DIFFERENT FATE

Angin berhembus perlahan mata biru menerawang jauh kehalaman rumah. Dimana selalu ramai akan canda dan tawa pada hari minggu, mata biru akan sedikit menyipitkan karena terlalu bahagia, tersenyum hingga lupa akan kepedihan masa lalunya. Mereka berempat akan berpiknik dihalaman depan rumah mewah bercat putih gading. Hamparan rumput hijau akan menyapa mereka. Bahagia, tertawa, dan berkumpul bersama... tapi ... itu tidak mungkin terjadi kembali. Yah itu tidak mungkin terjadi, kebersamaan mereka, tawa bahagianya bersama orang – orang yang ia cintai. Mata dan pikirannya terus mengulang – ulang kejadian sehari yang lalu, kejadian yang membuat kehidupan bahagiannya musnah begitu saja.

Flashback

"Minato – sama." Umino Iruka mencoba menyadarkan atasannya. Mata hitam Iruka jelas – jelas melihat bagaimana Pria bersurai pirang dihadapannya mematung, suara dari televisi jelas – jelas masih menyala. Iruka berjalan mendekati Minato dengan tergesa – gesa ia merebut remote tv, dan mematikannya. Tangannya meraih tubuh Minato dengan perlahan memandunya kearah sofa. Minato masih terpaku, otaknya bahkan masih belum mampu menerima semua berita ini. Bahkan otaknya masih memutar rekaman percakapan dengan Kushina dan Naruto.

"Ti...dak mungkin." Iruka menatap nanar Minato, ia turut merasakan perasaan kehilangan itu, bagaimana pun juga Iruka sudah sangat dekat dengan Kushina dan Naruto.

"Ketiga korban kecelakaan dikabarkan telah dibawa oleh ambulance rumah sakit Konoha. Kedua kendaraan masih dalam proses pemindahan oleh kepolisian setempat." Suara – suara dalam berita kini kembali menyadarkan Minato dari rasa tak percayanya. Dengan sigap ia berdiri, langkah kaki panjangnya membawanya pergi menjauhi kantor. Sedangkan Iruka, ia hanya ikut berlari mengejar Minato, bergegas menuju rumah sakit Konoha.

2 jam sebelum berita kecelakaan tersebar diseluruh televisi jepang.

Dirumah sakit Konoha

Kondisi lorong rumah sakit terbesar di salah satu kota terbesar dijepang kini telah ramai. Berbagai Perawat serta Burder berlalu lalang, wajah mereka terlihat panik dan cemas, kecelakaan bebera saat lalu telah terjadi. Meski mereka telah memiliki pengalaman untuk kejadian seperti ini, namun tetap saja perasaan gelisah dan takut mereka rasakan. Sama dengan seorang dokter bersurai pirang pucat, raut wajahnya bahkan terlihat takut dan panik. Terlebih banyak orang – orang berjas hitam sedang mengantri dilorong UGD rumah sakit miliknya. Tubuhnya bergetar melihat seseorang bukan tapi dua orang yang ia sayangi dalam kondisi terluka parah. Mata hazel Tsunade melihat kondisi kedua keluarganya dengan teliti memeriksa keduanya. Tangannya dengan telaten memeriksa kedua pasiennya.

'Tidak ada jalan lain selain operasi.' Tsunade adalah dokter terkenal dari lulusan Universitas Harvard, dimana menurut QS atau Quacquarelli Symonds, World University Ranking adalah sekolah kedokteran terbaik didunia. Tangan – tangannya kini terlihat sangat lincah membedah kedua pasien yang berada di meja operasi, Shizune perawat yang terbaik dijajarannya ikut membedah kedua tubuh pasien. Tak mudah memang membedah dua pasien sekaligus, namun Tsunade mampu mengendalikan kondisi mereka yang sempat kritis. Kedua pasien telah dipindahkan setelah operasi selesai. Tsunade menatap kedua orang tuanya, mereka benar – benar murka, bahkan mereka mengambil keputusan yang benar – benar tidak masuk akal.

"Kita harus memalsukan kematian mereka Tsunade." Ayahnya menatap intens kearah putri dan cucunya yang sedang terbaring.

"Ke..kenapa Otou-sama ?" mata coklat Hashirama berkilat tak suka

"Seharusnya kau bisa berpikir realistis Tsunade." Hashirama menurunkan nadanya serendah mungkin.

