Karena menikah, belum tentu dapat membuat hidup Ino bahagia sepenuhnya. Dan, Itachi pun tak memungkiri bahwa hatinya menghangat.

Naruto is Masashi Kishimo's

Marriage

by Emmie Fleuretta


Itachi membopong tubuh mungil istrinya yang sedang tertidur itu ke lantai dua. Ia agak maklum kepada Ino yang—mungkin—tertidur setelah ia menangis untuk waktu yang cukup lama, diperparah lagi, ketika Ino menangis ia sama sekali tak menggubris tangisan Ino. Malah membiarkan Ino terisak-isak di bahunya, tanpa perhatian, dalam keheningan. Terlihat kejam memang bagi siapa saja yang mengetahui kejadian satu jam yang lalu. Tidak dapat dipungkiri, Itachi pun sadar bahwa ia keterlaluan, tapi, bagaimana lagi. Ia tak mungkin memberikan Ino kebahagiaan, pikirnya. Jika ia memberi kebahagiaan pada Ino, malah akan membuat Ino semakin terasa tersakiti ketika mereka berpisah.

Agak sesak juga Itachi mendengar kata 'berpisah' dari batinnya. Kata-kata itu seakan mengingatkannya pada apa yang ia lakukan terhadap Ino. Bagaimanapun, Ino adalah istrinya. Bukan kewajibannya untuk membuat Ino bersedih. Kalau saja ada cara lain yang dapat ia lakukan agar dapat berpisah dengan Ino tanpa membuatnya sedih atau pun kecewa, pasti Itachi akan melakukan cara itu. Pasti.

Setelah sampai di kamar mereka, Itachi meletakkan Ino di atas ranjang besar berwarna biru sembari memikirkan keadaan Ino. Sehabisnya ia membenarkan posisi tidur Ino, ia pun duduk di sisi ranjang. Itachi memandangi wajah damai istrinya. Tak pernah ia memandangi wajah Ino yang sedamai itu selain saat Ino tertidur. Istrinya pun… semakin tampak cantik saat tertidur. Tanpa disadari, Itachi mengukir senyum tipis di wajahnya. Tapi sayangnya senyum itu harus hilang ketika mata beriris obsidian Itachi menangkap jejak-jejak air yang mengganggu di pipi Ino. Obsidiannya meredup kala mengingat penyebab adanya jejak-jejak air di pipi Ino adalah dirinya.

Mengambil siasat, Itachi berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Membasuh handuk kecil yang selalu berada di kamar mandi mereka dengan air segar dari keran. Menguras handuk itu sebentar, kemudian keluar dari ruangan serba krem. Itachi segera berjalan ke tempat Ino berbaring, ia duduk kembali. Mengusap wajah yang tampak letih itu dengan air segar. Mulai dari dahi, mata, pipi… sampai sebuah getar ponsel Itachi terdengar. Kegiatan Itachi terhentikan, dilemparnya handuk itu asal ke meja kecil di samping tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan berdecak.

"Ya? Ada apa?" tanyanya pada seseorang di seberang sana tanpa melihat siapa peneleponnya.

"Tidak ada apa-apa," jawab suara seorang wanita dengan ketus. Mendengar itu, mata Itachi tampak terkejut, sebentar.

"Ada apa, Ko—"

"Kau sedang apa? Aku menunggumu di café dekat kantor," ucap Konan menyela perkataan Itachi, masih terdengar nada ketus dari suara Konan, tapi sedikit lembut dari yang tadi.

Itachi mendesah, ia pijat-pijat batang hidungnya. "Maaf, Konan. Aku tidak bisa," sahut Itachi dengan sedikit nada penyesalan. "Aku sedang menunggu Kuujo di playgroup-nya." Bohong, entah apa yang membuat Itachi mau berbohong seperti itu. Tapi, rasanya ia sedang tidak ingin pergi keluar hari ini. Selain menjemput Kuujo, siang nanti tentunya.

Terdengar decakan dari telepon. Itachi sadar, ia tak mungkin bisa berbohong dari Konan. "Kau berbohong." Tepat sekali. "Kupikir kau bukan Tousan baik yang suka menunggu anaknya."

Telak. Itachi terdiam beberapa saat, menunjukkan bahwa ia memang berbohong. Ingin berkilah lagi, tapi belum mulutnya membuka, Konan sudah menyerangnya lagi.

