5 April 2015 Pulau Jeju

Tidak terasa bulan bulan telah berlalu, dan tidak terasa kandungan Jae telah memasuki bulan ke empat, meski perut Jae kian membesar, tetapi tidak mengentikan Jae untuk tetap pergi ke sekolah melaksnakan tugasnya sebagai Dokter penjaga. Memang di usia kandungan Jaejoong yang keempat ini tidak terlihat, karena Male Pregnancy tidak sama seperti perempuan yang memasuki bulan ke empat saja perut akan semakin lebih besar. Jadi saat disekolah maupun dipublik Jae hanya terlihat lebih gemuk saja.

"sudah kubilang kau tidak boleh mengendarai sepedah lagi!"

Bentak Yunho. Pagi pagi Yunho sudah dibuat kesal oleh Istrinya, bagaimana tidak. Sudah memasuki bulan keempat Jae ttap saja ngotot ingin mengendarai sepedah kesayangannya, padahal jika mengendarai sepedah risikonya sangat tinggi. Dan Yunho tidak mau terjadi apa apa dengan dua orang tercintanya itu.

"Anyaaa, aku bisa menjaga diriku sendiri" bela Jaejoong.

"hahh, terserah kau saja. Aku sudah telat. Aku pergi, jaga kesehatanmu."

Brak! Yunho sedikit membanting pintu rumah.

"hmm, tuhkan Ngambek. Yasudah aku juga harus segera berangkat"

Disekolah

Krring kriing Bunyi Bel berbunyi tanda saatnya makan siang.

Jae segera kekantin untuk mengambil makanannya. Disana sudah banyak murid yang mengantri, dan duduk bersama teman temannya untuk menyantap makan siang. Tidak jauh dari sana terlihat meja makan khusus untuk para guru. Setelah ia mengambil jatah makan siangnya, ia menghampiri para guru yang sedang melahap makan siang sambil bercengkrama satu sama lain.

"Senyoritaa, Come here. Duduklah disebelahku kosong."

Si Guru olahraga yang mirip jerapah itu melambaikan tangannya kepada Jae, member isyarat untuk duduk disampingnya.

Lee Kwang Soo nama seonsaengnim itu terlihat bahagia duduk bersebelahan dengan Jaejoong.

"Wahh Jae, kau tahu, kau ini semakin lama semakin terlihat gemuk saja. Ahaha apa kau stress?"

Tanya salah satu guru yang berkepala botak. Memang semua belum tahu bahwa Jaejoong itu sedang hamil. Karena benar benar tidak terlihat. Bahkan Suami Jae saja mereka belum tahu tetapi itukarena sengaja dirahasiakan.

"ahaha, tidak juga seonsaengnim. " jawab jae ramah.

"aahh mau segemuk apapun Dokter Jae tetap terlhat mempesona." Kata Lee Kwang Soo membela, guru guru yang lain hanya menatap Kwang soo bosan.

"err.. maaf seonsaengnim apa susu ini tidak kau minum?"

Tanya Jae yang sedari tadi melihat susu disebelahnya tidak diminum minum. Akhinya ia berinisiatif untuk bertanya.

"tidak, aku memang tidak terlalu suka susu putih. Apa kau mau Jae? Ini buatmu."

"Aahh Gamsahamnidaa seonsaengnim, ehehe seonsaengnim yang lain jika tidak ada yang minum susu putih juga bisa memberikannya kepadaku"

Senyum Jae melebar, dan semua guru guru yang disana langsung Drop.

"waah kau benar benar memasuki tahap penggemukan badan ya sepertinya."

Timpal guru yang lain. Sepertinya Namja cantik kita yang satu ini sedang mengalami fase mengidam.

Skip time

Diruang kesehatan disekolah dasar ini terlihat Jae sedang mengobati lutut anak laki laki yang terluka.

"Kibumma, lain kali jika kau sedang berlari hati hati ya, pakailah sepatumu dengan benar. Ikatlah talinya dengan kencang."

Kibum anak kecil yang sepertinya sudah akrab dengan Jae hanya terdiam.

