A/N: Saya senang banget karena Nue (yg merikues cerita ini) bilang kalau dia suka ceritanya. Semoga untuk seterusnya ya, hun ^^ Saya usahakan cerita ini akan terus menarik. Mudah2an. Amin. Mengenai yang penasaran dengan Grimmjow, kalian bisa tahu nanti kok ;) Dan bagi yang udah tau, keep your mouth shut mmkaaay~? Daaaan... Selamat datang untuk kyub No yokou-chan! ^_^)/ Saya juga suka kalo Ichi udah jadi rebutan para seme. Muahaha... Makanya, jangan heran kalo ngedadak di beberapa cerita saya muncul harem *plak*

Oke, kayaknya cukup segitu aja saya ramblingnya, udah kepanjangan *swt* Sebaiknya sekarang saya duduk manis, dan menantikan dgn hati berdebar mengenai tanggapan kalian untuk chapter ini ;)

Thank you for the reviewers: Platoniclus Nue / iztha dark neko / astia aoi / Aoi LawLight / ndoek / rumput langit / Chibi Dan / Zanpaku nee / D / Pichachan / kyub No yokou-chan / Aoi Namikaze / GrimmIchiLoverz / katskrom / Ryuu dan kepada yang lainnya yang sudah menambah cerita ini ke daftar alert dan fave kalian~ Cinta deh~

Warning: Yaoi, boy x boy relationship n LEMON, alternate universe, Demon/Angle style, mature content, rape, light bondage, gore, dan... kemungkinan OOC selalu ada. Beware~

p.s Paragraf yang dicetak miring (italics) merupakan isi dari mimpi Ichigo, dialog yg dicetak miring (italics) dan di-bold merupakan suara yg menggema di kepala Ichigo

Disclaimer: I don't own Bleach. It's Kubo Tite. I used it just for fun...

.

.

Chapter Two

Ketika berada di alam mimpi, ia yakin benaknya tidak akan pernah mampu berpikir. Tapi sekarang rasanya ia bisa berpikir cukup jauh. Dari balik kelopak matanya yang terasa berat dan penglihatannya yang agak buram akibat bulu mata keoranyean yang juga menutupi, kedua iris coklatnya mengintip. Pandangan yang hanya tertuju kepada satu tujuan, keterpanaan, tidak sanggup ia berpaling.

Warna putih keperakan yang mendominasi, yang kemudian diselimuti hitam yang menggelepak... sayap. Ini memang mimpi. Di dunia ini, dunia nyata, tidak mungkin ada seseorang yang hidup memiliki sayap hitam bagaikan sayap kelelawar, namun lebih indah, lebih kokoh, mengikuti irama gerakan yang diberikan oleh tubuh yang menopang. Kulit yang begitu putih—bukan putih albino—melainkan seputih porselain. Licin, dan memiliki bayang keabuan yang bukan hanya menimbulkan kesan ngeri bagai warna mayat hidup, tetapi juga kesejukan yang begitu dicari ketika bumi menduduki musim panas.

Warna salju yang dirindukan dan memiliki banyak kenangan.

"Istirahatlah, Aibou. Aku sudah menyelesaikan semuanya."

Jemari dengan kuku-kuku berwarna hitam membelai lembut kepalanya, memberikan ketenangan yang rasanya pernah ia terima sebelumnya. Membuatnya merasakan sebuah kerinduan yang tidak ia ketahui pangkal ujungnya.

Benar. Apa yang tengah dilihatnya kini ini hanyalah mimpi belaka. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki suara sedingin dan sedistorsi dari suara yang kini tengah membelai gendang telinganya. Bagaikan orang yang berbicara di dalam air. Sulit untuk dilupakan, dan hanya satu kata saja sudah sanggup membuatnya terus mengingat.

Padahal rasa sakit di tubuhnya sudah menghilang, tetapi kelopak matanya masih terasa begitu berat. Tidak sanggup lagi ia tahan. Ia biarkan kelopak matanya menutup, memutus pandangannya yang tengah mencari wajah seseorang yang—dalam skenario mimpinya—menolong dirinya.

Ada satu hal yang terpatri di hatinya sebelum ia kehilangan kesadaran.

Kedua iris emas dikelilingi sclera hitam menatap balik ke arahnya. Tubuhnya gemetar, merinding dalam konteks yang... berani ia katakan—vulgar. Ia yakin dirinya merintih sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

For God's sake, Kurosaki Ichigo tidak pernah merintih.

XOXOXO

Hal pertama yang ia lakukan ketika kesadaran perlahan-lahan mulai menyelimutinya adalah mengendus. Harum kopi panas yang baru saja dikeluarkan dari mesin menyerang indera penciumannya dan cukup menggelitik. Mengerang, Ichigo berusaha sekuat tenaga membuka kedua kelopak matanya yang tidak mau menurut, masih ingin terus terpejam tetapi pergerakan dan suara langkah yang beradu dengan lantai kayu yang berada tidak begitu jauh darinya membuatnya ingin membuka kedua matanya untuk mengetahui siapa yang membuat suara-suara itu.

