Dia mengerjapkan matanya seperti orang kebingungan. Lalu memandang ke sekelilingnya, menghirup aroma – atau mungkin dapat dibilang baunya – di sekitarnya, dan mengerjapkan matanya sekali lagi. Lalu memperhatikan keadaan tubuhnya.

"Gue..."

"...gue udah balik ke tubuh gue semula...?"

"...gimana caranya?"

Dia sama sekali nggak ngerti. Yang dia tau, mendadak cewek di hadapannya sudah menghilang. Kalaupun ada cewek, itu perawat yang masuk ke kamarnya beberapa menit kemudian dan teriak-teriak ke dokter kalau dia sudah sadar.

Dia senang bisa kembali. Tapi tetap saja ada yang hilang.

"Ini semua... cuma mimpi doang kan? Bener kan? Gue bakal bangun, buka mata, dan mendadak ada dia lagi?"

Tapi kalaupun dia beneran ada di hadapannya sekarang, malah itu yang lebih tepat dikatakan sebagai mimpi.


Fiction

Warning and disclaimer:

Afterlife © Avenged Sevenfold and the other who have the rights

All the words flow and nearly all the idea © Hikari Tenshiro

OLD ARCHIVE, OOC, three-shots, Indonesian, angst failed, chara death, rated T for secure, typos, gaje, bad diction, Sasuke-centric, SasuSaku, slight SasuIno, third-person POV, songfic, Romance/Friendship/Hurt/Comfort/Tragedy/Supernatural/Crime/Angst (?) RnR, also DON'T LIKE DON'T READ

The end of Bring Me to Life Trilogy by Hikari Tenshiro for Naruto


.

.

Now I think I understand
How this world can overcome a man
Like a friend we saw it through
In the end I gave my life for you

Sasuke menghirup udara pagi yang masih segar. Dia meregangkan tubuh sedikit, melakukan pemanasan, lalu mengambil sepedanya. Kadang dia disapa beberapa orang tua yang sedang lari pagi, atau justru dia yang menyapanya duluan. Minimal, mereka saling tersenyum.

Cowok itu terus mengayuh sepedanya secepat mungkin. Kadang dia melirik jam tangannya, lalu memandang ke depan lagi. Kepalanya mengangguk seiring dengan ketukan musik yang berputar di headphone yang dia pakai.

Semua isi playlistnya – sayangnya – masih belum berubah seperti dulu, musik-musik rock yang berdentum, berteriak nggak jelas, dan kadang juga galau.

Sekali lagi cowok itu menghirup udara pagi di sekitarnya yang untungnya masih segar. Coba kalau rumahnya ada di dekat pabrik, mungkin dia keburu dapet asma gara-gara menghirup gas-gas yang nggak sehat buat tubuhnya. Sebulan ini Sasuke lagi kecanduan sama udara pagi. Dia suka menghirupnya seperti mengisap rokok. Eh bukan, kalau rokok harus dihembuskan lagi. Ganja mungkin lebih tepat, karena setelah diisap langsung dinikmati dan asapnya mulai mempengaruhi kerja otak.

Sebulan ini, sejak pulang dari rumah sakit, Sasuke bertekad untuk berubah. Mengubah selaga kebiasaan buruknya – terutama kecanduannya atas narkoba.

NFAQ (Nearly Frequently Asked Question): Oh, nasi rames, kopi, bakwan?

A: Nggak lah! Narkoba beneran! NAPZA!

Untungnya orangtuanya mendukung. Sasuke nggak mau masuk rehabilitasi, dia nggak mau membuat orangtuanya malu walau udah disaranin. Jadi, dia lebih memilih melakukan hal-hal yang lebih berguna, seperti bersepeda ke sekolah setiap pagi. Lumayan bisa mamerin fixie baru juga, hahaha...

Selain bersepeda pagi, Sasuke juga punya kebiasaan lain. Sore hari, dia suka bersepeda ke rumah sakit di jam besuk, lalu berjalan ke lorong yang berisi kamar-kamar ICU. Salah satunya amat terlalu dia kenal dengan sangat baik banget.

A/N: oke, kalimat yang tadi adalah salah dalam bahasa Indonesia. Jangan ditiru.

Dia akui, kadang dia bingung juga kenapa dia masih suka ke tempat itu. Tapi kalau dia ingat lagi, dia justru merasa ada yang kurang kalau belum ke sini. Ini dia candunya yang kedua setelah udara pagi.

