xxXxx
Miracle Of Giving Fool
Cast:: Kim Yesung, Kim Ryeowook, and other.
Genre:: Romance, Hurt/Comfort, Angst.
Rate:: M.
Warning:: Gender switch, AU, OOC, and Typos.
Disclaimer:: This story is mine. For the cast in here I just borrow their name so you can easily imagine the story. Adapted from Korean Movie, named Miracle Of Giving Fool same as the title. Last, Kim Jongwoon aka Kim Yesung is MINE.
xxXxx
Chapter 2
Srak srak srak.
Suara sepatu yang nyaring terdengar dari rumah kecil yang seperti tidak berpenghuni. Namja bermata bulan sabit itu terus saja berjalan memutar dipekarangan rumahnya. Berjalan membentuk zig zagdan terus memutar. Dia tidak terlihat bosan.
Suara gerbang besi dibuka oleh seseorang. Si bodoh itu… mempunyai adik perempuan yang sangat cantik. Selain cantik, yeojya itu bisa dikatakan hampir sempurna. Jika saja ia tidak mempunyai oppa yang bodoh dan rumah yang terlihat kumal.
Yeojya berambut sebahu itu menatap Yesung muak. Seragamnya yang masih dipakai dari pagi sampai selarut ini bahkan masih bagus dibadannya. Ranselnya juga tidak terlihat mahal tapi cocok dengannya. Bukannya sudah jelas? Ia nyaris sempurna.
"Mwohaneun geoya?"
Yesung mendongak melihat yeojya cantik itu, senyumnya kembali merekah. "Oh? I-ini… Ryeowook yang memberikan oppa sepatu ini, Kibummie. O-oppa ingin memakainya dengan baik dan benar, karena Ryeowook yang menyuruhku."
Yeojya cantik itu mengumpat pelan.
"Ta-tapi sepatu ini terus saja lepas. Aku mencoba untuk berjalan dengan benar, tapi sulit sekali!"
"Dumana sepatumu yang biasa kau pakai?" Tanyanya dengan suara tinggi.
"Ah… itu " Yesung menunduk kikuk.
Yeojya cantik itu mendesis. "Aish, babo gateun."
Kim Kibum, yeodongsaeng Yesung melepas sepatu sekolahnya dan memasuki kamarnya. Pintu dorong kamarnya itu dia tutup dengan kencang, sehingga terdengar debaman keras. Namja tampan itu sedikit terlonjak. Yesung menghela nafasnya dan menunduk, menyesal.
Tapi, penyesalannya dibayar oleh Tuhan. Butiran salju berjatuhan dari langit. Yesung mendongak dan menatap ribuan butiran salju yang siap untuk menyentuh bumi. Yesung membuka tangannya untuk menangkap butiran salju itu. Setelah satu butir salju berada ditelapak tangannya, ia kembali tersenyum.
"Wah, turun salju…" Gumamnya senang.
xxXxx
Ryeowook POV
Aku membuka pintu yang menuju kebalkon dikamarku. Hah… turun salju. Semakin lama semakin dingin saja negeri ginseng ini. Tapi tentu saja tidak akan membuatku bosan. Aku mendekati pembatas dan membuka telapak tanganku.
Aku memang sangat menyukai musim gugur, tapi biarkan musim dingin ini datang. Tahun depan, aku yakin musim gugur akan lebih menyenangkan.
Aku mendengar suara celotehan dari arah bawah. Kulihat Yesung sedang melakukan sesuatu dibawah sana. Dia terlihat sangat senang memakai sepatu yang kuberi sambil berjalan dengan pola zig zag. Dia menggemaskan!
"Tetap sama. Bangapseubnida, Yesung-ah." Gumamku pelan.
Aku kembali memasuki kamarku untuk memakai syal dan sarung tangan. Tentu saja tidak ketinggalan sweater yang tidak terlalu tebal. Aku keluar rumah dan menghampiri Yesung. Dia tidak menyadari keberadaanku.
"Mwohaneun geoya, Yesung-ah?"
Dia menoleh dan tersenyum. "Ah! Ryeowook bilang tidak apa-apa. Ryeowook bilang aku boleh menemuinya. Ryeowook-ah, kau lihat? Kutunjukan padamu, Ryeowook-ah. Kau lihat, Ryeowook-ah? Kutunjukan padamu."
Aku menatapnya bingung, dia hanya berputar-putar. "Tunjukan padaku apa? Kau sedang menari kah?"
"Aku bagus kan? Keureucho? Aku latihan dan latihan terus!"
"Ta-tapi, apa yang kau lakukan?" Tanyaku bingung.
Dia terus berputar-putar. Dan aku juga semakin tidak mengerti. Yesung sedang apa ya? Dia hanya sedang berjalan, polanya zig zag, memakai sepatu yang kuberikan.
Ah… dia sedang berlatih memakai sepatu yang kuberikan.
"Bagus! Sepatumu terpasang dengan benar," Pujiku padanya. "Wah, kau sungguh hebat! Kau berjalan dengan baik dan benar!" Dia berhenti berjalan memutar dan berdiri didepanku. "Itu langkah terbaik yang pernah ku lihat."
Yesung tersenyum senang dan mengangguk. Dia benar-benar seperti anak kecil. Anak kecil yang terperangkap ditubuh orang dewasa. Aku juga harus memperlakukannya seperti anak kecil, kalau tidak, dia bisa melakukan apa yang tidak bisa kubayangkan.
"Kau datang kemari, hanya untuk menunjukkannya padaku?" Tanyaku.
Dia mengangguk. "Eung! Dan permainan piano Ryeowook yang membuat turun salju. Aku mendengar permainan piano Ryeowook dan bintang-bintang berjatuhan!" Kulihat dia terkekeh.
Aku menundukan kepalaku. Piano ya? Piano yang membuatmu begitu.
"Oh, ne! Ryeowook bermain piano."
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. "Kau.. ingat ketika aku bermain piano?"
Yesung mengangguk semangat, membuat butiran salju yang berada diatas kepalanya terjatuh. Bermain piano ya? Sudah lama sekali aku tidak menyentuh piano. Grand piano yang ada dirumahku pun tidak pernah kusentuh. Yang sering memainkannya hanya kedua orang tuaku.
"Yesung-ah."
"Eung?"
"Haruskah kita pergi berkencan?" Tanyaku sambil memiringkan kepalaku.
Dia membulatkan matanya. "Ke-kencan?"
"Melihatmu… membuatku ingin berjalan juga. Eottokhae?" Tanyaku lagi.
