Seorang remaja berjalan ceria menuju ruangan rumah sakit. Saat itu juga, dia melihat sesuatu yang aneh dari jendelanya.

Di kamar yang dia tuju, seorang pria menekan bantal ke kepala pasien. Dan dia langsung tau apa yang terjadi.

"Dokter! Suster! Tolong!"

Pria itu tersenyum iblis, lalu kabur lewat jendela. Cewek itu nggak tau pria itu selamat atau tidak. Semoga saja tidak. Sementara dokter dan suster mengambil tindakan, cewek itu menangis diam-diam.


Almost Easy

Warning and disclaimer:

Almost Easy © Avenged Sevenfold and the other who have the rights

All the words flow and nearly all the idea © Hikari Tenshiro

OLD ARCHIVE, OOC, three-shots, Indonesian, angst failed, rated T for secure, typos, gaje, bad diction, Sakura-centric, SasuSaku, third-person-POV, songfic, Romance/Friendship/Hurt/Comfort/Tragedy/Supernatural/Crime/Angst (?) RnR, also DON'T LIKE DON'T READ

The middle of Bring Me to Life Trilogy by Hikari Tenshiro for Naruto


.

.

I feel insane every single time I'm asked to compromise
'Cause I'm afraid and stuck in my ways and that's the way it stays
So how long did I expect love to outweigh ignorance?
By that look on your face I may have forced the scale to tip

Cewek itu terduduk pasrah. Dia menatap dirinya sendiri, lalu mengingat akan cowok yang paling dia sayang di dunia – setelah ayahnya tentu saja.

Dia ingin bicara padanya. Dia ingin mengatakan kalau dia menyayangi cowok itu.

Dia punya begitu banyak kesempatan. Tapi itu dulu, sebelum cowok itu koma.

Sekarang, gimana caranya dia bisa bilang secara langsung dia menyukai cowok itu, kalau cowok itu sendiri belum bangun? Dia sudah kebingungan.

Sebenarnya sih sempat dia bangun setelah seminggu koma, tapi saat dia kembali ke rumah sakit keajaiban itu menghilang. Kapan sih Tuhan mau berbaik hati padaku? protesnya dalam hati.

Lalu, dia ingat kata-kata cowok yang dia sayang itu.

"Katanya, kalo seseorang koma atau meninggal dengan urusan yang belum selesai, dia akan menjadi hantu. Bener nggak ya? Apa mesti gue coba dulu kalo mau membuktikannya?"

"Ya... silahkan nyoba bunuh diri gih. Gue sih nggak tanggung ya kalo elo sampe mati!"

"Hahaha... gue mana berani? Mau pake gantung diri, lama. Mau pake pisau, sakit. Mau pake pistol, emangnya gue punya?"

"Makanya, jangan bilang elo mau nyoba, hahaha!"

Cewek itu tersenyum mengingat saat-saat itu.

Mendadak dia ingat kata-kata cowok itu. Kenapa dia nggak mencoba bunuh diri saja? Kalau beruntung, dia hanya akan koma. Kalaupun dia mati, dia punya urusan yang belum selesai, yaitu mengatakan cinta pada lelaki yang dia sayang itu. Sahabatnya. Teman terdekatnya. Dan yang kini disayanginya.

Dia pergi dari lorong-lorong yang dingin itu.

Menyetir mobilnya ke rumahnya.

Berhenti di belakang rumah, mengendap ke dapur, mengisi gelas beling dengan air di dispenser, dan membawanya ke halaman.

Air itu membasahi bibirnya, bergelung di kerongkongan, memberi efek segar di mulutnya, untuk membuatnya siap. Dia membanting ujung gelas itu ke tembok rumahnya, dan menghadapkan urat nadi tangannya ke gelas berpinggiran pecah itu.

I'm not insane,

Dia menusukkannya ke nadinya. Satu...

I'm not insane...

Dua kali...

I'm not insane,

Dia tersenyum dan melakukannya untuk ketiga kalinya...

I'm not...

Gelas itu terjatuh bersamaan dengan tangan yang bersimbah darah...

Not insane

Sasuke, ini Sakura! katanya. Gue bakal nyusul elo!


.

.

(mother)
Come back to me it's almost easy
(Said at all)
Come back again it's almost easy

Pertama kali yang dilihat Sakura adalah warna putih. Ternyata eternit ruangan.

