Tittle : An unusual love story for an unusual girl
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.
Rate : T.
Summary: Naruto digoda seme-seme mesum. Bagaimana sikap Sasuke ?
Warning : AU, typo(s), OOC, Fem!Sasu.
.
.
.
"Ugh.. panas."
Sasuke mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengurangi temperatur sekitar wajah dan lehernya.
"Pakai ini Teme," Naruto memayungi gadis yang lebih muda darinya itu.
Sasuke hanya menatap datar pemuda berwajah rubah disampingnya. Sasuke menghela napas panjang.
"Pakai saja sendiri, aku tidak apa-apa."
"ya sudah kalau kau tidak mau pakai, aku juga tidak," Naruto melempar payungnya kesembarang arah.
"Ck.. Dobe, kenapa kau tidak pulang saja dengan mobilmu?"
"Tidak, aku menyuruh Pak Tanaka untuk pulang duluan karena aku ingin pulang bersamamu suke-chan."
"Cih.."
"Suke~"
"Hentikan Dobe!"
.
.
.
"Sampai kapan kau mau terus berada disana?"
Sasuke menoleh kearah pemuda yang dari tadi mengikutinya sampai kedepan pintu apartemen milik Sasuke. Naruto nyengir rubah dan mengarahkan dagunya ke arah pintu, memberi kode pada Sasuke untuk membuka pintu. Sasuke menyilangkan tangannya.
"Pulanglah."
"Tidak mau Suke, aku mau berkunjung kerumahmu aku ingin tau ditempat seperti apa kau tinggal."
"Hanya apartemen biasa."
"Semua orang tau itu Suke~" Naruto menggembungkan pipinya.
"tidak ada yang menarik."
"Aku tidak peduli."
"Apartemenku kotor."
"terus kenapa?"
"Nanti kau gatal-gatal."
"Jangan memberiku ancaman kelas teri Teme."
"Aku serius."
"BILANG SAJA KAU MENGUSIRKU."
"Hn."
"GAH.. BUKA PINTUNYA TEME ATAU KAU KUCIUM."
Blush.. Wajah sasuke memerah. Dia langsung membalikkan badannya dan membuka pintu apartemennya dengan terburu-buru. Deg-Deg-Deg jantung Sasuke berdetak kencang memikirkan dia hanya akan berdua saja dengan Naruto.
"Woaa.. kau bohong Teme katamu apartemenmu kotor ini sih rapi sekali namanya."
Naruto melempar badannya kearah sofa empuk milik Sasuke. Sasuke menghela nafas dan berjalan kearah dapur.
"Kau mau minum apa Dobe?."
"Apapun yang semanis kau Teme."
'Ck.. dari mana anak itu belajar menggombal,' inner Sasuke
'Hehe.. tidak percuma aku sering mendengar gombalan mantan Seme-semeku,' inner Naruto
Tak lama kemudian sasuke muncul dengan segelas jus tomat
"eh? Jus tomat?"
"Hn."
Naruto memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. Sasuke menghela nafas lalu menatap intens Naruto.
"Karena aku merasa diriku mirip dengan tomat makanya aku buatkan kau jus tomat yang melambangkan diriku," Sasuke tersenyum tipis.
Wajah Naruto memerah dan dia langsung menghamburkan pelukan ke Sasuke.
"Se-sesak Dobe."
"Wua.. aku bahagia sekali Teme, baru sekarang kau mengucapkan kata-kata manis dan panjang padaku," isak Naruto terharu.
Naruto duduk di pangkuan Sasuke dan menatap bola onix milik Sasuke intens. Matanya tidak beralih sedikitpun membuat tatapan Sasuke seakan terkunci oleh bola mata biru langit itu.
CUP..
Naruto mencium pipi Sasuke yang sudah memerah. Sasuke terpaku sejenak rasanya waktu seolah-olah berhenti namun dia dapat merasakan detak jantungnya yang begitu cepat. Sasuke menghirup napas kemudian hingga akhirnya dia memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN MESUM!"
"Hehehe wajahmu merah tuh Suke~"
"KURANG AJAR! MENYINGKIR KAU DARI TUBUHKU!"
"Ssst.. Teme, nanti kalau ada yang dengar bagaimana?" Naruto meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya dan mengedipkan mata.
