Unsincere 16thby Miss Painter
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family, Angst, Romance
Pairing : little SasoSaku, SasuSaku, and SasoShion
Rate: T
Summary: Sejak terlahir di dunia, aku dan dia dibesarkan oleh harta. Merasakan derita dan sakit yang sama tanpa kasih sayang orang terkasih. Selalu bersama walau hanya tersenyum dan saling menatap. Saling menyayangi walau hanya bisa memberikan hadiah konyol. Sampai ketika, aku dan dia dihadapkan oleh tradisi yang akan melepaskan gandengan tangan kami. Tidak rela…itulah yang aku dan dia rasakan. Tapi baru ku sadari akulah yang melepas tautan itu.
(Sakura Haruno)
AN: Hasil ketidak-sengajaan membajak buku+pulpen temen (haha…peace, Len! XD) terciptalah fic ini. Sebenarnya aku sudah membuang banyak fic di NB-ku gegara macet di tengah alasan kehilangan feel sama males. Ah, dari pada nggak bikin-bikin, aku nekat aja milih yang ini.
Fic perdana. Maaf kalau aneh dan jelek. Aku masih belajar.
Warning: OOC, Aneh, GaJe, Feel-less,Typo (maybe), POV acak-acakan, dan ke-amburadul-an yang lain.
Relax, and HAVE NICE READING!
.
.
Mungkin jika kau mengenalku, kalian akan berpendapat bahwa aku adalah gadis tunggal keluarga Haruno. Memang begitulah kenyataannya. Tapi itu belum berlaku beberapa tahun lalu. Ketika hariku belum dipenuhi rundungan penyesalan, air mata, dan kerinduan. Masih terpeta dengan jelas sesak itu.
Sekarangpun aku belum bisa melupakan klise-klise yang selalu berputar di memoriku sampai membuat kepalaku sakit. Sampai sekarangpun juga, aku belum terbiasa tanpa sosok itu yang selalu tersenyum segaris saat aku memergokinya tengah memasak pasta di dapur setiap pagi. Ya…dialah saudaraku, serupa denganku tanpa harus berkaca di cermin. Hanya dibedakan oleh warna surai dan iris matanya yang identik dengan milik ayah.
Kami seorang kembar.
Dari aku dan dia dilahirkan, kami selalu ada satu sama lain melewati hari-hari yang sepi di mansion besar namun suram ini. Tanpa kawan kecuali sederetan pelayan berpakaian rapi yang setiap pagi selalu ribut mengurusku dan dia. Hidup kami memang bak seorang bangsawan yang tinggal berdiam diri duduk di kursi, sedangkan mata memandang langkah tergesa para pelayan yang mondar-mandir. Tapi, yakinlah. Bila kau membayangkan hidupku bahagia dengan semua ini, maka jawabannya "Salah Besar!"
Dengan bagini, aku tersiksa. Dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua. Miris sangat, bagiku. Bagitu pula yang dirasakannya. Sakit yang sama juga ditanggung oleh saudaraku. Meskipun mereka berkunjung beberapa tahun sekali, namun itu tak mengurangi sakit akan kenyataan yang harus aku dan dia jalani.
Diam-diam setiap fajar, saat para pelayan belum bersiap, laki-laki yang hanya selisih dua menit denganku itu menyusup ke dapur untuk memasak pasta. Dan aku tak perlu terkejut saat pertama kali membuka mata dari mimpi, sudah tergeletak sepiring untaian tepung berlumur saus itu di meja kamarku. Tanpa aku tebak pun, aku sudah tahu si empu spaghetti itu.
Orang yang selalu mengirimiku pasta sejak tiga tahun lalu, ketika dia untuk pertama kalinya berhasil berjuang di dapur hasil berlatih dengan nona Ayame.
Aku selalu tersenyum saat tangan lihainya menggoreskan warna di atas kain blaco yang bersih di penyangga. Setiap sore musim gugur, dia selalu melakukannya. Kamarnya yang pantas disamakan dengan aula penyimpanan champagne anggur bawah tanah sudah terpenuhi oleh deretan karya hasil tangan ahlinya.
Dan serasa ada yang menggelitiki pipiku sampai mengeluarkan senyum lebar saat aku teringat musim semi lalu. Sebuah benda berukuran lumayan besar terbungkus karton rapi tersender di depan kamarku dengan sepucuk memo disudut bingkainya yang bertuliskan, "We growing and holding hands together until forever". Dan benda persegi panjang itu adalah kanvas yang kuyakini hasil goresan tangannya.
