Seoul Elementary School

Disclaimer © This story is mine

All cast in here is God's and they own them self.

But... CHANGMIN AND JO YOUNGMIN FOREVER MINE #digaplok

Rating

K+ (bisa berubah sesuka jidat saya)

Genre

Romance, friendship ngga kelihatan, Humor sedikit, Garing lah~

Warning!

Boys Love/Yaoi/MxM/Or something like that, Gajeness, Typo(s), OOC, AU

.

Don't like it? I allowed you to leave, now. I mean it. Really.

.

The rest of you, Enjoy this gaje fict!

.

.

.

.

.

Seorang namja kecil mematut dirinya di depan cermin. Cengiran lebar terpampan di wajah cantiknya. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah, tepatnya di Seoul ElementarySchool. Sekolah Dasar swasta yang paling terkenal di seantero Korea Selatan.

Namja cantik itu tersenyum melihat tubuh mungilnya dibalut dengan kemeja putih dengan tulisan SES di kedua sisi lengannya, dasi kupu-kupu berwarna biru di kerahnya, celana sependek lutut yang juga berwarna biru, dan juga sepatu baru bermotif PowerRanger, film animasi kesukaannya. Yap, penampilannya terlihat sempurna.

"Joongie, apa kau sudah selesai berdadannya? Cepatlah, nanti kita terlambat!" teriakan itu membuat namja kecil itu tersadar dari lamunannya.

"Ne,Umma," sahut namja kecil itu lalu berlari keluar dari kamarnya.

.

.

.

"Terima kasih untuk para orang tua murid yang telah mempercayakan anak kalian kepada Seoul ElementarySchool sebagai awal pendidikan anak Anda. Seperti yang Anda ketahui bahwa di Sekolah kami ini memiliki sistem pengajaran yang..."

Namja mungil cantik itu merengut kesal. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan bapak tua yang ada di depan itu. Yang dia tahu adalah kakinya terasa pegal sekarang, dia tidak tahan berdiri lama-lama. Berkali-kali ia memijit-mijit kakinya berharap pegalnya hilang, tapi ia rasa pegalnya tidak berkurang, sampai akhirnya ia terjongkok karena kakinya sudah tidak kuat lagi.

"Hey, gwaenchanayo?" tanya seorang namja kecil disebelahnya melihat namja cantik disebelahnya terjongkok(?). Namja mungil cantik tadi mengadahkan kepalanya untuk melihat lawan bicaranya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi memelas.

"Joongie tidak kuat lagi beldili. Kakek itu kapan celecai bicalanya?" ucap Jaejoong—namja mungil cantik tadi. Mendengar perkataan Jaejoong, namja menunjukan raut wajah cemas.

"Kau sakit? Kupanggilkan guru saja ya?" tanya namja itu. Saat namja tadi hendak meninggalkan barisannya untuk memanggil guru, Joongie menahan pergelangan tangan namja itu.

"Jangan tinggalkan Joongie. Temani Joongie," kata Joongie. Namja tadi terdiam sebentar, lalu ikut berjongkok disebelah Joongie.

"Namaku Yunho, Jung Yunho," ucap namja tadi sambil memamerkan senyuman menawannya. Joongie merasa kalau senyuman itu adalah senyuman terindah kedua yang pernah ia lihat, setelah senyumannya sendiri tentunya.

"Kim Jaejoong. Panggil Joongie caja," kata Jaejoong.

"Joongie sakit?" tanya Yunho. Jaejoong menggeleng.

"Joongie benci kakek itu. Telalu banyak bicala! Joongie tidak kuat kalau beldili lama-lama!" ketus Jaejoong. Yunho tertawa kecil. Jaejoong mengerucutkan bibirnya imut mendengar Yunho tertawa.

"Ya! Kenapa Yunnie tertawa?"

"Yunnie?"

"Iya. Mulai sekalang, Joongie panggil Yunnie dengan 'Yunnie'. Imut 'kan?" kata Jaejoong sambil menunjukan cengirannya.

"Eh... n-ne," kata Yunho. Sebenarnya dia belum terbiasa kalau orang memanggilnya 'Yunnie' ibunya saja kalau memanggilnya 'Yunnie' ia langsung protes. Tapi kalau Jaejoong, dia tidak keberatan. Asal suara manis itu yang mengucapkannya.

