Tittle : An unusual love story for an unusual girl

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.

Rate : T.

Summary: Naruto mencoba jadi laki-laki sejati. Sasori mantan Seme nya membantu untuk itu. Tapi Sasori juga jatuh hati pada Sasuke? Hee.. apa-apaan ini.

Warning : AU, typo(s), OOC, Fem!Sasu.


Naruto menatap Sasuke yang kini tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Rasa penyesalan masih melekat erat dalam benaknya. Ini semua salahku, kata itu terus terngiang di telinga Naruto. Dia lah yang menyebabkan Sasuke terbaring di rumah sakit. Dia ingat betul bagaimana Sasuke mendapatkan semua luka memar dan tusukan di bagian perut itu akibat berusaha menyelamatkan Naruto dari Pein dan kawanannya yang berusaha memperkosa (?) Naruto. Naruto yakin kalau saja Pein waktu itu hanya sendirian pasti Sasukenya dapat menghadapi Pein dengan mudah. Namun, yang tidak dia sangka ternyata selain membawa kawanannya Pein juga membawa pisau lipat dan berhasil menusukkannya tepat di perut Sasuke. Beruntung polisi yang tengah patroli malam itu berhasil menangkap Pein dan kawanannya dan menyelamatkan Sasuke segera ke rumah sakit. Kalau saja malam itu Sasuke tidak menyelamatkannya maka habislah dia di tangan Pein. Namun, entah mengapa Naruto lebih memilih dirinya dihabisi dari pada melihat Sasuke seperti ini. Semenjak kemaren malam Naruto tidak tidur sedikitpun demi menemani Sasuke. Matanya sembab parah akibat menangis semalaman. Dia sudah berusaha untuk tidak menangis. Tapi, lagi-lagi setiap matanya tertuju pada Sasuke air mata itu pun tumpah. Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang tapi Sasuke masih belum juga membuka matanya.
"Naruto."

"Eh, Kyuubi-nii."

"Makanlah dulu, kau belum makan dari tadi pagi."

"Aku tidak mau nii-san."

"Aku akan menjaga Sasuke untukmu disini, makanlah."

Naruto menggeleng pelan. Dia tidak mau melewatkan sedikitpun hembusan nafas Sasuke. Dia ingin menemaninya disini.
.

.

.

.

.

Kini Naruto telah berdiri di depan pintu apartemen mantan semenya, Sasori. Naruto menghela nafas sebentar dan menekan bell apartemen tersebut. Tidak menunggu lama keluarlah sang mantan seme dengan penampilan yang berantakan. Sepertinya Naruto telah mengganggu tidur siangnya kali ini.
"Sasori.."
"Eh, Naruto."

"Ada apa kau kesini," tanya Sasori dengan lembut. Tentu saja, dia masih mengharapkan sang Uke kembali padanya. Dan inilah yang dia tunggu-tunggu.
"Ba-bantu aku," wajah Naruto memerah, dia malu sekaligus bingung untuk bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada Sasori.
"Bantu apa?"

"BANTUAKUJADILAKI-LAKISEJATI." Naruto mengucapkannya dengan sekali nafas dan wajah yang sangat merah menahan malu. Sasori membeku ditempat dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

.

.

.

.

.

Sasori terkekeh geli mendengar semua cerita Naruto. Tentu saja walau begitu dia tetap merasa berduka atas apa yang terjadi pada Sasuke. Namun, mendapati mantan Ukemu yang manis meminta bantuanmu untuk menjadi laki-laki sejati demi seorang gadis tentu saja siapa sih yang tidak akan merasa 'aneh'. Naruto menggembungkan pipinya dan membuang muka melihat kekeh Sasori yang dianggapnya sebagai suatu penghinaan.
"hehe.. maafkan aku Naruto, bukan maksudku membuatmu marah hanya saja aku begitu bahagia melihatmu rela melakukan ini demi seseorang"

"Ini artinya kau sudah mulai dewasa." Sasori mengedipkan sebelah matanya.
"hontou ni?"

Sasori hanya tersenyum dan mengacak-acak lembut rambut Naruto.

"Baiklah kau ingin mulai darimana?"

"Terserah kau Sasori," Naruto tersenyum manis.

.

.

.

.

.

"Nngghh..."

Kyuubi menutup bukunya mendengar suara lenguhan Sasuke.

"Sasuke? Kau sudah sadar?"

Sasuke membuka sedikit matanya dan memandang kearah Kyuubi.

