YA-HA! Akhirnya chapter 2 update juga xD setelah sekian lama jamuran karena belum juga dijemur (?) #bangga

Sebelumnya saya mau minta maaf karena di chapter sebelumnya ada banyak sekali kesalahan u_u *bow* gomennasai, minna.

Tapi semoga saja di chapter ini kesalahannya semakin berkurang (amin (-/\-))

Enjoy Reading~

An Eyeshield 21 Fanfiction

91 Mission

Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story by Yuuki Hiruma

Pairing: Hiruma x Mamori

Genre: Romance, Action

Rating: T

WARNING! OC bertebaran, OOC akut, Typo dimana-mana, Action dan Romance gagal ._.)

DON'T LIKE, DON'T READ

Summary: Hiruma dan Mamori. sosok Kapten dan Manajernya. Pada awalnya semua hal memang berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah dalam sekejap. 'mereka' telah bergerak kembali. Organisasi gelap itu tengah mengincar mereka berdua, terutama sang malaikat.

-ユーキヒルマ-

CHAPTER 2: A Plan

Lelaki itu –Kobayakawa Sena, kini bungkam. Tak percaya dengan pemandangan yang disuguhkan. Otaknya masih belum bisa memproses semua kejadian yang terjadi dalam waktu yang amat sangat singkat itu. Kedua iris coklat karamelnya menutup, masih belum bisa menerima keadaan.

"Apa… yang terjadi?" tubuh sang Eyeshield itu bergetar, mendorong butiran kristal bening untuk membasahi jenjang kulit kecoklatannya. Namun masih tertahan. Ia tahu, seorang pria tak seharusnya meneteskan air mata, sangat tahu.

Tubuh kecil Sena menatap lirih suasana rumahnya yang berantakan. Beberapa tetesan cairan merah kental juga ia temukan, sampai akhirnya iris coklat caramel tersebut menatap sebuah objek. Objek yang sangat berharga baginya.

"Tou-san!" sepasang kaki 'emas'nya melangkah cepat menghampiri tubuh sang ayah yang dipenuhi darah. Masih dengan mata berkaca-kaca, Sena membaringkan tubuh Shuuma –ayahnya yang terlihat mengenaskan. Kaki kiri pria paruh baya itu terputus. Menyisakan celana kerja abu-abu yang dipenuhi oleh cairan merah kental. Melihatnya saja, sudah membuat Sena ingin menangis. Tidak, bahkan lebih dari itu.

"Tou-san…kenapa? Kenapa bisa begini…?" bibir tipis Sena bergetar. Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Sosok pria kecil itu menangis.

"Kaa-san?! Dimana Kaa-san?!" iris mata coklat caramel itu menyapu sekeliling, mencari sosok wanita yang paling dicintainya. Sang ibu.

"Sena-kun! A-apa yang- kyaaa~" teriak seseorang dari balik pintu masuk. Mihae Kobayakawa. Sosok ibu rumah tangga itu langsung menghampiri suami dan anaknya –terutama sang suami. Melihat kaki kiri pria itu putus, membuat wanita berusia tiga puluh lima tahun itu tak kuasa menahan tangis.

Ya, keluarga Kobayakawa baru saja mengalami perampokan yang mengakibatkan kaki kiri Shuuma terputus. Tak lagi menyambung dengan tubuhnya. Pihak kepolisian bahkan sudah rapi berada didepan –maupun didalam rumah tersebut. Mencoba mencari bukti.

"kita kerumah sakit sekarang!" Sena sudah bersiap untuk membopong tubuh ayahnya yang terkulai lemas agar segera dibawa kerumah sakit.

-ユーキヒルマ-

Gadis berambut auburn itu mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di tempat tujuan. Otak jeniusnya melayang memikirkan keadaan adik kesayangannya, Kobayakawa Sena.

"Mamo-nee!" teriak salah satu orang yang dikenalnya. Mamori menoleh, mendapati sosok gadis berambut biru-ungu tengah mengendarai in-line skatenya. Dari raut wajahnya, dapat dipastikan kalau gadis ini juga khawatir dengan keadaan Sena.

"Suzuna-chan…" Mamori ingin melanjutkan kata-katanya, namun diurungkan. Sepertinya ia tahu betul bagaimana perasaan Suzuna sekarang. Oh ayolah, siapa yang tidak khawatir kalau seseorang paling terkasihnya tertimpa musibah? Terlebih lagi dia adalah orang yang sangat special. Atau yang biasa disebut kekasih.

