DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

SUMMARY :

A fresh graduate Kurapika applied job at a famous hospital. She met a special person there, with unusual personality and double-sided life.

WARNING :

AU. OOC. FemKura. Typo maybe, karena tidak diedit ulang seperti biasanya^^'a


Bulir - bulir keringat dingin mulai muncul membasahi kening Kurapika. Sekujur badannya menjadi lemas dan kaku pada saat yang bersamaan, seluruhnya seolah tenggelam ke dalam gelapnya mata hitam dokter itu yang tampak berbeda karena seringai di wajahnya. Semua itu menimbulkan rasa ngeri yang merasuk hingga ke tulang sumsum.

Kurapika berpikir keras, mau tak mau dia berusaha mengurai kembali ingatannya hingga sampai pada kejadian malam itu. Si korban mati dibunuh dan sang pelaku meninggalkannya, melangkah hampir tanpa suara, melewati tempat di mana Kurapika bersembunyi dengan menyatukan diri ke dalam bayangan. Bahkan napas pun terhenti.

'Tidak, dia tidak tahu aku ada, dia tak punya bukti apapun,' Kurapika menarik kesimpulan dan meyakinkan dirinya.

Sementara itu, Kuroro semakin mendekatkan wajahnya. "Jadi apa jawabanmu, hm?"

"A - Aku tidak mengerti apa maksudmu, Dokter... Aku yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya," jawab Kurapika setelah beberapa saat berusaha mengumpulkan keberaniannya.

Saat itu, ada perubahan di raut wajah Kuroro. Perubahan sekilas yang pasti terlewat oleh pandangan mata jika kau tidak memperhatikannya. Ini sempat membuat Kurapika merasa heran dan meragukan jawabannya tadi.

"Kau berani memberiku jawaban yang tidak logis?"

"Aku hanya terkejut karena menurutku itu gambar tattoo yang aneh. Maafkan aku, tapi sungguh hanya itu!"

"Rasa terkejut seperti yang kau tunjukkan tadi tak akan nampak jika kau tak punya suatu memori atau pengetahuan tertentu tentang apa yang kau lihat."

Kurapika hanya diam. Perlahan dia menelan ludah dengan gugup. Dia tak bisa menyangkalnya. Sementara mata hitam Sang Lucifer tak teralih sedikit pun dari birunya samudera di iris mata Kurapika. Datar –tanpa ekspresi apapun, membuat Kurapika menduga - duga apa yang tengah dipikirkan oleh dokter spesialis bedah itu. Namun dia tetap yakin, di antara mereka berdua tak ada yang kedudukannya lebih tinggi daripada yang lainnya hingga timbul penguasaan atas pihak yang satunya. Jawaban Kurapika boleh saja dikatakan tidak logis tapi Kuroro sendiri tak punya bukti untuk meruntuhkan jawaban tersebut.

"Kepada dr. Kuroro Lucifer Sp. B, dimohon segera menuju ke Ruang Bedah 5."

Keduanya berkedip, seolah suara panggilan itu menyadarkan mereka kembali ke dunia nyata. Kuroro menurunkan kedua tangannya dari sisi kiri dan kanan kepala Kurapika, berbalik dan mengambil waktu sejenak untuk menutupi kembali tanda aneh di keningnya dengan kain putih. Kurapika memejamkan mata dan mulai menenangkan diri atas konfrontasi tak terduga yang dilakukan Kuroro.

Sesaat kemudian, Kuroro melangkah menuju ke pintu. Dia melirik Kurapika dari sudut matanya.

"Nona Kurapika, aku hanya ingin menegaskan...tadi aku sama sekali tidak bertanya apakah kita pernah bertemu atau tidak, dan jika memang itu yang terjadi..."

Kurapika terperangah, menunggu atasannya itu melanjutkan kalimatnya.

"...Aku sangat ingin tahu kapan dan bagaimana hal itu terjadi."

Sensasi dingin yang mengerikan menyelimuti tubuh Kurapika, bersamaan waktunya ketika Kuroro menutup pintu ruangannya. Dia salah langkah. Dia terlalu panik hingga berbagai kalimat pembelaan diri meluncur keluar dari mulutnya tanpa terkendali.

