Title : Costa Concordia

Main Cast :

Lee Hyukjae

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Lee Hongki

Choi Jonghun

Genre : Angst, Romance.

Rating : T-Semi M

Warning : ff ini sebenarnya fanfic lama yang tersimpan di dalam folder, fanfic yang kubuat untuk temanku. Ooc. Boys-boys. Tanpa diedit

Costa Concordia

Chapter 2

Hongki berjalan memasuki lif yang menghubungkan tiga deck di Concordia ini. Concordia kapal mewah ini benar-benar membuat Lee Hongki terasa dimanjakan. Dengan enam unit mesin diesel wartsila yang memungkinkan Concordia melaju dengan kecepatan 36,3 kilometer per/jam. Tidak hanya itu, kemegahan Concordia tercermin dari 1500 kabin, 505 balkon privat, serta 55 akses langsung ke samsara spa. Tidak cukup dengan kemegahan itu, Concordia memiliki empat kolam renang serta lima Jacuzzi sekaligus. Belum lagi dengan lima unit restoran eksklusif dan tigabelas bar benar-benar lebih dari cukup untu mendiskripsikan kemewahan kapal pesiar asal Italia ini.

Dan Hongki bersyukur, dia menjadi salah satu yang beruntung menaiki kapal semegah ini walaupun harus berada di deck paling dasar.

Dia berjalan melewati bebarapa orang berwajah eropa yang kebanyakan menaiki Concordia. Tinggi, berhidung mancung dan berotot. Benar-benar perpaduan yang sempurna. Hongki semakin tidak percaya diri. Ya tentu saja dia tidak percaya diri, dengan wajah yang dibilang cukup cantik dan tubuh kurang berotot dan bisa dikatakan pendek sama sekali. Tidak manly.

Yahhh…, walaupun menghujat beberapa kalipun. Inilah sosok Lee Hongki.

Dia kembali melangkahkan kaki-nya menuju balkon pribadi milik Kim Heechul. Dan baru beberapa langkah menuju balkon, dia sudah melihat namja cantik berkulit mulus dengan wajah yang agak sangar, Kim Heechul.

"Hongki….."Heechul melambaikan tangan, Hongki dapat melihat kalau Hyung angkatnya itu tidak sendiri, dia mengajak temannya mungkin.

"Heechul-hyung!"

Hongki berlari sambil tersenyum lebar, dia menghambur kepelukan Heechul. Dia sangat menghormati sosok di depannya. Heechul adalah panutannya, meski dia bukanlah kakak kandung Hongki namun Heechul lebih pantas menjadi Hyung-nya dibanding Sungmin dan EUnhyuk. Semua sifat dan penampilan kedua namja itu sama. Cantik namun terkesan sangar. Galak namun sensitive, banyak omong namun terkadang malas untuk bicara.

Apa mungkin semua golongan berdarah AB seperti itu?

"Heechul-hyung, aku senang sekali bertemu denganmu lagi."Hongki menepuk pundak Hyung-nya.

Heechul menjambak rambut Hongki agar pemuda itu melepaskan pelukannya.

"Hongki, kau lama sekali."Heechul mulai bisa bernafas ketika dongsaeng kesayangannya itu melepaskan pelukannya, "Kenalkan ini temanku Choi Jonghun."

Dan beberapa detik berlalu

Ketika pemuda bernama Lee Hongki menatap sempurna pemuda di samping Heechul. Mulutnya seketika menganga lebar. Dia benar-benar merasa nyawanya tercabut begitu saja. Membeku dengan mantra sihir yang seolah-olah mengambil dan mengendalikan seluruh tubuhnya. Tidak mungkin, kenyataan yang terbuka bukanlah sebuah tirai yang bisa ditutup dengan mudahnya, kenyataan itu memaksanya menyelami setiap garis kehidupan yang telah tertulis dengan tinta emas dilembaran kisah Concordia. Lagi, Sang takdir dengan kekuasaannya memaksa dia bertemu dengan pria yang sama.

"Kauuuu."