"Seluruh keluarga Minato tewas bahkan yang terakhir adalah saudara kembarnya Minami. Bukankah itu tak wajar? Hanya meninggalkan Minato sendirian sebagai Namikaze terakhir?" Pemimpin klan Senju mengluarkan aura hitam pekat, yang bisa saja membunuh siapa pun.

"Ba.. baiklah Otou-sama" Tsunade mengambil Handphone biru miliknya, langkah kakinya menjauhii ruangan perawatan khusus untuk keluarganya.

"Siapakan dua peti mati untuk Kushina dan Naruto. Lakukan" perintah mutlaknya menyuruh beberapa orang diseberang sana.

Rumah sakit Konoha yang terbesar di Jepang merupakan rumah sakit terlengkap dan termewah. Bahkan dari segala jenis perwatan dan penangannan untuk pasien dihadirkan seluruh dokter ahli berlulusan internasional. Bahkan salah satu kakak dari Istrinya adalah dokter yang bertugas dan mengepalai Rumah Sakit Konoha. Itulah yang Minato tahu, ia menikahi seorang dari keluarga dekat Senju. Kushina bahkan tak pernah menggunakan atau memberitahukan Minato mengenai marganya, Kushina selalu terlihat misterius dengan rambut merah panjang yang terurai sangat cantik. Dan Minato menyukai segala hal tentang Kushina, meski ia tak mengetahui masa lalu Kusina, Minato tak peduli. Minato hanya paham dan mengerti bahwa dia, Minato terlalu mencintai Kushina. Bahkan 'Sahabatnya' yang selalu melarangnya ia tak memperdulikan pendapatnya. Pernikahan Minato berlangsung setelah Minato mengenal Kushina beberapa minggu dan mereka akhirnya menikah. Setelah pernikahannya dengan Kushina, Minato tak pernah menemui 'Sahabatnya'. Atau lebih tepatnya 'Sahabatnya' menjauhinya.

Minato berlari dilorong rumah sakit terbesar dijepang ini. Hatinya tidak berhenti berdegup kencang, dalam hatinya dan pikirannya terus memanjatkan doa untuk orang yang ia sayangi dan ia cintai, agar mereka baik – baik saja. Agar mereka masih bernapas dan selamat dari kecelakaan itu, langkah kakinya terus ia paju melewati beberapa perawat serta burder dijalannya menuju UGD. Sapphire birunya menatap ruangan berpintu putih dengan sedikit stainless steel, lampu merah diatas pintu itu tidak menyala sama sekali.

'Jadi bagaimana dengan Kushina dan Naruto?' batin Minato setelah melihat lampu merah itu dalam keadaan mati.

"Kau... terlambat Minato." Suara yang tidak asing dipendengaran Minato, refleks kepalanya menengok kearah datangnya suara.

"Kaauu... terlambat.." Wanita bersurai pirang berjubah putih khas akan jabatannya, matanya memerah, wajahnya terlihat baru ah tidak bahkan wajahnya masih terlihat air mata itu mengalir deras.

"Tsunade.." Minato menatap intens wanita itu, dia bahkan belum bisa menangkap kata – kata Tsunade sebelumnya. Kakinya yang baru saja beristirahat dari acara lari marathon untuk menemukan ruangan UGD kini harus berlari kembali mengikuti tarikan dari tangan Tsunade. Tangan kanan Tsunade menggenggam erat tangan kiri Minato, membawanya menuju ruangan yang telah dipersiapkan rumah sakit dalam persiapan kremasi, pemandian serta penyiapan peti mati. Yaa Minato kini berjalan menuju kamar mayat, sekali lagi Kamar Mayat. Mata birunya melihat dengan jelas tanda panah, arah dan tulisan itu menunjukan Kamar Mayat. Langkah kaki Tsunade terhenti didepan dua peti mati yang telah dipersiapakan secara khusus oleh pihak rumah sakit di bawah perintahnya. Mata biru Minato menatap tidak percaya, mengapa saudara istrinya membawanya kesini ? kehadapan dua peti ini?

"Pe..peti ? Untuk apa Tsunade." Minato terbata, mata biru itu menatap hampa benda mati didepannya.

"Kondisi tubuh mereka mengenaskan Minato." Tsunade terisak dalam penjelasannya.

"SUDAH KUBILANG TSUNADE INI UNTUK APA" amarah Minato memuncak, tidak benar bukan istrinya telah meninggalkannya ?

"Mereka telah tiada Minato, me..mereka hiks me..reka telah meninggalkan kita." Tsunade melangkah mundur beberapa langkah menjauhi peti mati itu.