"Yak! sudah ku obati, tidak perih kan? Sekarang kau sudah boleh kembali ke kelas"

Tetapi Kibum masih saja berdiri tidak merespon apa yang Jae katakan

"hmm Kibum wae?" tanya Jae

'Bruk' tiba tiba Kibum memeluk Jae sangat erat. Karena tinggi badan Kibum sama setinggi perut Jaejoong. Tertekanlah perut Jae.

'A,aww' rintih Jae dalam hati.

"Gomawoo" kata Kibum yang sambil terus memeluk Jae,

"ng? Perut seonsaengnim buncitt,"

Tambahnya lagi dengan tampang polos. Jae yang mendengarnya langsung Shock, ia tampak bingung harus menjawab apa kepada anak polos yang satu ini.

"nn,ne perut seonsaengnim buncit kaena seonsaengnim banyak makan daging dan sayuran, agar seonsaengnim sehat selalu. Kibum juga harus makan yang banyak ne?"

"ng!" angguk Kibum.

"sekarang Kibum lekas kembali ke kelas, jangan sampai tertinggal pelajaran."

Akhirnya Kibum kembali kekelas, dan Jaejoong tampak bernafas lega.

SKIP TIME

Pukul 5 sore setelah seonsaengnim atau Dokter yang cantik ini beres beres, anak anak sudah pulang kerumah masing masing kini saatnya ia pulang, tetapi sebelum itu ia merasakan perutnya sakit sehabis Accident Kibum tadi.

"a,aww Sakitnya belum menghilang juga. Kalau begini aku tidak bisa pulang naik sepedah, ah~ seharusnya aku ikuti kata Yunho tadi, tetapi semuanya sudah terlambat. Huff, kalau sudah begini aku harus apa?"

Jaejoong melihat Kwang Soo sedang berjalan untuk pulang kerumah,

"Ara, aku pulang bareng seonsaengnim itu saja, heii seonsaengnim. Lee Kwang Soo"

Saat akan tahu itu suara Namja yang di idamkan idamkan karna paras cantiknya. Dengan cepat ia mundur beberapa langkah hingga ia menyamai Jae.

"J,Jaejoongie kau belum pulang?" tanyanya dengan semangat 45.

"ehehe, aku ingin pulang bersamamu, tidak apa apa kan?"

"Of Course! Perlu sepedahmu aku yang bawakan?

"tidak usahh, biar aku saja yang bawa seonsaengnim"

Mereka pun berjalan bersama beriringan menuju rumah masing masing, meski Jae tetap khawatir dengan kandungannya. Tetapi ini lebih baik dari pada ia harus mengayuh sepedah yang akan mengambil risiko yang lebih besar.

Baru sekitar 5 menit mereka berjalan, tiba tiba 'Tin Tin' datanglah sebuah mobil Ferrari merah milik Yunho yang menghadang jalan mereka.

Dengan gagahnya masih dengan setelan Kerja lengkap miliknya Yunho keluar dari mobil sportnya lalu menghampiri Jae yang masih terkaget kaget. Wajah Jae langsung pucat pasi. Terheran heran

'mengapa dia ada disini?!'

"sudah kubilang kau tidak akan bisa menaiki sepedahmu dengan keadaan seperti itu."

Jae mengerjapkan matanya tanda agar Yunho menutup mulutnya cepat sebelum Kwang Soo mengetahui semua. Lee Kwang Soo hanya memandangi Yunho tak percaya bahwa anak dari Mr dan Mrs Jung pewaris tahta Jung Corp salah satu warga Terkaya se Korea selatan ada didepan dirinya sekarang?!

Segera Yunho mengambil sepedah kesayangan Jae, lalu memberikan kepada Kwang Soo yang masih terkagum kagum.

"mm, kau, siapa namamu?"

"L,Lee Kwang Soo.."

