Dawn23's unCreatives Team Presents
-1925-
Disclaimer:
Vocaloid Character (For Now):
Crypton Future Media: Miku & Kaito
Original Song and Lyrics:
1925 by T-Pocket
Title and Artworks of 1925:
BuchikoPiapro
Fic Made By:
Asaichi23
Warning(s): Satu POV per chapter, Historical based, Artwork based instead of the lyrics, Mungkin ada sedikit History twist, Mohon maaf pada warga Jepang kalau ada kesalahan sejarahnya, ini hanya fiksi belaka. Dan yang penting: "Don't like my fic? Better push 'Back' button!"
.
.
.
.
Kaito's Point of View
Kutinggallah gadis itu di kamar tidurku yang sekarang diselimuti kegelapan. Lunglai langkahku menuju ruang tengah diakibatkan oleh sesuatu bernama "kelelahan" yang sudah lama menyerang. Kujatuhkan tubuh lelahku ini ke atas kursi panjang yang tadi kugunakan untuk mengoperasi Miku. Kucoba untuk memejamkan mata agar sedikit rasa lelah ini hilang. Walaupun kutahu, tidur hanya beberapa jam saja tak akan mampu menghilangkan rasa lelah ini.
Terangnya lampu masih menyinari diriku yang kini hanya sendirian, tidak, berdua dengan bantal ini, karena tadi lupa kumatikan saklar lampu yang berada dekat pintu depan. Diriku sudah terlanjur terbaring di atas kursi panjang ini, membuat rasa malas mendatangi dan membujukku agar tidak mematikan saklar lampu itu. Tak peduli dengan lampu yang masih menyala terang, kututup mataku yang memang sudah sangat berat.
Seiring sang waktu berjalan tanpa dapat dihentikan, dewi malam perlahan-lahan mulai memberikan jalan pada sang surya, yang telah menunggu giliran untuk tampil di ufuk sebelah timur. Sinar sang surya yang lembut dan memberi kehidupan pada semua makhluk di dunia, menerobos masuk dari sela-sela tirai yang terpasang rapi di jendela-jendela besar yang tersebar di tempat persembunyian ini. Wajah yang terasa panas akibat bermandikan cahaya sang surya, membuatku tak bisa tidur lebih lama lagi. Jadi kuputuskan untuk segera bangun dan melihat keadaan Miku yang mungkin juga masih asyik bermain di alam mimpinya.
Dengan sedikit diiringi rasa lelah, kulenggangkan lagi kaki kearah kamarku yang jaraknya tak seberapa dari kursi tempatku tidur. Tak perlu waktu lama bagiku untuk sampai di kamar tempat Miku tidur. Kupegang kenop pintu yang berwarna keemasan dan kucoba memutarnya ke kanan agar bisa kubuka pintu itu. Setelah pintu terbuka, kudapati Miku masih tertidur lelap, dengan rambutnya yang kini sudah tidak terikat dengan gaya twintail lagi, melainkan diurai tanpa ada ikat rambut. Dengan gaya rambutnya yang seperti ini, ia terlihat berbeda sama sekali. Sedikit terlihat umm, manis.
Kubuka sedikit tirai yang menutupi kamar tidurku, dengan harapan sinar sang surya masuk, dan bisa sedikit menghangatkan kamar yang lembab ini. Kubangunkan Miku yang masih tertidur lelap dengan memanggil namanya.
"Hei, Miku, sudah pagi! Kau tidak bangun?" Miku yang tertidur tidak bergeming, mungkin suaraku tidak terdengar, jadi kuperbesar volume suaraku dan kupanggil ia lagi.
"Miku! Sudah pagi nih! Kalau mau sarapan, bangun dulu!" lagi-lagi gadis ini tidak bangun juga. Mulai muncul asumsi negatif di kepalaku. Tanpa menghiraukan itu, kucoba bangunkan Miku sekali lagi.
"Miku! Bangunlah, atau nanti kusiram pakai air lho!" teriakku pada gadis yang masih tertidur ini. Miku terlihat sama sekali tak bergerak, atau mungkin juga, tak bernafas? Oke, buang dulu jauh-jauh asumsi itu, Kaito! Sekarang, ayo periksa dia!
Kudekati ranjang tempat Miku tertidur beberapa langkah, kunaiki ranjang besar ini dan duduk di sampingnya. Kuguncang tubuh mungilnya dengan harapan ia akan segera terbangun, tapi harapan itu pupus karena Miku sama sekali tidak merespon. Mana mungkin Miku, meninggal? Tadi malam ia tidak kehilangan banyak darah 'kan? Masa' cuma gara-gara operasi kecil saja ia bisa pergi ke alam sana? Apa mungkin ada luka lain yang tidak diberitahukannya padaku sehingga membuat keadaannya memburuk, dan meninggal?
