Dawn23's unCreatives Team Presents
-1925-
Disclaimer:
Vocaloid Character (For Now):
Crypton Future Media: Miku & Kaito
Original Song and Lyrics:
1925 by T-Pocket
Fic Made By:
あさ一23
Warning(s): Diksi ngawur, deskripsi kurang, alur agak kurang jelas, mungkin agak-agak menyimpang dengan lagunya, fic pelarian. Tapi yang penting: "Don't like my fic? Better push 'Back' button!"
.
.
.
.
Miku's Point of View
Jepang menjadi semakin aneh sekarang. Itulah yang sempat terlintas di benakku beberapa waktu lalu. Huru-hara, keributan di mana-mana, dan yang terakhir serta terburuk adalah penangkapan besar-besaran yang baru saja bisa aku hindari ini. Di malam sialan itu, aku terpisah dari ayah dan ibu, tak tahu di mana dan sedang apa mereka sekarang. Orang-orang berbaju hitam menerobos masuk ke semua rumah, mencari sesuatu yang tak kumengerti apa itu. Sepintas kudengar mereka mencari sesuatu yang ada hubungannya dengan benda "sabit dan palu", apa maksud kedua benda itu? Sampai sekarang masih misteri bagiku.
Meloloskan diri dari mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak tahu berapa lama aku berlari, bersembunyi, dan menghindari mereka, tapi hasilnya nihil. Tapi cerita menjadi lain ketika pemuda di sebelahku ini datang menolong.
Siapa dia? Mana kutahu? Bertemu saja baru kali ini. Yang kutahu pasti adalah, namanya. Kaito, Shion Kaito. Entah apa alasannya dia mau menolongku sampai-sampai ditembaknya kepala salah seorang temannya yang ingin menghabisiku. Kusapu peluh yang berada di dahi dengan menggunakan sebelah tanganku, kucoba untuk menghela nafas panjang, berharap hatiku bisa menjadi lebih tenang menghadapi semua ini.
"Menghabisi orang-orang 'sayap kiri'." itulah yang terakhir kau katakan, tuan Shion. Tak tahu apa makna kedua kata terakhir itu, tapi kenapa kedengarannya kau sangat kesulitan untuk mengatakannya? Apakah tugasmu yang satu ini sangat bertentangan dengan hatimu? tapi kenapa ragamu tetap menjalankannya, walaupun hatimu tak sependapat? Tapi aku sangat berterima kasih kepada tidak kompaknya hati dan ragamu. Karena... yah, kalau bukan kau, siapa lagi yang akan menolongku?
Tak beberapa lama, Kaito pun menoleh ke arahku, mungkin ia sudah sadar dari alam khayalnya, dan kembali ingat apa yang harus dilakukannya. Dengan suara yang terdengar masih "nervous" ia berbicara padaku.
"Ayo kita pergi, Miku," ujarnya singkat, diposisikan lagi dirinya di depanku, agar aku dapat menaiki punggungnya dengan mudah.
"Apakah masih jauh? Tempat persembunyianmu itu, Kaito?" tanyaku dengan sedikit rasa penasaran. Ayolah, jawab dengan "sudah dekat" tuan rambut biru! Jujur saja, aku sudah tidak tahan kalau lama-lama begini!
"Ya... tidak terlalu jauh dari sini, sebentar lagi kita sampai, tahan sedikit ya?" jawabnya seraya menggerakkan kedua kakinya yang pasti sudah sangat lelah. Lelah karena berjalan, berlari, dan menggendongku, maaf ya!
"Ngomong-ngomong, di 'tempat itu' ada siapa saja? Jangan-jangan nanti ada orang yang seperti teman-temanmu itu?" kali ini aku bertanya mengenai tempat persembunyian itu, yang masih kuragukan keamanannya.
"Tenang saja, di sana cuma ada aku, tak ada lagi yang tahu 'tempat itu' selain Shion kaito ini!" ah, kau memberikan jawaban yang kuinginkan, tak ada orang-orang aneh yang main tangkap dan main bunuh. Tapi kalau begitu...