"Kalau begitu boleh aku memanggilmu 'Boo'?" tanya Yunho. Jaejoong menatap Yunho.

"'Boo'?" ulang Jaejoong.

"Iya, Boo. Kesannya imut dan manis sepertimu," kata Yunho sambil menunjukan senyumannya yang menawan lagi. Wajah Jaejoong memerah mendengarnya.

"N-ne."

Untuk sesaat, kedua bocah kecil itu terdiam. Yunho sedang sibuk mendengarkan pidato-tak-penting-Soo-Man sedangkan Jaejoong menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Dalam hati, Jaejoong mengutuk si kakek yang berpidato di depan itu. Matahari sudah makin naik ke atas, dan hawa makin panas. Sungguh, apa si Soo Man tidak tahu bahwa seluruh anak muridnya terpanggang di lapangan mendengarkan pidatonya yang tidak ada habisnya itu?

"Uukh... Joongie mau pulang... Joongie tidak cuka disini, dicini panas..." keluh Jaejoong keras hingga Yunho bisa mendengarnya.

"Kenapa, Boo?" tanya Yunho.

"Panas, Yun," jawab Jaejoong dengan suara serak. Sepertinya dia sudah mulai menangis. "Joongie mau pulang~" rengek Jaejoong dan terdengar isak tangis Jaejoong. Yunho segera mendekatkan dirinya pada Jaejoong dan mengelus-elus rambut hitam alami Jaejoong.

"Sssh... uljjima, Boo," kata Yunho menenangkan Jaejoong.

"Huks... kakek-kakek itu kapan celecai bicala? Joongie capek," kata Jaejoong.

"Uljjima, sebentar lagi selesai kok."

"Hiks... Joongie mau Umma! Umma!" kata Jaejoong histeris. Yunho menepuk-nepuk punggung Jaejoong.

"Kalau kau berhenti menangis, aku akan memberimu kue. Kau mau?" tawar Yunho berusaha menangkan Jaejoong yang histeris. Perlahan isak tangis Jaejoong mulai mereda.

"Kue apa?" tanya Jaejoong.

"Kue cokelat bikinan Umma ku. Cokelat bubuk, mentega, gula, tepung terigu, telur, dan vanili dicampur menjadi satu. Setelah merata, masukan ke oven lalu potong menjadi beberapa bagian. Diatasnya diberi potongan-potongan cokelat dan parutan keju, lalu disiram dengan vla vanilla. Rasanya enak, kau mau Boo?" tawar Yunho lagi. Jaejoong mengangguk pelan. Yunho tersenyum senang lalu mencubit pelan pipi tembam Jaejoong lalu menghapus jejak air mata di pipi Jaejoong membuat pipi Jaejoong merah seketika.

Tak berapa lama kemudian, kepala sekolah Soo Man menyelesaikan pidatonya. Tampak raut wajah bahagia di wajah para murid. Tinggal menyanyi lagu kebangsaan dan laporan pemimpin upacara maka upacara melelahkan ini selesai.

.

.

.

"Uwaah~ kue cokelat!" seru Jaejoong histeris ketika Yunho memperlihatkan kotak bekalnya. Yunho tersenyum kecil melihat mata Jaejoong yang berbinar-binar. Saat ini mereka berada di kelas mereka. Jaejoong yang tadinya duduk di depan memutuskan untuk pindah ke sebelah Yunho yang duduk dibelakang.

"Joongie mau!" kata Jaejoong sambil menatap Yunho.

"Nanti ya, Boo, tunggu kalau sudah waktunya pulang. Ne?" kata Yunho sambil menutup kotak bekalnya dan memasukannya ke dalam tas nya. Jaejoong mengecurutkan bibirnya imut membuat Yunho tak tahan untuk mencubit pipi Jaejoong.

Pluk!

Sebuah gumpalan kertas mendarat di kepala Jaejoong secara tiba-tiba. Yunho dan Jaejoong kaget, mereka langsung melihat ke seorang namja kecil yang berlari ke arah bangku mereka.

"Mianhae, aku tak sengaja, mian,mian," ucap namja itu sambil mengelus-elus kepala Jaejoong.

Yunho memasang tampang kesal. Dia tidak suka kalau BooJaejoongie nya disentuh seperti itu kecuali dirinya.

"Ya! Hati-hati dong!" bentak Yunho galak. Otomatis namja mungil tadi takut.

