Title : Costa Concordia

Main Cast :

Lee Hyukjae

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Lee Hongki

Choi Jonghun

Genre : Angst, Romance.

Rating : T-Semi M

Warning : Fanfic yang terinspirasi tenggelamnya kapal Costa Concordia. Ooc. Boys-boys. Tanpa diedit.

Costa Concordia

Chapter 4 / end

Kalian masih ingat bencana terdasyat di lautan beberapa puluh tahun yang lalu, 14 April 1912. Nyanyian dan jerit kematian yang melonglong dalam kapal titanic . ketakutan dan kepasrahan meneror di tengah lautan dengan suhu beku. Di tempat itu, terror semakin nampak. Manusia dengan Menampakkan wajah-wajah ketakutan, berteriak dan berlalulalang dengan garis kepasrahan, memelas dengan tangisan air mata yang menggenang di wajah mereka.

Gunung es yang membuat suhu menurun berdiri gagah seolah-olah menjadi saksi bisu bagaimana Titanic tenggelam, dengan suhu dibawah nol derajat, membuat sekujur tubuh kaku, hipotermia melanda ketika tubuh tidak mau mengatasi tekanan suhu dingin. Sang korban mulai tidak sadar, badan kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut, dan nafas seakan akan hilang termakan udara dingin. Dan setelah itu hanya ada keheningan dengan tubuh tanpa nyawa mengambang di laut atlantik.

Dan sekarang terror ini kembali.

Walau bukan gunung es yang menjadi penyebabnya tapi batuan karang raksasa cukup membuat kapal semewah Concordia berakhir tenggelam.

Sekoci sudah diturunkan, berebut menyelamatkan diri dari maut yang mengancam. Seperti binatang, saling mendorong hingga hingga ada yang terjatuh terhimpit badan kapal. Kedua manusia itu saling memandang, menautkan tangan-tangan mereka mengurangi perasaan gugup yang melanda.

"Kyu, dimana Hyukkie dan Hongki."Sungmin mencari dua adiknya diantara ribuan penumpang yang ada di deck atas. Perasaan khawatir menggerogoti akan sosok dongsaengnya.

"Tunggu mereka pasti akan datang."Kyuhyun meraih pundak sungmin.

Perasaan Sungmin sudah kacau, hanya melihat sekeliling orang-orang yang berebut menaiki sekoci yang terbatas. Dia merasa takut jika kedua dongsaengnya tidak di deck ini. Karena deck inilah yang tersisa, genangan air dan tekanan air dirasa sudah setengah menenggelamkan Concordia. Kepalanya berputar ketika melihat derasnya gelombang laut yang masuk melalui lambung sebelah kiri Concordia. Dan dia yakin sebentar lagi Concordia akan tenggelam. Hanya pasrah entah apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti, apakah dia akan selamat dari kejadian menakutkan ini atau hanya tinggal namanya yang tertulis di daftar nama korban Concordia.

Keduanya maju berniat menaiki sekoci yang akan diturunkan, namun tubuh sungmin terdorong membuat dia terjatuh di lantai kapal. Dan hanya bisa memandang para ratusan binatang menyerbu sekoci yang barusan diturunkan. Kyuhyun meraih tubuh sungmin, membantunya berdiri. Keduanya berjalan kembali menuju sisi kapal dimana Sekoci yang sedang diturunkan.

"Pakailah pelampung."Seorang awak kapal menyerahkan satu buah pelampung kepada Kyuhyun,"Maaf persediaan pelampung hanya ada satu."

Kyuhyun menatap sebuah pelampung di tangannya. Dan setelah itu pandangannya tertuju pada sebuah sekoci yang menjauhi kapal, sekoci dimana ayah dan keluarganya dipastikan selamat dari kejadian ini. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas bagaimana ayahnya menatap Kyuhyun saat ini juga, walaupun jauh namun Kyu sangat yakin jika ayahnya mengeluarkan air mata-nya. Setidaknya Kyu yakin bahwa orang tuanya akan selalu menjadi orang tuanya dan itu memberi sedikit kebahagiaan ditengah kekacauan yang sedang terjadi.

Sungmin meraih tangan Kyu, memberi kekuatan pada pemuda itu. tersenyum Kyu menatap Sungmin lembut.

"Minnie, pakailah pelampungmu."Kyu memberikan pelampung itu pada Sungmin.

"Kyu, kau yang harus memakainya."Sungmin menolak, dia memberikan pelampung pada Kyu.

"Tidak, pakailah. Bagaimanapun aku akan melindungimu dan bayi kita."Kyu membuka pelampung dan memakaikan pada tubuh mungil Sungmin.

"Minnie-hyung."

Sebuah suara terdengar diantara keramaian yang terjadi. Suara itu, suara yang sangat Sungmin hafal. Dia mencari-cari mengedarkan pandangannya ke seluruh area kapal. Dan akhirnya, rabut panjang kecoklatan Hongki terlihat berlari bersama seorang pemuda yang sama sekali tidak dia kenal. Hatinya mencelos ketika melihat kondisi dua pemuda itu, seluruh tubuh mereka basah namun yang lebih memprihatinkan kondisi Hongki yang sangat kacau, matanya merah, ada bekas air mata yang masih jelas terlihat. Hongki-nya menangis. Ada apa?