Tidak-tidak, singkirkan dulu asumsi anehmu, Kaito! Kucoba untuk memeriksa nafas Miku, kuletakkan jemariku di hidungnya, dan hasilnya, ia tak bernafas! Miku yang kudapati tak bernafas sama sekali, membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Aku terdiam dalam kesunyian. Berusaha untuk memastikan ini kenyataan atau hanya khayalanku, kutampar pelan pipi kananku, dan terasa sakit, yang menandakan ini bukanlah khayalan sama sekali.
Bunyi detik-detik jarum jam terdengar beriringan dengan bunyi detak jantungku. Sang waktu terus berjalan seakan tak peduli denganku yang masih belum bisa menerima seseorang yang kutolong tadi malam meninggalkan dunia ini tanpa pamit sedikitpun padaku. Kucoba lagi mengguncang tubuhnya, sekali, dua kali, tiga kali, ia masih saja tak merespon. Kupanggil lagi namanya dengan harapan kali ini ia akan bangun dan mengucapkan "Selamat pagi, Kaito!" tapi lagi-lagi hasilnya nihil. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir merah mudanya. Ya Tuhan, kenapa Kau ambil Miku secepat ini? Aku masih punya janji yang belum kulakukan untuknya, tolonglah, kembalikan dia padaku!
"Miku, bangunlah! Kau masih hidup 'kan?" kuguncang kembali tubuh mungil Miku yang sekarang terbaring di depanku.
"…" Tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya.
"Miku, ayo bangun, ucapkanlah 'selamat pagi' padaku!" ujarku dengan suara yang agak bergetar.
"..." lagi-lagi tak ada balasan dari Miku.
Mataku menatap sendu ke arahnya. Pelan, kuusap rambut torquisenya yang terurai panjang. Ia telah pergi, ke surga atau ke mana, aku tidak tahu. Kau tak sempat pamit kepadaku. Walau hanya bilang "Kaito, aku pergi dulu ya!" itu saja sudah cukup untuk menenangkan hatiku. Masih menjadi misteri, kenapa aku begitu perhatian dan sayang padamu. Padahal pertemuan kita masih terhitung jam, sebuah ukuran waktu yang terbilang sedikit bagi seorang lelaki sepertiku untuk bisa sayang padamu. Apa ini yang dimaksud "cinta"? sesuatu yang pernah ibu ceritakan padaku sebagai pengantar tidur di malam hujan badai yang membuatku tak bisa tidur bertahun lalu.
"Bahwasannya, tak perlu waktu lama dan alasan yang jelas bagi seseorang untuk mencintai, Kaito. Tak peduli siapa dia dan baru berapa lama bertemu. Jikalau hatimu sudah bilang 'aku mencintainya', kau pasti akan menyayanginya walau harus kau korbankan dirimu sendiri untuk melindunginya, " begitulah kira-kira yang beliau katakan padaku, pelajaran pertama tentang cinta yang kudapat. Dirimu yang histeris, lugu, dan cengeng, kini tak bisa lagi kulihat. Ingin rasanya kembali lagi ke waktu itu, dimana aku bisa melihat dirimu yang selalu bisa membuatku tersenyum diantara masa laluku yang kelam.
"Miku, tolong jangan pergi, jangan pergi ke tempat yang tak bisa kudatangi," bisikku sambil memeluk Miku yang hanya diam menanggapi ucapanku.
"..." masih seperti tadi, Miku diam tanpa kata.
"Ayolah, bangun, akan kulakukan apa saja kalau kau bangun, Miku," dengan penuh keputus asaan, kubisikkan kalimat itu di telinganya.
"Yang benar? Kalau begitu, selama aku di sini dan belum sembuh, kau harus selalu menuruti apa mauku ya?"
"Ya-ya, akan kulakukan, akan kulakukan. Huh?"
.
.
.
.
Sontak kulepaskan Miku dari pelukanku, terlihat wajahnya yang sudah tak kuat menahan tawa karena berhasil mengibuliku, dengan sangat sukses pastinya. Kutepuk dahiku, menyadari kalau aku sekarang yang dikerjai olehnya. Karena terlalu panik, tidak kuperiksa nadinya, detak jantungya, dan lain-lain. Hanya karena ia tak bernafas, bukan berarti dia sudah meninggal, dasar Kaito bodoh!
"Sekarang, kena kau! Nyahahaha!" teriaknya sambil menunjukkan jari telunjuknya padaku, "sekarang kukembalikan kata-katamu! Siapa yang suka siapa, hah?"
"..." kini giliran aku yang diam tanpa kata. Karena masih sibuk menyalahkan diriku yang dapat dibodohi olehnya, membuatku kehabisan kosa kata.
"Nah, sekarang, kutagih perkataanmu tadi! Masakkan sarapan untukku!" perintahnya dengan setengah berteriak, ia berlagak seperti seseorang yang sudah memenangkan suatu pertandingan besar.