Kanvas itu memperlihatkan sesosok perempuan yang sedang memandang pemandangan di luar. Sebelah tangannya bertumpu pada kusen jendela sebagai penyangga wajahnya yang berhiaskan mahkota merah kecokelatan tertimpa sinar senja yang redup. Helaian-helaian rambutnya terjatuh begitu elok sampai batas tulang belikatnya. Sungguh mengagumkan.
Butuh menghabiskan waktu sepanjang sore bagiku untuk menyadari objek itu. Pemikiran panjangku berakhir dengan belalakan sepasang mata saat aku kusadari, Itu adalah….aku? sangat teramat mirip.
Aku merasa malu sendiri teringat balasanku untuknya. Apa yang kuberikan padanya? Ah, sangat jauh dibanding masterpiece itu.
Aku sangat malu saat dia tertawa kecil setelah membuka kotak persegi yang aku berikan padanya. "Daun maple?"
Mendengar pertanyaannya yang terdengar seperti menggoda itu, ku tekuk mukaku. "Jangan protes! Hanya itu yang bisa aku berikan. Kalau tidak mau, buang saja."
Sekali lagi dia tertawa kecil. "Baiklah…" lalu tangannya mengambil botol yang berisi sebuah bola salju dari dalam kotak. "Tapi, kenapa kau memberiku ini?"
Aku tersenyum, sekilas mataku melirik wajahnya sebelum aku tundukkan kepalaku. Menyembunyikan buratan merah muda di pipiku. "I-itu…err.."
"Hm?"
"Ano…um…"
"Apa?"
Aku meliriknya sebal karena terus didesak. Kendatipun mungkin pipiku masih merona. "Jangan banyak tanya. Simpan dan jaga baik-baik walaupun salju-nya mencair. Jika tidak, aku tidak akan memaafkanmu!" ucapku berlaga tersinggung – cara yang biasa kulakukan untuk menutupi kesalahtingkahan yang mendadak menyerangku.
Kulempar pandanganku pada kotak yang dipangkunya. "Asal kau tahu saja, daun maple itu aku kumpulkan musim gugur tahun lalu." Lanjutku lebih pelan.
Bisa kulihat dahinya menyernyit, mungkin masih bingung dengan maksudku memberikan hadiah ini. Namun beberapa detik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. "Aku mengerti." Dia melebarkan senyumnya. Bukan. Lebih tepatnya, seringai. "Aku bisa mengerti karena aku belum lupa kalau kau suka melakukan sesuatu dengan alasan konyol."
Aku menimpuk lengannya aku tak melihat wajahnya, aku bisa merasakan tatapannya dari ekor mataku. "Meskipun begitu, aku tahu. Kau memilih daun maple dan salju karena kau yakin aku bisa menebak alasanmu."
Aku mendongak menatapnya, tidak membuat kata meng'iya'kan atau sebalikya. Hanya dengan seulas senyum, sudah cukup baginya untuk tahu jawabanku. Ya…itu benar. Ada arti tersendiri yang membuatku memilih kedua benda itu. Dan kukira, mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin dia akan tahu artinya nanti.
Meskipun kita tinggal seatap, kami jarang sekali bertemu. Aku dan dia selalu mengurung diri dengan kegiatan masing-masing sejak beberapa bulan lalu – dimana bunga-bunga di pekarangan rumah bermekaran sekaligus menambah umur kami menjadi setahun lebih tua.
16…entah mengapa angka itu sangat kuhindari.
16 tahun, angka yang dianggap mapan menurut tradisi kebanyakan. Dimana saat seseorang diharuskan mempunyai calon pendamping hidupnya kelak. Itu memang prinsip kuno, tapi keluarga Haruno adalah salah satu penjunjung tinggi prinsip itu.
16 tahun…angka seharusnya dimana remaja kebanyakan masih menikmati kebebasan dan bersenang-senang. Melalui masa-masa bebas melakukan hal yang mereka mau, berkumpul dengan teman-teman sebaya, bahkan melakukan hal-hal gila dan konyol yang tak mungkin bisa dilakukan saat tua nanti. Ah, terkadang aku iri pada teman-temanku yang lain. Aku masih ingat Ino berkata menyemangatiku, "Jangan sedih begitu. Pikirkanlah bahwa Tuhan itu menciptakan skenario kehidupan setiap orang dengan kebahagiaan yang disusun random masing-masing."
