Title : Costa Concordia

Main Cast :

Lee Hyukjae

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Lee Hongki

Choi Jonghun

Genre : Angst, Romance.

Rating : T-Semi M

Warning : ff ini sebenarnya fanfic lama yang tersimpan di dalam folder, fanfic yang kubuat untuk temanku. Fanfic yang terinspirasi tenggelamnya kapal Costa Concordia. Ooc. Boys-boys. Tanpa diedit

Costa Concordia

Chapter 3

"Cho Kyuhyun berani-beraninya kau!"

Dan sosok di depannya membuat Kyuhyun benar-benar membeku. Berdiri dengan tubuh yang dia kuatkan. Sungmin yang melihat kenyataan di depannya menunduk, menghindari apa yang dia lihat. Semua mendadak menjadi jelas. Semuanya pasti akan terbongkar, membuat hubungan mereka akan semakin rumit. Kini ia benar-benar berada dalam situasi yang tidak dia inginkan, dia ingin menyelesaikan ini semua namun sepertinya tidak bisa. Dia hanya bisa bersandar pada sosok Kyuhyun.

"Apa maksud dari semua ini Cho Kyuhyun?"Pria berjas berumur empapuluh tahunan menatap tajam pada putra semata wayang-nya. Kyuhyun tidak tinggal diam, mereka sama. Kearogansian, kesombongan dan kekuasaan jelas menjadi image keluarga Cho. Dia menatap balik ayahnya, tidak takut sama sekali.

"Appa!"

"Jadi selama ini kau seperti ini, bersama pemuda miskin ini." Teriak Tuan Cho.

Sungmin mencengkeram tangan Kyuhyun, mencoba memberi dukungan lewat sentuhan ringannya, mencoba meredam emosi kekasih dengan tangannya. Meski dia merasa terhina dengan ucapan Tuan Cho, tapi dia diam, menghormati sang ayah dari pemuda yang dia cintai.

Kyuhyun yang paham akan isyarat Sungmin menatap Sungmin memberi kepastian jika semuanya baik-baik saja.

"Aku mencintainya."Kyuhyun berkata mantap.

"Cih, apa yang kau tahu tentang cinta. tinggalkan dia!"Sang ayah semakin marah dengan sikap Kyuhyun.

"Tidak appa, bagaimanapun aku mencintai Sungmin. Aku tidak akan pernah meninggalkannya."

Dan penegasan dari Cho Kyuhyun membuat tuan Cho bergetar, matanya merah bahkan dia sudah tidak mampu lagi bergerak . Dia marah, ya marah! Bagaimana tidak marah jika anak satu-satunya dan penerus satu satunya semua yang dimiliki menolak dan mengabaikan perintahnya. Bahkan Tuan Cho yakin bahwa anakna sanggup bertindak lebih.

"Tinggalkan dia atau kau bukan anakku lagi."

"Mian, tapi ini keputusanku. Aku akan melepas semuanya dan hidup bersama seseorang yang aku cintai."

"Cho Kyuhyun."

000XXX000

Pemuda itu melirik ke arah jam tangan, memutar-mutar mawar merah yang telah dia siapkan untuk makan malam ini, makan malam romantic di deck bagian paling atas dengan suara biola yang telah disiapkan, tidak ketinggalan lilin-lilin di atas meja dengan susu strawberry sebagai pelengkapnya. Jam setengah delapan, bahkan Hyukkie sudah terlambat setengah jam. Dia mencoba menghilangkan perasaan khawatir yang menggerogoti benaknya.

Apa yang sedang dia lakukan? Bagaimana keadaannya? Mengapa dia juga datang ? apakah dia menolak pernyataan cinta-nya?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin meenggerogotinya, memaksa-nya untuk segera menuntaskan apa yang seharusnya memang dilakukan. Pemuda itu menyambar jas yang tersampir di kursi, memakainya kemudian bergegas menuju tempat dimana sang terkasih berada. Dia tidak sabar kalau harus menunggu selama ini, dia sudah mempersiapkan semuanya dari siang dan tidak ingin acara ini gagal.

Berlari dia menuruni tangga menuju deck paling bawah.

Hatinya semakin mencelos, detak jantungnya benar-benar sudah tidak mampu dikendalikan lagi. sangat menyadari jika dirinya sudah tenggelam terlalu jauh, sudah terperangkap dalam sosok pemuda pirang bernama Lee Hyukjae. Sekian lama dia merasakann perasaan ini bahkan dia sudah mendoktrin dirinya tidak akan menikahi seseorang jika orang itu bukan Eunhyuk. Perasaan itu semakin dalam, sudah lama dan semakin membuatnya tidak bisa berfikir lebih jernih.

Beberapa anak tangga sudah ia lewati dan kini pemuda itu berada tepat di depan kamar sang kekasih.

"Hyukkie."

Donghae memecet bel berkali-kali. Beberapa lama hingga pintu terbuka semua menampakkan sosok Lee Hongki yang menatap Donghae bingung.

"Donghae-hyung,"Hongki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Dimana Hyukkie,"Donghae langsung bertanya.

"Bukankah dia berkencan denganmu, dia sudah berangkat kira-kira setengah jam yang lalu."Jawab Hongki.

