xxXxx
Miracle Of Giving Fool
Cast:: Kim Yesung, Kim Ryeowook, and Other.
Genre:: Romance, Hurt/Comfort, Angst.
Rate:: M.
Warning:: Gender switch, AU, OOC, and Typos.
Disclaimer:: This story is mine. For the cast in here I just borrow their name so you can easily imagine the story. Adapted from Korean Movie, named Miracle Of Giving Fool same as the title. Last, Kim Jongwoon aka Kim Yesung is MINE.
A/N: Untuk lebih meresapi ceritanya, disarankan untuk sambil mendengarkan lagu ballad atau instrument mellow. Putarlah playlist ballad anda. Saya tidak tahu anda akan menangis atau tidak, saya tidak mengharapkan apa-apa. Hanya saja.. yang cengeng silahkan siapkan tisu. *sebar tisu*
xxXxx
Chapter 3
Setelah Ryeowook pulang. Yesung kembali keluar rumah dan berdiri dihalam rumahnya. Dia berjalan membentuk lingkaran yang tidak begitu kecil tapi juga tidak begitu besar. Membuat salju terkikis dan membentuk garis tebal yang memisahkan salju itu.
Yesung terus berputar dan menyanyikan lagu Bintang Kecil. Lagu yang takkan pernah ia lupakan. Lagu yang takkan pernah berhenti ia nyanyikan.
"Bintang kecil dilangit. Dimana kau berada." Yesung tersenyum dan terus berputar.
Sedangkan Ryeowook yang masih dalam perjalanan pulang juga menyanyikan lagu yang ia pelajari dari Yesung. Suara bak malaikat milik Ryeowook membuat siapapun merinding ketika ia menyanyikan lagu-lagu ballad. Tapi tak kalah, Ryeowook malah menyanyikan lagu Bintang Kecil.
"Bintang kecil dilangit. Dimana kau berada." Ryeowook tersenyum mengingat Yesung.
"Tinggi-tinggi dilangit." Giliran Yesung yang bernyanyi.
Ryeowook membuka mulutnya lagi. "Permata menghias angkasa."
Yesung terus tersenyum senang. "Bintang kecil dilangit."
"Dimana kau berada." Ryeowook melanjutkan lagu itu dengan gumaman nada dan senyuman dibibir tipisnya.
Biarkan kali ini Yesung dan Ryeowook bisa melupakan semua masalah yang membelit leher mereka setiap saat.
xxXxx
Pagi-pagi sekali Yesung sudah menaruh meja kecil didepan kamar Kibum seperti biasanya. Tanpa bosan Yesung terus saja mengulang kegiatan paginya secara rutin. Meskipun roti bakar buatannya tidak dimakan Kibum. Asal yeojya itu sehat, dia tetap senang.
Mata sipit Yesung mengintip kedalam kamar Kibum yang hanya dibatasi oleh pintu yang hampir transparan. "Kibum-ah, kau masih tidur?"
Hening, tak ada jawaban dari Kibum.
"Kibum-ah, apa kau sudah bangun?" Tanya Yesung lagi. Masih tidak ada jawaban. Yesung yang menyerah akhirnya menghela nafasnya. "Oppa, pergi ya?"
Yesung menatap pintu kamar Kibum serba salah. Dia memutuskan untuk pergi kekios kecil tempatnya berjualan roti bakar. Setelah Yesung pergi, Kibum yang berada didalam kamarnya membalikan tubuhnya membelakangi pintu kamar. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin.
"Bahkan dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri." Ujar Kibum sambil menahan sakit.
xxXxx
"Dua roti, tolong."
Yesung mengangguk dan meracik dua roti bakar. Beberapa murid lain memesan roti dan susu. Yesung membuat roti bakar sambil mencari-cari Kibum yang sampai saat ini belum sampai kesekolah. Beberapa murid yang memesan roti bakar memperhatikan Yesung bingung.
"Eh? Dia sudah rapi dan bersih? Tampan pula!" Ujar seorang yeojya berseragam dengan gemas.
Salah satu namja mengangguk cepat setelah ia memperhatikan Yesung benar-benar. "Keurocho! Apa kau membersihkan mukamu?"
Yesung hanya tersenyum dan terus membuat roti bakar pesanan murid-murid. Mereka terlihat senang melihat Yesung yang sekarang sudah bersih dan rapi. Tidak seperti biasanya yang kumal. Dan… berterima kasihlah pada Ryeowook yang sudah membantunya membersihkan diri.
Yesung menengokan kepalanya kearah mana Kibum akan datang. Tapi yeojya cantik bersifat dingin itu belum juga datang. Rasa khawatir mulai menyeruak membuatnya tak tenang.
"Key-ah, apa pelajaran jam pertama?" Tanya namja tadi.
"Matematika, kan?" Jawab yeojya manis disampingnya.
Namja itu tampak panik. "Jam berapa sekarang?!"
Sang yeojya buru-buru melihat jam tangannya. "Ya! Onew-ah! Palli. Bisa-bisa kita dihukum Jung seonsaengnim!"
Namja dan yeojya tadi langsung pergi setelah membayar roti bakar dan susu yang mereka beli dari kios Yesung. Beberapa murid juga berlarian karena hampir telat. Yesung memperhatikan murid-murid yang berlarian panik. Yesung juga ikutan panik karena sampai saat ini Kibum belum terlihat.
Tapi tak lama, Kibum melewati depan kios Yesung. Mantel abu-abunya dirapatkan oleh Kibum sendiri. Langkahnya terhenti ketika ia merasa ada yang memanggilnya.
"Kibum-ah, kenapa kau terlambat? Apa kau sakit?"
Kibum menoleh dan menatap Yesung tajam. "Jangan bicara denganku."
Setelah mengucapkan kalimat yang menyesakan hati Yesung, yeojya itu kembali berjalan menuju sekolahnya. Meninggalkan Yesung yang terluka karena ucapan Kibum yang bagai katana tajam. Sedangkan Kibum, dia masih melanjutkan langkahnya dengan memegangi bagian kiri perutnya.
xxXxx
Suara ponsel bergetar membuat si pemilik ponsel itu mengangkatnya dari meja dan mendekatkan ponsel itu ketelinganya. Namja gemuk bernama Shindong itu menatap lurus dan menjawab telepon dengan suara datar. "Yeoboseyo?"
Namja itu diam sebentar. "Dimana kau?"
"Bukan urusanmu," Desis Hyukjae. "Aku akan membayar semua uangnya, jadi jangan mencariku. Dan dengar… jangan libatkan Donghae dalam hal ini. Semua ini keputusanku."
"Diam dan cepat kemari," Namja itu tidak peduli dengan ucapan Hyukjae. "Aku bahkan punya fotomu, pelacur murahan." Ancam Shindong.
Hyukjae terdiam. Ingin rasanya ia mengulang waktu yang tak mungkin bisa kembali. Ingin rasanya ia membunuh namja brengsek ini.
"Ataukah harus kujual online?" Tanya Shindong dengan nada mengancam.
Hyukjae menurunkan ponselnya dan mengklik tombol merah tanpa melihatnya. Dia hanya bisa melihat bayangan dirinya dicermin yang ada dikamarnya. Matanya menangkap sebuah bayangan yeojya yang saat ini terisak dan badannya yang bergetar hebat.
"Brengsek."
xxXxx
"Ah… mashita!" Ujar Siwon ketika menggigit roti bakar miliknya.
Sungmin mengangguk. "Hm! Gomawo oppa, dietku lancar sekali karena setiap pagi aku hanya memakan roti bakar disini."