Meskipun aku tak menjawabnya, mataku terpancang pada mata aqua miliknya agak lama. Kegiatanku mengelap keringat yang mengucur di sekitar leherku setelah basket beberapa saat lalu, terhenti. "Skenario hidupku tak bisa disamakan denganmu. Jadi prinsipmu juga belum tentu tepat untukku, Ino." Aku menghela napas.
Gadis pirang itu diam sejenak sebelum tersenyum lembut. "Kau percaya kalau Tuhan itu adil?" ujarnya sambil menepuk sebelah bahuku dengan sikap sabar.
Tentu saja Tuhan itu adil. Aku melepaskan tangannya, "Tentu saja, tapi…"
"Tapi?"
Aku menghela napas lagi sembari mengselonjorkan kakiku yang masih terasa letih di bawah pohon akasia di pinggir lapangan. "Kau tahu, aku iri padamu, Ino." kataku pelan, tapi kurasa Ino cukup mendengarnya. "Andai aku tidak dilahirkan sebagai Haruno, aku tak perlu cemas kehilangan kesempatanku menjadi remaja normal."
Ino mengibaskan tangannya, lalu menimpuk kepalaku main-main. "Ya ampun…" dia mendesah dramatis – kebiasaannya. "Kau iri padaku? Kau pasti bercanda. Seharusnya aku yang iri padamu, Nona Haruno." bantahnya dengan penekanan saat mengatakan Nona Haruno. "Kau punya segalanya – maksudku, apa sih, yang kurang? Semuanya bisa kau dapatkan. Sekolah terjamin, pelayanan terjamin, apapun – "
"Ino, kau tahu itu semua bukan yang aku mau." Selaku malas.
Ino kembali terdiam. Hening menyusup sedangkan pikiran kami bermain walaupun tidak ada hubungannya dengan pertandingan basket three by three kakak-kakak senior yang menjadi sasaran mata kami.
Aku tahu, Tuhan itu perlakuan dunia dan Tuhan begitu berbeda. Katakanlah jika manusia begitu memikirkan – benar-benar memperhitungkan seberapa akurat adil yang diterimanya, aku sangat yakin manusia itu akan protes sekeras-kerasnya setelah itu. Kau tahu? Dunia itu sampai kapanpun tak pernah adil.
Memang benar, adil masih berlaku di dunia. Tapi, apakah itu keadilan yang sesungguhnya? Kenyataannya TIDAK. Keadilan bagi dunia adalah kategori seimbang menurut paham yang dianut sebagian besar manusia. Karena aku manusia, aku tahu semua orang tercipta dilengkapi dengan ego. Merasa yang paling adil saat dirinya berposisi di atas.
Dalam sebuah perkara tentu saja ada yang kalah dan menang. Boleh saja Sang Pemenang berada di atas awan, tapi apakah yang kalah bisa menerima sepenuhnya? Jika Sang Kalah terus menuntut atas hak-nya, pihak ketiga pasti akan berujar, "Ucapkan selamat tinggal pada dunia, dan mintalah Tuhan untuk meminjamkan timbangan-Nya." Dengan kata lain, akhirat adalah tempat yang dinantikan keadilannya itu.
Sama denganku, yang bagaikan Sang Kalah disini. Terpaksa mengalah pada jalan yang telah digariskan untukku. Aku ingin sekali lari dari takdir. Namun 'bisa-atau-tidak', itulah yang membuatku benar-benar menyerah.
"Setidaknya kau tidak sendirian melaluinya, 'kan?"
Aku menoleh bingung pada Ino yang tengah menyunggingkan senyum tipis. "Hah?"
Dagunya teranjuk kedepan, membuatku ikut memutar pandanganku kearah yang dia tunjuk. Dan mataku langsung tahu apa atau lebih tepatnya siapa yang Ino maksud, seorang siswa berambut merah yang sedang melambaikan tangannya kearahku. Tentu saja aku sangat mengenalnya.