Donghae membeku, perasaan tidak enak tiba-tiba saja masuk menyelimuti hatinya.

" aku sudah menunggunya di deck atas tapi dia belum datang."ucap Donghae gugup. Belum pernah dia merasakan kegugupan yang nyata, kegugupan yang membuatnya hampir tidak mampu mengeluarkan suaranya, seperti tercekat diikat oleh rantai yang tidak tampak.

"Bukankah kau mengubah tempat janjian kalian."Hongki bersuara membuat pemuda berkepala dua itu memicingkan matanya bingung.

"Maksudmu apa?"Akhirnya dia bertanya.

"Bukankah kau menunggu Eunhyukkie hyung di kamarmu."Hongki bertanya dengan nada khawatir.

"Mwoo, bagaimanamungkin. Aku tidak pernah melakukannya."Donghae menatap Hongki gusar, pikirannya sudah kacau.

Hongki yang juga merasakan kekhawatiran yang menyergap dirinya menggigit bibirnya. Dia mengingat note berwarna hitam yang dikirim untuk hyung-nya.

"Tunggu sebentar."

Pelan Hongki mengambil note itu dimeja, tergesa-gesa dia serahkan note itu pada Donghae. Pelan kata demi kata Donghae baca. Jantungnya serasa berhenti detik itu juga, kepalanya seakan dipukul oleh gendam dan nafasnya kebali tercekat saat itu juga. Gemetar dia menutup note itu. jiwanya seakan akan hilang, gugup dan melayang entah kemana.

"Tidak mungkin, ini bukan nomor kamarku dan aku tidak pernah menulis note ini."

"Mwoooo, Eunyukkie-hyung bagaimana."Hongki menatap Donghae khawatir.

"Aku harus mencarinya dan Hyukkie pasti menuju kamar itu."

"Hyung, aku ikut."Hongki berkata.

"Tidak usah kau disini saja. Aku yang akan mencarinya."Donghae tersenyum lemah pada Hongki.

"Ne Hyung, tolong cari Hyung-ku."

Donghae mengangguk, dia bergegas menuju lantai dimana terkasihnya berada.

000XXX000

Costo Concordia masih berjalan angkuh di tengah lautan. Bridge Concordia atau ruang komando kapal ditempati para navigator yang menggunakan peralatan mereka. Bridge berada di posisi yang mempunyai jarak pandang ke segala arah. Roda kemudi kapal, peralatan navigasi, radar maupun komando ruang mesin ditempatkan di anjungan.

Para awak kapal Concordia masih menjalankan mesin dengan tenang. Mereka baru saja mendapat peringatan adanya karang di Tuscsan dekat pulau giglio dalam jalur Concordia. Namun Francesco Schetino, selaku kapten kapal tidak memindahinya, kapten yang dilantik beberapa tahun lalu malah menedekat untuk menyapa koleganya yang berada di dataran tersebut.

Dan malapetaka mulai terjadi

Sang awak kapal melihat karang besar tepat di lintasan Concordia. Awak kapal membunyikan lonceng tiga kali dan deck awak kapal berteriak.

"Karang tepat di depan kita!"

Opsir pertama langsung mengarahkan kemudi ke sisi kiri dengan mengurangi kecepatan, kemudian dia memundurkan mesin kapal. Namun naas, tabrakan tidak bisa terelakkan lagi dan karang yang keras bergesekkan dengan bagian lambung kiri dan merobek lantai dasar kapal Concordia. Paku baja patah akibat kerasnya karang.

Di sisi lain para bangsawan yang baru saja menikmati makan malam mereka tiba-tiba mendengar suara dentuman yang sangat keras, sangat keras membuat mereka hanya saling berpandangan. Kemudian disusul dengan guncangan hebat yang membuat sisa-sisa makanan yang belum dibereskan terjatuh dari meja.

"Ada apa ini?"

0000XXX000

Lima menit sebelumnya, ketika malam mulai merajuk menggantiakan sinar surya. Malam terlihat terang dengan suhu yang turun beberapa derajat, pemuda berambut merah bernama Choi Jonghun masuk ke dalam lift kemudian menekan angka satu. Dia bimbang apakah dia harus ke tempat seperti itu? ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di tempat orang-orang tanpa nama dan tanpa kemewahan.

Tapi, dia ingin menemui pemuda itu.

Entahlah ada sesuatu yang menarik yang membuat seorang Choi Jonghun, bangsawan sekaligus pianis terkenal sangat tertarik pada sosok yang dua hari ini mengganggu hidupnya. Ok.., Lee Hongki mempunyai suara emas yang menakjubkan dan wajah itu-cantik.

Jonghun memang sudah gila

Dia bahkan sudah menekan perasaan itu, mencoba menganalisis apakah ada yang salah dengan dirinya. Tidak ada. Tidak ada yang salah dalam ketertarikan yang terpatri pada seseorang. Seperti sebuah aransemen music dan nada-nada yang selalu membuatnya lemah dan addict.

Pintu lift terbuka lebar, menampakkan sisi lain yang jauh dari kehidupan pemuda itu. pemuda yang ditimang dengan uang dan permata itu berjalan menimbulkan suara gesekan kayu dengan sepatu kulitnya. Dia melihat orang-orang berlalu lalang di kelas paling rendah ini. Merasa jijik-tidak. Entahlah, semua arogansi sang merah hilang diterpa kekuatan pemuda yang telah membuatnya tertarik.