"Kita berduaan dong?" tanyaku, apa yang akan terjadi dikala seorang perempuan dan laki-laki berada di sebuah tempat, yang notabene tak diketahui orang lain lokasi jelasnya?
"Lagi-lagi kau ngelantur! Memang kalau berduaan kenapa? Memangnya aku terlihat seperti seorang 'pervert' di matamu?" jawab Kaito setengah ketus. Aih, maaf-maaf kalau pernyataanku tadi begitu menyinggungmu, aku 'kan belum banyak pengalaman dengan lawan jenis, maafkan gadis lugu ini ya?
Setelah omongan ngelanturku tadi, kami kembali berjalan dalam kesunyian, tak ada suara dari kami yang terdengar. Kaito sibuk melihat kesana kemari, mencari jalan tercepat, dan juga teraman menuju tempat persembunyiannya. Sedangkan aku, sibuk sendiri memikirkan nasib kedua orang tuaku yang terpisah saat kami melarikan diri dari orang-orang yang asal tangkap itu. Kalian sedang apa dan dimana? Selamatkah kalian dari kejaran mereka?
Lagi-lagi sesuatu yang tak kuinginkan keluar lagi. Air mata. Ya, air mata. Sesuatu yang keluar dikala manusia sedang bersedih, yang membuatku kelihatan lemah, cengeng dan membutuhkan seseorang yang mesti menenangkanku. Walaupun aku menangis tanpa suara, entah kenapa si rambut biru ini menyadari bahwa aku sedang menangis? Kau punya indera keenam ya? Atau ada mata satu lagi di balik rambut birumu ini? Ups, lagi-lagi omonganku ngelantur.
"Heeeei~ kenapa lagi? 'kan aku sudah ada di sini untuk melindungimu, apakah masih tidak cukup?" tanya Kaito, ditolehkan sedikit kepalanya ke masih menangis seperti bocah yang kehilangan orang tuanya. Hei, aku memang kehilangan, tidak, terpisah dari orang tuaku, jadi wajar saja kalau aku menangis 'kan?
"Aku... aku sekarang kangen orang tuaku," rengekku padanya, berharap ia akan membantuku untuk mencari mereka.
"Hah? Pikirkan itu nanti saja, sekarang kau harus memikirkan dirimu dulu! Kalau kita bisa selamat kali ini, baru pikirkan mereka! Apa gunanya kalau mereka ternyata selamat tapi kau sendiri tidak?" ujar Kaito berusaha menenangkanku, tapi hati ini sudah terlanjur sedih, kata-kata sudah tidak mempan lagi untuk meredam kesedihanku.
"Tapi... tapi... aku tetap kangen pada mereka!" kini aku mulai menangis lebih kencang, membuatnya menghela nafas panjang dan menghentikan langkahnya. Diturunkanlah lagi diriku dari punggungnya, aduh, maafkan gadis lemah ini ya? Tinggalkan saja aku kalau memang kau kesal, tidak apa-apa kok.
"Hhhh~, Miku, sekarang lihat aku," ujarnya yang sekarang berada di depan diriku yang terduduk di jalanan yang dingin. Dipegangnya kedua bahuku, tangannya begitu hangat, sangat terasa walaupun aku menggunakan baju yang lumayan tebal.
"...," tanpa berkata apapun, kutatap mata birunya yang terlihat lelah. Tapi masih saja air mata mengalir deras dari mataku.
"Anggaplah aku sebagai pengganti orang tuamu untuk sementara, walaupun kutahu, itu takkan cukup untuk mengobati kerinduan hatimu pada mereka. Nanti kalau kau sudah sembuh, aku janji, akan membantumu untuk menemukan mereka. Jadi, jangan menangis lagi ya? Jadilah gadis yang tegar," ujarnya sambil mengelus pelan dan memilin rambutku. Kata-katanya membuat hatiku sedikit tenang, dan belaian lembutya membuatku terasa nyaman, terima kasih.
"Huwaaa~ terima kasih, terima kasih, kau begitu baik pada orang yang belum kukenal sepertiku!" kali ini malah aku yang memeluknya, dibelainya lagi rambutku saat aku memeluknya, membuatku semakin tenang, dan berangsur-angsur berhenti menangis.