Yesung menunduk dan tersenyum malu dipuji seperti itu. Tapi mata Siwon menatap Yesung aneh. Dia memperhatikan Yesung dari atas sampai bawah. "Dia bersih dan rapi."
Sungmin mengangguk cepat. "Eung! Dia seperti namja yang maskulin! Kau kalah, Siwon-ah."
Yesung terkekeh dan menutupi wajahnya yang memerah dengan spatula. Sedangkan Siwon menatap Sungmin kesal karena dikalahkan oleh Yesung. Tapi yeojya kelinci itu tidak peduli dan tetap melahap rotinya.
"Kajja." Ajak Sungmin.
"Tunggu," Siwon menahan Sungmin. "Kita beli satu lagi, ya?"
Sungmin menatap Siwon bingung. "Untuk Kibumie? Dia tidak suka roti, Siwon-ah. Jika kita membelikannya, dia tidak mungkin memakannya."
Siwon berpikir sebentar. "Tapi dia datang terlambat dan dihukum seharian oleh Jung seonsaengnim. Dia juga terlihat seperti orang sakit, Sungmin-ah."
Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal. "Ya, geumanhae. Kajja, kita bisa telat. Sekarang pelajaran koala raksasa itu!"
Siwon akhirnya menurut dan mengikuti Sungmin. Sedangkan Yesung hanya bisa diam terpaku. Mendengar Kibumnya yang dibicarakan kedua murid tadi. Yesung melempar spatulanya dan langsung berlari keluar kios kecil miliknya.
"Kibum-ah.. sakit!"
Yesung berlari dan menerobos pagar sekolah. Yesung terus berlari sambil menyebut nama Kibum berkali-kali. Yesung terus berlari sambil berteriak nama Kibum, seolah mencari Kibum disetiap-tiap kelas. Seorang namja keluar dari sebuah kelas.
"Kibum? K-Kim Kibum?"
Yesung langsung memutar tubuhnya dan berlari memasuki sebuah kelas. Mata tajamnya mencari-cari Kibum, tapi dia tidak menemukannya. Namja bernama Siwon itu mengajak Yesung mendekati seorang yeojya yang sedang menumpukan kepalanya diatas meja.
Yesung langsung mengangkat tubuh lemas Kibum yang bersandar diatas meja. "K-Kibum-ah?! K-kajja kerumah sakit!"
"U-umma juga meninggal seperti ini. Kibum tidak boleh mati! Kau akan mendapat suntikan dan membaik."
Dengan sigap Yesung mengangkat tubuh Kibum kepunggungnya dan berlari keluar kelas. Diluar, seorang yeojya berseragam rapi menghadang Yesung membawa Kibum pergi dari sekolah. Yesung tahu benar kalau yeojya ini adalah seorang seonsaengnim.
"Ya! Dangshin nuguya?! Nugunyagu?!"
Mata Yesung yang sudah berkaca-kaca memandang yeojya berseragam itu dengan tatapan memohon. Namun yeojya itu tidak mau mengerti keadaan Yesung dan Kibum sekarang. Perlakuan seperti ini sudah sering Yesung dapatkan dari masyarakat disekitar sini.
"D-dia…" Yesung mulai terisak. "C-choneun, oppanya Kibum. Dan ini… Kibum adalah adikku. A-aku, adalah oppanya Kibum. Dan Kibum adalah adikku. A-aku… oppanya Kibum. Dan Kibum… adalah adikku."
Sambil terisak, Yesung terus mengatakan kalau dia adalah oppanya Kibum dan Kibum adalah adiknya Yesung. Ketika seonsaengnim itu kesal, Yesung langsung berlari keluar sekolah dan menggendong Kibum kerumah sakit sambil terisak.
xxXxx
"Kami akan merawatnya, jadi jangan takut."
Yesung menatap miris Kibum yang sedang beristirahat diranjang pasien, tertidur. Appa dari Ryeowook, Kim Hankyung yang merawat Kibum dirumah sakit. Dia masih khawatir atas keadaan Kibum yang menurutnya sangat mengerikan baginya.
"Butuh waktu untuk mengetahui hasil tesnya. Kami harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi. Lebih baik, kau beristirahat saja dulu." Jelas namja tampan bertubuh atletis itu.
Yesung mengangguk tanpa menatap dokter itu. "Ne, uisanim."
"Kemana sepatumu? Hilang lagi, Yesung-ah?"
Hankyung mengarahkan pandangannya kebawah, kearah kaki Yesung yang sudah tidak memakai sepatu dan lecet-lecet. Yesung ikutan menunduk dan memperhatikan kakinya yang terluka. Yesung hanya mengangguk guna menanggapi pertanyaan Hankyung.
Sepatu dari Ryeowook, hilang.
xxXxx
Donghae menatap kios roti bakar milik Yesung yang sekarang sudah kosong. Untung saja warga sana tidak berani dekat-dekat dengan kios milik Yesung, jadi tidak mungkin ada orang yang berani sekedar masuk untuk mengambil uang hasil penjualan roti bakar Yesung.
Donghae merogoh sakunya dan mengambil ponsel berbentuk flip. Namja itu membuka ponselnya dan mencari nama seseorang. Setelah itu dia mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
"Ryeowook-ah?"
xxXxx
Donghae duduk disamping Yesung yang tertidur dalam posisi duduk dibangku ruang tunggu rumah sakit. Namja itu sudah memanggil nama Yesung berulang kali, tapi Yesung masih saja berusaha untuk tidur dan mengistirahatkan matanya yang lelah.
"Yesung-ah…"
Yesung akhirnya terbangun dan melirik Donghae yang duduk disampingnya. "Hm, Donghae-ah?"
Donghae tersenyum kecil pada Yesung. "Biar aku yang menunggu disini. Kau pulang dan tidurlah dirumah," Donghae mengusap rambut Yesung, sayang. "Kibum baik-baik saja, jadi jangan khawatir."
"Donghae-ah… jaga Kibummie baik-baik, ne?" Gumam Yesung sambil tertidur.
Donghae terkekeh. "Keurae, aku akan menjaganya. Maka itu sekarang kau pulang dan tidur dirumah, eung?"
Yesung menggumam masih dalam tidurnya. "Donghae-ah… jaga Kibummie baik-baik, ne?"
Kali ini Donghae mengangguk, walaupun Yesung tak melihatnya. "Keurae, aku akan menjaganya. Kau istirahatlah dan jangan khawatir akannya."
"Donghae-ah… tolong jaga Kibummie baik-baik, ne?" Lagi-lagi Yesung mengucapkannya.
"Sudah kubilang, aku akan menjaganya."
"Aniya, kumohon… Donghae-ah. Tolong jaga Kibummie…"
Donghae menatap Yesung iba. Donghae memang tidak bisa mengerti apa yang dirasakan Yesung, tapi dia pasti akan menjaga Kibum walaupun Yesung tak memintanya. Karena Donghae sangat menyayangi Yesung seolah Yesung hyungnya sendiri.
"Keurae, akan kujaga," Donghae berdeham, menahan air matanya. "Kau sudah makan?"
Yesung menjawab Donghae dengan dengkuran halus dari bibir kissable yang terbuka milik Yesung. Donghae terkekeh dan mengelus rambut halus Yesung yang berwarna hitam. Donghae kembali merogoh sakunya dan mengambil kembali ponselnya ketika ponsel itu bergetar hebat dikantungnya.
"Yeoboseyo?"
xxXxx
"Kau sudah datang?"
Donghae menyalakan lampu yang berada disamping pintu masuk café tempatnya bekerja. Seorang yeojya manis sudah menunggunya disana. Perlahan Donghae beringsut duduk disofa yang berada disebrang yeojya itu.
"Hyukjae-ah, kau kembali?"
