"Aku hanya tidak ingin kau terluka!"
.
.
allihyun presents
A Naruto Fanfiction
AU. Draft Lama. No Editing. Typo/Miss typo (s). Alur tidak beraturan. Minim deskripsi
DLDR is on term
Naruto © Masashi Kishimoto
Please, Stay Here! © allihyun
.
.
.
Please, Stay Here!
-chapter II-
Segalanya terasa berjalan terlalu cepat bagi Sakura. Sepertinya baru semenit yang lalu dia turun dari atap dan bertemu dengan Naruto dan Sasuke. Tapi sekejap kemudian Naruto sudah pergi dengan Ino yang mendadak memaksa Naruto untuk menemaninya pulang. Yah, walaupun Naruto masih berteriak-teriak protes. Itu sih memang kebiasaannya untuk selalu super heboh di setiap kesempatan. Tapi bukan itu yang membuat Sakura sedikit merasa canggung sekarang. Karena gara-gara kepergian Naruto dan Ino tadi, itu berarti sekarang hanya ada dirinya dan...Sasuke!
Di satu sisi Sakura merasa senang, tapi di sisi lain rasa gugup tiba-tiba menyergapnya karena sekonyong-konyong suasana kaku tercipta. Dari tadi mereka tidak mengobrol sepatah katapun, Sasuke yang memang tidak banyak bicara hanya diam. Sedangkan Sakura yang biasanya cerewet itupun tiba-tiba saja kehilangan lidahnya. Rasa gugup yang aneh tiba-tiba menguasai dirinya. Aneh? Ya aneh! Karena ini bukan pertama kalinya Sakura bisa berduaan dengan Sasuke, tapi baru kali ini dia merasa secanggung itu. Jadi untuk mengalihkan rasa canggungnya, Sakura lebih suka membelai-belai Pakkun yang masih ada di sampingnya.
"Sakura," panggil Sasuke akhirnya, mungkin dia sudah tidak tahan dengan aksi diam Sakura, atau mungkin justru cemburu pada Pakkun?
"Ya, Sasuke?"
"Mmm, aku rasa aku pulang saja sekarang, ayo Pakkun!"kata Sasuke sambil mengajak Pakkun pergi.
Sakura hanya berdiri mematung, memandangi punggung cowok yang membawa anjing itu semakin menjauh. Sampai akhirnya menghilang ditelan tangga. Sakura menghela nafas berat,
"Sampai jumpa Sasuke,"katanya kemudian, yang tentu saja tak dapat didengar Sasuke.
.
.
"Heh, Ino!apa maksudmu dengan ini, ha?"tanya Naruto sambil berkacak pinggang. Saat ini dia sedang mengantarkan Ino yang tiba-tiba saja ingin diantarkannya pulang. Dari mukanya jelas Naruto masih kesal dengan 'insiden pemaksaan' tadi. Pasalnya Naruto ingin mengantarkan Sakura, tapi Ino keburu memaksanya secara tidak jelas.
"Huh, apa katamu? Aku hanya ingin diantar pulang, tidak baik kan gadis sepertiku pulang sendirian?lagipula ini sudah hampir gelap,bahaya tahu?"jawab Ino yang juga ikut-ikutan berkacak pinggang.
"Kenapa gak minta diantar Sasuke saja sih?"
"Terserah denganku kan ingin diantar siapa!"
"Kalau begitu kenapa tidak telfon Shikamaru saja, ha?dia pasti tidak keberatan kalau hanya menjemputmu saja."
Mendengar nama Shikamaru wajah Ino tiba-tiba serasa terbakar. Langsung saja dia berbalik dan berjalan lagi agar Naruto tidak menyadari perubahan wajahnya,
"Kau ini bicara apa?Dia pasti sedang sibuk dengan Temari kan? Hmh!"
Naruto menyeringai,
"Hhaa, jadi kau cemburu pada Temari?"
wajah Ino semakin panas,
"A..apa?! Cemburu? Hanya karena si pemalas itu? Maaf saja ya!"balasnya tegas, walaupun hatinya berkata lain.
"Eh?jangan begitu Ino, jangan pura-pura lagi. Tidak jelek kan jujur pada perasaan sendiri? Lagipula Shika itu biarpun pemalas tapi dia murid paling pandai sepanjang sejarah Konoha! Rugi kalau kau melewatkan kesempatanmu untuk bersamanya, lagipulaTemari belum resmi juga kan dengan Shika, masih ada kesempatan!"kata Naruto panjang lebar.
Ino tidak menanggapi perkataan Naruto barusan, dalam hati dia membenarkannya. Tapi membenarkan dan melakukan adalah dua hal yang berbeda.
