A/N : Meskipun saya lagi hiatus, tapi saya harus lanjutin fic ini ^^ dan sebelum kecerita Reizu YuukiNeezuri ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankan (meski belum saatnya), mohon maaf lahir dan batin.
Saint Seiya © Masami Kurumada
Shout
Chapter 7
"Pillar utama Poseidon?" gumam sang Aquarius sambil menganguk-angguk.
Hening, semuanya diam dan terlarut dalam pikirannya masing-masing. Selama sepuluh menit posisi mereka masih sama tidak bergerak satu cm pun, seolah mereka menjadi patung seketika.
Kemudian salah satu dari mereka malah bertepuk tangan bermaksud mencairkan suasana. "Jadi bagaimana? Kita selamatkan Deathmask atau Athena dan yang lainnya?" kata Aldebaran sambil terus bertepuk tangan.
"Heh! Berhenti tepuk tangan, memangnya ada yang jadi juara apa?" ketus Aphrodite sambil berkacak pinggang dengan gayanya yang sok.
Aldebaran berhenti memainkan tangannya dan ikut diam. "Jadi mau pilih yang mana?" ucapnya dengan nada meninggi.
"Kalau aku beri salam, eh saran sebaiknya kalian membebaskan Deathmask dulu, karena Saint cancer yang sebelumnya yang membuka segel itu bukan? Siapa tau dia bisa mengembalikan Athena dan yang lainnya." saran Aiacos. Tumben sekali sang specter itu mau membantu para Gold Saint dan Ikki, padahal mereka dulu'kan bermusuhan.
Semua Gold Saint tambah Ikki tersenyum. "Tumben kau pintar." kata mereka serempak dan mendapat jawaban berupa tatapan membunuh dari orang yang memberi saran tersebut.
"Berani-beraninya kalian mengejekku! Cepat minggat dari sini! Menghalangi pemandangan!" titah Aiacos berusaha untuk tidak melempar mereka ke dalam neraka saat ini juga.
Dan para Gold Saint tambah Ikki pun keluar dari sana dan kembali, namun anehnya mereka yang seharusnya kembali ke kuil, malah tersesat di tempat antah berantah.
"Lha? Di mana ini? Ini'kan bukan kuil kita?" tanya Ikki melemparkan sebuah pertanyaan retoris.
Sejauh mata memandang di sana hanya dipenuhi oleh padang rumput yang hijau. Tidak ada satu pohon pun yang menjulang di sana, hanya ada dataran rendah yang indah dan bisa dijadikan objek lukisan.
"Ini di mana?" gumam Ikki sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Langitnya indah seperti surga."
"Oi bangun! Oiii!" teriak Milo tepat di telinga remaja berambut biru yang barusan bermimpi gaje. Ikki terbangun dan mengucek-ngucek matanya. "Ini di mana?" gumamnya ngelantur.
Saint Scorpio itu menjitak kepala Ikki pelan. "Di mananya di mana? Ini di kuilku."
Setelah Ikki mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya, ternyata di sini memang di kuil Scorpio. 'Mimpi aneh lagi.' batinnya kemudian melirik ke arah Aiolos.
"Saran Aiacos memang ada benarnya, tapi jika kita pergi ke pillar utama Poseidon kita harus membawa uang sebesar lima puluh triliun, dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" kata Aiolos mengambil pose berpikir. Saint Sagittarius itu berpikir sejenak, matanya ia tutup agar semakin konsentrasi.
Beberapa detik kemudian...
"Gaah! Aku buntu ide~" teriaknya sambil melambai-lambaikan tangannya gaje. Mereka semua seakan lupa akan tubuh Deathmask yang dibiarkan tidak terawat bin terbengkalai begitu saja.
Jika semuanya sedang berpikir keras, beda halnya dengan sang Pisces dirinya sibuk mendandani dirinya sendiri dengan kosmetik yang selalu dibawanya kemana-mana. Karena pada dasarnya di dalam kuil itu gelap, dirinya memutuskan untuk keluar sebentar untuk melihat cerminan dirinya sekarang di tempat yang lebih terang.
"La...la...la..." gumamnya dengan menggunakan nada bernyanyi.
