Tittle : An unusual love story for an unusual girl

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.

Rate : T.

Summary: Naruto digoda seme-seme mesum. Bagaimana sikap Sasuke ?

Warning : AU, typo(s), OOC, Fem!Sasu.

.

.

.

"Ehm.. a-ano oji-san pasti salah kan? Oji-san bilang aku akan bertunangan dengan gadis cantik bukan dengan pri-pria tampan", Naruto mengatakannya dengan gugup dan wajah merah malu-malu. Sasuke melirik sedikit dari ekor mata terbesit satu kata 'Manis'. Namun Sasuke cepat-cepat menggelengkan kepala.

'Gah.. aku bukan lesbian, ah tapi kan dia laki-laki, eh tapi lihat mukanya yang manis itu! Itu wajah perempuan', Sasuke berOOC didalam hati

"Dia wanita, Naruto." Jiraiya tersenyum pada cucu kesayangannya.

"A-APA?", Naruto membelalakan mata.

"Maksud ji-san?", Kyubi yang dari tadi diam akhirnya buka suara

"Ya, dia adalah wanita. Apa kalian tidak bisa melihatnya."

Naruto dan Kyubi memperhatikan Sasuke dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Eh? Tidak mungkin Teme pantat ayam ini perempuan? Liat saja, tidak ada sedikit pun kata cantik di tubuhnya."

Sasuke menatap tajam kearah Naruto,"oh, jadi ini balasan bagi orang yang telah menyelamatkanmu haha baik sekali."

"Menyelamatkan?" ucap Jiraiya dan Kyubi berbarengan.

"Ah ano.. bukan apa-apa kok ji-san, nii-san hehe." Naruto nyengir memandangi dua orang tersayangnya itu.

"Cih", Sasuke membuang muka

Naruto mendekat ke telinga Sasuke.

"Diam kau! Awas kalau kau berani mengatakannya." Bisik Naruto.

"Heh? Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku ?" gumam Sasuke.

Belum selesai si Namikaze bungsu menjawab. Sang kakek telah memotongnya terlebih dahulu.

"Ah kalian ini mentang-mentang ada kami ngobrolnya jadi bisik-bisik begitu. Baiklah Kyubi mari kita keruang tengah dulu, jangan sampai pasangan baru kita ini merasa terganggu", Jiraiya mengedipkan mata.

Kyubi yang berada disana hanya bisa mengangguk mengikuti perintah sang kakek. Naruto dan Sasuke diam saja menanggapi kekeliruan Jiraiya. Mereka memang butuh waktu berdua. Bukan, bukan karena mereka ingin berduaan tapi pertemuan kedua mereka ini sungguh membuat masing-masing manusia itu penasaran.

Mereka menatap kepergian Jiraiya dan Kyubi. Setelah pintu tertutup mereka kembali perpandangan satu sama lain. Naruto memerah seketika mengingat dia hanya tinggal berdua dengan Sasuke. Tak lama setelah itu kedua nya malah saling membuang muka. Keheningan tercipta membuat kedua manusia ini sedikit tidak nyaman.

"Ehm.. arigatou Teme, kau telah menolongku", Akhirnya Naruto berinisiatif memulai

pembicaraan.

"Hn."

Naruto menggerenyit mendengar jawaban singkat sang Uchiha.

"Maaf tadi aku berteriak padamu."

"Hn."

"Kau memaafkanku?"

"Hn."

"Apa?"

"Hn."

"Gah.. Teme kau membuatku kesal, apa tidak ada kata lain yang bisa kau ucapan selain Hn?"

"Apa?"

"Kau memaafkanku tidak?"

"Hn."

Rahang Naruto merapat. Sungguh gadis dihadapannya ini sangat mengesalkan. Padahal dia bermaksud meminta maaf.

"Heh Teme, siapa namamu?"

"Sasuke, Uchiha Sasuke."

Naruto tersenyum mengetahui nama lawan bicaranya.

"Nama yang bagus."

"Terima kasih."

"Kau tidak bertanya siapa namaku?"

"Sudah tau."

"Eh? Dari jii-san ya?"

"Hn."

Naruto mengamati wajah rupawan itu, mata yang hitam seperti batu onix, kulit yang putih dan Naruto yakin pasti sangat halus bila dia merabanya, bibir yang pink dan basah, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik, ah ini membuatnya gila. Tapi ada satu hal yang mengganggu sang pecinta ramen. Benarkah Teme ini perempuan?