"Eh, mi-mian," kata namja mungil tadi takut-takut.

"Gwaenchana. Tidak cakit kok, Joongie 'kan kuat," kata Jaejoong sambil tersenyum lebar.

"Kim Donghyun imnida," kata Donghyun –namja mungil tadi-.

"Kim Jaejooong. Dan ini Yunnie," kata Jaejoong sambil menunjuk Yunho yang duduk di sebelahnya. Donghyun tersenyum pada Yunho, namun dibalas dengan tatapan tajam oleh Yunho.

"Donghyun! Ppalli! Ambil bola nya!" teriak beberapa anak laki-laki yang ada di depan kelas. "Ne!" Donghyun segera mengambil bola kertas tadi lalu tersenyum kecil ke arah Jaejoong, Jaejoong membalas senyuman Donghyun dengan senyuman manisnya. Yunho? Bocah kecil itu memasang tampang masam. Ia menumpukan kepalanya ke meja sambil memasang tampang cemberut.

"Yunnie kenapa cembelut?" tanya Jaejoong ketika melihat ekspresi Yunho.

"Tidak apa-apa," jawab Yunho. Jaejoong memiringkan kepalanya bingung.

"Benal? Tapi kok hawa Yunnie menyelamkan ci? Celita dong cama Joongie, 'kan kita teman," kata Joongie. Yunho menghela nafas, lalu menatap BooJaejoongienya dalam-dalam.

"Dengar ya, Boo, dan ingat ini selamanya. Boo milik Yunnie dan Yunnie milik Boo, arraseo?"

"Kenapa begitu?" tanya Jaejoong polos.

"Karena memang sudah ditakdirkan begitu," jawab Yunho asal. Yah, dia juga tidak tahu mengapa begitu. Dia hanya mau Jaejoong menjadi miliknya saja dan tidak disentuh orang lain seperti Donghyun tadi.

"Takdir? Takdir itu apa? Apa itu cemacam kue manis?" tanya Jaejoong.

"Bukan. Takdir itu adalah skenario yang sudah ditulis oleh Tuhan saat kita masih di perut Umma kita, dan kita tidak bisa merubah takdir," jawab Yunho. Jaejoong hanya menganggukan kepalanya walau ia sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakan Yunho.

"Yunnie tau banyak ya, Yunnie pintal!" puji Jaejoong. Yunho tersenyum bangga, dipuji BooJaejoongienya memang merupakan kebanggaan untuknya.

"Gomawo, Boo."

Tak berapa lama kemudian, seorang namja muda masuk ke dalam kelas. Namja muda tadi memperkenalkan diri sebagai wali kelas Jaejoong, kelas I-B, ia juga memperkenalkan diri sebagai Park Jungsoo.

"Panggil saja aku Leeteuk soesaengnim, ne?" katanya dengan senyuman ramahnya. Seluruh murid kompak menjawab 'ne'.

"Karena ini hari pertama kalian, aku hanya akan memberikan jadwal pelajaran untuk esok hari dan memberitahukan apa saja keperluan kalian untuk satu semeter ini. Semuanya menulis dan kuharap tidak ada yang berisik," kata Leeteuk. Semua murid mengangguk dan membuka buku tulis yang sudah mereka siapkan.

"Matematika? Apa itu matematika Yun?" tanya Jaejoong pada Yunho.

"Matematika itu ilmu yang menyangkut angka. Kau akan suka dengan pelajaran ini," jawab Yunho. Yeah, heran mengapa Yunho bisa tau semua itu? Yunho adalah tipe anak yang rajin, cerdas, dan selalu ingin tahu. Ia selalu mempelajari semuanya sebelum ada yang memberitahunya. Seminggu sebelum masuk sekolah saja Yunho sudah selesai membaca seluruh isi buku matematikanya.

"Angka? Joongie tidak suka angka. Terlalu susah menghafalkannya. Joongie saja belum bisa menghitung dari satu sampai sepuluh," kata Jaejoong sambil menunjuka ekspresi tidak suka.

"Nanti ku ajari. Tenang saja, Boo," kata Yunho sambil mengelus rambut halus Jaejoong.

Jaejoong dan Yunho kembali melanjutkan mencatat jadwal pelajaran mereka untuk satu tahun ke depan dan keperluan mereka untuk satu semester ini. Setelah selesai, Leeteuk tersenyum cerah kepada semua muridnya.

