Unsincere 16thby Miss Painter
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Chapter 2
FLASHBACK
"Sashi!"
Kuhentikan langkahku, menoleh menuruti suara yang setengah berteriak itu. Mataku langsung terpatri pada seorang gadis bergaun chiffon mustart selutut diantara lalu-lalang orang yang kebanyakan membawa koper. Sebenarnya sudah bisa aku tebak 'siapa itu' hanya dengan sebutan yang dipakainya tadi. Siapa lagi kalau bukan dia?
Dia berlari mendekat ketika tahu aku meresponnya. Aku tersenyum lembut saat dia, dengan napas terengah sambil memegangi lutut di hadapanku. "Ada apa lagi?"
Dia menegakkan badan, membuat surai merah jambunya merosot di punggungya. Matanya yang identik dengan ibu menatapku tajam. Lama kelamaan dahi dan alisnya mengerut bersamaan dengan tangannya yang menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang bercorak garis. Agak sedikit kasar cara dia memberikannya. Ah, dia ngambek.
Meskipun sedikit terkejut, aku tetap menerimanya.
"Sudah kubilang, jaga benda ini!" ujarnya kesal sambil memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangan di depan dada. Sebisa mungkin aku tahan untuk terkekeh melihat pipinya menggembung lucu. Sehingga aku hanya tersenyum tipis. Tanganku terangkat untuk mengusap puncak kepalanya.
"Maaf. Aku benar-benar lupa." Dia menurunkan tanganku dari kepalanya. Beralih menatapku kembali dengan ekspresi yang masih sama. Kali itu aku tidak bisa menahan tawa kecilku lagi. Bisa aku dengar dia menggerutu.
Tak cukup lama kami dalam keadaan seperti itu. Karena setelahnya terdengar pemberitahuan dari speker di seluruh penjuru stasiun bahwa kereta dengan tujuan Suna yang akan aku naiki segera berangkat.
"Kalau begitu," aku meraih koper tarik miliku. "Jaga dirimu." Gumamku sambil tersenyum. Tapi senyumku itu masih belum cukup untuk mengubah raut wajahnya. Malah ekspresinya bertambah sendu saja.
Dan tepat saat aku hendak berbalik, secepat kilat dia menarik lenganku dan mencium sekilas pipi kananku. Tentu saja aku terkejut. Mataku terbelalak dengan mulut sedikit terbuka tanpa sadar. Dan dia dengan tanpa dosanya memberikan senyum tipis saat aku menatapnya tidak percaya.
Meskipun dia adalah adikku sendiri, rasa malu tetap tidak bisa tertolerir. Sangat mungkin jika pipiku merona ditambah lagi bisa aku dengar kikikan para gadis yang lewat ataupun makian orang tua yang menganggap barusan adalah tindakan yang tidak sopan.
"Hanya untuk perpisahan." Jelasnya seakan mengerti apa yang akan aku tayakan selanjutnya.
Aku menghirup napas cepat, mengembalikan diriku lagi. Dengan gemas, aku cubit hidung mancungnya sedangkan dia hanya mengaduh, membuatku menyeringai. "Dasar, adik nakal."
Antara kesal dan sedih, dia memukul bahuku main-main.
Aku menarik koperku, dan berjalan memunggunginya. Sangat ingin aku menoleh kembali, tapi seperti ada beban berat yang membuatku tak kuasa melakukannya. Teringat tujuanku ke Suna ini, aku sangat merasa bersalah pada adikku karena dia tidak tahu kebenarannya. Tapi ini mungkin saja yang terakhir, kata hatiku berbisik.
Langkahku terhenti untuk yang ketiga kalinya. Kali itu aku menuruti bisikan hatiku dengan menoleh padanya. Ternyata dia masih belum bergerak dari tempatnya.
Sosoknya tampak anggun bersinar di mataku. Rambut panjangnya yang sore itu tergerai, melambai luwes tertiup angin. Dia sedang melambai kearahku, dan aku membalasnya.
Tapi terasa seakan di cubit saja aku melihatnya, hatiku mencelos. Gadis itu menangis. Bertambah saja rasa ketidak-rela-anku untuk melepaskannya.
Sakura…
Sakura…
Sakura…
Cukup untuk kebersamaan kita selama ini.