Hanya saja, kalau udara pagi menyegarkan, yang ini menyesakkan hatinya.

Biasanya dia akan menyentuh kaca jendela tebal yang mencegahnya untuk masuk ke ruang ICU, lalu memandang tubuh yang terkapar lemas di ranjang tempat tidur dengan mata sedih. Kadang juga dia akan merosot dan duduk di kursi sambil mendengarkan musik emo kesukaannya.

Sampai sekarang, dia masih menanti, kapan Sakura akan sadar dan mengatakan apa yang dia nggak sempet dengar dengan jelas itu.


.

.

Gave you all I had to give
Found a place for me to rest my head
While I may be hard to find
Heard there's peace just on the other side

Sasuke sekarang ada di rumah sakit. Dia sedang berdiri di depan kaca ruangan ICU yang tebal dan bersih. Jadi barang-barang yang ada di dalam kamar itu bisa terlihat.

Rumah sakit. Sasuke kadang-kadang benci dengan kata itu. Apalagi tempatnya. Dia merasa rumah sakit adalah tempat di mana semua hal-hal buruk terjadi. Kecelakaan, operasi, terapi, vonis mati, eutanasia, koma, bunyi detak jantung – terlalu lemah ataupun terlalu cepat – kamar mayat, hampir semua isi rumah sakit adalah tangis karena kehilangan sesuatu. Entah nyawa seseorang yang disayangi ataupun semangat hidup, tetep aja namanya ke. hi. la. ngan.

Sasuke sudah pernah menjelajahi seluruh isi rumah sakit ini beberapa minggu yang lalu. Dan yang dia temukan selalu saja kesedihan. Atau mungkin senyuman yang dipaksakan. seperti yang dia alami sekarang.

Beberapa minggu yang lalu itu terasa seperti bertahun-tahun yang lalu. Kata orang, kalau kita mengenang minggu demi minggu, rasanya waktu berjalan dengan sangat cepat. Dulu dia berdiri di dekat deretan kursi ini sambil menahan sesak melihat orang yang dia sayangi merasa sedih atas dirinya, sekarang posisinya terbalik.

Dia menatap pintu di sebelah jendela besar tempat dia berdiri. Dulu, itu pintunya. Dan dulu, di depannya ada deretan kursi tempat dia dan cewek itu menggalau dalam diam.

Sasuke ingin menangis. Dia berjalan ke kursi di depan pintunya, lalu duduk di sana. Memasang headphone yang memutar lagu-lagu rock galau. Memejamkan mata, meresapi setiap lirik dan nada yang mewakilkan perasaannya. Terdiam, sementara dokter dan suster yang sudah mengenalnya – karena hampir setiap hari berkunjung ke sana – menatapnya kasihan.

Berharap, saat itu roh Sakura ada di sampingnya berusaha menghiburnya dalam diam, padahal Sasuke nggak bisa melihatnya lagi.

Karena saat kau nggak punya apa-apa, kau akan memilih pilihan terburuk hanya untuk mendapatkan kembali perasaan 'memiliki' itu. Dalam kasus Sasuke, wujud afterlife-nya Sakura.


.

.

Not that I could
Or that I would
Let it burn

Under my skin
Let it burn!

"Halo, Sasuke. Datang lagi ke sini?"

Seorang dokter menyapanya. Dia adalah dokter Sasuke saat masih koma beberapa minggu yang lalu. Karena pernah dirawat olehnya dan sering melihatnya di lorong-lorong ini, Sasuke dan sang dokter udah akrab.

"Eh, iya dok. Dokter abis dari kamar siapa?"

"Oh, dari kamar Sakura."

Lupa. Dokter ini juga menjadi dokternya Sakura. Dan karena asyik mendengarkan lagu, Sasuke nggak nyadar si Pak Dokter itu (bahkan) udah selesai memeriksa kondisi Sakura yang sampai detik ini juga, masih aja koma.

"Kondisinya gimana, Dok?"

Sasuke udah tau jawaban yang akan dia dapet, tapi tetep aja dia ingin berharap.

"Masih sama aja. Belum ada peningkatan atau penurunan."

Keduanya sama-sama menghembuskan napas.

"Nggak kerasa udah sebulan ya, Dokter."

Dr. Kakashi menghitung dalam hati. "Benar juga," katanya. "Dan sampai sekarang belum ada perkembangan yang signifikan. Pasien yang ini benar-benar aneh. Sampai sekarang saya masih heran sebenarnya apa yang dia lakukan saat dia mencoba bunuh diri sampai kondisinya separah ini."