Ya, Suzuna memang telah menjalin hubungan khusus dengan 'adik' kesayangan Mamori, Kobayakawa Sena. Semuanya berawal ketika tim devil bats berhasil mengalahkan bando spiders dan maju ke turnamen kanto.

Kini mereka berdua telah sampai didepan kediaman Kobayakawa. Rumah yang nyaris tak berwujud itu dipenuhi oleh beberapa polisi. Garis kuning yang dipasang oleh polisi juga menghiasinya.

"Sena…bagaimana keadaan Sena?" Suzuna membuka kedua mulutnya. Kali ini suaranya sedikit bergetar. Cairan bening yang sedari tadi ditahan agar tidak keluar, kini telah membasahi tiap lekuk wajah cantiknya.

Mamori yang melihatnya, langsung menarik tubuh kecil itu kedalam sebuah pelukan. Tak ingin merasakan kesedihan yang lebih dalam lagi. "dia pasti baik-baik saja, Suzuna-chan. Tenanglah…" ia mulai mengusap rambut biru-ungu milik Suzuna. Mencoba memberikan ketenangan.

You've got a call…You've got a call…

Mamori melepaskan pelukannya, kali ini pandangan kedua iris safir itu jatuh pada benda kotak metalik yang berada di sakunya. Nampak berkedip-kedip. Dengan segera, diulurkan tangannya, meraih ponsel tersebut.

Kobayakawa Sena, Calling….

Ya, itulah nama yang tertera diatas layar benda metalik tersebut. Dengan sigap, Mamori langsung memencet tombol hijau. Menyambungkannya dengan Sena.

"moshi-moshi? Sena-kun? Kau dimana? Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa? Ji-san dan ba-san baik-baik saja kan?" gadis itu mengeluarkan sederet pertanyaannya. Sepertinya penyakit overprotektiv Mamori belum hilang sepenuhnya. Ayolah, Sena bukanlah anak kecil lagi sekarang.

"Mamori-neechan…a-aku sedang berada di rumah sakit. Ayahku, dia…"

-ユーキヒルマ-

"sepertinya dia harus mendapatkan perawatan intensif sesegera mungkin. Kalau tidak, kondisinya akan semakin memburuk." Ucap salah seorang pria paruh baya dengan atributnya yang serba putih. Sementara Mihae dan Sena terus terdiam, tak tahu-menahu harus berbicara apa.

Kali ini, suasana didalam ruangan serba putih itu hening. Hanya isakan Mihae yang mendominasi. Sementara Sena terus menatap nanar sosok ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri.

"onegaishimasu. Lakukan yang terbaik demi kesembuhan ayahku!" pria kecil berambut hazel itu berucap lantang. Meskipun masih ada beberapa geratan dalam nada suaranya. Sang dokter hanya memberikan senyuman kecil.

"kami akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan tuan Shuuma." Ucapnya. Pria serba putih itu melangkah keluar ruangan, meninggalkan keluarga Kobayakawa.

"tou-san...pasti baik-baik saja, kan?" Sena bergumam. iris coklat karamelnya menatap tubuh Shuuma yang terbaring lemah diatas ranjang. Sosok ayah yang tegas, yang selalu mendukungnya dan memberikan semangat, kini terbaring diatas ranjang putih dengan beberapa alat bantu kesehatan di tubuhnya. Oh, mungkinkah ini sebuah mimpi?

-ユーキヒルマ-

Ruangan tersebut didominasi oleh kegelapan. Hanya sebuah cahaya kecil yang menerangi. Sebuah cahaya yang berasal dari benda elektronik kotak yang sedang sibuk dimainkan oleh sang pemilik. Beberapa bunyi ketukan keyboard terdengar. Mengurangi kesunyian yang terjadi.

PLOP!

Pria berambut spike pirang meletupkan balon permen karet yang dibuatnya. Bersamaan dengan itu, ia juga menghentikan aktifitasnya memainkan keyboard. Kedua iris hijau emeraldnya menatap tajam layar laptop didepannya.

"sudah kuduga, mereka telah kembali..." gumam Hiruma –pria itu. Ia bergegas menutup laptopnya, mengeluarkan benda kotak hitam kecil dan mulai menekan beberapa angka.