Yesung tampak aneh. Apa dia tidak mengerti apa arti kencan? Ah… tidak mungkin.
"Hah… salju ini mari kita nikmati! Kajja!" Aku menujuk kearah kanan, kemana dia selalu datang dan pergi. "Rumahmu kearah sini kan?"
Aku berjalan kearah yang aku tunjuk, tapi kulihat Yesung malah berjalan kearah sebaliknya. Aku mengerucutkan bibirku, tapi tentu saja dia tidak melihatnya. Aku langsung berlari kecil menyeimbangi langkahnya.
Cha, Yesung-ah. Kencan pertama kita!
Ryeowook POV End
xxXxx
Didepan café kecil itu, terhampar salju yang sudah mencapai setebal dua senti. Tapi yeojya manis yang memakai baju minim yang bisa mengangkat birahi banyak namja itu malah betah memainkan tumpukan salju itu dengan high heels setinggi sepuluh senti miliknya. Dibelakangnya, seorang namja juga berada diluar café sedang menyulut rokoknya.
"Pakailah sesuatu," Ucap namja itu. "Sekarang ini dingin sekali, loh."
Yeojya itu tampak tidak peduli, dia malah menatap langit dan memperhatikan butiran salju. Dia membuka telapak tangannya dan menatap beberapa butir salju yang mendarat ditelapak tangannya. Yeojya itu memakai baju terusan yang hanya mencapai setengah pahanya. Sedangkan bagian atas badannya terekspos sekali.
"Aku tidak ingin bekerja. Dihari seperti ini, aku sungguh tidak ingin bekerja." Ucap yeojya itu lirih.
Namja itu mengalihkan pandangannya. "Pulanglah kalau begitu. Ambilah libur."
Yeojya itu membulatkan matanya dan menatap namja yang sedang menyesap rokoknya. "Jinjja? Bolehkah?"
"Gwaenchana, pergi ajak teman-temanmu." Jawab namja itu.
"Donghae-ah, minum denganku, yuk." Ajak yeojya itu pada Donghae.
Donghae melirik yeojya itu sebentar, lalu memainkan batang rokoknya. "Nan gwaenchana. Ambilah libur kerja."
"Aku tidak membicarakan soal itu. Hanya minum saja, seperti orang-orang biasa," Belum ada jawaban dari Donghae. "Bukan untuk uang. Hanya kau dan aku. Hanya minum bersama, Donghae-ah. Siapa yang bilang semuanya tentang pekerjaan?"
Donghae menatap yeojya itu sambil tersenyum. "Keurae, aku akan tutup café dulu lalu pergi menemuimu di Myeongdong. Hm?"
Samar, yeojya itu tersenyum.
xxXxx
Yeojya bertubuh kurus nan seksi itu menatap cermin dengan senyuman manisnya. Rambut hitam sebahunya membingkai wajah manisnya. Bibir kissable yang biasa dipakaikan lipstick sekarang sudah bersih. Dia sudah mengganti baju kerjanya dengan baju terusan berwarna biru muda yang membuat tubuhnya lebih terlihat manis.
Drrrtt drrrtt.
"Yeoboseyo?" Tanyanya pada seseorang yang menelepon.
"Mood sedang bagus kan? Keluar yuk, sekarang," Ucap namja ditelepon. "Salju sedang turun, Hyukie-ah."
Yeojya itu terdiam. Hyukjae menatap cermin ragu.
"Hari ini, aku tidak bisa Shindong oppa."
"Kau tahu kan, semua keputusan bukan terserah padamu." Namja itu meninggikan suaranya.
Lagi-lagi Hyukjae berpikir keras, alisnya bertaut. "Aku tidak bisa. Aku sudah ada rencana."
"Jangan membuatku kesal. Temui aku disana. Sekarang." Ucap namja itu dingin dan akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.
Hyukjae mengutuk namja yang telah merusak mood-nya. Sekarang, dia harus kembali memakai baju seksi lagi. Pupus sudah harapannya menghabiskan waktu dengan namja yang sudah berdiam dihatinya sejak dua tahun lalu.
xxXxx
Yesung dan Ryeowook sedang berduduk didepan toko kecil yang menjual kue beras dan bakpao. Toko itu sangat sepi. Tentu saja, sekarang sudah hampir jam tutup toko, dan orang-orang juga malas keluar rumah dimalam dingin seperti ini.
"Kau tidak kedinginan?" Tanya Ryeowook sambil menggigit bakpao miliknya.
Yesung menggeleng. "Aniya."
"Kau pakai kaus kaki?" Tanya Ryeowook lagi.
Dan lagi-lagi, Yesung menggeleng.
"Kau perlu kaus kaki untuk menjaga kakimu agar tetap hangat dan juga menjaga sepatumu agar tidak lepas."
Yesung membuka kertas bakpao dan melemparnya sembarangan. "Terlalu malas untuk memakainya."
Ryeowook terkekeh dan membelai puncak kepala Yesung dengan sayang. Entah kenapa, perlakuannya seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya sendiri.
"Kau tahu?" Ryeowook menggantungkan kata-katanya dan menatap Yesung yang duduk disamping kanannya. "Yesung-ah."
"Eung?" Jawab Yesung tampak tidak peduli.
"Kau tahu? Aku ini melarikan diri," Ryeowook menurunkan bakpaonya dan menatap menerawang. "Aku telah hancur. Masa yang berharga."
Yesung menghentikan acara makannya, menatap takut. "Hancur?"
"Bukan kecelakaan besar ataupun lainnya." Ucap Ryeowook lirih.
"Kecelakaan… kecelakaan besar?" Ujar Yesung sambil melamun.
"Ah… andwae, Yesung-ah. Aku… salah bicara. Nan gwaenchana," Jelas Ryeowook panik. Dia hanya tidak ingin Yesung sedih. Ryeowook mencari-cari topik lain yang bisa mengalihkan pembicaraan. "Kau tahu? Aku juga bisa membuat roti."
Yesung menatap Ryeowook dengan tatapan seperti anak kecil yang baru saja menangis lalu diberi balon. Senyumnya kembali terpasang diwajah tampannya.
"Berbeda dengan roti bakarmu," Aku mencoba mengingat kenanganku sewaktu aku berada di Eropa. "Aku membuat roti sepanjang ini," Aku merentangkan tanganku. "Aku mengisinya dengan daging dan bawang."
Aku memperhatikan jari-jari tanganku yang terbilang lentik dan terlihat kurus dan kecil. Kusatukan jari-jari tanganku. "Maksudku… tanganku tidak bermasalah dalam urusan dapur. Bahkan setelah dua puluh tahun pada piano, aku tidak bisa memainkan satu nada pun. Hal itu membuatku takut setengah mati. Aku bahkan tidak bisa untuk membayangkannya. Karena… semua yang kumiliki adalah piano."