Dia sudah berada di depan kamar pemuda itu. untung saja Heechul sudah memberikan nomor kamar pemuda bernama Lee Hongki, tentu saja seorang Kim Heechul tidak akan menghilangkan kesempatan emas untuk menggoda dirinya. Pelan dia menekan bel.

"Tunggu sebentar."

Suara Lee Hongki terdengar jelas memasuki indera pendengarannya.

Dia merasa gugup namun dia mencoba menutupi dengan topeng yang dia kenakan. Beberapa detik, pintu kayu dengan ukiran Hibiscus itu terbuka pelan menampakkan sosok cantik dengan mata berkilau-nya.

"Jonghun. Untuk apa kau ke tempat seperti ini."Pemuda bernama Lee Hongki itu mengerutkan dahi. Dia tidak habis pikir, seorang Choi Jonghun berada di deck paling dasar Concordia.

"Hanya ingin kau menandatangani surat perjanjian ini,"Jawab Jonghun sekenanya, dia masih menggunakan topeng dingin yang biasa dia gunakan.

"Kita bisa bertemu di deck atas kan, kau tidak usah ke tempat seperti ini."

"Kau tidak mengizinkan master-mu masuk."Jonghun berkata ketus.

Hongki tersenyum, kemudian membukakan pintu kamarnya. Pelan seorang Choi Jonghun memasuki kamar yang tidak bisa dikatakan luas. Dia mengamati bagian-bagian yang ada di dalamnya, ada boneka kelinci, monyet dan bantal berbentuk pisang.

"Ne, silahkan masuk. Maaf berantakan."

Suara Hongki membuatnya tersadar bahwa dia bersama pemuda itu. dia hampir saja tertawa melihat deretan boneka-boneka itu seandainya Hongki tidak menginterupsi kegiatannya. Jonghun duduk di kursi yang Hongki sediakan. Dia menghempaskan nafas, mencoba bertingkah seperti biasanya.

"Kamarmu bahkan lebih sempit dari kamar mandiku."ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sialan, kau menghinaku. Kita keluar saja."umpat Hongki.

"Tidak, cepat kau tanda tangani surat ini atau tidak ada perjanjian sama sekali."Jonghun menatap pemuda di depannya.

Hongki memanyunkan bibirnya menggerutu tidak jelas, dia mengambil pena yang diletakkan di alari, mengambil kertas seraya mengukir namanya pada kertas perjanjian itu.

"Selesesai…,"

Jonghun langsung mengambil kertas perjanjian, menandatangani kemudian meletakkan kertas pada kantong celananya.

Setelah itu tidak ada bunyi suara yang keluar dari mulut keduanya . Waktu berhenti sejenak. Dan tak satupun di antara mereka memulai pembicaraan. Mereka benar-benar seperti dua pemuda yang tidak tahu harus melakukan apa, tenggelam dalam keheningan malam serta terombang-ambing dengan perasaan yang telah mereka ciptakan.

Ketika Hongki bersiap mengeluarkan suara semuanya terjadi. Dentuman keras terdengar disusul dengan guncangan yang begitu hebat. Tubuh pemuda itu terlempar menghantam tepi ranjang. Suara gemuruh entah apa terdengar di lantai dasar ini. Keduanya bangkit, saling memandang dengan perasaan takut yang menyelimuti.

"Ada apa ini?"

000XXX000

"Hyukkie, tunggu aku."

Pemuda itu berlari mencari nomor kamar yang dia cari. Nafasnya memburu, dasi dan jas yang dia pakai berantakan. Dia tidak peduli, pikirannya melayang terpusat pada sosok Eunhyuk. Betapa takut dan khawatir sekarang, tidak pernah dia mengalaminya. Ketakutan ini membuatnya bergetar, bahkan lidahnya kelu.

Setiap langkah dia pijakkan berharap dia melihat sosok pirang itu.

Berlari sambil melihat nomor kamar yang Nampak. Nafasnya tersenggal-senggal, kacau. Perasaan ini begitu menyiksanya hingga tidak tertahankan. Perasaan khawatir benar-benar menggerogoti seorang Lee Donghae.

Tuhan…dimana dia.

Dia ingin melihatnya sekarang.

Dengan tergesa-gesa pemuda itu berlari kembali, mencari nomor kapal dengan deretan nomor yang acak. Dia tidak mampu berfikir, dan dia hanya berharap bahwa pemuda tidak terjadi apa-apa dengan pemuda terkasihnya. Dia sudah menyelusuri lantai kawasan bangsawan ini, menyelusuri setiap sudat ruangan berharap dia menemukan kekasihnya.

Akhirnya Donghae berdiri tepat di kamar yang dia cari.

Ada perasaan yang mengganjal ketika dia mengedarkan matanya pada pintu itu. tidak ingin menunggu lama, Donghae meraih pintu kamar. Tidak dikunci. Beruntung. Dia langsung masuk tanpa mempedulikan etika yang selama ini keluarganya ajarkan.

Terlalu khawatir

Dia masuk ke dalam kamar

Gelap, tidak ada cahaya yang menerangi isi kamar

"Hyukkie…,"panggilnya.