"Ta...Tapi bukan hak mu Tsunade. Aku.. aku berhak melihat wajah mereka, aku berhak menatap mereka untuk terakhir kali Tsunade." Nada bicara Minato terdengar dingin dan mengancam. Nada keputus asaan, tangannya meraba dan mengelus perlahan seolah peti yang berada dihadapannya adalah seorang yang ia kasihi.

"Harusnya kau.. menungguku..." Minato kini menangis air mata terus mengalir dari bola matanya, kedua tangan itu tak lelah mengelus mecoba menraih apa yang berada didalamnya.

"Kondisi keduanya sungguh mengenaskan Minato, bahkan aku sebagai saudaranya hampir tak mengenali mereka..." diselingi isak tangis Tsunade mencoba menjelaskan seluruh keadaan yang dia inginkan kepada keluarga baru dari adiknya.

"SEHARUUUSNYA KAU MENUNGGUKU." Minato mengeluarkan amarahnya. Dia sesorang yang sangat diakui pandai dalam mengendalikan emosi, saat ini terlihat sangat kacau dan emosi yang terlihat menggebu – gebu, air matanya terus mengalir.

"Bukan, bukan hanya kau yang kehilangan Minato." Tsunade meninggalkan ruangan itu. Menjauh dari Minato dan kedua peti mati kosong yang akan menggantikan tempat adik dan keponakannya.

Pintu putih bertuliskan Kamar mayat terbuka kembali menampilkan Iruka dengan air matanya. Melihat Minato dan kedua peti mati itu, melihat kehancuran sang pendiri Rasenggan corp.

"Siapakan pemakaman Kushina dan Naruto, Iruka." Tanpa melepas kedua tangan dari atas kedua peti mati istri dan anaknya.

Mansion Namikaze

Para pelayan terlihat sibuk, beberapa dari mereka telah mendapatkan perintah untuk menyiapkan upacara pemakaman majikan mereka. Sebagian dari pelayan itu sibuk untuk menenangkan Kyuubi yang terus menangis sejak ia terbangun dari tidur siang. Kyuubi terus saja memanggil nama adik kesayangannya, mencari keberadaannya. Dalam kondisi menangis Kyuubi harus dipaksa mengenakan pakaian berkabung, untuk melepas kepergian Ibu dan adik, dalam waktu yang bersamaan. Minato datang kondisi Minato tidak bisa dikatakan baik, baju rapi tak terlihat ditubuhnya. Rambut pirang terlihat berantakan, mata biru itu memerah. Langkah kakinya terus mengarah kepada anak pertamanya, kedua tangan Minato terbuka meraih tubuh mungil anaknya.

"Kyuu.. Gomen ... gomen.. gomen" Minato menangis melihatkan seluruh kesedihannya, ia bersalah tak mampu menjaga dan melindungi istri dan anaknya. Itulah yang sekarang pemikiran Minato.

"Naruu...Naruuu..Naruu" Kyuubi seolah tak peduli dengan ayahnya, hari ini dia terus menerus memanggil nama adiknya. Petang datang suram menghampiri masion megah Namikaze. Semua pelayan dan para saudara, rekan kerja, sahabat, mereka berkumpul di masion megah ini. Pemakaman dua peti kosong dimulai, derai air mata pun turut menyeratai kedua peti itu dimakamkan tepat dibelakang halaman mansion Namikaze. Suasana duka mengelilingi mansion megah berumput hijau. Dua, tiga, empat entah berapa lama prosesi upacara kematian untuk kedua peti mati tersebut.

Rumah sakit Konoha.

Ruang Icu VVIP keluarga senju.

Elektrokardiogram berbunyi seirama dengan hembusan napas dari kedua pasien yang kini sedang menutup matanya. Jemari tangan berkulit putih bergerak perlahan, menimbulkan perubahan yang berarti pada EKG tersebut. Perlahan namun pasti jemari tangan itu bergerak kembali lebih tegas, menimbulkan suara yang sedikit berisik pada salah satu EKG didalam ruangan tersebut. Kelopak matanya bergerak gelisah, bulu mata lentik itu bergerak cepat mencoba memperlihatkan warna matanya. EKG disamping hospital bed itu berbunyi memekakan telinga. Pintu kaca buram keseluruhannya terbuka menampilkan gadis berusia pertengahan berambut coklat, napasnya yang terengah – engah, bahkan gadget yang berisi data pasien serta aktivitas dari EKG itu terjatuh dari ketinggian tubuhnya.