Sasuke yang sudah kesal berdiri tiba-tiba sehingga Naruto terjerembab di lantai yang dingin. Pipi naruto mencium mesra lantai putih itu, lututnya menahan beban ya.. naruto sedang menungging dan tangannya nemplok seperti cicak di dinding. Bagi para seme posisi ini mungkin menggairahkan(?) tapi bagi Sasuke?
"Ahahahhahahahhahahaha.. kau lucu sekali Dobe," Sasuke tertawa lepas untuk pertama kalinya.
Naruto bangun dan duduk di lantai. Matanya tak pernah lepas dari Sasuke yang sekarang sedang tertawa. 'Cantiknya' hanya kata itu yang bisa Naruto katakan berulang kali dalam hati. Walaupun bisa dikatakan bahwa sekarang Sasuke masih memakai seragam sekolah laki-laki namun ekspresi tawanya kali ini tidak bisa menutupi kecantikkan wajahnya. Wajah Naruto semakin memerah sungguh Sasuke telah membangkitkan jiwa laki-laki dalam dirinya. Naruto bangkit lalu memeluk Sasuke erat. Berbeda dengan pelukannya tadi yang terkesan Narutolah sang wanita namun sekarang Naruto memeluk Sasuke dengan gentle. Naruto menyilang tangannya di pinggang Sasuke dan meletakkan dagunya di perpotongan leher Sasuke. Naruto mengecap harum Sasuke yang begitu manis, membuatnya terbang ke langit. Sasuke tertegun, dia tidak menolak namun juga tidak membalas pelukan Naruto. Perasaan nyaman menyeruak di hati keduanya.
"Naruto."
"Iya Suke?"
"Aku ingin mengajukan permintaan padamu."
Naruto melonggarkan pelukannya dan menatap Sasuke.
.
.
.
Di pagi yang indah ini Sasuke kembali langkahkan kakinya dengan ogah-ogahan. Tadi malam dia tidak bisa tidur. Bagaimana bisa toh ingatan Naruto memeluknya selalu diputar ulang oleh benaknya. Seakan-akan pikirannya di kendalikan oleh orang lain yang membuatnya tidak bisa memikirkan siapapun kecuali Naruto. Begitupun sekarang sampai-sampai dia tidak menyadari suara teriakan Suigetsu sampai suigetsu menepuk punggungnya.
"Sasuke!"
"Eh?"
"Kau kenapa sih? Tidak baik melamun pagi-pagi."
"Hn."
"Kulihat kau kemaren pulang berdua dengan Naruto," tersirat kecemburuan di ucapan Suigetsu.
"Hn."
"Ada hubungan apa kau dengannya? Di kelas kulihat kalian berdua seperti sudah lama kenal."
"Tidak ada."
"Hm.. kalau begitu jadi kan kau membantuku mendekatinya?" Suigetsu menatap Sasuke dengan semangat.
"Hn," Sasuke menghela nafas rasanya ada yang mengganjal tapi dia tidak tau perasaan apa ini.
Flashback
"Aku ingin kau bersikap seperti tidak mengenalku di depan teman-teman, dan kita dilarang saling mencampuri urusan masing masing."
"kenapa Suke?."
"Hanya sampai lulus kok, aku hanya belum siap lagipula kau tau kan aku ini laki-laki di mata teman-teman."
"oh begitu."
Flashback off
Sasuke berjalan masuk ke kelas beriringan dengan Suigetsu. Dia menatap sebentar kearah Naruto yang telah ada di kelas. Naruto hanya menoleh sebentar lalu kembali berbincang dengan Lee. Sasuke berjalan ketempat duduknya namun sebelum dia duduk sudah ada dua orang gadis cantik yang memberinya bungkusan.
"Sasuke.. hari ini aku ulang tahun, ini kue ulang tahunku aku ingin kau jadi orang pertama yang mencicipinya."
"Hn," Sasuke menerima bungkusan kecil berisi kue itu.
"Sasuke.. orang tuaku baru pulang dari luar negri, ini oleh-oleh untukmu."
"Hn," Sasuke mebuka bungkusan yang berisi jam tangan itu lalu kembali duduk tanpa mengacuhkan kedua gadis itu.
.
.
.