Dia meraih saklar lampu di tembok. Berhasil dia memencet saklar, lampu bolham menyala menyinari seisi ruangan.

Saat itu juga Lee Donghae membeku di tempat

Perasaan takut langsung masuk masuk. Dia benar benar merasakannya sekarang, dalam ketakutan yang nyata dan dalam kekhawatiran yang memuncak. Dia melihatnya. Darah berserakan di lantai kamar ini, seorang pemuda tergeletak dengan kepala berlumuran darah, pecahan botol wine berserakan menghiasi kamar ini.

Donghae memucat, tidak bisa membayangkan apa yang baru saja ditemui. Pemuda itu, dia sangat tahu pemuda itu. pemuda yang kemarin malam mendapat pukulan dari Hyukkie, bangsawan rendah yang menggoda Hyukkie-nya. Pemuda itu kini tergeletak dengan darah yang melumuri tubuhnya, menetes mengabsen setiap jengkal tubuh yang tidak tertutupi apapun, hanya celana panjang yang melekat.

Lantas dimana Hyukkie-nya?

Dia mengedarkan pandangan mencari sosok pirang itu. dan matany membulat ketika melihat sebuah tangan dibalik ranjang. Terburu-buru dia melangkah mengikuti tetesan darah yang tercecer. Dan semuanya terjadi ketika Donghae dengan mata kepalanya sendiri melihat dengan jelas sosok yang dicintainya tergeletak dengan sebuah pisau menancap diperutnya.

"Tidak mungkin, Hyukkie…"

Donghe meraih tubuh Eunhyuk, meraih ujung kepalanya. Nafas pemuda itu masih ada, namun sedikit. Donghae menangis, dia kecup wajah pemuda itu berkali-kali. Dia tidak peduli darah Eunhyuk yang mengotori pakaiannya. Hyukkie kekasihnya, kini tergeletak berlumuran darah dengan hanya mengenakan kemeja putih. Hati donghae menjerit, pilu.

Tangan Eunhyuk terulur menyentuh wajah Donghae, meresapi kulit yang kini berubah merah akibat darahnya. Tersenyum, Eunhyuk menatap wajah pemuda di depannya, pemuda yang menyangga tubuhnya, pemuda yang memeluknya hangat dan pemuda yang akan selalu ada dihatinya.

"Hae-ah kau datang."Suara Eunhyuk terdengar lemah.

"Hyukkie…,"

Miris…,hanya suara isakan yang terdengar dari mulut Donghae. Memeluk erat tubuh Eunhyuk dengan segenap jiwanya.

"Hae…,"suara itu kembali mendera indera pendengaran Donghae.

"Hyukkie, diamlah kau akan baik-baik saja."Donghae menatap pemuda yang semakin pucat itu.

Pemuda itu menggeleng pelan, tersenyum lemah sabil mengusap wajah Donghae.

"Hae-ah pria itu tidak menyentuhku, aku milik Hae seutuhnya. Mianhe…, Hyukkie tidak bisa menemani Hae."

Hanya detakan jantung yang semakin kencang ketika sang kekasih mengatakan hal itu. dia tidak peduli keadaan Eunhyuk dia hanya peduli jika EUnhyuk berada disisinya. Tapi bagaimanamungkin dia mengatakan hal ini?

Menyentuh bibir eunhyuk dengan jarinya, Donghae menggeleng pelan. Menolak setiap apa yang diucapkan pemuda di dalam rengkuhannya.

"Hyukkie, kau akan terus berada disampingku."ucap Donghae.

"Tidak Hae, aku senang melihatmu untuk yang terakhir kalinya."Eunnhyuk tersenyum lemah, memejamkan mata, merasakan bagaimana sentuhan Donghae. Lembut dan akan selalu terekam di benaknya. Inilah yang dia inginkan, hanya dia dan sentuhannya. Eunhyuk merasa bahwa sebentar lagi dia akan pergi. Dia sudah rela melepas semuanya, melepas hidupnya dalam keadaan seperti ini. Dalam rengkuhan sang kekasih. Dia berikan senyum terakhir yang ia bisa, mencoba memberikan sedikit memori indah dihari terakhirnya bersama Donghae.

"Tidak HYukkie."Donghae mengecup rambutnya.

"Hae….,"nafas pemuda itu sudah terputus.

"Hyukkie saranghae, jeongmal saranghae. Bertahanlah,"DOnghae mengecup rambut pirang itu, menangis hingga dia tidak mampu lagi bicara.

"Hae.., saranghae."

Dan mata itu terpejam sempurna

Melepaskan jiwanya dari rengkuhan kekasih, terlepas bersama suara angin yang berhembus. Pemuda itu hanya terisak tanpa mendengar lagi suara detak jantung Hyuk.

"Hyukkie….!"

Suara itu menggema disusul dengan benturan yang sangat keras, dentuman yang terjadi dan lampu yang tiba-tiba mati. Tidak ada ketakutan dan tidak ada kekhawatiran, jiwanya telah mati bersama pemuda di dalam rengkuhannya.

000XXX000

Kedua pemuda itu berjalan di deck nomor dua kapal ini. Pelan saling memandang dengan menautkan kedua tangan mereka. Mereka baru merasakan guncangan hebat dan dentuman keras melanda Concordia. Hanya saling bertautan dan berjalan dengan keyakinan yang telah tertanam di hati.

