Title : GONE
Main Cast :
- Cho Kyuhyun
- Lee Sungmin
and another support cast
Main Pair : Kyumin
Genre : BL / Romance / Hurt / Comfort
Rating : T
Length : Chapter
Author : Matsuo Kumiko
"Kyu, saengilchukka hamnida"
"Gomawo, Minnie-ah"
"Hiks... Kyunnie... Hiks... A-aku..."
"Minnie? Wae? Jangan menangis, Minnie-ah... Uljima..."
"Mianhae, aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu"
"Gwenchana... Kau saja sudah cukup bagiku, Minnie"
"Cheongmal?"
"Ne, tentu saja"
"Gomawo, Kyuhyun-ah. Saranghae..."
"Cheonmaneyo, Minnie-ah. Nado saranghae..."
"Apakah kau akan selalu ada di sampingku, Kyu?"
"Aku akan selalu ada di sampingmu, Minnie. Apa pun yang terjadi"
"Kau tidak akan pernah meninggalkanku, kan?"
"Aniyo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Minnie"
"Selamanya?"
"Selamanya..."
"Geureyo?"
"Ne"
"Nan neomu saranghae..."
"Nado saranghae"
"Kyu, kau adalah hidupku. Kau adalah nafasku. Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku..."
"Nado, Minnie. Kau adalah hidupku, nafasku. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah"
Sungmin POV
Aku menginjakkan kaki-ku di bandara Incheon. Setelah sekian lama meninggalkan Seoul, akhirnya aku kembali ke tempat ini lagi. Tempat di mana aku lahir dan di besarkan. Serta tempat di mana aku bertemu dengan orang yang kucintai, Cho Kyuhyun. Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah ia masih mengingatku? Masihkah ia mencintaiku setelah aku pergi meninggalkannya tanpa memberi alasan?
"Kyuhyunnie..."
Aku sungguh tak menyangka bahwa aku akan pergi meninggalkan Kyuhyun selama 1 tahun. Sungguh aku tak ingin pergi meninggalkannya, namun keadaan memaksa-ku untuk pergi meninggalkannya. Selama 3 tahun bersamanya, aku berusaha untuk terus bertahan dan selalu ada di sampingnya. Meski pun pada akhirnya aku menyerah dan melepaskannya. Aku menyerah, meninggalkan dirinya yang selalu ada untukku. Aish~ Aku sungguh jahat.
"Seoul..."
Di kota ini kami bertemu, saling mengenal satu sama lain. Di kota ini, kisah kami berawal dan berakhir. Seoul. Kota yang tidak akan pernah kulupakan karena di kota ini penuh dengan kenanganku dan Kyuhyun, bukti keberadaan kami dan kisah kami. Semua kenangan kami berada di kota ini, Seoul.
"Kyu..."
Aku melangkahkan kaki-ku sembari melihat bandara Incheon yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang. Aku berjalan sembari menarik koperku yang berukuran cukup besar. Entah apa yang harus kulakukan saat ini, namun yang pasti aku ingin beristirahat untuk menghilangkan penat yang kurasakan. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke apartementku, tempat kenanganku bersama Kyuhyun. Aku berjalan menghampiri sebuah taksi. Terlihat seorang ahjusshi berjalan menghampiriku dan membantuku memasukkan koperku ke dalam bagasi. Setelah koperku masuk ke dalam bagasi, aku masuk ke dalam taksi dan duduk dengan nyaman.
"Tolong ke apartement xxx" ujarku.
Ahjusshi itu melihatku sekilas dan tersenyum. Ia mulai menyalakan mesin dan melaju pergi meninggalkan kawasan bandara Incheon.
Kuedarkan pandanganku pada sekelilingku. Apartement ini masih sama seperti saat aku meninggalkannya. Untunglah aku sudah meminta cleaning service untuk membersihkan apartement ini 2 hari yang lalu, sehingga tidak ada debu dan sarang laba-laba. Aku berjalan menuju kamar tidurku.