"eh Teme."

"Apa?"

"Apa benar kau seorang perempuan?"

"Menurutmu?"

"Hm.. tidak." Naruto menggelengkan kepala.

Sasuke membuang muka. Entah kenapa biasanya dia tidak tersinggung jika ada seseorang yang menganggapnya laki-laki. Malah dia akan menghajar habis orang yang memanggilnya perempuan. Sekarang mau tak mau dia harus mengakui kalau dia kesal dianggap lelaki oleh Naruto.

Naruto memegang dagunya, berpose seperti detektif yang sedang berpikir,"Hm.. ya, kau tidak meyakinkan sama sekali bahwa kau adalah perempuan terutama dibagian ini."

Naruto meletakkan begitu saja kedua telapak tangannya di bagian dada Sasuke. Sasuke kaget dan wajah nya langsung memerah sempurna. Marah bercampur malu.

"DASAR MESUM! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU HAH!"

Naruto pun mendapat tinju di pipinya dan terpental jatuh ke lantai. Naruto meringis memegang pipinya biasanya dia akan menangis bila merasa sakit barang sedikit tapi kini dia berusaha menahan air matanya keluar uhm.. bersikap Gentleman?. Sedangkan Sasuke kini dia menutup kedua dadanya dengan tangan menyilang. Napasnya naik turun dan mukanya memerah sungguh dia malu sekali.

"Kenapa marah Sasuke? Yang memegang kan TUNANGANmu bukan orang lain."

Naruto berusaha menggoda sasuke. Sejujurnya dia bingung bagaimana cara menggoda seorang gadis. Terlintas di benaknya seorang pria berambut merah. Pria itu adalah mantan terindah Namikaze Naruto, Naruto mencoba mengingat-ingat kata-kata godaan sang mantan seme terhadapnya. Salah satunya adalah kata-kata barusan. Bedanya Naruto mengganti kata 'pacar' dengan kata 'tunangan'.

"TAPI KATA SIAPA KAU BOLEH MENYENTUHKU HAH!"

"hei, santailah sedikit."

Buagh.

"SEKALI LAGI KAU MENYENTUHKU, KU TENDANG KAU KE UJUNG LANGIT."

"Tapi aku ingin kau tendang ke hatimu."

"APA!."

Sepatu sneaker Sasuke mendarat sempurna di hidung sang Namikaze.

'AAH.. GAGAL! Sasori.. hiks.. ajari aku', Naruto berteriak dalam hati.


Sasuke berjalan dengan tidak bersemangat ke kelasnya. Sepanjang koridor para gadis tak henti-hentinya mengagumi sang uchiha yang tampan tanpa cela dimata mereka.

"Hei Sasuke! Tunggu".

Sasuke menoleh dengan malas. Terlihat Suigetsu berlarian mengejar dengan napas terengah-engah. Suigetsu menyamakan langkahnya dengan sasuke. Dia merasakan perubahan aura si Uchiha yang terasa kelam saat ini.

"Kau kenapa sasuke?."

"Aku tidak apa-apa."

"Ah.. kau bohong, sudah tiga tahun kita berteman tidak ada yang aku tidak tahu dan bisa kau sembunyikan dariku."

Sasuke tertawa sebentar lalu kembali ke ekspresi dingin semula. Sasuke dan Suigetsu berteman akrab sejak kelas 1 SMA. Sebenarnya di awal masuk sekolah Sasuke tidak memiki satupun teman dan Suigetsu selalu memperhatikan Sasuke dari jauh namun Sui saat itu belum berpikiran untuk menyapa si Uchiha yang tampak tak bersahabat itu sampai suatu saat Sasuke terlibat perkelahian dengan kakak kelas yang merasa tersaingi ke-keren-annya. Suigetsu langsung membantu Sasuke menghadapi ke lima kakak kelas mereka itu. Memang pada dasarnya keduanya pintar berkelahi sehingga tidak butuh waktu lama bagi mereka menumbangkan semuanya hingga lari terbirit-birit. Sejak itu sang Uchiha memiliki teman yang selalu ada membantunya dimana saja kapan saja.

Sasuke tersenyum tipis,"Sebenarnya-."