Bukan hanya eternitnya saja, tapi juga dinding, tempat tidur, hiasan, semuanya putih. AC menunjukkan suhu 17o C. Biasanya dia kedinginan membeku, tapi kali ini dia nggak merasakan apa-apa. Mesin EKG menunjukkan garis-garis sandi rumput *mirip doang* yang jarang-jarang.

Pintu terbuka. Sakura kaget. Seorang pria menghibur dan memeluk wanita yang sedang menangis.

Mama... desisnya. Maafin Sakura, Ma, tapi kali ini Sakura mau mengejar cinta Sakura...

Dia menyentuh ibunya, namun tembus.

Berhasil! Gue udah jadi hantu! Tapi...

Dia nggak berniat pindah dari tempat itu, masih nggak yakin sepertinya.

Dia berteriak depan kuping semua yang rohnya ada di tempat.

"WOOOII! WEEHH... JAWAB GUE! GA ADA YANG TAU GUE INI SIAPA? DAMMNNN! BITCH!"

Nggak ada yang nutup kuping karena berisik.

Dia menggoyangkan tangan depan mata ayahnya. Nggak ada reaksi.

Menggerakkan tangan ala Sinta-Jojo. Ibunya masih nangis.

Goyang ala Briptu Norman depan orangtuanya pake nyanyi chaiyya-chaiyya. Nggak ada yang ketawa.

Menjulurkan lidah di depan suster. Nggak ada yang marah.

Dan akhirnya... mengacungkan 2 jari tengah di depan semua orang dan mengedarkannya berkali-kali.

Nggak ada yang menyingkirkan tangannya.

Orangtuanya malah menembus 'tubuh' hantunya, menyentuh bebas tubuhnya, menangis di atas kulitnya.

Gue udah bener-bener jadi hantu, desahnya.

Dia menembus pintu dan mencari Sasuke. Tujuan hidupnya saat ini. Tapi saat dia memasuki kamar cowok itu, yang ada hanya tubuhnya.


.

.

Shame pulses through my heart from the things I've done to you
It's hard to face but the fact remains that this is nothing new
I left you bound and tied with suicidal memories
Selfish beneath the skin but deep inside I'm not insane

Sakura kembali ke depan pintu kamarnya. Dari tadi dia berlari mengelilingi semua lorong rumah sakit dan Sasuke nggak ada. Yang ada dia bertemu dengan seorang anak perempuan lucu yang punya indra keenam. Saat dia niat bertanya, dia ternyata ke rumah sakit mau servis alat bantu dengar.

Ralat. Ada anak cowok juga, malah ketemu duluan. Yang ini Sakura nggak – maksudnya belum – berani nanya. Padahal dia cuma ke rumah sakit karena mau kontrol gigi.

"Coba hantu bisa melayang," rutuknya. "Hah, kalo begini... MAMPUS!"

Sakura pasrah. Untung hantu sepertinya nggak bisa capek.

"Heh, siapa sih yang teriak-teriak?"

Sakura kaget. Ada hantu juga di sini?

Seorang cewek tomboy bersandar di dinding di depan ruang rawatnya.

"Hantu baru ya? Kenalin, gue Ino." Cewek itu mengulurkan tangan. Sakura agak ragu untuk menjabat tangan Ino, namun dengan tarikan napas panjang, dia melakukannya.

"Ngapain elo napas? Kita kan nggak bisa capek dan nggak usah napas kayak Edward Cullen..." Ino senyam-senyum seperti mengganggap dirinya Bella Swan. "Eh, nama elo siapa? Belom nyebutin, kayak nggak pernah diajarin aja waktu masih hidup."

"Sakura," jawabnya ketus.

"Oh, gitu. Eh, kenapa elo jadi hantu begini?"

"Bukan urusan elo. Kalo mau, elo duluan."

Ino meniru gaya Sule. "Oh, tidak bisaa... elo nggak mau, gue juga dong..."

Sakura hanya mendengus kesal.

"Haha, iya, iya," kata Ino akhirnya. "Hei, cerita dong. Alesan elo jadi hantu kenapa?"

Sakura mengambil napas panjang – dan Ino nggak berkomentar soal itu.

"Cowok yang gue suka lagi koma di kamar sebelah gue. Gue pengen ketemu sama dia."

I'm not insane,

"Hah? Serius lo? Jadi elo percobaan bunuh diri gitu?"

I'm not insane...

"Iya, kenapa? Elo mau bilang gue ini gila karena ngelakuin itu?"

I'm not insane,

"Iya, elo gila banget..."

I'm not...

"Udah ketebak, huh."

Not insane

"karena gue juga ngelakuin hal yang sama."


