokter." Aku tersenyum.

"Aku merasa mual sekali. Sudah lebih dari tujuh kali aku mondar-mandir kamar mandi." Syukurlah bukan hal yang parah. "Kupikir kau salah mengkonsumsi makanan Jong in. Mungkin alergi atau kualitas makanan yang buruk. Ada keluhan lain selain muntah?" Jong in terdengar sedang berpikir. "Hanya mual dan pusing. Selebihnya kupikir tidak ada." Aku mengangguk paham. "Kau sudah membuat janji dengan dokter?" "Belum, aku akan melihat bagaimana keadaanku besok pagi. Jika masih buruk aku akan menelpon dokter."

"Jong in, kirimi aku alamat rumahmu." Tak ada salahnya kan membantu orang lain. "Sehun tak usah repot-repot. Aku sudah menelan paracetamol." Aku terkekeh pelan. "Paracetamol tak akan berguna, karena lambungmu akan menolak apapun yang masuk. Dengan kata lain, setelah kau menelan sesuatu, setelah sesuatu itu menyentuh tenggorokanmu maka kau akan memuntahkannya lagi."

"Woww.. bagaimana kau tau?" aku kembali terkekeh. "Tentu saja kau adalah dokter." Ia menjawab pertanyaannya sendiri. "Lalu bagaimana kau akan membantuku jika obat saja tak dapat kutelan?" Suara serak khas orang sakitnya terdengar, "Jong in-ah cepat beri aku alamatmu. Kebetulan aku baru menyelesaikan jadwalku di rumah sakit. Aku bahkan masih di parkiran. Aku tak keberatan jika harus mampir ke tempatmu." Jong in berpikir sejenak. "Baiklah aku akan mengirimi alamatku lewat chat." Aku tersenyum. "Baiklah, sampai bertemu." "Bye Sehun." Dan setelahnya aku kembali ke gedung rumah sakit untuk mengambil obat yang kukira Jong in butuhkan. Lalu segera ke alamat Jong in.

.

.

.

Sebuah bangunan apartemen mewah berdiri di hadapanku. Aku memarkirkan mobilku di basement dan segera menuju lantai Jong in dengan hal-hal yang akan kubutuhkan. Jaraknya tak terlalu jauh dari appartement ku, mungkin sekitar 20 menit.

Aku memandang penampilanku di depan cermin dalam lift, sialan aku tak sadar aku terlihat se buruk ini. Mataku merah dan sembab, hidungku juga merah dan berair, pakaianku terlihat kusut karena seharian beraktifitas dan jangan tanya rambutku, aku hanya menggulungnya keatas dengan beberapa anak rambut yang berantakan. "Benar-benar messy bun yang sempurna." Masa bodo lah aku tak peduli dengan penampilanku.

Aku memencet tombol intercom di hadapanku. Beberapa saat selanjutnya, suara Jong in menyapa. "Hai Sehun, tunggu sebentar." Dan benar, beberapa detik kemudian Jong in membuka pintu. "Heii.. masuklah, maaf aku sungguh merepotkan." Ia mempersilahkan aku masuk. "Ya tuhan, kau pucat sekali." Jong in tersenyum tipis. "Bukankah itu ciri-ciri orang sakit?" "Yah, kau benar." Aku tersenyum. "Kopi hitam?" "Ya, boleh juga." Jong in berjalan ke dapur dan kembali dengan secangkir kopi.

Rumah ini terbilang sangat rapi untuk seorang pria yang tinggal sendirian. Jong in juga memiliki selera yang bagus dalam hal interior rumah. Lantai marmer kecoklatan ini terlihat sangat mewah dengan karpet merah marun, sofa, perapian, almari berisi kolesi patung-patung silver, lampu, sampai wallpaper dalam rumahnya dapat menyampaikan selera si pemilik. Benar-benar rumah yang nyaman. "Bagaimana keadaanmu Jong in?" Jong in duduk di sebelahku dengan mata tertutup. "Kepalaku kadang pusing kadang tidak, dan apapun yang masuk ke mulutku pasti akan kumuntahkan. Termasuk air. "

"Sebaiknya kau berbaring. Aku akan memeriksamu." Ia berbaring diatas sofa. Aku segera menyiapkan peralatanku. Aku memeriksa mata dan tenggorokannya, lalu detak jantungnya, lalu kutekan pelan bagian perutnya. "Matamu berair, yang artinya kau mengeluarkan banyak cairan karena itulah tubuhmu lemas, tenggorokanmu mengeluarkan lendir lebih banyak dari orang normal biasanya, suhu tubuh normal, saat kutekan perut bagian lambungmu kau kesakitan. Yang berarti memang ada masalah disana. Apa kau pernah mengalami asam lambung yang tinggi?" ia menggeleng. "Apa yang kau makan sebelum muntah-muntah?"