"Tch! Baik-baik, kupegang kata-kataku! Sekarang aku mau ke dapur dulu!" jawabku ketus, kulangkahkan kakiku menjauhinya, tapi terhenti ketika ia memanggilku lagi.
"Eh, Kaito," panggilnya dengan lembut, aku pun membalikkan tubuhku, menanti ucapan yang akan dikeluarkannya.
"Ya, kenapa lagi?" balasku dengan kesal.
"Tadi, kau sangat khawatir saat aku pura-pura mati ya?" tanya Miku dengan polos, khas dirinya.
"Te-tentu saja aku khawatir, karena...," jawabku terbata-bata. Tak mungkin aku bilang kalau aku memang punya perasaan padanya, soalnya susah sekali mengatakan itu!
"Karena apa?" tanyanya lagi sambil merapikan rambut terurainya yang agak berantakan, "kau benar-benar suka sama aku ya?" ujarnya yang lagi-lagi dikeluarkan dengan wajah innocent.
"Tidak tahu!" jawabku singkat. Kubalikkan badan menuju ke arah ruang tengah, tapi lagi-lagi Miku memanggilku.
"Eh, tunggu dulu!" teriaknya.
"Ya-ya, apa lagi?" balasku, kutolehkan sedikit kepalaku ke arahnya.
"Aku masih belum bisa jalan nih! Gendong aku ke kamar mandi dong!" jawabnya. Baiklah, kupegang kata-kata kacauku barusan, akan kuturuti semua permintaanmu selama kau masih sakit.
Tanpa komentar apapun, kugendonglah Miku ke arah kamar mandi yang memang menjadi satu dengan kamar tidurku. Langkah demi langkah ke kamar mandi terisi dengan gerutu di dalam hatiku, kenapa bisa-bisanya kuucapkan kalimat kacau tadi? Dasar gegabah! Setelah puas menggerutu, tidak terasa kalau kami sudah sampai di kamar mandi, sebuah kamar mandi yang besar, dibuat dengan gaya barat, dan bath tubnya sudah terisi air. Kalau tidak salah, kemarin sudah kusiapkan untukku mandi, tapi tidak jadi gara-gara ada panggilan dari markas, jadi kubiarkan bath tub ini tetap terisi air.
"Sekarang apa lagi, tuan puteri?" tanyaku pada Miku yang masih berada di gendonganku, "mau kumandikan sekalian, hm?"
"Hah! Yang benar saja! Sana pergi! Aku bisa mandi sendiri, hus, hus, hus!" teriak Miku sambil meronta. Hei, kau boleh mengusirku, tapi setidaknya berikan kesempatan padaku untuk menurunkanmu dari gendongan dong! Nanti kita bisa-
-Byuuur!-
Ah, terlambat. Kami berdua sekarang sudah jatuh dan terendam bersama di bath tub ini. Dengan posisi aku berada di bawah, dan Miku di atas. Untung saja ukurannya besar, sehingga tidak membuat kepalaku terantuk. Miku yang histeris karena tahu aku berendam bersamanya, meronta dengan lebih kuat sekarang, membuatku makin repot saja.
"Kyaaaa~ aku mandi bersama seorang pria mesum! Pergi kau! Keluar dari sini!" teriak Miku . Aku sih juga maunya begitu, tapi gara-gara kau meronta, sekarang kepalaku sudah terbenam di dalam air, dan pastinya susah sekali pergi dari sini kalau kepalaku masih di dalam air.
"Bleb... bleb... bleb..."
"Kaito! Sudah kubilang pergi! Kenapa masih di sini juga sih?" teriaknya lagi, dengan nada yang lebih tinggi ditambah perasaan kesal, yang membuat teriakan itu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
"Bleb... bleb... bleb!"
"Kau ngomong apa sih? Yang jelas dong! Lalu cepat pergi dari sini!" Miku pelankan sedikit suaranya karena pasti capek pagi-pagi begini sudah teriak-teriak.
Rasa kesal, capek, dan sedikit tenagaku yang tersisa, bergabung menjadi satu. Menghasilkan kekuatan untuk bangkit dari air. Karena tindakanku barusan, Miku terjungkal, dan badannya sekarang sudah terendam air sepenuhnya. Dengan tatapan kesal, sekarang kulihat dirinya yang kini basah kuyup. Dibalasnya tatapanku dengan senyumnya yang berkesan innocent dan sukses membuatku tak bisa marah padanya. Kuhela nafas panjang, cukup panjang untuk menarik banyak udara yang sangat kubutuhkan pasca "tenggelam" tadi.
"Hhh~ sudahlah, nikmati saja mandi pagimu, Miku!" ujarku seraya membalikkan badan dan berjalan menuju keluar kamar mandi.
"Maaf ya, kau juga jadi basah begitu," balas Miku dari bath tub, yang menjadi tempat berendamnya sekarang.
"Iya-iya, selesai mandi langsung ke dapur ya! Belum sarapan 'kan?" ucapku sambil mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemariku, lalu berjalan menjauhinya.
