Unsincere 16thby Miss Painter
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Chapter 3
.
Flash Before
"Aku menyukaimu." tegasnya dengan suara tergetar sambil menarik kemeja yang kukenakan. "Aku menyukaimu tanpa pertunangan ini sekalipun."
Aku hanya bisa menelan ludah.
"Suka…" ulang Shion. Kali ini, diikuti oleh isakan. "Sampai tidak peduli yang lain."
Aku menghela napas. "Terima kasih."
"Suka…"
"Iya…"
Shion mulai menangis. "Kau yang pertama."
"Kau juga pertama sebagai orang yang bilang suka padaku."
.
.
|-|-|U'16th|-|-|
Tiba-tiba dia menarik lenganku keluar dari café diikuti oleh pandangan keheranan dari pengunjung. Aku hanya pasrah saja.
"Kau belum menemukan artinya?" tanya Shion saat kami sudah mengambil duduk di tepi danau yang tak jauh dari café.
Aku memejamkan mataku sekilas, "Ya."
"Daun maple di musim gugur," katanya lagi, membuatku meliriknya. Mata ungunya tampak menerawang jauh ke tengah danau. "adalah sebuah lambang kehangatan yang hilang kala dingin berkuasa." Dia tersenyum, walau air matanya belum kering tertimpa sinar keemasan matahari. "Tiga buah, menandakan janji kalian."
Aku benar-benar menatapnya. Ya, aku memberitahu janji masa kecilku padanya.
"Kalian tumbuh dewasa berdua. Selalu mengaitkan kelingking, dan kebersamaan kalian adalah daun yang ketiga."
"Shion…"
"Lalu, bola salju dalam botol itu bagaikan dirimu. Dingin dan mudah berubah." kali ini dia berdiri, menatapku dengan senyum yang sama sekali berbeda dan terlihat tanpa beban. Aku sedikit lega melihatnya.
"Nah, sekarang, kau mempunyai alasan untuk pulang." Ucapnya sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan sementara aku juga ikut bangkit.
Kutatap matanya dalam-dalam. "Terima kasih, Shion. Sebenarnya mengartikan hadiah Sakura yang membuatku bingung." Aku terdiam sejenak. "Tapi kau tahu, keadaan ini yang masih menahanku." Ujarku seraya tersenyum tipis, mengiraukan kepalaku yang sudah berdenyut menyakitkan – seakan bagai alarm pengingat saja. Tanpa rasa sakit tiba-tiba ini pun, aku akan tetap mengatakan itu. Karena aku tidak sama dengan dulu.
Gadis pirang itu balik menatapku tajam. "Kau masih hidup dan itulah yang terpenting." Dia mendengus kecil. "Kalau kau benar-benar menyayanginya, kau pasti berpikir untuk tidak melakukan hal idiot dan lari dari masalah seperti ini. Dua bulan berlalu, dan itu sudah cukup mengukur betapa bodohnya dirimu, Sasori." celanya berapi-api. Inilah Shion yang kukenal.
Dengan cepat, kutarik dirinya ke dalam pelukanku. Entah bagaimana reaksinya, aku tidak tahu. "Ya. Aku memang bodoh, dear." Tapi maaf…karena itu sudah tidak mungkin aku lakukan. Imbuhku dalam hati.
"Jangan memaksakan diri." Katanya pelan, balas memelukku. "Jika itu untuk sandiwara, hentikan itu. Panggilan sayang bukan untuk kamuflase."
"Tidak." Sangkalku seraya membelai punggungnya. "Tidak menyukai, bukan berarti tidak menyayangi, Shion. Bagiku, kau sama seperti Sakura." Aku mengeratkan pelukanku padanya. Sakit ini sungguh menyiksaku. "Kau adalah gadis ternekat yang pernah kukenal."
Dia hanya tertawa serak. Tapi tiba-tiba berhenti karena semakin merasakan pelukanku yang seakan sampai meremas gaunnya.
"Sasori?" tanyanya memastikan. Bisa aku dengar ada kecemasan di dalamnya. Meskipun suaranya sudah tidak begitu jelas di telingaku.
"Sasori!" panggilnya lagi, suaranya kentara akan menangis.
"A-aku baik-baik saja."
"Jangan berbohong pada – " aku tetap mengunci tubuhnya saat dia berusaha melepaskan pelukanku.
"Dengar," lirihku. Kurasakan sekujur tubuhku seakan mati rasa. Kepalaku bertambah berat, dan aku tidak bisa melihat dengan jelas.
Baiklah, jika ini yang terakhir.