"Hongki-ah?"

"Minni-hyung."

Keduanya berlari dan saling memeluk, SUngmin dapat merasakan getaran tubuh Hongki, Hongki menangis dia sangat yakin itu. pelan Sungmin menepuk pundak Hongki mencoba menenangkan pemuda itu.

"Dimana Hyukkie?"Tanya Sungmin.

Tubuh Hongki semakin bergetar

"Eunhyuk-hyung dia sudah tidak ada hyung."

000XXX000

"Kau boleh mencium mempelaimu."Sang pendeta berucap.

Pemuda bernama Lee Donghae menatap wajah yang sudah memucat itu, pemuda di pangkuannya yang telah resmi menjadi isterinya. Rambut pirangnya yang biasa dia hirup sekarang tanpa makna, bibir yang selalu menampakkan Gummy smile-nya tidak lagi berwarna merah. Pucat tanpa warna. Pucat tanpa rasa. Pucat sepucat masa depan pemuda itu.

Lee Donghae memeluk tubuh pemuda itu, mencoba memberi kehangatan pada sosok yang telah dingin itu.

Lee Donghae terduduk bersama mayat pemuda yang dia cintai.

Memeluk sambil bergetar meraih pucuk kepala pemuda pirang itu, perlahan dan gemetar menyelusuri wajah pemuda yang menjadi nyawanya.

Terisak dia memautkan bibirnya pada pemuda itu. mencium lembut setiap sudut bibir yang selalu membalas senyumannya itu.

Lama tanpa Emosi

Karena Donghae tahu betapa dia ingin mendengar desahan dari pemuda itu, tidak akan mungkin. Sang pirang tidak mungkin membalas ciumannya, tidak mungkin memperlihatkan wajah bersemu merah ketika dia menatapnya, tidak mungkin lagi.

Butiran air mata kembali turun di sela-sela ciuman panjang-nya. Membasahi wajah pucat Hyukki-nya. Seandainya butiran air mata ini milik kekasihnya, seandainya pemuda dipelukannya tersenyum malu dan seandainya mereka menikah tidak dalam keadaan seperti ini.

Namun itu hanya seandainya…

Hanya seandainya…

Tidak ada lagi masa depan untuknya dan pemuda di pangkuannya.

"Tugasku sudah selesai tuan, maaf aku harus pergi."Pendeta itu keluar dari ruangan yang telah dibasahi oleh air ini

.

Donghae tersenyum, perlahan dia baringkan tubuh pemuda itu di atas meja panjang nan lebar. Dia merangkak naik, membaringkan tubuhnya di atas meja kemudian memeluk tubuh sang terkasih. Dia pejamkan matanya, dia dapat mendengar dengan jelas suara air yang mulai naik ke atas.

"Hyukkie, kau adalah mempelai paling cantik yang pernah aku temui. Kita sudah menikah dan kau resmi menjadi isteriku. Saranghae Chagiya."

Dia kembali menatap wajah di sampingnya. Menutup mata menanti sang malaikat menjemputnya menyusul sang kekasih. Dalam gelombang air laut yang semakin menenggelamkan dirinya, sedikit demi sedikit. Tetap bertahan, bersama pemuda itu.

"Kita tidak akan berpisah lagi. Untuk selamanya."

Dan dengan ini semuanya berakhir…

Keduanya menutup mata

Dan lembaran ini ditutup dengan tekanan air yang mengubur mereka, menenggelamkan keduanya di dalam Concordia. Kapal yang terkubur dan menyimpan berbagai kisah cinta.

Deck kapal nomor dua hancur termakan air, naik menuju deck paling atas dan akan menjadi saksi kekuatan cinta lainnya.

Cinta yang sanggup membuat cerita seperti ini.

cinta yang sanggup menenggelamkan seseorang kepada keputusan paling irasional sekaligus.

dan keajaiban cinta yang sanggup menyihir sang penderita dengan pengorbanan diri.

Cinta…Kenapa harus ada cinta?

000XXX000

"Maksudmu apa Hongki, apa yang terjadi dengan Hyukkie?" Sungmin mengguncang-guncangkan bahu pemuda di menghela nafas, dia tidak mampu mengucapkan sesuatu kenyataan itu. Dia tidak ingin melihat lagi penderitaan ini. Dia terlalu takut mengatakan kenyataan yang telah terjadi, kenyataan yang telah merampas Hyung kesayangannya.

"Eunhyuk-hyung sudah tidak ada disini hyung, aku melihat darah mengotori baju putihnya. Wajahnya pucat di pangkuan DOnghae-hyung." Butir air mata langsung turun dari matanya, tidak perlu dijelaskan bahwa setiap apa yang dikatakan pemuda itu mempunyai makna yang ambigu.

"Andweeee, Hyuuukieee." Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, menangispun sudah dia lakukan.

"Minnie Hyung, Eunhyuk-hyung sudah pergi"jelasnya.

"Hyukkie."

Tanpa basa-basi Kyuhyun menyambar tubuh mungil Sungmin ke dalam pelukannya. Memberi ketenangan pada pemuda itu.