Di kantin
Sasuke menghela nafas. Dia sering sekali menghela nafas tapi entah kenapa ini lebih berat dari biasanya. Bayangan-bayangan di kelas tadi berseliweran di benaknya. Suigetsu yang menggoda Naruto, Neji yang mencoba mencari-cari kesempatan menyentuh Naruto, para laki-laki kurang normal di kelasnya yang mencoba mendekati Naruto, Naruto yang terus tersenyum pada setiap gadis dia kelasnya, dan Naruto sungguh-sungguh melakukan permintaan Sasuke. dia sama sekali tidak mengacuhkan Sasuke. dan itu membuat dada Sasuke semakin sesak. Sasuke tau dia yang meminta Sasuke untuk pura-pura tidak mengenalnya tapi dia juga tidak mengerti kenapa perasaannya jadi berkecamuk.
"Naruto, mau makan apa biar aku traktir ya?" Pein tersenyum mesum kearah Naruto.
Sasuke yang berada disana menyaksikan dengan tatapan tajam.
"Terima kasih Pein tapi aku mau bayar sendiri saja."
"Ayolah Naru," Pein merangkul pinggang Naruto dengan mesra.
"Eh? Ti-tidak usah Pein," Naruto mencoba melepaskan diri dari Pein tapi Pein malah merangkul Naruto lebih erat.
Sasuke yang menyaksikannya mulai kehilangan kesabaran. Dari pagi tadi dia membiarkan Naruto di sentuh. Sekarang rasa kesal telah menguasainya. Dalam hati Sasuke berteriak-teriak itu milikku itu milikku.
Buagh
Sasuke membanting Pein.
"kau tuli ya? Dia minta dilepaskan, jangan memaksanya."
"Cih.. Uchiha, kau cari masalah hah!" Pein menarik kerah baju Sasuke, dan bersiap meninju wajah Sasuke.
Buagh
Sasuke tertegun melihat Naruto meninju Pein lebih dulu.
"Lepaskan dia!" Sungguh Naruto sekarang jauh dari kata UKE, wajahnya berubah cool dan tatapan tajamnya seakan siap mengiris jantung siapa saja.
Naruto menarik Sasuke menjauh dari sana. Sasuke dan Naruto hanya terdiam semenjak kejadian tadi. Kini keduanya berada di atap sekolah. Sasuke menunduk dan Naruto melempar pandangannya kelapangan sekolah.
"Kenapa Suke?"
"Bukankah kau bilang kita tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing?"
Sasuke terdiam. Dia bingung harus menjawab apa, sedangkan harga diri Uchihanya melarangnya untuk berkata jujur.
"Suke~" Naruto mengangkat dagu Sasuke.
"Kita ulangi dari awal hubungan kita, bagaimana?" Naruto tersenyum gentle pada Sasuke.
Wajah Sasuke memerah dan tanpa Sasuke sadari Sasuke mengangguk tanda setuju.
"Perkenalkan, Aku Namikaze Naruto, aku anak baru disekolah ini, siapa namamu?" Naruto berikan tangannya tanda ingin bersalaman.
Sasuke menyambutnya dengan ragu-ragu,"Uchiha Sasuke."
.
.
.
"KAU MEMALUKAN SASUKE, LEBIH BAIK KAU PERGI DARI SINI."
"DASAR LEMAH."
"Dari dulu aku tidak pernah mengharapkan anak perempuan haha aku memang egois."
"Kuberi kau uang setiap bulannya namun jangan pernah lagi muncul dihadapanku."
"Kalau saja kau terlahir sebagai laki-laki hidupmu tidak akan sesulit ini."
Sasuke terbangun dengan terengah-engah. Sudah dua minggu mimpi yang hanya menampakkan suara itu muncul lagi dihadapannya. Sasuke menoleh ke jendela.
"Sudah pagi."
.
.
.
"Sasuke."
"Hn Sui."
"Nih ada surat cinta untukmu," Canda Suigetsu.
"Hn?"
"Dari orang berpierching bodoh."
"Sepertinya dia menantangmu."
Sasuke menatap surat itu dan membolak-balikkannya. perasaannya kembali gelisah. Ada apa ini?
.
.
.
Sasuke terus mengawasi Naruto dari semenjak dia masuk ke kelas. Dia sudah membuka surat itu. Surat itu bertuliskan kata singkat yaitu 'Jaga Mataharimu' dan yang terpikir oleh Sasuke saat itu Naruto. Naruto yang merasa diperhatikan sejak tadi pun menoleh dan tersenyum pada Sasuke.