Jahat-kah? Ya. Dan itu melukaimu, juga…aku. Tapi aku sudah putuskan untuk mencintai gadisku sendiri dan merelakanmu. Tidak mungkin selamanya aku terus bersamamu. Cepat atau lambat, aku dan kau punya kehidupan sendiri.
"Sudah kubilang, jaga benda ini!" tiba-tiba suaranya sore itu terdegar lagi dari dalam benakku.
Ya, Sakura. Aku sedang menjaganya. Selalu, dan tidak akan pernah aku lepas. Begitu 'kan, maumu?
Sepenting itukah benda ini sampai kau membiarkanya aku bawa pergi walau hanya dua minggu? Ah, coret kata 'dua minggu' karena itulah yang diketahuinya. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan aku akan menetap disini.
Seumur hidup, mungkin?
Aku menatap sendu keluar jendela dengan sebelah tangan menyangga dagu. Entah sudah berapa lama karena kini terasa kebas. Secangkir cokelat panas – yang mungkin saja sudah mendingin – tergeletak diam belum tersentuh samasekali. Hanya sesekali mataku beralih pada dua macam benda yang ada di dalam kotak di atas meja dengan tutup terbuka separuh. Aku masih terlalu sibuk bergelut dengan bayangan di kepalaku. Bisa aku rasakan beberapa kali pandangan orang menatapku aneh. Seakan hal yang tersaji di luar adalah pemandangan yang paling menarik di dunia.
Tertangkap oleh hazel milikku, daun maple membuat jalan paving di trotoar terkena hujan dedaunan kering karenanya. Membaur menutup lapisan tanah, tertiup angin.
Aku jadi ingat. Hei, Saku. Apa kau sedang mengumpulkan daun maple di taman belakang dan menjadikannya pembatas buku?
Aku tersenyum tipis. Jika iya, kau masih tetap adikku yang konyol.
Semua orang yang berlalu lalang tampak mengenakan pakaian tebal dan pastinya hangat. Banyak juga yang sekedar membawa sebuah gelas karton yang menguarkan uap dari dalamnya sambil tertawa bersama pasangan. Tampaknya banyak orang yang memanfaatkan musim gugur ini untuk berkencan.
Kencan. Lagi-lagi aku teringat adikku.
Aku tidak pernah melakukannya satu kalipun. Itu memang benar jika jalan-jalan ke festival cosplay dan kabur ke ladang bunga di desa bersama Sakura tidak terhitung sebagai kencan. Aku belum pernah merasakan yang sebenarnya. Tapi bagiku, itu sudah sangat cukup. Hanya dengannya saja, aku sangat bahagia.
Teringat lagi ekspresinya yang beragam. Aku selalu saja tertawa sendiri saat mengingat raut wajahnya yang di gambarkan dengan dahi berkerut dan pipinya yang di gembungkan. Lucu sekali. Aku tersenyum tanpa alasan saat teringat senyumnya yang manis dengan mata yang berbinar. Belum lagi tawanya, marahnya, tingkahnya yang bagiku selalu konyol, candanya, cara tersipunya, dan….tangisnya.
Aku…sangat merindukanmu, adikku sayang.
Ingin sekali aku yang akan selalu mengusap air matanya. Kau tahu? Jika saja aku tidak seperti ini, sore itu pasti aku akan berbalik berlari lalu mendekapnya erat-erat. Tapi, mustahil terealisasikan untuk sekarang. Atau mungkin juga kali itulah terakhir kali aku melihat air matanya dengan mataku.
Ah, masih ada satu kali aku melihatnya. Nanti, dari atas sana, akan kulihat air matanya kembali. Dan bisa kau tebak siapa yang akan menggantikanku untuk melakukan apa yang aku inginkan? Siapapun, dan aku berharap orang itu adalah Sasuke.
Dengan adanya sosok Uchiha itu di samping Sakura dan perginya aku ke sini, aku selalu membanyangkan mereka berdua saling membagi kehangatan saat bersama. Bukan tidak mungkin jika Sakura perlahan mengenal 'naksir' yang sering dia keluh-kesahkan padaku. Mungkin dia sudah merasakannya. Dan semakin dia melupakan tautan kelingking dan janji kecil kami, aku akan merasa lega. Walau miris selalu siap menyerangku. Lega dalam arti aku bisa pergi tanpa kehampaan hati dari adikku.