"Sebaiknya kau tidak bicara lagi, Naruto."
.
Sasuke tidak tahu apa yang sedang ada di kepalanya sekarang. Bom? Racun? Pistol? Entahlah, dia hanya merasa hari ini dia menjadi orang lain. Baru sekitar 5 menit lalu dia memutuskan untuk pulang duluan bersama Pakkun, meninggalkan Sakura. Tapi sekarang? Dia sudah berjalan bersisian dengan gadis berambut pink itu. Ditemani Pakkun tentunya.
Yah, setelah sampai pintu gerbang sekolah tadi, tiba-tiba saja Sasuke ingat Sakura. Dan mau tidak mau ingatannya melayang pada wajah gadis itu yang beberapa hari ini kelihatan muram. Tidak seperti Sakura. Ah, kenapa dia harus peduli? Biasanya kan dia sama sekali tidak peduli, dan harusnya tidak peduli. Tapi nyatanya dia peduli, dan perasaan itulah yang mendorongnya untuk kembali ke tempat Sakura.
Setelah sampai di tempat Sakura segalanya ternyata tidak langsung jadi mudah. Justru Sasuke harus berdiri mematung dulu karena tidak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya dia bisa bicara dan hanya kata-kata bodoh itu yang keluar dari bibirnya,
"Sakura, umm.. Sepertinya rumah kita memang searah."
Hah? Apa itu tadi? Sasuke bahkan tidak percaya bahwa yang bicara tadi adalah dirinya. Kedengaran terlalu bodoh. Sangat tidak Uchiha.
Hhh, tapi betapapun bodohnya itu yang jelas sekarang Sakura sudah ada di sampingnya. Pulang bersamanya.
Dilihatnya Sakura yang berjalan di sisinya. Wajah gadis itu sudah tidak begitu muram, walaupun tidak juga ceria. Tapi itu lebih baik. Hati Sasuke jadi lega karenanya, perlahan-lahan bibirnya membentuk seutas senyum. Tapi kemudian dia kaget sendiri.
Eh? Dia...tersenyum? Hanya gara-gara gadis berambut pink ini?...Kenapa?
.
.
Blossom street sudah lumayan sepi ketika dua anak manusia itu berjalan melintasinya. Hanya ada segelintir orang yang keluar rumah, itupun kebanyakan yang baru pulang dari kerja. Sebagian berar lainnya lebih memilih untuk berdian di rumah, menikmati waktu senggang dengan keluarga. Maklum musim dingin seperti ini memang lebih enak berkumpul dengan kehangatan keluarga,membuat hati juga terasa hangat.
Sakura tersenyum simpul memperhatikan keadaan sekitarnya yang mulai didominasi sinar lampu jalan kemudian menoleh ke arah Sasuke yang berjalan di sampingnya itu. Ada sedikit rasa heran terpeta di wajahnya. Hari ini menurutnya Sasuke aneh, lebih pendiam dari biasanya, tapi jadi lebih perhatian. Dan...entah itu hanya perasaannya atau apa, Sasuke terlihat lebih manusiawi hari ini. Tidak tahu opini itu datang darimana, yang jelas Sasuke kelihatan lebih...manis! Hmm, memikirkan hal itu malah membuat wajahnya tiba-tiba menjadi panas, tanpa melihat kaca pun dia sudah tahu bahwa pasti ada rona merah di wajahnya. Sakura memang selalu begitu kalau ingat Sasuke. Tanpa sadar dia malah menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin maksudnya supaya dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Tapi bagi Sasuke yang tak tahu apa yang ada di dalam tempurung kepalanya itu menganggapnya aneh. Pikirnya, Sakura sedang disko.
"Ada apa?"
Sakura yang merasa diperhatikan itu lagi-lagi menggeleng. Dia hanya menjawab,
"Aku...hanya ingin berterimakasih pada Sasuke-kun karena sudah mau mengantarku pulang,"
"Hn."
Dan kemudian hening.
Udara jadi terasa semakin dingin. Bukan hanya karena suhunya yang semakin rendah, tapi juga karena suasana kaku nan beku yang tercipta. Hanya Pakkun yang sepertinya tidak terganggu dengan hal itu, dia masih berjalan riang sambil sesekali mengibaskan ekornya.
Berbeda dengan tuannya yang kelihatan jengah dengan itu. Di luar kebiasaan, Sasuke yang biasanya menjunjung tinggi prinsip ketenangan itu jadi tidak betah dengan kecanggungan ini. Akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. Daripada terus-terusan penasaran,
"Sakura?"