Beberapa langkah perjalanan mereka, lampu tiba-tiba saja mati. Gelap menyelimuti Concordia. Membuat kepanikan melanda seluruh penghuni Concordia. Para penumpang mulai panik. Dengan bunyi dentuman dan putusnya listrik membuat pikiran buruk mulai berkembang.

Sungmin merasa gusar, dia eratkan genggaman tangan kyu mencari sedikit kenyamanan di tengah kekacauan yang terjadi.

"Kyu, ada apa ini?" suara Sungmin bergetar hebat. Dia merasakan perasaan panik yang tiba-tiba menjalar hebat di sekujur tubuhnya.

Tidak bisa bergerak, terpaku pada pikiran-pikiran kejadian buruk yang mungkin saja terjadi. Semuanya gelap, hanya cahaya bulan yang menyinari Concordia. Tanpa ada sedikitpun cahaya yang meneranginya. Kepekatan malam semakin merajalela, kegelapan membentangkan sayapnya mencapai ujung cakrawala. Sungmin bergetar hebat. Dia mendengar teriakan yang memekakkan telinga, seperti longlongan kematian yang membahana.

"Aku tidak tahu Minnie."

Kyu menjawab dengan keraguan yang hinggap disanubarinya.

Tiba-tiba salah satu awak kapal berseru dengan lantang, menjadi pusat perhatian seisi kapal.

"Tenang, ini hanya mati lampu biasa."

Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing, Sungmin mencerna setiapa apa yang terjadi. Dentuman, guncangan dan kegellapan benar-benar membuatnya tidak mampu membayangkan apa yang terjadi. Hanya orang bodoh yang menganggap semuanya baik-baik saja!

"kyu kalau hanya mati lampu biasa kenapa seluruh kapal mati."ucap Sungmin.

"Kita harus ke deck atas mencari tahu,"Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin pelan, dia menarik tangan sungmin hendak menaiki tangga yang menghubungkan dengan deck paling atas.

"Tunggu kyu, aku akan mencari Hyukkie dan Hongki."Sungmin berhenti menatap kekasihnya.

"tenanglah, aku akan menyuruh pelayan setiaku untuk mencarinya."

Sungmin ragu

Dia mencengkeram kemeja yang dia pakai. Kekhawatiran benar-benar membuatnya kacau.

"Min, percayalah padaku."Kyu meraih wajah Sungmin, menatap lembut kekasihnya.

"Baiklah, aku percaya padamu kyu."

Dan keduanya berjalan di bawah kegelapan.

000XXX000

"Ada apa ini?"

Lampu yang tiba-tiba padam membuat kedua pemuda yang berada di dasar kapal ini terdiam, bunyi aneh yang terdengar seperti decitan besi meneror indera pendengaran. Mereka berdua saling memandang meski sosok cantik berambut panjang tidak mampu menajakan penglihatannya.

"Kita harus ke deck atas. Berbahaya kalau kita berada di deck paling dasar. Ayo keluar."Jonghun berucap sambil mencari lilin di meja itu, namun nihil tidak ada satupun sumber penerangan yang biasa dipakai.

"Tunggu, mataku tidak bisa bekerja dengan baik kalau aku berada di kegelapan." Hongki ingin melarikan diri dari penglihatan yang dia dapat. Tapi tubuhnya seakan-akan terpaku. Terkunci hingga berlari, dia telah terjebak dengan ruangan ilusi yang nyata. Baru sekarang dia mengalami tubuhnya menggigil sedikitpun tidak mampu menggerakkan seujung jaripun. Sepasang mata miliknya melebar. Dia tidak bisa menerima tentang ini semua, tentang keadaannya sekarang. Dia tidak memiliki kesempatan untuk dengan kekosongan berdenyut dalam dadanya.

"Peganglah tanganku."Ragu, Jonghun menawarkan pada pemuda itu.

"Ne, gomawo."

Jonghun langsung menarik tangan Hongki, baru beberapa langkah. Dia merasakan sepatu yang dikenakan basah, pelan dia melirik ke bawah. Dan seketika matanya membulat sempurna, jantungnya seakan dipacu lebih cepat dalam keadaan yang terjadi.

"Air…, kenapa bisa ada air di lantai kapal. Cepat kita harus keluar."

Jonghun mencopot jas yang dia pakai kemudian menarik tangan Hongki keluar dari kamar. Suara gemuruh orang kelas bawah menggema penuh dengan ketakutan yang mengancam jiwa-jiwa mereka.

"Ada apa ini?"Hongki bertanya pada salah satu penumpang.

Sebelum penumpang menjawab suara awak kapal menggema mengumumkan sesuatu yang membuat mereka diliputi kepanikan sekaligus ketakutan yang luar biasa.

'Concordia akan tenggelam'

Semuanya membeku.

Jonghun dan Hongki langsung berlari menuju tangga yang menghubungkan deck bawah dengan deck atas. Para penumpang lain mengikuti mereka mencoba menuju deck paling atas. Suara gemuruh terdengar sangat deras, gelombang air di dalam meninggi.