"Kau pikir aku bodoh? Kaulah yang baka," cecar Konan lagi padanya. Sungguh Itachi merasa bingung kenapa ia bisa suka pada orang yang hobinya mencecar ini. "Kau tak bisa membohongiku. Pasti kau—karena 'si jalang' itu." Gertakan gigi terdengar memasuki indera pendengar Itachi. Ia sudah membayangkan bahwa Konan pastinya kini meremukkan sesuatu yang ada di dekatnya. Sekali lagi, hobi setiap kali kesal.

Itachi menghela napasnya. Lelah mendengar gumaman marah Konan. Kemudian ia menggeleng-geleng, menggeleng-geleng tanpa diketahui Konan, karena mereka berhubungan lewat telepon, bukan webcam. "Jangan panggil dia 'si jalang'. Dia—"

"Aku mengerti, pasti kau tak ingin aku memanggilnya 'si jalang' kan?" tanya Konan penuh amarah. "Tapi dia memang pantas, sudah tahu kita ini menjalin hubungan, tapi tetap saja menyetujui perjodohan kalian." Di seberang sana, Konan menggeram, memberikan tiap penekanan pada tiap kalimatnya.

Itachi menghela napas lagi. "Tapi dia—"

"Sudahlah, jangan bela dia." Lagi-lagi Konan menyela katanya, membuat Itachi berbalik menggeram kesal. Itachi mencoba bersabar.

"Dia begitu karena—"

"Kau mau bilang apalagi? Kau ini gila membelanya! Sebenarnya yang kau cintai itu siapa, sih? Aku atau dia? Jawab!" Nada bicara Konan mulai meninggi. Ia membentak, emosinya keluar dengan sendirinya mendengar Itachi ingin berkilah dan membela wanita yang jelas-jelas sudah mengganggu hubungan mereka selama dua tahun terakhir ini.

Merasa kesal, Itachi memutuskan sambungan telepon. Ponselnya ia campakkan asal ke tempat tidur. Rahangnya terkatup rapat. Dia sedang kedatangan tamu bulanan, pikir Itachi meyakinkan diri agar tidak kesal pada Konan. Pandangannya teralih pada Ino, takut kalau pembicaraanya bersama Konan lewat telepon tadi mengganggu Ino. Syukurnya, Ino masih tertidur pulas. Kali ini kepalanya agak menyamping dan tanpa jejak air mata di pipinya.

Karena tidak tahu apa yang ingin dilakukan lagi, Itachi ikut merangkak ke ranjang, membaringkan tubuhnya di sebelah Ino. Menyampingkan badannya, obsidian Itachi menatap di mana seharusnya shappire Ino terletak. Lama, sampai tangannya tanpa sadar menggeser helai-helai poni panjang Ino yang lengket pada pipinya, kemudian membelai pipi Ino. Pikirannya mengembara pada kata-kata Konan beberapa menit yang lalu. Tentang perjodohan. Ia dan Ino memang dijodohkan. Ketika ia masih menjalin hubungan khusus dengan Konan. Waktu itu pun, Ino yang masih menjadi adik kelasnya di SMA sampai di kuliahnya pun tahu, ia punya hubungan dengan Konan yang dulunya mahasiswi di Fakultas Kedokteran, sama dengan mereka. Konan sungguh kaget kala mendengar kabar perjodohan antara dirinya dengan Ino. Konan bertanya-tanya padanya tentang kepastian perjodohan itu. Dan sangat shock dengan jawaban santai dirinya, ia pun menenangkan Konan bahwa perjodohan ini pasti akan dibatalkan. Tapi nyatanya, tidak. Ino yang bertanya padanya apakah ia harus menerima perjodohan itu atau tidak, malah diacuhkan oleh Itachi, dirinya sendiri. Di situlah letak permasalahannya. Dirinya yang tak peduli, harus mau tak mau menerima perjodohan itu. Karena sikap acuh tak acuhnya, Ino menerima perjodohan itu.