"Tii..dak mu..ngkin.." terlihat matanya yang melebar terkejut.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi don't like don't read

Permohonan maaf untuk semua para readers atas keterlambatan update

Gomenasai, please enjoy ^^

"Kenapa, kenapa Otou-sama tidak mengatakan pada Minato?" rambut merah Kushina terurai disepanjang tempat tidur khusus VVIP.

"Seharusnya kau menelaah Kushina. Sejarah masa lalu dari suami mu itu." Suara wanita senja kini mengema di seluruh ruangan. Mito telah menampakan taringnya setelah sekian lama dia menyembunyikan darah Uzumaki dalam dirinya.

"Berpikirlah Kushina, kau bukan anak kecil. Bagaimana bisa keluarga dari seluruh Namikaze meninggal berturut – turut seperti itu." Istri dari pimpinan klan Senju terus menaikan nada bicaranya.

"Kushina, kecelakaan yang terjadi pada mu dan cucuku bukanlah kecelakaan biasa. Ada seseorang yang sedang bermain – main dengan hidup seorang Namikaze terakhir." mata Kushina bergerak gelisah mencari sesuatu dalam ingatanya, kembali kedalam memori pertama kali mereka bertemu. Lalu bertemu dengan kenangan – kenangan lainya. Bagaimana mungkin kisah keluarga kecilnya akan menjadi berantakan.

"Sebelum mengembalikanmu dan Naruto, kita harus bisa memusnahkan kutukan yang berada dalam keluarga Namikaze." Mito menghampiri putri kedua dari tiga bersaudara.

"Tapi .. tapi Okaa-sama, Minato itu lemah, apa ia bisa bertahan tanpa ku? Apa ia bisa merawat Kyuubi. Dia bisa gila Okaa-sama, dia takkan mampu." Mata hazel itu berair, rambut merah Kushina dibelai lembut oleh kepala dari Klan Uzumaki.

"Anggap saja ini adalah ujian untuk Minato akan kesetiaannya padamu dan keluarga kecil mu.

Ruang Icu VVIP keluarga senju.

Permata coklat tua setara dengan warna rambutnya yang panjang kini menatap anak laki – laki yang terbaring koma dengan dipenuhi alat bantu untuk menopang hidupnya. Tubuh kecil itu terlihat sangat pucat, surainya terbaring lemas tak berdaya. Sebernarnya Hashirama sungguh ingin berbincang dan ingin mengetahui benarkah anak kecil yang sedang ia lihat dapat melalukan perlawanan yang dibilang Shisui.

"Hai, Naruto. Perkenalkan aku Hashirama, ayah dari ibu mu. Kau bisa memanggilku Hashirama – jii san. Aku tahu kau belum pernah mengenalku dan baa-san mu, tapi Naruto mulai detik ini kau akan tinggal bersama kami untuk sementara." Hasirama menatap lekat tubuh Naruto, meraih tangan mungil itu, dan mendekapnya.

"Untuk sementara kau harus berpisah dengan Nii-san mu dan Otou-san mu. Hanya, hanya sampai kita menemukan siapa orang yang telah mengutuk keluarga ayahmu." Hasirama mencium punggung tangan kecil tersebut, tanda sayang yang tak mampu ia perlihatkan sebelumnya. Melihat Kushina melahirkan mereka, dan memantau mereka itupun harus dari kejauhan. Perjanjiannya dengan anaknya membuatnya tak bisa menampilkan semua cinta dan kasihnya kepada cucu – cucunya.

CKLEK.

"Kau sudah disini Hashirama." Laki – laki bersurai hitam panjang, dengan manik onyx menatap intens si pemilik Klan Senju.

"Kau sudah datang ternyata. Dan dia ?" Hashirama kembali bertanya, matanya menatap sosok kecil yang sedang berdiri disamping sosok rivalnya terdahulu.

"Ahh, dia Itachi, anak dari Fugaku." Itachi membungkuk hormat kearah Hashirama.

"Oh, anak yang pintar." Hashirama hanya tersenyum, laki – laki bersurai hitam panjang hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kakinya melangkah menuju tempat duduk disamping hospital bed diarah berlainan dengan Hashirama. Untuk Itachi, dia hanya berdiri didekat laki – laki bersurai hitam panjang.

"Seluruh keluarga Namikaze tewas dibunuh, meski ini sudah sangat lama. Anak buahku menemukan bukti yang tidak dapat ditemukan polisi dan jejerannya. Apa langkahmu selanjutnya ?" Laki – laki bersurai hitam panjang itu berkata dengan mimik serius yang dia punya.