Kedua pemuda itu seakan terikat mengatakan hal yang sejalan, dengan gerakan tangan menunjuk sang rival mereka beradu. Dengan tatapan mengintimidasi sama-sama mereka keluarkan mencoba menyiutkan nyali sang lawan. Namun nihil, tidak ada yang kalah. Hanya suara decakan Heechul yang menggema di laut Mediterania.

"Kalian sudah saling kenal."Akhirnya suara sang diva menginterupsi kegiatan mereka.

"Tidak, aku tidak mengenalnya. Dia hanya orang yang melenyapkan kalungku."ucap pemuda berpakaian casual dingin.

"Aku juga tidak mengenalnya hyung, aku hanya melihat seseorang yang sepertinya mau bunuh diri. Jadi aku dorong saja dia, itu sangat menyenangkan. Kalau perlu aku dorong saja dia ke laut."ucap Hongki sekenanya.

"sebenarnya kalian kenapa?"

Heechul hanya membeku melihat kedua sahabatnya mengatakan hal yang sama sekali tidak dia ketahui, dengan bahasa aneh tingkat tinggi yang membuat otaknya hiperpolarisasi tanpa menghasilkan apapun.

"Tidak apa-apa hyung?"Jawab Hongki.

"Mana penyanyi berbakat yang akan kau kenalkan padaku hyung."pemuda bernama Choi Jonghun itu menatap Heechul sambil melipat kemeja berwarna biru gelap sampai lutut. Dia sandarkan tubuhnya pada balkon kapal menikmati hembusan angin tanpa mempedulikan sosok Hongki yang berdiri di sampingnya.

"Ini dia penyanyi berbakat itu."Heechul menarik bahu Hongki hingga dia terhuyung di depan tubuh Heechul.

Jonghun menatap tidak percaya pada sosok di depannya. Seperti dipermainkan dan sama sekali tidak ada tampang penyanyi berbakat. Dia memperhatikan penampilan pemuda dari atas sampai bawah, keraguan semakin besar bergelayut pada sosok Choi Jonghun.

"Dia, pemuda miskin ini."

Merasa direndahkan, Hongki menggulung lengan bajunya, menyiapkan ucapan yang memang pantas dia ucapkan, "Ya tuan, aku memang miskin. Tetapi jangan ragukan kemampuan bernyanyiku."

Jonghun menyeringai menampakkan senyuman yang tidak biasa dia keluarkan.

"Begitukah, ayo kita buktikan!"

Heechul yang berada di tengah mereka memicingkan mata, hawa keduanya pekat mengemulsi sisi hitam sang iblis cantik. Merasa biasa saja, hanya saja menonton kedua sahabatnya bertengkar membuat kepala sang diva berdenyut agak kencang. Pusing, lagipula namja bergolongan darah AB itu sedang tidak selera untuk melihat pertengkaran, ikut dalam pertengkaran apalagi melerai keduanya. Terlalu memuakkan.

Dengan gaya elegan nan sangar, sang diva menepuk pundak kedua dongsaeng-nya.

"Maaf aku ada urusan lain, aku tinggal kalian berdua ne!"

Keduanya mematung mendengar ucapan Kim Heechul. Dengan santai Heechul melenggang meninggalkan keduanya, pergi dari balkon pribadinya.

Keduanya diam, saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Kaku, hanya suara desahan nafas yang terdengar. Terkurung dalam suasana yang tidak nyaman dan dengan orang yang tidak diharapkan membuat keadaan semakin kaku.

"sudahlah, ayo ke tempat music."Jonghun berjalan mendahului pemuda yang masih berdiri kaku.

Keduanya memasuki sebuah ruangan yang ada di sudut kapal, ruangan itu berbentuk limas dengan kaca sebagai dindingnya. Indah dengan cahayan matahari yang memantul member efek warna yang memukau di antara kaca itu. mereka masuk ke dalam ruangan. Ada grand piano, biola, gitar, drum dan alat music lainnya tergeletak rapi diatara ruangan dengan aksen putih jernih itu. semuanya serba putih bahkan tirai penutup ruangan berwarna putih dengan renda-renda yang terjuntai indah. Sengaja, sang desainer kapal menaruh bunga mawar putih di pojok ruangan melengkapi tema white yang disusun berdiri melangkahkan kakinya menuju grand piano putih yang berdiri gagah diantara alat-alat musik lain. Jonghun dapat mendengar Hongki berjalan di belakangnya. Jonghun menekan pelan beberapa tuts menimbulkan nada mengalun. Jonghun memulai menggerakkan tangannya di atas tuts piano, memainkan sedikit jarinya pemanasan. Sebuah melodi merdu hasil sentuhannya membuat Hongki terbawa arus permainannya, pelan namun tepat terarah di hati. Alunan itu mengisi seluruh penjuru ruangan. Permainan jemari Jonghun bak sebuah aliran angin yang berhembus semilir dan menggelitik hati pendengarnya.