Setibanya di ruang tengah, kumatikan lampu yang sedari malam menyala. Lemas langkahku menuju kamar mandi yang ada di ruang tamu. Karena sudah terlanjur basah begini, aku mandi saja sekalian. Tak perlu waktu lama bagiku untuk sekedar membasuh badan dengan air. Kupakai pakaian yang tadi kuambil dari lemari kamarku, dan langsung berjalan menuju dapur setelah semua pakaian tadi menempel di tubuhku.
Sekarang sampailah aku di ruangan yang bernama dapur. Ya, dapur. Tempat di mana orang memasak makanan yang akan dimakannya 'kan? Tempatnya sih sudah oke, peralatannya sudah lengkap, tapi masalahnya, adakah bahan yang bisa kupakai untuk memasak sarapan pagi ini? Karena baru hari ini aku makan di sini, jadi aku agak-agak lupa tempat penyimpanan makanannya. Kuperiksa lemari makanan, kosong. Lemari-lemari kecil yang tertempel di dinding, juga kosong. Di mana kuletakkan makanan untuk bulan ini ya?
Kudengar bunyi "ting" di dalam kepalaku. Sebuah bola lampu sepertinya terlihat di atas kepalaku sekarang, akhirnya aku ingat di mana kuletakkan makanan yang sengaja kusimpan beberapa minggu lalu. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat persembunyian makananku. Setelah beberapa lama mencari, kudapati sebuah kotak kayu berwarna gelap yang berada di sudut ruangan.
Tanpa basa-basi lagi, kubuka kotak berwarna gelap itu, dan kutemukan beberapa makanan yang terkemas dalam kaleng-kaleng kecil. Kuperhatikan kaleng-kaleng itu satu-persatu, semua keterangan di kalengnya ditulis dalam bahasa yang tak kumengerti, hanya ada satu kalimat yang bisa kuartikan, yaitu "Made In France", yang artinya makanan-makanan kaleng ini dibuat di Perancis, sebuah negeri di sebelah Barat yang cuma pernah kudengar namanya saja. Dari mana kudapatkan makanan kaleng ini ya? Ah lupakan, sekarang masak saja dulu, nanti keburu siang.
Kunyalakan kompor dan kuletakkan wajan di atasnya, beberapa kaleng makanan yang sudah siap dimasak kuletakkan di meja. Dua kaleng daging, dua kaleng sup, dan sekaleng buah-buahan yang pasti takkan kumasak seperti dua jenis makanan yang pertama. Kupanaskan daging dan sup, kutuang buah-buahan kalengan di atas mangkuk, dan kusiapkan meja untuk kami makan nanti. Setelah beberapa lama, semua sudah kuhidangkan di atas meja besar yang bisa dibilang terlalu besar kalau hanya untuk dipakai makan dua orang.
Setelah semuanya siap, kuambil tempat duduk dan kutunggu Miku sampai selesai mandi. Tapi kok lama sekali dia mandi? Kumaklumi kalau perempuan itu memang mandinya lama, tapi tak selama ini 'kan? Tiba-tiba saja yang sedang dibicarakan muncul, Miku, iya, Miku, ia sudah datang ke dapur hanya dengan mengenakan selembar handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Tunggu dulu, handuk? Hanya dengan handuk? Kuangkat sebelah alisku pertanda aku bingung akan penampilannya sekarang.
"Mau apa kau hanya dengan mengenakan selembar handuk, hah? Tidak mungkin 'kan makan dengan penampilan begitu?" tanyaku pada Miku yang memang hanya mengenakan selembar handuk.
"Eeh, itu... itu...," jawab Miku terbata-bata sembari menggaruk kepalanya yang kutahu pasti tidak gatal.
"Itu-itu apa?" balasku singkat.
"Tadi 'kan kita berendam sama-sama, tanpa buka baju pula, jadi bajuku satu-satunya terendam air, dan aku tidak punya gantinya."
"Jadi?"
"Kok cuma jawab 'jadi?' sih? Dasar bodoh! Pinjamkan baju kenapa? Masa' aku pakai handuk begini terus sih?" Teriak Miku padaku. Sabar-sabar, mana mungkin kau kubiarkan begitu saja.
Kurogoh kantung celanaku, kuraih sebuah untaian kunci dan kulemparkan kepadanya, "Nih! Pergi ke kamar di sebelah kamar tidurmu tadi, pakai kunci yang warnanya perak, buka lemari pakaian di sana, dan kau bisa pilih baju yang kau suka," ujarku sambil menunjuk kamar yang kumaksud tadi.