Kulihat Yesung yang kembali asik dengan makanannya.
"Yesung-ah, aku tidak tahu harus berbuat apa- apa," Ryeowook menatap Yesung penuh tanya. "Apa yang harus kulakukan?"
Yesung terkekeh dan tersenyum sambil menatapku.
"Senyum? Hanya itu yang harus kulakukan?"
Lagi-lagi Yesung terkekeh dan mengangguk kecil.
"Ne, arraseo." Ryeowook tersenyum kecil pada Yesung.
Keduanya hanya bisa diam menatapi salju yang terus saja berjatuhan dari langit. Sedangkan seorang yeojya dirumah kecil itu juga menatap langit yang terlalu indah hari ini. Dia sangat tidak suka musim dingin seperti ini, tapi akhirnya dia sadar kalau musim dingin saat indah.
Tiba-tiba ada sepasang sepatu melayang dari luar rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan tukang rongsokan melemparkan sepatu dari luar rumah. Sepatu butut yang selalu ditinggalkan oppanya dijalan. Sepasang sepatu yang terakhir kali oppanya pakai. Sepasang sepatu yang dia tinggalkan dirumah Ryeowook.
Kibum mengambil kedua sepatu itu dan membawanya. Dia membuka sebuah gudang kecil disamping rumahnya. Dia membukanya dan melempar sepasang sepatu itu asal. Digudang itu berisi banyak sepatu dan mainan anak kecil yang sudah tidak terpakai. Kibum menghela nafasnya dan menutup gudang kecil itu dengan bantingan.
Diwaktu yang sama, Donghae sudah berdiri disamping toko ramyun yang sering ia datangi bersama Hyukjae. Dia sudah menunggu Hyukjae sejak lima belas menit lalu. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tapi tidak diangkat. Namja itu menghela nafasnya lelah dan mulai menyesap rokoknya lagi.
xxXxx
Ryeowook mengusap-usap tangannya dan menempelkan tangannya kepipinya yang sudah hampir beku. Langkahnya terhenti ketika matanya melihat dua jejak orang yang berlainan. Yang satu, jejak kaki orang berjalan normal. Yang satu terlihat seperti pohon natal jika melihatnya dengan terbalik.
Yeojya itu terkekeh melihat dua perbedaan yang terlalu mencolok itu. Dia mulai berjalan mengikuti gerakan kaki Yesung yang terlihat dihamparan salju ini. Semakin lama ia mengikuti, semakin ia senang. Ternyata ini yang dirasakan Yesung. Dia seperti bermain skate diatas es.
Baru saja ia ingin terjatuh karena terlalu cepat, dia melihat sepasang kaki yang berdiri dihadapannya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang pernah ia temui sebelumnya. Tampang namja itu tampak kesal.
"A-annyeonghaseo." Ucap Ryeowook kikuk, malu sekali bertemu dengan seseorang ketika kelakuannya sedang seperti ini.
Namja itu tidak menjawab, dia melewati Ryeowook dalam diam. Tapi setelah hampir tiga langkah, langkahnya terhenti. Namja itu menoleh kearah Ryeowook yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Gadis kopi," Ryeowook seketika seperti menjadi patung. "Annyeong."
Ryeowook membalikan tubuhnya cepat. "Bagaimana bisnismu? Aku belum menemukan café yang bagus," Samar, namja itu tersenyum. "Bolehkan jika aku pergi kesana lagi? Keurae, annyeong."
Ryeowook kembali berjalan seperti normal. Dia tidak ingin ada yang melihatnya sedang agak error seperti tadi. Donghae, membalikan tubuhnya juga. Tersenyum melihat yeojya mungil itu.
xxXxx
Donghae mendekati rumah Yesung dengan berjalan seperti Ryeowook tadi. Setelah tepat didepan gerbang rumah Yesung, dia melompat dan menghentakan kedua kakinya untuk membersihkan sepatu dari salju yang sempat menempel.
"Yesung-ah!" Donghae memanggil nama Yesung dengan suara lantang.
Karena belum ada jawaban, dia memanggil nama itu lagi. "Yesung-ah, ayo kita main!"
Tidak lama, ada sesuatu yang terlihat merangkak dan membuka pintu rumah itu. Yesung tersenyum walaupun matanya masih terpejam sedikit. Dia sudah tidur daritadi.
"Donghae-ah, aku datang!"
xxXxx
Kedua namja itu sekarang sudah berada dikedai ramyun. Keduanya sudah selesai makan, bahkan keduanya sudah meminum masing-masing sebotol soju. Yesung masih baik-baik saja, sedangkan Donghae. Donghae sudah sedikit mabuk karena dia memang tidak biasa meminum soju. Dia hanya kuat merokok.
"Yei, Yesung-ah!" Donghae mendekatkan wajahnya pada Yesung, membuat Yesung menutup hidungnya karena bau nafas Donghae yang benar-benar bau alcohol.
"Eh? Kau tidak suka denganku, Yesung-ah?" Tanya Donghae sambil merangkul Yesung yang sudah kebauan. "Sini… sini kau."
Dengan segera, Donghae mengecup pipi Yesung dan tertawa. Dia benar-benar sudah mabuk berat, dan tidak seharusnya minum soju lagi. Donghae terlalu marah karena Hyukjae yang tidak mengindahkannya. Mereka tidak jadi minum dan Hyukjae juga tidak bisa dihubungi, semakin membuat Donghae frustasi.
Yesung mengambil beberapa uang dari sakunya dan membayar ke ahjumma pemilik toko dan membawa Donghae pulang. Dia tidak bisa mengantar Donghae pulang kerumah Donghae, karena appa Donghae bisa saja memukuli Donghae karena mabuk. Jadi Yesung membawa Donghae pulang kerumahnya.
Sudah hampir jam setengah dua malam, jalanan tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang bersuka cita karena musim dingin sudah datang kembali. Meninggalkan musim gugur yang Yesung sangat sukai. Diarah yang berlawanan, Yesung melihat Hyukjae sedang bergandengan tangan dengan seorang namja gemuk yang biasa dia lihat.