Namun mereka tidak selamanya harus tenggelam dalam kedukaan, bahwa nyatanya mereka masih berjuang dalam cengkeraman maut. Ketika mereka masih menangis pilu, sebuah benturan keras membuat mereka terlonjak, kapal bergoyang miring hingga penumpang harus berpegangan vertical untuk sekedar berjalan.

Kyuhyun dan Sungmin terbanting ke lantai kapal, tubuhnya terdorong akibat guncangan yang dahsyat. Kyu memeluk sungmin, melindungi tubuh sungmin dari benturan. Besi tebal yang menjulang menjadi pijakan terakhir Kyuhyun. Tubuh Kyuhyun terbentur besi, membuat besi berukuran panjang itu menyentuh keras bagian rusuknya.

Tubuh Sungmin terlindungi lengan kyuhyun yang memeluk erat Sungmin.

Kyuhyun bergerak, mencoba berdiri menyangga Sungmin. Meski dia merasakan bagian rusuknya terasa remuk redam dia mencoba berdiri, menyelamatkan sosok malaikat di pelukannya.

"Kau tidak apa kyu."Sungmin memandang Kyuhyun.

"Aku baik-baik saja min."ucapnya.

Dari melihat wajahnya saja Sungmin tahu jika pemuda yang dicintainya tidak merasa baik, dia bisa melihat kesakitan dari gurat wajahnya.

Ya Cho Kyuhyun merasa sakit dibagian rusuknya, bahkan meski tubuhnya ditutupi kemeja namun dipastikan bahwa tubuhnya terluka.

Kyuhyun menepi bersama tubuh Sungmin untuk berpegangan pada besi, begitu juga Jonghun dan Hongki keduanya berada pada sisis yang berbeda. Concordia mulai tidak setabil, paku-paku baja hampir terlepas semua, deck bawah sudah tenggelam sepenuhnya.

Bagian belakang kapal terangkat dari permukaan air memperlihatkan bagian bawah kapal, kemudi dan baling-baling kapal. Permukaan air membanjiri geladak perahu, keadaan semakin parah ketika dua sekoci terakhir terapung dari geladak, satu terbalik dan separoh berisi air.

Di geladak semakin kacau, Sungmin dapat melihat penumpang semakin panik. Para penumpang berlari ke belakang dan melompat ke dalam laut agar sampai ke sekochi terakhir. Bagian belakang perlahan terangkat ke atas dan barang barang berjatuhan ke laut.

Badan kapal Concordia tidak mampu menahan beban, perlahan lahan suara retakan dari lantai yang terkoyak dengan bunyi desisan air terdengar memekakkan telinga. Sedikit demi sedikit Concordia bergemuruh, lantai lantai dari kayu dan puing puing beton dan keramik mencuat ke atas. Berpisah dan pecah menjadi dua bagian.

Concordia terpecah

Concordia terpecah menjadi dua bagian dengan dua cerobong terakhir dan bagian depan tenggelam sepenuhnya. Bagian belakang kapal terhempas kembali ke laut dan pelan-pelan terangkat. Dan Concordia kembali bergerak naik membuat mereka semakin erat mencengkeram besi.

Concordia sedikit demi sedikit terangkat.

Tubuh Sungmin terasa tertarik kebawah. Gaya grafitasi membuat banyak orang jatuh ke dalam dinginnya air.

"Kita harus naik ke atas."teriak Jonghun.

Keempat pemuda itu berjalan dengan berat mengalahkan grafitasi yang mengancam jiwa-jiwa mereka, berat dengan tetap berpegangan pada pagar. Sungmin dapat melihat dengan jelas bagaimana satu persatu orang terjauh hingga membentur besi yang keras. Menutup mata dia pijakkan kakinya pada Concordia yang sudah terangkat lebih dari empatpuluhlima derajat.

Semuanya terjatuh, barang dan manusia dengan gampangnya jatuh dalam lembah kematian.

Langkah demi langkah di jalani, meski tubuhnya lelah menuju Concordia bagian atas.

Dia dapat melihat lubang yang menjadi penyebab tenggelamnya kapal yang dia tumpangi, daerah lambung kiri yang terus dimasuki air. Perlahan perasaan takut menyelimuti hati Sungmin, langkahnya sudah tidak mampu untuk dikompromi terlalu kaku. Kyuhyun menarik tubuh Sungmin membantu pemuda itu berjalan dengan besi pinggiran kapal sebagai pegangan.

Perutnya terasa ditekan ketika Concordia seakan akan berdiri, mereka berempat sudah sampai di atas berpegangan pada ujung besi paling atas. Mencoba mempertahankan posisi agar tidak jatuh.

"Kapal akan tersedot, sebelum masuk ke lautan kau harus menghirup udara sedalam-dalamnya."Teriak Jonghun.

"Jonghun."gumam Hongki di sampingnya.

"Ne….,ada a-"

Belum sempat pemuda itu berucap, sesuatu yang lembut menempel pada lengkungan tipis miliknya. Lembut, hanya sekilas membuat sang master piano itu tergagap dalam keadaan yang genting. Sentuhan sekilas itu dirasa cukup membuatnya kacau. Dia melirik pada Hongki yang mencengkeram erat besi kapal seolah-olah melupakan kecupan singkat itu.