'Tapi dia pun tak punya bukti kuat yang bisa menyatakan bahwa aku pernah melihatnya membunuh seseorang malam itu,' gumam Kurapika dalam hati.

Ya, setidaknya dia selamat kali ini.


Beberapa orang lelaki terlihat memasuki sebuah restoran yang bertuliskan 'Tomoe's' di atasnya. Pelayan mengantar mereka ke sebuah meja yang diperuntukkan untuk enam orang, lalu memberikan buku menu. Suara musik jazz yang nyaman di telinga menemani suasana malam itu, sungguh cocok dengan desain interiornya yang berkesan homy.

Tak berapa lama, pelayan tersebut undur diri untuk menyampaikan pesanan mereka. Perhatian para lelaki di meja itu pun teralih ke sekelilingnya dan langsung berbisik-bisik nakal begitu mata bertemu pandang dengan sosok seorang wanita muda berambut pirang yang duduk sendiri dan tengah menikmati minumannya.

"Dia manis ya," komentar salah seorang dari mereka yang berambut merah.

Teman-temannya mengangguk setuju. Mereka berunding untuk mengajak si wanita makan bersama. Apakah wanita itu merasakan tatapan yang tertuju padanya? Tentu saja, apalagi dia tak lain tak bukan adalah Kurapika Kuruta yang malam ini menjadi lebih waspada daripada sebelumnya.

'Berhenti menatapku seperti sebuah hidangan makan malam,' ucapnya dalam hati sambil memicingkan mata ke arah mereka, membuat targetnya terlonjak kaget dengan pipi merona.

Kurapika melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jelas, dia memang tengah menunggu seseorang yang seharusnya sudah tiba sejak setengah jam yang lalu. Dia meraih gelasnya, menggoyangkannya perlahan. Suara berdenting pelan pun terdengar dari es batu yang ada di dalamnya.

Untunglah, dia berhasil melalui hari pertamanya bekerja dengan selamat. Begitu operasi selesai, Kuroro langsung pergi untuk melanjutkan praktek sebagai dokter spesialis bedah di rumah sakit lain hingga tak punya kesempatan untuk mengkonfrontasi Kurapika lagi. Namun semuanya tak akan berhenti sampai di sini. Mau tak mau, selama Kurapika bekerja sebagai sekretaris seorang Kuroro Lucifer, dia akan bertemu lagi dengannya. Hal itulah yang membuatnya bingung.

'Apa yang harus kulakukan? Berhenti bekerja saja?' ucapnya dalam hati sambil mengernyit. 'Tapi memalukan sekali...masa aku langsung menyerah? Yah, walaupun ini menjadikan nyawa sebagai taruhannya,' pikir Kurapika. Wanita muda itu benar-benar sibuk dengan lamunannya hingga tak menyadari perhatian para lelaki yang semula memandangi dirinya secara refleks teralihkan oleh kehadiran seseorang.

"Maaf aku terlambat!"

Suara itu muncul tiba-tiba di telinga Kurapika, dan jujur saja—terlalu nyaring hingga nyaris dia menumpahkan minumannya. Iris mata biru itu bergerak mengikuti sosok sang pemilik suara yang tak lain adalah sahabatnya, Neon Nostrad, yang bergegas duduk di kursi di hadapannya.

"Neon, kau lama sekali," komentar Kurapika sambil mengernyit tak senang dan meletakkan minumannya ke atas meja.

"Ah...aku..."

Wanita berambut merah muda itu menjadi salah tingkah. Hanya tawa kikuk-lah yang pada akhirnya bisa ia lakukan. Tak ada alasan apapun. Sikapnya ini membuat Kurapika lagi-lagi menghela napas—entah untuk yang keberapa kalinya pada hari ini.

"Ayo kita pesan makanan dulu," kalimat itu terucap dengan ringan dari mulut Kurapika, membuat wajah Neon kembali berseri-seri. Sama-sama mereka menentukan pilihan, untuk kemudian dicatat oleh pelayan restoran tersebut.