"Ok Lee Kwang Soo.. aku titip sepedah kesayangan Istriku ini"

"Yah! Jung Yunho!" teriak Jae, ia segera membawa istrinya masuk kedalam mobil, Jae terus melihat Kwang Soo yang tak bergerak sedikitpun menatap mereka berdua, mimik waja Jae mengatakan kepada Kwng Soo agar ia tidak bilang kepada siapapun juga. Jika ada yang mengetahui hal ini, habislah Jae.

Fuumm! Mobil Ferrari merah Yunho melesat kejalan.

...

"APA! ISTRI!?

"kau tahu apa yang telah kau lakukan?!"

"satu orang bodoh saja tidak akan berarti"

"Yah! Dia itu temanku!"

Taptaptap mereka telah sampai dikediaman.

"tidak usah mengganti topik, ada apa dengan mu? Apa perutmu sakit?"

"ngg, sedikit. Tapi tidak apa apa" Jawab Jae gugup

"sudah kubilang kan lebih baik aku menjemput dan mengantarmu."

"itu tidak mungkin, kau saja harus berangkat pagi dan pulang malam, bahkan terkadang kau harus bolak balik ke Seoul"

Jung Yunho lebih memilih membuat perusahaan baru dari pada mewarisi usaha Ayahnya Jung Corp, bukan tanpa sebab. Ia sudah berjanji jika ia memilih untuk hidup bersama Jae ia juga harus siap keluar dari perusahaan Jung Corp ini. Maka dari itu ia harus lebih giat dari awal. Dari mulai survei ke beberapa tempat sampai harus bolak balik ke seoul bahkan luar negri. Agar janji kepada Ayahnya bahwa suatu saat ia akan lebih sukses dari pada Ayahnya sekarang ini juga bisa tercapai.

Mereka berdua duduk dimeja makan.

"hmm maka dari itu, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan." Jawab Yunho.

"Aku, ingin kita pindah ke Seoul sementara. Aku sudah putuskan agar kita tinggal di rumah Umma untuk beberapa bulan kedepan."

Deg! Mata Jaejoong membulat sempurna. Fikirannya sudah jauh kemana mana, rasa takutpun menghampirinya.

"T,tapi itu tidak mungkin! Rumah ini tidak ada yang menjaga, bagaimana dengan Sekolahku? Disana tidak ada yang menjaga, bagaimana bila anak anak terluka?!"

"Semua itu akan ku urus, aku sudah memperhitungkan semua muanya. Kau tidak usah khawatir"

"Tidak, aku akan tetap tinggal disini."

"Jung Jaejoong kau tidak usah membantah! Perutmu saja tadi sudah sakit karena tidak mengikuti perkataan ku, kau mau tinggal disini sendiri hah?! Kalau terjadi apa apa siapa yang mau membantu dan bertanggung jawab?!"

Kesabarannya sudah habis. Terkadang Jae itu keras kepala, tidak mau menuruti perkataanya. Padahal Yunho selalu mengkhawatiri kesehatannya. Kalo dihadapi dengan situasi seperti ini, Namja cantik itu tidak bisa berbuat apa apa selain menuruti apa kata suami.

"maafkan aku Boo, aku sedikit lelah hari ini. lebih baik kita bersiap siap untuk pergi besok pagi. "

"Secepat itukah?! Bahkan aku belum berpamitan dengan anak anak dan guru guru bahkan tetangga kita Yunnie"

"sudah kau kirim pesan saja"

Lantas Jaejoong pun mengirim pesan kepada tetangga jauhnya, lalu kepada Kwang Soo untuk menitipkan anak anak terutama Kibum untuknya dan menitip pesan agar merahasiakan apa yang telah terjadi sore tadi.

Seoul pukul 13.30

Yunho dan Jaejoong di jemput oleh anak buah Mr Jung. Didalam mobil Jaejoong sudah merasa uring uringan ia benar benar khawatir dan merasa takut. Tangannya sedari tadi menggenggam tangan Yunho erat.

"Tenang saja Boo, aku akan selalu ada disampingmu. Jika ada apa apa ceritakanlah padaku, tidak usah ada yang disembunyi bunyikan" kata Yunho mencoba menenangkan istrinya.