"Kenapa?"Jonghun berteriak.

"Sebelum aku mati aku ingin merasakan ciuman pertama, aku belum pernah berciuman. Terimakasih ternyata ciuman itu menyenangkan."

Pemuda itu belum sempat berfikir, ketika tarikan dari air laut semakin kuat. Mereka menghirup nafas dalam-dalam mencoba menghadapi derasnya air laut yang mulai memakan sedikit demi sedikit badan kapal.

Menutup mata mencoba menghirup udara yang semakin menipis, badan kapal senti demi senti, meter demi meter tersedot grafitasi, meluncur dari permukaan menuju bawah laut. Cengkeraman pagar semakin erat tidak ingin terhempas ke dalam dasar.

Satu…

Dua…

Tiga…

Concordia tenggelam sempurna. Mereka terhempas sambil menahan nafas di dalam air. Iaut memberi tekanan membuat gerakan badan semakin terkungkung. Mereka tenggelam dibawah derasnya gelombang laut. Laut semakin menuntut mereka ke dalam lembah kematian. Beratus-ratus orang tersedot ke dasar perairan.

Hongki yang menggunakan pelampung berhasil terapung ke atas permukaan bersama para penumpang lainnya. Dia mencari-cari kibaran rambut merah diantara manusia yang terapung dilautan mediterania. Meski suhu dingin menusuk tulang mengakibatkan badan kaku Hongki tetap menggerakkan tubuhnya. Mencari Sungmin dan si rambut merah itu.

"Sungmin Hyung, Jonghun."teriaknya.

Dia mencari sesuatu sebagai pegangan agar dia tetap terapung di lautan, namun sebelum dia berhasil meraih sisa sisa meja dari kayu yang terapung sebuah tangan mendorongnya mencoba merebut potongan kayu itu. hongki terjatuh, kepalanya bahkan tertekan oleh orang itu. Manusia sudah seperti binatang yang melukai orang lain untuk mempertahankan dirinya sendiri.

"Lepas-kan a-ku."

Disela sela nafasnya yang tertelan dengan air yang masuk ke dalam mulutnya pemuda itu berucap. Tersenggal-senggal di bawah tekanan air dan tekanan tangan pemuda itu. seperti ingin mati ketika dia tidak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan dirinya. Gelembng-gelembung air yang diciptakan mengidentifikasi dia sudah tidak mampu bernafas. Matanya buram, sepertinya pemuda ini memang tidak pernah cocok dengan air.

"Lepaskan dia!"sebuah suara terdengar samar-samar.

Yang dia tahu hanya sekarang tubuhnya terangkat ke permukaan laut. Nafasnya kembali normal dan pandangannya yang buram lama-lama kembali terang. Terengah engah hanya terdengar deru nafas dari sosok Hongki.

"Kau tidak apa-apa?"

dia masih menghela nafas, terlalu sesak. Dinginnya udara dengan dinginnya air membuat tubuhnya kaku dan nafasnya tercekat, apalagi adegan tadi yang hampir merenggut nyawanya. Dia bernafas bebas sambil melirik kepada pemuda yang menolongnya, pemuda dengan rambut merah dalam keadaan basah. Master-nya Choi Jonghun. Dia mengedarkan pandangannya pada pemuda yang menenggelamkannya, wajahnya kini babak belur dan dia yakin apa yang terjadi dengan pemuda itu.

kedua pemuda itu berenang mengambil kayu yang terapung, kemudian mereka berpegang pada kayu.

"Kau tidak apa-apa?"Tanya Hongki.

"Ya, aku tidak apa-apa. Seharusnya aku yang bertanya padamu?"

Keduanya terapung diantara lautan Mediterania.

"Kenapa aku tidak melihat Sungmin-hyung."

"Aku yakin dia baik-baik saja."ucap Jonghun.

Mereka menghembuskan nafas lelah. Suhu dingin yang melanda membuat nafas mereka tersendat. Meski ini bukanlah kisah Titanic yang menabrak gunung es, tapi dingin benar benar membuat mereka menggigil. Laut mediterania dan musim dingin menjadi perpaduan yang pas yang sanggup membuat mereka terkena hipotermia.

"Apa yang akan kita lakukan."nafasnya mengeluarkan udara dingin yang menusuk, terombang ambing di tengah lautan dengan udara yang kian mendekati nol derajat.

"Menunggu kapal penyelamat,"ucap Jonghun lirih.

"Jika tidak ada kapal penyelamat yang datang bagaimana dan jika kita tidak mampu bertahan sebelum kapal penyelamat datang bagaimana?"Hongki berucap dengan nada yang sangat lirih.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kau akan hidup."Jonghun mengusap rambut pemuda di depannya.

"Apa yang akan kau lakukan jika kita selamat."Tanya Hongki.

"Mungkin menikahimu."

"Mwoooo,"

"Belum tentu aku selamat dan aku tidak tahu aku bisa selamat atau tidak makanya aku mengatakan hal yang tidak mungkin. Apa yang akan kau lakukan jika kau selamat."

"Kau memang gila dan mungkin aku akan lebih gila lagi, jika aku selamat aku akan menerima pinanganmu, melahirkan banyak anak dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Hahaha, itu sangat menggelikan!"