Dan sepertinya sudah cukup terasa dengan tidak adanya dering ponselku sebagai tanda dia mempedulikanku satu bulan terakhir. Aku memang masih mengaktifkan nomorku. Hanya saja aku biarkan sampai dia menyerah untuk peduli padaku.
Aku sungguh merutuki diriku yang lemah seperti ini. Beberapa kali hampir aku menangis hanya karena melihat kotak bercorak garis yang ada di hadapanku saat ini. Bukan karena aku teringat dia lagi. Melainkan aku belum menemukan arti dari dua macam benda yang selalu ada di dalamnya. Dengan sisa waktu yang kutahu tak lama lagi, aku ragu untuk menemukannya.
Saku, kenapa terasa begitu sulit?
"Apa kau sudah pernah…err… naksir?"
"Well, nope – Pengecualian pada dirimu."
"…hei, aku serius!"
"Aku serius."
"We growing and holding hands together until forever…"
"…kenapa kau memberiku ini?"
"…simpan dan jaga baik-baik walaupun saljunya mencair. Jika tidak, aku tidak akan memaafkanmu!"
"…aku belum lupa kalau kau suka melakukan sesuatu dengan alasan konyol."
"…kau memilih daun maple dan salju karena kau yakin aku bisa menebak alasanmu."
Sampai mati aku tidak bisa…
"…Melupakannya."
Aku sedikit -tiba semuanya gelap. Ada sesuatu yang menutupi pandanganku bersamaan dengan kehangatan yang serasa melilit leherku. Dan setelah itu, suara yang tidak asing membisik tepat di telinga kananku.
"Guess who?"
Menyadarinya, aku memutar mataku bosan dalam gelap, sebelum menurunkan sepasang telapak tangan yang menutup mataku dengan lesu. "Shion," ucapku tanpa melirik 'si pelaku' itu. Melainkan menunduk untuk melihat sebuah syal krem yang beberapa saat lalu dia lilitkan.
Gadis itu – si pelaku– membungkuk seraya memegangi lututnya di sampingku. Bisa aku rasakan mata ungunya meneliti wajahku lekat. Lalu dia menepuk bahuku dan mengambil duduk berhadapan denganku.
"Kau selalu saja begitu." Katanya seraya menyangga dagunya, masih memancangkan matanya padaku meski aku acuhkan dengan kembali menatap keluar jendela. Dia menarik napas dalam-dalam. "Tetap saja nekat. Setidaknya beritahu aku jika akan bepergian. Kau tahu, aku kabur dari resital untuk mencarimu."
Benar saja, aku jadi tahu alasannya memakai gaun yang harusnya dikenakannya di panggung. Dan kapan lagi dia mau menggelung rambut panjangnya yang selalu tertutup topi pet kalau tidak karena tuntutan penampilan.
Aku tetap tidak menghiraukannya, namun dia juga tidak peduli – kebiasaanya. Itulah yang bisa aku tangkap darinya setelah mengenalnya dari sekolah menengah pertama dua tahun lalu. Saat itu aku ke Suna sebagai siswa pertukaran antara Commemorative Of Konoha's Junior High School dan Bording Junior High School Of Suna selama sebulan. Dan kami saling mengenal sebagai teman kelas.
"Dan apa alasanmu tidak memakai pakaian hangat disaat cuaca dingin begini?"
Aku tersenyum tipis, bukan karena ucapannya. Tetapi karena melihat seorang gadis kecil sedang bergandengan tangan dengan seorang anak laki-laki yang sepertinya adalah kakaknya. Aku memperhatikannya sejak mereka berdua keluar dari toko mainan di seberang jalan. Gadis kecil berkepang prancis itu sepertinya senang sekali saat mengguncang-guncangkan sebuah kotak hadiah yang dibawanya. Sedangkan anak laki-laki di sebelahnya terlihat mencubit hidung si gadis kecil sambil tertawa. Melihatnya saja, rasanya hangat tanpa harus memakai syal ataupun mantel.
"…itu tidak baik untuk kesehatanmu, kau tahu?" itulah ucapan Shion yang benar-benar masuk ke telingaku.
Kudengar Shion menggerung sebal. "Saso–"
"Aku baik-baik saja, Shion." Aku menggulirkan mataku padanya, masih tersenyum tipis. Tapi aku lihat alisnya tambah berkerut.