Satu jam kemudian mereka telah sampai di Kediaman Jung di Seoul yang sangat besar dan luas. Rumah keluarga Jung memang tersebar dimana mana selain di Gwangju dan didaerah lain salah satu Rumah utamanya terletak di Seoul. Didepan pintunya selalu terjaga BodyGuard dengan badan besar. Saat dibukakan Pintu utama terlihat Maid telah berjejer dengan rapih menyapa mereka berdua.

"Selamat Datang Tuan muda Jung Yunho dan Tuan Jaejoong" sapa mereka.

"Aiigoo! Lihat siapa yang datang! My Little Yunhoo" Mrs Jung langsung memeluk Yunho,

"Umma aku sehabis ini langsung menuju perusahaan aku" jawab Yunho.

"iya, Ibu akan mengantarmu kekamar, hei kalian jangan berdiri saja disana! Cepat bawa tas anakku" suruh Mrs Jung kepada Maid maid yang berdiri.

"mm, Mohon bantuannya eomeonie" kata Jae, tetapi Mrs Jung tidak mengatakan sepatah kata apapun , tidak memperdulikan Jae. Mengaggap seolah ia tidak ada. Akhirnya Mrs Jung mengelayutkan tanggannya ke Yunho lalu mengajak anaknya buru buru ke lantai atas. Meninggalkan Jaejoong dan Mr Jung yang terdiam.

"mm.. Abeoji mohon bantuannya" Kata Jaejoong taku takut, Mr Jung menatap Jaejoong. "Hmm"

Mr Jung tidak sedingin Mrs Jung, ia itu memang sulit ditebak, Mr yang misterius..

Setelah mereka menaruh barang dikamar. Yunho dan Mr Jung bersiap siap untuk pergi ke Perusahaannya masing masing. Mrs Jung dan Jae mengantar Yunho dan Mr Jung sampai pintu utama.

"Umma tolong jaga Jae ya, aku pergi dulu" titip Yunho

"tidak usah kau pikirkan, Yeobo hati hati dijalan ne?"

"hmm" jawab Mr Jung seadany sambil ia masuk kedalam mobil Ferrari merah anaknya.

"Boo, aku pergi dulu ya, jaga dirimu dan anak kita. Jika ada apa apa telfon aku"

'cup' kata Yunho sambil mencium kepala Namja cantik tersebut. Yang dicium sudah memerah, tidak berani melihat disampingnya yaitu Mrs Jung yang sudah melihat Jae dengan tampang jijik.

Tak berapa lama kedua anak dan ayah itu pergi.

Tinggalah Jae dan Ibu mertuanya . Mrs Jung kembali ke kediamannya meninggalkan Jae.

"Tuhan...aku harus bagaimaa?."

Dirumah yang besar ini Jae tidak tahu apa yang harus dilakukan karena sedang tidak bertugas untuk beberapa bulan ini. Ia memutuskan untuk berputar putar mengelilingi rumah yang besar ini.

Pergi ke taman belakang yang luas, melihat peternakan, melihat kuda kuda, hingga melihat para maid yang ada di dapur. Setelah hampir 1 jam ia memuta mutar. Ia melihat rumah kecil, mm mungkin lebih tepatnya seperti gazebo tertutup didekat taman bunga. Dengan hati hati ia mendekati gazebo itu. Lalu membukanya dengan perlahan,

'Klek' "wah tidak terkunci!"

Didalam nya terdapat piring piring kecil, teko, dan gelas gelas kecil yang biasa dipakai untuk minum minum teh. Dilemari masih banyak barang barang seperti itu dengan corak corak yang lebih menarik. Dan jika dilihat lihat harga satu porong kecil saja bisa sampai ada yang jutaan.

"wah... mungkin tempat ini dikhususkan untk barang barang antik yang mahal. Lebiih baik aku cepat pergi" Jae segera menutup pelan pintu Gazebo itu. Ia segera pergi dari sana.

Dilewatinya taman bunga itu hingga.

"apa yang kau lakukan disini!?" tiba tiba Mrs Jung berada didepannya.