Menggerakkan tangannya untuk menggosok kedua matanya, Ichigo membeku. Bisa ia rasakan ada sesuatu yang mengurung tubuhnya, dan ia yakin sesuatu itu bukanlah tali... tetapi sesuatu yang lebih membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Kami-sama... Tidak. Tidak. Tidak. Tidak mungkin ia terlibat dalam skenario tipikal orang mabuk semacam itu sekarang.

Was-was Ichigo membuka kedua matanya perlahan, dan bisa ia rasakan nafasnya tercekat ketika ia berhadapan langsung dengan tubuh seseorang—lebih tepatnya dada telanjang seorang pria. Ya. Pasti pria, karena payudaranya kempes. Dan sekarang ia ketahui kalau 'sesuatu' yang mengurung tubuhnya itu adalah dua tangan yang panjang, yang melingkari tubuhnya, seolah tidak ingin melepaskannya. Atau lebih buruk lagi, menganggapnya guling—jika kaki yang melingkar di atas tubuhnya itu pun merupakan sebuah indikasi khusus.

Dahi berkerut akan pikirannya yang terakhir itu, Ichigo yang tadinya berniat menghela nafas lega karena ia masih mengenakan bajunya dengan lengkap, menggeliatkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari dekapan siapa pun pria yang tengah mendekapnya itu. Hembusan nafas ia keluarkan dengan kesal ketika apa yang dilakukannya itu hanya membuat dekapan di sekeliling tubuhnya mengencang, dan pria yang mendekapnya itu nampak menggumamkan sesuatu sebelum kemudian kembali mendengkur.

Langkah kaki yang sempat membangunkannya sebelum ini bisa ia dengarkan semakin lama semakin mendekat, dan tanpa menengok, bisa ia rasakan kehadiran seseorang lainnya di belakangnya. Tidak berani menengok, Ichigo hanya bisa diam membatu pada posisi berbaringnya dan hanya membelalakkan mata ketika sebuah kaki menendang tubuh pria di hadapannya sampai menjengkang jatuh dari ranjang.

Di tengah kekagetannya, Ichigo melihat bagaimana pria yang sebelumnya ini tidur sambil mendekapnya itu bangun sambil melihat ke kanan dan ke kiri, mengangkat bahu, lalu mengorok kembali di lantai. Seolah barusan ia tidak ditendang secara kasar dari atas ranjang.

Satu yang membuat Ichigo terperangah, adalah perasaan bahwa ia pernah melihat pria bersurai coklat sebahu itu sebelumnya.

"Kurasa Starrk menganggapmu seperti Lily kalau sampai memelukmu begitu."

Bersamaan dengan ranjang yang berderik karena beban bertambah, Ichigo tersentak kaget. Bisa ia rasakan kalau kedua matanya saat ini membulat lebar, dan dalam sekejap kedua telapak tangannya basah karena keringat dingin. Tidak mungkin. Tapi, suara itu adalah suara yang sudah tertanam begitu dalam di dalam diri seorang Kurosaki Ichigo yang tidak mungkin dilupakannya begitu saja, walau sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya. Suara yang kasar dan berat dengan aksen serak, tetapi juga sekaligus dalam menembus kulit, menghujam tulang-belulangnya hingga membuatnya tidak bisa bergerak. Membuatnya bertingkah memalukan, bagaikan tikus yang terpojok, hanya bisa gemetar di sudut ruangan.

Jangan menoleh.

Jangan menoleh...

"Kopi?"

Hangat di pipinya bisa ia tebak merupakan hangat yang berasal dari gelas yang berisi kopi di dalamnya. Aroma biji kopi yang masih begitu segar tanpa disadari membuat perutnya berbunyi, mengheningkan ruangan selama beberapa saat, sebelum kemudian ledakan sebuah tawa menggema dan membuat wajah Ichigo bersemu merah. "Urusai...!" desisnya lemah. Ia merasa begitu malu karena tanpa disadari, perutnya itu sudah merusak suasana yang sempat terbangun sebelum ini. Suasana di mana kepalanya terasa begitu pening, sekaligus ringan.

Dengan kata lain, bukan suasana yang tidak ia sukai juga, walau cukup ia hindari selama beberapa waktu ini.

"I get it. I get it..." kekehan, "Makan dulu, baru kopi." Ranjang kembali berderik. Beban tambahan yang sebelumnya ada, kini berkurang diikuti dengan suara langkah kaki yang menjauh, meninggalkan Ichigo dalam pikirannya sendiri. Menyisakan aroma harum kopi di dalam ruangan yang berasal dari segelas kopi hangat yang kini diletakkan di sebuah meja kecil yang berada tepat di samping ranjang.