"Kyuu-nii, apa yang terjadi padaku?"

"Ugh..." Sasuke mengaduh nyeri ketika mencoba untuk bangun.

"Jangan paksakan dirimu Sasuke, badanmu belum sembuh benar."

"Tapi tenang saja luka tusukan itu tidak begitu parah perutmu akan sembuh dengan segera," Kyuubi melanjutkan. Sasuke mengangguk diam. Bola matanya bergerak aktif mencari keberadaaan seseorang. Kyuubi yang menyadarinya tersenyum kecil.

"Naruto sedang keluar untuk makan, dari kemaren malam dia belum makan karena menungguimu, itu saja aku yang paksa dia untuk makan."

"Hn... gomen."

"Tidak apa-apa Sasuke malah harusnya aku yang meminta maaf akibat kebodohan adikku kau jadi begini."

"Tidak Kyuubi-nii , andai saja aku mengantar Naruto pulang pasti ini semua tidak akan terjadi," Sasuke menunduk lemah.

"Kau gadis yang baik Sasu," Kyuubi tersenyum lembut menenangkan gadis di depannya.

"O iya.. aku tidak menemukan siapapun dirumahmu, apa orang tuamu sedang keluar kota?"

"Bukan urusanmu."

Kyuubi terkejut dengan pernyataan Sasuke. Namun ia langsung mengerti ketika air muka Sasuke berubah muram. Dia tidak ingin memaksa Sasuke untuk menjawabnya.

"Hmm.. baiklah, kau makan dulu ya Sasu."

.

.

.

.

.

"NANI? Kau serius menyuruhku mengangkat ini?" seru Naruto dengan kencang.

"Kau sendiri yang bilang kan ingin jadi kuat dan bisa melindungi siapa namanya.. Satsuki?"

"Bukan, Baka! Namanya Sasuke ingat baik-baik nama nan indah itu!"

"Ahahha gomen, ya sudah kalau begitu cepat angkat barbel itu."

"Tidak mau, itu berat Sasori~"

Sasori menarik kerah baju Naruto,"hei, apa-apaan ucapanmu tadi, kau bilang ingin jadi laki-laki sejati tapi sekarang malah merengek khas Uke karena tidak mau mengangkat beban yang hanya 5 kilogram itu?"

"E..eto aku kelepasan hehe," Cengir Naruto

"Dulu ketika kau jadi Ukeku aku memperlakukanmu selayaknya Uke, sekarang kau datang padaku sebagi laki-laki sejati maka aku akan memperlakukanmu layaknya laki-laki, mohon ingat itu baik-baik Namikaze Naruto," seringai Sasori

.

.

.

.

.

Sasuke memandang langit dari jendela kamar pasien tempatnya berbaring kini. Dia menghela napas mengingat masa lalunya.

Flashback on

"INI SEMUA KARENA KAU MELAHIRKAN ANAK PEREMPUAN."

"MEMANGNYA AKU YANG MEMINTA DIA MENJADI PEREMPUAN? MENGHARAPKAN DIA LAHIR SAJA TIDAK PERNAH."

"KAU TAU KAN! MEMILIKI ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA UCHIHA ARTINYA MENURUNKAN HARGA DIRI UCHIHA."

Uchiha kecil itu hanya bisa diam melihat pertengkaran orang tuanya di hadapannya sendiri. Walaupun masih berumur 7 tahun. Tapi otak cerdas Uchihanya dapat memproses maksud kedua orang tuanya dengan baik. Sasuke kecil pun akhirnya memilih untuk berpura-pura bersikap layaknya laki-laki yang kuat dihadapan kedua orang tuanya walau sebenarnya dia seorang gadis kecil yang rapuh. Semua usaha itu dia lakukan untuk mendapat pengakuan dari sang orang tua. Namun semua tidak sesuai dengan prediksinya. Ketika Sasuke beranjak dewasa, ayah dan ibunya membuangnya jauh-jauh dari keluarga itu. Tidak ada kontak komunikasi. Hanya via wesel kontak tidak langsung itu terjadi, hanya beberapa kata dari sang ibu 'pergunakan uang ini dengan baik'. Walau begitu Sasuke tetap menerimanya dengan senyuman. Dia tau, walau hanya sedikit ibunya masih memperhatikannya disana.

Flashback off

"Sasu-chan~"

Sasuke kembali ke alam sadarnya. Dan mengalihkan pandangannya pada sang tunangan yang sekarang menghambur pelukan padanya.
"Aku senang sekali kau sudah sadar kau tidak apa-apa kan?" Naruto menatap Sasuke intens.