"Kosong"
Kamar itu kosong, tak ada apa pun di sana. Boneka kelinci yang diberikan oleh Kyuhyun pun sudah tak ada. Di mana boneka tersebut? Tidak mungkin di buang atau pun di ambil orang lain kecuali... Cho Kyuhyun. Boneka kelinci tersebut mungkin berada di tangan Kyuhyun saat ini, atau mungkin ia sudah membuangnya. Huft~ Jika Kyuhyun membuang boneka itu, seharusnya dulu aku membawanya bersamaku. Aku sangat menyukai boneka itu.
TOK TOK TOK!
Terdengar suara ketukan, sepertinya ada yang mengetuk pintu apartementku. Aku segera berjalan menuju pintu depan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu apartementku, meninggalkan koperku di dalam kamar.
TOK TOK TOK!
Aku semakin mempercepat langkah kaki-ku. Sesampai di depan pintu, aku segera membuka pintu dan melihat tamu yang datang.
"Nugu?" tanyaku saat mendapati seorang namja asing berdiri di depanku.
Namja itu tersenyum padaku dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Annyeong, choneun Park Jungsoo imnida. Bangapseumnida" ujar namja asing itu.
Aku menatap namja tersebut dengan bingung, namun aku tetap menjaga sopan santunku. Aku balas tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhku.
"Annyeong, choneun Lee Sungmin imnida. Bangapseumnida. Waeyo?"
"Ah! Saya hanya ingin memberi tahu bahwa sekitar setahun yang lalu ada seorang namja yang masuk ke apartement Anda, Sungmin-sshi..."
Jungsoo POV
-Flashback-
Aku berjalan memasuki apartementku yang baru. Badanku sungguh lelah setelah berhasil memindahkan semua barang-barangku ke dalam. Huft~ Aku bahkan belum menatanya. Sebaiknya aku beristirahat terlebih dahulu dan membereskannya besok. Saat aku hendak membuka pintu apartementku, tiba-tiba…
TOK TOK TOK!
"Minnie…"
Minnie? Kuedarkan pandanganku pada sekelilingku dan mencari asal suara itu. Terlihat seorang namja berambut hitam tengah mengetuk pintu sebuah apartement. Namun pintu apartement itu tak kunjung terbuka. Akhirnya namja itu menyerah dan berhenti mengetuk pintu. Ya, awalnya kukira namja itu menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan apartement tersebut, namun ternyata dugaanku salah. Namja memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Aku tidak tau apa itu, tapi sepertinya benda yang dikeluarkan namja itu dari dalam saku-nya adalah sebuah kunci karena ia memasukkan benda itu ke dalam lubang pintu.
CKLEK
Pintu tersebut berhasil di buka oleh namja itu. Aneh. Mengapa ia harus mengetuk pintu jika ia memiliki kunci apartement itu.
"Aneh…"
Tanpa pikir panjang, aku berjalan masuk ke dalam apartement-ku. Apa peduliku?
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Namun ada yang aneh. Aish~ Lagi-lagi aku memikirkan namja berambut hitam itu. Semenjak 5 hari yang lalu, aku tak pernah melihat namja itu keluar dari apartement tersebut. Entahlah, mungkin namja itu pergi saat aku tidak ada di sini. Namun bukan hal itu yang membuatku risih selama 5 hari terakhir. Semenjak melihat namja itu masuk ke dalam apartement yang mungkin miliknya, setiap aku melewati apartement tersebut aku sering mendengar suara teriakan dan isak tangis. Aish~ Mengingat hal itu membuatku ingat akan ketakutanku.
"Namja itu…"
CKLEK!
"Teukie…"
Aku membalikkan tubuhku ke asal suara. Di depanku kini berdiri seorang namja dengan tubuh tegap, Kim Youngwoon.
"Youngwoon-ah…"
"Wae? Ada yang mengganggu pikiranmu, chagi?"