Sasuke menunduk. "Yah, mungkin..."

"Ini salah kamu?" Dr. Kakashi menyambung dengan cepat. "Jangan sekali-sekali menyalahkan diri sendiri atas kondisi orang lain, Sasuke."

"Tapi kalau saya nggak OD, dia nggak akan koma sampai sebulanan ini, Dok!"

"Kalau kamu nggak OD, kamu nggak akan tobat make narkoba!"

Kata-kata itu seperti baru saja menampar Sasuke.

"Tapi Dok, saya..."

"Nggak ada tapi-tapian, Sasuke. Mungkin ada hal lain yang Tuhan rencanakan buat dia dengan koma seperti ini, kita nggak tahu juga apa yang mau Dia lakukan.

"Tapi jangan. salahkan. diri. kamu. sendiri."

Sasuke terdiam, masih menunduk. Headphone-nya melingkari lehernya dengan lembut.

"Kami para dokter mengerti perasaan kamu. Apalagi dokter-dokter yang bekerja di bagian operasi, apapun itu. Kamu pikir nggak berat apa saat kami mengucapkan vonis mati?"

Sasuke menghembuskan napas berat. Dia mengerti. Pasti berat.

Dr. Kakashi menepuk punggung Sasuke. "Kamu masih berdoa untuk kesembuhan Sakura?"

"Iya, Dok."

Sasuke baru mau memprotes hal-hal lainnya, saat si dokter berkata, "Lanjutkan."

Cowok itu mengangkat dagunya lagi saat dokter kesayangannya sudah meninggalkan lorong-lorong ICU.


.

.

Left this life to set me free
Took a piece of you inside of me
All this hurt can finally fade
Promise me you'll never feel afraid

Sasuke berniat berjalan keluar dari rumah sakit saat seorang cewek mendatanginya.

"Elo Sasuke kan?"

Cowok itu baru aja mau mengambil sepedanya di dekat parkiran motor. Dia mengenalnya. Ino. Cewek terawet dalam kondisi afterlife-nya itu ternyata udah sadar juga.

"Iya. Gue kira elo bakalan jadi hantu melulu."

"Nggak lah. Gue juga sadar gara-gara mau mempertahankan hidup."

"Maksud lo?"

"Eutanasia. Gue masih takut mati. Jadi gue berusaha gimana caranya supaya bisa sadar. Anehnya, gue kali ini bisa."

"Hah? Gimana caranya?"

"Nggak tau juga. Dibantuin sama Sakura yang pasti."

Sasuke termenung mendengar nama itu.

"Gue kira kalian udah pacaran lho."

"Hah? Pacaran?" Sasuke syok. "Siapa? Gue? Sama siapa?"

"Banyak amat pertanyaannya. Ya elo sama Sakura lah!"

Dia menunduk lagi. Ino bengong.

"Jadi belum nih, ceritanya?"

Sasuke menggeleng. "Emang kenapa kalo gue pacaran sama dia?"

"Yah, maksud gue, kalian kan saling naksir. Kalian belom pacaran juga? Kirain waktu itu udah!"

Sasuke membeku di tempat. Sakura... naksir dia? Kenapa dia harus baru tau sekarang?

Cowok itu terengah-engah karena emosi. Dia merutuk dirinya sendiri, kenapa nggak dari dulu aja nembak Sakura. Dan dia baru sadar. Itu pasti yang cewek itu mau katakan sebulan yang lalu. Tambah dia merutuk dirinya sendiri.

Lalu, dengan aneh, dia langsung menaiki sepedanya dan lari dari tempat itu sebisa mungkin.


.

.

Not that I could,
Or that I would,
Let it burn,
Under my skin.
Let it burn!

Sasuke mengayuh sepedanya kayak orang gila. Atau mungkin dikejar anjing. Memang dia sedang dikejar, tapi bukan oleh anjing galak model-model doberman atau pitbull yang udah terkenal galak itu. Bukan.

Dia dikejar emosinya sendiri.

Kalau ada orang yang mengatakan cinta dapat membuat orang jadi gila, Sasuke akan langsung melakukan high-five dengannya. Dia juga merasakan kalau cintanya pada Sakura membuatnya jadi gila. Rasanya, saat ini dia ingin beristirahat sejenak, kabur dari semua orang. Kabar dari Ino tadi sukses membuatnya syok berat sampai dia kabur dari rumah sakit. Dia yakin Ino akan geleng-geleng kepala dan kalau dia menemui cewek berambut keriting itu lagi, dia akan membawa Sasuke ke RSJ.