Pikiran Itachi bercabang pada alasan Ino menerima perjodohan itu. Saat itu, Ino sembari menangis di hadapannya, di bangku sebuah taman, ia menceritakan semuanya, penyebabnya menerima perjodohan itu. Juga, perasaannya…

Ino tak bisa menolak perjodohan itu, karena, orang tuanya memaksa untuk menerima perjodohan itu. Ino tak tahu mengapa, orang tuanya tak menanyakan apakah ia merasa terbebani oleh perjodohan itu atau tidak. Orang tuanya terus memaksanya. Ino pun sudah tak bisa menentang lagi. Awalnya, ia sangat takut untuk menerima perjodohan itu walau dipaksa. Tapi… melihat Itachi—dirinya—yang tampak tak perduli soal perjodohan dan kala Ino menyadari bahwa ia mulai kesepian—karena keadaan orang tuanya yang seakan melepas tanggung jawab terhadap anaknya. Ino menjadi tak takut untuk menerima perjodohan itu, memang ia agak ragu, tapi hanya sedikit. Ragu itu juga menjadi hilang, saat Ino, mengatakan perasaan Ino yang sebenarnya. Ino mencintainya. Dengan derai air mata, di hadapannya, Ino mengungkapkannya. Mengungkapkan bahwa sejak lama ia mengagumi Itachi—dirinya.

Ino kesepian.

Entah mengapa, dari sekian pikiran yang ia pikirkan. Hanya dua kata itu yang menggema di pikiran Itachi. Ino kesepian, bahkan sampai ia telah menikah, Ino tetap kesepian. Kesepian.

Itachi menutup matanya mendengarkan kata yang menggaung terus-menerus di pikirannya. Yah, ia sadar. Ia telah membuat Ino salah sangka. Mungkin, sebelumnya Ino berpikir, memiliki suami sepertinya akan menghilangkan rasa sepinya. Tapi, tidak. Bahkan malah membuat Ino semakin kacau balau. Dirinya yang tak mungkin melepas Konan, dirinya yang tak ingin memberikan harapan terlalu jauh pada Ino… semuanya. Adalah kesalahan besar yang membuat Ino menjadi kacau. Ia pikir, dengan tidak memberikan harapan yang terlalu jauh kepada Ino, akan membuat Ino berhenti mengharapkannya, akan membuat Ino bisa mengerti sikapnya. Tapi, ia salah besar. Ino mencintainya, dan Ino akan selalu merasa tersakiti. Ia kejam, Itachi mengakuinya. Ia ingin menghentikan ini semua, tapi ia takut caranya malah semakin menyakiti Ino…

Itachi tak menyangka, mendapat cinta dari seorang wanita yang dulunya bernama Yamanaka Ino membuatnya begitu bingung.

Merasa mulai letih dengan pemikirannya di pagi yang rumit ini, Itachi mendekatkan wajahnya pada wajah Ino. Memutus jarak di antara mereka. Menautkan bibir kering Itachi pada bibir Ino. Pelan-pelan, tangan Itachi merambat pada pinggang Ino.

"Maafkan aku…" ujar Itachi lirih, sebelum menidurkan dirinya sembari mendekap sosok rapuh di hadapannya.

Tanpa menyadari, air mata meleleh dari mata tertutup istrinya.

.

.

Matahari telah meninggi, teriknya yang menyengat menelusup masuk ke dalam kamar Ino dan Itachi. Merasakan terik mentari yang menyengat, Ino mengerjap matanya pelan. Setelah ia merasakan segar di sekujur tubuhnya, Ino menguap pelan, dan memandang sosok pria yang tertidur di hadapannya. Wajah pria itu terlihat damai dan tetap terlihat tegas dengan dua belah garis di antara hidungnya. Terlihat menenangkan. Uh, rasanya ingin Ino cubit hidungnya yang mancung itu.

Ino tersenyum geli. Tangannya menyentuh ujung bibir tipis Itachi, iseng, Ino menarik sudut bibir itu agar tampak seperti tersenyum. Ino tertegun sebentar, ah, betapa pun ia jarang melihat senyuman suaminya itu, Ino tetap tak bisa mematahkan argumen dirinya dan orang-orang. Suaminya tampan ketika tersenyum. Bahkan, sangat tampan.

Iseng lagi, Ino menarik-narik kedua ujung bibir Itachi, membuat bentuk-bentuk aneh. Sesekali Ino terkikik saat wajah Itachi berubah menjadi sangat aneh berkat ulahnya. Merasa puas telah memainkan wajah inosen Itachi ketika tidur, Ino menepuk-nepuk pipi Itachi pelan. Ia hendak bangkit dari tempat tidur, tapi kegiatannya dihalangi sebuah tangan besar yang memeluknya. Ino baru ingat, beberapa jam lalu, Itachi tertidur sembari memeluknya setelah mengatakan maaf padanya. Mengingat itu, Ino tersenyum miris. Pelan-pelan, Ino melepaskan pelukan Itachi, dan menyenderkan dirinya pada dipan senderan tempat tidur.