"Lalu dengan Mizuki ? apa dia mengetahui sesuatu Madara ?" Hashirama terus mengeluarkan pertanyaannya.

"Anak buahku hanya mengetahui dia mempunyai dendam pribadi dengan Uzumaki." Madara menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

"Klan Uzumaki telah membunuh tunangannya. Tidak ada yang tahu jelas pastinya siapa yang membantunya bisa keluar dari penjara lalu mengincar Kushina."

"Kita lihat apa yang akan mereka dapatkan. Emas ataukah hanya arang." Hashirama kini mulai mengeluarkan taring tajamnya kembali setelah sekian lama.

"Kau terlalu banyak berpuitis Baka Hashi. Petunjuk kita satu – satunya hanyalah si penghianat itu. Tapi akan sulit mencari tahu, surat yang kau kirimkan beberapa tahun lalu membuktikan kebenaran yang aku inginkan. Tetapi tetap saja menyingkirkan 'Penghianat' itu sehubungan dengan banyaknya anggota yang telah bersumpah setia pada 'nya' " Mata hitam Madara berubah menjadi merah darah dan terus berputar perlahan.

"Yang kita perlukan hanya seorang penyusup Jii- sama." Suara lugu menyeruak dari tenggorakan laki – laki ahh tidak lebih tepatnya bocah.

"Ah, tak kusangka anak kecil ini lebih pintar dibandingkan kau Madara." Hashirama meraih puncak kepala Itachi dan mengelusnya perlahan.

"Yah penyusup, tapi tidak semudah itu Baka Hashi. Anak buahmu dan seluruh anggotamu sudah diketahui oleh penghianat itu." Madara menghela napas lelah akan kebodohan rival abadinya.

Hashirama tampak memperlihatkan senyum lima jari miliknya. Terlihat bodoh namun, sebenarnya dalam benaknya ia sedang memutar otak. Bagaimanapun mereka sudah mendapatkan pintu hanya tinggal mendapatkan kunci yang tepat untuk membuka pintu tersebut dan memperlihatkan rahasia dibaliknya. Ketiga orang yang sedang sibuk dengan pemikirannya masing – masing tidak menyadari bahwa seseorang yang sedang terbaring diatas hospital bed itu telah mendengarkan dari awal hingga akhir dari pembicaraan mereka bertiga.

Tangan mungil milikinya berusaha melepas alat bantu pernapasan yang terpasang sebelumnya. Jari – jemarinya bergetar pelan saat membuat gerakan yang terbilang sulit untuk orang yang sedang terluka.

"A..ak..akkuu biisaa. Jii- sa..ma." suaranya yang serak dan terbata membuat seluruh kegiatan ketiga orang itu berhenti dan mengalihkan kepala mereka menuju arah suara. Hasirama bangkit dari tempat duduknya begitu pula dengan Madara, yang tanpa sengaja ikut bangkit dan berjalan menuju ranjang Naruto. Letih itu lah yang tergambar jelas diwajah Naruto. Sedangkan kedua kakek nyentrik itu hanya memperlihatkan wajah terkejut dan ketidakpercayaan mereka akan apa yang mereka lihat. Bayangkan saja seorang anak kecil yang masih terbilang bocah itu terluka parah bahkan belum 48 jam ia sudah terbangun dan kondisi normal anak seusianya seharusnya bangun sekitar 2 hingga 3 hari kemudian, dilihat dari kondisi tubuhnya yang parah dan usianya. Sangat tidak memungkinkan bukan.

"Na...ru.. yang a..kan me..lakukan" suara parau miliknya menyadarkan kedua orang tua didepannya.

"Kau, benar – benar bukan bocah sembarangan." Suara Madara sedikit keluar dari karakter aslinya. Mata Sapphire itu melihat sayu ketiga orang yang berada didepannya. Tangannya masih terasa sakit, benaknya memikirkan seseorang yang berarti baginya.

'Kyuu-nii pasti sakit.' Pikir bocah pirang bermata biru. Hashirama menatap lekat mata biru laut milik Naruto, ia berpikir jauh kedalam semua persoalan ini. Dalam otaknya sekarang seolah sedang memutar film kisah dari Minato Namikaze, memutar perjalanan mereka hingga ketitik dimana kecelakaan ini terjadi. Ia percaya bahwa si penghianat dalam keluarga uchiha adalah kunci dari semua yang terjadi pada keluarga kecil milik putri kedua Kushina Uzumaki.