Tanpa berkata apapun, Miku segera menuju kamar yang kutunjukkan tadi. Dasar, bilang terima kasih saja tidak, memang sulit sekali ya mengatakannya? Kutunggu Miku memakai pakaiannya yang pasti sangat lama, biasa perempuan. Dugaanku tepat sekali, saking tepatnya, kutunggu dia sampai hampir setengah jam. Miku muncul di dapur dengan menggunakan baju terusan lengan panjang berwarna biru tua, dan menggunakan muffler biru yang sama denganku. Eh? Muffler biru? Kau mau mengikuti gayaku atau memang hari ini sangat dingin, sehingga kau memakai muffler itu?
"Hei, maksudmu apa memakai muffler itu? Mau ikuti gayaku ya?" tanyaku padanya sembil menunjuk muffler biru yang melingkar rapi di lehernya.
"Oh, ini? Hari ini dingin sekali sih, terus tidak tahu kenapa aku pakai juga muffler ini," jawabnya, dimainkannya muffler biru itu, dan ia pun mengambil tempat duduk yang posisinya berada di depanku, "kamar itu, kamar siapa, Kaito?" tanya Miku yang sekarang sudah duduk di depanku.
"Nanti saja ngobrolnya, sekarang makan dulu, sudah dingin 'tuh!" potongku, kuambil makanan bagianku dan memasukkannya sedikit demi sedikit ke mulutku.
"Huh, ya sudah," balas Miku kesal, ia pun mulai mengambil dan memakan bagiannya.
Makan pagi yang mungkin bisa kusebut makan siang ini pun berlangsung sunyi, tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Seusai makan, kuberitahu Miku, bahwa ia tidak boleh sama sekali menunjukkan dirinya di jendela, kalau mau keluar dari tempat persembunyian ini, harus dengan seizinku, dan ia bisa bebas menggunakan kamar tidurku untuk bersembunyi. Miku yang kuberitahu hanya mengangguk pelan, tanda ia mengerti, mungkin.
Kutinggal lagi Miku sendiri di dapur karena ia belum selesai makan. Sekarang aku mau menenangkan diri dulu di ruang tengah, sambil baca buku atau apalah, yang penting aku mesti rileks dulu sekarang. Sesampainya di ruang tengah, kulirik lemari tua yang berisi buku-buku yang umurnya mungkin juga setua lemarinya. Kusapu sedikit debu yang menempel di lemari tua ini sambil mengenang orang yang dulu sering mengajakku membaca buku dari lemari ini.
Ayah. Ya, beliaulah yang dulu sering mengajakku membaca buku-buku tua dari lemari yang juga sudah tua ini. Beliau sering menyuruhku membaca buku-buku tentang sejarah, yang selalu membuatku pusing dan tidak bisa tidur. "Orang yang hebat selalu mempelajari masa lalunya, agar tidak jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama," kata-kata ayah masih terngiang di kepalaku. Entah sudah berapa lama aku tak mendengar kata-kata itu dari mulutnya.
Kuambil sebuah buku dari banyak buku-buku di lemari tua ini, dan langsung kududuki kursi panjang di ruang tengah, kulihat buku yang kuambil ini berjudul "Restorasi Meiji". Sebuah buku yang menceritakan kejatuhan sistem pemerintahan shogun Tokugawa, awal dari pemulihan nasionalisme, dan Jepang mulai mengadopsi gaya pemerintahan a'la Barat, hanya itu yang bisa kumengerti dari buku ini, karena tiba-tiba Miku memanggilku dari dalam dapur, kuletakkan buku itu di kursi dan menghampiri Miku yang memanggilku tadi.
"Kaito! Cepat kemari! Kau di mana sih?" teriaknya seakan-akan rumah ini luasnya seperti hutan belantara dan kalau memanggil orang mesti berteriak sekencang-kencangnya.
"Ya, sabar, aku ke sana!" balasku pelan, kupercepat langkahku menuju dapur, dan menemukan Miku yang sedang melihat ke arah luka di kakinya.
"Lukaku jadi sakit lagi nih, bisa kau obati lagi tidak?" rintihnya padaku sambil mengusap pelan kakinya yang terluka.
"Yahhh~ cuma begitu saja kok berisik sekali, sebentar ya, kuambil perlengkapannya dulu," aku pun berjalan menuju ruang tengah dan mengambil tas besar berisi obat-obatan yang semalam isinya kupakai untuk mengobati luka Miku.
Miku yang melihat aku membawa tas besar yang dikenalnya pun sontak berteriak ketakutan, "Eh-eh! Kau mau main pisau seperti tadi malam ya? Cuma mengobati luka kok bawa alatnya sebegitu banyak sih?"
"Sudah diam dan lihat saja!" balasku datar, kuambil obat pembersih luka dan perban dari dalam tas besar ini. Mari main dokter-dokteran lagi.
Mungkin karena takut, Miku menutup matanya lagi seperti tadi malam, dan merintih kecil ketika kubersihkan lukanya. Tak butuh waktu lama untuk membersihkan dan membalut luka di kaki kanan Miku. Setelah selesai, si pasien pun membuka kembali matanya.