"Aku…menyayangimu…" bisikku pelan tepat di telinga kanannya. Aku sudah tidak tahan lagi. "Akh!"
"S-sasori? Hei, jawab aku!" bisa aku rasakan basah menerpa lengan kemejaku. Shion mengguncang bahuku seraya menangis.
Dan setelah itu, kepalaku terkulai dibahunya. Sementara sepasang mata ini menutup untuk selamanya, tangis gadis yang kusayangi ini terdengar seolah berasal dari jauh.
"SASORIII!"
Tapi samar-samar aku juga dapat mendengar suara lain. Itu…
"SASHIII!"
Sakura dan…
Disaat terakhir aku bisa tersenyum mendengar suara Uchiha yang menandakan dia tengah bersama adikku.
"Sakura, hei!"
Mereka kemari.
Tak kusangka secepat ini. Namun mendengar suaramu saja, aku sangat bersyukur, Sakura.
Maafkan aku, sayang..
.
.
U'16th
.
Angin menerbangkan anakan rambutnya sepoi, sementara mata emeraldnya menatap kosong nun jauh disana. Entah itu awan senja yang berarak mengantar sang mentari ke peraduan, atau segerombolan burung yang melintas di sudut langit. Yang jelas, sudah lebih dari dua jam dia tidak bergerak untuk mempedulikan yang lain. Palu berat yang mengetuk kepalanya telak telah membuatnya sebegitu berkabung menerima kenyataan.
Tak sekalipun untuk berniat mengubah gesturnya selain memeluk lututnya sendiri sementara dia duduk di bangku taman yang dirambati tumbuhan ivy.
Cukup dengan bernapas dan berkedip, begitulah pikirnya saat ini. Tidak ada yang patut di bilang berharga setelah kepergiannya.
"Sakura…"
Suara itu lembut memanggil sementara terdengar langkah mendekat. Lalu bisa dirasakan bahunya di sentuh pemilik suara itu. Namun belum cukup untuk gadis bermata emerald itu menghiraukannya.
"Biarkan aku sendiri." Ujarnya dingin tanpa menatap orang itu. "Pergi." Lanjutnya seraya menyingkirkan tangan yang bertengger di pundakya.
Terdengar helaan napas keras. "Tidak akan." Ucap gadis pirang – orang itu – tak kalah dingin, membuat Sakura meliriknya. "Sebelum kau dengarkan aku."
"Apa maumu, Shion?" tanya Sakura tak acuh sambil kembali menatap langit.
Gadis yang dipanggil Shion itu duduk di samping Sakura sebelum menjawab. "Sasori…dia telah menemukan makna yang kau tunggu." katanya sambil meletakkan kotak bercorak garis di antara dirinya dengan Sakura.
Tidak mendapatkan tanggapan, Shion tetap melanjutkan. "Daun maple, lambang kehangatan yang artinya, Sasori adalah kehangatan yang selalu menjagamu. Berjumlah tiga, mewakili janji kalian."
Sakura tetap diam. Tapi Shion tahu, dia mendengarkannya.
"Segumpal salju, adalah sosoknya yang dingin tapi tetap ada untukmu walau nantinya akan mencair, dan tidak sama lagi seperti saat kau memberinya."
"Begitu, 'kan?" Shion menoleh pada Sakura. Tetapi terkejut begitu melihat air yang mengalir tanpa suara dari sudut mata emerald gadis yang sedang ditatapnya. "Sakura?"
"Ya. Itu benar." Ucap Sakura lirih seraya memberikan senyum tulus pada Shion.
Gadis bermata ungu itu memabalasnya dengan cara yang sama. Lalu tangannya beralih untuk mengusap air mata gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. "Dia pasti tidak akan rela melihatmu seperti ini, Sakura."
Matanya menerawang langit yang semakin menggelap. "Sasori bodoh itu…tidak pernah melewatkan sedetik pun untuk tidak memikirkanmu. Dan jujur saja, itu membuatku sedikit iri padamu."
Shion tidak mempedulikan tatapan menyesal dari Sakura. "Jika kau berpikir kalau dia menghianati janji kalian, itu salah besar. Karena aku dan dia tidak lebih sebagai sepasang teman dekat."
Hati Sakura mencelos saat mendengarnya. Matanya membelalak sebagai tanda keterkejutannya.
"Ja-jadi..."
"Sasori pergi ke Suna memang benar untuk menghadiri acara peresmian." lanjut Shion tidak mempedulikan tanggapan Sakura. "Aku bertemu dengannya disana dan disitulah pertunangan kami diumumkan. Hal itu diluar prediksinya karena tujuan yang sebenarnya adalah untuk mengikuti terapi."