.

.

(mother)
Come back to me it's almost easy
(Said at all)
Come back again it's almost easy
(You'll learned your lesson)
Come back to me it's almost easy
(But first you'll fall)
Come back again it's almost easy

"Elo boong kan?" Sakura melongo.

"Nggak. Mirip kan? Bedanya gue mau langsung mati, sedangkan elo mau koma dulu."

"Hah? Emang kenapa?"

"Yah, cowok gue OD juga kayak cowok elo."

"Dari mana elo tau?"

"Asal elo tau aja, gue ini eksis kalo di sini. Maklum, gue udah lumayan lama juga."

"Terus, cowok elo OD? Jadi elo bunuh diri..."

"Biar gue bisa nyusul dia di dunia kematian. Gue kan nggak tau dia masuk surga atau neraka. Palingan neraka sih."

"Terus kalo elo tau cowok elo masuk neraka, kenapa elo nyusul?"

"Gue dibutain cinta. Ngerti kan? Kayak kasus elo. Sekarang-sekarang ini gue baru nyadar. Gue harap gue cepet sembuh atau sadar. Elo sendiri kenapa mau nyoba koma?"

"Soalnya kata Sasuke, cowok gue itu, kalo kita koma roh kita nggak ada di tubuh kita, tapi lagi ngawasin orang-orang yang dia sayang. Gue pengen ngeliat dia, bilang sama dia kalo gue suka sama dia."

"Eh? Dia bukan pacar elo? Gue pikir kalian pacaran..."

"Enggak, cuma temenan biasa aja."

"Hah? Gue ga percaya..."

"Ya makanya itu. Gue suka sama dia. Tapi gue nggak tau dia suka sama gue juga atau enggak."

"Kalau gitu, embat aja, daripada telat? Cepet bilang!"

"Tapi Sasuke sekarang kemana?"

"Oh, Sasuke. Biasanya dia jam segini nyusulin elo, La. Terus nungguin elo di sini."

"Sasuke... ngeliatin gue terus?"

Ino mengangguk. "Mukanya langsung galau, bicaranya lirih, beh... romantis!"

Sakura malu. Coba kalau wajah hantu bisa memerah malu.

"Eh, ada Sasuke tuh! Susul dia! Go, Sakura, go go Sakura go!" Ino pura-pura memegang pom-pom.

"Ada-ada aja lo!"

Dan Sakura melangkah keluar...


.

.

Now that I've lost you it kills me to say
(Hurts to say)
I've tried to hold on as you've slowly slipped away
I'm losing the fight, I've treated you so wrong now let me make it right

"Sasuke!" Sakura berteriak memanggil nama itu.

Cowok itu menoleh. Mukanya yang cemas berubah menjadi beku.

"Sakura..."

Yang dipanggil tersenyum lebar.

"... ngapain elo ke sini?"

"Sasuke, elo... marah?"

"Jelas! Buat apa elo ke sini? Abis nyari mati?"

Sakura kaget dimarahi oleh Sasuke. "Eh? Gue pikir... gue pikir elo seneng kalo gue dateng, Sasuke..."

"Nggak usah macem-macem deh!"

Sakura nyaris menangis.

"Ngapain elo nyusul gue, hah? Gue juga bisa kok usaha sendiri buat sembuh!"

"Tapi..."

"GUE TAU GUE SALAH, GUE NGGAK PERNAH DENGERIN ELO!"

Ino yang mengintip juga ketakutan.

"GUE AKHIRNYA OD, NYARIS MATI, APALAGI YANG DIHARAPKAN DARI COWOK KAYAK GUE!"

"Sasuke..."

"GUE TUH UDAH RUSAK! DAN GUE NGGAK MAU ELO IKUTIN GUE!"

"Gue..."

"ELO CUMA MAU APA?"

Sakura terdiam.


.

.

(Make it alright)

Sasuke bicara lagi, namun suaranya agak dipelankan.

"Apa elo udah nggak bisa sabar? Gue berusaha, Sakura. Gue sakit ngeliat elo ngebesuk gue di rumah sakit, tapi ngeliat elo kayak begini lebih sakit!"

Sakura menahan perasaannya.

"Sebenernya, elo mau apa ke gue, sampe elo jadi begini?"

Sakura menghembuskan napas, lagi.

"Maafin gue, Sasuke."

Sasuke juga ikut menghembuskan napas dengan lebih keras.

"Gue bisa maafin elo. Tapi buat nerima ini, gue juga susah."