"Ya... ya... sekarang, ayo jalan lagi, nanti keburu terang," Kaito mengambil posisi jongkok lagi, bersiap menggendongku kembali.
Aku pun naik lagi ke punggungnya, ia melenggangkan lagi kakinya, memantapkan gendongannya, agar diriku tak terjatuh. Kami melewati jalan demi jalan, gang demi gang, tapi kenapa kita belum sampai? Tadi 'kan kau bilang sudah dekat, tapi kenapa dari tadi kita terus bergerak tanpa henti? Kaito berhenti lagi, suara riuh terdengar di jalan keluar sempit ini, aduh, jangan sampai ada adegan kejar-kejaran lagi dong! Lama-lama jantung ini bisa lepas lho!
Sadar dengan apa yang akan dihadapinya, Kaito menghentikan langkahnya, merapatkan tubuh kami berdua di dinding, agar tak terlalu terlihat. Sesekali diintipnya jalan di depan kami, agar bisa merencanakan jalan kabur bila kami terlanjur terlihat oleh mereka.
-Dor, Dor, Dor, Dor, Dor-
Aduh, lagi-lagi suara 'barang itu' sudah bosan aku mendengarnya! Seketika Kaito mundur beberapa langkah dari posisinya, suara makin ribut di jalan di depan kami. Kugenggam erat bahu Kaito tanda bahwa aku sangat ketakutan, dan untuk menenangkanku, dielusnya tanganku dengan sebelah tangannya. Seketika itu juga, tampak seorang lelaki berambut ungu, berpakaian seperti Kaito dan seorang perempuan berambut merah muda berlari kencang melewati jalan keluar gang, diikuti "orang-orang itu" sambil menembakkan senjata mereka.
Melihat kejadian seperti ini, Kaito segera berbalik badan, mencari jalan-jalan sempit untuk dilewati, dan syukurlah, mereka tak menemukan kami kali ini. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Tak kuhitung detik demi detik, menit demi menit kami berjalan menyusuri jalan yang panjang dan berkelok-kelok ini. Pada sebuah bangunan besar yang kelihatannya sudah tak terpakai, Kaito menghentikan langkahnya. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, menurunkanku dari punggungnya, lalu tangannya merogoh sesuatu di sakunya, sebuah untaian kunci.
Dipilihnya satu dari sekian banyak kunci di untaian itu, dimasukkan olehnya kunci yang tadi baru dipilih, dan dengan cepat tangannya memutar kenop pintu yang sekarang telah siap dibuka, dan terbukalah pintu dari bangunan tua itu dengan bunyi yang sangat menyeramkan. Kaito kembali menggendongku dan masuk ke dalam bangunan tua yang mungkin adalah tempat persembunyiannya.
Diluar dugaan, ternyata bagian dalam bangunan tua yang ini tak seseram penampilan luarnya. Setelah Kaito menekan sesuatu di dekat pintu masuk, lampu-lampu yang tergantung di langit-langit langsung memandikan kami dengan cahayanya yang cemerlang. Terlihat beberapa lukisan orang-orang yang sama sekali tak kukenali, pandangan mata mereka seakan-akan mengucapkan "selamat datang" padaku yang memang baru pertama kali ke sini. Furnitur yang terlihat antik menghiasi ruang tengah, kaito menurunkan tubuhku di salah satu kursi panjang yang berada di depannya, dan pergi ke ruangan lain.
"Tidak buruk juga, untuk sebuah rumah tua yang terlihat menakutkan di luar," gumamku pelan sembari melihat sekeliling.
Selang beberapa lama, Kaito kembali lagi ke ruangan tengah, dengan membawa sebuah tas besar dengan gambar sebuah palang berwarna merah di bagian depannya, tak usah dijelaskan pun aku tahu tas apa itu.
"Sekarang, biar kulihat dulu lukamu!" ujar Kaito dengan sebelah tangannya merogoh isi tas besar itu dan sebelah tangannya lagi memegang kaki kananku yang terluka.
"Hei, hati-hati! Kau yakin bisa mengobati lukaku ini?" balasku sambil merintih kecil. Apa orang ini yakin bisa mengobati lukaku?