Hyukjae mengangkat bahunya. "Begitulah…"
Donghae tersenyum manis dan duduk disofa yang berada tepat didepan yeojya itu. "Senang bertemu lagi denganmu. Mungkin lain kali kita bisa minum bersama?"
"Bagaimana kalau sekarang?"
Donghae mengangkat kedua ujung bibirnya, menciptakan senyuman terbaiknya. Benar, Donghae memang tidak pernah tersenyum setulus itu pada siapapun. Hanya pada Yesung dan pada Hyukjae, yeojya yang sukses membuatnya jatuh hati.
xxXxx
Yesung masih tertidur dalam posisi duduknya. Semua orang keheranan karena namja itu bisa tahan tidur dalam posisi yang tidak nyaman seperti itu. Tak lama kepala Yesung mulai oleng ke kiri dan ia nyamankan kepalanya dibahu yang sangat nyaman.
"Ngh…"
Yesung membuka matanya perlahan dan kaget karena dia sedang menyender ke bahu seseorang. Tapi dia masih ditempatnya. Belum berniat untuk memindahkan kepalanya yang nyaman dari bahu hangat itu. Ia mengerjap-kerjapkan matanya, imut.
"Nyenyak?"
Yesung langsung mengangkat kepalanya dan terkejut mendengar suara Ryeowook tepat disampingnya. Ryeowook hanya tersenyum tipis ketika Yesung langsung menjauhinya. Yesung menoleh pada Ryeowook untuk memastikan kalau sungguh yeojya itu yang daritadi dia sandari. Ryeowook menoleh kearahnya juga, membuat Yesung buru-buru melepas kontak matanya.
Tiba-tiba Yesung tampak menyesal. "Ryeowook-ah, m-mianhae. Aish… m-mianhaeyo."
"Waeyo?"
"A-aku.. menghilangkan sepatu yang kau berikan padaku." Ujar Yesung tanpa menatap Ryeowook, takut.
"Uhm… gwaenchana, Yesung-ah. Kau bisa pakai yang lain, kan?" Ryeowook tersenyum manis. "Aku akan pulang kerumah. Jangan tidur disini, benar-benar tidak nyaman. Masuklah kedalam, didalam ada kasur untukmu."
Yesung menoleh sambil tersenyum manis. "Kibummie tidak suka aku berada disampingnya. Dia sangat membenci dimana aku berada disampingnya."
Yesung terkekeh, walaupun hatinya sakit menerima kenyataan kalau Kibum memang tidak menyukainya. Kibum sangat menolak keadaan Yesung dan bersikap seolah Yesung bukan siapa-siapanya. Yesung seolah tidak ada baginya. Ryeowook menatap Yesung miris.
Yeojya itu… ingin sekali membantu Yesung.
xxXxx
Donghae menahan gelas kecil berisi soju yang ingin Hyukjae minum. Donghae tahu kalau sebenarnya Hyukjae juga tidak begitu suka minum karena dia gampang mabuk. Makanya Donghae menahan gelas kelima yang akan diminum Hyukjae.
"Kenapa kau kembali?" Bisik Donghae.
Hyukjae dengan susah payah menelan kembali rasa sedihnya. Ingin sekali ia menumpahkan seluruh air matanya saat ini. Dia menolak, dia tidak ingin Donghae mencemaskannya lagi. Dia tidak ingin bersikap lemah dihadapan Donghae.
"Ayo kita minum lagi, Donghae-ah." Jawab Hyukjae.
Seorang namja gemuk bernama lengkap Shin Donghee itu memasuki café, namja yang sering menyiksa Hyukjae. "Aigo, selalu saja nganggur. Ayo kita berjudi!"
Hyukjae merasakan aura jahat kembali mendekatinya. Ingin sekali yeojya itu melarikan diri saat ini juga, tapi sekarang Donghae menggenggam tangannya. Membuat perasaan tenang menyelimuti dirinya yang ketakutan karena Shindong.
"Chagiya! Ayo kita bermain sekarang." Ujar Shindong pada Hyukjae.
Shindong mendekati Hyukjae dan melihat tangan kurus nan putih Hyukjae yang digenggam Donghae. Membuat Shindong geram setengah mati pada Donghae. Shindong menghela nafasnya kesal, kesabarannya sudah tiba diakhir.
"Kau memohon agar tidak melibatkan dia atas masalah kita. Lalu sekarang kau bersamanya? Ini namanya bukan melibatkan, pelacur sialan?!"
Hyukjae hanya diam dan menahan air matanya. Shindong menampar Hyukjae dipipi kanannya, membuat yeojya itu tidak tahan lagi dan akhirnya terisak.
"Kau menyukainya!" Tampar Shindong lagi. "Kau tahu kau menyukainya!" Shindong kali ini menjambak rambut panjang Hyukjae dan menariknya kencang, membuat Hyukjae mendongak meringis kesakitan. "Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan! Kau milikku sampai kau membayar hutangmu, pelacur gembel sialan!"
Donghae yang tadinya diam saja akhirnya berdiri dan menghajar Shindong. Sontak Hyukjae juga kaget atas perlakuan Donghae walaupun dia senang karena Shindong dihajar juga. Donghae meninju pipi Shindong berkali-kali, sampai diujung bibir Shindong terlihat darah disana.
"Akh! Kubunuh kau!" Teriak Shindong.
Ketika Shindong tersungkur, Donghae langsung berdiri lalu menendang perut dan dada namja itu berkali-kali. Sampai akhirnya Shindong sudah tidak berkutik lagi. Donghae berjongkok dan menatap Shindong tajam dibalik sana.
"Jangan pernah dekati dia lagi!" Perintah Donghae penuh penekanan.
"D-dia bilang kalau dia punya fotoku, Donghae-ah. Aku tidak tahu bagaimana," Panik Hyukjae ketakutan. "Mungkin saat aku tertidur."
Shindong meraba lantai dan menemukan sebotol soju yang terjatuh akibat perkelahian mereka. Sedangkan Donghae menatap Shindong marah sekilas lalu menatap Hyukjae lagi. "Foto seperti apa?"
Hyukjae menggeleng lemah sambil terisak. "Molla…"
Donghae menarik kerah baju Shindong. "Berikan padanya!"
"Brengsek!"
Setelah dirasa Shindong sudah memegang botolnya, dia berniat memukul kepala Donghae dengan botol itu. Tapi reflek Donghae yang bagus membuat Donghae menyadari kalau Shindong bersiap memukulnya dengan botol soju itu. Donghae meninju botol soju itu sehingga tangannya berdarah.
Donghae mengatur nafasnya yang tak beraturan karena tersulut emosi. "Jangan khawatir. Aku akan mendapatkannya untukmu, bagaimanapun caranya."
xxXxx
Yesung yang baru terbangun dari tidurnya langsung dikejutkan dengan kehadiran sepasang sepatu converse yang hampir serupa dengan sepatu yang dimiliki Ryeowook. Namja itu memungut sepatu yang sengaja ditaruh disitu oleh Ryeowook. Dengan senyum lebar Yesung memangku sepatu itu.
Tangan Yesung masuk kedalam sepatu itu dan mengambil sebuah kertas kecil yang dibentuk menjadi sebuah amplop yang ditinggalkan Ryeowook. Yesung membukanya perlahan dan mulai membaca apa yang ditulis Ryeowook disana.
'Berjanjilah kepadaku kau tidak akan menghilangkan ini, yaksokhae?'
Yesung tertawa setelah membaca huruf demi huruf yang ditulis tangan oleh Ryeowook. "Ryeowook-ah."