"Aku sempat makan di restoran Turki tadi siang dengan temanku." Mungkin itu alasannya. "Kau pernah makan makanan turki sebelumnya?" "Tentu saja, aku baru ingat, mungkin aku muntah-muntah karena tak pernah mencoba mengkonsumsi saus turki." Aku mengangguk. "Kita bisa mengetesnya jika kau ingin tau tentang alergimu." Jong in menggeleng. "Tidak Sehun, tes yang kau bicarakan berarti aku harus siap mencoba saus turki itu lagi untuk membuktikan dugaanmu benar atau tidak. Dan aku tak tertarik untuk kembali muntah-muntah." Aku tersenyum. "Kau tau saja apa yanag akan aku sarankan." Aku mengambil suntik dengan cairan yang dapat membuat Jong in lebih baik. "kemarika tanganmu."

"Apa ini?" "Ini akan membuatmu merasa lebih baik. Bukan painkiller, hanya sebuah serum untuk memanipulasi hormon yang produsi tubuh secara berlebih." Aku mencari pembuluh darahnya dan menyuntikkannya disana. "Thanks Sehun." Aku kembali memasukkan peralatanku. "Tenang saja." "Ngomong-ngomong, berapa tarif yang harus ku keluarkan untuk membayar jasamu." Aku sungguh ingin tertawa. "Aku tak akan menerima tarif darimu." Oke, aku hanya ingin membantu. Lagi pula, yang barusan bukan masalah besar.

"Ayolahh.. jangan membuatku berhutang budi kepadamu." "Aku juga berhutang budi kepadamu ngomong-ngomong." Jong in memandangku. "Baiklah, untuk membayar jasa seorang dokter sepertimu, bagaimana dengan konsultasi dadakan? Aku akan mendengar ceritamu." Ahh.. apa ia akan mengorek masa laluku lagi? Tau begini aku tak akan datang. "Apa kita akan memulai treatment mu?" "Tidak, kupikir kau sedang butuh teman bercerita Sehun. Matamu merah dan terlihat sembab. Saat kau datang hidungmu juga masih merah seperti orang yang baru saja menangis. Kau tau kan aku pendengar yang baik?"

Aku menghela nafas Panjang. "Ini adalah cerita yang rumit Jong in." Aku mengusap wajahku. Kami duduk bersampingan di sofa panjang ruang tamunya. "Sebelumnya yang ku tau, keluargaku menetap di Prancis. Dan minggu lalu kakakku kecelakaan di Korea, memang dunia ini kecil sekali, saat itu kebetulan aku yang sedang piket. Dan kami bertemu, dan hal itu mempertemukanku dengan semua keluargaku. Bisa kau bayangkan betapa canggungnya suasana." Air mataku keluar begitu saja. Entahlah di depan Jong in aku merasa menemukan seorang teman yang siap membantuku. "Singkat cerita aku aku juga bertemu dengan mantan kekasihku. Di dalam ruang rawat kakakku. Dan dari situlah aku tau bahwa keluargaku ke Korea karena kakakku akan segera bertunangan dengan mantan kekasihku." Mantan kekasih yang benar saja Sehun.

Dengan terbata-bata akhirnya aku bisa merangku cerita sedihku hari ini. "Berat Sehun. Benar-benar berat. Kau masih mencintai kekasihmu?" sialan, mendengar pertanyaannya itu membuat air mataku kembali turun. "Dia adalah orang pertama yang mencintaiku. Ia berarti untukku, dan melihatnya Bersama dengan kakakku membuatku merasa.. sakit hati." Jong in meraih tanganku. "Sehun, apapun yang terjadi, tuhan sudah mentakdirkannya untuk terjadi. Seperti yang terjadi kepadamu, dari berbagai kemungkinan, tuhan memilih mantan kekasihmu untuk kakakmu. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama, dan kau diharuskan untuk menunggu lebih lama untuk kebahagiaanmu."

"Jika kau dan mantan kekasihmu masih bersama, tetapi tuhan mentakdirkan mantan kekasihmu dengan kakakmu, tidakkah lebih sakit mengetahui ia menyukai wanita lain yang sedarah denganmu saat kalian masih memiliki hubungan? Karena itulah tuhan membuat kalian berpisah lebih awal sebelum mereka bertemu." Masuk akal juga penjelasannya.

"Sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah jika mereka merasa ada ketidak cocokan dari diri mereka. Kupikir perpisahan bukanlah akhir dari segalanya sehun, melainkan sebuah awal. Memang butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa perpisahan adalah yang terbaik, tapi lambat laun kau akan mengerti apa yang salah dari hubunganmu sebelumnya dan bagaimana cara memperbaiki diri untuk hubunganmu selanjutnya." Aku mengangguk mengerti.

"Thanks Jong in, kau membuatku lebih baik." Jong in tersenyum. "Syukurlah. Jangan bersedih Sehun. Percayalah bahwa ini sudah garis takdir dan kita tak dapat mengubahnya sekeras apapun kita berusaha." Aku mengangguk mengerti.