Sakura membiarkan Shion menjelaskan semuanya.
"Dari awal aku akan menolak jika seseorang yang terikat denganku tidak menyukaiku. Tapi keadaan sangat berbalik ketika aku benar-benar menyukainya – tidak. Mencintainya saat dia makin terbayang oleh rasa bersalah." Air mata mengalir membasahi pipi Shion sementara Sakura mengusap lembut punggungnya. "Aku sangat egois mempertahankannya di sisiku sedangkan dia tersiksa untuk terus berusaha mencintaiku dan melupakanmu. Dia terlalu baik untuk itu."
Shion mengambil napas sejenak. "Dia juga kejam karena menjadikanku pelampiasan. Tapi sekali lagi, aku tidak peduli. Pernah aku mencoba mengalah dengan membujuknya untuk pulang. Tapi dia menolaknya dengan alasan belum menemukan arti dari pemberianmu itu. Tapi kurasa, itu karena semata-mata dia tidak tahan jika terus melihatmu bersama Sasuke."
Sakura mendengus kecil saat mendengar penjelasan Shion yang terakhir.
"Aku kurang suka dengan caranya." giliran gadis bermata ungu yang mendengus. "Seharusnya kanker yang di deritanya tidak cukup dijadikan alasan untuk melarikan diri. Dia benar-benar bodoh." rutuknya sedikit geram.
"Meskipun begitu, aku tetap mencintainya walau dia hanya menyayangiku." Ujarnya seraya tersenyum tegar. Lalu dia menoleh pada Sakura. "Bagaimana denganmu?"
"Aku…." Awalnya gadis berambut merah muda itu tampak ragu, tapi selanjutnya dia malah berdiri sambil menengadah ke langit diikuti pandangan heran dari Shion.
Sakura menghirup udara sejenak. "Hei Sashi! Kau bisa dengar aku, 'kan?" teriaknya seakan orang yang diajak bicara ada di atas sana. "Dengar. Kau adalah saudaraku yang sangat menyebalkan. Seringaimu, tawa kecilmu yang mengejek, itu sangat menjengkelkan, kau tahu?"
Shion menghapus jejak air matanya lalu tersenyum paham seraya menatap pungggung Sakura.
"Kau adalah pelindungku dan selalu ada di sampingku. Kau yang terbaik, kak!" lanjutnya dengan suara yang semakin serak. "Mungkin kau selalu mengeluh karena aku suka mengungkit tentang kenormalan remaja yang bernama naksir. Sekarang, kau tidak usah menutup telingamu karena aku sudah merasakannya. Tapi dengan kepergianmu…"
"Siapa yang akan menjadi secred admirer spaghetti lagi?" kata Sakura main-main yang nyaris membuat Shion tertawa. 'Dasar!' batinnya. "Dan kau tidak perlu berkomentar tentang rambutku yang sering kuikat tinggi, karena aku sudah memotongnya." katanya sambil sedikit mengibaskan rambutnya yang mencapai bahu.
"Sashi, baik-baik disana, ya! Aku menyangimu!" lalu gadis berambut merah muda sebahu itu menatap Shion seakan mengisyaratkan sesuatu.
Mengerti dengan arti tatapan Sakura, gadis pirang yang memakai topi pet merah itu menghela napas, "Well," Shion berdiri, lalu melakukan hal yang sama dengan Sakura – menatap langit.
"Untukmu, tuan bodoh berambut merah! Aku akan tetap mencintaimu dan terima kasih telah menyayangiku." katanya lantang seraya tersenyum lebar.
"Hanya itu saja?" tanya Sakura dengan nada yang kurang yakin.
Shion memutar matanya malas. "Dia sudah cukup mendengar perkataan beruntun dariku."
Sakura tertawa kecil.
Angin petang menggeser arakan awan yang berwarna tua beraplikasi sementara kedua gadis itu diam, sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum Shion kembali membuka suara.
"Jadi…" katanya melirik Sakura. "Yang mengenalkanmu naksir itu Sasuke, ya?"
"A-apa? tidak, kok!" Sanggah gadis bermata emerald itu gelagapan sambil membuang muka.
"Masih mau membantah, eh?" goda Shion sambil menyenggol bahu Sakura.
"Huh, awas kau ya!"
Dan begitulah. Aku melepasmu tanpa luka...
.
End FLASHBACK
.
Kau benar, Ino. Tebakanmu sudah terjawab. Sekarang aku sudah mengerti 'hal yang tidak terduga' yang kau maksudkan. Karena hal itu benar-benar terjadi padaku.