Gadis berkuncir itu menoleh, dari sinar lampu Sasuke bisa melihat kalau mata Sakura berbinar. Mungkin karena dia memanggilnya, atau mungkin hanya ilusinya saja. Ah, entahlah!
"Ya Sasuke?"tanya Sakura ketika dilihatnya Sasuke hanya diam saja.
"Oh err... Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
Mata hijau Sakura mengerjap-ngerjap tak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Sasuke ingin menanyakan sesuatu padanya? Eh? Sama sekali bukan hal yang biasa. Apa jangan-jangan Sasuke ingin mengatakan sesuatu tentang perasaannya selama ini? Hah? Mikir apa sih?
Lagi-lagi Sakura menggeleng-gelengkan wajahnya yang sudah mulai bersemu merah.
"Ini tentang Itachi nii-san."kata Sasuke dingin.
Seketika itu juga rona merah di wajah Sakura menghilang.
Sasuke memperlambat langkahnya ketika disadarinya perubahan wajah Sakura. Dia bisa merasakan bahwa Sakura kembali menegang hanya dengan mendengar satu nama itu, Itachi.
"Aku tahu,"kata Sasuke kembali angkat bicara.
"Aku tahu... Perubahan sikapmu akhir-akhir ini karena mendengar bahwa nii-san akan kembali ke Konoha. Aku juga tahu kau begitu mencemaskanku sampai-sampai kau sendiri yang justru dihantui ketakutan itu. Aku bahkan tahu kau sering diam-diam menangis hanya karena ini. Aku tahu Sakura. Tapi...bisakah kau mengerti? Ini sama sekali bukan urusanmu, ini hanya antara aku dan nii-san, hanya tentang klan Uchiha. Dan kau, sebagai orang luar, kuharap tidak usah terlalu memikirkan ini. Kau sudah cukup merepotkan banyak orang hanya untuk kabar burung bodoh itu!"kata Sasuke panjang lebar.
Baru sekali ini dia berbicara sepanjang itu, sekaligus setega itu, pada Sakura pula. Bukannya dia berniat jahat ataupun sengaja ingin melukai hati gadis itu. Sasuke hanya ingin Sakura berhenti memikirkan Itachi, Akatsuki, dendam Sasuke dan segala tetek bengek yang meliputinya. Hanya itu. Tapi Sasuke tidak tahu harus bicara bagaimana, jadi akhirnya hanya kata-kata pedas itu yang melintas di otaknya.
Tapi sepertinya Sakura tidak bisa menangkap maksud terselubung dari ucapan Sasuke tadi. Karena setelah Sasuke menutup mulut, Sakura langsung membelalakkan mata tak percaya,
"K...kau bilang apa Sasuke-kun? I..i..ini bukan urusanku?"
"..."
"Aku tidak bisa!"
"Ja-"
"Tidak! Berapa kalipun kau menyuruhku aku akan tetap berkata tidak!"
"JANGAN BODOH!"suara Sasuke mulai meninggi.
"AKU TIDAK BODOH!"teriak Sakura tidak kalah keras, pelan-pelan dia mulai terisak,"kau pikir..kau pikir untuk apa aku selama ini ada disampingmu, mendukungmu, menemanimu, kau pikir untuk apa Sasuke?! Aku hanya ingin bersamamu, bersamamu sampai akhir! Kau bilang kau tahu semuanya tapi ternyata Tidak! Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu bagaimana rasanya khawatir akan orang yang penting bagimu? Kau tidak tahu bagaimana selama ini aku selalu memperhatikanmu! Kau tidak tahu!"
Kali ini isakan Sakura sudah pecah menjadi tangis,
"Aku..hhh..aku yang tahu Sasuke! Aku tahu kau begitu kesepian, kau begitu ingin membunuh kakakmu, aku tahu kau begitu ingin balas dendam. Walaupun entah sudah berapa kali aku mengingatkanmu balas dendam itu tidak baik, tapi aku tahu kau tetap menjaga keinginanmu itu. Aku tahu hal itulah obsesimu walaupun kau tidak pernah bilang, walaupun aku tidak suka tapi aku tetap ingin berjalan disampingmu! Tapi sekarang kau bilang ini bukan urusanku, apa kau pikir ini tidak terlalu kejam?"
Tangis Sakura semakin kencang.
.
.
Lagi-lagi Sasuke tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Melihat reaksi Sakura yang langsung menangis, sama sekali tak diduganya, membuatnya sedikit kaget. Bingung. Canggung.