"Hahaha, aku lelah aku mau tidur saja."

"Ne, aku juga."

0000XXX0000

Ketika Concordia termakan oleh tekanan air, Sungmin merasakan genggaman kyuhyun di tangannya semakin kuat. Mereka bersama tersedot ke dalam tekanan Concordia yang akan tenggelam ke dasar perairan. Sungmin ikut tenggelam, Genggaman tangannya dengan kyuhyun terlepas. Sungmin merasakan tekanan air yang seakan-akan mencabik-cabiknya. Grafitasi dan tekanan Concordia terlalu kuat.

Dia merasakan tekanan air mulai menekan telinganya, nafasnya tercekat namun dia mencoba menggerakkan badannya ke atas permukaan. Pelampung yang dia pakai cukup membantu membuat tubuhnya terapung ke atas.

Sedikit demi sedikit.

Ketika gelombang laut tidak lagi menekan dirinya dan ketika tubuhnya mulai terangkat ke permukaan dia berhasil. Nafasnya tidak lagi tercekat akibat tekanan air namun dinginnya udara benar-benar membuatnya susah hanya sekedar menarik nafas. Dia berhasil menghirup udara bebas, di tengah laut Mediterania dan hamparan manusia yang sama sepertinya.

Yang Sungmin liat hanyalah hamparan laut yang mencekam, dia mengedarkan pandangannya mencari sang kekasih.

Pikirannya melayang pada kejadian beberapa menit lalu, satu yang terlintas di dalam pikirannya kali ini, Cho Kyuhyun tidak memakai pelampung. Pelampung yang dia kenakan adalah milik Kyuhyun. Pikirannya sudah tidak mampu lagi mencerna apa yang terjadi, pikiran buruk sudah berkeliaran memenuhi otaknya.

Bagaimana jika Kyu tertarik tenggelam bersama Concordia.

Bagaimana jika dia tidak kembali

Sungmin kembali mencari sosok Kyu di permukaan lautan. Namun nihil tidak ada.

Dia memutuskan terjun kembali ke lautan, berenang mencari sosok Kyuhyun. Terus mencari di dalam air, namun tidak mungkin seorang manusia tanpa perlengkapan sanggup bertahan lama di dalam lautan. Sejenak dia naik kepermukaan mencoba mengambil nafas.

Dia terlalu takut, terlalu gugup. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara menemukan Kyuhyun.

"Kyu."ucapnya getir.

Dia menahan nafas, mencoba kembali meluncur ke dalam lautan, namun sebelum dia turun sebuah tangan menggenggam lengannya. Sungmin tertegun ketika melihat seorang pemuda yang dia cari berada di sampingnya dengan wajah agak pucat.

"Kyu…..,"

Sungmin memeluk erat Kyuhyun.

"Sungmin, selamatkan dirimu dulu."

Mereka berenang mencari sesuatu sebagai pegangan agar dia tetap terapung di lautan, sebuah sisa kayu meja berhasil mereka temukan. Dengan susah payah mereka berenang dan meraih tumpukan kayu itu. bersandar pada papan kayu sambil menelungkupkan wajah mereka.

"Kyu kau tidak apa-apa?"Sungmin.

"Ne, aku tidak apa-apa."

Sungmin dapat merasakan ada yang berbeda dari Kyuhyun. Nafasnya tidak teratur, tubuhnya agak bergetar. Apakah Kyuhyun kedinginan? Ya pasti itu dan SUngmin juga mengalami kedinginan walau tidak nampak seperti Kyuhyun. Suhu hampir mendekati nol derajat, dalam kubangan air dan tubuh basah, deraian angin malam dan terendam air lautan.

Rasa dingin yang menyelimuti membuat nadi berdenyut lemah, sesak terlintas ketika nafas tidak lagi normal. Seperti terkungkung dalam lingkaran es yang membuat sekujur tubuh mendadak beku. Semuanya terjadi, sang malaikat maut kapan saja bisa menukik tajam mencabut jiwa-jiwa sang korban. Dingin, tenggelam atau mati dalam kesendirian. Semuanya mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin di tengah hamparan laut Mediterania ini.

"Kau kedinginan kyu."Tanya Sungmin.

"Aku tidak apa-apa Min."jawab Kyuhyun.

Suara Kyuhyun bergetar, pemuda itu tidak memakai pelampung tak ada pelindung sedikitpun dari dingin maupun tekanan air jika ia tidak mampu menyeimbangkan dirinya. Sekarang pemuda itu sedang berjuang mengatasi tekanan suhu dingin yang melanda, tubuhnya agak kaku dan pupil mata tidak bisa normal lagi. Keadaannya kacau.

Andaikata Kyuhyun dalam keadaan sehat mungkin saja dia tidak seperti ini, akibat benturan yang terjadi karena melindungi Sungmin membuatnya semakin susah untuk sekedar bernafas. Rusuknya terluka, memar dan mungkin saja di dalam tubuhnya terdapat luka yang serius. Sangat sakit ketika dia menghela nafas apalagi ditambah suhu dingin yang menyerang.