Hyukjae juga melihat Yesung sedang merangkul Donghae yang sudah teler dan mabuk. Hyukjae menatap Donghae khawatir. Ketika mereka berpapasan melewati satu sama lain, Hyukjae tetap mengarahkan matanya pada Donghae yang oleng dibopong oleh Yesung. Sedangkan namja gemuk yang bernama Shindong itu tampak tidak peduli walaupun sebenarnya dia tahu kalau namja itu Donghae. Mata Hyukjae mulai berkaca-kaca dan hidungnya mulai memerah.
xxXxx
Meja kecil yang tertutup tudung saji itu tergeser dan membuat seluruh benda yang berada diatasnya berjatuhan ke lantai. Membuat suara berisik yang mampu membangunkan siapapun yang masih tidur jam 7 pagi itu.
Kibum yang tidak sengaja menabrak meja itu hanya meringis kesal. "Aish! Kenapa benda ini selalu disini setiap hari sih! Memangnya semua tumpukan panci itu menjaganya agar tetap hangat, eh?" Dia menghela nafasnya kesal. "Yang dia bisa buat hanya roti bakar."
Kibum menutup pintu kamarnya dengan bantingan. Kakinya melangkah dengan dihentakan menuju bagian depan rumahnya dan memakai sepatunya untuk berangkat kesekolah. Walaupun terbilang masih pagi, dia tidak mau telat kesekolah. Kibum salah satu anak rajin dan teladan disekolah. Bahkan peringkat satu selama dua tahun berturut-turut.
Donghae merangkak keluar dari kamar Yesung dan melirik Kibum yang sedang memakai sepatunya. Kibum juga menoleh kearah pintu kamar Yesung yang dibuka. Kibum hanya memastikan, biasanya Yesung berangkat jam 5 pagi untuk menjual roti bakar, dan tidak ada orang lain selain dirinya dirumah. Tapi ada yang membuka pintu kamar Yesung, membuatnya sedikit terkejut.
"Lama tidak bertemu, Kibum-ah," Donghae tersenyum sambil menahan sakit kepalanya akibat mabuk malam tadi. "Kau mau berangkat kesekolah?"
Kibum hanya mendecak kesal dan kembali melirik Donghae yang kembali merangkak menuju depan kamar Kibum. Tangan Donghae bergerak membereskan panci-panci dan piring kecil yang menutupi dua buah roti bakar hangat dan dua susu vanilla yang sudah disediakan Yesung.
"Dimana Yesung?"
Kibum kembali memakai sepatunya. "Mungkin dia sudah pergi lebih dulu."
Donghae duduk dan menatap Kibum tidak percaya. "Kau masih memanggilnya dengan nama sampai sekarang?"
Kibum berhenti sebentar dan mendecak kesal lagi. Kibum memang tidak pernah menyebut Yesung dengan embel-embel 'oppa', terlalu malas dan tidak sudi untuk memanggil Yesung dengan sebutan 'oppa'. Dia lebih suka menyebut nama Yesung dengan biasa, tidak memakai 'oppa'. Oh dengan catatan, Kibum tak suka menyebut nama Yesung.
"Disana ada sarapanmu, kan?"
Kibum memasang tas ranselnya dan berdiri untuk membenarkan rok pendeknya. Baru saja kakinya akan melangkah, tangan Donghae menarik lengannya.
"Ini satu untukmu, makanlah sebelum kau berangkat." Donghae memakan satu roti dan menyodorkan Kibum piring kecil yang berisi roti bakar buatan Yesung.
Kibum menatap roti bakar itu dengan pandangan jijik. "Aku tidak mau makan sampah itu."
Donghae menatap Kibum marah. "Kenapa kau bicara seperti itu? Oppamu membuatkannya untukmu. Makanlah walau hanya segigit "
"Karena dia tidak bisa melakukan hal lainnya!" Bentak Kibum.
"Kibum-ah "
Kibum membalikan tubuhnya dan berniat berjalan menuju gerbang rumahnya. "Tutup pintunya kalau kau pergi. Dan satu lagi," Kibum kembali melirik Donghae. "Kalau kau tidak mau makan, buang saja!"
"Yah Kibum-ah!"
Kibum tidak mengindahkan panggilan Donghae. Tangannya bergerak membuka gerbang rumahnya dan menutupnya kembali dengan kasar. Donghae hanya bisa menghela nafas dan menundukan wajahnya. Sebenarnya dia sudah tahu bagaimana Kibum, tapi kali ini dia merasa tidak enak pada Yesung.
xxXxx
Yesung menatap kearah mana Kibum akan datang. Senyumnya merekah ketika batang hidung Kibum sudah terlihat. Meskipun wajah Kibum terlihat kesal, Yesung tetap tersenyum.
Gadis cantik itu tidak menyukai oppanya sama sekali.
"Yesungie, dengarkan umma."
Yesung menatap Leeteuk. "Ne, umma?"
Leeteuk tersenyum manis pada Yesung. "Kau adalah seorang oppa. Seorang oppa harus menjaga dan merawat dongsaengnya. Apabila umma… apabila umma telah tiada, kau harus merawat dongsaengmu dengan baik, ne?"
Yesung mengangguk cepat. "Ne, umma."
"Hanya kau seorang yang dapat umma tinggalkan untuk Kibumie," Leeteuk diam sebentar. "Umma harap, umma bisa berbuat lebih banyak. Tapi sayang, umma tidak bisa. Umma tidak punya apa-apa lagi yang tersisa. Hanya kaulah yang bisa umma tinggalkan untuknya."
"Umma… apa umma tahu? Aku tidak akan pernah menangis, tidak akan pernah." Yesung menatap sang umma dengan wajah senang, dia tidak boleh sedih.
Leeteuk merengkuh anak sulungnya dengan kasih sayang. "Saranghae, nae aegya."
xxXxx
Ryeowook POV
Aku terkekeh dan menatap langit-langit café dengan senyuman. Terlalu sayang untuk meredam kesenangan yang sedang aku rasakan. Rasanya pipiku tidak mau tidak berkontraksi seperti sekarang ini. Maunya terus tersenyum!
Kuperhatikan Donghae yang sedang menyulut api ke rokok yang berada dibibirnya. Aku senang aku dapat teman baru seperti Donghae yang baik dan nyambung. Donghae juga ternyata satu SD denganku dulu.
"Lalu, bagaimana?" Tanyanya lagi.
"Aku terjebak dalam kejenuhan waktu itu, tapi… aku berlari pada teman lamaku. Seorang teman yang telah lama aku lupakan," Aku kembali tertawa mengingat Yesung, kalau mengingatnya, membuat senang saja. "Dia selalu terlihat sedikit kotor, mengingat hal-hal bodoh. Dan juga, bicara padanya bisa membuat frustasi. Dan kau tahu? Cara berjalannya begitu konyol dan lucu. Tapi… saat aku bersamanya, semuanya terasa lebih baik."