"Apa yang harus aku nyanyikan?"Tanya pemuda itu.

"Terserah,hanya beberapa bait lagu saja. Tunjukkan apakah Heechul-hyung benar-benar memilih orang yang tepat dan jangan kecewakan Heechul-hyung."

"My Heart Will Go On."

"Baiklah, mulailah."

Hongki mulai bernyanyi. Lagu milik Celine Dion mengalun dikemas suara serak milik Hongki. Berbeda namun memiliki karakter yang unik. Lagu ini dipadu permainan jemari indah Jonghun.

My Heart Will Go On

Apakah kalian masih ingat lagu ini?

Lagu tahun 1997 yang menjadi theme song film terlaris sekaligus mencekam sepanjang sejarah, Titanic. Kapal yang tenggelam hampir satu abad yang lalu dan menjadi tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah perkapalan.

Dan semoga lagu ini tidak akan menjadi theme song kejadian nyata tenggelamnya kapal untuk kedua kalinya.

Lagu ini masih mengalun

Jonghun memejamkan mata menikmati suara yang memukau itu. suara ini benar-benar membuatnya addict, ingin selalu mendengar. Khas mempunyai warna suara yang belum pernah dia dengan sebelumnya, dengan tone yang kuat dan expressiveness yang luar biasa.

Pelan Jonghun membuka matanya masih memainkan denting piano, menatap pemuda yang masih menyanyikan lagu itu.

Dan setelah itu, Jonghun kembali terpukau. Mata pemuda itu seakan ikut bernyanyi, mengeluarkan segala emosi yang terkuar membaca setiap lirik lagu dengan ekspresinya. Begitu hidup, begitu indah dan begitu cantik.

Jonghun tidak sadar, dia menyunggigkan senyum tulus.

Dia menyadari pemuda itulah yang dia cari selama ini. Sempurna.

Dan lagu selesai, Jonghun berhenti memainkan piano. Hongki menghela nafas dalam-dalam.

"Lumayan, setidaknya kau memiliki warna suara yang memukau. Setelah kapal ini mendarat, ikutlah dalam konser piano tunggalku. Dan aku akan mengorbitkanmu dan memberi lagu."ucap Jonghun .

Hongki melotot seraya membuka mulutnya lebar-lebar.

"Mwooo, yang benar."dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia memukul pipinya memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.

"Ne, siapa namamu tadi?"Jonghun tersenyum dengan tingkah pemuda di depannya.

"Lee Hongki. Terimakasih master, aku tidak akan mengecewakanmu."

"Aku harap begitu."

000XXX000

Kedua pemuda itu berjalan melewati beberapa penumpang yang sedang menghabiskan waktu melihat hamparan gelombang lautan dibalik pagar kapal. Pemuda bernama Lee Donghae menggenggam tangan pemuda di sampingnya membimbing pemuda itu menaiki deck paling atas yang sepi. Keduanya bersandar pada terali besi sambil menikmati hembusan angin laut di Concordia, lama tidak bertemu tidak membuat hubungan mereka canggung, mereka tersenyum dan menyalurkan perasaan rindu yang membuncah yang telah melumpuhkan sosok artis ternama bernama Lee Donghae selama satu tahun ini

Lee Eunhyuk

Lagi-lagi pemuda itu, keberadaannya tidak mungkin bisa di abaikan begitu saja, pemuda imut dengan rambut pirang halus. Tidak pintar bahkan cenderung bodoh dan gampang sekali ditipu. Tidak tinggi namun juga tidak pendek. imut dengan gummy smile yang itulah, sosok bodoh yang menjadi cinta pertama Lee Donghae hingga sekarang ini, tidak ada yang mampu menggantikannya.