Neon mendengus dan bersandar dengan malas di atas meja. Bagi Kurapika yang terbiasa untuk menjunjung tinggi norma-norma, sikap itu sungguh tidak pantas di matanya. Lagipula wanita yang berasal dari keluarga kaya seperti Neon pasti sudah mengetahui hal itu sejak dulu.

"Neon, apa yang kaulakukan?" ia bertanya, sembari mulai merasa kesal.

Neon menjawab tanpa mengangkat wajahnya, "Lamaran pekerjaanku ditolak lagi," ia berujar pelan.

"Oh? Untuk ketiga kalinya?"

"Ya, tapi lamaran kenalan Ayah itu tak bisa kutolak! Menyebalkan! Ah, lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan wawancaramu tadi?"

Kurapika baru saja membuka mulutnya untuk menjawab ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Akhirnya Kurapika baru bisa mulai bercerita saat mereka mulai bersantap. "Aku jadi sekretaris seorang dokter spesialis bedah yang sangat aneh, rumit dan jahat!" Kurapika mengatakan semua itu dalam satu tarikan napas dan raut wajah yang datar.

Neon meringis. "Hiee?! Lalu kenapa kau mau tetap bekerja di sana? Sudahlah berhenti saja, aku yakin kau pasti bisa cepat mendapatkan pekerjaan lain. Belum lagi umurnya yang sudah tua, setidaknya sudah berumur empat puluh! Itu sangat tidak menyenangkan, Kurapika."

"Eh? Ng...tidak, dia tidak setua itu..."

"Oh? Lalu berapa, tiga puluh lima?"

"Ngg...belum tiga puluh..."

"APAAA!?"

Untunglah restoran itu sedang sepi, karena semua mata langsung teralih pada mereka. Wajah Kurapika langsung memerah.

"Hei, pelankan suaramu!" Desisnya pelan.

Neon pun patuh. "Dia itu jenius atau apa? Usia segitu sudah menjadi dokter spesialis..."

Kurapika sudah bisa menebak ke mana percakapan mereka akan menuju begitu melihat histeria sahabatnya. Pasrah, Kurapika mengalihkan topik pembicaraan. Percakapan keduanya menjadi lebih santai walau tak banyak hal yang dibicarakan. Kurapika pun merasa lebih nyaman dan bisa sejenak melupakan insiden tak mengenakkan yang terjadi di antara dirinya dan Kuroro Lucifer. Sayang hal itu segera berlalu ketika tanpa sengaja Kurapika melihat jam di pergelangan tangannya. Tanpa sadar, malam sudah mulai larut.

"Kurasa sudah saatnya kita pulang," kata Neon. "Kurapika, mau menginap di tempatku?"


Sesosok pria tampan bertubuh tegap dan kekar namun tidak berlebihan, berdiri si damping jendela besar yang berlokasi di salah satu lantai penthouse eksklusif di Kota York Shin. Matanya memandang jauh ke pemandangan kota malam hari yang indah.

Tanpa melihat waktu yang berdetak, lubuk hatinya sudah mengatakan bahwa saat baginya sudah tiba. Sungguh, dia benar-benar bisa merasakannya.

Samar-samar terdengar suara langkah kaki teratur dari belakang sosok itu, membuatnya berbalik perlahan. Rambut hitam pria tersebut bergerak pelan memperlihatkan tanda aneh di keningnya. Tatapan mata gelap miliknya langsung tertuju pada pemuda berambut coklat terang yang terlihat begitu muda dengan wajah baby face, sangat bertolak belakang dengan ekspresinya yang datar bahkan cenderung dingin.

"De Matriaza, empat pulih tiga tahun, gudang pelabuhan nomor sembilan," katanya.

Nama, umur, dan lokasi di mana sang target berada pada saat ini. Hanya itulah yang dibutuhkan Kuroro Lucifer untuk mengakhiri hidup target tersebut. Penjelasan tambahan mengenai latar belakang hanya akan membuka sesuatu yang tak perlu bernama alasan, hal mendasar yang bisa mengarahkannya pada berbagai pertimbangan.