Menghela napas, Ino memijat-mijat batang hidungnya. "Maaf, ya…?" tanyanya pada diri sendiri. Sebenarnya, Ino tidak mengerti, mengapa Itachi harus meminta maaf padanya. Apa karena perasaan Itachi memang sudah benar-benar kepada Konan, sehingga Itachi tak dapat memberikannya sedikit saja sebuah perasaan abstrak bernama cinta itu? Sungguh, Ino tidak menginginkan kata "maaf" dari Itachi. Jujur saja, mungkin sakit. Memang sakit rasanya tidak dicintai oleh suami sendiri, tapi… Ino selalu mencoba untuk memaafkan segala perbuatan Itachi. Apalagi, ia sadar, ini semua bisa begini juga karena dirinya sendiri yang seenaknya saja menerima perjodohan mereka. Dan menurutnya, ia terlalu jahat untuk menangis tersedu-sedu di depan Itachi, hingga Itachi menerimanya—padahal Ino dulu tak terlalu berharap penerimaan Itachi, ia hanya ingin sedikit kelegaan serta ketenangan karena telah menyampaikan beban yang tertumpuk di hatinya. Ino tak menginginkan kata "maaf", ia hanya ingin mendengar kejelasan Itachi tentang hubungan mereka. Apa yang Ino dapat tadi pagi benar-benar membuat hatinya gundah. Itachi tidak jelas—atau ia memang yang tidak jelas karena tidak segera menandatangani surat perceraian yang diajukan Itachi. Ino sadar, seharusnya ia segera menandatangani surat itu. Tapi…

Rasanya, ia ingin tetap memiliki dan mempertahankan bahtera rumah tangga mereka. Terlebih lagi, ada Kuujo, anak mereka. Tapi… lagi-lagi Ino harus bingung, melihat Itachi yang terlihat menyayangi Konan, Ino tak ingin membelenggukan Itachi terus dalam keegoisannya.

Ino menggigit bibirnya. Memikirkan rumah tangga antara dirinya dengan Itachi membuat pusing saja. Ino mendesah, ia melirik pada jam yang tergantung di dinding. Sudah memasuki pukul duabelas siang. Ia harus menjemput Kuujo, lupakan masalahnya untuk sementara.

Dengan begitu, Ino bangkit dan melangkah ke kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Membasuh mukanya, dan membangunkan Itachi. "Itachi…" panggilnya lirih, menepuk-nepuk bahu suaminya. Tak ada jawaban.

"Itachi…"

Tak ada jawaban, lagi. Ino mengernyit, Itachi bukan tipe orang yang susah dibangunkan. Tak mengenal lelah, Ino tak kehilangan siasat. Tangannya meraba-raba bagian perut Itachi, seringainya muncul.

"Itachi, kau bandel," ujar Ino, setelahnya ia mengikik. Tangannya menggelitik tubuh tegap Itachi, membuat raungan malas Itachi lolos dari bibirnya. Ino mengerucutkan bibirnya tatkala Itachi menelungkupkan dirinya, menutup akses Ino untuk menggelitik perut pria itu. Tapi, bukan Ino namanya kalau tak punya ratusan ide jahil.

Ino merangkak ke atas ranjang. Tangannya mulai menggapai leher Itachi. "Rasakan!" Dan kemudian menggelitik leher Itachi dengan ganas. Terdengar raungan geli dari Itachi, tangan Itachi mengibas-ngibas, seakan meminta Ino untuk berhenti. Sayangnya, segala perbuatan Itachi tak mendapat respon positif dari Ino. Malah, semakin lama Ino semakin menggelitik seluruh tubuhnya, dari leher sampai ke perut hingga tak mampu membuat Itachi menahan tawanya. "Hei Gajah, bangun!" keluh Ino kala ia tak menemukan Itachi beranjak dari tempat tidurnya, melainkan ikut menggelitikinya.

"Heeei!" Ino sama sekali tak terima perubahaan posisi mereka. Kini, Itachi yang menggelitikinya dengan bebas, sedang Ino menahan tawanya dengan sebelah tangannya. Tangan lain Ino yang bebas, berusaha menahan tangan Itachi.

"Siapa suruh tadi menggelitiku, hm?" tanya Itachi dengan seringai penuh kemenangannya.