Kedua pemuda itu masih bersandar, laut Mediterania menjadi latar yang memukau dengan Concordia sebagai panggungnya.

"Hyukkie…,"Donghae mulai bicara.

"Ada apa fishie."Eunhyuk tersenyum menunjukkan senyuman andalannya pada pemuda itu.

"Kau semakin mirip monyet saja."

"Sialannn!"Eunhyuk melayangkan pukulan pada pemuda disampingnya. Donghae terkikik geli menahan ekspresi pemuda yang itu, memautkan bibirnya sammbil memukul lengannya.

"Sudah, aku hanya bercanda."Donghae tertawa.

Eunhyuk menautkan alisnya membenci tingkah pemuda di depannya, dengan tidak sopan pemuda bernama Lee Donghae itu menertawakannya.

Donghae tersenyum mengacak-ngacak rambut pemuda pirang disampingnya

.

Keduanya terdiam memandang awan berbentuk kapas yang mendiami langit, berfikir harus memulai dari mana. Donghae melirik sejenak ke arah Eunhyuk, perasaan gugup merayap disekujur tubuhnya. Tidak pernah tidak, ketika bersama pemuda itu selalu ada sesuatu yang menggeliat di perutnya, membuat nafasnya tercekat, merona dengan debaran jantung yang menggila.

Selalu begitu…

Meski dia telah menahannya, tidak akan pernah bisa. Perasaan itu begitu besar membuatnya tidak mampu jika terus begini. Dia ingin lebih, tidak hanya saling memandang. Dia ingin menyalurkan perasaannya melalalui sentuhan kecil, kecupan lembut dan pelukan hangat.

Tapi…, tidak segampang itu.

Dia mencoba memulainya, mencoba mencari simpul yang rumit untuk memulai semuanya.

"Hyukkie,"Suara itu kembali terdengar.

"Jangan menggodaku lagi."ucap Eunhyuk ketus.

"kau masih ingat ciuman pertama kita."

Ucapan Donghae sukses membuat pemuda itu terdiam, menghela nafas mengurangi rasa gugup dan perasaan malu yang hinggap. Meski melakukan hal itu, tetap saja sekujur tubuh bergetar akibat memikirkan kejadian beberapa tahun yang lalu. Perlu beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya pemuda dapat menguasai diri. Ledakan emosi dan keterkejutanya perlahan menurun digantikan dengan senyuman yang tersungging di wajah seorang Lee EUnhyuk. Untuk beberapa saat, pandangan masih menerawang dan duduk diam hanya sekadar menikmati keheningan yang terjadi akibat ucapan Donghae.

"Donghae, itu hanya kecelakaan. Tidak usah diungkit lagi, mian aku benar-benar tidak sengaja."Eunhyuk angkat bicara, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku menikmatinya."ucap Donghae dengan nada serius.

"Donghae."

Eunhyuk terkejut dengan apa yang diucapkan pemuda itu. dia tidak mengerti, terlalu sulit untuk dicerna, dia tidak ingin bermimpi terlalu jauh mendapatkan perhatian lebih seorang Lee Donghae. Perlahan, Donghae meraih tangan Eunhyuk menggenggamnya erat membuat sang empunya tertegun. Sinar matanya lembut, memancarkan sesuatu yang sanggup melemahkan sosok pirang itu.

"Aku sangat bodoh, tidak mengucapkan apa yang harus aku katakana padamu pada malam kelulusan. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya."Donghae menekan setiap ucapan yang dia keluarkan.

"Maksudmu apa Hae?"Eunhyuk memiringkan kepalanya.

Donghae memejamkan mata, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mungkin inilah saat yang tepat, membuang jauh-jauh perasaan takut yang mencekam. Mengungkapkan setiap detail perasaan yang selama ini terpendam. Membuka semuanya, tak ada lagi keraguan. Meski semua tidak sesuai harapan Donghae terima, tidak mungkin selamanya diam membisu sebagai sosok pengecut.

Donghae menarik tangan Eunhyuk mendekat, meraih wajah pemuda itu dengan kedua tangannya. Mereka saling bertatapan lama.