Dan untuk kakak…
Aku menyadari, bahwa sebenarnya akulah yang melepaskan tautan kelingking kita. Maafkan aku, Sashi…
"Sakura," suara bariton itu seketika membuyarkan lamunanku.
"Ah, ada apa, Sasuke?" sahutku sambil buru-buru menyisir rambutku. Aku bahkan tidak sadar sedari tadi melamun sambil menatap cermin.
Bisa aku dengar langkah kakinya mendekat lalu dia merangkulku dari belakang sambil meneliti wajahku. "Kau sedang melamun, hm?"
Aku menghela napas, "Bagitulah." Jawabku sekenanya. "Tidak apa-apa. Hanya pemikiran kecil saja," imbuhku karena melihat raut meminta penjelasan darinya.
"Hn." responnya acuh seperti biasa. Lalu Sasuke berlutut di depanku dan membelai perutku yang sedikit membuncit.
"Hei, kecil. Kau bisa dengar suara ayah?"
Aku tersenyum.
"Hari ini, ayah dan ibu akan mengajakmu mengunjungi paman Sasori." katanya lagi, membuatku heran.
"Tidak biasanya. Memangnya ada apa?" tanyaku membuatnya menaikkan sebelah alis.
"Hari ini tepat lima tahun saudaramu meninggal, Saku."
Aku menepuk dahiku. "Oh, ya ampun! Aku benar-benar lupa." Pantas saja aku teringat dia tadi.
Kudengar Sasuke menghela napas. "Ya sudah. Bergegaslah, ayah dan ibu sudah berangkat duluan." Beritahunya seraya berdiri. "Aku tunggu di ruang tengah." Lanjutnya.
Belum sampai membuka lemari pakaian, Sasuke memanggilku. Ternyata dia belum juga keluar dari kamarku – maksudku kamar kami.
"Sakura,"
"Ya?"
Sakilas aku lihat dia memejamkan matanya sebentar. "Apa kau...masih menyimpan kotak itu?"
Pertanyaannya segera membuatku tersenyum – menyeringai. "Kau cemburu, hm?"
.
.
.The End.
AN/Oh, great! Akhirnya selesai juga fic pertamaku. Ah, senangnya…
Maaf sangat bila hasilnya nggak sesuai harapan. Tapi yah…beginilah yang aku bisa. Oh ya, soal pairing, maaf juga karena muncul pair yang jarang di pake *lirik SasoShion* Tapi menurutku lumayan. Aku pikir cocok juga, kok.
"Terimakasih-Sangat" buat para reader maupun yang kebetulan baca juga, atas ke-berkenan-an-nya untuk membaca fic ini. Bagiku, hanya dengan membaca saja sudah membuatku senang.
Tapi tentu aja, siapapun yang berminat review (entah itu koreksi, atau yang lain) sangat aku tunggu.
Oh ya, jangan tanyakan punya siapa lagu yang dibawain Shion. Sumpah, tuh lirik ngarang abis XD
Satu lagi, Review. Thanks buat reviewer U'16th-ku ini! :)
Buat Miyoko Kimimori. Iya, aku juga ngerasa Sasuke OOC. Udah berusaha buat menetralisir, ternyata susah juga.
Uchikurai : Makasih atas review dan fav-nya! :)
Ainia Darkladie Kazekage : Haha...makasih, sis! Nih, udah komplit. Aku tetap menunggu fic perdanamu. hehehe... CIAO!
Momijy-kun : Jujur, semangat buat cepet2 apdet gara2 review-mu, lho! aku sempet ngerasa fly juga. Buat Jy-kun, terimakasih sangat, udah buat kesan buat fic yang cukup manis. wkwkwk
Kitty Kuromi : Hm...SasoTema, ya? pembetulan, silakan baca chap selanjutnya...udah apdet, kok #maksaXD
Dijah-hime : Suka sasosaku? sama, dong! Waah...keantusaiame-mu sampe ke aku, nih. Terimakasih buat support-nya, bantu banget. Warm regart too, Hime! salam kenal! :)
Hikari Meiko EunJo : Iya, kah? tp kenyataannya aku newbie, kok - banyak typo bertebaran. Nah, nah, kalo ada 'like', aku bakal mencet itu buat review-mu. Koreksi n' support apdetnya aku suka.
Orang-aneh-kurang-kerjaan : Waah...aku tersanjung. Ini, udah ak apdet. Terimakasih :)
Banyak yang menyingung soal incest di review. Hm...jujur, dasar akunya yang newbie ini, aku nggak paham apa-itu. Kukira menyangkut ketetapan pair?
Saran: Baca sampai chap akhir #jitak
Last, Maaf AN terlalu panjang.
Dina.