"Bagaimana menurut mu Hashirama ?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibir kepala keluarga Uchiha, membuyarkan seluruh pemikirannya. Mata coklat tua itu menatap lekat wajah chabih cucu'nya,, melihat tekat yang telah dikeluarkan oleh seorang bocah, ya bocah kecil berdarah Uzumaki, Senju dan Namikaze, ternyata bukanlah perpaduan yang buruk rupanya.

"Kau yakin Naruto ?" Hashirama menanyakan kembali keputusan yang dibuat oleh Naruto. Mengangguk lemah kepala kuning yang sedang menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Madara hanya memberikan seringai yang amat kejam pada keputusan bocah.

"Baiklah, aku yang akan melatihnya secara langsung." Mata Onyx milik kepala klan Uchiha menatap si kepala klan Senju, bukan untuk meminta persetujuan, melainkan menegaskan pernyataannya. Terlebih ini berkaitan dengan klannya juga.

Hashirama mengangguk pelan, tangan besarnya mengusap pucuk kepala si pirang. Sedangkan Madara membantu Naruto kembali berbaring agar bisa kembali beristirahat.

"Setelah Naruto keluar dari rumah sakit ini, dia akan kubawa ketempat latihan persembunyian klan ku. Shisui dan aku yang akan melatihnya. . ."

"Tidak, dia akan berlatih ditempat pertama kali kita bertarung Madara, baik 'penghianat' itu dan keluarga ku tidak akan ada yang tahu. Setuju atau tidak Mito, dan 3 orang dalam Klanku juga akan melatihnya. Setidaknya sebelum aku membawanya kedalam predator yang paling berbahaya." Wajah keduanya mengeras memikiran bahaya yang akan ditempuh seorang bocah yang mereka kenal.

NEW YORK. 00.45

"KENAPA HANYA MEREKA BERDUA YANG MATI. BODOH ! ! !" suaranya menggema memenuhi ruangan ukura tersebut.

"..."

"BUKANKAH SUDAH AKU KATAKAN SISAKAN HANYA NAMIKAZE MINATO." Suara yang sama kembali membuat gema dalam ruangan bernuansa glamour. Kemarahan dan kekesalan jela – jelas tergambarkan dari pemicaraannya.

"..."

"KAU HANYA BISA MEMBUNUH ISTRI DAN ANAKNYA. KAU ITU IDIOT." Kata – kata kasar mulai mewarnai pembicaran orang itu dengan lawan bicaranya.

"..."

"MAAF, Ha.. IDIOT."

"..."

"Buat Minato kembali padaku. IDIOT." Percakapan itu berkahir dengan terbantingnya handphone miliknya. Mata silver itu berkilat di remang cahaya malam, wajahnya menyeringai kejam. Surai silver itu ikut begerak halus seirama angin malam kota.

"Kali Ini akan aku pastikan kau menjadi milikku. Blue sapphire." Ia berbisik.

TBC

Gomenasai lama sekali renka tidak update. Hahaha #tertawa tak bersalah. Sebenarnya cerita ini mau hiatus, karena kesibukan dunia nyata yang tak terelakkan, tapi karena baca reviews dari para senpai dan sensei jadi mau dilanjutin, sebenarnya sempet story block juga.

Gomen ne para senpai dan sensei yang telah lama menunggu.

Arigatou untuk para guest dan sempai yang mampir yaa.

Sany migiukharin ; gomen sensei baru bisa memenuhi chap 3 dari sekian banyaknya waktu. Naru tidak akan trauma senpai tenang saja. Arigatou senpai telah mampir.

uchiha naruto; Maaf senpai update kilat sepertinya sedikit sulit tapi diusahakan. Arigatou telah mampir.

Gadingtanuki; senpai kepo... hahaha maaf senpai renka hanya bercanda. Jawabannya ada disini senpai, gomen memakan waktu lama.

Aikhazuna117; Terima kasih senpai, untuk Update kilat sepertinya tidak mungkin berhubungan dengan kegiatan dunia nyata yang semakin membuat sulit membagi waktu. Tapi akan diusahakan. Arigatou senpai.

Sekali lagi renka ucapkan terima kasih untuk para sensei dan senpai yang telah memberikan kritik saran dan penyemangat buat renka. Renka usahakan update, tapi untuk kilat renka tidak berjanji, ARIGATOU GOZAIMASU.