Tiba-tiba angin besar datang dan menerbangkan sebuah kertas. Alhasil kertas itu mendarat tepat di wajah penjaga kuil Pisces itu. "Apa ini? Menghalangi kecantikanku saja..." katanya sambil membaca kertas itu dan pada saat itu juga matanya membulat sempurna "yang lainnya harus tau ini!" lanjutnya dan kembali masuk ke kuil Scorpio.
"Hei semuanya~ aku tau cara yang bagus untuk mendapatkan uangnya~" katanya dengan nada riang. Namun saat dia melihat semuanya sedang tertidur lelap, aura gelap langsung menyeruak keluar mengisi kuil ini. "BANGUUUNN!" teriak atau lebih tepatnya jerit Aphrodite.
Semuanya terbangun dengan ekspresi horor karena merasakan dark aura yang mencekam. Beda halnya dengan Shura yang berwajah santai. "Hei! Kita itu capek dari kemarin belum istirahat, tidur sebentar dulu kek!" lanjutnya menguap lebar.
"Itu benar juga sih, tapi coba lihat aku menemukan selebaran kertas yang hadiahnya sebesar lima puluh triliun lho!" kata Aphrodite riang dan kemudian mengibas-ngibaskan kertas tersebut.
"Benarkah?" tanya Saga melangkahkan kakinya menuju Aphrodite dan merebut kertas itu paksa. "Apakah kita bisa melakukannya?" lanjut Saga khawatir.
Aphrodite menyikut sahabat disampingnya "tentu saja bisa, masa nggak sih!"
"Ya sudah kita akan mencari uangnya di pulau yang bernama 'himitsu' ini." kata Saga sambil menunjukan kertas yang Aphrodite temukan tadi. Semuanya mengangguk dan mulai bersiap-siap untuk pergi, seperti biasa Ikki menjadi pembawa barang lagi tentunya.
Di siang hari yang cerah sampailah mereka di pulau bernama 'himitsu', mereka pergi ke sana menggunakan perahu hasil pinjaman dari temannya Mu. Dilihat dari pemandangannya, pulau ini tidak terlalu buruk karena pepohonan tumbuh dengan suburnya, bunga-bunga bermekaran dengan indah dan tampaklah sebuah gunung yang menjulang tinggi di tengah pulau tersebut.
"Benarkah di tempat seperti ini tersimpan uang sebanyak itu?" tanya Mu polos, kali ini dia ikut kemari dan giliran Aiolos yang tidak ikut, katanya ada masalah besar.
"Entahlah yang jelas ayo kita masuk ke hutan." titah Shura memimpin perjalanan. Disepanjang jalan yang terlihat hanyalah pohon-pohon dan tumbuhan liar. Kelihatannya pulau ini sudah bertahun-tahun tidak tersentuh oleh manusia.
Sampailah mereka di tengah hutan, dan di sana terdapat pohon raksasa yang kelihatannya menyeramkan. "Apa ini?" tanya Shura "disini ada tulisan...'tuliskan nama kalian'..."
"Untuk apa menuliskan nama kita? Kenapa tidak tanda tangan saja?" sewot Aphrodite.
"Memangnya artis apa pake tanda tangan segala?" balas Aiolia.
"Aku'kan emang artis." kata Aphrodite sambil menyibakkan rambutnya. Alhasil semua orang menutup mata mereka, kalau tidak mata mereka bisa jadi merah jika melihatnya.
"Kau duluan Ikki!" perintah Shura.
"Lha? Kok aku?"
"Karena kau yang paling muda, ayo cepat!" titah Shura sambil mendorong Ikki menuju pohon tersebut menyembunyikan perasaannya yang sedikit takut akan pohon itu.
Mau tak mau Ikki terpaksa menulis namanya sendiri dengan sebuah ranting di pohon itu. Setelah selesai menulis, tiba-tiba pohon itu mengeluarkan tulisan lagi.
"Selamat datang Itsuki." kata Ikki membaca tulisan yang baru muncul itu.
Milo tertawa terbahak-bahak "Itsuki? Itu'kan nama perempuan hahaha…kok bisa sih…pohon itu keren~" tawanya. Akibat hal itu semuanya juga ikut tertawa kecuali Ikki dan Camus.
Merasa ada yang ganjil Saint Aquarius itu memeriksa apa yang Ikki tulis di pohon itu.
