A-Yo! Akhirnya chapter 3 update juga. setelah sekian lama menghilang dari dunia ffn XDD #bangga

Mungkin di chapter ini bakal fokus ke kehidupan Hiruma-Mamori-Hime. Macem cinta segitiga gitu. Semoga saja tidak mengecewakan x3 Selamat membaca~

An Eyeshield 21 Fanfiction

91 Mission

Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story by Yuuki Hiruma

Pairing: Hiruma x Mamori

Genre: Romance, Action

Rating: T

WARNING! OC bertebaran, OOC akut (terutama Hiruma), Typo dimana-mana, Action dan Romance gagal ._.)

DON'T LIKE, DON'T READ

Summary: Hiruma dan Mamori. sosok Kapten dan Manajernya. Pada awalnya semua hal memang berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah dalam sekejap. 'mereka' telah bergerak kembali. Organisasi gelap itu tengah mengincar mereka berdua, terutama sang malaikat.

-ユーキヒルマ-

CHAPTER 3: A Rival?

Sore hari, langit sedang tak begitu bersahabat. Mentari tengah menyembunyikan dirinya dibalik awan tebal diatas kota Deimon. Sepertinya akan turun hujan. Suara-suara gemuruh dan kilatan-kilatan petir yang membentang disepanjang horizon dibawah kota Deimon menambah gelap suasana. Seolah siap menurunkan butiran-butiran air hujan kapan saja.

Disebuah lapangan olahraga, suara tubrukan-tubrukan keras antara sesama manusia terdengar. Tak hanya itu, suara tembakan dari bazooka juga menambah keramaian didalamnya.

"LEBIH CEPAT LAGI, ORANG-ORANG SIALAN!" teriakan sebuah suara husky memenuhi seisi lapangan. Membuat manusia-manusia didalamnya memacu tenaganya lebih cepat lagi, tak ingin ditangkap oleh bazooka sang kapten.

Di salah satu sudut lapangan, berdiri dua orang gadis cantik. Sosok yang berambut biru-ungu berteriak dengan penuh semangat, memberikan dukungan bagi teman-temannya yang sedang mengalami latihan neraka. Sementara gadis auburn sebahu disebelahnya hanya menunjukkan sebuah senyuman tipis.

"Cukup orang-orang sialan! Kalian dapat istirahat." Ujar sang kapten disambut dengan beberapa tembakan dari bazookanya. Kini giliran sang manajer yang bertindak. Mamori bergegas mengambil beberapa handuk dan air mineral untuk diberikan kepada teman-teman satu timnya, termasuk sang kapten.

"kalian sudah berusaha keras." Mamori berlari kearah teman-temannya yang kini tengah berbaring ditengah lapangan. Gadis itu mulai membagikan handuk dan air mineral yang telah ia siapkan sebelum latihan kepada mereka. Tentunya dengan bantuan Suzuna, sang kapten cheers.

"arigatou, Mamori-san!" seru mereka bersama-sama. Sementara Mamori hanya membalasnya dengan senyuman malaikat diwajahnya. Senyuman yang cukup untuk menenangkan hati.

"ah, Sena! Bagaimana keadaan Shuuma-jisan?" celetuk Suzuna yang –entah sejak kapan sudah berada disamping sang eyeshield. Kini, sorot mata anggota devil bats terfokus padanya. Menunggu jawaban dari sosok pria bertubuh kecil. Mau tak mau, rasa penasaran juga menyelimuti pikiran mereka.

"kondisinya s-sudah lebih baik se-sekarang." Jawab Sena. Nampak jelas ekspresi gugup di wajah kecoklatannya.

"yaaa~ kalau begitu nanti aku akan menjenguknya nanti!" gadis biru-ungu berucap penuh semangat. Kedua iris violetnya berkilat senang.

"sudah kuduga..."

"kau..."

"menyukai Sena..."