"Apa kau sudah makan malam?" tanya Kai. "Saat kau menghubungiku aku baru saja selesai kerja, dan rencananya setelah sampai rumah aku akan memasak." Jong in langsung meraih ponselnya. "Kau suka ayam goreng dan salad?" Apa ia menawariku makanan? "Eum, ya." Pertanyaannya hanya suka atau tidak kan? Bukan ajakan untuk makan bersama?

"Oke.." Jong in terlihat seperti menghubungi seseorang. "Selamat malam, saya ingin pesan dua porsi ayam goreng dan dua porsi salad dengan dressing honey mustard. Kim Jong In. 30 Ueulji-ro 1, Jung Gu. Apartement nomor 531. Terima kasih." Aku menatapnya dengan tanda tanya. "Kau akan makan disini Sehun. Tanda terima kasih."

"Kau benar-benar tak perlu melakukan itu. Lagi pula yang barusan bukan bantuan besar." Aku merasa tak enak saja jika seperti ini. "Tapi aku sudah merusak rencana makan malammu. Sudahlah Sehun, aku sudah memesan makanan untuk kita berdua. Dan kau tak ada alasan untuk menolak." "Baiklah.. untuk kali ini saja." Jong in tesenyum lepas. Aku heran, pria ini terlihat sangat ramah dan suka tersenyum. "Mengapa kau selalu tersenyum?" dan pertanyaan tak tau malu itu akhirnya keluar.

"Tersenyum itu sehat Sehun. Kau jarang sekali tersenyum, tersenyumlah sekali-sekali. Itu baik untuk kondisi jantung dan baik untuk aura dirimu." Sebenarnya aku sering tersenyum, hanya saja akhir-akhir ini aku tak melakukannya. Aku bahkan tak sadar bahwa aku mulai berhenti melakukannya.

"Apa kau merasa lebih baik? Maksudku, kau terlihat sakit beberapa waktu lalu." Jong in terlihat sedang berpikir. "Kau benar, mungkin karna serum yang kau beri. Aku sekarang merasa.. lapar." Ia mengecilkan suaranya pada kata terakhir. "Wow, Sehun.. kau benar-benar memiliki tangan ajaib. Beberapa saat yang lalu bahkan aku tak memiliki nafsu makan sama sekali, dan sekarang aku lapar." Reaksinya benar-benar lucu saat mengatakan kalimat itu. "Aku adalah dokter kau ingat." "Sepertinya aku akan selalu menghubungimu saat sakit." Aku tertawa pelan, "Ku harap itu tak terjadi sering." Orang-orang akan menghubungi dokter saat mereka sakit saja kan? "Aku akan tetap menghubungimu meskipun aku sudah sembuh?" aku bingung, "Huh?"

"Kau harus selalu menceritakan kepadaku tentang segala hal yang mengganggumu." Sekarang aku mengerti. "Aa.. tentu saja." Jong in mengangguk. "Kau adalah prioritasku." Jong in tersenyum dan Sehun termenung karena kalimat pria itu.

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Aku kembali ke dalam dunia putih yang sering menemaniku saat aku kehilangan diriku. Disana aku merasa selalu ditunggu. Di sana aku selalu merasa di perhatikan. Dan di sana aku selalu merasa diharapkan. Pria itu datang. Masih dengan penampilan yang sama. Pakaian yang serba hitam, rambut silver dan rupa yang menawan. Ia tersenyum. "Aku merindukanmu." Katanya sebelum memelukku.

"Sehun.. apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallooooo… lama gak ketemu..

Jongin porsinya banyak disini dan Kai dikit bgt. Author pengen memperjelas kalo Sehun itu pengen sembuh tanpa harus cerita semua detail dari hal buruk yang terjadi. Jadi kyk dia ceritanya garis besarnya doang ke Jong in. Jong in juga sebenernya masih nyimpen rahasia dari masa lalunya dia. Trs Kai? Menurut kalian gimana reaksi Kai tentang hal ini?

Btw ff ini nguras tenaga bgt, bolak balik sempet kepikiran buat gak dilanjutin. Tp masak iya tiap kali bikin cerita nggak pernah dilanjutin. Trs chapter 7 kemaren mayan juga reviewnya dibanding review chapter2 sebelumnya. Soalnya aku ngrasa yg baca ff ini cm beberapa orang aja. Ada sih yang ngasih review tiap chapter dan dia kek semangat bgt baca cerita ini dan nggak bohong review dia yg bangun semangat author karena kek dia ngasih feedback dan reaksi ttg yg author tulis tiap chapter. Trs ada juga yang bilang kalo ff ini dia cek tiap hari, tp gk update2. Hehe udah di update nih say.. Author harap para readers lain yang sering baca tapi nggak review akhirnya mau ngereview. Pengen cepet2 nyelesein ff ini rasanya. Tapi semangat ilang2 terus.

Thank yang kemaren ngasih kalimat2 penyemangat :D

Sampe ketemu di chapter 9