"segera periksa kediaman Kobayakawa, sekarang." Ujar Hiruma cepat. Pria itu langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban.

Hiruma melangkahkan kakinya, duduk di tepi ranjang king size miliknya. Kedua tangannya ia tautkan, menjadi sandaran kepalanya.

Tangan kanan Hiruma kembali merogoh saku celana, mengambil kembali benda kotak hitam yang baru saja ia gunakan. Kali ini ia memencet tombol 2, memanggil seseorang.

"Ada apa, Hiruma-kun?" sahut suara lembut dari seberang. Hiruma menarik napas sebentar, sebelum akhirnya menyahut.

"manajer sialan, ke apartemenku sekarang." Ucapnya. Lagi-lagi, tanpa menunggu respon dari seberang, pria itu memutuskan pembicaraan secara sepihak.

"tch, pergerakan mereka lebih cepat dari yang kukira."

Hiruma menghempaskan tubuhnya diatas ranjang king size. Menyembunyikan kedua iris hijau emerald. Kedua alisnya bertaut, sedetik kemudian ia menghela napas. Sesekali Hiruma melirik jam tangan yang terpasang di lengan kirinya. Pukul 10 malam. Masih terlalu awal untuk menunggu manajernya kesini. Mengingat, baru saja dua menit yang lalu ia menelpon.

Hiruma beranjak dari tempat tidurnya, kali ini pria itu menempatkan dirinya diatas sofa empuk. Kedua kakinya ia silangkan diatas meja, sementara kedua tangannya dengan seduktif menyalakan benda elektronik kesayangannya –lagi, VAIO.

Jari-jari panjangnya menari-nari dengan lincahnya diatas keyboard. Kedua mata hijau emerald terfokus menatap seberkas cahaya yang ditimbulkan dari layar laptop.

CKLEK!

Pintu apartemen terbuka, menampakkan sosok gadis cantik berambut auburn yang tengah membawa beberapa keranjang yang berisi makanan, mungkin?

"kau lama sekali, monster sus." Tukas Hiruma tanpa mengalihkan pandangan iris hijaunya dari laptop. Lagipula, ia sudah sangat 'mengenali' siapa yang telah memasuki apartemennya.

"mou! Tadi aku mampir sebentar ke Sonson untuk membeli beberapa bahan makanan. Aku tahu, kau belum makan..." pipi gadis itu sedikit memerah setelah mengucapkan sederet kalimat tersebut. Sementara Hiruma hanya tersenyum, ralat. Menyeringai tipis mendengarnya.

Hiruma mengalihkan pandangannya, menatap kedua iris biru safir. "kekeke, tak kusangka kau begitu perhatian padaku." Kali ini seringaian lebar ditunjukkannya.

"kau kapten, dan aku manajernya. Kau juga termasuk 'keluarga' tim devil bats. Apa salah kalau aku memperhatikanmu?" ujar Mamori sarkastik. Gadis itu segera menyalakan saklar, kemudian menuju ke dapur.

"tch, dasar monster sus." Gumam Hiruma. Pria itu melanjutkan acaranya yang sempat tertunda karena kedatangan manajernya. Sementara Mamori kini tengah berkutat di dapur dengan keranjang-keranjang makanan yang dibawanya.

"ini kopinya, Youichi-kun." Mamori meletakkan secangkir kopi hitam diatas meja. Hiruma hanya bergumam tak jelas sambil terus fokus pada pekerjaannya.

Mamori kembali berkutat di dapur. Kali ini ia sedang memasak sesuatu untuk makan malam. Dengan cekatan, Mamori mencampurkan beberapa bahan yang dirasa perlu untuk hidangan makan malam.

Tanpa sadar, Hiruma terus memperhatikan sosok gadis auburn. Iris hijaunya tak melewatkan sedikitpun pergerakan dari sang manajer devil bats. Aliran darahnya berdesir, jantungnya berdetak dengan tempo yang lebih cepat dari biasanya. Benar-benar calon pendamping hidup yang diharapkan, eh?

"tch, apa yang kupikirkan." Gumam Hiruma. Pria spike itu memutuskan untuk kembali fokus pada pekerjaannya semula, menganalisa pergerakan 'musuh'.

-ユーキヒルマ-

Sosok pria berambut hitam raven menatap kedua iris merah darah dengan seksama, seolah meminta sebuah penjelasan.