Mau tak mau, Ino memasang wajah masam. "Siapa yang tadi susah sekali dibangunkan?"

Itachi diam, pura-pura berpikir. "Hm? Siapa, ya?"

Setelah pertanyaan kalem dan pura-pura bodoh Itachi tersampaikan, maka tersampaikanlah sebuah tinju dari bantal yang dilempar Ino.

"Auuuch."

"Rasain," cibir Ino sebelum bangkit dari tempat tidurnya. "Sebaiknya, kau cepat-cepat bersiap Itachi-kun…" Ino melirik jam dinding di kamar itu, membawa mata Itachi untuk melihat jam juga, "… kita harus menjemput Kuujo."

Itachi tersenyum, ia mengambil handuk kecil yang tergantung di gantungan baju. "Oke, hime-sama," ejeknya, menghasilkan rona merah di pipi Ino ketika mendengar panggilan itu. Hampir saja Itachi mendapatkan lemparan-bantal-penuh-nafsu dari Ino kalau saja ia tak cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Terdengar tawa kecil Itachi di dalam kamar mandi saat mendengar Ino mulai sewot dengan tingkah Itachi, beriringan dengan itu, terdengar suara gemericikan air dari wastafel—menandakan Itachi sedang membasuh wajahnya.

Karena tak ingin berdiam diri, Ino lebih memilih untuk mengunci tiap pintu rumah, selain pintu tempat mereka akan keluar nanti—dengan senyum manisnya yang mengiringi.

.

.

"Pulang nanti, kita mau ke mana?" tanya Itachi di sela-sela kegiatan mengendarai mobilnya. Untung saja sekarang ini lampu merah menyala, jadi ia bisa menatap wajah istrinya yang duduk di kursi penumpang dengan lebih pasti, tanpa rasa awas agar tak terjadi tabrakan.

Ino nampak mengernyit memandang Itachi. "Ya… ke rumah?" tanya Ino balik dengan kalem.

Itachi menepuk dahinya, kemudian melajukan mobilnya lagi kala lampu hijau telah menyala. "Maksudku… aku bosan di rumah. Bagaimana kalau kita sekeluarga pergi?"

"Pergi? Tapi aku tidak membawa uang…" sahut Ino agak menerawang. Ia menggigit bibir bawahnya sembari memandangi Itachi yang sesekali memandangi dirinya. Lagi pula, Ino tak tahu tempat mana yang bagus untuk menghabiskan siang ini. Siang ini begitu terik, akan membuat orang yang berjalan-jalan cepat lelah, sedangkan tempat berpergian yang ia pikirkan adalah tempat-tempat terbuka.

Suara tawa kecil Itachi memasuki indera pendengaran Ino. Itachi mencuri-curi waktu untuk menepuk kepala pirang itu. "Kau ini, tentu aku yang bayar segala yang kita beli," sahut Itachi, sebelum tertawa kecil lagi.

"Ya…" Ino tak lagi bisa menjawab, selain ia sudah kehilangan kata-kata, mereka juga sudah sampai di depan playgroup. Tampak di depan pagar sosok mungil berambut hitam dan bermata obsidian, cerminan dari Ayahnya, melambai-lambai pada Ino yang baru saja keluar dari mobil. Sosok itu tak lain adalah Kuujo. Dua giginya yang baru tumbuh menghiasi cengirannya.

Ino, dengan tergopoh-gopoh segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Senyumnya terpatri indah. Baru saja Kuujo hendak berceloteh ria, Ino segera menghentikannya. Jari telunjuk Ino yang lentik ditaruhkan di depan bibir mungil Kuujo.

"Nanti saja ceritanya, di mobil, bareng Tousan, ya?" bujuk Ino. Dan sepertinya teringat akan sesuatu, Ino menjentikkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya. "Kita akan pergi jalan-jalan siang ini, kau pasti senang!" pekik Ino pelan sembari menciumi pipi gembil Kuujo dan membawanya masuk ke dalam. Perkataan Ino disambut dengan mata obsidian Kuujo yang membulat.

Setelah memasuki mobil, pipi gembil Kuujo langsung saja diserbu oleh Itachi yang memang sangat gemas melihat pipi Kuujo. Tangannya mengacak-acak rambut hitam Kuujo yang dari awalnya semrawutan.