Sasuke menggeleng pelan matanya terperangkap lagi akan keindahan mata biru sang Namikaze.

"Yokatta," Naruto mendekatkan wajahnya. Sasuke hanya bisa terdiam menunggu aksi sang Namikaze. Tinggal beberapa centi lagi hingga... tiba-tiba pintu terbuka.

"Hei, kalian tunda dulu bersenang-senangnya ya.. aku ada tamu untuk kalian," Kyuubi tersenyum jahil pada mereka berdua. Naruto hanya mencak-mencak sendiri dan sang Uchiha setengah mati menahan ekspresi stoicnya.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Suigetsu muncul dengan sekeranjang buah dan langsung berjalan cepat menghampiri Sasuke. Entah kenapa dia malah seakan tidak sadar dengan kehadiran Naruto dan mendekat kearah Sasuke sehingga menciptakan jarak antara Naruto dan Sasuke. Sukses saja itu membuat Naruto kesal.

"Aku tidak apa-apa Sui."

"Terus saja begitu, anggap saja aku tabung oksigen," Naruto melipat kedua tangannya di dada.

Suigetsu terkekeh geli,"haha.. ya ya ya maafkan aku, tenang saja aku tidak tertarik untuk jadi Uke nya Sasuke."

Seketika hening hingga.. (NB : Sui masih gak tau Sasu perempuan)

"BWAHAHAHAHAHAHHAHA."

"Hee.. kenapa kau malah tertawa Naruto?"

Naruto tertawa tanpa berhenti sedangkan Sasuke hanya tersenyum simpul sedikit. Sui hanya bisa bingung menatap kedua temannya itu. Kyuubi yang melihat dari jauh pun ikut tersenyum.

.

.

.

.

.

2 hari kemudian (Rumah Sakit)

"Sasu, ayolah.. tinggal dirumahku saja ya."

"Tidak Dobe."

"Kau keras kepala sekali lukamu belum sembuh benar."

Sasuke membalikkan tubuhnya menghadap Naruto

"Aku baik-baik saja," Sasuke memasukkan seluruh bajunya ke tas dan beranjak keluar dari kamar rumah sakit. Naruto menyusulnya dari belakang dan mengikutinya sampai pintu depan rumah sakit.

"Aku akan mengantarmu kerumah."

Naruto menarik tangan Sasuke dan membawanya ke mobil yang sudah berada di depan gerbang. Pak Tanaka membukakan pintu untuk mereka berdua lalu kembali ke bangku supir dan mulai membawa mobil itu menjauh dari rumah sakit. Sasuke dan Naruto berada di kursi belakang. Sedikit-sedikit Naruto melirik kearah Sasuke.

"Ada apa Dobe?"

"Ehm.. tidak apa-apa."

"Dobe, luka apa itu? Seingatku, kau tidak terluka sama sekali ketika kejadian malam itu?"

"Ehm.. ano ini bekas latihan Karate kemaren," Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap sebentar perban di telapak tangannya.

"Latihan karate?"

Naruto hanya nyengir rubah,"Eh Teme, Sejak kapan kau memperhatikanku?"

"Apa kau sudah mulai ada perasaan padaku? Huwaaaa senangnya."

Sasuke menghela napas dan tetap memasang muka stoicnya. Dalam hati sebenarnya Sasuke juga bertanya-tanya sejak kapan dia memperhatikan orang begini. Biasanya dia tidak pernah peduli dengan sekitarnya mau ada bom kek alien kek dia hanya peduli pada dirinya sendiri.

"Dasar bodoh, untuk apa kau latihan karate?"

"Aku ingin menjagamu Teme, aku ingin jadi laki-laki sejati demimu."

Sasuke terkejut dan menoleh kearah Naruto, "Eh?"

Naruto tersenyum rubah. Tanpa disadari oleh Sasuke mukanya kini telah memerah.

"Kau sakit lagi Teme? Mukamu merah."

"Ti-tidak," sasuke membuang muka.

.

.

.

.

.

"Ayo Naruto kuatkan kepalan tanganmu."

"Ugh.. gampang kalau hanya bicara saja Sasori."

"Tarik kuda-kudamu kebelakang, busungkan dadamu Naruto."

Keringat Naruto bercucuran diantara pelipis dan dadanya yang setengah terbuka membuat Sasori mau tak mau mengakui keseksian tubuh mantan uke nya itu. Sungguh ini ujian berat bagi Sasori untuk tidak menerjang Si pemilik kulit tan.