"Sudah ya? Kupikir seperti tadi malam," ucap Miku dengan tenang, sekarang ditatapnya lagi kakinya yang sudah terbalut perban putih bersih.
"Oh, mau bermain lagi dengan scalpelku? Ayo, kaki yang mana yang mau disayat?" kurogoh tas obat besar ini dan jemariku sekarang menggengam sebilah scalpel alias pisau bedah yang semalam kupakai untuk menyayat kaki Miku.
Bisa kulihat pupil mata Miku sekarang mengecil, beberapa butir peluh mengucur di dahinya, dan sekarang telunjuknya mengarah tepat ke mukaku, "Ja-jauhkan barang itu dariku! Dasar dokter amatiran!"
"Hei, setidaknya dokter amatiran inilah yang telah selamatkan hidupmu, nona histeris!" balasku seraya memainkan scalpel itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas obat.
"Tch! Terserah 'lah!" Miku beranjak dari kursinya dan segera menuju ke kamarku, tak tahu mau apa dia, tapi setidaknya ia tidak keluar dan menampakkan dirinya di luar tempat persembunyian ini.
"Sudah bisa jalan sendiri ya? Tak perlu digendong lagi?" tanyaku padanya. yang ditanyai pun tidak menjawabnya, walau hanya beberapa kata saja.
Dia masa bodoh, aku pun demikian. Kubawa lagi tas besar itu kembali ke ruang tengah. Sesaat kulirik Miku yang sekarang sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Kududukkan lagi tubuhku di kursi panjang di ruang tengah ini, dan membaca kembali buku yang tadi belum selesai kubaca. Terlihat sekilas Miku membuka sedikit pintu kamar dan mengintip keluar, dan segera menutup pintu kembali saat ia sadar bahwa aku melihat tingkah lakunya. Sebenarnya kau mau apa sih? Sekali dua kali dia lakukan, kubiarkan saja dia, tiga-empat kali dia lakukan, mulai kesal hati ini. Lima-enam kali dilakukannya lagi, kuteriaki saja dia.
"Sebenarnya kamu mau apa 'sih? Seperti yang bodoh saja!" Teriakku kesal sambil membanting buku yang tadi masih kubaca.
Miku sedikit tersentak, dan dibuka olehnya setengah pintu kamar tidur itu, "Ti-tidak, cuma mau...," jawabnya sambil memainkan rambut panjangnya yang sampai sekarang belum diikat gaya twin tail.
"Mau apa?" tanyaku singkat.
Dibukanya lagi sedikit pintu kamar tidurku, dan ia membungkukkan sedikit tubuhnya, "Te-terima kasih, untuk semua yang telah kau lakukan untukku, Kaito!"
Oh, kau mau berterima kasih? Tapi kenapa setiap kali kau melakukannya, kesannya sulit sekali? Apakah karena malu atau apalah, aku tidak terlalu peduli. Kubalaslah ucapannya dengan suara pelan, "Ya, sama-sama, yang penting sekarang keadaanmu sudah lebih baik," balasku, sepertinya senyuman sekarang tersungging di wajahku. Miku pun membalas senyumanku dan segera menutup kembali pintu kamarku.
Sudah selesai semua, tinggal menunggu waktu tenang agar bisa berjalan-jalan lagi di luar tempat persembunyian. Kembali kubaca kata demi kata, frase demi frase, kalimat demi kalimat dalam buku yang membingungkan ini. Seiring kebingungan melanda, rasa kantuk pun mulai datang di belakangnya. Tanpa kusadari mataku pelan-pelan mulai menutup, kalah tak berdaya melawan rasa kantuk. Aku pun jatuh tertidur dengan tangan masih menggenggam buku.
Tak terasa aku tertidur sampai hampir waktu makan malam. Sungguh, tidur itu adalah salah satu anugerah Tuhan yang diberikan pada manusia, nikmat sekali. Suara rintik-rintik air hujan dan suara gemuruh petir menjadi alarm yang membangunkanku dari tidur ini. Suara Miku yang berteriak juga menjadi alarmku. Tapi alarm yang lebih hebat, karena berhasil membuatku terjungkal dan langsung berlari ke asal teriakannya. Dengan pengelihatanku yang masih kabur pasca bangun tidur ini, kutatap orang yang membuatku bangun secara tiba-tiba beberapa detik lalu. Dia dalam posisi jongkok, telinga ditutup dengan tangan, dan lagi-lagi, muncul di hadapanku hanya dengan menggunakan selembar handuk.
"Miku, kau ke-"
"Kyaaaa~ takuuut," tanpa pikir panjang, gadis lugu ini langsung saja memelukku sambil tangannya menunjuk ke arah jendela.
Kilatan cahaya diikuti dengan suara gemuruh, datang lagi dengan tiba-tiba, membuat diriku agak tersentak kaget. Lain halnya dengan gadis yang masih memelukku ini, dekapannya makin erat ketika mendengar suara gemuruh barusan. Jadi begitu, kau takut petir ya? Memang masih seperti anak-anak kau ini.