Donghae menatapku. "Ryeowook-sshi, dia yang kau bicarakan adalah Yesung, kan?"
Aku menatapnya kaget. "Eh? Ne… tapi bagaimana kau tahu? Apa kau mengenalnya?"
"Kukira kau tidak ingat siapa aku. Yesung… adalah sahabat baikku. Kupikir mungkin Yesung yang dulu membawamu kemari." Donghae menatap kearah lain.
"A-aku tidak mengerti. Apakah telah terjadi hal yang buruk pada Yesung?"
Dia kembali menatapku dengan wajah datarnya. "Tanyakan sendiri padanya. Dia tidak pernah berbohong."
Berarti benar… dia pernah merasakan sesuatu yang buruk. Aku yakin sekali dengan itu. Tapi apa yang membuatnya seperti ini? Aku… penasaran sebenarnya apa yang terjadi padanya. Kudengar suara pintu yang terbuka. Seorang namja gemuk yang terlihat sedikit mapan menatapku dan Donghae bergantian.
"Aigo~ sibuk berkencan, eh?" Tanya namja gemuk itu, matanya beralih pada beberapa tempat duduk yang kosong. "Kenapa pelacur itu belum datang?"
"Dia bilang dia sedang sakit. Dia akan tiba sebentar lagi." Jawab Donghae pelan, hampir seperti berbisik.
Namja itu mengangguk dan duduk dikursi terdekat denganku. "Ah, agasshi. Jangan hanya duduk dan minum kopimu itu. Kau tidak tahu ini café apa, eh?"
Aku membetulkan letak dudukku dan memilih untuk turun dari kursi bar yang sedikit tinggi. Aku menatap Donghae tidak enak. "Kurasa, aku akan pergi."
"Ryeowook-sshi," Aku menatap Donghae yang terlihat seram sekarang, dia menatap marah namja gemuk itu. "Datanglah lain kali. Masih banyak kopi disini."
Aku mengangguk dan merunduk pamit. Aku membuka pintu café itu dan keluar secepat mungkin. Aura namja gemuk itu tampak tidak enak bagiku. Langit malam membuatku sedikit ngeri, apalagi jalanan juga sepi. Yesung… sedang apa ya?
Kudengar suara seorang namja dengan menyanyikan lagu Bintang Kecil didepan rumahku. Baru saja aku memikirkannya, dia sudah ada didepan mataku. Tunggu, mendengarnya bernyanyi aku teringat sesuatu.
Aku menatap grand-piano berwarna hitam ini dengan takut. Ini pertama kalinya aku bermain piano diatas panggung. Aku sangat gugup sehingga aku hanya bisa terpaku dan tidak bisa memainkan piano ini. Tapi, aku mendengar seseorang menyanyikan lagu ini. Dan itu membantuku untuk mengingat melodinya. Karena lagu bintang kecil itulah, aku bisa bermain piano dimalam itu. Anak kecil yang bernyanyi itu… kau lah orangnya.
Dimalam natal. Ketika aku bermain piano, salju juga turut mendengarkan permainan pianoku. Butiran salju turun dengan indahnya. Mengiringi permainanku dimalam itu.
Aku masih memandangi Yesung yang setia berdiri didepan rumahku sambil menyanyikan lagu Bintang Kecil. Aku tersenyum kecil melihat sosok namja yang sudah menatapku dengan senyuman khasnya.
xxXxx
"Yesung-ah."
Dia menoleh padaku. "Ne?"
"Pertama kali aku berjumpa denganmu lagi adalah ditempat ini."
Yesung tersenyum malu, begitu manis. Aku tertawa bersamanya. Ya… dibukit yang tidak terlalu tinggi ini, aku melihatnya berguling turun. Aku tersenyum kecil dan kembali menerawang.
"Kudengar kau seriap hari selalu disini. Kenapa kau selalu kesini?"
Dia tersenyum. "Menunggu bintang-bintang. Sangat dekat dengan langit. Dan juga dari tempat tinggi ini, aku melihat Ryeowook-ah datang."
"Kau… melihatku datang?" Yesung mengangguk. "Apa kau menungguku selama ini?"
Yesung terdiam sebentar dan memandangku. "Uh-huh."
Yesung kembali tertawa. Aku pun hanya tersenyum simpul. Aku belum berani memastikan kenapa dia menungguku selama sepuluh tahun ini. Aku masih belum berani…
Ryeowook POV End
xxXxx
"Donghae-ah."
Donghae mengangkat wajahnya dan melihat Hyukjae yang melangkah mendekatinya. Hyukjae terlihat lebih cantik dan tidak memakai pakaian seksi. Dia hanya memakai baju terusan putih berlengan selutut dan mantel cokelat tua. Yeojya itu tampak lebih segar.
"Aku akan berhenti bekerja. Aku tidak akan lagi melakukan hal ini. Gwaenchanalkka?" Tanya Hyukjae dengan mata yang berkaca-kaca.
Donghae menatap Hyukjae ragu, tapi akhirnya Donghae mengangguk. "Yah… aku mengerti. Kau harus mengikuti apa kata hatimu."
Hyukjae menunduk dalam dan membiarkan butiran bening air matanya berjatuhan. Donghae keluar dari meja kasir dan memeluk Hyukjae. Membiarkan Hyukjae membasahi dadanya dengan butiran bening air mata yeojya itu.
xxXxx
Kim Hankyung membetulkan kacamatanya yang melorot karena pipinya yang bergerak-gerak karena mengunyah. Dia sedang menikmati roti bakar buatan Yesung sambil berdiri didepan kios kecil itu. Yesung juga masih sibuk membuat roti lain untuk murid sekolahan. Maklum, masih pagi pasti banyak yang membeli roti bakar buatannya.
"Hm… enak sekali, Yesung-sshi. Aku sudah mengidamkan roti bakarmu dari semalam, tahu?" Ucap Hankyung senang.
Yesung menutupi wajahnya dengan malu karena dipuji. "Obat oles untuk yang sakit, roti untuk perutnya, seribu won untuk kalengnya."
Hankyung membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang, dengan cepat ia menaruh uang itu didalam kardus kecil yang disediakan untuk menaruh uang. Semua orang menaruhnya disitu. Hankyung masih saja menikmati roti bakar itu sebelum ia berangkat ke rumah sakit, tempatnya kerja.
"Setiap harinya bahkan bertambah enak." Puji Hankyung lagi.
Yesung tersenyum dan membuat roti lagi untuk murid yang mengantri disamping Hankyung.