"Lee Eunhyuk, aku mencintaimu."

Dan akhirnya ucapan itu keluar dari Lee Donghae setelah sepuluhtahun.

Pemuda pirang itu sudah tidak mengatakan apa-apa lagi, dengan tatapannya saja siapapun akan tahu perasaan kedua pemuda itu.

"Donghae…, aku."

"Kau tidak usah menjawabnya sekarang. Datanglah ke deck kapal atas nanti malam, aku menunggumu my princess."

"Hae."

000XXX000

Apakah kalian pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya?

Perasaan ini benar-benar membuat pemuda pirang itu terus melengkungkan senyum menawannya, merasakan perasaan hangat yang timbul. Dia tidak mampu berbuat apapun, hanya tersenyum dengan semburat merah yang menjalar di pipi.

Sudah beberapa jam lamanya sejak EUnhyuk mendapatkan pernyataan cinta Donghae, pernyataan yang tidak biasa dari namja luar biasa, pernyataan yang sudah dia nantikan beberapa tahun lamanya. Dimata Hyukjae, Donghae adalah sosok yang sanggup merampas hatinya, menjadi belahan jiwanya meski tak ada ucapan resmi dari keduanya. Kini semuanya berbeda, sang terkasih sudah resmi menyatakan cinta padanya, dengan garis senyuman yang menawan dia meminta padanya.

Kedua mata Lee Eunhyuk terpejam, merasakan kembali detakan jantung yang kembali menyerangnya. Kedua mata itu kembali terbuka ketika sadar bahwa gerakan jam terlalu cepat memutar waktu. Dari tadi, dia hanya berguling di hamparan seprei sambil memeluk boneka monyet-nya.

"Aku harus memakai pakaian apa?"Pemuda itu beranjak, tangannya sibuk memilih pakaian yang tergantung di almari, Kedua saudaranya hanya tersenyum melihat tingkah pemuda itu.

Hongki berkali-kali menyenggol lengan Sungmin menggerutu tidak senang dengan sikap idiot yang dipancarkan hyung-nya.

"Aku harus berpakaian seperti apa, hyung apa yang harus aku pakai."Eunhyuk menggerutu. Kemeja biru dia lempar, kaos v-neck yang memperlihatkan dada putihnya dia abaikan.

"Aishhh, kau ini. Seperti kencan pertama saja."Sungmin membantu Eunhyuk memilih pakaian-pakaian di dalam lemari.

"Aku benar-benar gugup untuk malam ini."Eunhyuk menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan setumpuk pakaian di tangannya.

"Hyung aku yakin Eunhyuk-hyung tidak perawan lagi setelah malam ini."Celetuk Hongki.

"Kyaaa, aku tidak siap."Eunhyuk menutup wajah dengan kedua tangan, semburat merah menjalar di pipi setelah mendengar ucapan Hongki.

Pikirannya sudah berimajinasi dengan liar.

Bagaimana sentuhan Donghae, ciuman yang melekat lembut di bibirnya dan bagaimana Donghae memiliki dia seutuhnya.

"Kyaaaaa."Lagi Eunhyuk berteriak.

"Hongki, jangan goda hyung-mu seperti itu."

"Aku tidak percaya Eunhyuk-hyung tidak siap, bukankah dia sering sekali membaca majalah xxx. Seharusnya dia sudah mempersiapkan semuanya."Cibir Hongki.

"Hongki, jangan berbicara lagi."Sungmin memukul kepala Dongsaengnya setelah melihat wajah kemerahan Eunhyuk.

'tok tok'

Mereka terperanjat saling memandang ketika ketukan pintu itu menginterupsi kegiatan mereka. Dengan langkah gontai Eunhyuk menyeret kaki mungilnya menuju ambang pintu. Pelan, dia meraih gagang pintu membuka pintu kamar. Seorang pemuda berdiri di depan kamarnya, bukan pemuda namun lelaki empatpuluhan dengan stelan jas dan sebuah kartu di tangannya.

"Ada titipan untuk Tuan Lee Eunhyuk."Pria itu berbicara.

"Ya, saya sendiri."

Pria itu menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam kepada Eunhyuk, setelah itu dia undur diri meninggalkan sosok Hyukkie yang memandang kartu itu. dia menutup pintu kemudian duduk sambil membacanya.