"Tidak. Kau tidak baik-baik sa– " kataya terputus – terkejut atas tanganku yang tiba-tiba menggenggam tangannya erat dan tersenyum meyakinkan.
Raut wajahnya kembali tenang sementara aku terus menatapnya, dia membalas genggamanku. "Tanganmu terasa dingin." alisnya kembali berkerut. "Aku...mencemaskanmu,"
"Aku tahu."
Dia membalas senyumku. Lesung pipitnya tambah membuatnya sangat manis. Aku pernah menyesalkan. Mengapa senyum itu tidak bisa membuatku berpaling?
"Sebenarnya, apa yang mengganggumu?" tanyanya membuatku sadar dan memalingkan wajah.
Aku berdeham. "Bukan masalah besar." Jawabku datar.
Dia menghela napas bosan, "Aku tahu, menyembunyikan masalah adalah kebiasaanmu." Aku menyeringai saat dia mengatakan itu. "Lalu, apa yang akan kau lupakan?"
Dahiku berkerut tanda tidak mengerti. Mungkin…
"Aku mendengar kau menggumamkannya, tadi." Benar saja.
Mata ungu terangnya menatapku penuh selidik. "Jadi, apa itu?"
Aku hanya diam saja. Masih enggan balik menatapnya dan berlaga tidak mendengar.
"Sasori?"
"Tidak." Kataku tegas. "Harap jangan memaksaku, dear." Lanjutku lebih pelan.
Dari wajahnya, dia kembali terkejut. Aku melirikya, bisa aku lihat dia tengah bersemu. Sekali lagi, itu juga manis.
Cepat-cepat dia berdeham. "Well," Dia mendengus keras. "Kalau begitu, aku bisa menebaknya." Perkataannya itu membuatku tertarik untuk benar-benar melepaskan mataku dari lalu-lalang di luar.
Saat aku menoleh, dia sedang memandangi kotak yang ada di atas meja. Antah bagaimana ekspresinya. Sebagian wajahnya tidak terlalu jelas saat menunduk seperti itu. "Sakura…" katanya lirih.
Entah apa alasannya sampai membuat efek tegang pada bahuku saat dia menyebutkan nama saudariku dengan nada demikian.
"Benar, 'kan?" tanyanya meminta kepastian.
Aku tidak menjawab.
Yeah, Shion memang mengetahuinya. Dari awal kembali ke sini dan dengan 'status' yang berbeda pula, aku telah menceritakan semuanya. Sekilas saja, tentang aku dan Sakura. Karena bagiku waktu kebersamaan kami masih terlalu berharga untuk diumbar. Sekalipun aku dan gadis pirang ini sudah 'terikat'.
Memikirkan ini, aku kembali menyadari. Aku mengulang kesalahan yang sama dalam waktu yang bergilir. Meskipun hubungan ini diluar kuasaku, tetap saja, kesalahan itu sama.
Aku…jahat.
Pada dua gadis sekaligus.
Tapi anehnya, mereka berdua sama-sama konyol.
Shion…mengapa kau mau bertahan denganku padahal kau tahu, ini semua cepat atau lambat akan berakhir? Mengapa kau berbalik meraihku dan menemaniku disini?
Dari awal, aku memang tidak mampu menebakmu.
Kau mau tahu, Apa kesan yang terlintas dalam pikiranku saat awal kali melihatmu di hari pertama aku duduk se-meja denganmu?
Kau hanyalah gadis acuh serampangan yang tidak bisa mengurus diri. Ber-topi pet dengan lagak tak anggun yang suka kabur ke ruang musik pada jam pelajaran terakhir. Padahal kau kesana hanya untuk memainkan piano sepuasmu, 'kan? Aku tidak yakin mendapatkan raut tenang darimu setelah aku utarakan ini.
Kita adalah dua orang berbeda yang tidak pernah bertegur sapa kecuali saat memperebutkan sebuah buku antropologi yang sampai membuat keributan di perpustakaan. Dan berujung dipersatukan pada malam dua bulan lalu, saat kita sama-sama terkejut melihat satu sama lain hadir di peresmian resort keluarga Nara. Kau terlihat begitu histeris ketika kedua orang tua kita mengumumkan hubungan sepihak itu.