Yesung mengangkat sepatu itu lagi dan menatapnya senang. Ini sudah yang ketiga kali Ryeowook memberikan sepatu pada Yesung, yang pertama ditukar dengan roti bakar, yang kedua entah hilang dimana. Dengan konyol Yesung mencium sepatu yang masih baru itu lalu tertawa lagi ketika menemukan kalau sepatu itu sungguh baru.
xxXxx
"Yesung-sshi benar-benar tidak mau masuk karena takut kau marah. Dia bilang kau lebih suka sendirian, Kibum-sshi," Hankyung menghela nafasnya. "Anak itu… yang ia miliki hanya jaket dan celana lusuh. Tapi beberapa tahun ini akhirnya aku akhirnya mengetahuinya. Dia bekerja keras setiap hari dan malamnya. Aku selalu berpikir kenapa dia bekerja berat untuk mengumpulkan semua uang itu. Aku tidak pernah melihatnya memakai uang-uang itu. Tapi akhirnya aku mengerti sekarang. Aku melihat bagaimana dia membayar semua biaya keperluanmu. Dan dia tetap tersenyum. Akhirnya aku mengerti mengapa bekerja begitu keras."
Kibum mendengarkan seluruh cerita dari Hankyung yang sembari memeriksa keadaannya. Pintu kamar Kibum dibuka oleh Yesung dari luar. Yesung tersenyum senang ketika melihat Kibum yang melirik kearahnya.
"K-Kibum-ah? Kau sudah bangun?" Yesung tersenyum manis. "Gwaenchana? Oppa akan pergi sekarang. Kereundae, aku akan datang lagi."
Kibum hanya menatap Yesung datar, yeojya itu masih lemas.
xxXxx
"Ta-tapi aku ini oppanya…"
Yesung menatap Hankyung sedih. "Hasil testnya menunjukan kalau ginjalmu tidak cocok, Yesung-ah."
Namja itu menunduk dan mengambek, tipikal anak kecil. "Tapi Yesung oppanya Kibum. Tidak mungkin kalau ginjal kita tidak cocok…"
"Kita akan cari jalan keluarnya."
"Ta-tapi aku ini oppanya," Ujarnya hampir menangis. "Aku ini oppanya…"
xxXxx
Lee Hyukjae merapikan sweater polosnya yang menutupi setengah paha mulusnya. Betis kecil nan mulus itu terekspos dengan jelas. Sepatu gladiator yang berciri mempunyai zipper dibelakang berwarna cokelat itu menyempurnakan penampilannya.
"Ambilah," Tangan kurusnya mendorong sebuah amplop kearah Shindong yang duduk dihadapannya. "Itu semua yang kupunya, akan kubayar lagi nanti. Berikan fotoku sekarang."
Dengan santai Shindong menghisap rokoknya dan mematikannya diasbak. "Baiklah, akan kuberikan padamu."
Shindong mengeluarkan dompetnya dan melakukan sesuatu dengan benda kotak berwarna hitam itu. Sedangkan Hyukjae menunggu dengan sabar karena dia masih tidak tahu foto seperti apa yang dimiliki Shindong. Ia sungguh takut jika Shindong menjual fotonya secara online.
Namja gempal itu menyodorkan sebuah foto Hyukjae yang diambilnya ketika Hyukjae sedang menoleh kearahnya dengan senyum manis. Senyum tanpa beban yang jarang ditunjukan oleh seorang Lee Hyukjae. Jadilah Shindong memiliki foto itu.
Bukan foto yang ditakutkannya.
"Aku tidak pernah bermaksud memaksamu. Saranghae, Hyukjae-ah…"
Hyukjae geram ketika mendengar pernyataan menjijikan yang keluar dari mulut namja itu. Dengan kesal, Hyukjae merobek fotonya sendiri tanpa perasaan. Sesekali umpatan kasar keluar dari bibir kissable-nya. Shindong hanya bisa memperhatikan Hyukjae dengan wajah datarnya.
Setelah foto itu sudah terpisah menjadi beberapa bagian, Hyukjae melempar potongan foto itu pada wajah Shindong dengan kasar. "Cinta? Setelah semua yang telah kau lakukan padaku? Sekarang kau bilang kau mencintaiku? Jangan memberiku omong kosongmu tentang cinta! Kau membuatku jijik."
Hyukjae berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Shindong. Sedangkan namja gemuk itu hanya bisa menatapi punggung sempit milik Hyukjae.
"Ini semua karena namja itu? Karena Donghae?"
Langkah Hyukjae terhenti ketika mendengar nama familiar itu. Shindong hanya mengangguk kecil ketika mendapatkan jawaban tak langsung dari Hyukjae. Dia mengerti sekarang kalau Hyukjae benar-benar menyukai Donghae, dan begitupun Donghae yang juga menyukai Hyukjae.
Hyukjae kembali melangkah keluar café itu dengan tegas. Sedangkan Shindong kembali menghela nafasnya, nafas memburu.
"Lee Donghae."
xxXxx
Yesung bersenyum senang dan tampaknya tidak bisa mengendalikan rasa senangnya. Namja itu menjerit bahagia dilorong rumah sakit, membuat beberapa orang yang berada disana melirik keheranan. Yesung berjerit-jerit senang dan terus saja begitu.
"Uwaahhh! I-itukah yang akan kita lakukan?! Ja-jadi Donghae bisa memberikan ginjal miliknya untuk Kibum?! Uwah!"
Saking hebohnya, Yesung bertepuk tangan senang. Tetapi ia lupa kalau tangannya sedang diperban saat ini karena luka melepuhnya kemarin. Membuatnya kesakitan dan bahagia disaat yang bersamaan. Lagi-lagi Yesung tidak peduli dan berlari riang keliling lorong rumah sakit.
Ryeowook ikut tersenyum melihat tingkah Yesung lalu menatap Donghae menyesal. "Donghae-sshi, jeongmal jwisunghamnida karena Yesung tidak berterimakasih padamu karena dia kelewat bahagia."
Donghae juga ikutan memperhatikan Yesung. "Yesung pikir itu hal yang wajar karena dia juga akan melakukan hal yang sama untukku. Yesung sangat bodoh, itulah sebabnya dia melakukan jerit bahagianya." Ujar Donghae sambil tersenyum manis pada Ryeowook.
"Ginjal Donghae! Yeyeye!"
xxXxx
Kibum yang masih merebahkan dirinya ditempat tidur langsung menoleh kearah pintu kamarnya ketika pintu itu dibuka dari luar. Mata sayunya mendapati Yesung yang menyembulkan kepalanya kedalam kamarnya untuk mengecek keadaannya.
"K-Kibum-ah…" Yesung membungkuk sambil terus mengucapkan kalau dia meminta maaf. "Seharusnya aku yang memberikanmu ginjlaku karena aku ini oppamu. Ta-tapi tak apa karena sahabatku Donghae mau memberikan ginjalnya untukmu. Gwaenchana?"
Kibum tersenyum tipis. "Jangan hanya berdiri disana. Masuklah…"
Yesung membulatkan matanya. "B-bolehkah?"
"Masuk saja."
Yesung berjalan perlahan memasuki ruangan Kibum. Senyum Yesung kembali mengembang ketika tak ada jeritan makian dari Kibum ketika dirinya mulai mendekatinya seperti biasanya. Yesung takut dan tidak mau dimarahi Kibum jika ia dekat-dekat dengan Kibum.
Kibum mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang. Ketika Yesung sudah berada disamping ranjangnya, Yesung tersenyum pada Kibum. Sedangkan Kibum hanya diam dan memperhatikan Yesung dengan wajah datarnya. Membuat Yesung sedikit risih.
Mata Kibum menemukan tangan Yesung yang diperban. "Tanganmu kenapa?"