Yakin tidak adanya lagi kehadiran sosok lain—kecuali pria yang tengah mendengkur pulas di atas lantai sana, perlahan Ichigo menggerakkan tubuhnya, menatap ke arah langit-langit kamar sebelum kemudian mendesah ringan. "Fuck!" merutuk pelan, ia pun bangkit dari posisinya dan melihat ke sekeliling ruangan. Sudah ia duga kalau ia kini berada di dalam ruangan yang tidak ia kenali. Mungkin merupakan kamar milik pria yang kini tertidur di lantai, atau milik...

Gerakkan kedua bola mata coklat Ichigo terhenti pada sebuah titik di atas permukaan ranjang yang seprainya agak tergulung, pertanda bahwa seseorang baru saja duduk di sana.

Ragu-ragu Ichigo mengulurkan tangan, menyentuhkan telapak tangannya secara ringan pada bagian permukaan seprai tersebut, lalu kemudian menghela nafas merasakan sisa kehangatan di sana. Hahh... Memang apa yang ia harap untuk dirasakan? Rasa dingin yang membuktikan kalau Grimmjow itu bukan manusia? Apa boleh buat jika pemikiran semacam itu berkelebat di benaknya, karena setiap kali menatap lurus kepada kedua iris biru tajam Grimmjow, Ichigo selalu merasa bahwa pemuda itu bukanlah manusia. Kesannya terlalu... surreal.

"Kalau kau begitu ingin menyentuhnya, bukankah lebih baik menyentuhnya secara langsung?"

Suara yang tiba-tiba terdengar di dalam ruangan yang hening membuat Ichigo terlonjak dan menjeritkan "Eep!" karena kaget. Dengan wajah berwarna merah sesuai dengan ejekan beberapa orang kepadanya selama ini, Ichigo memalingkan wajah dan menatap dengan dahi berkerut ke arah Starrk yang bangun dari lantai, mengambil posisi duduk di tepian ranjang sambil menguap lebar.

"Kau tahu, kalau aku tidak bisa menilai orang dengan baik, aku akan mengira kalau kau menyukai Grimmjow." Starrk bergerak dari posisinya hingga tubuh belakangnya bersandaran pada headboard ranjang. Secara tidak sengaja posisinya itu jadi menunjukkan dengan jelas segala lekuk tubuh yang ada pada bagian torsonya pada Ichigo yang hanya bisa terdiam menatap dengan iri.

Ugh. Seberapa pun seringnya ia mengangkat beban, rasanya tubuhnya tidak pernah terbentuk sampai seperti itu.

Sepertinya lebih beruntung menjadi bukan orang Jepang ya?

Iya 'kan? Namanya saja "Starrk", itu bukan nama orang Jepang. Begitu juga dengan Grimmjow...

"Lihat. Kau memikirkannya lagi 'kan?"

Sontak mengembalikan pandangan ke arah sepasang iris keabuan milik Starrk, Ichigo mengernyitkan dahi tidak mengerti, "Apa maksudmu?"

"Grimmjow. Kelihatannya kau sering sekali memikirkan dia, Kurosaki." sahut Starrk enteng dengan menaikkan sedikit satu alisnya. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, kalau aku tidak tahu dengan benar, aku akan mengira kau memiliki hati padanya."

Tidak bisa menahan rona merah yang melukis wajahnya, Ichigo merutuk dan mengambil segelas kopi yang mulai mendingin dari atas meja kecil, menenggaknya sekaligus hingga ampasnya. Semua itu ia lakukan untuk menyembunyikan rasa malunya. "Tsk. Apa itu? Kau mengatakannya seolah bisa membaca pikiranku saja!" Termanggu sesaat, Ichigo yang sempat mengalihkan perhatian dari Starrk, kini mengembalikan arah pandangnya pada sang pria karena menyadari sesuatu. "Tunggu... Bagaimana kau tahu namaku?" Tidak mungkin 'kan kalau Grimmjow bercerita mengenai dirinya kepada Starrk?

... Iya. Tidak mungkin ah.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang, dan ketika Starrk menaikkan sedikit sudut bibirnya, Ichigo kembali mengerutkan dahi. "Kelihatannya kau benar-benar terlalu fokus terhadap Grimmjow. Aku duduk tepat di belakangnya lho."