Wajah merona merah. Aish~
"A-aniyo, hanya saja aku merasa ada yang aneh"
Youngwoon berjalan menghampiriku dan memeluk tubuhku erat, membuatku harus mengangkat kepalaku agar dapat melihat wajahnya.
"Jadi… Apa yang menggaggu pikiran nae Angel?" tanya Youngwoon.
"I-itu—"
CUP~
Youngwoon mencium bibirku. Ugh…
"Youngwoon-ah…" ujarku setelah Youngwoon melepaskan tautan bibir kami.
Youngwoon tersenyum padaku. Tangannya dengan perlahan dan lembut mengelus rambutku.
"Ne, jadi apa yang mengganggu pikiranmu? Ceritakan padaku, chagi" ujar Youngwoon sembari menuntunku ke arah sofa.
"Youngwoon-ah, 5 hari yang lalu aku melihat seorang namja berambut hitam. Saat itu, ia mengetuk pintu sebuah apartement. Namun setelah cukup lama, pintu tersebut tak kunjung terbuka. Akhirnya namja itu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya" ujarku.
"Lalu apa yang aneh, chagi?"
"Jika ia sudah memiliki kunci apartement tersebut, untuk apa ia mengetuk pintu? Bisa saja ia langsung masuk ke dalam apartement itu tanpa mengetuk pintu"
"Mungkin saja itu bukan apartementnya, chagiya"
"Ne, mungkin saja. Lalu yang mengganggu pikiranku adalah hal lain. Semenjak melihat namja itu masuk ke dalam apartement tersebut, aku tak pernah melihat namja itu keluar"
"Mungkin ia keluar saat kau tidak ada di rumah"
"Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu. Youngwoon-ah, semenjak 5 hari yang lalu. Setiap aku melewati apartement itu, aku sering mendengar suara teriakan dan isak tangis seorang namja. Dan hal itu membuatku takut"
Youngwoon memeluk tubuh erat dan mengelus punggungku lembut, membuatku merasa tenang serta nyaman. Kurasakan sesuatu yang hangat di pucuk kepalaku, sepertinya Youngwoon mencium pucuk kepalaku. Tanpa sadar aku tersenyum dan balas memeluk Youngwoon.
"Baiklah. Sebaiknya kita memberi tau kan tersebut pada pemilik apartement ini. Atau kau ingin pindah dari apartement ini, chagi?"
"Aniyo, aku sudah merasa nyaman tinggal di sini. Aku tidak ingin pindah lagi"
"Arasseo, kalau begitu sebaiknya kita melapor pada pemilik apartement ini"
Akhirnya aku dan Youngwoon melapor pada pemilik apartement. Ternyata, sang pemilik apartement juga memiliki kecurigaan yang sama denganku. Ia juga menganggap hal tersebut sangat aneh. Lalu ia memutuskan untuk segera menindak lanjutin hal tersebut. Maka, di sinilah kami berada. Di depan pintu apartement tersebut. Lagi-lagi terdengar suara teriakan seseorang dari dalam sana, namun teriakan tersebut tak sekeras saat pertama kali aku mendengar suara itu. Apa yang terjadi?
TOK TOK TOK!
Kami mengetuk pintu apartement itu, namun setelah menunggu cukup lama tak ada yang membuka kan pintu. Akhirnya sang pemilik apartement memutuskan untuk membuka pintu tersebut dengan kunci yang dimilikinya.
CKLEK!
Saat pintu terbuka, tak terlihat seorang pun di sana. Namun lagi-lagi suara isak tangis terdengar. Karena takut, aku segera memeluk lengan Youngwoon dan berdiri di belakangnya. Menyadari ketakutanku, Youngwoon mengelus dengan lembut tanganku yang memeluk lengannya erat.
"Gwenchana, chagiya…"
Kami berjalan memasuki apartement itu dan mengikuti asal suara. Dan di sinilah kami, di depan sebuah pintu berwarna coklat dan terukir 'Minnie' di depan pintunya. Dengan perlahan, Youngwoon membuka pintu tersebut. Suara isak tangis itu semakin jelas.