"いつき (baca: itsuki)" gumam Camus, kemudian dirinya menghela napas panjang. "Yang kau tulis itu memang Itsuki, kau menulis huruf 'tsu' kebesaran, seharusnya'kan lebih kecil, paling besar setengah huruf dari huruf 'i' dan 'ki'. Di dalam buku tertulis jika huruf 'tsu'nya besar dibaca tsu, tapi jika ditulis setengah besar huruf aslinya berarti menjadi huruf pendouble seperti Ikki bukannya Itsuki bla bla bla…" Camus mulai menerangkan cara penulisan huruf hiragana dengan panjang lebar.
Milo yang tidak tahan akan penjelasan yang diucapkan Camus segera menepuk pundak sang Aquarius dan menatapnya penuh frustasi. "Aku mohon jangan dilanjutkan, membuang waktu kita." ujarnya. Dalam mulut berkata begitu, sebenarnya bilang saja kalau dirinya pusing harus mendengarkan penjelasannya.
Camus mengangguk dan menyuruh Ikki untuk mengganti huruf 'tsu' menjadi lebih kecil dari sebelumnya.
"いっき (baca: ikki)." ucap Ikki sambil menahan malu atas tindakannya sendiri. Dalam hati ia berjanji bahwa lain kali, ia akan menulis namanya menggunakan huruf kanji, itu juga kalau dirinya sudah belajar.
"Selamat datang Ikki bukan Itsuki." kata Milo membaca tulisan yang muncul berikutnya. "Ngajak perang ni pohon!" gumam Ikki yang bersiap-siap memukul pohon dan di cegah oleh Mu.
Mu menatap lurus Ikki dan tersenyum kecil "tenanglah, emosi bisa menghancurkan diri kita sendiri."
Ikki menurunkan tangannya dan berwajah masam campur kesal. "Lalu bagaimana?"
'Jika kalian ingin hadiahnya kalian harus membuat dua cerita humor, tapi tidak terasa humornya!'
Semuanya sweatdrop, sebenarnya pohon ini kenapa sih? Dari tadi seenaknya, tau lagi bahwa kami banyakan, batin mereka kompak. Shura mengepalkan tangannya dan mulai menulis sesuatu di pohon tersebut.
'Si Milo memang sangat pelupa. Menyadari kekurangannya dia konsultasi dengan Camus. "Kamu sudah usaha apa?" tanya Camus. Milo sedikit merengut "aku sudah beli buku mengenai program kilat meningkatkan daya ingat yang disusun oleh seorang profesor terkenal." katanya. Camus tampak penasaran "hasilnya?" tanyanya. Milo menundukan kepalanya "sama saja.". Sang Aquarius menautkan keningnya "teorinya gagal?". Milo menggeleng pelan "bukan begitu...aku lupa di mana meletakkan buku itu, kan aku pelupa...". Gubraakk.'
Milo yang membaca sebuah cerita yang tak lucu menurut dirinya bersiap-siap untuk memotong pohon itu secepatnya. Dan segera ditahan Camus "jangan, itu satu-satunya harapan kita."
Karena Camus yang meminta dengan sangat terpaksa Milo mengurungkan niatnya. Sementara yang lainnya sibuk menahan tawanya akan cerita yang dibuat Shura.
"Shura? Sejak kapan kau bisa menulis hal begituan?" tanya Kanon berusaha tidak tertawa.
Shura menunjukan wajah polosnya "bukankah itu kenyataan?" jawabnya kemudian melirik Milo. Seketika Shura meneguk ludahnya dan bersiul pelan. Shura tidak sepenuhnya salah menulis cerita itu, karena pada dasarnya Milo memang agak sedikit pelupa menurutnya.
"Berarti tinggal satu lagi!" kata Saga semangat. Semuanya tampak berpikir (lagi) mencari cerita yang pas menurut mereka. Kali ini giliran Mu yang menulis dengan sebuah ranting di pohon.