Kedua alis terangkat tinggi sementara mulutnya terbuka, Ichigo menunjuk ke arah Starrk dengan menggunakan telunjuknya. Berkali-kali mulutnya bergerak nampak ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tidak kunjung keluar. Bagaimana ia bisa lupa? Starrk datang ke Karakura High School pada waktu yang bersamaan dengan Grimmjow. Murid baru yang di hari pertama langsung masuk catatan khusus para guru karena selalu tertidur ketika jam pelajaran, saat istirahat... pokoknya selama di sekolah, yang Starrk lakukan hanya tidur. Baru bangun ketika lapar atau merasa ingin ke toilet. Banyak orang menduga kalau pemuda bersurai coklat sebahu itu memiliki narkolepsi.

Dan ketika kata "narkolepsi" itu hinggap di benak Ichigo, kedua iris coklatnya menangkap Starrk kembali memejamkan mata, dan kedua telinganya mendengar suara dengkuran panjang.

Starrk kembali pulas tertidur.

Padahal tidak sampai semenit lalu ia masih berbicara.

Mendengus, Ichigo meraih ponsel yang biasanya ia letakkan di saku celana seragamnya—atau begitulah yang ia pikirkan, karena ketika memasukkan tangan ke saku celana, untuk pertama kalinya Ichigo menyadari kalau celana seragamnya sudah berubah menjadi celana bahan yang panjangnya selutut, mirip dengan celana basket. Ia terdiam selama beberapa saat, lalu sontak meraih baju yang dikenakannya, yang juga berubah menjadi t-shirt yang tidak ia kenali dan berukuran terlalu besar di tubuhnya.

What the—?

"Aku mengganti bajumu karena kotor oleh tanah dan terdapat beberapa noda darah."

"Eh?" Mengangkat kembali kepalanya yang barusan menatap ke arah t-shirt yang dikenakannya, Ichigo melihat Grimmjow berjalan mendekatinya dengan membawa sebuah piring dan segelas air mineral. Piring dan gelas itu diletakkan kembali di atas meja kecil di sebelah ranjang, bersebelahan dengan gelas kopi yang kini sudah kosong.

"Kalau kau bingung dengan keberadaan seragammu, sekarang ini sedang ada di dalam pengering. Sekitar 30-40 menit lagi akan kering total." lanjut Grimmjow sambil menunjukkan jempolnya ke arah luar kamar, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku dan Starrk menemukanmu tergeletak di sebuah gang dalam keadaan pakaian yang kotor. Kupikir kau habis berkelahi atau baru saja kecelakaan, tapi..." Menghentikan kata-katanya selama beberapa waktu, Grimmjow menggerakkan kedua iris birunya ke arah tubuh Ichigo yang tidak tertutup kain pakaian.

Menyadari arah tatapan Grimmjow, Ichigo menggeliat tidak nyaman dalam duduknya. Remaja bersurai oranye itu mengalihkan perhatiannya ke arah makanan di atas piring yang masih mengepul, berharap apa yang ia pandang saat itu bisa mengurangi intensitas tatapan yang diberikan Grimmjow. Tapi, nihil. Ichigo masih bisa merasakan kuatnya pandangan Grimmjow, dan ia tidak sanggup menahan lagi getaran yang kemudian menggetarkan tubuhnya perlahan.

"... Kelihatannya kau tidak terluka sama sekali."

Perkataan pemuda bersurai biru itu menarik perhatian Ichigo hingga membuatnya kembali menengadahkan kepalanya, menatap bingung pada Grimmjow. Kalau ia pikirkan lagi, ia memang tidak merasakan lagi rasa sakit yang sempat ia rasakan sesaat sebelum kehilangan kesadaran. Nafas Ichigo tercekat ketika pemikirannya itu membawanya kembali pada apa yang ia lihat, yang sebelumnya ia anggap mimpi.

Ia ingat mendengar sebuah suara.

Ia ingat melihat tangan bercat kuku hitam dengan kulit seputih porselain yang terjulur padanya.

Dan ia ingat bagaimana rasanya detak jantungnya seolah berhenti ketika bertatapan langsung dengan sepasang iris emas yang dikelilingi oleh sclera hitam, yang jelas-jelas bukan mata manusia.

Mengangkat lengan bajunya, Ichigo memeriksa luka yang seharusnya ada di sana, lalu berlanjut pada bagian perut, dada, bawah leher, kaki, paha... nihil. Tidak ada bekas luka yang seharusnya ada. Yang seharusnya saat ini sudah mulai berwarna keunguan.

Tidak mungkin...

Ichigo menggelengkan kepala, mengusir pikirannya yang hendak menyatakan kalau apa yang ia lihat sebelum kehilangan kesadaran itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Hal yang benar-benar ada dan terjadi.

Tidak mungkin.

Pokoknya itu hanya mimpi belaka.

Sebab tidak mungkin ada orang yang memiliki sayap, apalagi sayap kelelawar.

Ini bukan dunia Angels and Demons di mana manusia-manusia bersayap merupakan hal yang lumrah.