"Petir ya, hm? Tenang saja, kau tak akan tersambar petir di dalam rumah, Miku," ujarku menenangkan dirinya.
"Tapi... tapi tetap saja takut," balas Miku yang masih mendekap erat tubuhku.
Seiring suara guruh yang mulai menghilang, dekapan Miku mengendur. Rasa takut dan panik sudah hilang, membuat logika Miku mulai berjalan kembali. Hanya memakai handuk, memeluk laki-laki, dan pikiran lain yang tak bisa disebutkan satu persatu, sontak membuat ia berteriak lagi. Kali ini, bukan hanya berteriak, tapi ia melakukan sesuatu yang tidak diduga.
"Kyaaaa~ dasar genit! Kenapa bisa-bisanya tadi kupeluk kau?" mulai lagi, Miku yang histeris tidak karuan, ia meronta dengan sangat keras, dan salah satu tangannya yang mengepal, tepat mengenai wajahku. Lagi-lagi ke-histerisannya ini merugikan diriku.
"Aih, sudah-sudah, makanya lain kali pakai baju dulu, baru histerisnya keluar, sekarang jadi repot begini 'kan? Sampai-sampai wajah orang dipukul!" desisku sambil menjauhinya dan berjalan keluar kamar.
"E-eh, wajahmu kena pukul tadi ya? Sakit?" tanya Miku dengan suara innocentnya.
"Diam!" potongku dengan kasar. Setelah berada di luar, langsung kututup pintu kamar dengan keras, sangat keras sampai bisa kurasakan Miku tersentak kaget.
Tch! Gara-gara gadis itu, jadi sakit deh muka ini. Moga-moga tidak memar. Kubereskan buku yang tercecer di kursi, dan kuambil buku lain yang kira-kira lebih ringan untuk dibaca sebagai teman santai. Hujan yang tadi Cuma rintik-rintik, kini mulai deras, dan pastinya guruh juga bertambah kencang suaranya. Di tengah asyiknya membaca buku, Miku menghampiriku yang berada di ruang tengah. Ia langsung duduk di kursi yang sekarang ini kududuki, tapi dengan posisi agak jauh dariku.
Gemerlap kilat datang diikuti suara gemuruh yang membuat Miku menutup mata dan telinganya lagi. Ia sepertinya ingin duduk dekat-dekat denganku agar rasa takutnya berkurang. Tapi diurungkan niatnya itu karena tindakan kasarku barusan.
"Takut lagi?" tanyaku singkat, mataku masih tertuju pada buku yang kini masih kubaca.
"..." Miku hanya diam, sekilas kulihat anggukan pelan kepalanya.
"Ya sudah, dekat-dekat sini!" ujarku sambil menoleh kepadanya. Miku pun mulai mendekat dan kini ia sudah berada di samping kiriku, sekarang kelihatannya ia mulai tenang.
Datang lagi kilat diikuti dengan gemuruh, besar sekali, lebih besar dari yang sebelumnya, "Hiii~ takut!" Miku sekarang menggenggam erat lengan bajuku, agar rasa takutnya sedikit menghilang.
Kugelengkan kepalaku, dan kuletakkan buku yang kubaca tadi, "Mesti berapa kali kubilang? Kau tak akan tersambar petir di dalam rumah!"
"Percuma kau bicara begitu, kalau takut ya takut, tak bisa ditawar-tawar lagi," balas Miku, "eh, ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan!"
Pertanyaan Miku menarik sedikit perhatianku, "Apa itu?" tanyaku.
"Mengenai ucapanmu tadi malam, mengenai Tokubetsu Kōtō Keisatsu, maksudnya..."
"Bisa Bahasa Jepang dengan baik kan? Masa' begitu saja tanya lagi?" balasku.
"Aku tahu artinya, semacam Polisi Khusus Tingkat Tinggi 'kan, kalau diartikan secara mudahnya? Tapi yang mau kutanyakan adalah, artinya secara khusus!" Ujar Miku ketus.
Kuhela sedikit nafas panjang untuk menghadapi gadis ini, "Baik-baik, kau memperhatikan kondisi politik Jepang saat ini?"
"..." Miku menggelengkan kepalanya
"Orang-orang sosialis, atau komunis mulai mencoba mengubah haluan pemerintahan Jepang saat ini, dan membuat kekacauan di mana-mana,"
"Komunis? Sosialis? Orang-orang apa lagi itu?" tanya Miku penasaran.
"Mereka yang menentang faham Kapitalisme Jepang, yang mengharapkan aset-aset negara itu menjadi hak rakyat sepenuhnya," jawabku.
"Aduh, kepalaku pusing, bisa kau jelaskan dengan mudah?" sepertinya pemikiranmu belum sampai ke sana, Miku.