"Satu lagi yang membuatku seharusnya iri padamu." Lanjut Ino membuatku berpaling. "Kau punya saudara yang selalu bersamamu, melindungimu, ada untukmu, dan merasakan sakit yang sama denganmu." Gadis pirang jangkung itu beranjak. Lagi lagi dia menepuk bahuku, "Ikuti saja alur skenario hidupmu. Mungkin kau akan menemukan kejutan yang tidak pernah terduga sebelumnya."
'Yang tidak pernah terduga sebelumnya'? Aku tidak mengerti.
Belum sempat kutanyakan, dia sudah terburu berlari ke sudut lapangan untuk mengambil bola basket miliknya disana.
"Aku duluan, ya!" rekan basket sekaligus teman terdekatku itu melambaikan tangannya sekilas padaku lalu berjalan ke gedung seberang lewat pinggir lapangan. Dia menyempatkan untuk menyoraki kak Sai yang sedang mendrible bola, sepertinya bersiap mengambil ancang-ancang shooting. Ah, aku belum lupa kalau dia naksir pada cowok kelas tiga bertubuh jangkung itu.
Aku merasakan hatiku tercenung. Naksir? Yang sering aku dengar, hal itu 'wajib' terjadi pada setiap remaja sepertiku.
Perasaan menyukai lawan jenis karena ketertarikan individual. Tapi, aku belum pernah merasakannya. Ah, bagaimana mau merasakannya, jika rasanya saja aku tidak tahu. Aku juga belum lupa Ino pernah bertanya padaku, apakah aku sudah menyukai seseorang. Dan setelah aku menjawabnya, aku harus menerima ejekan main-main darinya dengan sebutan 'Tidak normal'. Memangnya naksir itu tolok ukur utama menjadi remaja normal?
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" suara itu seketika membuyarkan pemikiranku saat itu. Cepat-cepat aku mendongak, dan mendapati cowok berambut merah hendak mengambil duduk di sebelahku.
Aku membalasnya canggung, "Bu-bukan masalah besar, kok." buru-buru aku mengambil bola basketku. "Sebaiknya kita pulang sekarang."
Dia mengangguk, lalu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya. "Ada apa?"
Seakan tahu maksudnya, aku menghampirinya dan kami berjalan berendengan. Aku tidak langsung menjelaskan. Pikiranku masih menimbang-nimbang sebelum aku berucap canggung. "Apa kau sudah pernah…err… naksir? Ma-maksudku itu…"
Dia menyelaku dengan tawa kecil sambil melirikku geli. "Kenapa mukamu memerah begitu?" aku menatapnya sebal sementara dia berdeham. Seharusnya aku sudah mengantisipasi ini, menyesal sudah aku bertanya padanya.
"Well, nope." Jawabnya singkat tanpa menatapku.
Dahiku menyernyit heran. Sedikit sangsi mengingat mataku masih normal untuk melihat sederetan gadis-gadis yang selalu terkikik dan terkadang memerah wajahnya walau hanya melihatnya berlalu tanpa ambil peduli begitu saja – maksudku, apa dari sekian banyak mereka tidak adakah yang mengalihkan mata cowok ini? "Belum pernah?"
Senyum kecil tergambar di bibirnya – ah, bukan. Itu seringai – seperti yang sering dikeluarkannya. "Pengecualian pada dirimu." Katanya melirikku.
Butuh beberapa detik, Aku tertawa sampai terguncang dan refleks memukul punggungnya main-main dengan sebelah tanganku yang bebas bola basket. "Jadi kau naksir pada saudarimu sendiri, eh? Hei, aku serius!"
Aku ikut menghentikan langkahku karena dia juga berhenti. Mata hazelnya yang mirip dengan milik ayah menatapku dalam-dalam. Dia agak menunduk, mengsejajarkan tatapannya padaku karena aku lebih pendek beberapa senti darinya. Tawaku juga terhenti, merasa merinding melihat raut wajahnya.
"Aku serius." Ujarnya mantap.
Belum sempat aku mencerna pengakuannya. Aku masih terlalu terkejut karena tidak menemukan kebohongan dimatanya. Oh tidak….apa yang dimaksudkannya?
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Buru-buru aku merendenginya yang sudah lebih jauh beberapa meter didepanku. "A-apa?"
"Aku tidak rela menyukai orang lain." Katanya seakan mengerti kekurangpahamanku. "Cukup hanya kau saja maka kita akan selalu bersama." Kali ini dia menatapku dan menyodorkan kelingkingnya di depan hidungku yang masih cengo.