"Tenang dan lihat saja!" jawabnya dengan santai. Sekarang tangannya terlihat sedang memegang sebilah pisau kecil dengan sesuatu yang bentuknya menyerupai tabung dengan jarum kecil di ujungnya di tangan yang lain.
"E-eh, mau apa kau dengan pisau itu, Kaito? Dan apa benda yang bentuknya seperti tabung berjarum itu?" teriakku setengah panik. Mau apa lagi orang ini dengan sebilah pisau tergenggam di tangannya?
"Maafkan aku, Miku. Jangan meronta terlalu keras ya?" ia pun menusukkan jarum yang terhubung dengan tabung kecil itu ke kakiku, dan memasukkan cairan yang berada di tabung dengan perlahan-lahan.
Cairan yang dimasukkan Kaito membuatku meronta pelan, kaki kiriku hampir menendang wajah kaito, tapi segera ia tahan dengan tangannya yang lain. Sedangkan kaki kananku yang tadi ditusuk dengan jarum kecil itu tidak bisa kugerakkan sama sekali. Rasanya seperti kesemutan, seketika rasa sakit yang diakibatkan oleh luka tembak itu pun berangsur menghilang.
Setelah beberapa lama, pisau yang sekarang sudah dipegang Kaito memainkan peranannya. Karena takut, kututup kedua mataku agar tidak melihat bagaimana Kaito menyayatkan pisaunya ke kakiku. Walaupun kaki ini tak merasakan sakit, terkadang sayatan pisau Kaito membuatku ngilu. Tak tahu berapa lama ia bermain dengan pisau kecil itu, tapi akhirnya selesai juga. Kubuka kedua mataku yang sedari tadi terpejam, kudapati Kaito yang berlumuran peluh terlihat tersenyum padaku. Di tangannya sekarang terlihat sebuah butiran besi kecil yang sepertinya adalah peluru yang tadi menyangkut di dalam kakiku.
"Nah Miku, sudah selesai," ujarnya sambil sesekali terdengar nafas yang terengah-engah dari mulutnya.
"A-apa yang barusan kau lakukan?" tanyaku, setitik dua titik air mata jatuh lagi dari mataku akibat ketakutan yang lagi-lagi datang.
"Kau tidak lihat? Aku mengeluarkan peluru itu dari kakimu!" jawabnya enteng tanpa dosa, ia menjawab seakan tidak tahu kalau aku sangat ketakutan dengan tindakannya. Ya Tuhan, kenapa Kau memberikan banyak sekali adegan seram dalam hidupku malam ini?
"Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh! Kau tidak tahu kalau aku takut sekali dengan dua benda yang kau pegang itu tadi!" teriakku sembari memukul pelan Kaito yang masih terduduk di dekat kakiku.
"Aduh, aduh. Pelan-pelan Miku, aku mau membalut lukamu dulu, kalau nanti infeksi bagaimana? Setidaknya ucapkan terima kasih 'lah! Aku kan sudah mengeluarkan peluru itu dari kakimu!" balas Kaito seraya membersihkan lukaku dan membalutnya lagi dengan perban berwarna putih bersih.
"Huuuh...," dengusku, kulipat kedua tanganku di dada dan memalingkan wajahku ke lain arah agar tidak melihat wajah Kaito.
"Lho kok, malah marah? Baik, baik, aku minta maaf karena melakukan operasi tanpa memberitahumu sebelumnya. Jadi, menengoklah kemari dong, biar aku bisa melihat wajahmu!" ujar Kaito yang mulai membereskan peralatannya.
Kupalingkan lagi wajahku kepada Kaito, terlihat senyumannya yang membuat wajahku terasa panas, dan sepertinya merona merah. Ia tertawa kecil karena melihat wajahku yang mungkin merona merah ini.
"Hehehe, kenapa wajahmu itu sekarang, Miku? Warnanya merah padam!" ujarnya dengan sedikit tawa kecil.
"Bu-bukan urusanmu! Bodoh!" jawabku setengah terbata-bata.
"Ya sudah kalau bukan urusanku, sekarang aku mau istirahat, kau mau tidur di sini atau di kamar tamu?" ucap Kaito seraya berdiri dan bersiap meninggalkanku.