Kata demi kata terangkai membuat pipi pemuda itu terangkat merah, dia menahan nafas serta menggigit bibir bawah. Perasaan gugup hinggap menyumbat benaknya, menginveksi nadinya membuat dia tidak mampu sekedar untuk bernafas bebas.

"Hyung, apa isi note-nya."Hongki tersenyum jail.

Eunhyuk tertegun, dia tidak mampu mengucapkan apa yang tertulis kepada hyung dan dongsaengnya. Terlalu malu. Sebentar, dia melirik Hongki yang sudah menampakkan wajah menuntutnya. Sedangkan Sungmin tersenyum menanti ucapan yang keluar darinya.

"Dia mengubah tempat makan malamnya, aku harus bagaimana, dia mengundangku ke kamarnya."

"Benarkan, siap-siap saja hyung."Hongki mengangguk mantap.

"Hyung, apa yang harus aku lakukan."

Hati itu terbenam dalam ketakutan serta harapan, raganya masih terpaku pada pikiran yang melayang entah kemana. Terdiam, enggan bergerak dalam angan-angan yang semakin melayang. Dalam hati sebenarnya harapan itu muncul bersama dengan ketakutan yang menghantui, namun perasaan bimbang yang mendera menghapus perasaan lain yang hadir. Menggigit bibir bawah, menarik ujung kemeja Sungmin seorang Eunhyuk sekarang. Wajahnya tidak bisa dikatakan pucat maupun cerah, hanya pipinya saja yang merah dengan bola mata yang memancarkan kegugupan.

Sungmin tersenyum lembut pada sosok Dongsaengnya, dalam benaknya dia menolak jika dongsaeng-nya melakukan hal yang sama dengannya, namun disisi lain kebahagiaan menyergap ketika sang adik mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.

"Tenanglah, turuti apa kata hatimu hyuk. Jika kau percaya pada donghae lakukanlah, tapi jika tidak jangan pernah menyerahkan dirimu dengan orang yang tidak engkau percayai. Arasso!"ucap Sungmin lembut.

"Ne hyung,"

0000XXX000

Waktu berputar dengan cepat, menghempaskan keraguan yang muncul, menguatkan setiap tekad yang terbentuk dan membuka setiap rahasia yang terpendam. Waktu juga yang membuat segalanya berubah, dalam kesendirian maupun kebersamaan. Dalam buaian cinta maupun buaian penderitaan. Dalam kebimbangan maupun dalam keresahan yang hinggap.

Sungmin terdiam begitu saja, pikirannya terbelenggu atas apa yang terjadi dengannya. Dia kini bukanlah sungmin yang dulu, tidak sendiri. dia takut pemuda yang ada disampingnya tidak menerimanya. Dia sangat takut. Dia tidak normal. Dia seorang namja yang kini terdapat kehidupan di dalam tubuhnya, sebagian dari Kyuhyun telah bercampur dengan dirinya.

Apakah Kyuhyun akan menerimanya?

"Kenapa kau diam."suara Kyuhyun di telinganya membuat Sungmin kembali, dia menatap Kyuhyun kemudian menggeleng pelan. Kyuhyun meraih tubuh sungmin memeluknya kemudian tangannya mulai menari memberikan sentuhan sihir pada sang submissive. Diam tidak bergeming, segalanya terjadi tidak masuk akal, membuatnya terpaku namun mengikuti sang dominan menuju tempat mereka. Sungmin tersadar ketika mereka akan memulai, ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar memadu cinta.

"Kyu…., aku ingin bicara padamu kyu."Sungmin mencengkeram kemeja Kyuhyun, menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.

"Bicaralah, aku akan mendengar."seakan tidak peduli, Kyuhyun kembali meraih tubuh sungmin ke dalam pelukannya, ujung jari jemarinya menyapu kemeja yang dipakai Sungmin.

"Kyu lepaskan, aku serius."Ucap Sungmin keras.

Kyuhyun menghentikan kegiatannya. Dia duduk di atas ranjang sambil menghela nafas lelah, dia menatap kembali kekasihnya, merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada sosok Sungmin. Tidak biasanya Sungmin membentak atau menolaknya.