KRIET~
Akhirnya pintu terbuka dengan lebar. Tampak seorang namja tengah berbaring di atas kasur sembari memeluk sebuah boneka kelinci berwarna pink soft berukuran sangat besar. Namja itu adalah namja yang berambut hitam 5 hari yang lalu. Namja yang mengetuk pintu padahal ia memiliki kunci pintu apartement ini.
"Nugu?" tanyaku lirih pada diriku sendiri.
Namja berambut hitam itu mengeluarkan suara isak tangis. Sepertinya namja itu menangis. Dengan perlahan, aku melepaskan pelukanku pada lengan Youngwoon dan berjalan menghampiri namja itu. Namun saat aku baru berjalan beberapa langkah, sebuah tangan memegang lenganku dan menghalangiku untuk berjalan lebih jauh. Kubalikkan tubuhku dan melihat sosok yang memegang lenganku.
"Youngwoon?"
"Jangan mendekat chagi. Sepertinya namja itu mengalami gangguan kejiwaan" ujar Youngwoon.
Aku kembali melihat ke arah namja itu.
DEG!
Namja itu tengah menatap kami. Tanpa kusadari aku mulai berjalan mundur.
"A-a-a… A-annyeong…" sapaku gugup.
Namja itu masih melihat kami dengan intens, membuatku semakin gugup dan takut.
"Di mana… DI MANA MINNIE?" teriak namja itu.
Karena kaget, refleks aku bersembunyi di belakang tubuh Youngwoon dan memeluk lengannya erat.
"MINNIE! DI MANA MINNIE? BERI TAU AKU!"
Lagi-lagi namja itu berteriak pada kami. Tubuhku bergetar dan pelukanku pada lengan Youngwoon semakin erat.
"Tenanglah… Kami tidak tau orang yang bernama Minnie…" ujar Youngwoon dengan hati-hati.
"BOHONG! KALIAN PASTI TAU DI MANA MINNIE BERADA!"
Sang pemilik apartement berjalan ke arah namja itu dengan perlahan dan berhati-hati.
"Ahjusshi…"
BUG!
Namja berambut hitam itu memukul sang pemilik apartement dengan keras. Tanpa sadar aku menjerit. Youngwoon melepaskan pelukanku dari lengannya dan berjalan mendekati sang pemilik apartement untuk membantunya.
"Youngwoon…"
Setelah cukup lama, akhirnya sang pemilik apartement dan Youngwoon berhasil membuat namja berambut hitam itu tenang. Atau mungkin lebih tepat jika aku mengatakan bahwa Youngwoon berhasil membuat namja itu tak sadarkan diri. Setelah membuat namja itu tak sadarkan diri, kami segera membawa namja itu ke rumah sakit terdekat. Tak lupa kami membawa boneka kelinci yang selalu dipeluk oleh namja itu. Sepertinya boneka kelinci itu sangat berharga bagi namja berambut hitam itu.
"Bagaimana keadaannya, dok?"
"Namja itu kelelahan dan sepertinya ia tidak makan selama beberapa hari. Namun untunglah namja itu tak kehilangan cairan tubuh. Sepertinya ia masih memiliki kesadaran setidaknya untuk minum beberapa gelas air" jelas dokter.
Omo~ Namja itu tidak makan selama 5 hari? Aish~ Pantas saja tubuhnya terlihat lebih kurus dan lemah.
"Gomawo atas informasinya, dok"
"Cheonmanyo"
Selama 2 hari, namja itu tak kunjung membuka matanya. Aish~ Mengapa aku sangat mengkhawatirkan namja itu? Padahal aku tidak mengenal namja itu sama sekali, tapi entah mengapa aku menyayanginya. Atau mungkin hanya merasa kasihan pada namja itu. Entah, aku lebih memilih jika aku menyayangi namja itu dan bukan mengasihaninya.