Yesung buru-buru menyembunyikan tangannya kebelakang. "A-ah! Aniya, Kibum-ah. Gwaenchana…"
"Bagaimana tanganmu bisa terluka?! Kenapa bisa kau selalu terluka seperti orang bodoh?!" Perlahan setelah membentak Yesung, Kibum mulai terisak pelan. "Kau selalu jatuh dan pergi. Keureom, bagaimana kau bisa merawatku dengan sangat baik?"
Yesung hanya bisa terdiam melihat Kibum menangis. Yesung tidak pernah melihat Kibum menangis dihadapannya, apalagi karena dirinya. Membuat namja tampan nan babo itu bingung apa yang harus ia lakukan setelah ini.
xxXxx
Yesung menatap bulan yang bersinar terang yang berbentuk bulat sempurna itu dengan takjub dibukit rendah itu. Tapi tiba-tiba dia merengut ketika awan gelap menutupi bulan itu. Bibirnya mengerucut imut dengan alis yang bertaut.
"Kibum sedang dioperasi tapi tidak ada bintang-bintang," Keluh Yesung. "Semua karena awan tebal yang menyebalkan."
Ryeowook yang ikutan menatap langit itu mengangguk setuju. "Mungkin sebentar lagi mau turun salju. Bulannya ikut bersembunyi karena takut kedinginan."
Yesung menggeleng dan menatap Ryeowook sebal. "Andwaeneunde, jangan turun salju. Kibum sedang dioperasi jadi appa dan umma harus melihat. Orang-orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang. Appa dan umma yang menjadi bintang harus melihatnya."
"Semuanya akan baik-baik saja, Yesung-ah."
Ryeowook yang sedang memandangi Yesung tiba-tiba dikejutkan dengan tatapan mata Yesung yang menajam. Membuat yeojya mungil nan manis itu terdiam, namun tidak takut. Entah perasaan apa ini, pikir Ryeowook.
"Wae, Yesung-ah?"
"Wookie… mainkan piano untukku." Pinta Yesung.
"P-piano?"
"Eung! Permainan piano Wookie membuat bintang-bintang turun," Ujar Yesung dengan wajah memohon. "Mainkan piano untukku."
Ryeowook menunduk dalam. "Yesungie, pianoku… menyedihkan."
Yesung menggeleng cepat. "Aniya! Permainan piano Wookie membuat dunia menjadi lebih indah, lebih cantik. Membuat dunia menjadi lebih… mengagumkan. Wookie, Yesungie tidak bisa berbohong. Yesungie tidak berbohong. Bintang-bintang harus datang. Appa dan umma harus melihat–"
"Semua ini karena awannya, Yesungie. Awan gelap membuat kita tidak bisa melihat bintang-bintang." Potong Ryeowook dengan suara parau.
"Kalau begitu Wookie harus bermain piano. Membuat bintang-bintang datang." Suruh Yesung dengan suara yang makin menuntut.
Ryeowook lagi-lagi hanya bisa menunduk dan menatap memandang Yesung tanpa emosi dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Aku ingin bermain piano untukmu. Jika saja aku bisa…"
Entah apa yang dipikirkan Yesung, namja itu berhenti menuntut Ryeowook untuk bermain piano. Melihat Ryeowook yang hampir menangis saja dia rasanya menyesal setengah mati. Namun Yesung tak mampu meminta maaf lagi sekarang, tidak bisa. Bibirnya kelu, terlalu merasa bersalah.
xxXxx
Donghae mengeluarkan asap rokoknya perlahan dan memperhatikan namja yang duduk didepannya. Shindong, juga merokok dan melakukan kegiatan yang Donghae lakukan. Sembari menatap orang yang berada dihadapan masing-masing, sampai sekarang mereka hanya diam seribu bahasa.
"Kau pikir aku main-main waktu kubilang akan membunuhmu?" Suara Shindong memecah keheningan malam itu.
"Serahkan fotonya."
Shindong mengangkat ujung bibirnya, membentuk seringaian licik. "Donghae-ya, jangan membuatku melakukannya. Mengapa kau bersusah payah untuk membelanya, hm?"
"Agar bajingan sepertimu tetap menjauh dari kehidupannya," Ujar Donghae pelan. "Serahkan."
Shindong kembali menyesap rokoknya dalam-dalam. Emosinya sepanas ujung punting rokok yang memerah ketika rokok itu dihisap. Dimatikannya rokok itu dengan cara dihancurkan ujungnya kedalam asbak dengan tanpa perasaan.
"Kembalilah besok." Perintah Shindong.
"Aku akan kembali besok, besok, dan begitu juga seterusnya. Aku akan terus kembali sampai kau menyerahkannya padaku."
Donghae beranjak berdiri dan meninggalkan café remang-remang yang sudah lama ia jadikan tumpuan hidup. Shindong kembali menyundut sebuah rokok dengan korek api dan menghisapnya kembali. Sebelum Donghae benar-benar keluar, Shindong memanggilnya.
"Donghae-ya," Namja tampan bernama Donghae itu menghentikan langkahnya. "Bagaimana tanganmu yang terluka karenaku?"
Donghae memutar tubuhnya. "Bukan urusanmu. Dan kukatakan padamu, mengambil nama 'Bintang Kecil' sangat tak pantas untukmu."
Namja tampan itu kembali melanjutkan langkahnya yang tertinggal. Shindong tidak lagi menginterupsi Donghae, dia hanya tersenyum kecil. Tak lama Shindong menunggu, seorang yeojya menghampirinya dengan angkuh.
"Mwoya?"
Shindong menengadah. "Duduklah dulu."
Dengan malas, Hyukjae duduk ditempat yang sama dimana Donghae duduk tadi. Tangan kurusnya masuk kedalam mantel hitam bertudung yang mencapai lututnya. Bagaimana bisa Shindong menyia-nyiakan yeojya secantik dan seseksi Hyukjae?
"Apa yang kau coba lakukan pada Donghae?" Tanya Hyukjae geram.
"Sebegitu takutnya kah? Sesuatu yang mungkn terjadi padanya?"
Decakan kesal keluar dari mulut Hyukjae. "Jebaliyo, jangan ganggu Donghae."
Shindong menghela nafasnya. "Cukup terlihat diwajahmu, Hyukjae-ah. Pergilah sejauh yang kau mampu."
Air mata mulai menumpuk dipelupuk mata yeojya manis itu. Jika saja ia menunduk, pasti Shindong tak akan bisa melihat ekspresi wajah Hyukjae yang sudah ingin menangis itu. "Aku akan menghentikanmu bagaimanapun caranya."
Kali ini giliran Hyukjae yang bergegas keluar dari café itu. Membuat Shindong kembali sendirian ditempatnya. Dua namja yang duduk cukup jauh dari tempatnya tiba-tiba menghampiri namja gemuk itu. Berdiri mematung bagaikan robot.
"Sajangnim?" Tanya salah satu namja itu.
"Ikuti jalang itu," Titah Shindong pelan, nyaris berbisik. "Dia akan membawamu pada si bajingan Donghae itu."
"Ne, sajangnim. Kereundae, seperti apa ciri-cirinya?"
Shindong memutar otak sebentar. Tiba-tiba senyum licik kembali terpasang diwajahnya, entah dia sungguh terlihat seperti penjahat.
"Dia memakai perban ditangannya."
xxXxx
Yesung menempelkan sebuah kertas panjang didepan kiosnya. Tangannya yang diperban mencoba untuk mengecek kembali plester perekat yang ia gunakan. Kegiatannya sedikit terganggu karena seorang yeojya manis berlari menghampirinya.