"jadi, kau gagal lagi?" ucapnya. Kilatan kemarahan terlihat dari ujung matanya. Pria raven tersebut bangkit dari tempat duduknya, mencengkram kedua kerah baju sang pemilik iris merah.

"ini masih terlalu awal, Master. Bahkan saya masih belum menunjukkan rencana yang sebenarnya. Saya mohon, percayalah." Tukas pria beriris merah dengan tenang.

Sang pria raven mulai meregangkan cengkramannya, menatap kedua iris merah darah lekat-lekat, kedua alisnya ia tautkan, meminta sebuah penjelasan.

"tch, kalau begitu apa rencanamu yang sebenarnya, Kurayami Jinsei?"

Pria beriris merah –Kurayami Jinsei sedikit menyeringai mendengar ucapan sang Master. "sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan seseorang kepada anda, Master." Kedua iris merahnya melirik pintu ruangan, menunggu seseorang untuk masuk.

CKLEK!

Nampak seorang pria dengan rambut short mohawk azurenya berdiri didepan pintu ruangan sang pria hitam raven. "Yamazaki Sora desu." Ucap pria itu singkat. Badannya sedikit ia turunkan, mengingat yang berada di depannya adalah orang penting yang sekarang menjadi 'klien'nya.

"tch, sekarang jelaskan rencanamu yang sebenarnya." Kurosaki Dai –pria pemilik rambut hitam raven, kembali ke tempat duduknya. Kedua tangannya siap memangku sang kepala, mendengarkan penjelasan Jinsei.

"jadi, rencana saya yang sebenarnya adalah..." Jinsei menarik napas sejenak.

-ユーキヒルマ-

"Youichi-kun, makan malamnya sudah siap." Ujar Mamori. Gadis itu baru saja selesai 'bertarung' di dapur. Kali ini ia menghampiri sosok Hiruma yang masih fokus pada pekerjaannya, berniat sang pria spike agar segera menuju meja makan.

Hiruma melirik sebentar, kemudian menutup laptopnya. Tanpa berkata-kata, ia langsung menuju tempat yang dimaksudkan Mamori.

"kali ini aku membuatkanmu kare dengan tambahan beberapa daun mint." Mamori meletakkan semangkuk besar kare diatas meja. Disusul dengan dua mangkuk nasi.

Hiruma diam. Pria itu tak merespon sedikitpun ucapan Mamori. Hanya saja, sekarang kedua iris hijaunya sekarang menatap intens sosok gadis auburn didepannya.

Merasa diperhatikan, Mamori membuka mulutnya. "A-aku...aku berpikir untuk menambahkan d-daun mint, ka-karena kupikir kau akan me-menyukainya." Ucapnya takut-takut. Oh ayolah, Mamori tak ingin berada dalam situasi seperti ini. Kedua mata itu, mata hijau yang menenangkan. Kenapa Hiruma harus menatapnya seperti itu?

"a-ah, ittadakkimasu!" tukas Mamori cepat. Sepertinya ia tak ingin berlama-lama berada dalam suasana yang –menurutnya lumayan canggung tersebut. Sementara Hiruma hanya mendecih ria, sebelum akhirnya menghabiskan makan malamnya.

"Oi, manajer sialan. Kemari sebentar," perintah Hiruma. Di kala itu, mamori sedang membereskan sisa makan malam mereka.

"chotto matte. Akan kubereskan mangkuk-mangkuk ini dulu." Sahut Mamori. Dengan cekatan gadis itu membereskan sisa-sia makan malam mereka.

Kini, Mamori telah selesai dengan pekerjaannya di dapur. Gadis itu lantas menghampiri Hiruma yang tengah duduk santa diatas sofa. Kedua tangan pria itu direntangkan, memejamkan kedua matanya sebentar.

"Nee, ada apa?" Mamori membuka mulutnya, menatap sosok pria spike disampingnya. Nyaman dan menenangkan. Hiruma mengubah posisi duduknya, kali ini kedua iris hijaunya menatap Mamori. Hijau dan biru safir bertemu.

"aku tidak akan mengulangi ucapanku. Jadi, dengarkan baik-baik." ucap Hiruma. Tak ada seringaian yang muncul. Rupanya ia benar-benar sedang serius sekarang.