"Engh…"
Aku tersentak dari lamunanku saat mendengar lenguhan namja yang tengah berbaring itu. Dengan segera, aku menekan tombol yang berada di meja kecil di samping ranjang rawat. Tak beberapa lama, dokter dan beberapa suster datang. Pada saat yang sama, namja berambut hitam itu membuka matanya.
"Gwenchanayo?"
Namja itu tersentak kaget saat melihatku, dokter, dan beberapa suster.
"DI MANA INI? DI MANA MINNIE? MINNIE!" seru namja itu.
"Tolong obat penenang…"
Seorang suster segera memberikan sebuah jarum suntik pada dokter, lalu berusaha untuk menjaga namja berambut hitam itu agar tidak terlalu banyak bergerak. Setelah bergumul cukup lama, akhirnya dokter berhasil menyuntikkan cairan penenang pada namja itu dan membuat namja itu kembali tertidur.
"Dokter…"
"Sepertinya namja itu mengalami gangguan kejiwaan. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaiknya Anda membawanya ke rumah sakit jiwa"
"Tapi…"
"Mianhae. Namja itu lebih baik di bawa ke rumah sakit jiwa"
-Flashback end-
Aku menatap Sungmin-sshi yang berdiri di depanku. Pandangan matanya kosong. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku salah telah menceritakan perihal tersebut pada Sungmin-sshi?
"Sungmin-sshi?" panggilku.
BRUK!
Namja itu jatuh terduduk. Omona~ Apakah Sungmin-sshi baik-baik saja?
"S-sungmin-sshi, gwenchanayo?" tanyaku sembari mensejajarkan pandanganku dengannya.
Sungmin-sshi diam tak menjawab pertanyaanku. Pandangan matanya masih kosong dan air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
"…bal"
"Mwo?"
"Jebal… Beri tahu di mana namja itu berada saat ini… Juseyo" ujar Sungmin-sshi lirih.
"Namja itu saat ini berada di rumah sakit…"
Author POV
Seorang namja duduk di atas ranjang sambil memeluk sebuah boneka kelinci berwarna pink soft yang berukuran sangat besar. Boneka itu sudah tidak sama. Meski bentuknya masih sama tapi warna boneka tersebut sudah kusam dan pudar. Namun hal itu tak membuat namja itu mau melepaskan boneka tersebut. Sekeras apa pun orang-orang membujuk namja tersebut untuk melepaskan boneka tersebut, namja itu tidak sedikit pun melepaskan pelukannya dari boneka kelinci itu. Baginya, boneka tersebut sangat berharga.
"Minnie..."
Namja itu tersenyum senang sembari memainkan tangan boneka tersebut ke kanan dan ke kiri, seolah-olah mengajak boneka kelinci itu bermain.
TOK TOK TOK!
Namja itu tak menghiraukan suara pintu yang diketuk, ia masih tetap sibuk dengan boneka kelinci berwarna pink soft tersebut.
CKLEK
Pintu terbuka dan menampilkan dua orang namja. Yang pertama berambut pirang, sedangkan yang lainnya berambut coklat.
"Hae..." ujar namja berambut pirang.
"Ne, chagi?"
Namja berambut pirang itu menatap namjachingu-nya dengan mata sayu. Ia ingin membantu sahabatnya, namun ia tidak bisa melakukan apa pun. Ia sudah berusaha untuk mencari Lee Sungmin, teman sepermainannya. Namun nihil, ia tidak dapat menemukan Sungmin di mana pun. Ia sudah berusaha menghubungi Sungmin, namun nomornya tidak dapat dihubungi. Ia mencari Sungmin di kota kelahirannya, rumah orang tua-nya, seluruh Seoul. Namun tetap tak ada sedikit pun informasi yang ia dapatkan mengenai Lee Sungmin. Ia bingung. Entah apalagi yang harus ia lakukan untuk menemukan teman sepermainannya dan juga sahabatnya.
"Hae..."