"Ada apa Minnie, kau membuatku khawatir."Kyuhyun merapikan kemeja yang dia pakai.

"Kyu, apakah kau menyukai anak-anak?"Tanya Sungmin.

"Apa maksudku?"Kyu bertanya dengan nada serius. Seorang Cho Kyuhyun menyukai anak-anak, sungguh pertanyaan konyol.

"Jawab saja aku mohon!"Sungmin menggigit bibir bawahnya.

Kyuhyun tidak paham. Dia menatap menyelidik mencari sesuatu yang ditutupi Sungmin, tidak biasanya Sungmin bertingkah seperti ini. Dia tidak akan bertingkah gegabah dan dia yakin Sungmin menyembunyikan sesuatu darinya. Dia tidak akan mengatakan jika dia tidak menyukai anak-anak, mungkin saja itu akan menyakiti Sungmin-nya.

"Ada apa denganmu, bicaralah dengan jelas!"Kyuhyun meraih dagu Sungmin, menatap pancaran mata yang sudah berkaca-kaca itu. Sungguh Kyu tidak mampu melihat mata itu meneteskan sedikitpun cairan bening bernama air mata. Tidak ingin. Dia menghapus air mata yang turun dari manik indah Sungmin dengan kecupannya,"Bicaralah Min, aku akan selalu ada disisimu."

"Kyu…, aku hamil."

Mata itu membulat sempurna ketika ucapan keluar dari mulut sang kekasih. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan muncul mendominasi dirinya, tidak pernah dia rasakan. Dalam angan-angan yang sudah terbentang menjangkau akal sehat. Terpaku akan bayangan masa depan panjang dengan keluarga kecilnya.

Tahukah kalian Cho Kyuhyun sangat membenci anak kecil.

Tapi.., ini berbeda. Tidak benci bahkan tanpa sadar seulas senyum tulus mengembang dalam sosok Cho Kyuhyun. Perasaan bangga dan bahagia merayap dalam dirinya, sirna segala kebencian akan malaikat kecil yang selalu menghantuinya.

"Minnie…, kau mengandung anakku."Dengan suara lirih dia bertanya pada sang kekasih berharap ini bukanlah sekedar mimpi yang dialami.

"Ne kyu."jawab sungmin.

Dengan tangan hangatnya, tubuh sungmin dia rengkuh ke dalam pelukan hangat. Menyalurkan segenap perasaan bahagia yang terpatri di sudut hatinya. Mereka menghambur dengan kebahagiaan yang membalut. Sempurna…, hidup mereka terlihat sempurna sekarang. Tidak ada lagi ketakutan akan penolakan, tidak ada kebencian akan makhluk mungil yang tertanam di dalam tubuh sungmin, semuanya sirna menyisakan masa depan yang ingin mereka genggam, masa depan bernama kebahagiaaan.

"Terimaksih Minnie, aku mencintaimu."Kyuhyun mencium kening Sungmin.

Braakkkk

Pintu kamar kyu terbuka sempurna menghentikan aktifitas keduanya. Kyuhyun mendelik sempurna dan wajah ketakutan terpancar di wajah Sungmin.

Dan seseorang yang tidak pernah mereka harapkan muncul dengan amarah yang memuncak.

"Cho Kyuhyun, berani beraninya kau!"

000XXX000

Pemuda bernama Lee Eunhyuk benar-benar merasakan gugup berkepanjangan. Berkali-kali dia meremas kemeja putih yang dia kenakan. Rambut pirang yang sudah dia tata rapi ia acak-acak, dia menggigit bibir bawahnya.

'beberapa langkah lagi menuju kamar Donghae'

Nafasnya sudah tertahan ketika melihat nomor kamar yang tertulis di surat berwarna hitam itu. ragu dia meraih gagang pintu, membuka pelan menimbulkan decitan pelan yang singgah di telinganya. Dan dia masuk seraya menutup pintu.

Gugup, nafasnya bahkan tidak teratur.

Gelap…..