"Aish air semakin tinggi,"Hongki masih memegang tangan Jonghun. Genangan air sudah setinggi paha mereka. Hanya ketakutan yang tertanam pada penumpang lain. Setiap mereka melangkah tetes tetes air mengikuti kemanapun mereka berjalan, menjadi terror ketika air akan berkumpul dan menenggelamkan mereka.

"kapal akan tenggelam, kapal akan tenggelam."

Hongki meremas tangan Jonghun takut.

"Tenang, aku tidak akan membiarkanmu mati. Percaya padaku!"

'Degggg'

Tidak dipungkiri, ucapan itu membuat Hongki gelagapan, belum pernah seseorang mengatakan hal ini padanya. Dalam keadaan genting yang berkepanjangan sempat-sempatnya dia merona. Hongki menepuk pipinya pelan. Dia menutup wajahnya membuat sang master piano memandang pemuda itu bingung.

Mereka kembali berjalan melawan derasnya air yang mulai masuk, di depan mata mereka air setinggi satu meter menggulung mulai menghancurkan segala yang ada di dalam deck dasar ini. Mereka berbalik, melangkah menghindar dari kejaran gelombang yang mulai seolah-olah mengejar mereka. Mereka mencari pintu lain menuju deck atas.

Namun naas gelombang besar sudah masuk menenggelamkan kedua pemuda itu.

Menahan nafas di dalam air laut yang memberi tekanan tinggi mereka mencoba berenang, meski nafas mereka sudah tidak mampu dikomromi lagi. Paru-paru seakan penuh dengan air yang menyerang.

"Jong-hun."Hongki sudah tidak mampu bernafas, dia sudah tenggelam total, air seakan-akan memberi tekanan pada daerah gendang telinga dan mulutnya. Matanya sudah buram dengan suara air yang menyekat pandangannya.

Tangannya menjulur ke atas sesekali kepalany mendongak mengambil oksigen,namun tarikan tekanan gelombang air menyeret kembali ke dasar kapal. Kepalanya terasa berputar dengan suara yang terdengar ditelinga, seperti tekanan air yang siap masuk menghancurkan indera pendengarannya. Namun sebuah tangan kekar meraih pinggangnya, membawanya ke permukaan hingga dia mampu bernafas kembali. Pemilik tangan yang diketahui Jonghun itu berenang mencari anak tangga yang menghubungkan dengan dek atas.

Akhirnya anak tangga dia temukan, dia menarik tubuh Hongki menuju anak tangga meninggalkan genangan air yang sia-siap meluap meminta korban lainnya. Hongki memutahkan air, kemudian menatap pemuda yang menyelamatkannya. Di anak tangga itu orang-orang sudah berkumpul sambil menjambak rambutnya frustasi.

Merasa heran, pemuda itu berjalan menuju anak tangga

Dan sebuah kenyataan terpampang jelas di kedua pelupuk matanya, kenyataan yang membuat para penumpang paling bawah ini tampak frustasi dan seakan akan pasrah dengan kematian yang mengancam.

"Kenapa pintu ini dikunci. Sialan. Buka pintu ini."Teriak Jonghun sabil memgang gembok yang sudah terkunci. Tapi Jonghun tau seberapa kuatpun dia berteriak tidak akan ada yanga akan membukakan pintu ini. Dia tahu bagaimana piciknya dan liciknya para bangsawan di atas sana, hanya memikirkan keselamatan mereka tanpa memikirkan manusia lainnya. Dia sangat tahu sekoci yang mereka bawa hanya sedikit tidak mampu menampung seluruh penumpang kapal.

Mungkin saat ini penumpang kelas utama dan kelas dua dengan mudah mencapai perahu penyelamat dan sekoci dengan tangga menuju deck perahu, namun kelas tiga seperti yang dilihat Jonghun sangat sulit. Jalur di bagian bawah kapal yang sulit dipahami menyulitkan mereka untuk sampai ke perahu penyelamat. Dan sekarang yang paling tidak Jonghun mengerti, bagaimanamungkin awak kapal tega mengunci mereka.

"Kami juga manusia."Teriak manusia-manusia di sebelahnya.

"Kita dobrak pintu ini."ujar Jonghun.

Mereka semua mengangguk mengikuti perintah seorang pemuda yang baru genap berusia duapuluh tahun itu. dengan beberapa hitungan, mereka menggunakan tubuh mereka untuk mendobrak. Tidak berhasil. Mereka kembali pantang menyerah meski sekujur tubuh sakit akibat benturan dengan besi itu.

Akhirnya ketika kekuatan penuh ereka gunakan, pintu berhasi disobrak. Mereka berteriak dengan senyuman yang mengembang di wajah mereka. Berbondong-bondong menuju deck atas untuk meraih kebebasan. Hongki tersenyum pada Jonghun, menggenggam tangannya dengan nyaman. Berjalan menuju rintangan lain yang akan mereka lalui.

"Jonghun, gomawo"ucapnya lirih

000XXX000

Dan dengan deraian air mata apakah semuanya dapat diukur betapa sakit yang dirasakan? Tidak. Pernahkah engkau merasakan sesuatau yang berharga terampas paksa dari sisimu, terampas tanpa meninggalkan sesuatu di tanganmu. Perasaan ini tumbuh melumpuhkan semuanya, meninggalkan hati yang menganga lebar karena terluka.