"Masih ada satu jam lagi sampai bel pulang berbunyi. Kalian tetaplah di kelas dan bermain sepuasnya. Ingat! Tetap di kelas sampai bel berbunyi! Arraseo? Soesaengnim ada urusan sebentar," kata Leeteuk dengan ekspresi setengah galak, setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar kelas I-B.

"Yunnie, Ilmu Pengetahuan Alam itu apa? Apa pelajaran itu susah?" tanya Jaejoong.

Yunho yang tadinya sedang menulis "YunhoLoveJaejoong.JaejoongLoveYunho" di buku tulisnya berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan Jaejoong.

"Ilmu Pengetahuan Alam itu ilmu yang mempelajarai tentang Alam. Uhm, tidak semuanya tentang Alam sih, tapi tetang kehidupan di sekitar kita. Kita bisa tahu rahasia dunia yang belum kita ketahui nanti, pelajaran ini termasuk pelajaran yang menyenangkan," jawab Yunho dan kembali menulis. Jaejoong manggut-manggut.

"Kalau Ilmu Pengetahuan Sosial?" tanya Jaejoong lagi.

"Itu ilmu yang mempelajari sejarah, ekonomi, dan sosial dunia. Kita akan mengetahui cerita lampau negara Korea Selatan dan beberapa negara lain di pelajaran ini," jawab Yunho.

"Cerita? Joongie suka cerita! Joongie suka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial!" seru Jaejoong ceria. Yunho tertawa kecil melihat tingkah Jaejoong.

"A-annyeong, Kwon Yuli imnida. Kalau boleh tahu na-namamu ciapa?" tanya seorang yeojya cantik yang duduk di sebelah seberang meja Yunho.

"Ah, Jung Yunho imnida," jawab Yunho sambil tersenyum manis.

"Yunho-ah, emm... mau 'kan belteman dengan Yuli? Yuli cuka Yunho," ucap Yuri malu-malu. Jaejoong yang mendengar hal itu langsung turun tangan(?).

"Andwae! Yunnie itu punya Joongie! Kau cana pelgi cali yang lain!" bentak Jaejoong sambil melotot pada Yuri yang membuat Yuri takut. Yunho tersenyum senang melihat reaksi Jaejoong. Setelah Yuri pergi dari bangkunya dan pergi entah kemana (karena takut dan sakit hati mungkin), Yunho memeluk Jaejoong erat.

"Saranghae, Joongie," kata Yunho pelan namun Jaejoong masih bisa mendengarnya. Jaejoong tidak mengerti apa yang Yunho bicarakan (a/n : Jaejoong disini polos banget), tapi hatinya mengatakan untuk membalas perkataan Yunho. Dengan makna yang sama. Makna yang menyampaikan kalau dia juga merasakan apa yang Yunho rasakan.

"Nado, Yunnie." Jaejoong balas memeluk Yunho. Jaejoong merasa hangat di pelukan Yunho sementara Yunho tersenyum senang dengan perkataan dan reaksi yang Jaejoong berikan. Hari ini adalah hari terbaiknya sepanjang sejarah kehidupannya sampai sekarang.

"Omoo~ lihat Hyuk, ada telletubbies lagi pelukan~"

"Iya, Hae. Hyuk lihat. Hyuk juga mau dipeluk."

"Ya cudah, cini Hae peluk."

"Mwo?Andwae! Hae kalo meluk cuka tidak mau dilepas."

"Cini Hae peluk~"

"Andwae!"

"Ciniiii~~"

"Huwaaaa!"

"Hyukjae, Hae datang memelukmu~~"

"Umma!Appa!Cungmin hyung! Tolong Hyukkie!"

Oke, abaikan pasangan HaeHyuk ini. Mari akhiri chapterini.

To Be Continued

.

.

.

.

.

A/N :

Holaaa~ I'mback~~~

Yang rindu saya HandsUp kayak 2PM! #plak

Fict YunJae pertama saya, muahaha! Ancur yak? Saya memang YunJaeshipper yang gagal *mundung

Anyway, cerita ini ngga Cuma tentang YunJae couple aja. Masih banyak couple yang lain. Bukan Cuma SM couple.

Dan saya bingung, chapter depan itu couple nya apa? So, saya mau minta pendapat chingudeul buat nentuin couple nya.

Ppyong!

Regards,

The Ultimate Seme Yayaoi.