"Apa kau pernah merasa sakit atau lainnya?" Tanya Hankyung, dia memang suka menanyakan hal-hal seperti ini. Takut-takut kalau Yesung sakit dan tidak ada yang tahu.
Yesung menggeleng. "Ani, aku tidak pernah sakit."
"Apa wajahmu semakin membengkak? Atau kau benar-benar merasa lelah kadang-kadang?" Tanya Hankyung lagi.
Yesung lagi-lagi menggeleng. "Ani, Yesung tidak lelah dan tidak bengkak."
"Apa kau ke toilet dengan normal?"
Yesung mengangguk. "Ne, sangat normal."
Murid yang berada disana tertawa mendengar pertanyaan dan jawaban yang aneh. Sedangkan seorang murid namja sedang menyesap susu yang dia beli dikios Yesung, dia sedang menunggu seseorang.
xxXxx
"Kibum-ah, apa kau yakin kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti mau pingsan." Tanya salah satu teman Kibum.
Kibum yang sudah keringat dingin sekarang menopang kepalanya yang terasa berat. Yeojya itu mengangkat kepalanya dan berdiri. "Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan."
Kakinya melangkah keluar kelas, sedangkan Siwon menatap Kibum serba salah. Begitu juga Sungmin yang tadi menanyakan Kibum. Sungmin dan Siwon menatap satu sama lain sembari mengangkat bahu, tidak mengerti.
xxXxx
Jam pulang sekolah, waktunya Yesung mencari Kibum. Yesung sampai naik ke meja untuk melihat Kibum yang masih berdiri didepan gerbang sekolah. Sungmin mendekati Kibum yang sedang menatap menerawang kearah jalan bersalju.
"Kibum-ah… apa kau sakit? Kau baik-baik saja?" Tanya Sungmin khawatir.
Kibum hanya berjalan meninggalkan Sungmin dan membuat Sungmin kesal. "Kau mau pergi kemana? Rumahmu bukan kearah sana!"
xxXxx
Sudah hampir jam 8 malam, Yesung masih duduk dikios kecil tempat ia menjual roti bakar. Tetapi, kali ini dia duduk disana tanpa senyuman yang biasanya dia pasang diwajahnya. Melainkan wajah lelah dan hampir tertidur.
Matanya terus menutup dan kepalanya terus-terusan turun kearah penggorengan roti bakar sampai akhirnya ia terbangun dan mengucek-kucek matanya yang lelah. Yesung berdiri dan menaruh tangan kanannya dipenggorengan yang masih menyala dan melihat kearah pintu gerbang sekolah Kibum yang sudah terkunci rapat.
"Argh! Ah panasss!"
Yesung mengibaskan tangan kanannya yang tadi menopang tubuhnya untuk melihat kearah pintu gerbang sekolah Kibum. Dia langsung mengusap-usapkan tangannya yang melepuh kecelananya dibagian bokongnya.
Ryeowook terlihat bingung ketika mendekati kios kecil itu. Dia mendatangi kios Yesung karena khawatir, dia belum bertemu Yesung hari ini.
"Kenapa kau belum pulang? Sekarang sudah malam, Yesung-ah." Ryeowook memperhatikan gerak-gerik Yesung.
Yesung mengerucutkan bibirnya. "Kibum belum pulang. Aku masih menunggu Kibum, Ryeowook-ah."
Ryeowook masih terlihat bingung. "Tapi sekarang sudah malam. Mungkin Kibum sudah dirumah."
Yesung tampak segan untuk mengalihkan pandangannya dari gerbang sekolah itu. Tapi dengan bujukan Ryeowook, dia akhirnya setuju untuk menutup kios kecil itu dan pulang untuk melihat Kibum dirumah. Ryeowook juga ikut menemani Yesung kerumah untuk mengecek Kibum.
Dengan tidak sabar Yesung berjalan mendahului Ryeowook. Tapi dengan susah payah Ryeowook mengejar langkah namja sipit ini.
"Dari subuh sampai sekarang, kau tidak lelah?"
Yesung tersenyum dan menggeleng. "Ani, aku tidak lelah sama sekali."
Ryeowook hanya tersenyum dan kembali memperhatikan cara jalan Yesung yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Ketika keduanya sampai didepan rumah Yesung, Ryeowook menunggu didepan gerbang sedangkan Yesung langsung masuk kedalam.
Kakinya melangkah menuju kedepan kamar Kibum. Tangannya beralih pada pintu kamar Kibum dan membuka pintu itu. Dia melihat Kibum sudah merebahkan tubuhnya difuton.
"Ki-kibum-ah, kau sudah pulang?" Tanya Yesung khawatir.
Kibum menoleh dengan tatapan tajam. "Siapa yang membolehkanmu membuka pintu kamarku? Aku bisa mengurus diriku sendiri! Sana pergi!"
"Ah, mianhae."
Dengan cepat Yesung kembali menutup pintu kamar itu. Yesung tersenyum lega mengetahui yeodongsaengnya sudah dirumah. Sedangkan Kibum yang bercucur keringat membalik tubuhnya kesal. Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan padahal ia sudah memakai selimut tebal,
"Mengurus dirinya saja tidak benar." Ujar Kibum kesal.
Ryeowook, yang mendengar teriakan Kibum seketika terdiam. Mata coklatnya hanya bisa memperhatikan Yesung yang sedang memakai sepatu bekas appanya. Meski kedinginan, dia masih setia berdiri didepan rumah Yesung dan menunggu Yesung menghampirinya.
"Kibumie sudah pulang."
Ryeowook tersenyum miris. "Sudah kubilang, kan?"
"Kibumie sekarang sudah pulang."
"Kalau begitu, aku akan pulang."
"Oh? Uh-huh." Yesung mengangguk.
Ryeowook melambaikan tangannya. "Annyeong."
Yesung ikut melambaikan tangan kanannya. "Ne, jalga Ryeowook-ah."
Ryeowook mengerutkan keningnya dan menatap heran tangan Yesung yang terlihat aneh baginya. "Yah, Kim Yesung. Ada apa dengan tanganmu?"
Ryeowook memasuki rumah Yesung tanpa permisi dan mendekati Yesung. Yesung yang takut langsung menyembunyikan tangannya kebelakang. Ryeowook menarik tangan Yesung cepat dan menatap telapak tangan Yesung yang terkena penggorengan.
"Omona! Tanganmu melepuh!" Ryeowook menatap Yesung khawatir.
"A-aku tertidur…" Yesung tersenyum sebisanya.
Ryeowook meniup telapak tangan Yesung yang melepuh. "Sakit kah?"