Kyuhyun menggerakkan jari jemarinya, mempererat pegangan. Tubuhnya terlalu lelah untuk mempertahakan dirinya di tengah lautan tanpa pelampung. Mencoba bertahan meski dadanya terasa terbakar, Kyuhyun menunduk mengintip dari sela-sela bajunya, terdapat warna biru memar yang kentara di bagian dada dan rusuknya. Dia sangat tahu, benturan keras yang terjadi akan menyebabkan luka yang cukup parah.

Tidak ingin membuat Sungmin khawatir, pemuda itu mengabaikan rasa sakit yang timbul, pandangannya tidak lagi tertuju pada memar yang ada di dadanya. Pandangannya menuju Sungmin, menatap wajah malaikat Sungmin.

"Bagaimana bayi kita, apakah dia baik-baik saja."ucap Kyu lirih.

"Dia baik-baik saja selama ada appa-nya, appa-nya akan selalu melindungi dia kan!"Sungmin tersenyum, pelan jemarinya mengusap lembut perut dibawah air.

Tertegun, tersenyum memandang sungmin. Kyu ulurkan tangan hanya untuk sekedar mengusap air yang membasahi wajah Sungmin.

"Seandainya bisa, aku ingin menemanimu membeli susu untuk anak kita, menemanimu pergi ke dokter dan mendampingimu ketika kau melahirkan."di sela-sela nafasnya Kyu berucap.

"Kita pasti bisa Kyu,"Sungmin berucap.

"Jaga Aegya kita."

"Kyu…"

Sungmin menatap dalam-dalam wajah kekasihnya. Wajah pucat yang terlihat membuat Sungmin takut. Nafasnya memburu, tubuh pemuda itu tak kuat lagi menopang berat badannya. Dan di depan mata Sungmin tepat tubuh Kyuhyun tiba tiba terlepas dari kayu.

"Kyu…..,"

Sungmin berteriak ketika melihat tubuh Kyuhyun tenggelam ke dalam air. Tubuh yang sudah sangat lemah itu tenggelam bergulat dengan tekanan air yang masuk ke dalam tubuh Kyuhyun. Tubuhnya langsung mengalami imersi. Pernafasan tercekat dan banyak sekali air yang masuk ke dalam mulutnya. Laringospasme terjadi disusul dengan terhambatnya jalan nafas yang menyebabkan gasping .

Kaki Kyuhyun terasa kram, tidak mampu digunakan untuk berenang dan menyelamatkan dirinya. Terkungkung dalam serangan air yang membutakan pandangannya. Kyuhyun semakin tercekat paru-parunya seakan penuh dengan air. Paru-paru yang tadinya kering terjadi asfiksi yang menyebabkan air masuk ke dalam paru-parunya. Semuanya semakin nyata, penderitaan yang dilalui Kyuhyun semakin terasa ketika aspirasi air masuk dan menembus menembus membrane alveolus-nya.

Sebelum mencapai tahap yang serius, sebuah tangan meraih tubuhnya menolongnya ke atas permukaan.

Sungmin berhasil membawa kembali Kyuhyun ke dalam permukaan, sungmin meraba dada kyuhyun memastikan jika pemuda yang dicintai masih melakukan pergerakan dada. Masih terdengar bunyi nafas namun lemah.

"Kyu bertahanlah,"tangan Min sibuk mengguncang tubuh Kyu.

"Min…,"Kyuhyun terbatuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuhnya,"Aku tidak apa-apa."

"Bertahanlah Kyu." Sungmin berkata pilu, di tengah-tengah keadaan yang semakin suram, Sungmin kini tidak mampu lagi berfikir ke depan. Dia hanya bisa menatap Kyuhyun khawatir, berharap jika sang terkasih akan pulang bersamanya.

"Min, tolong jaga aegya kita. Tetaplah hidup Min."Kyuhyun berucap sangat lirih.

"Jangan banyak bicara, kita harus menghemat tenaga menunggu kapal penyelamat."Sungmin berbisik lembut di telinga Kyuhyun, pelan dia memeluk tubuh Kyu memberi sedikit kehangatan pada sosok di dekapannya. Meski Sungmin merasakan hal yang sama, terkungkung dalam rasa dingin.

"Aku lelah, biarkan aku tidur."Kyu berucap lirih.

"Kyu…, sebentar lagi kapal akan datang."

"Ne, aku tahu. Aku hanya lelah, aku hanya ingin berbaring."

"Kyu, kau harus berjanji akan pulang bersamaku."

"Ne….,"

0000XXX000

Ketika jarum jam berputar sesuai dengan kuasa sang Pencipta, sak takdir mulai terbentang membuka setiap goresan kisah hidup yang sudah tertulis di sana. Bagaimana takdir Concordia yang berakhir tragis menjadi sebuah rahasia yang telah disibak. Pada hamparan biru laut Mediterania, menghilangkan jejak-jejak keangkuhan Concordia yang berakhir dengan puing-puing besi rongsok yang teronggok di dasar samudera.

Tertera dengan jelas kisah tragis ini, pada awal januari di dekat teluk Tuchsan semuanya terjadi.

Jam seakan berputar lambat, membuat jerit kesakitan dan jerit kematian korban Concordia yang masih berada di laut lepas terancam. Mereka menunggu datangnya sebuah keajaiban yang mungkin saja terjadi. Berdoa dan berharap jika semuanya akan mendapatkan sebuah kisah manis sebagai akhirnya.