Namja berambut coklat itu mengalihkan perhatiannya dari namja berambut hitam ke arah namja yang berdiri di sampingnya. Ia terkejut saat mendapati Hyukjae, namja yang berdiri di sampingnya tengah berurai air mata. Tidak ada isak tangis yang keluar dari mulutnya, namun air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang putih. Tangan namja berambut coklat itu terulur, mengusap air mata yang membasahi pipi namjachingu-nya.
"Hae..."
Hyukjae memeluk Donghae, namja berambut coklat dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang tersebut. Donghae balas memeluk Hyukjae dan mengelus punggungnya dengan lembut, membuat Hyukjae sedikit merasa lebih nyaman dan tenang.
"Uljima, Hyukkie-ah..."
"Hae... Hiks... Aku tidak kuat, Hae... Hiks..."
"Tenanglah. Kyuhyun pasti akan kembali seperti dulu lagi. Saat ini yang perlu kita lakukan hanyalah membantunya untuk mengembalikan akal sehatnya" ujar Donghae lembut.
"Hiks... Kita suda berusaha untuk mencari Minnie—"
"MINNIE! MINNIE? DI MANA?" seru Kyuhyun tiba-tiba.
Hyukjae yang tengah berada di dalam rengkuhan Donghae, melepaskan pelukannya dan menatap namja berambut hitam. Namja berambut hitam itu tengah memeluk boneka kelinci berwarna pink soft sembari berteriak memanggil nama Minnie.
"Kyu... Kyu, tenanglah" ujar Donghae.
"Minnie... Di mana Minnie? DI MANA?"
Donghae berjalan mendekati Kyuhyun, namun tangan Hyukjae mengenggam lengan Donghae erat sehingga Donghae menghentikan langkahnya.
"Kyu..."
"MINNIE!"
Kyuhyun mulai menangis. Pelukannya pada boneka kelinci tersebut semakin erat.
"Kyu, tenanglah... Bukankah saat ini kau tengah memeluk Minnie?" tanya Donghae.
Kyuhyun menatap Donghae, lalu menatap boneka kelinci yang sedari tadi berada dipelukannya. Sebuah senyuman terukir di wajah namja itu.
"Ne, kau benar. Aku memang tengah memeluk Minnie"
Donghae menghela nafas lega. Ia berhasil membuat Kyuhyun kembali tenang, sungguh melegakan. Ia ingat saat ia pulang dengan tubuh penuh lebam karena tidak bisa menenangkan Kyuhyun. Ia harus dirawat Hyukjae selama 3 hari penuh hingga tubuhnya bisa bergerak dengan normal, meski lebamnya belum hilang sepenuhnya.
"Hae..."
Donghae membalikkan tubuhnya. Hyukjae tengah menggenggam lengannya erat sembari menunjuk ke sebuah arah. Donghae mengikuti arah tangan Hyukjae yang menunjuk pada pintu yang terbuka. Di depan pintu, berdiri seorang namja berambut hitam yang sama seperti Kyuhyun. Namun namja itu bukanlah Kyuhyun. Tubuh namja tersebut kira-kira hanya sebatas telinga Kyuhyun dan lebih berisi. Matanya bulat dan sedikit besar. Bibirnya merah. Pipinya chubby. Namja itu, Lee Sungmin.
"M-m-mi... M-min... M-min-minnie..." panggil Hyukjae terbata.
Sungmin berjalan mendekati Kyuhyun yang tengah memeluk boneka kelinci dengan perlahan. Ia tersenyum, namun bukan senyum tulus yang menghiasi wajahnya. Senyum yang menghiasi wajah Sungmin adalah sebuah senyum yang dipaksakan, sebuah senyum tak berusaha Sungmin ukir di wajahnya.
"Kyu... Kyuhyunnie..." panggil Sungmin lirih.