Yesung menggeleng. "Ani, tidak sakit kok. Aku baik-baik saja."
"Tanganmu tidak baik-baik saja, Yesung-ah. Kulitmu melepuh," Ryeowook masih meniup telapak tangan Yesung. "Kau punya kotak P3K?"
xxXxx
Ryeowook POV
Aku mengambil sekotak obat oles yang berada disebuah kardus. Didalamnya terdapat beberapa kotak yang sama dengan ini. Bahkan ada alat suntik yang masih steril dikotak P3K milik Yesung yang menurutku lebih lengkap daripada P3K dirumahku.
"Kau bahkan bisa menyembuhkan kanker dengan semua obat disini, Yesung-ah."
Aku kembali mengambil kain kasa dan menyiapkannya. Aku membuka tutup kotak obat oles itu dan menaruhnya. Aku memegangi tangan Yesung dan membalikannya, sehingga dengan mudah aku bisa mengoleskan obatnya ke tangannya yang melepuh.
"Tidak boleh sakit," Gumam Yesung sambil melamun. "Umma dan Kibumie tidak boleh sakit."
Menatap Yesung membuatku sedikit lebih bahagia dibanding sebelumnya. Tapi kalau saat ini, aku jadi iba. Namja sepertinya… bolehkah ia sedikit saja bahagia? Terlepas dari kenyataan saat ini. Terlepas dari penyakit aneh tak ada obat yang akan terus bersamanya sampai ia mati nanti.
Aku mulai mengoles obat pada tangannya yang melepuh. Dengan hati-hati, aku terus mengoleskan sambil meniupnya. Tidak ada jeritan kesakitan darinya. Tapi dia terus menatapku. Mungkin ia agak ragu karena aku asal mongoles obat ke tangannya yang melepuh.
"Percayalah padaku. Lagipula, appaku seorang dokter." Aku tersenyum, mencoba mengambil sedikit kecemasannya.
Aku mengoles lagi sampai seluruh lukanya terkena obat oles. Dia masih melamun. Tatapan matanya sendu.
"Obat oles untuk yang sakit." Gumamnya.
Aku tersenyum.
"Roti untuk perutnya." Lanjutku.
"Seribu won untuk kalengnya!" Jawab Yesung cepat dan semangat.
Setelah selesai. Aku membalut tangannya dengan kain kasa. Aku terbilang yeojya yang tidak sabar untuk melakukan hal-hal kecil. Dalam kata lain, aku paling malas mengerjakan sesuatu yang memelurkan ketepatan dan kerapihan. Seperti membalut kasa dengan rapi. Tapi aku membalut tangan Yesung hati-hati dan rapi.
"Nah sudah selesai."
Dia menatap tangannya yang dibalut kain kasa itu senang. Aku memakai sepatuku lagi dan menatapnya dari halaman rumahnya. Yesung tetap saja menatap kain kasa itu.
"Aku pulang ya."
Dia mengangguk dan tersenyum tanpa menatapku. "Eung, sampai jumpa."
Aku memutar tubuhku dan mulai berjalan menghampiri gerbang rumah Yesung. Aku mengerucutkan bibirku kesal. Dia bahkan tidak menatapku ketika aku ingin pulang. Dia terus menatap tangannya yang dibalut kain kasa.
Aku kembali menatap Yesung yang masih menatap tangannya. "Yesung-ah."
Dia melirikku sekilas dan kembali sibuk dengan tangannya. "Ne?"
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanyaku.
"Menggosok gigiku dan tidur. Kata umma 'gosok gigi selalu', tapi aku terlalu malas." Yesung terkekeh dan menatap tangannya, lagi.
Aku ikut terkekeh mendengar pernyataannya. Yesung-ah, mau kah kau terus tersenyum? Terus tersenyum sampai nanti kau tidak bisa tersenyum lagi.
xxXxx
Aku mengguyur rambut Yesung perlahan. Dia gemetar kedinginan dan tertawa menghadapku. Aku tidak tahu sebenarnya dia itu pernah mandi atau tidak. Tapi kurasa sih pernah, mungkin tidak sering. Yang aneh dia tak pernah bau. Sekarang aku sedang dikamar mandi rumah Yesung.
Memandikan namja ini.
Jangan salah paham, aku tidak macam-macam. Dia memang membuka bajunya, tapi dia masih memakai celana pendek berwarna hitam. Cukup kaget juga melihat badannya yang putih dan terbentuk. Ah.. dengan Yesung yang bodoh saja aku terpukau, bagaimana dia menjadi namja normal!
Aku mengambil botol shampoo dan menuangnya ditanganku. Setelah itu aku mulai menggosok dan memijat kepalanya. Dia terkekeh senang. Setelah aku membersihkan rambutnya dari shampoo, aku mengambil botol sabun dan menuangnya kembali ditanganku. Aku mulai menggosokan kebadannya. Perutnya yang ber-abs sungguh terlihat seksi. Sayang sekali orang-orang tidak tahu apa yang ada dibalik pakaian training selama ini.
Aku membilas tubuhnya yang sudah terkena sabun secara merata. Dan dia tertawa senang, dia benar-benar anak kecil yang terjebak ditubuh orang dewasa. Aku menyelimutinya dengan handuk putih besar. Dia mengajakku kekamarnya.
"Wookie-ah, pilihkan aku baju, eung?"
Wookie? Dia memanggilku Wookie?
"Akan segera siap, Yesungie."
Aku memilih kaus polos berwarna merah dan celana training berwarna biru tua, yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Dia memakainya dengan senang, tentu saja aku tidak melihatnya. Aku mendengar dari kekehannya yang terdengar sampai luar kamar.
Setelah dia selesai, aku mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia menunduk dan menungguku memberi tahu sudah selesai apa belumnya.
"Cha, Yesungie sudah bersih."
Aku menata rambut hitamnya yang berantakan sehingga lebih terlihat rapi. Wajahnya yang biasanya kumal sekarang lebih bersih dan… err… tampan? Wajahnya yang seperti anak-anak menatapku senang. Tapi ketika ia sadar aku menatapnya, dia diam dan menunduk.
"Yah… kau sungguh bersih dan tampan."
Aku tersenyum dan menunduk malu karena mengatakan hal yang tidak pernah kukatakan pada namja selain Yesung. Yesung terkekeh senang mendengarnya. "Gomawo."
"Aku sungguh pulang ya kali ini."
Yesung tersenyum dan melambai padaku. Kali ini dia sungguh menatapku dan tersenyum lebar. Membuat mata sipitnya jadi tinggal segaris. Entah darimana, aku memberanikan diri. Aku mengecup pipi namja tampan ini dan keluar dari rumahnya.