Celetuk HaHa bersaudara diikuti anggukan Monta. Langsung saja, rona kemerahan mulai menjalari wajah Sena, maupun Suzuna. Keduanya menunduk malu, tak berani menatap teman-teman yang semakin memojokkan mereka. Beberapa godaan, ucapan-ucapan jahil, dan –apapun itu keluar dari mulut anggota devil bats.

Semua anggota team tertawa melihat ekspresi kedua orang yang tertangkap basah tengah memiliki hubungan spesial. Sena dan Suzuna. Membuat keduanya semakin menundukkan wajah mereka.

Mamori tersenyum. Gadis itu bahagia. Sena yang selama ini ia lindungi, Sena yang selama ini ia anggap tak mampu melakukan apapun, Sena yang pemalu, Sena yang selalu gugup, kini sudah beranjak dewasa. Bahkan pria kecil itu sudah memiliki pacar.

ZZRRRR

Butiran-butiran liquid bening mulai membasahi seluruh kota deimon dengan cepat. Rupanya hujan telah menunjukkan eksistensinya dibawah horizon kota kecil ini. Membuat seluruh anggota devil bats cepat-cepat untuk berteduh. Menghindari hujan. Terkecuali Anezaki Mamori.

Gadis itu tepat mematung ditengah hujan deras yang baru saja datang beberapa detik yang lalu. Ah, tidak. Bukan sekedar mematung disana. Kedua iris biru safir itu menyapu sekeliling, mencari sosok pria jangkung spiky yang tak dilihatnya semenjak latihan berakhir.

Ekspresi khawatir terukir jelas di wajah cantiknya. Membiarkan siluet tubuhnya terbasahi oleh hujan. Ia terus mencari sosok sang quaterback deimon.

"Oi! Kau mau membunuh dirimu sendiri? Berdiri sendirian ditengah hujan deras seperti ini. Dasar monster sus!" seru sebuah suara husky dibelakangnya. Mamori menoleh dan mendapati sosok pria yang dicarinya. Sang quaterback, Hiruma Youichi.

"aku mengkhawatirkanmu, dasar baka!" Mamori mulai mengerucutkan kedua bibirnya. Menatap jengkel sosok pria yang berdiri tepat didepannya. Samar-samar, dapat ia rasakan aroma mint yang menguar dari tubuh pria itu.

PUK!

tangan besar Hiruma mendarat diatas puncak kepala Mamori. Pria itu mengacak rambut auburn yang tengah basah oleh air hujan. Justru membuat Mamori berhenti mengerucutkan bibirnya, berganti dengan rona merah yang mulai menjalari pipinya.

Hiruma mendekatkan wajahnya, "dasar gadis bodoh! Justru aku yang seharusnya berkata seperti itu." Bisiknya tepat disamping telinga Mamori. Membuat tubuh gadis itu menegang sejenak karena ucapannya. Hiruma Youichi bersikap aneh.

"tch, hujan sialan!" gerutunya. Hiruma mulai melangkah menjauhi Mamori yang masih membeku karena perlakuan mengejutkan yang dilakukannya. Tak lama kemudian, gadis itu bergegas menyusul Hiruma dari belakang.

-ユーキヒルマ-

"Youichi, hari ini aku membuatkanmu bento spesial. Aku akan sangat senang jika kau menikmatinya." Sosok gadis berambut hitam panjang mendekati tempat duduk Hiruma. Ditangannya terdapat sebuah kotak makan berwarna merah marun yang siap diberikan kepada sosok pria spiky.

"tidak." Celetuk Hiruma cepat. Pria itu menunjukkan ekspresi dingin, seperti biasa. Namun kali ini lebih terlihat malas.

"ayolah, aku memaksa. Jika kau tidak mau, aku akan marah." Ancam Hime –gadis itu. Ia mengerucutkan kedua bibirnya, memasang ekspresi memohon pada sang komandan neraka. Hiruma mendecih. Rupanya pria itu sedikit risih dengan kehadiran Hime.

Dari belakang tempat duduknya, terlihat sosok Mamori yang tanpa sadar memperhatikan kedua insan tersebut. Tentu saja Mamori telah mendengar semuanya. Gadis itu memanggil nama kecil Hiruma. Urung sudah. Mamori meletakkan kembali bento –yang memang ia khususkan untuk Hiruma –kedalam tasnya.