Dalam lautan yang masih diliputi kepekatan malam, tanpa adanya cahaya bintang yang menerobos atsmofir bumi dua buah kapal sekoci muncul menuju tenggelamnya Concordia. Kapal sekoci yang dilepas Concordia kembali ke tempat tanpa takut tertarik tekanan Concordia. Mereka yang tadinya sudah setengah jalan menuju daratan hanya bisa melihat bagaimana keangkuhan Concordia harus lenyap tenggelam ke dasar perairan. Pilu, bagaimana jiwa kemanusiaan terpanggil untuk kembali dan menyelamatkan beberapa yang masih mungkin bisa diselamatkan. Tidak hanya itu juga, ancaman sang Diva Heechul yang akan menenggelamkan sekoci jika tidak kembali menjadi alasan utama yang mebuat sekoci kembali ke tempat kejadian.

Sekoci sudah sapai di tempat kejadian, hanya keadaan miris yang terlihat. Bagaimana lautan kini dipenuhi dengan mayat manusia yang mengapung. Tidak ada tanda kehidupan, seperti lauatan kematian yang Nampak bagi laut Mediterania sekarang ini.

"Apa ada orang yang masih bertahan."Suara sang opsir sekoci menggema, mencari korban-korban yang masih bernyawa.

Disisi lain Sungmin yang tadinya terlelap di tengah kedinginan yang melanda mendengar sebuah teriakan. Dia membuka matanya, merefleksikan pandangannya. Kapal penyelamat datang. Dia tersenyum.

"Kyu bangunlah, ada kapal yang datang."pelan, dia goncangkan tubuh Kyuhyun yang tertidur.

Namun nihil tidak ada jawaban dari pemuda itu. Sungmin mencoba menggoyangkan tubuh pemuda itu kembali. Tetap tidak ada.

"Kyu….,"suaranya serak sekaligus lemah

Rasa takut menyelimutinya. Dia pejamkan mata semoga ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang melanda.

Tidak…

Ketika dia membuka mata dia melihat kembali Kyu yang terbaring dengan wajah yang memucat.

"kyu mereka datang menyelamatkan kita."

Sungmin masih mengguncangkan tubuh Kyu. Tanpa suara, tanpa deru nafas dan tak ada gerakan dada. Tubuh Kyu bahkan sudah kaku. Menangis dalam kedinginan yang semakin menggerogoti. Isakan tangisan lemah, terlalu lalah untuk menangis. Tidak bisa menangis dalam keadaan seperti ini. Air mata seakan-akan membeku tanpa bisa dikeluarkan, menjadi duri yang mengganjal.

Pelan, Sungmin meraih wajah Kyu.

Memandang wajah pucat yang masih tampan.

"Kyu, aegya kita membutuhkan seorang ayah. Kyu bangunlah."

Lirih… hanya suara kegetiran dari setiap ucapan Sungmin.

"Kyu, kau berjanji akan pulang bersamaku. Kyu bangunlah."

Meski berkali-kali Sungmin berkata tidak akan pernah lagi dibalas oleh pemuda itu.

Pemuda itu telah pergi….,

Wajah tampan di depannya tidak lagi bernyawa, tidak lagi bisa mengeluarkan seringainya, tidak lagi bisa menggodanya dan tidak lagi bisa mengatakan kata-kata manis.

Cho Kyuhyun telah pergi, meninggalkan Sungmin dengan kesendirian yang nyata.

Dan akhirnya Sungmin melepaskan tangan Kyuhyun, membiarkan tubuh pemuda itu tenggelam bersama Concordia.

"Saranghae kyu."

000XXX000

3 tahun kemudian

Awan hitam masih terus menyelimuti, sudah tiga tahun namun tenggelamnya kapal Concordia masih menjadi kejadian yang terus dikenang. Rasanya, ini terlalu cepat, tiga tahun berputar layaknya beberapa hari. Pemuda itu masih ingat kejadian mengerikan itu, kejadian yang selalu menenggelam ke dalam mimpi buruk. Kejadian yang sampai saat ini membuatnya takut untuk sekedar menginjakkan kaki ke dalam kapal.

13 Januari 2015

Di salah satu pemakaman di kota Roma, pemakaman yang disediakan untuk korban Concordia kini mereka berada. Lautan hitam berkumpul di tempat itu, tempat di mana nisan nisan berjejer dan menjadi bukti nyata kejadian tragis Concordia.

Mereka sanak keluarga hanya bisa menatap nanar kepada makam-makam yang berjejer, keluarga maupun korban yang selamat dari kejadian itu datang membawa sebuket bunga. Mata mereka merah, ada sedikit sisa-sisa air mata yang menghiasi wajah. Hongki mengusap lembut batu nisan yang berjejer di depannya, memandang foto hyungnya.

Dan dengan deraian air mata tidak dapat diukur betapa sakit yang dirasakan?

Tapi itu semua sudah berlalu, hanya menerima goresan takdir yang telah tertulis. Dan kini tinggallah waktu untuk menatap masa depan, melupakan kejadian tragis itu dan hanya menjadikan kenangan di dalam keping memori.