Kuujo yang dibegitukan hanya tertawa-tawa saja. Dan memulai cerita serunya di hari kedua di playgroup. "Hali ini tu, ya, Touchan dan Kaachan, cenengin bangeeet. Hinata-cencei curuh kami untuk gambal alat-alat mucik. Telus kami dicuruh untuk nyanyi cama jogettt. Tadi itu ya, Naluko, anaknya Hinata-cencei, nyanyi cekaligus joget-joget. Aih, lucu, banget tauuu. Cemen-cemen pada ketawaaa, Kuujo juga disuruh nyanyi. Kuujo enggak mau kalah ama Naluko, jadi Kuujo joget-joget kayak yang di tipi itu, yang pake gayung-gayung…" ujar Kuujo panjang lebar, dan diakhiri dengan tawanya yang meledak. Sedangkan Ino dan Itachi hanya terpelongo, saling berpandangan, tak mengerti maksud dari perkataan Kuujo itu apa, apa yang lucu, apa yang menyenangkan. Tapi, tingkah lucu Kuujo yang mengakhiri ceritanya dengan tawa meledaknya, dengan selingan joget aneh yang ditirunya dari televisi membuat mereka mau tak mau ikut tertawa terbahak-bahak.

Merengut karena besar tawa kedua orangtuanya melebih tawanya, Kuujo menggembungkan pipinya. Tapi, seperti biasa, Kuujo segera lupa dengan kejadian barusan kala mengingat cerita lain yang menurutnya seru. Celotehnya mengisi perjalan mereka ke sebuah taman yang Itachi ketahui adalah tempat terbagus untuk mengisi waktu di siang bolong begini, apalagi tak jauh dari taman itu, ada sebuah kedai es krim. Sesekali, Itachi tak dapat menahan senyum mendengar tawa Kuujo dan Ino yang berderai bersamaan. Tak dapat dipungkiri Itachi, bersama keluarga membuat hatinya begitu hangat.

.

.

.

TBC, hihi.

Langsung curcollll~ haaaaahh… ini adalah chapter yang sulit sekali untukku, gimana aku ngedeksripsiin tentang perjodohan merekanya ituloh, buat aku mumet banget. Rasanya terlalu baku, ya? Jelek, ya? Aku ga bakalan marah kalau kalian bilang emang terlalu baku dan jelek, aku sendiri pun mengakuinya. Aiiiih, suwer deh, bener nguras diri banget ini chap.

Nah, di sini aku mulai membuka perasaan Itachi dan Ino sendiri :P hihii, sebenernya aku kepengen untuk ngebuat chap dua ini penuh dengan perasaan Itachi, sebagai permintaan maaf karena telah membuat Itachi kejam di chap semalam, hehehe. Tapi kayaknya aku ga bisa ngebuat perasaan Itachi benar-benar tersampaikan. Sekali lagi, bikin mumet~ (dianya ga kebiasaan buat MC berkonflik begini). Hehehehe.

Sekali lagi, maaf kalau jelek.

Nah, untuk yang ngereview (khususnya yang ga login, aku balesnya di sini ya? :D)

Marshall : Hehe, terima kasiiih. Oke, ini sudah dilanjutkan, baca ya? ;) xixixi.

Sora bee : Amppuuuun, jangan siksa aku karena telah membuatnya jahaattt, hehehe. Iya, kasian :P makasih ya reviewnya. Udah update kok, semoga suka chapter ini. :)

Hayashi : Ada apa, ya? Terungkap ga di sini hehe? Hehehe, makasih reviewnya ya, hehe. Udah update kok, inih :P

Yamanaka Chika-susah login : Ehehehe. Kuujo mirip Itachi kok, di beberapa deksripsi di chap yang lalu, aku ada kok ngasih tau kriteria Kuujo, ehehehe. Makasih reviewnya :) inih, updateannya udah ditagih~ semoga suka, ya~

Kikyo Fujikazu : Ahahaha, makasih untuk sukanya dan reviewnya, makassssiih banggeet. Hehehe, kayaknya untuk soal Shikanya ga bakalan terjawab di chap ini, tapi yang lainnya terjawab ga yaaa? :P

Yap, akhirnya, terima kasih untuk kalian yang review! Review kalian pembangkit semangatku untuk ngenulis :p *eaa* untuk yang login, aku balas di PM ya, hehehe XDv peaceee..

Akhir kata, bersediakah kalian untuk mereview dan memberikanku concrit? Aku akan menerima review dan concrit dengan pelukan hangat :3 Maaf kalau kebanyakan curcol… *kabur*