"Oi, manajer sialan. Mana makan siangku?" Hiruma memutar posisinya, menatap Mamori yang terlihat sedikit terkejut. Mengabaikan kehadiran Hime yang telah bersungut-sungut.

"a-ah, a-aku...aku lupa membuatkanmu. Gomen, tadi aku bangun kesiangan. Jadi tak sempat untuk membuatkan bento. Hontou ni gomen." Ujar Mamori. Menundukkan kepalanya, tak berani menatap kedua iris hijau milik Hiruma. Kedua tangannya terlihat sedang memilin-milin setelan hijau yang dipakainya. Pikirannya berkecamuk. Benarkah ia berbohong seperti ini?

"Nee, kalau begitu kau harus memakan bento dariku!" Hime tetap bersikukuh menginginkan Hiruma untuk segera melahap masakannya. Namun, reaksi Hiruma tetap sama –menolaknya. Pria itu memandang sosok Mamori yang masih menundukkan wajahnya.

"baiklah, kalau kau tidak mau aku akan memaksamu." Hime lantas mengambil isi bento yang dibuatnya, yang kemudian ia sodorkan kepada Hiruma. "buka mulutmu, You-kun." Rupanya ia sudah bersiap untuk menyuapi sang komandan dari neraka. Reaksi Hiruma tentu saja jengkel. Jengkel karena perilaku gadis berambut hitam panjang itu seenaknya sendiri.

Sementara Mamori masih menundukkan kepalanya. Namun tidak untuk kedua iris biru safirnya. Sesekali iris yang indah itu melirik sosok Hime yang bersemangat untuk menyuapi Hiruma. Entah kenapa, ia merasakan sesak di bagian ulu hatinya ketika melihat sebuah adegan seperti itu. Dikepalkan kedua tangannya, menahan liquid bening itu membasahi wajahnya.

"berikan padaku." Celetuk Hiruma. Pria itu menatap serius Hime yang –masih saja –bersikeras untuk menyuapinya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Hime langsung menyerahkan kotak makan siangnya kepada Hiruma.

"Oi, Manajer Sialan. Buka mulutmu!" ucap –mungkin teriak –Hiruma pada gadis auburn yang masih saja menundukkan kepalanya. Hening. Tak ada respon dari sang obyek.

Tiba-tiba, Hime mengambil kembali kotak makan siangnya, "Geez, aku membuatkan bento untukmu. Bukan untuknya!" ujarnya sedikit berteriak.

SREK

Mamori bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai berlari meninggalkan sosok gadis –yang entah memiliki hubungan apa –dengan Hiruma, kekasihnya. Hatinya sudah memanas mendengar ucapan-ucapan gadis itu . kenapa? Mamori sendiri juga tidak mengerti. Hanya saja, terasa sangat sakit.

Kurohime Yoru. Siapa kau sebenarnya?

-ユーキヒルマ-

Deimon Devil Bats. Siapa yang tidak tahu tentang mereka? Tim penyerang yang terkenal dengan semangat dan kerja kerasnya, kini telah lolos menjadi salah satu peserta di turnamen kanto. Masih tergolong pendatang baru memang. Namun perkembangan mereka sangat pesat, berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya.

Tentu saja, jangan lupakan jasa orang yang berada dibalik kesuksesan tim ini. Sang kapten yang berasal dari neraka –entah kenapa ia dijuluki seperti itu. Hiruma Youichi.

Berkat porsi latihan neraka yang sudah ia susun sedemikian rupa, telah berhasil mengantarkan teman satu timnya untuk berkesempatan mengikuti turnamen terkenal yang diadakan setahun sekali.

Dan hari ini, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota team deimon berlatih dengan gigih dan penuh semangat. Nampak sekali perbedaan dari waktu pertama kali mereka mengenal yang namanya American Football. Lagi-lagi, terimakasih kepada usaha sang kapten iblis. Kontrol tower dari neraka.