Kalimat Sasuke terputus akibat keributan tiba-tiba para siswa perempuan yang berebut mencari tempat untuk melihat ke arah gerbang sekolah (Sasuke di lantai 2).

"Kyaaa... lihat dia manis sekali ya."

"Katanya, anak baru di kelas 2."

"Ada yang bilang dia cucunya kepala sekolah."

"Sasuke cepat sini, itu dia laki-laki yang kubicarakan 2 hari yang lalu."

Tanpa Sasuke sadari Suigetsu sudah menempati salah satu tempat strategis itu untuk melihat ke arah gerbang. Sasuke mengejar Suigetsu dan ikut melihat ke arah gerbang. Tampak sosok manis berambut kuning, berkulit tan sedang melemparkan senyuman ke seluruh penjuru sekolah. Yang membuat para gadis berteriak dan para seme meleleh.

"Cih, apa yang Dobe itu lakukan disini!."

"Hah? Kau bilang apa tadi Sasuke?" Teriakan para gadis terlalu overload untuk pendengaran Suigetsu.

"Ehm.. tidak ada."

'Untung dia tidak dengar', lanjut sasuke dalam hati

"Liatlah dia maniskan? Apa ku bilang semua orang pasti akan jatuh cinta padanya mau yang normal sekalipun", Suigetsu senyam-senyum melihat Naruto

Sasuke hanya menggeleng melihat tingkah Suigetsu.

"Aku ke kelas". Sasuke berbalik dan berjalan menjauh.

"Hebat sekali kau Dobe, baru kali ini Sui mengacuhkanku", Sasuke menoleh sedikit melihat Sui yang masih senyam-senyum ke arah gerbang mengacuhkan Sasuke untuk yang pertama kalinya, Sasuke lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


"Baiklah anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru."

Terdengar bisik-bisik yang bisa dibilang bukan bisik-bisik dari sebagian penghuni kelas itu.

"Silahkan masuk dan berkenalkan dirimu", Pak guru Iruka mempersilahkan si murid baru masuk.

"Hai semua perkenalkan, namaku Namikaze Naruto aku pindahan dari Tokyo panggil saja aku Naruto", Naruto tersenyum manis, seluruh penjuru kelas dibuatnya meleleh termasuk Suigetsu. Sasuke hanya mendecih tidak suka.

Pak guru Iruka mengetuk meja dengan penghapus papan tulis untuk menenangkan suasana,"Apakah ada yang mau bertanya pada Naruto."

Terdengar banyak sekali pertanyaan terlontar dari para murid membuat kelas kembali gaduh. Dan Sasuke? Dia mencoba mengacuhkan keadaan kelas dan menatap keluar dengan tatapan tidak suka. Cemburu? O ya? Hati Sasuke berkecamuk antara iya dan tidak.

Pak guru Iruka kembali memukul meja, " Diam anak-anak, yang ingin bertanya silahkan angkat tangan."

Kiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan cepat. Pak guru Iruka mempersilahkannya untuk bertanya.

"Na-Naruto, apa kau sudah punya pacar?."

'itu pertanyaan atau pengakuan cinta?', Sasuke menahan amarahnya yang membuncah.

"Ehm.. Aku sudah bertunangan", Naruto menggaruk kepala.

Terdengar suara-suara kekecewaan diseluruh kelas. Sasuke tiba-tiba tersenyum tipis. Lalu seketika Sasuke sadar apa yang dia rasakan layaknya perasaan lega seorang gadis yang merasa diakui keberadaannya oleh sang pasangan. Sasuke menggeleng-gelengkan kepala. Ini bukan dirinya, atau inilah sebenarnya dirinya.

"Tunanganmu laki-laki atau perempuan?", Sakura bertanya sambil mengangkat tangan.

"Tentu saja perempuan dan dia cantik sekali", Naruto tersenyum dengan manis

"Cih", Sasuke mendecih pelan, hanya Naruto yang menyadari pipi Sasuke yang memerah

"Nah! Naruto silahkan kau duduk dibelakang bangku Sasuke, Sasuke angkat tanganmu."

Sasuke mengangkat tangannya dengan malas tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

"aku sudah tau kenal kok pak", Naruto tersenyum dan berjalan kearah bangkunya.

Seluruh kelas saling berpandangan. Naruto duduk dan meletakkan tasnya tanpa melepaskan pandangannya dari Sasuke. Tidak lepas senyum manisnya semenjak tadi, 'dari belakang sini terlihat jelas kalau ini punggung wanita, kecil dan pas untuk dipeluk hehehe'.