"Yesung-sshi? A-apa kau melihat Donghae?" Tanya Hyukjae dengan nafasnya yang tak teratur.
Yesung mengaitkan alisnya bingung. "Donghae? D-dia kearah sana." Tunjuk Yesung dengan tangan kanannya yang diperban.
Hyukjae tersenyum padanya. "G-gomawo!"
Dengan cepat Hyukjae kembali berlari kearah yang Yesung tunjuk tadi. Yesung hanya mengangkat bahunya acuh dan tak merasa kalau dia sedang diperhatikan dua namja yang bisa saja mencelakainya. Tanpa curiga, ia berjalan pulang kerumahnya.
Yesung berjalan masuk kerumahnya dan mengambil perlengkapan yang kira-kira Kibum butuhkan dirumah sakit. Obat-obat oles yang kata Ryeowook bisa menyembuhkan penyakit kanker juga ia bawa karena ia tak tahu obat apa itu. Tangan kecilnya beralih pada sebuah kaleng kenangannya.
Kaleng yang berisi mainan diwaktu kecil. Matanya tidak tertarik sedikitpun dengan mainan-mainan itu, yang ia ambil hanya sebuah foto yang menunjukan appa, umma, Kibum, dan dirinya pada jaman dahulu. Waktu Yesung belum menjadi bodoh.
Yesung menyisipkan foto itu kedalam saku jaketnya dengan hati-hati, takut rusak. Setelah itu ia kembali mengemas barang-barang Kibum yang dibutuhkan yeojya itu selama dirumah sakit. Seperti handuk dan pakaian.
Setelah dirasa semua sudah cukup, namja tampan itu membawa dua buah tas besar yang berisi barang-barang tadi. Yesung memakai sepatunya seperti yang diajarkan Ryeowook padanya. Namja tampan nan bodoh itu tidak pernah menginjak bagian belakang sepatunya lagi. Dipandanginya sepatu itu lama.
Ia mulai berjalan keluar rumah dengan membawa masing-masing satu buah tas ditangannya. Tak lupa, ia menoleh kedalam rumah gelap itu sebelum meninggalkannya. Tatapan matanya seolah ia tak akan pernah pulang lagi.
Gang-gang ia lewati dengan perasaan senang, karena ia akan melewati rumah Ryeowook sebentar lagi. Yesung ingin mengajak yeojya itu kerumah sakit dan ingin mengatakan kalau dirinya menyukai Ryeowook. Antara gugup dan senang.
"Ya! Donghae!"
Langkah kaki Yesung terhenti ketika mendengar nama sahabatnya disebut seseorang. Perlahan tapi pasti, Yesung menoleh kebelakang dan mendapati dua namja besar berdiri jauh darinya. Yesung tidak bisa melihat wajah dua namja itu karena mereka berdiri ditempat yang gelap. Tapi dia bisa melihat kalau kedua namja itu memegang sebuah batu bata dimasing-masing tangannya.
"Kau Lee Donghae?"
Yesung semakin yakin dan memutar tubuhnya menghadap dua namja itu. Wajahnya tidak menunjukan kalau dia takut, bahkan ingin berlari pun tidak. Senyumnya masih terpatri disana tanpa cacat sedikitpun.
'Kaulah satu-satunya yang bisa ibu tinggalkan untuk Kibum. Kau lah hal terakhir yang bisa umma tinggalkan untuknya. Umma berharap umma bisa berbuat lebih banya, tapi umma tidak bisa.'
Yesung masih bisa mengingat kata-kata ummanya disaat akhir
Adik kecilku, Kibummie. Gwaenchana.. karena aku ini oppamu. Saranghae.
xxXxx
Ryeowook menyenderkan kepalanya dipiano hitam itu. Jari telunjuknya yang kurus itu memencet salah satu tuts piano, do. Beberapa kali ia memencet tuts putih itu sembari menatapnya dengan lemas. Seolah energinya terserap ke piano itu.
"Wookie, di Kanada ada tempat dimana kita bisa menyembuhkan penyakit Yesung."
Ucapan riang dari Hangeng masih terngiang ditelinganya yang dihiasi anting bintang kecil berwarna hitam. Tentu saja ia senang, senang bukan main jika Yesung sungguh bisa disembuhkan dan menjadi namja normal. Dan setelah itu dia bisa menyatakan cinta pada Yesung tanpa harus berpikir ulang.
Namun.. biayanya tak murah. Ryeowook memang orang berada, tetapi ia tidak mempunyai sejumlah uang besar yang dikeluarkan untuk orang asing. Apalagi Yesung bukan siapa-siapa keluarganya. Namun Ryeowook sangat ingin membantu Yesung, menyembuhkan Yesung.
Jarinya pindah ke tuts nomor lima dan memainkannya dua kali. Membuat nada unik dari penggabungan dua kali do dan dua kali sol. Pindah lagi, jari kurusnya ke tuts selanjutnya disamping kanan sol. Dua kali juga.
Entah keajaiban apa. Ryeowook memainkan lagu Bintang Kecil dengan fasih, seolah ia sudah kenal lama dengan tuts-tuts yang ia mainkan. Sampai akhirnya tangan kirinya ikut bermain dinada rendah. Hangeng dan Heechul memandang anaknya kaget sekaligus bahagia.
Do, adalah nada terakhir dari lagu itu. Dan Ryeowook membuat lagu itu keseluruhan menjadi lebih indah, cantik seperti dirinya. Ryeowook menoleh kepada kedua orangtuanya, matanya memanas dan siap mengeluarkan cairan bening dari sana.
"A-aku bisa, umma.. appa. A-aku harus bilang Yesung!"
xxXxx
Yesung berjalan lambat-lambat, seperti biasanya. Tangannya yang diperban masih memegang tas yang berisikan baju-baju Kibum. Jalanan itu masih gelap, apalagi salju perlahan turun. Yesung tersenyum didalam kegelapan, senang karena salju mau menemaninya.
Sampai akhirnya ia dipertigaan jalan, rumah Ryeowook. Lampu jalan menyinarinya, membuatnya merasa bias. Wajahnya lebam, darah mengucur dari atas dahinya. Preman-preman itu sungguh memukulinya karena tidak tahu kalau itu bukan Donghae.
Yesung mendongak, menatap kearah kamar Ryeowook yang terutup gorden tipis. Ia tidak bisa melihat Ryeowook, namun ia bisa mendengar suara dentingan piano dari dalam rumah itu. Dan ia yakin betul kalau Ryeowook sedang bermain piano.
Layaknya orang sekarat, Yesung tiba-tiba terbayang kenangannya dengan Ryeowook. Disaat yeojya mungil nan manis itu mengeramasinya dan menata rambutnya, membuatnya terlihat tampan. Disaat yeojya itu cerita kalau ia membuat roti panjang di Eropa sana.
Tiba-tiba bayangan itu hilang. Yesung melirik kebelakang dengan sisa tenaganya, sepatunya ketinggalan lagi.
"Sepatu.. sepatuku…"
Dengan oleng, ia memungut sepatunya yang teronggok dibelakang sana. Ia terjatuh diatas aspal berlapis salju tipis. Tangannya yang diperban terulur untuk mengambil salah satu sepatunya yang ketinggalan dengan susah payah. Ia sudah hampir menangis sekarang.
"A-aku sudah berjanji.. tidak akan menghilangkannya lagi."
Tangannya sudah meraih sepatu itu, namun tubuhnya kembali terjatuh ditumpukan salju itu. Sehingga ia menghadap kelangit gelap yang bertabur salju indah. Inikah kematiannya? Ditemani oleh salju dan suara dentingan piano menyejukkan dari dalam rumah Ryeowook? Dia akan terkubur didalam salju?