Kyuhyun yang sedang memeluk boneka kelinci, mengalihkan perhatiannya dan melihat ke arah Sungmin. Saat melihat Sungmin, boneka kelinci yang berada di pelukan Kyuhyun terjatuh. Mata Kyuhyun melebar dan tubuhnya menjadi tegang.
"Kyu..."
Sungmin segera memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat. Air matanya menetes dan membasahi baju Kyuhyun.
"M-m-mi... M-min-minnie... Minnie..." ujar Kyuhyun.
Dengan perlahan, tangan Kyuhyun mulai terangkat dan balas memeluk Sungmin dengan erat. Sungmin yang merasakan hal itu, semakin meneteskan air matanya. Akhirnya, ia merasakan kembali kehangatan rengkuhan Kyuhyun.
"Kyu, bogoshipoyo..."
Sungmin mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun.
"Minnie… Mengapa kau pergi?"
TBC
xD
Ketemu lagi...
Hehehehe... Mianhae, apakah udah cukup cepet update'nya?
Author coman bisa update akhir minggu, mianhae...
:3
Aku ga nyangka byk yg baca FF abal'ku
Gomawo ntk semua yg baca dan review...
Ntk balesan review akan saya balas lewat PM kalo chingu login, kalo ga bakal aku bales di chap selanjutnya...
Balesan review :
- Appa males login XD : Appa... Aku udah bales yah reviewnya di FB :P Jd aku ga osah bales lg ga apa" yahhh...
- Mimiyeon : khekekeke... cheonmaneyo chingu xD Gomawo atas reviewnya
- : =.= Eonnie knp ga pake nama? tp gpp.. Gomawo eon xD #hug
- YukiLOVESUNGMIN : Gomawo ^^ Alasan knp Kyumin Real? Sebenernya kalo boleh, aku ga mau jwb... Mereka real krn mereka emank real... yah, sama kayak cinta itu ga perlu alasan. Aku menganggap kyumin itu real jg tanpa alasan, aku coman yakin kalo mereka itu real. Ntk dominan, aku ga tau... Soalnya mereka blom ngasih tau aku #plak! Tp yg pasti mereka sama" memiliki peranan bagi yg lainnya... Salam kenal jg... Gomawo atas reviewnya
- MegaKyu : udah lanjut chingu :) Gomawo atas reviewnya
- Meong : alasannya ada di chap selanjutnya chingu :) nanti pasti terungkap kok... Gomawo atas reviewnya
- cho yui chan : gomawo :) Khekekeke... Kasian Kyu appa, chingu... Nanti kalo aku terlalu menyiksa Kyu appa, aku bisa" dipecat ga boleh bikin FF Kyumin lg sama Minnie eomma... Gomawo atas reviewnya
- KyuMin aegyanya KyunnieAppaSamaMinnieUmma : gomawo atas dukungan dan reviewnya :) Semoga chap ini jg seru dan sesuai harapan
- aiko okinawa : udah lanjut chingu :) Gomawo atas reviewnya
- : nuguya? ne, Kyu emank kehilangan kewarasannya di sini... Gomawo atas reviewnya
- Chikyumin : khekekeke... kok seneng chingu kalo Kyu appa jd gila? Gomawo atas reviewnya
- Saeko Hichoru : Kyu jg gila, chingu xD Minnie pergi ke suatu tempat yg ga diketahui siapa pun kecuali aku sama Tuhan... khekekeke... Gomawo atas reviewnya
- evilkyumin : udah update chingu :) Gomawo atas reviewnya
- park soohee : Gomawo :) Udah update chingu dan gomawo atas reviewnya
- sweet haehyuk : khekekeke... melankolis? =.= di mana bagian melankolisnya chingu? Gomawo atas reviewnya
- Dina LuvKyumin : udah update chingu :) Gomawo atas reviewnya
Sekali lagi, terima kasih banyak atas reviewnya
gomawo udah ada yg like dan alert FF'ku
Mianhae, kalo ga sesuai harapan chingudeul
Sampai jumpa di chap selanjutnya xD
REVIEW PLEASE...