Otaknya pasti sedang mempermainkan dirinya saat ini.

Menghelakan nafas panjang, sekali lagi Ichigo meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lihat itu hanya mimpi, hanya halusinasi. Mungkin memang ada orang yang menolongnya saat itu, dan pikirannya yang sudah setengah sadar, sudah dengan seenaknya menambahkan berbagai bumbu agar penyelamatan itu nampak lebih dramatis lagi.

Tapi, bagaimana ia bisa menjelaskan mengenai lukanya yang menghilang?

Kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri, Ichigo sama sekali tidak menyadari kalau semenjak tadi Grimmjow terus memperhatikan gerak-geriknya dengan penuh kalkulasi. Seolah pemuda bersurai biru itu menunggu waktu yang tepat untuk menerkam. Ia menggerakkan kedua iris birunya, menangkap Starrk yang ternyata sudah kembali bangun dan juga menatap Ichigo dengan berbagai perhitungan tersirat di kedua mata keabuannya. Mereka kemudian saling berpandangan, dan Starrk mengangguk ke arahnya, yang ia balas dengan mengembalikan pandangan kepada Ichigo yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.

"Makanlah makananmu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." sahut Grimmjow yang membuat Ichigo terhenyak kaget.

"I, Iya."

XOXOXO

Susah payah ia membuka kedua matanya, saking nyamannya ranjang yang kini ia tiduri. Lembaran bed cover di bawahnya begitu lembut dan tebal, cukup untuk membuatnya tidak membeku walau pun tidak menggunakan selimut di tengah hujan salju yang sedang turun. Mengerang pelan ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, merasakan dahinya berkerut ketika tidak ada suara perkakas yang biasanya selalu terdengar dari berbagai sudut rumah sederhananya itu.

Menggeliat sejenak, ia kemudian bangun dari posisi tidurnya, dan berjalan keluar kamar melalui pintu yang sebelumnya sengaja tidak ia tutup. "Lily?" panggilnya pelan. Tidak adanya sahutan walau pun hanya suara derikan atau gerungan, membuat dahinya kembali berkerut. Perasaannya mulai was-was ketika tidak sekali pun bisa ia tangkap hawa kehadiran penghuni lainnya.

Dengan langkah yang dipercepat, ia berjalan menuju dapur dan beralih ke ruang keluarga ketika tidak menemukan siapa pun di sana.

"Lily?" Ia kembali mencoba memanggil, tapi masih juga belum ada balasan. "Lilynette?"

Kepanikan mulai menghantui, membuatnya mulai berlari mengitari setiap sudut rumah. Beberapa hari lalu terjadi penyerangan di desanya ini. Walau pun para penyerang sudah terusir berkat kerjasama keamanan desa dan beberapa warga lainnya, tetap tidak akan dipungkiri jika para penyerang itu kemungkinan kembali datang menyerang. Dan yang terburuk, menyerang rumahnya ketika ia sedang tidur dan melukai keluarganya satu-satunya.

Tapi, kalau memang ada penyerangan, ia ragu kalau dirinya yang biasanya memang selalu susah dibangunkan akan tidak terbangun begitu saja. Karena instingnya untuk pertarungan masih berada dalam konteks yang runcing dan sensitif.

Ia masih bisa mengantisipasi serangan mendadak walau pun tengah tertidur.

"LILYNETTE!"

"ARRGH! BERISIK!"

Tidak sempat ia menghindar ketika sebuah buku tebal terlempar ke arahnya dan dengan telak mengenai hidungnya, membuatnya meringis dan sedikit air mata menetes di tepian matanya.

"TIDAK BISAKAH KAU DIAM? ! Aku hari ini 'kan tidak mengganggu tidurmu, jadi biarkan aku tidur siang juga!" Kepala dengan surai hijau lemon yang muncul dari balik bongkahan selimut di atas sofa, dan wajah penuh urat kekesalan yang bertonjolan yang ditujukan ke arahnya, membuatnya menghela nafas lega walau hidungnya kini mengeluarkan darah karena benturan keras barusan. "Sekarang diam! Aku benar-benar capek setelah menemani Nel bermain tahu!" Gadis bersurai hijau lemon itu kembali bersungut-sungut sambil masuk lagi ke dalam selimut dan menunjukkan punggung ke arahnya.

Mengambil buku tebal yang barusan dilemparkan ke arahnya yang kini tergeletak di lantai, ia kemudian meletakkannya di atas bupet di sebelahnya. Saat itulah ia mendengar bisikan dari Lilynette yang ia yakini membuatnya tersenyum bodoh.

"Aku baik-baik saja, Nii-san."