"Hei Teme", bisik Naruto

"..."

"Teme~", bisik Naruto menggoda

"..."

"Temeee~".

"..."

"Teme-chan"

Dug!

"AWW"

"Ah, maaf Naruto bukuku terbang sendiri" Sasuke mengambil kembali buku ensiklopedinya.


(Naruto)

Aku ingin sekali dia melihatku barang sebentar saja. Tapi dari tadi dia hanya menatap malas kearah jendela. Tepatnya, ke arah langit. Hei Teme kalau mau lihat langit lihat saja mataku. Jii-san bilang mataku lebih indah dibanding langit, rambutku lebih bercahaya dibanding matahari. Semua orang yang pernah bertemu denganku tidak ada yang menyangkal. Tidak terasa bel istirahat pun berbunyi, setelah insiden buku terbang tadi, aku belum berbicara dengannya lagi. Saatnya beraksi Naruto yosh! Ganbatte~.

"Teme, makan sama-sama yuk."

"Tidak mau."

"Eh, kenapa?."

"Aku mau disini saja dan jangan tanya aku lagi."

"Ya sudah aku juga tidak makan kalau kau tidak makan."

"Kata siapa aku tidak makan?."

"Kau sendiri bilang mau disini saja."

"Tapi bukan berarti aku tidak makan, Dobe."

Seorang gadis datang mendekati kami dan mengulurkan kotak nasi kepada Sasuke.

"Sa-Sasuke, ini bento dariku semoga kau suka", gadis itu berlari kencang setelah Sasuke menerima kotak bentonya.

Sasuke menyeringai, "Selamat makan Dobe."

"A-apa?, He-hei Sasuke bagi aku bentonya."

Brakk!

Tiba-tiba lima orang tak kukenal membuka pintu kelas dengan paksa. Mereka terlihat tak lebih dari preman. Dari wajah mereka tergambar seringaian mesum yang menjijikkan. Aku benci kenapa aku harus selalu bertemu orang-orang seperti mereka dimanapun aku berada.

"Aku dengar disini ada anak baru yang manis" Aku yakin yang bersuara bodoh tadi pasti pemimpinnya.

"Sepertinya itu dia Boss" Huek.. boss? Dia tak lebih dari orang bodoh menurutku.

Lalu mereka semua mendekat kearahku. ketika sudah berada dihadapanku, boss mereka menyentuh daguku dan menjilat bibirnya sendiri dengan menjijikkan.

"Ugh.. lepaskan aku."

"Wah wah wah baru kali ini aku melihat ada lelaki semanis kau, mengalahkan Sakura-chan."

"Aku laki-laki tau, kau tidak waras ya menyamakanku dengan perempuan!" aku mendengus kesal ingin aku tonjok muka bodohnya itu.

"Ckckck tipe pemberontak, aku suka."

Tiba-tiba dia memonyongkan bibirnya dan aku menggerenyit jijik. Ku lirik Sasuke dia malah makan bento dengan santai tanpa terganggu sedikitpun. Ugh.. teme tunanganmu mau diperkosa nih tolong.

Buagh!

Saat aku menoleh, si bajingan itu telah terlempar jatuh ke lantai. Saat aku melihat siapa pelakunya dia adalah Neji Hyuuga, teman satu kelasku dan Sasuke, aku tau namanya saat absen tadi.

"Maafkan aku tapi kumohon pergilah dari sini dan jangan mengganggu kelas ini kalau kau masih mau hidup."

Waw.. dengan ekspresi cool dan kata-kata sopannya tadi dia terlihat sangat berkilau dihadapanku. Uh.. apa yang aku pikirkan, ayolah Naruto fokus pada Tememu.

"Te-terima kasih Hyuuga-san."

"Hn.. kau tidak apa-apa kan?."

"Hehe aku baik-baik saja kok."

Neji tersenyum padaku. Lalu dia meraih tanganku dan mengecupnya berlahan.

"Kalau kau butuh bantuanku, katakan saja ya Hime."

"Uhuk-huk-huk..", Sasuke meneguk minuman botolnya dengan cepat.

"Kau keberatan Uchiha?"

"Ah.. tidak Neji, teruskan saja anggap aku tidak ada."