"Gampangya, tugas kami adalah, menangkap mereka semua yang mencoba mengubah ideologi Jepang, dan orang-orang yang ikut secara langsung atau tidak langsung di dalamnya. Tak peduli bagaimana caranya!"
"Terus, kenapa aku juga masuk dalam daftar pencarian orang milik kalian?" Miku bertanya lagi.
"Aku sendiri juga bingung, kenapa kau dan keluargamu tiba-tiba masuk dalam daftar pencarian, kami 'kan cuma terima perintah saja, bukan membuatnya!"
"Terserah deh, yang penting nanti tepati janjimu ya! Kau tidak lupa 'kan?" ujar Miku mengingatkanku pada janji terdahulu.
"Ya, tenang saja. Pokoknya janji itu akan kutepati deh!" jawabku meyakinkan dirinya.
Beberapa menit kemudian, cahaya kilat terlihat menembus tirai-tirai, diikuti suara gemuruh yang kencang seperti biasa. Miku pun kembali menutup matanya dan menggengam erat lengan bajuku. Setelah semua itu menghilang, Miku kembali tenang dan melepaskan genggamannya. Aku pun kembali membaca buku yang berada di pangkuanku ini.
Secara tiba-tiba dan tak terduga. Telinga kami berdua menangkap suara pintu utama dipukul dengan kerasnya. Hampir sama keras dengan suara gemuruh tadi. Mataku langsung mengarah ke pintu utama yang berada beberapa meter di belakang kami. Kuraih senjata andalanku di pinggang, sepucuk pistol M1911, kaliber .45 dengan tujuh peluru, yang sekarang hanya tinggal enam, karena satu pelurunya sudah bersarang di kepala komandan.
Kupompa barang itu, agar bisa ditembakkan kapan saja. Mataku mengisyaratkan pada Miku agar ia bersembunyi di balik bangku panjang yang tadi kami duduki. Dengan langkah perlahan, aku berjalan ke samping mulut pintu. Kumasukkan kunci pelan-pelan, dan kuputar tanpa bersuara. Sekarang pintu ini sudah tidak terkunci, walau dia yang berada di luar masih tetap memukulnya, berharap kubuka pintu ini.
Tenang saja, pintu ini akan segera terbuka, lengkap dengan "hadiah spesial" dariku. Kurapatkan tubuhku di dinding yang berada di samping mulut pintu. Kenop yang berada di samping kananku sudah siap kubuka. Mataku kembali melirik kearah Miku yang menyembulkan kepalanya dari sandaran kursi. Segera kusuruh ia berlindung lagi di balik kursi.
Seiring suara pukulan di pintu, hatiku berhitung dari satu sampai tiga. Dalam hitungan ketiga, akan kubuka pintu ini dan sekaligus memberikan sesuatu yang spesial pada "tamu" kita.
Satu
.
.
Dua
.
.
Tiga!
Kubuka pintu dengan cepat. Kuputar tubuhku agar bisa langsung menghadap ke luar. Dengan sangat cepat kutodongkan pistol ini ke hadapan "tamu" kami. Suasana menjadi sangat tegang. Ketegangan ini ditambah lagi dengan sesuatu yang sangat kubenci, yaitu-
"Perasaan tegang ketika seseorang menodongkan pistolnya tepat ke kepalaku"
-MAY BE CONTINUED-
~A/N~
Halo, terima kasih sudah membaca fic ini sampai selesai, dan terima kasihnya akan bertambah kalau anda me-review fic ini, heheheh. Seperti disclaimer di atas, fic ini dari chapter satu sampai tiga, berdasarkan ARTWORK lagu 1925, dan sejarah Jepang yang saya jadikan latar fic ini. Kalau masalah liriknya, saya akan coba buat agar fic ini dan liriknya sinkron. Mohon maaf sebesar-besarnya kalau diantara sejarah yang saya selipkan ada salahnya, karena kemampuan Bahasa Inggris saya di bawah rata-rata, mungkin penjelasan dari Om Wikipedia ada yang terlewatkan.
Seperti biasa, saya selalu meminta saran, kritik, dan flame yang bisa membangun kemampuan saya untuk membuat cerita. Khusus flame, kalau mau kirim barang ini, mohon pakai akun, supaya saya bisa belajar dari fic-fic anda (kalau semisal anda author). Dengan akun, saya akan menghargai dan menghormati anda, pegang kata-kata saya. Tapi, kalau tidak pakai, saya takut nanti perang flame akan berkobar antara saya dan anda.
Stay tuned di fic saya yang satu ini, teman-teman. Oh iya satu lagi, maaf yang sebesar-besarnya karena updatenya lama, soalnya karya tulis saya udah deadline T.T moga-moga masalah satu ini bisa secepatnya selesai, agar saya bisa update fic-fic saya secepatnya. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih lagi, dan semoga Fandom Vocaloid Indonesia makin ramai denga fic-fic yang bermutu. Sayonara minna-san!