XxxxxxxX

Suara alarm yang berbunyi nyaring pagi itu kembali membangunkan Ichigo. Mengerang kesal ia menyampingkan posisinya dan menekan tombol alarmnya hingga mati. Surai oranye pendek yang terlihat lebih berantakan daripada biasanya muncul dari balik selimut, sementara kedua iris coklat yang masih menunjukkan rasa kantuk mengerjap beberapa kali sebelum kemudian menatap langit-langit kamar. Memikirkan hal yang baru saja ia impikan, Ichigo hanya bisa mengernyitkan dahi dalam kebingungan. Ia tidak mengenal siapa gadis yang baru saja muncul dalam mimpinya, ia pun tidak mengenal wilayah di mana mimpinya itu terjadi, tapi kelihatannya dirinya di dalam mimpi itu mengenal dengan baik seluk-beluk rumah yang ada.

Baru kali ini dirinya memimpikan seseorang yang tidak ia kenal dan bisa terus ia ingat rupanya ketika ia sudah bangun. Padahal biasanya, setiap kali ia memimpikan seseorang yang terasa asing, maka ia akan melupakan bentuk wajahnya ketika ia bangun, dan hanya mengingatnya sebagai sesosok figur yang berbayang atau bahkan hitam.

Namun, yang paling penting dari kesemuanya itu adalah bahwa dirinya merasa pernah mendengar nama "Lily" di suatu tempat sebelumnya.

Menghela nafas, Ichigo bangkit dari posisinya dan memutuskan untuk melupakan mengenai 'bunga tidur'nya. Sambil berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, ia melucuti baju yang ia kenakan sehingga ketika kakinya menginjak lantai keramik kamar mandi, ia sudah siap langsung masuk ke dalam shower stall.

Sementara tubuhnya bergerak secara otomatis dalam membersihkan diri, benaknya kembali mengingat malam ketika Grimmjow mengantarkannya pulang. Saat itu, pemuda bersurai biru itu hanya diam saja selama dalam perjalanan dan baru membuka suara ketika bertemu dengan Isshin yang menunggu kedatangan anak satu-satunya di depan rumah—yang seperti biasanya langsung menerjang Ichigo walau pun baru ujung rambutnya saja yang terlihat di ujung jalan. Saat itu Ichigo yakin ekspresi Grimmjow sempat berubah karena kaget, hanya beberapa detik, tapi ia sangat yakin akan hal itu.

Itu adalah kali pertamanya ia melihat ekspresi sang pemuda yang begitu lepas dan tidak ditutup-tutupi. Sempat ia dibuat sanggup untuk tidak mempedulikan Ayahnya yang menyusutkan ingus ke lengan bajunya sambil merengek mengatakan kalau Ayahnya itu sangat khawatir karena ia tumben-tumbenan belum pulang juga walau pun matahari sudah terbenam.

Ichigo juga ingat, kalau setelah Grimmjow mengatakan alasan mengapa ia tidak cepat pulang—tentu bukan alasan yang sebenarnya, atau Isshin akan langsung memesan bodyguard untuk menjaganya 24/7 dan ia tidak mau itu. Ayahnya itu sering kali memang terlalu overprotektif karena ia merupakan anak satu-satunya—Ichigo langsung masuk ke dalam kamarnya dan tertidur karena ia kembali merasakan lelah. Ia bahkan tidak sempat mengganti bajunya, sehingga ia tertidur masih dengan seragam melekat di badannya.

Sebuah sentuhan ringan di tengkuk menyadarkan Ichigo dari lamunannya. Sontak ia langsung berbalik dan mengerutkan dahi ketika menyaksikan tidak ada siapa pun di belakangnya. Mengangkat bahu, ia melanjutkan mandinya dan mematikan keran setelah dirasa cukup. Menutup acara mandinya dengan menyikat gigi, Ichigo langsung berganti pakaian dengan seragamnya yang lain (seragam yang ia kenakan sebelumnya, ia taruh di tumpukan cucian lainnya untuk dilaundry nanti). Buru-buru ia menuruni tangga rumahnya ketika menyadari waktunya semakin sedikit, atau ia akan terlambat, kedua alisnya terangkat tinggi ketika melihat memo yang ditempelkan di pintu dapur.

Tulisan cakar ayam yang ada di kertas memo tersebut langsung menunjukkan padanya bahwa Ayahnya lah yang menulisnya.

.

Good morning, My beautiful son~

Ketika kau bangun, kau pasti bingung kenapa Ayah tidak memberikan sneak attack padamu seperti biasanya. Tentu hal itu karena Ayah tidak ada di rumah ketika kau bangun. Ayah mendapat telepon pagi-pagi sekali dari rumah sakit, katanya keadaan darurat dan kehadiran Ayah dibutuhkan di sana. Jadi, pagi ini makanlah sendiri. Jangan sampai kau tidak makan hanya karena Ayah tidak menemanimu ya! Sarapannya sudah Ayah siapkan di atas meja. Kalau terlalu dingin, kau bisa menghangatkannya terlebih dahulu dengan menggunakan microwave, My Beautiful Son~!