"We growing and holding hands together until forever, remember?"
Eh?
Sedetik kemudian aku tersenyum. Ah, aku mengerti sekarang. Bukan cinta itu, melainkan yang lain. Meskipun aku belum yakin apakah perasaanku sama dengannya. Tapi ada yang lebih menggelitik, ternyata dia masih memberlakukan janji masa kecil, ya? Aku ingin tertawa. Namun begitu, aku tetap menyambut kelingkingnya.
Saat itu aku merasa telah mendapat jawabannya. Sebenarnya aku sudah merasakan bagaimana menyayangi lawan jenis bahkan sejak dari aku belum mengenal berbicara. Seseorang yang kusayangi itu, dialah saudaraku. Cukup dengannya saja.
Rasa ini sangat berbeda dari sebuah perasaan suka antar remaja – yang menurut Ino adalah bentuk sebuah kenormalan. Ini adalah sebuah rasa suka yang terbentuk karena eratnya tali persaudaraan. Sampai-sampai tidak merelakan tempat untuk orang lain.
Mungkin saat itu aku dan dia masih bisa berjanji akan selalu bersama. Tapi semakin menipis saja untuk terealisasikan ketika aku disadarkan dimana gambaran bunga warna-warni bersemi beberapa bulan setelah itu.
Itulah yang aku benci….dimana saat mulai putaran bulan Maret itu akan menghapus janji kami. Dan itu karena tradisi konyol Haruno.
Mapan, katanya? Kukira kata itu bukan pada tempatnya bila di tujukan pada siswi sekolah menegah atas sepertiku. Mungkinkah mimpi burukku akan segera datang? Ah, bukan hanya aku. Dia juga.
.
Saat para lucianthus bermekaran di pekarangan luas Haruno sore itu, ayah dan ibu datang setelah lima tahun terakhir tidak menginjakkan kaki di tempat 'penitipan' mereka. Tempat mereka membiarkanku dan saudaraku tumbuh dan dibesarkan tanpa kasih sayang yang seharusnya dicurahkan. Dan mereka sangat bahagia begitu melihat sepasang anaknya telah dewasa.
Kedatangan ayah dan ibu memang telah lama kami dambakan. Saat-saat bisa merasakan pelukan hangat dan suasana penuh keharmonisan yang sangat jarang didapat oleh anak sepertiku dan saudaraku. Namun, tak bisa kubohongi, aku merasa seperti ada yang mencubit hatiku ketika pikiranku mulai bermain. Apakah mereka pulang hanya untuk membawa seseorang untukku dan untuknya?
Perasaan itu selalu saja kutepis, tetapi seakan runtuh harapanku menyadari dugaanku benar. Aku dan dia akan berpisah. Masih kuingat saat makan malam dengan meja panjang terisi penuh waktu itu, mata hazelnya yang semula memancar bahagia saat memberikan senyum pada orang tua kami, sedikit meluntur saat bersirobok dengan zamrud milikku. Meskipun tetap tersenyum, aku tahu, dia sedang tersenyum miris.
Aku dan dia… akan terpisah.
|-|-|U'16th|-|-|
Di dekat perapian ruang perpusatakaan Haruno, aku menyesap teh aroma bunga kamomila milikku berulang kali dalam diam. Sedangkan pria berambut gelap yang duduk berhadapan denganku dari tadi enggan melepaskan pandangannya yang tanpa sadar membuatku risih.
Ah, aku sungguh merutuki Ibu – entahlah, aku sedikit tidak percaya mengakuinya – yang menyeretku kesini. Sebelum pergi ke Suna menyusul Ayah, Ibu memerintahkan banyak pelayan bersiaga di depan pintu ganda perpustakaan. Sedangkan tiga lainnya berdiri bak patung bernapas di samping sofa yang aku dan err… orang ini duduki.
Suasana yang sudah canggung di awal, bertambah kadarnya sejalan dengan keheningan yang kami ciptakan karena ego. Sesekali aku meliriknya, menilik gesturnya seraya berharap akan menemukan pose selain wajah datar, bibir tertutup rapat, sebelah kaki terongkang pada kaki satunya, dan melipat tangannya di depan dada yang terkesan angkuh. Akh, aku mulai sebal dengan ini.