Kuroro melangkah membuka laci di lemarinya, mengambil sepucuk pistol dari sana dan menyelipkan pistol itu ke ikat pinggang yang dia kenakan. Ia pun meraih mantel hitam panjang yang kemudian dipakainya sambil mulai berjalan.

"Ayo kita pergi," Kuroro berujar singkat sambil melangkah melewati pemuda berambut coklat terang itu menuju ke luar kamar.

Setelah Kuroro berada dalam jarak yang cukup jauh darinya, barulah si pemuda berjalan mengikuti. Oh, betapa dia pun menikmati saat-saat seperti ini. Sebentar teringat dalam benaknya, kisah tentang keluarga dari pria yang biasa ia panggil dengan sebutan 'Danchou' itu. Dan siapa sangka, kisah tersebut terulang kembali saat ini.

Si pemuda menatap punggung majikannya, seulas seringai licik tanpa terduga muncul di wajah yang lugu itu.

'Apapun alasannya, kau adalah pembunuh,' ucapnya dalam hati sembari merasa puas.


Sebuah mobil sedan hitam melaju di tengah pekatnya kegelapan malam pinggir kota. Mobil itu melaju dengan kencang dan gesit mendahului kendaraan bermotor lainnya yang sesekali terlihat melalui jalan yang sama.

Di bagian depan mobil itu, sebuah monitor kecil yang terletak tepat di samping kemudi menemani dua orang yang ada di sana, membimbing mereka menuju ke suatu area dengan aroma laut yang begitu kental. Kali ini, si pemuda tidak turut serta. Ini merupakan waktu pribadi milik Sang Danchou.

Setelah turun dari mobil, Kuroro bergerak gesit menuju ke titik tertentu tempat itu, menyatu dengan bayangan. Sesekali dia diam, atau setidaknya gerakannya melambat tatkala beberapa orang pengawal bersenjata menghalangi jalannya.

'De Matriaza,' Kuroro mengulang nama itu dalam hati, di saat yang sama terkesan seolah ia berusaha mengingatnya kembali.

Hanya dia targetnya. Satu orang saja, dan Kuroro akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat jumlahnya bertambah.

Dalam cepatnya gerakan menyelinap yang dia lakukan, bayangan seorang lelaki muncul di benak Kuroro, beserta sederet kalimat yang seolah diucapkan ulang di telinganya saat ini,

'Nyawa adalah pemberi hidup kepada suatu wadah yang disebut raga. Dalam nyawa terkandung esensi setiap makhluk, semangat, peruntungan nasib, hingga sesuatu yang melankolis...satu nyawa dua badan—yang berarti sehidup semati. Nyawa akan meninggalkan raga jika darah tertumpah. Karena itu, setiap darah yang menetes merupakan tanggungjawab. Suatu hari nanti, tanggung jawab itu akan ada di pundakmu. Bertindaklah dengan bijaksana, Kuroro. Perhitungkan segalanya.'

Memori yang penuh arti tersebut seketika terusik saat Kuroro melihat targetnya. Tanpa ragu, dari jarak yang terbilang jauh Kuroro mengarahkan pistolnya. Dia menoleh sebentar ke arah kiri, memperhitungkan segalanya secepat kilat dengan melibatkan beberapa kondisi di sekelilingnya.

Kuroro bergerak ke samping, menembak tiang besi di sana. Peluru emas itu pun memantul dan berbelok tajam menembus kaca jendela. De Matriaza yang tengah tertawa terbahak-bahak di gudang pelabuhan nomor sembilan tersebut terperangah. Orang-orang yang tengah berada bersamanya—kemungkinan besar adalah koleganya—hanya sempat menoleh ketika peluru itu menembus dada De Matriaza, membuat nyawa meninggalkan raga karena darah yang tertumpah.