"Di kamar tamu saja! Dan tak usah digendong lagi, aku bisa jalan sendiri!" jawabku penuh keyakinan, padahal aku saja masih belum yakin kalau bisa jalan tanpa bantuannya dan juga, aku tidak tahu di mana kamar tamu yang dimaksudkannya.
"Oooh, begitu? Terserah 'lah!" balas Kaito sambil tersenyum. Ayo Miku, kau bisa jalan tanpa bantuan orang ini!
Kucoba bangkit dari kursi panjang yang tadi kududuki. Kakiku mulai melangkah ke depan, langkah demi langkah aku mencoba berjalan menjauhi kursi panjang itu, ternyata kakiku masih belum kuat menahan beban tubuhku. Hasilnya, aku terjatuh, tapi tidak sampai menyentuh lantai karena Kaito keburu menangkap dan menggendongku lagi ke arah kamar tamu.
"Tak usah digendong lagi ya? Sombongnyaaa~ dirimu, Miku," ledek Kaito, aku hanya bisa diam menanggapi ledekannya itu.
Kami pun tiba di kamar tamu yang Kaito maksudkan, sebuah kamar yang terlalu besar dan mewah untuk dapat dikatakan sebagai kamar tamu. Atau jangan-jangan, orang ini membawaku bukan ke kamar tamu, tapi malah ke kamarnya?
"He-hei, kamar ini kelihatan terlalu mewah untuk sebuah kamar tamu. Benarkah ini kamar tamu yang Tadi kau maksudkan, Kaito?" tanyaku penuh keheranan, kalau sampai ia membawaku ke sini, pasti ada apa-apanya nih!
"...," tanpa bicara apa-apa, Kaito meletakkanku di ranjang besar yang berada di kamar itu.
"Heeei! Jawab pertanyaanku, tuan Shion! Sebenarnya mana kamar tamu yang kau maksudkan tadi?" kuulangi pertanyaanku lagi dengan nada yang lebih tinggi.
"Tidak ada, sekarang kita akan tidur berdua saja di ranjang ini, tidak apa-apa 'kan?" jawabnya yang lagi-lagi dengan enteng tanpa dosa dan beban. Sekarang kau benar-benar dalam "bahaya" lagi, Miku!
"Kyaaaa~ ternyata kau memang punya rencana yang tidak-tidak terhadapku! Aku tertipu oleh tindakan-tindakan baikmu! Pergi sana! Pergi!" teriakku sambil melempar beberapa bantal dan guling yang ada di atas ranjang. Sementara itu, Kaito mulai menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, tepat di sebelahku.
"Jangan melawan, kalau terlalu banyak bergerak, akan terasa lebih sakit lho," bisiknya, kini Kaito sudah berada di atas tubuhku, tidak berani kubayangkan apa yang akan dilakukannya pada tubuhku yang mungil ini.
Senti demi senti, wajah kami mulai mendekat. Tanganku tak punya cukup tenaga untuk menjauhkannya. Karena tahu tak bisa melakukan apa-apa lagi kupejamkan mataku, dan lelaki ini membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Ber-can-daaaa~! Kau ini memang gadis yang lugu, ya?" bisiknya lagi sambil mengacak-acak rambutku, sebenarnya apa sih maksud orang ini?
"Tch! Dasar orang aneh! Sekarang pergi sana!" desisku sambil menunjuk pintu keluar dari kamar itu. Wajah ini pun mulai terasa panas lagi.
"Wah-wah, sekarang kau malah mengusir si pemilik kamar! Dengan wajah yang memerah pula! Sekarang, siapa yang suka siapa, Hm?" Balasnya seraya beranjak dari ranjang yang kutiduri.
"Sudaaaah, pergi sana! Makan nih bantal!" kulempar lagi satu bantal besar yang tersisa tepat ke wajahnya. Ditangkapnya bantal itu dan dibawanya menuju pintu keluar.
"Ya-ya, kalau itu maumu! Tapi kalau nanti menangis lagi, jangan minta aku peluk ya?" Kaito menolehkan wajahnya dengan sebuah senyum licik, dan ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke luar.