Dan malam itu pula, aku merasa 'kau-sebagai-orang-asing' ketika melihatmu dengan penampilan yang jauh berbalik. Menanggalkan topi pet kesayanganmu dengan dalih menjaga kesopanan sebagai salah satu pengisi acara. Kali itu juga, aku tidak menyangka kau adalah gadis piano ulung.
Aku bahkan pernah menganggapmu seorang gadis bodoh yang nekat menyiakan hidup untuk hal yang tidak patut dijalani. Baru aku sadar. Aku bahkan lebih bodoh dari yang kukira setelah merasakan ketulusan yang aku sebut bodoh darimu begitu nyata.
Dan parahnya lagi, ikatan ini tak lebih didasari sebuah alasan bukan-berarti selain takdir-16-tahunku.
Shion mengangkat wajahnya kembali. Bersamaan dengan itu, aku melihat dia tersenyum aneh. Lalu tangannya bergerak membentuk gestur menggeser tutup kotak yang terbuka separuh itu.
Binar senang saat menemukanku tadi, sudah hilang dari wajahnya. Raut sendu itu membuatku tidak nyaman.
"Shion, aku…"
Dengan cepat dia menoleh padaku. "Tidak usah kau pikirkan." Katanya lembut. Entahlah pikiran apa yang dimaksudkannya.
Sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Tapi…sudahlah.
"Hn."
Hening menyesap waktu lima menit yang terasa begitu lama sementara kami tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Hanya suara kesibukan orang-orang yang ada di dalam café dan dentingan yang dimainkan pianist di sudut tidak jauh dari meja kami.
Hm…meskipun aku tidak tahu judulnya, aku bisa memahami simfoni ini.
"Penantian yang tidak pernah bertepi…" gumam Shion seraya menyunggingkan senyum tipis, membuatku melempar pandang padanya.
Hatiku merasa aneh saat melihat senyum itu. Seperti ada rasa perih yang tersirat dalam senyumnya. Tapi entahlah. Aku memang selalu kesulitan untuk menebak isi hatinya. Itulah yang membedakanya dengan Sakura. Dia terlalu pandai menutupi ekspresi.
Sedikit heran juga, aku pikir dia sedang menebak simfoni yang sedang dimainkan pianist itu. Tapi sama sekali berbeda, karena nada yang dimainkan terdengar ringan. Aku pernah mendengarkannya sekali di recital amal tahun lalu.
"Bukankah itu tentang perasaan jatuh cinta?" tanyaku sambil mengerling sekilas grand piano berwarna hitam mengkilap di sudut café.
"Aku tidak bilang sedang menebak lagu ini." Senyum itu dia perlihatkan lagi.
Bertambah heran saja aku, melihatnya tiba-tiba beranjak menuju sudut café dan terlihat berbincang sebentar dengan sang pianist yang baru saja menyelesaikan permainannya. Terlihat pemuda itu mengangguk sebelum Shion duduk menggantikan posisinya.
Sementara itu, pengunjung café mulai memutar duduk mereka menghadap sudut ruangan ini. Tak terkecuali aku. Meskipun tidak melakukan seperti yang dilakukan orang-orang, mataku tidak lepas dari gadis berambut pirang terang itu.
Dia menghirup napas dalam-dalam dan tak lama sebuah rentetan nada mengalun indah dari jari lentiknya yang menekan tuts. Permainanya sangat lihai, membuktikan bahwa dia begitu professional. Tak salah jika dia didaulat sebagai pianist termuda yang sudah memiliki recital sendiri.
I walk again in misery
Tryin' to find your way
Right here, I just guide by my light love
The rainbow lose, cloudy grey comin' there
In my labyrinth heart
The black rose fall down
All is broken, broken…
Amethyst itu membuatku terjatuh dalam ilusi. Setiap kata-katanya, seakan rangkaian mantra yang melumpuhkanku.
Long ago I'm blind with your promise
The sweet sentence glued me
Say "Just you" and I close my eyes to wish that erase a lie
But I know, she is the one
Hurt hit me in reality
And I don't care
Penantian inikah yang di katakannya beberapa saat lalu? Lirik-lirik ini…
Hentikan... apakah kau tak tahu kepalaku ingin meledak?
Where is your heart?
Where is your love?