Kepalanya nyeri, sangat sakit. Namun ia tidak mau berteriak ataupun mengeluh, bukankah ia sudah berjanji untuk tidak menangis? Tapi apa yang ia lakukan sekarang? Menatap langit dengan wajah dilumuri darah segar, lalu air bening berasal dari ujung matanya lalu mengalir kesisi wajahnya itu apa?
Tangannya mengambil foto yang ia sisipkan didalam jaket lusuh yang biasa ia pakai. Foto keluarga yang tadi ia ambil dari kaleng dirumahnya. Sambil terisak dan menahan rasa sakit, ia menatap foto yang ia pegang dengan tangan yang tak diperban.
"A-adik kecilku.." Gumamnya. "Aku harus merawatnya dengan baik. Umma.. a-aku takut, umma. Aku takut."
Tangannya lemas, tak mampu lagi menopang untuk terus tegak. Sekarang ia pasrah, ia menatap langit malam lagi. Dentingan piano terus terdengar, salju terus bertaburan, dan langit masih gelap. Matanya menutup rapat.
"Saranghae, Wookie-ah."
Kematian terindahnya..
xxXxx
Ryeowook berjongkok disana. Menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan ia tidak bisa berteriak untuk meminta pertolongan sekarang. Yang jelas, matanya sekarang sudah berair dan pipinya sudah basah karena air mata.
Ditatapnya wajah damai itu, bibirnya masih berwarna merah muda seperti biasa. Tangannya dan lehernya masih hangat. Namun tak ada lagi detak jantung dan nafas yang keluar dari tubuh tak berdaya itu. Menambah kesan tak bernyawa bagi Ryeowook.
"Ye-Yesung? Yesungie? Irreona, jangan tidur dijalanan. Dingin pula," Ryeowook membersihkan salju yang berada diwajah putih Yesung. "Irreona, Yesungie nae sarang. Irreona.."
Tentu saja tak ada balasan dari namja yang biasanya selalu tersenyum itu. Dengan lemas, Ryeowook memeluk tubuh yang tak berjiwa lagi itu. Masih hangat.. Ryeowook baru merasakan kalau namja ini begitu harum dan hangat.
"Irreona, Yesungie! A-aku.. sudah bisa bermain piano sekarang! kau harus melihatnya! Hiks.. kau harus melihatku bermain piano.."
Ia menyesal.
"I-irreonaa…" Isaknya lirih. "Saranghae, Yesungie. Neomu saranghaeyo.."
xxXxx
Hari ini pertama kalinya hujan diakhir Musim Dingin ini. Setelah tiga hari yang lalu adalah hari dimana salju terakhir bertaburan. Ryeowook, masih disana. Dibalkon kamarnya yang mengarah ke pertigaan jalan dimana Yesung ditemukan tak bernyawa.
Ya, dia masih menangis.
Sesekali ia mengusap air matanya, namun lebih sering membiarkannya jatuh kelantai. Kadang ia terisak, kadang pula ia sesegukan. Masih tidak percaya kalau dia sudah tiga hari tidak bertemu dengan namja tampan itu.
"J-jemput a-aku, Yesungie.."
xxXxx
Kibum memasuki sebuah gedung kecil, tak begitu ramai. Sebenarnya ia benci jika harus kesini, sungguh ia sangat benci masuk ke gedung ini. Sudah dua kali ia datang kesini dan sepulang dari sini, ia pasti akan menangis. Seperti beberapa tahun silam.
Ia menaruh payungnya ditempat payung dikumpulkan. Mantelnya sedikit basah karena terciprat sedikit air hujan yang lumayan deras hari ini. Namun ia tak peduli. Ia berjalan lurus mendekati seorang namja yang duduk dibelakang meja kerjanya yang dipenuhi berkas dan juga komputer.
"Ada yang bisa kubantu?" Tanya namja itu sopan.
"Aku.. ingin mendaftarkan surat kematian."
Namja itu mengambil sebuah kertas panjang, Kibum yakin itu formulir. Namja itu menaruhnya diatas meja dan mendongak pada Kibum yang masih berdiri disana. "Pertama, tolong isi lembaran ini. Jika sudah selesai, tolong berikan padaku."
Kibum menatap formulir itu datar, tak ada emosi disana. Namun ia tidak kuat jika harus menuliskan formulis ini lagi untuk yang kedua kalinya. Apalagi melirik huruf-huruf hangul yang membuatnya jengah itu saja ia enggan.
Namja itu menatap Kibum bingung. "Apa kau butuh bantuan?" Namja itu mengambil lagi kertas panjang yang ia berikan pada Kibum. "Apakah perlu aku yang mengisikannya untukmu?"
Kibum tak menjawab.
"Apa hubunganmu dengan almarhum?" Tanya namja itu pertama-tama.
"D-dia…" Kibum mulai terisak. "Dia itu oppaku. Dan aku… adalah yeodongsaengnya. A-aku, adalah yeodongsaengnya Yesung oppa. Dan Yesung oppa adalah oppaku."
"Ne, aku sudah menulisnya."
"A-aku… yeodongsaengnya Yesung oppa. Dan Yesung oppa… adalah oppaku."
"Ne, alamatmu?"
"Aku.. adalah yeodongsaengnya. Dan Yesung oppa adalah.. oppaku."
Kibum terus mengatakan hal yang sama sambil terisak. Seperti apa yang Yesung lakukan jika ia ditanya siapa oleh orang, Yesung pasti mengatakan hal itu berulang-ulang. Dan sekarang, Kibum tak akan malu lagi. Dia akan mengatakan hal yang sama.
"Ne, itu sudah kutulis."
"Dia.. adalah oppaku. Dan aku adalah yeodongsaengnya. Dia.. hiks.. adalah oppaku! Dan aku.. adalah adik kecilnya! Yesung oppa.. hiks.. hiks.. adalah oppaku! Dan aku.. adalah adik kecilnya Yesung oppa!"
.
Kibum memeluk lututnya, mendongak menatapi sekeliling kamar itu. Yesung jarang membersikan kamarnya, jadilah kamar itu tak begitu rapi. Kibum pun tidak mau mengubah sedikitpun. Kibum sungguh merindukan oppanya.
Makin mendongak, ia bisa melihat sebuah kertas ditempel. Dimana sang oppa menempelkan kalimat panjang apa yang harus ia lakukan hari ini. Kebanyakan hangul Kibum terlihat disana, ia benar-benar menyayangi Kibum. Dan Kibum sadar hal itu terlambat ia ketahui.
Buatkan sarapan untuk Kibummie. Jangan berisik agar Kibummie tidak terbangun. Kibummie.. Kibummie.. Kibummie..
Yeojya cantik itu membacanya satu-satu. Ia tahu apa yang Yesung tulis disana. Yesung menulis kegiatan rutinnya disana dengan rapi. Tanpa sadar, Kibum kembali meneteskan air matanya. Selama ini apa yang ia sia-siakan?
"Yesung oppa.."
xxXxx
Three Years Later
Kibum menatap salju pertama yang turun ditahun ini. Musim Dingin agak telat datang, membuatnya sedikit kesal. Tidak tahukah kalau Yesung oppanya sangat menyukai Musim Dingin, namja itu juga pasti merindukan Musim Dingin terlebih salju.
Seorang namja bertubuh altetis keluar dari balik pintu kamarnya. Choi Siwon, namja yang memenangkan hatinya setelah oppanya tak ada disisinya. Siwon duduk disamping Kibum dan membiarkan Kibum menyandarkan kepalanya dilengannya.
"Salju pertama, Wonnie. Oppa pasti suka melihatnya.."
Siwon menggenggam tangan Kibum erat.