Mamori mengamati sosok teman-temannya yang sedang berusaha keras ditengah lapangan. Err, walaupun pandangannya memperlihatkan kalau ia hanya mengamati sosok sang kapten yang sedang berteriak dan sesekali menekan pelatuk sang senjata api kesayangan –AK-47.

"latihan untuk hari ini sudah cukup, bocah-bocah sialan!" seru sang kapten –Hiruma. Yang disusul dengan suara tembakan dari bazooka –yang entah ia dapat dari mana. Beberapa anggota menghentikan aktivitasnya. Takut kalau salah satu dari peluru tersebut menembus kepala mereka. Sebagian lagi masih melanjutkan aktivitasnya. Sepertinya sedang cari mati.

"sudah kubilang, latihan hari ini sudah cukup! Apa kalian tuli, hah?!" benar saja, sang kapten kini memberikan death glarenya kepada orang-orang yang tak-mematuhi-perintahnya. Mau tak mau, mereka harus segera menghentikan aktivitasnya. Demi keselamatan nyawa.

"Yo! Minna! Kerja yang bagus!" teriak salah seorang gadis –entah siapa –yang tiba-tiba menghampiri para anggota team deimon. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Berharap mendapatkan informasi dari sosok gadis berambut hitam panjang yang tiba-tiba menampakkan dirinya. Sosok gadis yang tak dikenal.

"a-ano...sumimasen, anata wa dare?" Sena, pria bertubuh kecil itu membuka suaranya. Mencoba meredam rasa penasaran yang menyelimuti hampir seluruh anggota teamnya.

"tch, sedang apa kau disini? Gadis sialan." Hiruma muncul diantara anggota team deimon. Tentu makin membuat seluruh anggota deimon semakin penasaran.

"Youichi-kun! Aitakatta!" sosok tersebut berlangsung memeluk Hiruma. Membuat seluruh anggota team begidik ngeri. Sepertinya gadis itu sudah tak sayang dengan nyawanya.

"Oi! Lepaskan aku! Dasar gadis idiot sialan!" teriak Hiruma. Urat kemarahan sudah menonjol di sudut wajahnya. Menampakkan ekspresi ketidak-sukaan dan risih pada gadis yang tengah memeluknya kini.

CKREK!

"mou! Hiruma-kun, hen-ti-kan! Sudah beberapa kali aku mengatakan kalau tak boleh ada senjata untuk menyakiti orang lain lagi, huh?" sebuah suara lembut menimpali. Sosok itu, Anezaki Mamori yang mulai menghampiri Hiruma yang sudah bersiap untuk menembakkan pelurunya. Setidaknya, sebelum Mamori mulai mengomelinya.

"tch, terserah." Entahlah, kali ini Hiruma lebih memilih untuk mengalah kepada manajernya. Sungguh sikap yang tak biasa untuk seorang Hiruma Youichi.

"ah, Hime-chan! Sedang apa kau disini?" Mamori mengalihkan pandangannya, melihat Hime –gadis berambut hitam panjang –yang sekarang tengah mengerucutkan kedua bibirnya. sepertinya kesal karena melihat Hiruma lebih menurut kepada Mamori daripada dirinya.

"bukan urusanmu, gadis idiot!" serunya sinis. Sukses membuat Mamori sedikit terjengat mendengarnya. Hime lantas beranjak meninggalkan sekumpulan anggota devil bats. Sesekali ia menoleh kebelakang, menatap Mamori yang masih dapat dikategorikan kaget.

"ah, dan satu lagi. Jangan bertingkah seolah-olah kau adalah temanku. Sampai jumpa, Anezaki idiot." Celetuknya.

.

.

.

Hening.

Kini semua anggota tim deimon menatap iba sosok manajer tercinta mereka, Anezaki Mamori. Yang masih terdiam dengan menundukkan kepalanya setelah mendengar beberapa ucapan dari mulut Gadis Hitam tersebut.