Aku sungguh marah sekali dengan jawaban Sasuke. dari tadi dia sama sekali tidak menganggapku sebagai tunangannya. Aku hentakkan tanganku dengan kuat dari tangan Neji.

"Aku laki-laki dan aku bisa menjaga diriku sendiri" Aku berdiri, "dan jangan panggil aku Hime!", aku berjalan keluar dan menghempaskan pintu kelas, tidak peduli dengan semua pandangan kelas padaku.


(normal)

Sasuke merapikan seluruh bukunya. Bel pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit tadi. Sesekali dia melirik kebelakang melihat Naruto yang tengah memasukan alat-alat tulisnya. Semenjak bel masuk tadi Naruto tidak menyapanya sama sekali. Sasuke yakin mood Naruto pasti sudah rusak gara-gara kejadian istirahat tadi.

"Eh.. Teme, pulang sama-sama ya?"

Sasuke kaget, dia kira Naruto juga marah padanya.

"Ehm.. aku tidak bisa."

"Memangnya kau mau kemana? Nanti aku antar."

"Tidak usah."

"Ayolah Teme, aku bawa mobil kok."

"Ck.. Dobe kau keras kepala."

"Pulang bersamaku ya ya ya", Naruto memasang tampang puppy eyesnya.

Seisi kelas kini memperhatikan mereka termasuk Neji dan Suigetsu. Para gadis pun berbisik-bisik namaun cukup terdengar di telinga sasuke.

"Eh.. sepertinya Naruto suka ya pada Sasuke."

"kyaaa kalau mereka berdua jadian siapa yang jadi Semenya?."

"Aku yakin Sasuke yang jadi Semenya, dia kan gagah cool dan keren."

"iya, aku setuju, Naruto itu manis.. cocok jadi ukenya Sasuke."

Sasuke menggeram. Dia benci sekali para fujoshi yang kini memepergunjingkannya. Dari dulu dia benci sekali dengan para Gay dan Homo. Wanita banding pria itu 7 : 1. Kalau mereka saling menyukai, bagaimana nasib 14 wanita lain? Itu yang Sasuke pikirkan. Dan perlu diketahui Sasuke sampai saat ini belum mengetahui kalau Naruto DULUnya adalah gay. Sasuke pun keluar meninggalkan Naruto. Lalu Naruto berlari mengejarnya.

"Sasuke tunggu!", Naruto menyamakan langkah.

"Kau kenapa Sasuke? kau marah padaku?."

"..."

"Apa salahku sih, aku kan Cuma mengajak tunanganku pulang bersama."

Sasuke menghentikan langkahnya lalu dengan menahan marah dia berkata pada Naruto.

"kau tidak dengar apa tadi? Mereka menganggapku tidak normal karena ulahmu yang aneh itu."

"Heh? Tidak normal? Apa menerima kotak bento dari anak perempuan termasuk normal? Aku bertingkah manja pada seorang gadis termasuk tidak normal? Otakmu sudah terbalik Teme."

"Aku laki-laki disini kuharap kau tidak menggangguku karena itu akan terlihat menjijikkan."

"Aku tidak perduli! Aku akan terus berada dekat denganmu karena aku suka padamu!."

Sasuke menatap tak percaya pada laki-laki yang lebih tinggi 5 centi darinya itu. Wajahnya memanas, jantungnya berdetak kencang. Sasuke mengalihkan wajahnya takut Naruto melihat perubahan ekspresinya.

"Haha.. kau tidak normal Dobe."

"Ya, aku memang bukan laki-laki normal Teme."

"Aku suka kau sebagai pria yang menyukai pria bukan sebagai pria yang menyukai wanita."

Naruto rasa Sasuke harus tau siapa dia sebenarnya. Naruto tidak ingin menutupi perasaannya sekarang. Dan kini perasaan Sasuke campur aduk antara senang, bahagia, kesal, marah dan... Jijik?.

"Tuh kan! kau gak normal!"

TBC

.

.


A/N : maaf ya kalau Typo nya masih bertebaran... biasalah anak baru hehehe... o ya dalam cerita ini Sasuke nya keliatan benci banget ma Yaoi karena tuntutan cerita, aslinya Author seorang Genderbend akut maka apa daya saya bikin ceritanya aneh seperti ini err.. Gomen m(_ _)m

last word REVIEW ^^/