"Bunga untuk Hyukkie-hyung, DOnghae-hyung dan Sungmin-hyung. Semoga mereka semua diterima disisi-Nya."

Hongki berucap sambil tersenyum pada tiga makam di depannya.

"Ne dan semoga mereka merestui pernikahan kita."

Seorang pemuda berjalan mendekati makam, pemuda berambut hitam tersenyum pada Hongki. Tidak ada lagi merah yang dulu menjadi mahkotanya, hanya hitam legam.

Keduanya tersenyum kemudian berbalik berjalan dengan pelan menikmati hembusan angin yang menyibakkan rambut mereka. Walaupun Concordia membawa luka dan kepedihan namun ada sedikit kebahagiaan yang tertulis.

Lee Hongki menemukan belahan jiwanya di dalam Concordia.

Pemakaman kini sepi tak ada lagi pengunjung. Upaca penghormatan sudah dilaksanakan, pemuda yang dari tadi berada di dalam mobil kini turun. Kacamata yang dipakai membuat wajahnya tertutupi. Dua pasang kaki melangkah, dia sempat memandang sebuah mobil yang melaju menjauhi pemakaman. Pemuda itu tersenyum lembut.

"Hongki, aku tidak akan mengusik hidupmu. memang lebih baik seperti ini tidak ada yang tahu aku hidup. Sekarang kau sudah sukses. Aku merestui pernikahan kalian."

Pemuda itu tersenyum menapakkan kakinya menuju deretan makam yang telah sepi. Berjongkok mengusap foto pemuda pirang yang tersenyum manis. Kemudian dia beralih pada makam lain, dia usap foto pemuda itu, dia kecup pelan foto yang berdiri gagah.

"Umma."

Sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

Sosok kecil berkaki mungil muncul membawa tiga tangkai bunga lili, wajahnya tampan dan matanya sangat mirip dengan pemuda terbingkai di dalam foto. Bahkan segala garis wajah mirip dengannya. Malaikat kecil itu berjalan pelan memeluk pemuda itu.

"Ini bunga dari Kyumin untuk Appa, paman Hyukkie dan Paman Donghae."Sang malaikat menaruh satu tangkai lili.

"Anak pintar, kau sangat mirip dengan ayahmu."pemuda itu mengusap rambut anak berumur dua tahun itu.

….

Kyu walaupun kau tidak ada lagi disisiku, Setidaknya kau memberikan malaikat ini sebagai penggantimu

Kyu lihatlah bagaimana dia tumbuh

Lihatlah garis wajahmu yang melekat pada malaikat kecil ini

Dialah penggantimu disisku

Dialah malaikatku

Cho Kyumin

…..

Dan Hyukkie semoga kau bahagia disana bersama Donghae.

00end00

Yoshhhhhhh selesai

Akhirnya fic gaje-ku selesai

Fic ini hanya imajinasi saya dan Concordia tenggelam tidak dalam keadaan terbelah. Murni ngarang dan hanya membayangkan film titanic jaman dahulu. Pelayaran Concordia hanya sehari sedangkan Fic ini setting-nya dua hari.

Namany juga Fic.

Waktunya balas review.

Resijewell : ne, gomawo sudah baca plus review.

Eunhyukkie's : salam kenal juga, semoga kita bisa berteman. Gomawo sudah mampir dan membaca fic ini.

Anon : Ne, sesame elf. Kita saling menghormati Ne.

Wonkyu shipper fanatic : saya menghormati anda sebagai wonkyu shipper. Mian, jika anda tidak suka dengan cerita saya. Tapi, saya mencoba menghormati pilihan masing-masing orang.

Arit291 : Mian, kemarin belum sempat udate# author sok sibuk.

Choi Kira : ne, ini costa Concordia yang itu. Ne, saya jongki haehyuk plus kyumin shipper.

Yuera Kichita Akihime : Mian baru update, gomawo sudah baca fic saya.

Cho Hyunjin : ni udah update.

Anchofishy : nih udah taukan bagaimana akhir kisah haehyuk.

MingminnieMing0114: nih, udah banyak kan kyumin-nya. Gomawo sudah baca fic ini.

Rizka Iwanda: Gomawo dah baca.

Lee Jae eun : gomawo sudah baca cerita ini.

Beibhy kyumnnie89 : sudah tahu kan akhir kisah kyumin. Gomawo sudah baca.

Wii'N : hihihi, sudah baca sendirikan. Tapi akhirnya jadi angst gini, gomawo dah baca.

KYUMINEUNHAE : gomawo dah baca.

Hyeri : Ne, sebelum kapal tenggelam, memang para penumpang habis mendengarkan lagu itu. Fakta loh!

AlRiseShipper : Gomawo dah komen.

Myblackfairy : aku juga nangis nulisnya. U-u. gomawo dah baca.

Anchovy861015 : Ne, gomawo. Ni udah update.

Kyumineunhae :gomawo dah baca.

ShinNa Daniel : Ne, kapan kapan saya bikin haehyuk happy ending.

Park Min Rin : jangan lempar author. Lagu itu memang terdengar sebelum kapal tenggelam dan itu nyata. Gomawo dah baca.

Please tinggalkan jejak anda dengan review…