"Ada apa Sasori? Lanjutkan intruksimu."

"Eh.. maaf, tarik kakimu lebih kebelakang lagi Naruto."

2 jam kemudian

"Ini minum lah," Sasori memberikan jus kaleng pada Naruto.

"Huft.. sulit sekali ternyata."

"Apa kau akan menyerah?"

"Tidak," Naruto meminum jus nya lalu melanjutkan kalimatnya "Tidak akan, sampai aku bisa menjadi laki-laki sejati didepannya."

"Sudahlah, menyerah saja."

"Apa maksudmu Sasori? Aku tidak akan menyerah semudah itu."

Sasori menatap Naruto intens, "kembalilah padaku dan kau tidak perlu bersusah payah seperti ini Naruto."

"Cukup Sasori aku menemuimu kembali hanya untuk membantuku menjadi lebih kuat kumohon jangan berharap lebih."

Sasori mendekati Naruto,"kau belum mendapat pengakuan darinya kan? Untuk apa melakukan sesuatu yang sia-sia."

"Tidak Sasori, aku yakin aku bisa mendapatkan hatinya asalkan aku bersungguh-sungguh aku.."

Sasori meraih dagu Naruto, "Wajah manismu tidak cocok untuk latihan berat seperti ini Naruto, bersamaku kau akan mendapatkan apapun yang kau mau."

Sasori mendekat dan berusaha mencium Naruto namun Naruto segera meninjunya.

"APA-APAAN KAU SASORI!" Naruto berdiri dan menjauh dari Sasori. Sasori mendekat berusaha menggapai Naruto kembali. Naruto menghindar dan memberikan serangan-serangan yang dia pelajari 4 hari ini sebisanya. Tentu saja usaha Naruto tidak ada artinya bagi seorang Sasori yang sudah bersabuk Hitam. Sasori berhasil menangkap tangan dan pinggul Naruto membawa Naruto mendekat dan...

BUAGH

"Maaf mengganggu, aku disini mencari Naruto."

Naruto berhasil lepas dari Sasori. Sasori memegang kepalanya yang terkena pukulan lalu berbalik kebelakang untuk melihat pelaku pemukulan yang tengah bertanya padanya itu. Si pelaku hanya memasang wajah stoic tanpa dosa.

"Sasuke," Naruto terkejut mendapati gadis itu memukuli Sasori

"Cih.. jadi kau yang bernama Sasuke itu," Sasori memandangi Sasuke dari atas sampai bawah.

"Hn.. ada masalah?" Sasuke tetap memasang muka stoic nya

Tiba-tiba Sasori menyerang Sasuke. Sasuke menghindar dengan baik. Menciptakan suasana pertarungan yang sengit. Pertarungan kalau yang dilihat dari luar seperti pertarungan antar seme untuk memperebutkan sang uke. Disisi lain Naruto mengepal dan mengeretakkan giginya begitu kuat. Dia merasa paling lemah disini padahal dialah sang laki-laki. Dengan emosi yang tinggi Naruto menyerang sasori dari belakang dan menarik Sasuke kebelakang tubuhnya.

"Hentikan itu Sasuke, ini urusanku sebagai laki-laki."

Sasuke memandang laki-laki yang lebih tinggi darinya itu.

"Tapi Naruto."

"Lihat hasil latihanku ini Sasuke," Naruto tersenyum dengan maskulinnya. Auranya berubah menjadi sangat laki2 membuat Sasori sempat menggidik ngeri.

"Lawan aku Sasoriiiiii," Naruto menerjang Sasori.

PLAK

Sasori menepuk jidat Naruto dengan telapak tangannya.

"ADUH... SAKIT," Naruto memegangi jidatnya yang kini merah dan berbekas telapak tangan.

"HAHHAHAHA, terlalu cepat bagimu 100 tahun untuk mengalahkanku Naruto."

"KURANG AJAR," Naruto kembali menonjok Sasori, namun bisa Sasori hindar dengan gampang.

"Sudahlah, ini konyol," Sasuke duduk bersender didinding dengan muka malas.

Naruto menoleh pada Sasuke,"Eh, tunggu dulu kenapa kau bisa ada disini Teme?"

"Cih, dasar Dobe baru menyadarinya sekarang."

"Jika sedang berkelahi perhatikan terus lawanmu Naruto," tiba-tiba sasori mengunci pergerakkannya dari belakang.