"Siapa juga yang mau! Bweee~," Balasku sambil menjulurkan lidah.
Sambil memainkan bantal yang tadi dibawanya, Kaito mulai berjalan untuk meninggalkanku di kamarnya yang besar ini. Kupungut beberapa bantal dan guling yang tadi sempat kulemparkan kepada Kaito. Tiba-tiba, ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan pada si rambut biru itu, jadi kupanggillah ia yang sekarang sudah berada di ambang pintu keluar kamar.
"Eh, hei Kaito!" panggilku, yang dipanggil pun segera membalikkan badannya.
"Hm? Kenapa lagi?" jawabnya dengan tatapan heran tertuju padaku.
"Aku mau tanya, mengenai orang-orang itu, 'tokko' kau pernah menyebutkan itu 'kan? boleh kutahu apa maksudnya?" tanyaku dengan rasa penasaran, berharap ia akan memberikan jawaban yang mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa penasaranku.
Dijawabnya pertanyaanku itu dengan wajahnya yang berubah menjadi serius, "Bukan sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu, Miku. Selamat tidur!" dimatikanya lampu yang sedari tadi memandikanku dengan cahaya redupnya, dan ditutupnya pintu yang dari tadi terbuka lebar. Meninggalkanku sendirian bersama kegelapan dan rasa penasaranku yang masih belum hilang akibat tak dijawabnya pertanyaanku oleh si rambut biru itu.
"Setidaknya, beritahukan sedikit saja mengenai mereka! Penasaran 'nih!" teriakku dari dalam kamar yang sekarang sudah gelap gulita
Seakan ia bisa mendengar apa yang kuucapkan dari balik pintu, Kaito membuka sedikit pintu yang baru saja ditutupnya. Tanpa melangkah masuk ke dalam kamar, ia menjawab pertanyaanku dari luar. Suaranya terdengar begitu serius saat ia mengatakan...
"Tokubetsu Kōtō Keisatsu."
.
.
.
.
.
-May Be Continued-
Author Note:
Ah, terima kasih lagi bagi teman-teman yang bersedia membaca fic pendek yang saya tulis sebagai media pelampiasan rasa bosan saya ini. Ada yang mesti saya jelaskan lagi mengenai fic ini, yaitu: Fic ini merupakan Fanon, berdasarkan salah satu asumsi para fans mengenai arti lagu 1925, jadi fic ini tidak menceritakan secara mutlak makna lagu 1925. Kenapa saya tidak membuat Canonnya? Karena sampai saat ini, saya masih belum mengetahui Canon dari lagu 1925 ini, kalau merasa ada yang sudah tahu mengenai Canonnya, mohon beritahu saya. Saya sangat berterima kasih.
Dan lagi, FYI saja, banyak versi Fanon dari lagu 1925 ini. Mulai dari yang
menceritakan mengenai "Kondektur Wanita Pertama" jepang yang ada pada tahun 1925 ( melihat dari pakaian yang Miku pakai ). Sampai mengenai "Perang Irlandia" yang perjanjian perdamaiannya disetujui pada tahun 1925 ( berdasarkan lagunya yang berirama keltis ). Tapi intinya, itu semua terserah kita, mau mengartikan lagu ini dengan arti yang mana. Dan lagi, ada isu kalau pembuat lirik dan judul lagu ini berbeda, yang membuat lagu ini lagi-lagi susah di artikan, karena judul dan isi lagunya mungkin tidak berhubungan sama sekali.
Sekian penjelasan saya yang macam betul di atas. Jangan terlalu pusing-pusing mau pakai arti yang mana, nikmati saja fic aneh yang saya tulis ini. Oh iya, terima kasih lagi bagi yang sudah mau review! Anda-anda memberikan semangat bagi saya untuk melanjutkan fic yang hampir saja saya taruh di "Recycle Bin". Doakan saya tetap sehat, agar bisa melanjutkan fic ini ya! Soalnya kerjaan makin banyak bulan-bulan ini (Curhat kah?). Dan yang terakhir, sampai jumpa lain fic!
Salam How-How
~Asaichi23~