Ketika pemuda itu membuka kamar itu, tidak ada cahaya lampu yang menerangi, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk melalui celah kaca. Pelan dia berjalan, mencoba mengatur nafas yang sudah hampir tercekat . Semakin dekat langkahnya, semakin detak jantungnya berirama. Hyukkie tidak bisa berfikir sekarang, membiarkan apa yang terjadi nanti mengalir begitu saja. Entahlah ini terlalu sulit, ini sama saja membuat dirimu jatuh ke dalam sebuah perasaan yang tidak menentu.

Dia mengatur nafasnya, berharap rasa gugup musnah ditelan dinginnya sang malam. Berharap bahwa setiap apa yang dia lakukan berjalan sesuai harapannya. Biarlah, dia biarkan semuanya mengalir begitu saja. Hanya pasrah dan mengikuti setiap apa yang akan terjadi. Langkah semakin pelan, membuat suara tapak kaki akibat gesekan sepatu dengan lantai.

"Donghae-ah, kenapa kau mematikan lampu. Ini aku Hyukkie."

Eunhyuk terdiam ketika dia sama sekali tidak mampu melihat sekeliling. Terlalu gelap. Dia mendengar langkah kaki yang mendekatinya. Eunhyuk tersenyum mendengarnya, membayangkan pemuda yang dicintainya itu memeluk pinggangnya sambil membisikkan kata-kata manis di telinga.

"Hae,"Eunhyuk memanggil Donghae.

Tidak ada jawaban dan Eunhyuk merasakan sebuah tangan kuat memeluk pinggangnya, possessive. Semakin lama, tangan itu mulai menyelusuri tubuhnya, dengan nakal mulai membuka kemeja yang Eunhyuk pake.

"Lepaskan Hae."Eunhyuk menolak. Namun pemuda itu tidak memindahinya, semakin mengeksplor tubuh pemuda mungil itu.

Merasa tidak nyaman, Eunhyuk mendorong pemuda itu.

"Kau datang juga Lee Eunhyuk, aku sudah menantikannya."

Mata Eunhyuk membulat sempurna

Suara ini…..

Suara ini bukan suara Donghae

Gemetar…

belum sempat pemuda itu mencerna, tubuh Eunhyuk terbanting keras di atas ranjang berukuran besar.

00tbc00

Chapter 2 update. Gomawo semua yang sudah komen.

Arit291: saya sangat tersanjung, terimakasih sudah menyukai tulisanku. Ne, aku masih kuliah. Salam kenal Arit. Kita sama-sama belajar, semoga tulisan kita semakin berkembang. Saling mengkritisi masing-masing dan semoga Arit291 semakin berkarya dan menjadikan tulisan menjadi suatu seni yang indah.

Yuera kichito Akihime : gomawo sudah suka ceritaku. Happy ending? Uhmmmm, masih dirahasiakan. Gomawo.

yukiLOVESUGMIN : gomawo sudah suka ceritaku. Menjawab soal couple FT Island? Haha, yosh bahkan saya merupakan author JongKi jaman dahulu sebelum Couple itu terkenal dan Fanfic yaoi pertama saya adalah JongKi couple. Bicara soal real dan tidak tergantung yang lihat, kalau shipper jelas bilang kalau JongKi itu real sama dengan Kyumin maupun Eunhae. Kalau JongKiBin itu mirip Eunsihae tapi bedanya kalau Wonbin menurut para Shipper JongKi merupakan pihak ketiga hubungan mereka. Salam kenal Yuki.

PumpkinChoi dan siapa: Pokoknya mereka punya tiga cinta yang berbeda. Cuma Sungmin yang m-preg. Gomawo sudah baca.

Myblackfairy : Ne, nanti kapal ini akan tenggelam. Mereka punya nasib sendiri-sendiri. Gomawo sudah membaca.

Terimakasih buat Kyumineunhae, kyukyu, Parkminrin, Fujita Hoshiko, Lee Jae En, Ming, Hyeri, Cho Hyun Jin, Ryu.

Fic ini terdiri dari 4 chapter, chapter tiga dan empat Costa Concordia akan mulai tenggelam.

Gomawo semuanya. Aku sangat menyukai menulis dan semoga kalian menyukai coretan yang jauh dari kata bagus ini.

Jika kalian berkenan, tinggalkan jejak anda dengan review.

Salam hangat –ChoLeeLee-