Sakura dan Sasuke seakan merasakan sesuatu yang kurang bagus akan terjadi, dan Sakura mulai berbicara lirih.

I'm not insane...

"Alesan gue nekat bunuh diri..."

I'm not insane,

"Gue nggak sabar pengen bilang kalo..."

I'm not...

"Kalo apa, La?"

Not insane

"Kalo gue... gue suka sama elo, Sasuke..."


.

.

(mother)
Come back to me it's almost easy
(Said at all)
Come back again it's almost easy
(You'll learned your lesson)
Come back to me it's almost easy
(But still you'll fall)

Sakura menunduk, terdiam. Nggak berani menatap Sasuke. Dia tau cinta dapat menghancurkan persahabatan, tapi mau gimana lagi, dia nggak bisa menahannya terus-terusan. Dia takut kalau Sasuke ternyata nggak menyukainya, semuanya berakhir dengan sia-sia.

Ino yang mengintip dari luar tersenyum. Sepertinya Sakura telah menyelesaikan keinginannya. Dia bisa saja kembali ke tubuhnya sekarang, sembuh, dan menanti giliran Sasuke. Lalu mereka berpacaran, dan semuanya akan berakhir bahagia. Nggak seperti kisahnya.

Sasuke sama sekali nggak mendengar dengan jelas apa yang Sakura bilang. Orang di sebelahnya itu berbicara terlalu bergetar, terlalu cepat, kabur, aneh didengar.

Sasuke mengangkat wajah Sakura, dan berbisik, "Bilang itu sekali lagi."

Sakura menatapnya dengan setengah bingung, setengah takut.

"Sakura, bilang yang itu sekali lagi, gue nggak ngerti."

Cewek itu malah menunduk, tersenyum malu, dan menggeleng. Dia bersyukur sedikit kata-kata itu terdengar samar.

"Sakura, kalo elo nggak bilang itu, gue nggak bakal maafin elo soal ini."

Dia menatap Sasuke dalam, lalu berkata lirih dan mantap.

"Gue...

"...suka..."


.

.

Come back again it's almost easy

Sakura seakan memudar di hadapan Sasuke.

Cowok itu nggak ngerti kenapa, mendadak suara Sakura semakin kecil, warna tubuhnya semakin transparan – padahal hantu kan transparan – dan lama-lama, semua warna yang ada menjadi hitam.

Sama persis saat dia kembali. Dan kalau saat itu dia kembali dengan ada Sakura, kali ini dia kembali tanpa Sakura. Dia masih nggak ngerti apa yang cewek itu mau katakan.

Sementara Sakura berdiri gemetar. Sasuke nggak bakalan bisa melihat dia, dan sekarang dia harus berjuang sendiri. Dia nggak melihat sosok Ino di mana-mana.

Sasuke sendirian dan akan pulang ke rumahnya dalam keadaan normal.

Sakura sendirian dan akan menjadi hantu sampai dia bisa kembali.

Mungkin Tuhan memang nggak pernah mengizinkannya melakukan sesuatu yang dia memang inginkan.

*OWARI...?*


.

.

Review Reply for Anonymous

karinhyuuga: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca! Duh, sampe dibilang senpai begini... malu nih :`` gomen kalo kata-katanya ancur. Maklum, diksi gue baru meningkat setelah mengetik MC gue yang berjudul Burned Wings (silahkan cek di fandom Penguins of Madagascar) dan lupa mulai chapter berapa. Keseluruhan three-shots ini dibuat sebelum itu, makanya masih ancur. Dan kenapa gue nggak mau edit? Jawabannya, M-A-L-E-S! huahahaha *evil smirk* sekali lagi gomen kalo ancur begini, yang penting pesannya kan? :P dan terakhir, terima kasih mau membaca! Sayang sekali Karin-san nggak sign in dulu :( padahal enakan dibales lewat PM

A/N: Oh yeah! Akhirnya jadi juga second shot *usap keringat* mungkin ada yang berniat memberi flame atas kehancurannya - terutama, ending? Yah, maklum aja, OLD ARCHIVE gitu... males banget buat ngubah diksinya. Bisa-bisa malah ngetik ulang deh :P Dan badewei... fic ini pernah dibaca sama guru gue lho! Dia bilang keren! Fic abal begini apanya yang keren?-_- Yah sudahlah. Gue hanya bisa bilang... silahkan tunggu last part yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya, judulnya FICTION! Download dulu lagunya ya, kalo belum tau!

Dream out Loud! =)