"Kenapa Teme? Ada sesuatu di wajahku?"
"Hn."
"Oh.. " Naruto sudah terbiasa dengan kalimat keramat Sasuke langsung mengerti arti kata ambigu tersebut dan kembali bercanda dengan Lee.
"Psst.. Sasuke," bisik Suigetsu.
"Hn?"
"Bantu aku mengajak Naruto jalan-jalan, aku malu."
Sasuke hanya menatap wajah Suigetsu dengan datar.
"Tidak mau."
"Ah.. Sasuke kau kan sudah berjanji membantuku mendekati Naruto."
"Ck.. baiklah katakan apa yang harusku katakan pada Dobe."
"Naruto, Suigetsu mengajakmu jalan-jalan," Suigetsu bersembunyi di balik punggung Sasuke.
"Naruto, Suigetsu mengajakmu jalan-jalan," Sasuke mengikuti perkataan Suigetsu dengan ogah-ogahan.
Naruto terlihat bimbang.
"Suigetsu bilang dia tau tempat yang bagus."
"Suigetsu bilang dia tau tempat yang bagus," wajah Sasuke sudah seperti orang yang mengantuk.
Naruto menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.
"Aku juga ikut kok."
"Aku juga ikut ko-eh? Apa maksudnya?" Sasuke membalikkan badan menoleh pada Suigetsu.
Naruto berhenti menggelengkan kepalanya dan mengangguk sambil berteriak Yatta.
"kumohon Sasuke bantu aku" Suigetsu memohon dengan puppy eyesnya.
.
.
.
"Heh Dobe, kenapa kau mau ikut jalan-jalan setelah aku bilang aku ikut?"
"Karena aku tidak akan membiarkan kau berduaan pergi dengan pria lain apalagi ke tempat seindah ini."
Sasuke langsung bersweet drop ria tapi cuma sedetik kok kan Uchiha pintar memasang wajah datar. Tidak lama Suigetsu datang dan memberikan beberapa kuntum bunga pada Naruto yang dia petik tak jauh dari danau dihadapan mereka sekarang.
"Ini Naruto."
"Eh? Wah cantik sekali," Naruto tersenyum manis. Membuat kedua manusia disampingnya merona merah.
"Nih buatmu Sasuke," Naruto memberikan bunga itu pada Sasuke. Sasuke menatap bunga yang ada di hadapannya. Lalu kembali menatap ke depan dengan tampang datar. Suigetsu yang melihat perubahan di wajah Naruto langsung menghiburnya.
"Sudah sore, aku ingin pulang."
"Tapi Naruto kita kan belum lama disini," ujar Suigetsu kecewa.
"Tidak bisa, sebenarnya aku juga ingin lama disini tapi Teme kau tidak boleh pulang malam-malam," Naruto mengalihkan tatapannya pada Sasuke. layaknya kekasih lelaki yang mengkhawatirkan kekasih perempuannya.
"Ugh.. terserah aku Dobe, lagipula kalau kau merasa terganggu aku akan pulang duluan."
"Tidak Teme, perasaanku tidak enak sejak tadi pagi."
"Aku mengkhawatirkanmu."
Sasuke terdiam. Dia menatap datar wajah Naruto yang terlihat cemas.
"Baiklah kita pulang," Suigetsu tersenyum kearah keduanya.
Sasuke dan Naruto mengangguk serentak.
'Aku menyerah Sasuke, dia menyukai ah tidak dia mencintaimu,' inner Suigetsu.
.
.
.
"Naruto, Sasuke aku pulang duluan ya."
"Naruto, tolong jaga Sasuke baik-baik ya," Suigetsu mengedipkan matanya ke arah Naruto. Rumah Suigetsu berbeda arah dan lebih dekat dari rumah mereka berdua.
"Tentu saja aku akan menjaga gadi-," Sasuke langsung membekap mulut Naruto.
"Selamat malam Sui," jawab Sasuke datar dan menarik Naruto menjauh dari sana. Suigetsu tersenyum tipis penuh arti.
"Lepaskan aku Teme!" Sasuke melepaskan tarikannya dan kembali menatap datar kedepan.
Beberapa langkah setelah itu Sasuke merasakan ada yang tengah mengikuti mereka. Sasuke terus menoleh kekanan dan kekiri.