Ada yang bergejolak di perutnya. Dan tiba-tiba saja tangannya bergerak sendiri, menarik Sakura dalam pelukannya.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka,"
bisiknya pada gadis yang sekarang menangis dalam dekapannya itu.
.
.
Sakura kaget dengan perlakuan Sasuke barusan. Memeluknya? Sama sekali bukan Sasuke. Apalagi Uchiha.
Tapi Sakura merasa hangat dan nyaman. Rasanya ingin selalu ada dalam rengkuhan lengan kuat ini. Dada bidang ini. Selamanya. Tak ingin lepas.
Dan Sakura pun menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Sasuke. Meluapkan segalanya.
.
.
Dada Sasuke menghangat. Entah karena airmata Sakura, atau karena debaran jantungnya sendiri.
Aneh! Hari ini dia benar-benar aneh! Dan bodoh!
Tapi...perasaan hangat apa ini?
.
.
Pakkun menatap dua orang yang sedang berpelukan di depannya. Ya, tuannya sedang memeluk teman gadisnya. Sedang dia hanya dibiarkan berdiri menonton, tanpa pengawasan. Sebenarnya sangat mudah baginya untuk kabur. Tapi menonton adegan istimewa ini sepertinya jauh lebih menarik. Jadi dia hanya melipat kaki belakangnya saja. Duduk. Dan menonton.
.
.
Langit biru Konoha mulai dihiasi corak-corak kekuningan. Awan-awan yang menghiasinya pun turut berwarna serupa. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Begitu juga dengan orang-orang yang sudah mulai beranjak dari kantornya untuk kembali ke rumah. Tidak heran jalanan di Konoha dipenuhi dengan orang-orang yang baru pulang bekerja, ada yang sendirian ada juga yang masih bergerombol dengan rekan-rekannya.
Begitu pula pemandangan yang terdapat di Konoha International Airport. Hanya saja disana juga terdapat orang-orang yang baru turun dari pesawat maupun akan naik pesawat. Diantara orang-orang tersebut ada sekelompok orang yang baru saja turun dari pesawat sedang berjalan bersama-sama. Seperti sebuah keluarga. Dilihat dari baju mereka yang tebal dan berbahan hangat, sepertinya mereka datang dari negeri salju. Sesekali mereka mengobrol sambil diselingi keluhan tentang betapa panasnya Konoha. Maklum saja iklim di Konoha berkebalikan 180 derajat dengan iklim di negeri Salju. Jadi wajar saja mereka masih kepanasan walaupun di dalam sudah dipasang AC. Bahkan salah seorang dari mereka, yang berambut pirang panjang, sudah melepas jacket wolnya. Memperlihatkan lekuk tubuh indahnya yang hanya memakai tube dress warna merah maroon.
"Nah, begini lebih baik!"katanya sambil mengibaskan rambut pirangnya.
"Hei, Deidara! Kau tidak perlu show off begitu kan? Nanti kalau ketahuan bagaimana?"hardik temannya yang tinggi besar, Kisame.
"Panggil aku Dei-chan! Tidak akan, aku kan hanya lepas jacket tidak perlu sampai nosebleed begitu!"
"Cih!"
Temannya yang berambut orange ikut menanggapi,
"Sepertinya kau memang lebih pantas jadi wanita, Deidara!"
"Jangan salah. Wanita itu makhluk yang indah disamping juga rumit. Tapi itu yang membuat mereka menarik. Betul begitu kan, suamiku?"kata Deidara sambil menggamit lengan laki-laki berkuncir di sampingnya. Tapi sepertinya laki-laki itu, Itachi, tidak tertarik untuk menanggapinya. Dia hanya diam sambil melihat lurus di depan.
"Hahaha..kasihan kau Deidara! Dicuekin Itachi!"suara ejekan datang dari pria berambut abu-abu bermata magenta, Hidan. Deidara menoleh dan membalasnya dengan cibiran. Lalu berjalan menyusul Itachi yang sudah di depan duluan.
"Hei Kakuzu, kau sedang apa sih?"tanya Hidan pada rekannya yang bersoftlens hijau. Rekannya yang bernama Kakuzu itu dari tadi sibuk memegang kalkulator dan buku tabungan. Mukanya menunjukkan kalau dia tidak puas dengan hitungannya.
"Hah, bea untuk penyamaran bodoh ini jadi membengkak! Sudah kubilang kita tidak perlu menyamar kan Sasori? Uang kita jadi menipis!"hardiknya sambil melirik kejam pria berambut merah bata yang berjalan disampingnya, Sasori. Tapi Sasori samasekali tidak terpengaruh dengan muka garang rekannya itu. Wajahnya tetap menunjukkan ketenangan.