"mmm aku habis berjalan jalan sebentar saja"

Mrs Jung menatap Jae tajam, lalu tersenyum sinis. Ia melanjutkan langkahnya lagi menuju Taman bunganya.

"menjijikan" katanya sambil berlalu.

Begitu sakit hatinya Jae dengan perkataan ibu Mertuanya itu. Berfikir mengapa Mertuanya tidak pernah bisa menerimanya hingga sekarang. Ia menduduk dan mulai menitikn air matanya. Ini adalah awal mula kehidupan baru Jae di kediaman Jung.

Malam harinya Yunho dan sang Appa belum juga pulang, terpakasa Jaejoong dan Mr Jung makan duluan. Suasana makan malam benar benar sepi. Hanya terdengar suara pisau sendok garpu dan piring duduk Jaejoong bersebrangan dengan Mr Jung. Mana mau Mr jung duduk bersampinyan dengan Jung Jaejoong mungkin tidak akan sudi.

"Benar benar! Apa harus aku makan satu meja dengan orang aneh ini!" Mrs Jung menggerutu saat menyantap makan malamnya.

"Sudah! Aku sudah selesai makan malamnya. Aku tidak betah jika terus duduk semeja dengan mu!"

Mrs Jung meninggalkan Jae yang terlihat berhenti menyantap makan malamnya. Jae sudah tidak nafsu makan lagi , dadanya sakit dengan apa yang dilakukan oleh Mr Jung.

Akhirnya Jae benar benar memutuskan untuk menyudahi makan malamnya. Ia mulai merapihkan piring piring yang ada dimeja makan. Tetapi aksinya dihentikan oleh Maid.

"Maaf mmm Tuan. Biar saya saja yang merapihkan ini semua. Ini sudah tugas saya."

Cegah salah satu Maid.

"Hei hei sudah biar saja. Biarkan saja dia yang membereskannya" Mrs Jung menyela pembicaraan Maid tersebut saat ia sedang menaiki anak tangga

"T,tapi Nyonya"

"Sudah tidak apa apa, biar aku saja yang membawanya" kata Jae ramah

"hmm yasudah. Izinkan aku membantu anda Nyonya Muda. Eh" Maid itu menutup mulutnya karena bingung panggilan apa yang seharusnya ia gunakan untuk Jae, Tuan atau Nyonya. Jaejoong berparas sanga cantik dan lembut jadi banyak yang mengira ia itu perempuan.

"tidak apa apa, panggilah sesukamu" Jawab Jaejoong. Mereka berdua pun membawakan piring ke Dapur utama.

"Bagaimana harimu Jae?" tanya Yunho sambil merangkul Jaejoong yang sedang membaca buku ditempat tidur.

"Baik. Hari ini aku memutari rumah, melihat ternak, meliha taman belakang. Pokoknya banyakk"

"Sendiri?"

"iya"

"sudah kubilang Jae, kau ja"

"sssttt" Jae menempelkan jari lentiknya di bibir Yunho

"kau ini benar benar over protective ya sayang. Lihat buktinya aku tidak apa apa"

Jae mulai lelah dengan rasa over protective yang diberikan oleh Yunho. Sebelum tinggal di kediaman Jung, saat di Jeju juga. Jaejoong pergi ke supermarket, pergi ke tepi pantai, higga mencuci baju saja tidak diperbolehkan.

"hehh, pokoknya kalau mau kemana mana biar minta ditemani oleh Maid ok!?

"Yunniee mereka itu sibuk, sudah ada pekerjaanya masing masing." Bela Jaejoong

"Jae... mereka itu dibayar untuk mengurusi rumah ini, dan mengurusi kita"

"mereka itu tetap manusia Yunniee, kau ini tidak pernah berubah juga"

"bukan seperti itu. Dengar ya aku khawatir kepada mu!"

"Iya sayaang, aku akan berhati hati. Lebih baik kita tidur besok kau kan harus kekantor lagi"

"...baiklah kau benar sayang, selamat tidur Jae, selamt tidur Babby Appa"

Yunho mengelus perut Jae lembut. Klek' lampu kamarpun dimatikan.