"Teme kau kenapa?"
"Hn tidak, Dobe aku akan mengantarmu sampai Rumah."
"eh, tidak usah Teme harusnya aku kan yang mengantarmu pulang."
"Diamlah Dobe ada yang mengikuti kita dari tadi."
"Wuaa.. dimana?"
"Ssst.. Jangan berisik."
"Tenang saja Sasuke aku akan melindungimu."
"Eh?"
.
.
.
"Masuk sana Teme!"
"Tapi?"
"tenang saja aku sudah menghubungi pak Tanaka untuk menjemputku."
"Hn," raut wajah Sasuke lebih tenang kini. Sasuke beranjak masuk kerumahnya tapi Naruto tiba-tiba menarik bajunya.
"Katakan, hati-hati di jalan," Naruto menatap Sasuke serius.
"Hn? Haruskah," Sasuke menatap Naruto datar.
"A-aku selalu mengucapkan kata itu pada mantan Semeku setelah dia mengantarku pulang," Naruto mengalihkan wajahnya yang mulai merah.
"A-aku ingin merasakan bagaimana rasanya," wajah Naruto makin memerah.
Sasuke terkejut lalu tersenyum tipis tanpa siapapun sadari,"Hati-hati di jalan Naruto."
Sasuke langsung menutup pintu. Naruto tersenyum bahagia. Dia tidak menyadari kalau Uchiha bungsu itu kini tengah menahan detak jantungnya yang berpacu dibalik pintu itu.
"hm.. begini ya rasanya," Naruto tersenyum dan memegang dadanya yang menghangat dan berdetak tak kalah cepatnya.
Naruto melangkah engan tergesa-gesa. Dia benci gelap. Tapi sebagai seseorang yang belajar menjadi laki-laki sejati dia harus melawan perasaan ini bagaimanapun caranya. Dia sudah bertekad untuk jadi lelaki sempurna di mata Sasuke. Tiba-tiba langkahnya terhenti melihat bayangan manusia bertubuh tinggi tegap menghalanginya. Naruto mengangkat kepalanya.
"Pein?"
TBC
AN : gomen atas keterlambatan updatenya , ospek di universitas saya rada gila.. masa dah ospek universitas harus ospek fakultas terus ospek jurusan pula =_= grrr... tapi alhamdulillah saya lulus dengan sertifikat IKM aktif :'D *nangis terharu* *nari hulahup* okelah sudah abaikan saja curcolan ini. bales review dulu ah~
TwingWing Rurake : thx Rura, dah kasih tau heheh biasalah mata saya kadang kurang waras jadi ya begitu hasilnya ._. #krik krik krik
Chaachulie247 : Dapet ide dari surga :'D #kipas kipas
Monkey D Eimi : maaf tak bisa memenuhi keinginanmu untuk apdet kilat T_T salahkan ospek saya yang gak waras itu , hehehehehe bukan kawai lagi tapi MOE #plak #dichidori
kazuki NightNatsu : hohohohho Naru gitu lho.. para cowok normal aja jadi gak normal sama dia apalagi cewe gak normal semacam sasu, gampang~ #dirajam sasu
bluemoon : hehehe maaf.. pas chap 2 juga tugas2 buat persiapan ospek dah keluar mau gak mau harus di kerjain T-T
Lilith noir lawliet : hikss... typo itu emang dah jadi teman sejatiku.. kemaren bikin makalah aja ampe di plototin dosen gara2 typo yang bertebaran.. #headdesk
Vin Vin namikaze : nanti saingan Naruchan juga ada.. tunggu aja ya... hehe
yashina uzumaki : Naru dah mulai gentle kok disini.. sebenernya ini tuntutan alur cerita, soalnya gak mungkin kan seseorang yang feminim bisa langsung jadi laki2 sejati hanya dalam waktu 1 hari.. dan juga saya pengen mengangkat kesulitan2 Naruto buat jadi laki-laki sejati tapi itu semua gak mengalahkan semangatnya buat terus berusaha demi Sasuke #eaaaaaaaaaaa #ceilah #piwidddddd heheheh
buat semua yang dah review mau di chap 1 dan chap 2 saya ucapkan terima kasih, juga buat para silent reader terima kasih dah mau baca. dan terakhir buat semuanya.. REVIEW PLEASE ^o^