I wish stay there…
Komentar-komentar memuji mulai terdengar dari pengunjung café. Tapi, bukan itu yang terpenting bagiku karena aku cukup mengenalnya baik. Aku mematung.
Ya, aku yakin. Dan…entah mengapa perasaan takut-cemas menyerangku. Aku belum lupa senyumnya tadi.
Nada penutup dia mainkan sementara para pengunjung mulai heboh memberi applaus. Tapi sepertinya Shion tidak begitu mempedulikan itu. Dia cukup tersenyum sekilas, lalu beranjak berjalan pelan kearahku.
Kecemasanku semakin menjadi-jadi saat mata ungunya menatap lurus padaku. Membuatku tidak berkutik. Bisa aku dengar bisik-bisik beberapa gadis dari meja sebelah. Mungkin sama sepertiku, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Shion selanjutnya.
Dia berhenti tepat di depanku. "Sasori.." ucapnya pelan lalu menghirup napas dalam-dalam. "Itu…spesial untukmu." Lanjutnya sambil tersenyum manis. Tapi senyum manis itu malah membuatku mencelos. Mengapa tidak? Itu artinya kecemasanku selama ini sudah terjawab. Dia…
Aku tidak tahu akan berbuat apa. Diperlakukannya sampai seperti ini, sama saja menambah besar rasa bersalahku. Aku sudah membawanya terlalu dalam. Oh great! Kau jauh lebih kejam, Sasori.
"Bisakah kau…membalik badanmu?" pinta Shion membuatku kembali tersadar. Aku memandangnya yang sedang menunduk dengan tatapan bingung. "A-ada yang akan aku katakan. Dan tidak bisa kulakukan kalau kau menatapku seperti itu."
Aku hanya menghela napas, lalu berdiri untuk menuruti permintaannya walau masih tak mengerti maksudnya.
"Aku menyukaimu." Ucapnya kemudian tanpa basa-basi hingga membuatku sedikit tersentak. Sebenarnya aku sudah menebak hal ini akan terjadi dari awal. Tapi tetap saja. Aku tidak pernah yakin, kalau gadis ini akan mengungkapkannya padaku. Terlepas dari itu, kata itulah yang akan aku tolak dengan pengakuan yang hampir aku utarakan beberapa saat lalu.
Suasana yang mendadak hening membuatku tambah gugup saja.
"A-aku…"
"Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya dan konsekuensinya dari awal. " Kata Shion lirih. "kau mudah di tebak, kau tahu?"
Aku hanya diam.
"Selama ini, aku tidak pernah mengatakannya karena pada dasarnya hubungan ini bukanlah kemauanmu. Tapi kau mau berusaha menyukaiku. Kamu terlalu baik untuk memilihku sebagai pelarianmu, walau hubungan ini ada karena formalitas tradisi." Ucapnya sarat kesedihan.
Kau benar-benar bodoh, Shion. Kau tidak mengenal kejam, eh?
"Pasti kau sangat menderita dengan semua ini, 'kan? kau terluka, karena terikat denganku. Maaf…"
Aku mengepalkan tanganku sampai memerah – sudah tidak tahan. "Apa kau sedang membicarakan dirimu?" kataku dengan suara tinggi. "Aku yang sepantasnya minta maaf. Dan posisi ini sangat terbalik." Aku mengambil napas. "Ini karena kebodohanku yang membuatmu terluka. Jahat, karena membawamu terlalu dalam. Seharusnya kau bisa memilih yang lain dan tak akan tersentuh masalahku."
Setelah itu, aku dan dia terdiam. Aku tidak tahu bagaimana reaksiku saat ini, tetapi kemudian tiba-tiba aku merasakan kepala Shion disandarkan ke punggungku.
"Aku menyukaimu." tegasnya dengan suara tergetar sambil menarik kemeja yang kukenakan. "Aku menyukaimu tanpa pertunangan ini sekalipun."
Aku hanya bisa menelan ludah.
"Suka…" ulang Shion. Kali ini, diikuti oleh isakan. "Sampai tidak peduli yang lain."
Aku menghela napas. "Terima kasih."
"Suka…"
"Iya…"
Shion mulai menangis. "Kau yang pertama."
"Kau juga pertama sebagai orang yang bilang suka padaku."
.
Cut, next.