'Suatu ketika Shaka disuruh direkturnya untuk menelpon Mr. Brown. Shaka mulai menekan tuts-tuts telepon rumah itu, setelah ada yang mengangkat dia berkata "halo? Bisa bicara dengan Mr. Brown?". Sang penerima telpon menggeleng pelan-meski tak diketahui Shaka- "oh ini Mr. Black." jawabnya. Shaka menghela napas "oops sorry, wrong color." kata Shaka kemudian menutup telpon tanpa seizin penerima. Mr. Black menggeleng-geleng maklum "namaku Black, apa hubungannya dengan salah warna? Salahkan yang bernama Brown donk! Kok namanya nama warna sepertiku iuuww~" katanya lebay dan menaruh telponnya.'
"Mu? Cerita ini lebih gaje dari buatannya si Shura." kata Kanon sambil menepuk-nepuk punggung Mu.
Mu cemberut "kan di atas juga ditulis 'humor yang tidak terasa' jadi yaudah jangan protes, daripada kalian yang tidak bisa bikin." katanya dengan nada sarkatik.
Beberapa menit kemudian muncullah sebuah peti misterius disertai cahaya keemasan yang menyilaukan. Untung mereka sudah menyiapkan kacamata hitam untuk saat-saat genting seperti sekarang. Kenapa mereka menyiapkan kacamata hitam? Jawabannya karena mereka tidak ingin terkena cahaya Athena yang berlebihan yang juga dapat merusak mata.
Tanpa pikir panjang mereka langsung berebutan membuka peti itu dan isinya hanyalah sebuah amplop putih polos. Mereka tercengang dan menundukan kepala bersama-sama. Pikiran mereka mulai melayang akan kegagalan dan kegagalan. Lalu Aiolia mengambil amplop itu dan membukanya.
"Lima puluh triliun." ucapnya serempak dan setelah itu mereka saling pandang satu sama lain dalam keheningan yang mencekam.
Milo merebut secarik kertas dari dalam amplop itu dan membacanya berulang-ulang "apa-apaan ini, ini hanya sebuah kertas yang bertulisan lima puluh triliun? Aneh..." Milo langsung menyeringai tak jelas, kelihatannya dia mendapatkan sebuah ide brilian.
"Pantas saja cara mendapatkannya mudah ternyata cuma kertas, aku pikir isinya cek uang," ujar Aldebaran sambil memakan sebuah apel yang baru ia petik di sebuah pohon di sampingnya.
"Ini semua gara-gara kau Aphrodite!" tuduh Kanon.
"Eh? Kok aku?"
"Bukankah kau yang menyarankan ini semua? Capek-capek kita datang kesini dan hasilnya nol!" ketus Kanon tak mau kalah.
"Maaf, tapi aku pikir itu nyata." jawab Aphrodite menunduk.
Saga yang penasaran akan asal usul kertas itu bertanya pada Aphrodite "darimana kau dapatkan kertas ini?"
"Terbawa angin." jawab Aphrodite singkat dengan nada kesal.
Saga dan Kanon menepuk jidatnya bersamaan "pantas saja hasilnya begini, asal usul petanya juga gak jelas sih."
Lagi-lagi kondisi hening menyelimuti mereka. Hanya angin saja yang mengeluarkan sebuah suara. Samar-samar sebenarnya mereka semua merasakan ada yang aneh semenjak datang ke pulau ini, tapi tak ada satu pun dari mereka yang menghiraukannya.
Lalu Milo menjentikkan jarinya tanda meminta perhatian dari teman-temannya "aku punya ide bagus untuk arwah mantan Saint Cancer itu, begini ya..." bisiknya. Alhasil para Gold Saint dan Ikki mengangguk setuju. Meski pada dasarnya idenya aneh, tapi itu adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan dalam kondisi kritis ini.
"Kalau begitu ayo kita tinggalkan pulau gaje ini!" kata Shura yang lagi-lagi sok jadi pemimpin. Tiba-tiba saja langit berubah menjadi hitam kelam, angin yang tadinya bertiup sepoi-sepoi kini bertiup kencang hampir menyerupai tornado.
Ikki yang tidak asing dengan hawa dingin ini mulai mengingat-ingat di mana ia pernah merasakannya. "Dingin ini, hawa ini...benar-benar sama seperti rumah baru kami..." kata Ikki terputus-putus. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, dirinya juga beberapa kali meneguk ludahnya paksa.