Satu langkah, dua langkah. Pedih dan tanpa arah. Badannya terhuyung, berjalan tanpa arah. Semuanya telah berakhir tanpa sedikitpun perasaan hangat yang menyelimutinya, dingin mencekam. Hatinya kosong, dipenuhi dengan goresan tinta hitam yang perlahan-lahan menutupi.

Lee Donghae menatap wajah pemuda dalam gendongannya

Tertidur dengan wajah putih yang mempesona, dia masih cantik meski wajahnya memucat. Meski warna merah telah menyebar pada pakaian putihnya dan sedikit mewarnai rambut pirangnya.

Dia berjalan menuju tempat pengukuhan. Meski teriakan ketakutan terdengar di setiap sudut kapal. Dia sudah tidak peduli. Jiwanya mati bersama matinya sang kekasih.

"Kapal akan tenggelam, naiklah ke sekoci."seorang awak kapal menyerahkan dua pelampung pada donghae, donghae tidak bergeming membawa tubuh Hyukki dalam dekapannya.

"Menyingkirlah."ucap Donghae sarkastik.

Sang awak kapal menggeleng pelan meninggalkan Donghae dengan pandangan yang sulit diartikan, dia membiarkan pelampung tergeletak di bawah kaki Donghae. Donghae menghela nafas, memandang sekeliling yang mulai kosong. Dia tidak peduli lagi, walaupun kapal akan tenggelam dia tidak peduli, toh jika itu terjadi malah lebih baik untuknya.

Dia mendengar deru air dibawah lantai

Sebentar lagi semuanya selesai, ya selesai.

Pelan, dia melangkah. Namun baru beberapa langkah dia mendengar suara yang tidak asing lagi.

"Donghae-hyung."

Suara Hongki sangat jelas terdengar, Donghae tersenyum miris. Melihat pemuda itu mengingatkan pada pemuda didalam rengkuhannya, bagaimana dia harus mengatakan pada Hongki, bagaimana dia harus menjelaskan apa yang terjadi dengan Hyungnya.

Hanya bisa pasrah, menyandarkan seutuhnya pada kenyataan yang ada. Tidak akan pernah sanggup menjelaskan, karena suaranya telah terkunci rapat bersama hilangnya sang belahan jiwa. Dia masih berdiri, menunggu saudara dari pemuda yang dia cintai melihat sendiri apa yang terjadi, tanpa penjelasan hanya dengan pandangan mata yang membuka kenyataan.

Dari Jauh, Hongki berlari bersama seorang pemuda yang tidak dia kenal

Semakin dekat membuat perasaan kacau menyeliuti, perasaan yang mencekik leher kenapa Donghae tidak mampu melindungi Hyukkie, kenapa Hyukkie harus mengalami semua ini.

"Donghae-hyung. Kau menemukan Euhnyuk-hyung?"dari jauh Hongki sudah bertanya.

"….."

Tidak ada jawaban sedikitpun dari mulut Donghae. Hanya memandang dua pemuda itu kosong sambil memluk erat sang kekasih.

Hongki mendekat, sekarang dengan jelas dia melihat tubuh Hyungnya dalam rengkuhan Donghae. Dengan cepat semuanya terbuka, tereksplor bagaimana keadaan eunhyuk seutuhnya. Hyung-nya tergeletak dengan wajah yang pucat, hanya mengenakan kemeja putih panjang dengan darah yang membasahi sekujur tubuhnya. Membeku, badannya lemas seketika. Air mata perlahan turun dari manik indah Hongki.

"Eunhyuk –hyung, apa yang terjadi dengannya."Hongki menangis, mencium Hyung-nya dengan segenap hati.

"Dia sudah pergi."Donghae berucap.

"Andwee, Eunhyuk-hyung."Tubuh Hongki bergetar hebat, dia memeluk hyung-nya lembut. Berkali-kali mencium kulit pucat itu.

Hongki menangis, dia sudah tidak bisa bertemu Hyung-nya. Tidak bisa. Dia tidak mungkin tanpa Hyung-nya. Tidak ada lagi yang berebut makanan dengannya, tidak ada yang akan dia tipu dan tidak ada yang akan mengajarinya menari. Menangis bahkan tidak cukup untuk mengungkapkan semuanya, ikatan darah yang mengalir kuat cukup untuk menjelaskan bagaimana perasaan pemuda itu.

"Pergilah kalian, kapal ini akan tenggelam."Donghae berucap.

"Eunhyuk-hyung."Hongki terisak.

"Tolong titip Hongki dan pakailah pelampung ini."Dengan menyangga tubuh Eunhyuk, DOnghae mengambil pelampung dibawah kakinya dan menyerahkan pada Jonghun.

"Aku akan menjaganya."Jonghun menerima pelampung.

"Cepatlah, air akan masuk ke lantai ini."Donghae berkata sambil tersenyum pada adik iparnya itu, "Hyukkie tidak akan sendiri, aku berjanji akan menemaninya. Sekarang pergilah sebelum semuanya terlambat."

Hongki menggigit bibir bawahnya mencoba menekan isakan yang terus keluar dari bibirnya, dia mencium lembut dahi Eunhyuk menyalurkan segenap perasaan pada hyung-nya.