Jadi dia kabur ke taman kompleks perumahannya, yang untungnya lagi lumayan kosong. Seenggaknya nggak banyak anak-anak yang main dengan rebut, sehingga dia merasa lebih tenang dan sendirian.

Dia memasang headphone tengkoraknya ke telinga, memasang volume tertinggi, dan menyender di kursi taman. Mulutnya kadang komat-kamit mengikuti lagu yang sedang bermain. Entah kenapa, seenggaknya cara ini bisa menenangkannya sejenak.

Kenapa gue baru nyadar kalo Sakura juga suka sama gue?

Kenapa gue baru tau pas semuanya udah telat?

Kenapa gue baru ngerasain sakit yang paling dalem itu sekarang?

Kenapa gue baru tobat setelah gue OD?

Kenapa gue baru merasa mendadak jadi nggak berguna begini?

Kenapa gue baru...?

Entah sudah berapa lagu dia dengarkan. Mungkin lebih dari satu album. Dia nggak peduli. Dia nggak peduli kalau sebentar lagi matahari akan terbenam. Dia nggak mau peduli. Yang dia pedulikan adalah kalau Sakura akan sembuh dan kembali seperti semula.


.

.

I hope it's worth it
Here on the highway, yeah.
I know you'll find your own way when I'm not with you.

Makan malam hari ini berjalan dengan kacau.

Sasuke sama sekali nggak nafsu makan. Dia hanya memainkan makanan di piringnya, dan dia nggak berniat mengunyah makanannya, hanya mengemutnya kayak anak kecil. Pikirannya masih melayang ke tubuh lemah yang dia lihat hampir setiap hari selama sebulan ini di rumah sakit. Yang di sana terbaring cewek yang dia paling cintai seluruh dunia saat ini.

Dan sejujurnya, cinta pertamanya.

Orangtua Sasuke juga sadar dengan kondisi anaknya. Sejak sebulan yang lalu, mereka selalu mengusahakan makan bersama tiap pagi dan malam, dan Sasuke menyetujuinya. Biasanya makan malam mereka baik-baik saja. Penuh candaan, keceriaan, biarpun awalnya memang agak canggung. Sekarang, mereka berdua sudah mulai bisa menjauhkan anaknya dari pengaruh mematikan narkoba, tapi tetep aja mereka masih harus berusaha keras agar nama keluarga mereka anak kesayangan mereka nggak jatuh lagi.

Maklum aja, baru sebulan kok.

Tapi biarpun baru sebulan makan bareng juga, papa dan mama Sasuke udah bisik-bisik ngeliat keadaan anaknya. Mereka mendadak bengong, apa sih yang barusan terjadi sama remaja labil itu?

Mama Sasuke bertanya pada anaknya.

"Kamu nggak nafsu makan sayang?"

Sasuke cuma mengangguk lemah.

"Emang kenapa sih? Biasanya kamu tuh suka nyikatin makanan di piring? Sekarang kok cuma dimainin?"

Dia terdiam.

"Mungkin mau diet kali," canda papanya. Sasuke yang biasanya membalas candaan itu nggak menggubris. Mama-papanya tambah bingung.

"Sasuke sayang, makan dong..."

Dia menggeleng. Mamanya menyiapkan satu suap penuh.

"Sasuke, telen dulu yang di mulut kamu. Kalo kamu nggak nafsu nggak papa kok, tapi makan dulu satu suap lagi ya..."

Anaknya pasrah. Dia menelan emutan dalam mulutnya, lalu mengunyah suapan dari mamanya tanpa semangat. Mama-papanya mengernyitkan dahi, lebih berkerut dari biasanya saking heran dengan tingkah uring-uringan Sasuke.


.

.

So tell everybody
The ones who walk beside me, yeah.
I hope you'll find your own way when I'm not with you tonight.

Sasuke nggak bisa tidur semalam.