Ketika aku menoleh, kulihat Yesung terdiam dan memegangi pipinya. Tapi tak lama, kulihat semburat merah dipipinya. Dia memegangi pipinya dan melompat senang. Aku menutup pintu gerbang rumah Yesung dan pulang kerumah dengan hati yang berdebar kencang.
xxXxx
Chapter 2
-To Be Continue-
Update Chapter 2! Ngga lama kan? Iyalah~
Hum.. ngga banyak yang review ya ternyata Silent Reader. Kalian tuh ngga lucu ya, ngebaca tapi ngga kasih feedback tuh rasanya kaya pengen nonjok atom. Ngga akan bisa. Bayangin aja gimana rasanya, gondok sendiri kan? Aw~ aku gondok #plakk.
Karna ngga terlalu banyak review. Bisa kok balesin satu-satu ehehehe~
LeelysSparkyu: Annyeong chingu. Andwaeyo.. Yeppa ngga ngebakar pianonya. Donghae yang ngebakar karena ngga sengaja.
Kim Rae Sun: Kamu kemana aja RaeSun-ah~ Bogoshipta! *hugs* Ini sudah lanjut, gimana-gimana? Iya, Yesungie orphan~
Lee HyoJoon: Uljimayo~ *sebar tissue* Ne! Donghae yang ngga sengaja tapinya. Hum ngga tau ya gimana kalo Wook inget soalnya masih misteri fufufu. Iya padahal Yesungie udah sayang banget sama Kibumie. Ini sudah lanjut~
choi Ryeosomnia: Ini udah banyak beyum? Ada HaeHyuknya juga loh ehehe. Ne! Kibumie ngga mau ngakuin Yesungie. Ini sudah update~
Heldamagnae: Wookie akan tetap bersama Yesungie kok. Tenang saja~
yoon Hyunwoo: Hehe terimakasih! Tetap tungguin lanjutannya ya!
R'Rin4869: Uljimayo saengie~ Feelnya dapet ya? Padahal remake *pundung* *gabakat pake ide sendiri* *bunuh diri* *gajadi nunggu ss5 ajah* #slapped Iya padahal dia udah baik banget sama Kibumie, tapi Kibumienya gitu sih. Ini sudah update cepet kan? Ehehehe~
jongwookie: Iya! Judulnya sama kok, Miracle Of Giving Fool. Eh berarti kamu udah tau dong gimana ceritanya?! Andwaeyo~ jangan sebarin ya ehehe *sogok pake tiket ss5* Author hiatus pasca UN, setelah UN kembali menjadi author kok. Jangan kangen ya~ ^^ #bigslapped
RianaClouds: Iya! Yesungie menderita disini~ Sudah lanjut kok ^^
Guest: Ini sudah lanjut! Kebanyakan emang suka karakternya Yesungie disini hehehe~
Diatas adalah balasan review yang masuk ke FFn. Yang dibawah adalah balasan yang masuk di email tapi ngga muncul di FFn!
cloudlovekyusung: Uljima~ Udah pernah nonton? Yah.. udah tau dong gimana endingnya hahaha. Jangan sebarin ya~ Karakter Yesungie memang keren~ Ini sudah lanjut!
Guest: Iyaaa~ Yesung kelainan disini ehehe. Ini sudah lanjut~
raerimchoi: Haha ngga ngerti deh itu pihak admin ffn ngira author beneran nyumpahin Yesungie babo juga ngga tau deh asal usulnya. Berlebihan memang -_- Author juga sukaaa~
ryeoclouds27: Maaf untuk ketidaknyamanannya ya. Ini sudah update kilat~
Sekarang balasan review buat yang kemaren diremove FFn!
Devi AF: Nado saranghae, chingu yang sering baca dan review! *hugs* Ah~ aku sering ngaret tauuu, gomawo pujiannya. Author baru 17 tahun beberapa bulan yang lalu kok belum tua kok. Ini Remake dari K-Movie, jadi sebenarnya bukan ide author. Author hanya me-Remake kok. Yep! Yesung dimana-mana harus istimewa dong. Cheonma, author post FF Yewook karena mereka OTP-ku ehehe. Nado saranghae kata cerita dan Yewook. Uhm.. jahat hahaha. Nado saranghaeyo! *hugs and kisses* Bagi twitter sini~
hyena: Annyeong juga! Ini sudah lanjut kok. Semua orang suka karakter Yesungie disini ya? Hehe kata Yesungie: Gomawo~
YJYWYSshipper: Ini Remake loh, bukan aku yang punya ide hehehe. Ini sudah update! Terimakasih pujiannya^^ Chingu ngga suka angst? Uhm.. kalo ngga sesuai harapan maafin author ya! Eh btw nama kamu apa tuh kepanjangannya?
Guest: Iya aku sebagai author juga terharu nonton movie-nya hahaha sampe nangis sendiri dikamar *curhat thor?* Nah! Itu memang benar, bikin terharus banget! Haha nggak kok Yesungie ngga gila tenang aja. Ini sudah update~
yws411: Tapi ini bukan ide author hehehe cuma nge-remake aja. Iya bener banget, kasian. Karena Yesung bodoh, jadi dia gamau ngakuin. Ini sudah lanjut~
wookiecil: Gomawoyo ^^ Setuju deh sama kamu~
MissKey693: Gomawoyo~ Ini sudah lanjut chingu~
dwiihae: Gomawoyo~ Ini sudah lanjut chingu~
Yewookito: Gomawoyo~ Ini sudah lanjut kok. Hum gimana ya, author emang ngga pernah pake warning untuk flashback. Karena merusak suasana FF, agak gimana gitu. Mianhae
Kkeut! Akhirnya selesai balesin REVIEW-nya. Agak emosi dengan SiDers yang padahal saya juga termasuk SiDers ahahaha. Yasudahlah mungkin takdirnya mereka. Biar SiDers pada tobat dan mungkin ada yang jadi author layaknya saya aha #plakk.
Banyak makasih untuk review kalian dan favorite dan follownya! Jangan lupa kasih tau temen-temen kalian dimanapun sesama Elf sesama YewookShipper atau sesama penyuka genderswitch untuk membaca dan mereview ff ini. Promote gitu maksudnya hahaha.
Oh ya, kalo ada yang nungguin. Author bakal Update dihari Rabu, tanggal 20! Jadi review sebanyak-banyaknya sebelum saya update hahaha. *kaya ada yang nungguin aja* Thanks!
Mind To REVIEW? ^^v