"Eunhyuk-hyung."tidak rela pemuda itu pergi dengan beban yang dipikul, melihat untuk terakhir kali Eunhyuk yang tertidur dengan tenang.

"Ayo Hongki, air mulai naik ke deck dua ini."Jonghun menggenggem tangan Hongki, menariknya menjauhi kedua pemuda itu.

"Eunhyuk-hyung."

"Tenanglah, yang penting kita selamatkan diri terlebih dahulu."terdengar samar-samar ucapan Jonghun, Jonghun memakaikan pelampung ditubuh Hongki, kemudian mereka berlari menimbulkan suara sepatu yang menjauh.

Getaran dari bawah kapal mulai terasa, air yang masuk dari tangga mulai menggenangi lantai kapal. Donghae kembali berjalan menuju sebuah ruangan yang dia gunakan untuk berdoa. Di sini, ditempat ini dia akan mengikat janji bersama seseorang yang dicintainya, seseorang yang kini tertidur nyaman di bahunya.

Ruangan ini masih belum tersentuh air, pintu yang terbuka lebar, jejeran bangku yang tertata rapi dan seorang pendeta masih berada disana hendak keluar dari tempat ini.

Dengan langkah pelan, dia memasuki ruangan membayangkan pernikahan bersama Hyukkie. Pendeta itu berjalan hendak keluar dari ruangan namun ditahan oleh Donghae.

"Pendeta, nikahkanlah kami berdua."ucap Donghae.

"Tuan, maaf kita harus menyelamatkan diri. Kapal akan tenggelam."

"Aku tidak peduli, nikahkanlah kami berdua."Donghae mencengkeram tangan pria berumur empatpuluh tahunan. Dia memandang Donghae kemudian turun menatap sosok pemuda yang tergeletak tidak berdaya. Dahinya berkerut.

"Tuan jangan gila, pemuda ini bahkan sudah tidak bernyawa lagi dan kapal akan segera tenggelam."

"Aku mohon."Donghae berkata pelan.

"Maaf, aku tidak bisa."

Pria berpakaian hitam itu melangkah menjauhi Donghae.

Dan detik itu pula Donghae mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah senapan terjulur mengarah pada sang pendeta.

"Pendeta jika kau pergi dari ruangan ini, aku akan menembak kepalamu sekarang juga."

00tbc000

Chapter tiga selesai dan chapter selanjutnya adalah chapter terakhir.

Sekedar info, sebelum Concordia tenggelam memang terdengar lagu titanic my heart will go on.

Mian, Kyumin pada chapter ini tidak terlalu banyak soalnya scenario yang author buat seperti itu dan soal kematian Hyukkie, sebenarnya author sendiri gak tega ngasih peran ini pada Hyukkie.

Jujur author hampir nangis pas waktu ngetik haehyuk scene. Tidak tega, tapi toh ini hanya sebuah cerita#plak.

Gomawo yang sudah baca. Saya sangat berterimakasih kepada semuanya, yang sudah baca, yang meninggalkan review maupun tidak. Terimakasih.

Yosh…membalas review.

Fujita Hoshiko : gomawo sudah baca, mian chapter ini kurang banyak kyumin-nya. Chapter depan pasti anda puas. Jadi ikuti terus ceritaku ya. Gomawo!

Kyumineunhae: hyukkie selamat kok dari sentuhan namja itu, tapi ya seperti inilah.

My blackfairy : gomawo dah baca ceritaku, Donghae cinta banget ma Hyukkie kok. Gomawo.

Cho Hyun Jin : ne ini kapal tenggelam yang diberita itu loh, kebetulan pas tahu Costa Concordia tenggelam langsung dapat ide ini. Gomawo sudah baca dan review.

Anchovy861015 : saya juga tidak membiarkan hyukkie disentuh namja lain. Tapi beginilah akhirnya, aku sampai menangis loh nulisnya.

Park Min Rin : Ne, ini Costa Concordia yang tenggelam di italia 2 bulan yang lalu. Gomawo sudah baca dan meninggalkan jejak.

Min : Ne, sudah update kok.

yukiLOVESUNGMIN :menjawab pertanyaan antara wonbin atau jonghun yang pantas buat Hongki jelas jawabannya Jonghun. Hongki tidak suka orang yg bergolongan darah O dan Wonbin bergolongan darah O. Jongkibin dulu sekamar bertiga, tapi Jonghun selalu berada di tengah dan tidur selalu menghadap ke Hongki, tidak pernah ke Wonbin. Hongki pernah update twitter kalau Jonghun dan Hongki adalah couple. dan pertanyaan lainnya bias ditanyakan lewat sms ne.

RizkaIwanda : Gomawo sudah baca. Ni udah update.

Hyeri : semuanya sudah terjawab ne.

AiNeko-chan : Gomawo AiNeko-chan. Dan menurutku ini lebih tragis dibanding titanic, karena yang maincouple favorit saya semua.

PumpkinChoi : gomawo sudah baca da. n review. Pokoknya ikutin aja fic ini ne.

Arit291: ini sudah update cepat.

ShinNa Daniel : gomawo.

Lee Jae eun : gomawo dah review, nih dah lanjut.

Hyukkie : Gomawo

Yoshhh sudah menjawab review. Gomawo semua. Jika kalian berkenan, tinggalkan jejak kalian dengan review.