Sempet sih tidur sebentar, tapi dia bermimpi buruk tentang Sakura. Dia mengingat semuanya. Dia ingat waktu pertama kali bertemu Sakura di SMA. Dia ingat waktu Sakura marah-marah saat tau dia kecanduan narkoba. Dia ingat kekesalannya saat harus sebangku lagi dengan Sakura. Dia ingat semua kata-kata Sakura saat dia baru aja pulang dari rumah sakit karena OD untuk pertama kalinya. Dia ingat saat dia menentang habis-habisan kenyataan kalo dia jatuh cinta pada Sakura yang sebenarnya manis. Dia ingat saat dia OD kedua kalinya dan Sakura kadang menangis saat membesuknya. Dia ingat saat dia melihat Sakura yang baru aja melakukan percobaan bunuh diri sebulan yang lalu.

Seluruh mimpinya tentang dia dan Sakura. Ah, pemeran utamanya bukan dia, tapi Sakura.

Dia benar-benar kangen dengan cewek itu.

Saat itulah dia bengong sementara sepedanya melaju dengan kecepatan cukup tinggi.

Dan dia melihat Sakura di tengah jalan. Segalanya mulai berjalan dengan kecepatan adegan slow motion kayak di film-film. Setiap suara menjadi latar adegan, dan setiap detak jantung yang ada terasa begitu keras dan lebih pelan dari biasanya.

Cekritt!

Mendadak Sasuke minggir, mengayuh sepedanya ke belakang dan menapakkan kaki kirinya ke jalan. Dengan kecepatan seperti tadi, masih untung dia nggak jatuh.

Dia nggak percaya. Itu Sakura? Bukannya dia masih koma di rumah sakit?

Tapi Sakura yang ini... berpendar. Dan kakinya seperti menjejak di tanah. Rambutnya tergerai dengan lembut. Baju rumah sakit yang dia pakai membuatnya terlihat lebih imut. Mulutnya membisu, tapi bibirnya membentuk senyum tertulus yang bisa dia berikan. Dia berjalan ke arah cowok yang menyukainya itu, tepat di sampingnya.

Kedua tangannya membentuk hati yang dia taruh di atas jantungnya. Refleks, Sasuke melakukan hal yang sama. Dia tersenyum ceria, senang bisa melihat Sakura lagi. Tapi kalau cewek ini masih dalam bentuk ghostgirl, kenapa Sasuke bisa melihatnya?

Sakura mulai memudar. Sebuah truk kontainer raksasa melintas tepat menembus cewek itu. Bukan hanya itu. Tepat di jalan yang seharusnya dilewati oleh Sasuke kalau dia nggak berhenti tadi.

Kalau dia nggak melihat Sakura, dia sudah tertabrak oleh truk ngebut tadi dan mungkin tinggal nama aja.

Entah mengapa, kenyataan bahwa (arwah) Sakura baru aja menyelamatkannya membuat dia merasakan firasat buruk. Dia langsung mengayuh sepedanya ke rumah sakit, padahal seharusnya dia pergi ke sekolah. Jam masuk masih agak lama, lagipula dia bisa bolos sekolah juga. Yang penting, dia harus ke rumah sakit secepatnya.


.

.

I hope it's worth it,
What's left behind me, yeah.
I know you'll find your own way when I'm not with you.

"Sasuke! Untung elo ke sini!"

Ino menghampirinya sambil tersenyum lega – dan setengah tegang.

"Ada apaan sih?"

Ino menunjuk ke arah jendela kaca tebal di ruang ICU tempat Sakura dirawat.

"Gab, ada apaan sih sebenernya? Bilang ke gue!"

Sasuke baru sadar kalau Ino juga mengenakan seragam sekolah sepertinya. Kayaknya mereka diserang oleh firasat buruk yang sama.

Ino masih menunjuk kamar Sakura kayak orang gila.

"Ada apaan sih sebenernya?"

"Itu! Sakura... apaan tuh lagi, gue lupa namanya!"

Sasuke menengok ke jendela yang dibiarkan nggak ditutup dengan tirai itu.

Keluarga Sakura berkumpul di sana, tapi dia masih bisa melihat wajah cantik cewek yang dia sayang itu. Ada Dr. Kakashi juga di sana, dan sedang berbicara dengan papa Sakura. Dia terlihat mengangguk dengan penuh ketegaran. Sementara mamanya sedang menangis di bahu suaminya.

Dr. Kakashi mengambil napas panjang, lalu mulai mematikan mesin-mesin yang membuat jantung Sakura berdetak sampai sekarang.

Keluarga Sakura berniat melakukan eutanasia atas anak perempuannya.

Sasuke dan Ino menahan napas, sementara cowok itu menggenggam kursi rumah sakit sampai buku jarinya berwarna putih semua. Dia nggak peduli dengan semua rasa sakit yang menyerangnya.