Esoknya seperti biasa, rutinitas pagi. Sarapan, Lalu berangkat bekerja. hari ini hanya Jae saja yang mengantarkan Yunho dan ayah Mertuanya untuk berpergian.

"aku pergi dulu Jae, hati hati dirumah" cup. Satu kecupan diperut untuk sang buah hati dan parter seumur hidupnya.

"iya Yunnie kau juga,.. ne A,Abeoji hati hati juga dijalan ne"

"ng" jawab Mr Jung seadanya.

Setelah melihat suami dan Mr Jung berpergian, Jaejoong kembali kedalam rumah ia bingung harus berbuat apa selama empat atau lima bulan kedepan dirumah yang sebesar ini. pada akhirnya ia berfikir untuk melihat apa yang dikerjakan para petugas maupun maid dirumah ini.

Ia pergi ke dapur utama dimana para maid sedang beres bere dapur diselangi canda tawa mereka.

"mm ada yang bisa kubantu?" tanya Jae. Semua mata langsunng menuu kepadanya. Mungkin mereka berfikir, sedang apa Nyonya Jae ditempat seperti ini. karena tidak ada yang menjawab ia mengulang perkataanya.

"mungkin ada yang bisa aku bantu, karna saat ini aku sedang tidak mengerjakan apa apa"

"tidak usah nyonya Jaejoong. Kami tidak sedang sibuk juga. Terimakasih atas bau pertama ini ada orang dar keluarga Jung yang mau kedapur yang kotor ini."

Kata salah satu seorang Maid. Jae tersipu mndengarnya 'Keluarga Jung' ia bru menyadari kalau Jae sudah menjadi salah satu bagian keluarga dari keluarga Jung.

"kalau begitu aku pergi ketempat lain dulu ya"

Jae pergi ketempat yang lain, ia sekarang menuju peternakan. Ia menuju ke petrnaka ayam.

"Aaiigooooo lucunyaa!" Jaejoong terpesona kengan ke imutan imutan anak anak ayam yang kecl, bulat , dan Fluffy!

"Wah Nyonya Jaejoong. Sedang apa anda disini?" tanya Bapak bapak tua, yan memang bertugas ntuk mengurusi peternakan ayam.

"hehe, tidakk aku sedang ingin disini saja, mm...Samchon, bolehkah aku membantumu?"

Jae memberikan Pupy eyes dan senyumannya bak malaikat, kalau seperti itu siapa yang tega untuk menolaknya.

"baiklaah, Nyonya Jae, kau boleh membantuku menaruh anak ayam ayam ini kekotak besar didepan sana"

Tunjuk Bapak tua itu.

"OK! Hehe" Jaejoong terlihat sangat senang sekali, akhirnya ia bisa membantu juga. Tetapi ketika Samchon melihat perut jae yang sedikit membesar, ia berfikir dua kali.

"Nyonya Jaeoong, apa sebaiknya anda beristirahat saja, saya takut perut anda kenapa kenapa"

Tanya Samchon yang khawatir, meski ia tidak tega menghentikn Jae yang terlihat senang sekali dengan acara membantu menaruh anak ayam yang mungil itu.

"A,tak apa Samcheon. Justru aku sangat senang bisa membantumu. Hal seperti ini tidak masalah untukku, errr Samcheon, apa semua orang disini telah mengetahui...kehamilanku?"

Sejujurnya Namja cantik ini bingung, bagaimana semua orang dirumah ini mengetahui kehamilannya, secara saat ia di Jeju tidak ada yang mengetahui kehamilannya walaupun ia kini hamil empat bulan.

"tentu saja kami semua tahu dari Tuan Jung Yunho sendiri, ia ingin selama ia pergi bekerja ada yang terus menjaga Nyonya Jae. Tetapi ada Gossip bahwa Nyonya Jung tidak menyetujui ide Tuan Jung untuk membetitahu semua orang disini." Jelas Samcheon. Jaejoong terdiam,

"mungkin ia malu kepadaku, karena...kehamilanku ini" kata Jae sedih.