"tch, bocah itu perlu diberikan pelajaran rupanya." Tukas Hiruma. Sementara yang lainnya masih tetap diam dalam bisu. Tak tahu-menahu dengan apa yang harus diucapkan pada saat-saat seperti ini.

"YAA~ sepertinya You-nii marah. Perjalanan cinta segitiga antara You-nii, Mamo-nee, dan gadis hitam baru saja dimulai..." celetuk Suzuna. Antena dikepalanya sendiri sudah bergerak-gerak tak karuan. Sesekali menunjuk ke arah Hiruma, kadang juga Mamori. Anggota yang lain langsung memandang Suzuna, seolah ingin mengatakan 'kau-mau-cari-mati-ya'.

"bocah-bocah sialan, kalian boleh pulang." Tutup Hiruma. Iris hijau emeraldnya masih menatap tajam entah-apa , seperti siap untuk melayangkan isi pelurunya kepada siapapun. Meskipun aura membunuhnya tidak terlalu kentara.

Perlahan, tapi pasti. Seluruh anggota klub deimon masing-masing meninggalkan sang kapten dan manajernya. Mereka menaruh kepercayaan yang tinggi kepada sang komandan neraka untuk menjaga Mamori. Ya, bagaimanapun Mamori akan merasa tenang jika berada bersama Hiruma.

"Oi, manajer sialan." Hiruma mulai mendekati sosok gadis auburn yang masih menundukkan kepalanya. Oh, ayolah. Anezaki Mamori tidak selemah ini bukan? Bukankah ia adalah gadis yang kuat?

"Gomen..." satu kata terucap dari mulut Mamori. Satu kata yang cukup membuat Hiruma menaikkan sebelah alisnya.

"sepertinya, aku sudah mengganggu hubungan kalian ya? Hehe." Lanjutnya. Kali ini Mamori menengadahkan kepalanya keatas, menatap hijau emerald milik Hiruma. Ah, bahkan ekspresi kesedihan sama sekali tak nampak.

Hiruma semakin menaikkan sebelah alisnya. Ah, sungguh. Sebenarnya ia mengerti maksud dari ucapan Mamori.

"ah, gomen ne Hiruma-kun. Aku tak tahu kalau kau ternyata dekat dengannya. Gadis itu pasti marah denganku. Yah, walaupun memang aku yang menyebabkan dia marah." Senyuman palsu itu kini lenyap. Berganti ekspresi murung seorang Anezaki Mamori. Sementara Hiruma masih terdiam ditempatnya.

"aku tahu, bagaimana perasaan gadis itu saat mengetahui bahwa orang yang sangat dicintainya bersama dengan orang lain. Ya, aku sangat mengetahui hal itu. Dan juga-"

.

.

.

GREP!

.

.

.

"diamlah. Aku akan lebih marah padamu kalau kau bersikap seperti ini." Hiruma mengusap lembut puncak kepala Mamori. Memberikan gadis itu sebuah ketenangan.

"Hiruma...kun..."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hola, Minna... ^^ *dateng bawa revolver*

Sebelumnya saya mau minta maaf yang sebanyak-banyaknya karena update yang memang-sangat-lama ini. Mohon dimaklumi, karena batas imajinasi saya yang sepertinya masih cetek untuk ff bergenre action kayak gini T_T *dibuang ke laut*

Saya juga minta maaf kalau misal di chapter ini ceritanya pendek banget dan (terlihat) menyimpang dari inti cerita T_T pada awalnya sih saya pernah berpikir untuk menghentikan update ff ini ._. tapi karena saya sudah mem-publishnya, jadi saya juga harus menyelesaikannya.

Untuk para readers, saya minta maaf sebanyak-banyaknya. Hontou ni gomennasai *bow*

Dan sepertinya saya masih belum bisa membalas review dari readers sekalian. Karena kesibukan mulai menjerat #apadeh

Oke, sekian dulu ocehan saya. Akhir kata, saya meminta anda sekalian untuk me-review, meng-kritik, ataupun memberi saran dari chapter ini.

Sampai jumpa ^^