"Ino, gue heran kenapa gue dan elo bisa balik lagi ke tubuhnya semula saat kepepet begini, tapi kenapa Sakura nggak bisa?"

"Kalo menurut gue, karena nggak ada yang mendukung dia di saat seperti ini. Kayaknya tuh dia udah pasrah sama hidupnya, dan dia udah nggak bisa balik lagi. Kalo gue sih waktu itu emang didukung sama Sakura sampe bisa masuk..."

Sasuke menerima jawaban Ino. Dia menatap tajam pemandangan di jendela kaca.

"Nggak..." bisiknya tanpa suara. "Jangan... jangan dimatiin... dia masih hidup... tolong, jangan bunuh dia... hentikan..."


.

.

So tell everybody,
The ones who walk beside me, yeah.
I know you'll find your own way when I'm not with you tonight.

Sang dokter bijak yang selalu menghibur Sasuke itu menghentikan aksinya. Satu-satunya yang belum dia matikan sekarang adalah mesin EKG yang berdetak semakin jarang. Dia seperti bicara dengan papa Sakura, namun lelaki itu menatap di balik jendela kaca. Dia melihat Sasuke yang menatap penuh harap ke arahnya.

Papa Sakura berbicara singkat dengan Dr. Kakashi yang kemudian membuka pintu.

"Sasuke, papa Sakura ingin kamu masuk ke dalam."

Nada bicara si dokter begitu datar. Sasuke mengangguk ke arah Ino, lalu masuk ke dalam ruangan.

"Ehm, kamu Sasuke kan?"

"I.. iya, Oom. Kenapa Oom?"

Papa Sakura menarik napas panjang.

"Kami minta, kamu yang melepas masker Sakura. Kami berdua tau kok, kalian sudah sangat akrab. Jadi, kami mohon kamu saja yang melepas masker dan kabel-kabel mesin detak jantungnya."

Mereka saling menatap.

"Bisa kan, Nak Sasuke?"

"Bisa Oom."

Dia menatap cewek yang dicintainya itu, lalu berlutut tepat di telinganya. Seiring dengan gerakan tangannya di masker oksigen Sakura, mulutnya berbisik lembut, nadanya penuh cinta dan kegalauan. Matanya terpejam, nggak mau melihat dirinya sendiri mengakhiri hidup cintanya. Dia menarik napas panjang.

"I love you..."

Nit.. nit.. nit.. niiiittt...

Tangis Sasuke Uchiha pecah di samping jasad cinta pertamanya yang paling tulus.

*OWARI!*


A/N: Sepertinya gue perlu menjelaskan sedikit tentang Fiction ini.

Judul Bring Me to Life Trilogy gue dapat karena setelah gue pikir-pikir, semua isi cerita ini cocok dengan lagu Evanescence yang gue sebutin tadi. Jadi sambil mendengarkan lagu sesuai dengan judulnya, bisa mendengarkan lagu yang itu juga.

Dan... berbulan-bulan setelah fic ini selesai, gue baru tau kalo eutanasia itu dilarang di Indonesia. Grrr. Yah, anggep aja sama hukum Indonesia, eutanasia diizinkan karena keterbatasan biaya atau... apalah itu. Oke? Lagi-lagi, gomen ne!

Sasuke menikah dengan Ino. Dia menjadi seorang dokter kayak Dr. Kakashi yang kadang juga hadir dalam penyuluhan tentang narkoba. Sementara Ino, dia jadi guru BP di sekolah yang disukai murid-muridnya karena asyik diajak curhat. Berdua, mereka berusaha agar kasus mereka nggak terulang lagi. Kalau Sasuke memberi penyuluhan tentang narkoba, Ino membantu anak-anak yang stress supaya nggak melakukan aksi bunuh diri.

Makam Sakura setiap tahun selalu dipenuhi dengan bunga anggrek dan mawar. Kadang sambil merangkul istrinya, Sasuke selalu menarik napas panjang sambil mengenang cewek itu.

Oh iya, anak mereka hanya satu, tapi dia perempuan, dan namanya Sakura.


Juli 2011, ditulis sebagai kado ulang tahun bagi seorang teman yang membuat gue melanjutkan trilogi ini, namun sekarang merenggangkan hubungan persahabatan kami. I truly miss our time to talk about unimportant things together, Emily Kirkland...

Dream out Loud! =)