"kau pasti sudah mengetahuinya, perampokan dirumah anak pendek tersebut. Aku yakin, ini adalah seratus persen perbuatan mereka." Hiruma menghentikan ucapannya. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, meraih sebuah benda mikro yang hampir tak terlihat.

"tak lama lagi, mereka akan kembali meluncurkan serangan. Jadi, jangan biarkan pertahananmu lengah sedikitpun. Atau kau akan mati." Kedua iris biru Mamori membulat mendengarnya. Sekejam itukah mereka?

"lalu, bagaimana denganmu. You?" terlihat sorot kecemasan dalam ucapan Mamori. Ya, gadis itu mencemaskan Hiruma. Bagaimanapun, alasan dia masih tetap hidup adalah Hiruma. Setelah kejadian beberapa tahun silam.

"aku akan melakukan semua yang kubisa." Hiruma mendekat menuju posisi Mamori.

GREP!

Sang iblis memeluk erat malaikatnya.

"tenanglah, aku akan selalu melindungimu. Anezaki." Bisiknya. Sangat pelan, namun masih cukup terdengar oleh Mamori. Mengingat posisi mereka yang sangat dekat.

-ユーキヒルマ-

Meja kecil itu penuh dengan berbagai jenis cake dan beberapa buket bunga. Tak cukup sampai disana, kini terdapat lebih dari tiga orang yang berada didalam ruangan serba putih tersebut.

"Huaaa~ Sena-kun, kami turut bersedih atas apa yang telah menimpa keluargamu." Teriak –tangis sebuah suara berat yang amat familiar. Kurita Ryoukan.

"kau harus kuat, Sena."pria yang memiliki plester di hidungnya menimpali. Monta menepuk pundak sahabatnya, mencoba memberikan semangat. Sebuah cengiran terukir di wajahnya yang 'menyerupai' monyet.

"Ahaha~"

"kurasa..."

"monyet itu..."

"ada benarnya..."

"FUGO!"

Taki, Kuroki, Juumonji, Toganou, dan Komusubi yang entah-sejak-kapan berada didepan pintu ruangan serba putih tersebut ikut menambahkan.

"minna...kalian..." sang Eyeshield tak kuasa menahan air matanya. Melihat semua teman-temannya berkumpul, dan saling peduli satu sama lain sudah cukup membuatnya bahagia.

"jadi, bagaimana keadaan Ayahmu sekarang?" Musashi melontarkan pertanyaannya. Menatap sosok pria kecil didepannya.

"Tou-san...dia..." Sena menggantungkan ucapannya. Raut wajah pria kecil itu berubah. Ingatan-ingatan tentang kejadian hari itu kembali memenuhi otaknya.

"Ayah Sena tidak apa-apa. Hanya sedikit luka di kakinya." Sambung wanita paruh baya yang berdiri di belakang Sena. Mihae Kobayakawa. Ia memegang kedua pundak Sena, berharap anak semata wayangnya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Kobayakawa Sena terdiam.

"are? Aku tidak melihat Mamori-chan. Apakah dia tidak ikut?" Mihae melanjutkan. Ia melebarkan pandangannya, menatap sekeliling. Mencari sosok gadis berambut auburn.

"Anezaki-san sedang tidak bisa ikut. Aku yakin dia pasti memiliki urusan yang penting." Jawab Musashi sambil mengorek telinganya.

"ah, ngomong-ngomong aku juga tidak melihat Hiruma." Sambung Kurita. Kini pria itu tengah melahap cake yang berada diatas meja. Sepertinya telah lupa kalau sebenarnya cake itu telah ia berikan pada Sena.

"Yaa~ jangan-jangan mereka berdua sedang berkencan. Fufufu," sahut Suzuna. Antena di kepalanya sudah bergerak tak karuan. Sukses membuat sosok Monta berasap.

-ユーキヒルマ-

Kediaman Kobayakawa

Pagi itu masih terdapat beberapa polisi yang menyelidiki latar belakang kasus perampokan yang terjadi dua hari silam. Beberapa juga menemukan barang bukti yang mungkin bisa digunakan untuk melacak sang pelaku. Tak jarang, anjing-anjing pencari juga turut mengambil peran.

"sepertinya, pelaku bukanlah orang biasa." Celetuk salah seorang pria yang tengah memasukkan beberapa sampel barang bukti yang didapatkannya. Ia menyembunyikan kedua iris matanya kedalam topi koboy yang dikenakan.