"Aku tidak mau mati konyol hanya gara-gara sifat pelitmu itu,"
"Aku bukan pelit, tapi hemat!"
Melihat situasi yang mulai tidak enak itu Hidan langsung menyela,
"Sudahlah Kakuzu, nanti kan kita bisa berburu lagi disini, bukan hal yang sulit kan!"
"Kau diam saja, Hidan!"
"Jangan emosi begitu, Kakuzu!"kata Kisame menengahi. Dia kenal betul sifat Kakuzu kalau sudah menyangkut uang,
"Kau juga sama saja, tukang kebun!"
"Jangan ingatkan aku dengan peran itu!"dengus Kisame kesal. Dia memang mendapat peran sebagai tukang kebun dalam penyamaran kali ini.
"Tapi sepertinya ada yang senang dengan penyamaran kali ini,"kata Sasori tanpa ekspresi. Pandangannya mengarah ke dua orang yang berjalan bergandengan mendahului rekannya.
.
Angin musim panas langsung menampar wajah putih Deidara begitu mereka sampai di luar. Disingkirkannya rambut pirang yang menutupi sebagian wajahnya,
"Itachi, kau serius akan kesana?"tanyanya pada Itachi.
Pria bermata onyx itu menghela nafas. Matanya menerawang jauh, seperti ada yang dipikirkan.
"Aku ingin tahu bagaimana dia sekarang,"
===tbc===
Ohayouuu mina-san
Akhirnya saya keep fanfic ini dan berarti masih no editing hehehe. Masih belum jelas yak konfliknya gimana, emang alurnya lambat banget sih setelah kubaca ulang lagi yang di fb. Jadi mungkin chapter depan sudah mulai saya edit ;)
Terimakasih untuk semua yang udah review dan bilang untuk meng-keep fanfic ini, I really appreciate your appreciation, guys ! Jadi saya mau bales-balesin review chapter 1 kemaren disini, hehe
Aguma : iya kak, Alhamdulillah akhirnya lanjut ini XD yohooo, second multichap. Mohon bimbingan kaaak -/\-
Scarlet24 : halooo scarlet-chan, makasih ya udah review ;) ini udah update :D
Dypa-chan : haloo dypa-chan, thanks ya udah review ;) Itachi jahat? Engg jahat gak yaaa, jadi baik gak yaaa wkwk /plak. Pertanyaanmu akan terjawab seiring waktu ;') /apahh
NE : Haii, thanks udah review ;) iyaa Sasuke udah kenal Sakura dari kecil disini. Mungkin beberapa chapter ke depan mau saya flashback biar lebih jelas hehe /spoiler/
Hanazono yuri : haii, thanks ya udah review ;) ini udah update :D
Mari Chappy Chan : mariiiiiiiiiiiiiiiii *tubruk peluk cium (?)* XDXD aseek kamu reviewww, pake bawa2 Law segala lagi *buang nodachi Law* XD iya ini emang no editing sih, kenangan waktu aku masih kecil (?) /what?/ versi aslinya boleh kamu intip di fb-ku ;) /promo XDXD
Tomat-23 : haiii tomat-san (?) makasih yaa udah review ;) salam kenal jugaaa :D
Guess who : halooo entahlah siapa kamu dan dimana kamu, sebelumnya thanks udah review ;) dan maaf saya ga bisa delete fanfic ini karena ternyata lebih banyak yang minta keep u_u maaf ya mengecewakan kamu u_u Ohya, dan terimakasih juga udah nge-judge saya yang enggak-enggak, saya gak nulis cuma untuk review kok apalagi kalo review-nya gak nyambung sama konten fanfic saya . Ada yang mau baca aja udah seneng, tapi gak munafik juga sih kalau saya juga seneng dapet review. Saya menghargai pembaca, jadi gak salah juga dong kalau saya juga ada harapan untuk diapresiasi? Satu lagi ya, kalau bisa review-nya login yah atau kalo enggak pakai nama yang jelas (kamu punya nama kan?) biar saya bisa diskusi gitu sekalian sama kamu(?). Habis kamu kece sih bisa nilai orang seenaknya gitu, ajarin dong :B
Yah gitu aja balesan review dari saya yah. Maaf kalo di bawahnya saya jadi emosian dan sinis begitu. Lol. Saya gak bakal emosi kalo ga dipancing duluan kok ;') Maklumin saya yang ababil ini yah -_-
Yoo, sampai jumpa di chapter depan ! ;)
Story only = 2186word
From2009-to2013, stillonmyownpace
-allihyun.