Kecupan hangat pagi hari dari: Ayahmu yang paling mencintaimu~ 3

p.s: Kalau ternyata nanti Ayah diharuskan bermalam di rumah sakit lagi, Ayah akan menghubungi Mariko-san untuk menemanimu.

.

Tidak bisa menahan erangan sebal ketika membaca pesan terakhir dari sang Ayah, Ichigo meremas-remas kertas memo tersebut sebelum kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah di dapur sambil bersungut-sungut. Dirinya ini sudah SMA, tapi masih saja Isshin menganggapnya sebagai anak-anak yang membutuhkan kehadiran pengasuh ketika orang tua tidak ada di rumah.

Memikirkan kehadiran wanita tua yang selalu dipanggil menemaninya setiap kali Isshin tidak bisa pulang ke rumah dalam waktu lebih dari sehari, Ichigo langsung merasa nafsu makannya menghilang. Karena itu, ia memasukkan sarapannya ke dalam kulkas dan langsung keluar rumah untuk kemudian menuju ke sekolah.

Selama di jalan, ia terus memikirkan cara bagaimana bisa menghindar dari urusan 'pengasuh' ketika Ayahnya itu memang tidak bisa pulang. Akhirnya ide di kepalanya stuck di bagian ia bermalam di rumah Renji. Setidaknya si rambut merah yang berisik itu jauh lebih baik daripada mendengarkan dongeng masa lalu yang sering diutarakan oleh pengasuhnya yang sudah mulai pikun.

Berbelok di salah satu tikungan jalan, Ichigo kembali dibuat mengerang ketika melihat seorang pria yang memakai haori hijau dan topi putih bergaris hijau berdiri di salah satu halaman rumah yang ada di depannya tengah asik mengipas-ngipaskan kipasnya ke wajah. Padahal cuaca pagi itu sedang dingin. Menggerutu di dalam hati sambil melanjutkan langkahnya, Ichigo berharap pria itu terlalu asik bermain dengan kipasnya untuk menyadari kalau dirinya lewat di depannya.

Tapi, sayangnya yang namanya nasib tidak pernah sebaik itu.

"Ohayou, Ichigo-san~!"

Walau sebenarnya ingin langsung lari saja, tapi harga dirinya sama sekali tidak membiarkan dirinya lari dan malah sebaliknya, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Urahara Kisuke yang saat ini tengah menyembunyikan cengirannya di balik kipasnya saat melihat death glare yang dilayangkan oleh Ichigo kepadanya.

"Apa yang kau inginkan, Urahara?"

"Oh. Aku hanya menyapamu saja kok, Ichigo-san."

Dari balik pernyataan Urahara itu, Ichigo seolah bisa mendengar seringaian yang terukir. Karena itu, ia menggeram pelan dan semakin mengerutkan kedua alisnya, "Kalau memang tidak ada yang kau inginkan dariku, kau biasanya hanya akan melambai dan menggodaku saja. Bukan dengan mengucapkan 'ohayou', 'konnichiwa', atau bahkan 'kobanwa'." Kalau belum terlalu mengenal sang pria 'hat and clogs' di hadapannya ini, memang akan menganggap bahwa sapaan barusan hanyalah sapaan biasa. Tapi, bagi Ichigo yang sudah mengenal sang pria semenjak kanak-kanak (karena Urahara merupakan sahabat baik dari Isshin), mudah baginya untuk menebak kapan pria itu memang hanya menyapanya saja, atau kapan pria itu menginginkan sesuatu darinya.

Dan saat ini ia anggap kemungkinan yang kedualah yang dimaksudkan oleh sang pria.

"My... My... Intuisimu semakin bagus saja, Ichigo-san." Terdengar tawa kecil dari balik kipas yang menutupi mulut Urahara. Pria itu kemudian melangkah mendekat kepada Ichigo dalam langkah yang nampak mencurigakan bagi sang remaja, sehingga Ichigo mengambil langkah mundur, "Aku memanggilmu hanya karena ingin mengendusmu saja kok."

Urat kekesalan yang muncul di kening Ichigo menandakan bahwa dirinya sudah sangat kesal karena sang pria lagi-lagi menghentikannya untuk hal yang tidak masuk akal. Seriously, mengendus? Sebelumnya Urahara bahkan bilang ingin mengambil sample air maninya untuk urusan percobaan yang tengah dilakukannya. Tentu saja, Ichigo menolak saat itu. Dan sekarang juga ia sudah bisa dipastikan menolak.

Siapa yang tahu apa yang akan pria itu lakukan jika ia sampai menyanggupi permintaan itu.