"Sudah, berhenti main-mainnya aku yang membawa Sasuke kesini," Kyuubi muncul tiba-tiba dengan membawa beberapa kaleng jus dan pizza.

"Wah Kyuubi kau membawakan pesananku kan?"

"Hee pesanan? Sasuke? Kyuubi-nii? Apa-apaan ini aku tidak mengerti."

"Dasar Dobe otakmu memang lambat sekali ya," jawab Sasuke

"Tadinya aku berniat sendiri datang kemari tapi ketika lewat rumah Sasuke aku mampir dulu dan waktu dia bertanya soal latihan karatemu aku membawanya saja kemari sebelum berangkat aku sudah memberi tahu Sasori aku akan datang lalu dia minta aku membelikannya pizza ini sekalian." Jelas Kyuubi panjang lebar.

"Ja-jadi.."

"Iya, Naruto.. tadi aku hanya bercanda, aku hanya ingin lihat bagaimana ekspresi tunanganmu."

"Aku sudah menyadari Sasuke ada di depan pintu tapi sepertinya aku gagal, tidak ada sedikitpun ekspresi darinya walaupun dia sudah memukulku."

"Darimana kau tau kalau dia Sasuke?" tanya Naruto penasaran.

"Feeling."

Sasori mengambil 2 kaleng jus dan berjongkok di depan Sasuke memberikan salah satunya pada sasuke.

"Silahkan Nona," Sasori tersenyum manis.

"Hn.. Arigatou" Sasuke mengambil jus kaleng itu dan meminumnya. Sasori terus memperhatikan wajah Sasuke.

"Ada apa?" tanya Sasuke yang merasa sedikit terganggu.

"Hm.. sungguh aku tidak percaya kau ini seorang perempuan."

"tapi kalau diperhatikan lagi ternyata kau cukup cantik juga ya," lanjut Sasori sambil tersenyum.

Naruto menyemburkan jus kaleng yang tengah dia minum. Sasuke hanya menatap sasori dengan wajah stoicnya. Tidak ada wajah tersanjung ataupun tersinggung sedikitpun.

"Berhenti menggoda tunanganku SASORI," Naruto menarik kerah belakang Sasori dan menyeret Sasori menjauh dari Sasuke. Kyuubi tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sasuke pun tersenyum melihatnya. Kedua laki-laki yang tengah main seret-seretan itu terdiam seketika melihat pemandangan manis didepan mereka. Sasuke yang menyadari tengah diperhatikan pun kembali kewajah stoicnya.

"Ada apa?"

Kedua laki-laki itu menggeleng dengan wajah yang memerah. Masing-masing dalam hati mereka berkata 'Cantiknya'. Uchiha gitu lho, mau pakai pakaian se-lelaki apapun ketika tersenyum kecantikannya takkan pernah bisa tertutupi.

"Hei Naruto," ucap Sasori pelan dan hanya terdengar oleh Naruto.

"Sepertinya kita akan jadi saingan kali ini."

"Hah, apa?"

"Kalau kau tidak bisa mendapatkan hatinya dengan cepat jangan salahkan aku kalau dia jatuh dalam pelukanku," seringai Sasori.

"APA!" Suara Naruto yang menggelegar seketika. Sasori tersenyum menantang pada Naruto. Kyuubi menoleh melihat mereka berdua dan Sasuke memasang wajah stoic, tak perduli.

TBC


A/N : Gyaaaaa gomen gomen telat sangat... Yosh... UAS saya dah selesai IP saya yang random pun sudah keluar... ahahaha ya sudah lah...

Nara hikari : terimakasih banyak... heheh ini sudah update

Uciha hikari : terima kasih banyak... hehehe masih bnyak kok cacat nya T-T salam kenal jugaaaa

kazuki nightnatsu : hohoho tenang... Naru gak apa2.. tapi sasu saya buat koma #plak

moopad : arigatou~~

La nina que : Sip... milady heheh

Apdian : hheheheh terima kasih banyak...

Monkey D eimi : iya donk... kan Naru akan melakukan apapun demi Sasu, yooo makasih...

Lady Spain : hehehe ya kan tuntutan alur.. makasih... yooo ni apdet :3

Chaachulie : hehehehe... sengaja :P jadi yang demen Yaoi atau straight bisa menikmati (mungkin) yooo makasih

Nalucuke : yooo makasih...


akhir kata... REVIEW ya MINNA~ ^^v