"sampai saat ini, aku hanya menemukan beberapa barang bukti yang belum bisa dipastikan keakuratannya." Lanjutnya. Ia mulai mengaktifkan benda kecil yang menempel disekitar lehernya, mencoba berkomunikasi dengan seseorang.

"Agen nomor tiga kepada pusat. Saya telah menemukan beberapa barang bukti di tempat kejadian." Lapornya dengan sedikit mengurangi volume suara. Berusaha agar tak ada satupun yang mendengar –kecuali bagian pusat.

"bagus. Terus lakukan penyelidikanmu, idiot sialan." Sahut sebuah suara husky dari seberang. Sang pria segera memutuskan pembicaraan dengan pusat.

"yare yare, dari dulu pria itu tidak pernah berubah. Selalu saja memanggil nama orang seenaknya sendiri." Gumamnya. Shien Mushanokoji –pria itu, mulai melangkah menjauhi kediaman Kobayakawa. Menyelidiki barang bukti yang telah ia temukan.

Dari kejauhan, nampak sosok pria dengan pakaian serba hitam tengah memperhatikannya. Sebuah seringaian kecil terukir dibalik wajahnya. Dengan cepat, pria itu mencatat nama sang 'Agen Nomor Tiga' di kepalanya. Shien Mushanokoji, aku tahu kau bekerja untuknya. Gumam Jinsei.

-ユーキヒルマ-

Hari ini suasana ruang kelas 2-1 sedikit berbeda dari sebelumnya. Seluruh murid menatap serius pengajar yang sedang berdiri didepan –minus Hiruma tentunya. Sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.

"Hari ini kalian kedatangan murid baru pindahan dari Tokyo. Silahkan perkenalkan dirimu, Hime." Ucap sang pengajar.

Sosok gadis cantik dengan rambut hitam panjang sebahu memasuki ruangan kelas. Refleks, hampir seluruh pasang mata didalamnya menatap sosok tersebut.

"Hajimemashite, Kurohime Yoru desu. Panggil saja Hime. Minna, yoroshiku onegaishimasu." Hime membungkukkan badannya, memberi hormat kepada teman-teman barunya. Terlihat beberapa murid laki-laki terpana akan kecantikannya.

"silahkan mengambil tempat duduk disebelah sana." Tukas sang pengajar. Sementara Hime hanya mengangguk kecil, kemudian melangkah menuju tempatnya.

Hiruma menghentikan 'pekerjaannya'. Kedua iris hijau melirik sosok gadis bernama Hime. Sebuah raut wajah tidak suka menyelimutinya.

"tch, mau apa gadis sialan itu kemari? Bodoh." Umpatnya. Bersamaan dengan itu, Mamori yang berada tepat didepan Hiruma menoleh. Seolah dapat mendengar ucapan sang iblis.

"kau mengenalnya, Hiruma-kun?" tanya Mamori. Sementara yang ditanya justru mengangkat kedua kakinya diatas meja dan menyilangkan kedua tangannya kebelakang. Berpura-pura tak mendengarkan sesuatu.

"mou! Jawab aku, Hiruma-kun!" kali ini nada suara Mamori sedikit meninggi. Namun tetap saja, tak ada respon dari pria bertelinga elf tersebut.

Dari kejauhan, Hime memperhatikan kedua sosok malaikat dan iblis dengan intens. Kilatan kemarahan dan kebencian tersirat dari sorot matanya. Merasa tak suka dengan sosok gadis berambut auburn sebahu yang tengah menggembungkan pipinya.

Anezaki Mamori. Kau sudah berada dalam jangkauanku. Kali ini, takkan kubiarkan kau bersama dengan tuan muda lebih lama lagi. Gumamnya.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

.

Balasan review buat chapter 1 (yang gak log in)

Guest: hehe, iya ini sudah keluar lanjutannya kok ^^

AnimeaLover Yaha: ahaha, jadi malu *ngumpet di ketek kurita* sudah apdet kok :)

Guest: ini sudah ada sambungannya. Silahkan dibaca :D

.

Yosh, itu tadi balasan review dari saya. Maaf kalau cerita ini kurang berkenan atau terkesan geje ._.a

And then...

[REVIEW, SUGESTION, OR FLAME (keep polite)]

Sampai jumpa di chapter berikutnya ^^