"Eh? Rumah? Apa hubungannya rumah dengan pulau ini?" tanya Camus penasaran. Pasalnya hawa dingin ini sangat berbeda dengan hawa dingin yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kalau masalah dingin dirinya pasti kuat, mengingat kekuatannya adalah es, tapi dingin yang ini sangat jauh berbeda. Dingin ini seperti hawa kematian karena lebih menusuk dari pada es.
"Pokoknya aku ingin cepat keluar dari sini!" teriak Ikki dan bergegas berlari meninggalkan para Gold Saint.
Akhirnya para Gold Saint juga merasakan hawa dingin itu dan mulai memeluk diri mereka sendiri. Dan ketika mereka secara kompak menoleh kebelakang dan melihat sekebat bayangan yang melintas, wajah mereka berubah menjadi horor.
"Hahaha sebaiknya kita pergi~" ucap Milo yang berlari terlebih dahulu dan diikuti oleh yang lainnya.
Di perahu...
Ikki dan yang lainnya tampak berhos-hos ria. Mereka berusaha mengatur nafas mereka yang terputus-putus akibat kejadian di pulau tadi.
Camus menoleh ke arah Ikki "bisa kau jelaskan soal hawa itu?"
"Hm, hawa yang tadi sama dengan hawa yang kurasakan pada saat di rumah pemberian Athena yang ia cicil selama seratus tahun, aku rasa penghuni rumah itu tidak menyukaiku sehingga semua teman-temanku dibawa." ceritanya dengan raut sedih.
Aiolia geleng-geleng kepala "haduh, Athena..Athena dirimu banyak hutangnya dan selalu melibatkan kita huuff..." keluhnya sambil menopang dagunya.
"Apa kau bilang? Jangan berani-beraninya ya kau menghina Athena bla bla bla..."
Setengah jam kemudian Shura baru selesai berceramah. Namun, bagi teman-temannya itu bisa dikatakan adalah sebuah nina bobo pengantar untuk tidur.
"Heh! Kalian malah tidur semua! Lalu siapa yang mengemudi!" teriak Shura kemudian ia melirik kearah kemudi yang bergerak sendiri. Dan karena itulah dia juga ikut tidur karena pingsan.
Dua jam kemudian...
Matahari turun dari singgasananya digantikan oleh terangnya rembulan yang mempesona di tengah gelapnya malam. Semuanya bangun bersamaan dan menguap lebar bersamaan juga.
"Lho ini'kan tempat pillar Poseidon itu?" kata Ikki orang yang pertama menyadari di mana dirinya sekarang.
"E? Benar juga kau, untung deh kita." balas Mu senang.
Mereka semua pun bersama-sama pergi ke tempat pillar itu berada. Dan ketika mereka sampai di sana. Ternyata pillar itu tidak ada di tempat. Mereka malah saling lempar pandang satu sama lain dan mengangkat pundaknya tanda 'aku juga tidak tau.'.
"Ini, aku yakin ini tempat yang benar tidak salah lagi, auranya juga sama." ujar Ikki sambil berjalan-jalan di daerah sana.
Sreek
Ikki menginjak sesuatu. Ternyata sebuah kertas (lagi). Penasaran para Gold Saint juga ikut nimbrung.
"Maaf, pillar utama kami sedang direparasi, harap tunggu tiga hari lagi jika kalian benar-benar ingin melihat atau berkunjung ke pillar tercintaku. Terima kasih." kata mereka serempak.
Siiing...
"APPA!"
.
Sebenarnya ide Milo itu apa? Apakah suruhan arwah mantan Saint Cancer yang mengemudikan kapalnya dan menghantui mereka? Lalu bagaimana nasib Deathmask, Athena dan yang lainnya? Bagaimana dengan pillar utama yang sedang direparasi itu? Apakah arwah mantan Saint Cancer itu juga ada di sana atau ikut direparasi? Dan satu lagi apakah hantu di rumah pembelian Athena selama seratus tahun itu ada hubungannya dengan mantan Saint Cancer?
To be continued…
Maaf kalau ceritanya makin hancur ^^. Etto, pilih siapa ya? Umm…(muter kompas)
Tada~ yang kena tag adalah RedQueen19
Ganbare yo! Zettai ni, ganbate ne~
Tag to go :
Cecillia Angela / Mini Author Gita / Glace Aquarii / Pelayan Hermes