Di luar sana, si pemuda yang tetap berada di belakang kemudi menajamkan pendengarannya. Di antara suara gaduh itu, beberapa detik sebelumnya, dia mendengar suara sesuatu berdenting mengenai benda kokoh yang terbuat dari logam. Dan hanya terjadi sekali. Cengkeraman tangannya di kemudi mobil pun menjadi lebih erat, seiring dengan raut wajahnya yang mengeras, hingga ruas-ruas jarinya terlihat memutih.

'Sial! Lagi-lagi hanya sekali!' Pekik si pemuda dengan geram di dalam hati.


Kurapika masuk ke dalam bis, dengan hati-hati duduk di salah satu tempat kosong yang kebetulan berada tepat di samping jendela. Sekilas, semuanya terlihat sama. Sikap tubuh terkendali, penampilan yang rapi, dan wajah manis miliknya. Sejujurnya dia ingin sekali menerima ajakan Neon untuk menginap di rumahnya semalam, namun Kurapika merasa ragu—dan otomatis menolaknya. Untuk yang kesekian kalinya Kurapika kembali bersyukur karena tak menemukan hal-hal yang membahayakan dalam perjalannnya kembali ke apartemen tempatnya tinggal.

'Aku pasti bisa menghadapi dokter itu, akan kutemukan caranya,' ia menguatkan hati.

Bis berhenti tepat di rumah sakit tempatnya bekerja. Dengan sikap biasa, dia tersenyum menyapa para pegawai lain yang kebetulan berpapasan dengannya. Namun jantungnya mulai berdegup kencang saat membaca nama lengkap Kuroro yang terpampang di pintu ruangan, membuatnya sadar akan apa yang terjadi kemarin. Dia baru saja membuka pintu itu ketika seseorang hampir menabraknya dari dalam. Seorang lelaki.

"Sungguh, kau sangat hebat jika bisa tahan dengannya," komentarnya sepintas lalu, membuat Kurapika kembali teringat untuk menyiapkan diri jikalau hal-hal tak terduga yang berkaitan dengan Kuroro Lucifer akan dialaminya lagi hari ini, juga membuatnya sedikit penasaran atas apa yang terjadi sebelum ia datang.


TBC


A/N :

Haha, sungguh fic yang terabaikan...teralihkan dengan fic lainnya jadi wajar banget kalau ada yang lupa dengan fic ini xDa Tapi aku senang ternyata sambutannya bagus^^ Terima kasih untuk author-author lainnya yang memintaku untuk meneruskan fic Doctor Handsome.

Ini balasan untuk review di chapter pertama :

Mikyo :

Mau jadi pasiennya? Ah aku sih mau jadi stafnya aja biar tambah deket x3

Kay Lusyifnix :

Kuroro terlihat ga OOC? Wah itu sungguh pujian yang menggembirakan O/O

October Lynx :

I guess it would be more than just 'impatiently' now...hehe xDa

Thanks for supporting me to continue this story, anyway x3

Kujo Kasuza Phantomhive :

Ah...setelah chapter kedua ini, bagaimana? Baru hint sih, mungkin akan benar-benar terjawab di chapter depan...hehe!

Imappyon :

Really, thanks for the review! Ini fic pertamaku yang direview sama imappyon...senangnya dapat pujian dari author yang lebih senior xDa

Malah kadang waktu itu aku berpikir apakah aku terlalu produktif... ._.

Natsu Hiru Chan :

Terima kasih xD Padahal ini fic yang sebelum publish pun terpendam beberapa lama di flashdisk =v=a

hana-1emptyflower :

Hana! Ke manakah dirimu?! O_O

flower scent :

Oh no, flower-san! You reviewed this! OMG! So it meant that you bother to translate this so you could read this...

I'm so honoured xD

I miss your KuroPika fanfics...

Nekomata Angel of Darkness :

Ini sudah kulanjutkan xD Terima kasih atas dukungannya!

slyswift :

Thank you so much...sorry you had to wait for too long for the update T,T

KuroxKuraxxLover :

Wow, I love your pen name by the way OvO

Well there aren't too much progress in this chapter but I hope, at least you like this...

.

Review please...^^ kasih ide juga boleh, hehe xDa


~KuroPika FOREVER~