Pengalaman ketika kecil di mana punggungnya ditempeli kertas bertuliskan 'cium aku' yang membuat banyak orang mendadak menciumnya di hari itu, membuat Ichigo semakin berhati-hati dan menjaga jarak aman dengan Urahara. Sekarang ini ia sudah besar, bukan anak kecil yang bisa diiming-imingi robot-robotan untuk bisa disentuh.

Menarik topi yang selalu dikenakan oleh Urahara hingga menutupi wajah yang bersangkutan, Ichigo kali ini benar-benar mengambil langkah seribu menjauh tanpa melihat ke belakang lagi. Yang paling menyebalkan, Ichigo tidak pernah bisa untuk tidak berhenti jika Urahara memanggil namanya. Ia selalu merasa kalau suatu waktu bisa saja pria itu benar-benar membutuhkan bantuannya. Makanya, ia selalu mendengarkan dahulu apa yang pria itu inginkan, baru kemudian memutuskan akan kabur atau tidak.

Merepotkan.

"Mbfh!" Keseimbangan Ichigo sempat goyah saat secara tidak sengaja menabrak sesuatu di hadapannya, hingga ia terpaksa mengambil beberapa langkah mundur sebelum kemudian mendongak untuk melihat siapa yang menjadi korban tabraknya, "Go-Gomenna..." Suaranya perlahan-lahan terasa menghilang ketika kedua iris coklatnya beradu dengan iris keabuan milik Starrk yang menatap dengan keterkejutan ke arahnya. Kelihatannya pemuda bersurai coklat sebahu itu cukup kaget merasakan punggungnya ditabrak oleh seseorang.

Tapi, bukan ekspresi Starrk saat itu yang membuat Ichigo terperangah dan mengambil langkah mundur dengan kedua bola mata yang membelalak.

Ia melihatnya lagi.

Walau samar, Ichigo bisa melihat bentuk sayap kelelawar keluar dari punggung Starrk. Serupa dengan sayap yang ia lihat menempel pada sesosok entitas berdominan putih yang ia lihat sesaat sebelum dirinya kehilangan kesadaran kemarin ini.

"Kurosaki? Kau baik-baik saja?" Starrk menyuarakan keheranannya saat melihat pemuda bersurai oranye yang menabraknya itu hanya terdiam dan malah terkaget-kaget menatapnya. Ia mengulurkan tangan untuk mengguncang pundak sang pemuda, tanpa menyadari kalau sentuhannya itu telah membuat tubuh Ichigo serasa terkena kejutan listrik dan pandangannya mendadak gelap.

Tidak ada yang bisa Ichigo lihat atau rasakan.

Tapi ia mendengar suara.

Suara yang sepertinya sedang berdebat dengan sengit.

"Sudah kubilang hentikan! Kau sedang tidak bisa berpikir dengan jernih!"

"URUSAI! Pokoknya dia akan membayar apa yang sudah dia lakukan! Jangan pikir kalau aku akan selamanya diam saja!"

"Hentikan! Kalau sampai dia melihatmu yang sekarang, dia tidak akan pikir panjang untuk menghabisimu juga! Kondisi kita sekarang ini masih tidak memungkinkan untuk bisa membalaskan dendam kita padanya!"

"LALU KAU BERHARAP AKU AKAN DIAM SAJA SETELAH DIA MEMBUNUH RAN? !"

"DIA JUGA SUDAH MEMBUNUH ADIKKU!"

"...!"

"... Kalau kau memang ingin melenyapkannya, kau harus bisa berpikir. Kalau kita gegabah dan mati, siapa yang akan membalaskan dendam mereka berdua?"

"..."

"..."

"... Brengsek...!"

"Kurosaki!"

Ichigo menghentakkan tubuhnya dan mengambil nafas seperti orang yang sudah lama tidak menghirup oksigen ketika pandangannya kembali fokus, dan ia mulai bisa melihat sekitarnya kembali. Kepalanya yang berdenging keras memaksanya untuk tersungkur ke arah tubuh pemuda yang ada di hadapannya. Merasakan tubuhnya melayang jatuh, secara refleks kedua tangan Ichigo menggenggam lengan Starrk yang terulur, siap untuk menangkap tubuhnya.

Ichigo yang merasa nafasnya begitu berat, hanya bisa menggenggam lengan Starrk dengan sangat erat, membiarkan peluh menetes dari keningnya. Nafasnya begitu memburu seolah dirinya baru saja lari cepat dari rumahnya menuju sekolah tanpa berhenti sekali pun.

Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan. Yang bisa ia dengarkan hanyalah suara-suara beberapa orang yang bergema di dalam benaknya, menimbulkan gaung yang membuatnya merasakan migrain yang tidak tertahankan.

Apakah hanya halusinasi belaka?

.

.

TBC