Huaaaa… akhirnya sampai juga di chapter lima, tapi sepertinya di setiap chapter sama sekali tidak ada kemajuan *huuuuuuu*. Kalau di chapter ini ceritanya sedikit tidak nyambung, Sangat tidak nyambung tepatnya. Author benar-benar minta maaf. Soalnya ngetiknya tanpa baca chapter yang sebelumnya. Juga maafkan postingan yang sangat lama ini. Terimakasih buat reviwers yang setia. Dan akhirnya selamat membacaa…
Thanks for loving me
Ken's POV
Urgghhh.. rasa sakitnya lebih parah dari yang biasanya. Tak pernah aku rasakan membuka mata saja sesusah ini. Tapi, siapa yang menahan tubuhku. "ken.. ken.." suara ini, "soo.. ra?" ya pasti suara sora. syukurlah aku bisa melihatnya disaat seperti ini. Kuhiraukan rasa sakit yang kurasakan dari tadi. Akhirnya aku dapat membuka mataku. Meski pandanganku kabur aku sangat yakin sosok ini adalah sora, dan… air mata mengalir deras dari mata indahnya. Sora maafkan aku, jangan menangis sekarang. Kumohon sora aku ingit melihat senyum indahmu. Ingin ku ungkapkan semuanya tapi jika aku mencoba berbicara pasti yang keluar hanyalah batuk yang semakin membuat sora menangis. Uhh…. Aku memang tidak bisa membuatnya bahagia, hanya leon yang bisa mengukir senyum di wajah sora.
Normal POV
Perlahan mata yang sayu itu tertutup, darah mengalir dari bibir yang selalu tersenyum dan mengeluarkan kata – kata yang membuat sora semangat. Tangan kurus yang selalu membantunya bangkit dari kelelahan, kini meremas dadanya dengan penuh kesakitan. Sora tak tau harus berbuat apa, ini lebih parah dari yang kemarin. Sudah berkali kali sora meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya. Lorong itu sepi.. sunyi… hanya ada ken dan sora. yang terdengar hanyalah rintihan ken dan isak tangis sora. disaat seperti ini sora tidak tau harus berbuat apa, yang ada difikarannya hanyalah segera membawa ken ke rumah sakit. Yang dapat dilakukannya sekarang hanylah mendekap ken kedalam pelukannya yang hangat. Berharap dengan begitu rasa sakit yang ken rasakanj dapat berkurang.
Sora terus merutuki dirinya yang sekarang tidak membawa hp. Rasa bersalah menghantui9dirinya. Seandainya petunjukan tidak di ubah, seandainya dia ingat akan janjinya pada ken, pasti tidak akan seperti ini. "sora" suara bisikan yang lemah memnyadarkan sora dari dunianya sendiri. Tangan kurus yang terkulai lemah tadi berusaha melepaskan pelukan sora. dengan tenaga yang maaih tersisa didudukkannya tubuh ringkinhnya dengan bantuan sora. "ce..patlah.. pergi ke pang.. gung, nanti kau terlambat uhukk uhuk..". "ken, kenapa kau masih memikirkan perttunjukan, kenpa kau masih memikirkanku, sekarang kau harus ke rumah sakit". Pertanyaan sora dijawab dengan gelengan lemah dari ken "ti.. ti.. dak usah membawaku ke rumah sakit, a.. a.. ku sudah biasa seperti ini, aku selalu memikirkan mu karena…" ken mengambil nafas yang dalam karena terlalu lelah untu berbicara " I love you sora" senyum yangsangat tulus terukir diwajah ken. Air mata semakin mengali deras diwajah sora. " dasar kau ken, aishiteru.." ucap sora yang langsung memeluk tubuh ken yang semakin lemah. " and.. thanks for loving me" bisik sora ditelinga ken.
Syukurlah, yuri menemukan mereka. "sora pergilaha, aku akan membawa ken kerumah sakit" yuri langsung mengangkat ken yang sudah kehilangan kesadarannya."ya" jawaba sora dan langsung berlari menju panggung. Dia harus memberikan pertunjukan yang terbaik kali ini,pertunjukan untuk orang yang selalu tersenyum untuknya, yang tak pernah lelah membantunya. Dan dialah yg seharusnya berdiri dipanggung , dia adalah ken. The true star
Maaf maaf v(_)v ceritanya jadi makin ngawur, terimakasih untuk yang sudah membaca fic ini. Ini last chapternya. Sepertinya semakin aneh ya? Untuk penjelasan di awal saya pengen buat leon jadi kakak ken tapi ga jadi hehehe.
So, review please