"Minumlah sebelum dingin." ucapku menahan nada ketus di dalamnya, namun tak berhasil. Aku meletakkan cangkirku ke meja lalu seorang pelayan menuangkan teh dari cerek tembaga yang sejak tadi setia ditentengnya.
Kudengar dia mendengus, lalu mengubah posisi kakinya. "Satu jam, tiga puluh empat menit. Apa perlu aku sebutkan detiknya?" Ucapnya datar seraya menilik rolex di pergelangan tangannya. "Cukup membuat teh mendingin." Lanjutnya melihat ketidakpahaman padaku dengan seringai yang hampir tak terlihat kalau saja peneragan – dari jendela yang sengaja dibuka lebar – disini tidak cukup baik. Aku sedikit terpaku melihat seringai itu. Mirip sekali, hanya saja ini lebih dingin. Mengingatkanku pada seseorang.
Aku beranjak menuju deretan rak tinggi yang berisikan ratusan buku koleksi ayah. "Setidaknya lebih baik daripada kau diam dan menatapku." Aku tak menganggap ucapannya barusan.
Tak lama, bisa aku dengar langkah kaki mendekat dan ketika aku menoleh kesamping, laki-laki seumuranku itu telah berdiri disana. Wajahnya yang beberapa detik lalu tampak datar, berubah menampilkan seringai lagi. "Ternyata asumsi ramah yang aku dengar tidak terbukti padamu."
Mendengarnya, gerakanku yang hendak mengambil sebuah buku pun terhenti. Aku meliriknya tajam. "Kau asing dan aku belum mengenalmu." Ujarku sarkastik. Entah mengapa, dari pertama aku bertemu dengan Uchiha satu ini, ada hawa tak mengenakkan yang membuatku terdorong untuk berlaku ketus di hadapannya.
"Untuk itu, bibi Haruno mengundangku kemari." Katanya datar sambil mengsandarkan punggungnya pada rak buku. Seketika itu aku berbalik sempurna menghadap padanya. Ibu?
"Jadi ibuku yang menyuruhmu kemari?" tanyaku sedikit berisik.
"Kau kira?"
Aku memandangnya dengan mata yang perlahan melebar seiring pemikiranku yang menerka. Jangan-jangan…
"Ja-jadi…kau – "
"Hn." Selanya seakan mengerti hal apa yang kumaksudkan. Dia menoleh padaku dengan mata hitamnya yang tajam. Lalu balik bertanya sedikit heran. "Kau tidak tahu sebelumnya?"
Aku hanya menggeleng lalu merosot terduduk di lantai kayu berpelitur perpustakaan. "Ternyata terjadi juga…" gumamku lirih pada diriku sendiri.
Kukira dia tak mendengar karena kelewat pelan suaraku. Beberapa saat yang cukup lama, Uchiha ikut duduk disebelahku lalu mengselonjorkan kakinya yang panjang.
"Kau ingin menghindarinya?" tanpa kuduga ia bertanya padaku. Lebih mirip pernyataan dari pada pertanyaan, tanpa melirikku.
Kuhela napas, "Aku memiliki hidup sendiri dan aku juga punya hak untuk memilih masa depanku. Ya, jika aku bisa." Jawabku sambil mengangkat bahu. Kali itu pertama kali aku tidak berkata ketus padanya. "Kau?"
Aku masih menunggu jawabannya walau sudah terbuang tiga menit yang terasa lama karena hening, sepertinya dia begitu memikirkannya. "Sama."
"Apakah keluarga Uchiha juga menganggap angka enam belas?" tanyaku lagi, masih menatap lurus ke depan.
"Hn." gumamnya seraya memutar pandang ke jendela besar yang menampakkan langit biru yang bersih tanpa segumpal awan dan di bingkai dengan tumbuhan ivy berbunga yang menjalar di tepi kusen.
Ikut memandang ke jendela, aku berkata. "Yeah, aku juga." Aku menjeda dengan helaan napas. "Sepertinya aku tidak begitu menerima skenario yang di takdirkan untukku." Lanjutku disusul tawa kaku yang terdengar hambar terlontar dari bibirku. Tak lama, karena mungkin hanya dua detik saja.
"Hn." Dia beranjak menuju jendela, menatap panorama taman luas yang tersaji di luar, dan memunggungiku.
"Aku… harus terpisah dengannya." gumamku tanpa sadar. Saat menyinggung tentang skenario yang pernah dibicarakan Ino beberapa bulan lalu, pikiranku langsung tersambung pada saudaraku.