"kenapa seperti itu?! Justru itu adalah kabar bahagia, bahwa keluarga Jung akan memiliki keturunan lagi, bahwa Nyonya dan Tuan besar akan memiliki cucu pertama"

"apa Samcheon berfikiran seperti?"

"Tentu saja!, ayo kita lanjutkan menaruh anak anak ayam ini"

"Terimakasih Samcheon" mendengar kata kata yang dikeluarkan Samcheon tadi, Jaejoong sangat bahagia, ternyaa masih ada orang yang baik, padahal ia dan Samcheon baru pertama kali bertemu. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka, Jae sangat terlihat bahagia disana. Samcheon yang baik hati itu sangat terlihat menikmati kegiatannya.

"Apa yang kau lakukan disini!?"

Ratu dari Jung Corp ini tiba tiba menghampiri Jaejoong dan Samcheon yang telah berhenti dengan kegiatannya sekarang mereka memasang muka kaget. Dengan setelan bajunya yang mahal ia mendekati mereka, tetapi langkahnya berhenti enggan berjalan lebih jauh lagi, karena meraja jijik dengan bau ayam yang menyengat. Dah berdirilah ia di depan pintu peternakan ayam.

"hei apa yang kau lakukan disin, hah!?"

"a,aku sedang menaruh anak ayam Mr Jung" jawabnya takut

"menaruh anak ayam?! Ha! Kau senang ya apa yang telah kau lakukan sekarang?! Kau ini benar benar Aneh ya! Masih banyak hal yang bisa kau lakukan dari pada ketempat kotor seperti ini, dirumah ini ada satu perpustakaan besar kan!

"ak,aku sedang menghabiskan satu buku, tetapi aku hanya ingin membantu Samcheon sebentar saja, iya aku dan..anakku sangat senang melakukan hal ini Mr Jung" kata Jae sambil mengelus pelan perutnya.

"Kauu! Menjijikan, Baiklah... Kau yang disana!" sambil menunjuk Samheon petugas di peternakan ayam ini.

"Biarkan dia, Kim Jaejoong! Merapihkan anak anak ayam yang Bau ini, Sendirian! Jika itu maunya!"

"t,tetapi Nyonya.. anak ayam ini sangat banyak sekitar tiga rat"

"sudah kubilang biarkan dia bekerja sendiri! jika itu maumu Kim Jaejoong aku ingin lihat, seberapa senang kah kau dan 'ANAKMU' dengan pekerjaan ini!"

Katanya sambil pergi meninggalkan mereka berdua di kandang yang besar itu. Jaejoong mulai memunggut satu persatu anak ayam itu dengan lembut. Samcheon yang melihatnya tidak kuat, ia sangat iba dengan Jaejoong.

"Biar aku bantu Nyonya"

"tidak usah Samcheon, jika ada yang mengadui mu kau bisa dimarahi Mr Jung"

Tolak Jaejoong dengan nada pelannya, ia terus memunguti anak ayam yang jumlahnya ratusan. Karena terlalu banyak anak ayam yang ia pungut, perut dan pinggangnya mulai sakit. Tetapi ia terus memunguti anak ayam itu tanpa mengeluh, tidak tega dengan Jaejoong yang mulai kelihatan sangat lelah. Samcheon berinisiatif mengambil anak ayam. Jaejoong yang melihat Samcheon yang mulai membantu ingin menolak tetapi langsung dicegah.

"tidak apa apa, aku juga ikut bertanggung jawab Nyonya. Secara tidak langsung aku juga harus menjagamu. Kau tidak boleh menolak."

"maafkan aku Samcheon"

"tidak, tidak ada yang perlu minta maaf Nyonya" kata Samcheon bijaksana. Pada akhirnya mereka memungut anak ayam bersama sama kembali. Dan untuk Jajeoong, ini baru awal dari kehidupan barunya di kediaman Jung. ia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi untuk empat hingga lima bulan kedepan.

bersambung