"Hah.. bogoshipeoseo." Gumam Kibum.
"Besok kita akan mengunjungi makamnya, kan? Aku yakin oppamu juga merindukanmu," Ucap Siwon lalu mengecup puncak kepala Kibum singkat. "Yakin sekali."
Yesungie oppa.. bogoshiptago.
xxXxx
"Gamsahamnida.."
Yeojya manis dengan senyum gusi tercantik itu membungkuk. Celemek berwarna merah marun itu sangat cocok dengannya. Meskipun ia tidak bisa bergerak leluasa karena ada yang mengganjal perutnya. Rambut panjangnya dikuncir kuda, amat manis.
"Hyukjae eonnie, aku mau pesan!"
Hyukjae mengangguk kecil dan berjalan pelan kesana. "Mau pesan apa?"
Yeojya muda itu melirik menu. "Aku mau Jageunbyeol Toaster dan susu strawberry, kau apa Kyu?"
"Babo Toaster dan susu cokelat."
"Bilang saja menu biasanya, Sungmin-ah. Tunggu sebentar ya.."
Hyukjae berjalan lagi menuju kasir dan menyerahkan kertas pesanan pada karyawannya. Meskipun ia pemilik Jageunbyeol Toaster, ia juga harus bekerja keras. Karena café kecil dengan banyak cabang ini sudah mulai ramai sejak pertama kali buka. Apalagi dengan nama Kim Ryeowook dibawa-bawa. Pasti banyak pengunjung, seperti ini.
Mata bundar Hyukjae melihat sebuah mobil terparkir diluar. Yeojya manis itu tersenyum dan berjalan menuju pintu masuk. Meskipun sedang hamil, ia tetap aktif. Sejak tadi tidak bisa diam. Hyukjae memeluk Donghae ketika namja itu berjalan kearahnya.
"Aku merindukanmu.."
"Nado.."
xxXxx
Yeojya mungil itu berada dibalik grand piano berwarna hitam, anggun dengan gaun berwarna sama dengan sang piano. Rambutnya digelung, ia tampak menawan malam itu. Jari-jari kurusnya menari diatas tuts-tuts piano.
Beberapa orang yang memegang alat musik lainnya menunggu aba-aba kontuktor. Membiarkan Ryeowook bermain solo didepan para penonton yang semuanya adalah orang Perancis. Ya.. dia kembali kesini untuk mengadakan konser.
.
"Merci.."
Ryeowook keluar dari hall, masih menyeret gaun hitamnya. Matanya tiba-tiba memanas, reflek mendongak untuk menahan air mata yang akan keluar dari sana.
Yesungie, aku kembali lagi kesini. Kau pasti sudah menungguku untuk melakukan hal ini, kan? Apa kau mendengarnya? Nada piano dari lagu Bintang Kecil yang kau ingat, sekarang aku bisa. Aku tahu kau mendengarnya.
Gomawo, Yesungie.
Saranghaeyo.
xxXxx
Miracle Of Giving Fool
-End-
Saya nepatin janji untuk post dihari Rabu tanggal 20 Maret, kan? Ehehehehe..
Pertama.. mian.
Saya ngga bisa bikin 'ending' yang berbeda dengan cerita aslinya karena nggak enak dengan summary. Saya bilang kalau ini ff 'remake' tapi kalau ending ngga sesuai dengan asli kan kayanya gimana gitu, jadi saya bikin agak diedit sedikit dibagian akhirnya.
Kedua.. gomawo.
Untuk semuanya yang udah mau sempetin baca ini ff yang asli aneh banget. Siapa coba yang mau Yesung jadi babo? Yah.. ada beberapa yang bilang Yesung emang udah babo dari sananya #eh #slapped terus-terus gomawo pokoknya untuk yang udah sempetin baca dan review dan follow dan favorite. Sumpah.. saya sayang banget sama kalian! *hugs and kisses*
Thanks To: LeelysSparkyu, Kim Rae Sun, Lee Hyojoon, choi Ryeosomnia, Heldamagnae, yoon Hyunwoo, R'Rin4869, jongwookie, RianaClouds, ryeoclouds27, SimbaRella, raerimchoi, cloudlovekyusung, Drabble Wookie, Yulia CloudSomnia, yws411, hyena, Cho97, ryearyeo, Miho, ji hyun lee, Devi AF, Ryeong Cloudy, ryeofha2125, wookiecil, RyeoCi9, dheek enha, Fika, dan beberapa Guest :D
Maaf ngga bisa balesin satu-satu karena waktu dan halaman yang terbatas, takutnya kalian malah ngga berkenan membaca author note jadi ya sudahlah. Sekarang Question & Answer aja yuk.
Q: Ending bikinan sendiri? Nggak bisa, saya ngga tanggung jawab malah kalo dibuat ngga sesuai film malah ada konflik. Saya sudah mempertimbangkan dan saya akhirnya memilih untuk mengikuti alurnya.
Q: Yesung bisa sembuh? Sebenernya bisa, udah saya kasih tau kan di Canada ada tempat untuk menyembuhkan Yesung. Tapi sayang.. Yesungie mati duluan~
Q: Kok di Rated M? Saya kapok cerita saya diremove admin FFn. Daripada mereka ngeremove cerita saya, mending cari aman. Takutnya ngga sesuai dengan Rated T, jadi Rated M ajalah..
Q: Ini terinspirasi dari film yang judulnya apa? Miracle Of Giving Fool, kalau di Korea mungkin lebih terkenal dengan nama 'Babo'. Silahkan menonton filmnya dan menangis ria~
Q: Kok Kibumie jahat banget? Haha ini pertanyaannya saya suka sekali! Banyak yang nanya nih! Saya cuma ngikutin gimana karakternya difilm. Dan ternyata berhasil membuat Kibum menjadi orang yang disebelin disini hahaha #gaploked
Q: Scene yang membingungkan. Oops, sorry banget memang ini benar-benar kesalahan saya. Bahasanya agak ribet memang disitu. Saya aja yang mau nulis pusing, gimana reader yang baca kan..
Q: Shindong jadi ahjusshi mesum? Yep! Bener! Kamu dapat seratus point!
Q: Kibum menyimpan penyakit? Ne! Sudah tahu jawabannya kan?
Q: Hyukjae jadi pelacur? Hahaha yang ini aku ngakak bacanya. Well.. agak gaenak ya ngomongin Hyukjae pelacur padahal cuman minjem nama kok. Maafin aku ya, Hyukie eonnie.
Cha! Segitu aja deh balasan pertanyaan kalian. Sebenernya ada satu pertanyaan lagi yang belum pengen saya jawab. Yaitu.. bener mau hiatus? Saya cuman bisa bilang, selama ini saya semi-hiatus. Kadang-kadang mood nulis kadang nggak. Tapi saya cuman pengen nyalurin ide yang berdesakan diotak, bukan maksud apa-apa.
Sebelum hiatus, mungkin saya akan mem-post beberapa fiction lagi. Kemungkinan ngga chaptered, hanya one-shoot aja. Semoga kalian tetep melestarikan menulis atau membaca YeWook Fanfiction. Yell-yellnya! YEWOOK IS REAL! #eh
Last! Saya bener-bener bilang GAMSAHAMNIDA dari dalam hati saya yang paling dalam. Pujian kalian.. bikin saya melayang tahu? Tumben-tumbenan kan? Mungkin ini rasanya ya.. susah ninggalin dunia menulis fanfiction. Yang reader tapi berkeinginan untuk menulis fanfic! Coba tulis dari sekarang! karya kalian bakal dinilai loh sama reader seperti kalian. Mulailah menjadi author! *hugs*
Mind to review again?