Ternyata dia lagi-lagi mendengar gumaman pelanku. Padahal jarak kami terpaut sekiranya tiga meter. "Dengannya?" dia memberi jeda, sementara angin dari halaman menggoyangkan ujung anakan rambut hitamnya.
"Kembaranmu, eh?"
Aku memberi tanggapan tidak lebih dari sebuah gumaman tak berarti. Mataku sudah beralih menatap hampa kakiku yang terjulur. Menyinggung itu lagi, sudah cukup memberi efek pening pada kepalaku.
Kelebatan bayangan yang memperlihatkan saudaraku yang tersenyum tipis padaku kemarin sore sebelum terbang ke Suna, membuat presepsi macam-macam bagiku. Padahal tujuannya pergi hanya karena ayah memintanya untuk menghadiri peresmian resort milik keluarga Nara – salah satu relasi perusahaan keluarga Haruno – disana.
Belum cukup dengan kepeningan ini, tiba-tiba perkataan Uchiha yang aku dengar selanjutnya membuatku benar-benar terkulai lemas.
"Gadis pirang itu…sepertinya serasi dengan Sasori."
Sakit. Aku tahu, aku memang sadar dari awal, tanpa kutunggu ataupun tidak, ini akan cepat terjadi seiring rotasi waktu yang tidak pernah mungkin berhenti. Jika orang lain yang melakukan pengharapan sepertiku, sepertinya mereka akan mengumpat 'bodoh' pada dirinya sendiri.
Itukah tujuanmu sebenarnya, kak?
Wajahku tidak terlalu menggambarkan sebuah emosi. Tapi dalam hati, aku sudah terlebih dahulu menangis yang bahkan bisa kudengar sendiri suara pilu itu bergaung di kepalaku. Terlihat seperti boneka hidup, memang. Namun hatiku sangat cukup manusiawi untuk merasakan sesak ini. Seiring dengan waktu yang bagiku serasa berhenti, sebuah lelehan meluncur membasahi sisi pipiku yang terasa benar-benar kaku.
Kenyataan ini….begitu menyakitkan.
Waktu yang kurasakan hampa disekelilingku, tiba-tiba kembali dengan datangnya kehangatan yang membuatku berjenggit. Mataku melirik sepasang lengan yang memeluk sekitar leherku. Baru aku sadari itu milik Uchiha yang entah kapan sudah berada di hadapanku.
"Jangan…menangis." Ucapnya pelan, namun terasa jelas karena bisikan itu tepat mengarah ke telinga kananku. Namun begitu aku masih tetap bergeming. Hanya isakan kecil yang berbicara.
Bisa aku rasakan pelukannya mengerat. "Tentang kau dan Sasori, aku paham."
Ini terlalu sakit, menyiksa, dan – aku tidak bisa menggambarkannya karena setelah itu aku memutuskan untuk melepas sesak ini dengan membalas pelukannya begitu erat. Anakan sungai bertambah deras. Saat itu aku berhenti berpura-pura kuat. Juga melepas kepiluan berat dalam tangis tertahan. Aku benar-benar menangis di bahunya.
Jika saja waktu itu aku tidak terlalu kalut, mengingat dia orang yang masih asing bagiku. Aku sangat malu sekali.
"Tidak." Ucapku parau disela tangis. Tanpa sadar meremas kemejanya. "Kau tidak paham. Kau tidak pernah mengerti kepelikan ini." Lanjutku lebih pelan dibanding sebelumnya yang kentara kemarahan tersirat didalamnya. Entah apa alasan aku merasa marah.
"Kau…tidak mengerti, Sasuke…"
Dia hanya diam saja. Namun bisa aku rasakan dengan pasti, sebentuk perhatian dilakukannya padaku.
Dia, Sasuke Uchiha. Sejak saat itu berangsur aku mengetahui sudut pandang terhadap lelaki seiring dengan kerapnya dia di sampingku, dan jauhnya Sasori dari sisiku. Kelingking yang beberapa bulan bertaut erat, kini terlepas. Entah aku atau Sasori yang melepaskannya.
Ketika itu, pertama kalinya aku merasakan terikat pada pria selain kakakku. Dan keterikatan itu berbeda dengan rasaku pada Sasori.
.
.
Next, chapter 2
