Balas Review! :D
Renka Sukina: Yah, begitulah! Oke, Thanks for Review! :D
Happy Reading! :D
Chapter 4: Tragedi Tisu dan Kucing Hilang
Di rumah Girl-chan, terlihat delapan belas murid NNG sedang membahas PR dengan rusuh. Iya, rusuh! Girl-chan membaca buku sendiri di pojok ruang tengah, Dissa manjat tembok (?) karena Fiorel sempat menjejalinya dengan Kopenhagen (Ingat, ya! Kopenhagen di sini kucingnya Luthias, bukan ibukota Denmark!), Idham mainin HP-nya, Luthfi tertidur di atas meja, Giro-kun memainkan biolanya, Dark main 'gunting-batu-kertas' sama Sakazaki, Mea makan tahu gejrot lima puluh bungkus (?), Bunga hanya bisa memasang tampang pokerface melihat kerusuhan di depannya, sementara Luthias memenuhi 'panggilan alam' di toilet terdekat.
Wow! Saking rusuhnya, bahkan mengalahkan World Meeting!
Eh, sebentar! Tadi aku bilang delapan belas, kan? Tapi kenapa hanya ada sebelas orang, ya?
Oh, ternyata tujuh anak lainnya lagi sibuk dengan urusan pribadi. Hanny dan Mikado jualan doujinshi di depan kost para guru, Runa berburu Cosplay BoBoiBoy, sementara Sho, Rasi Bintang, Provoseat, dan KAProng menjalani latihan khusus dengan Gerrard dan Andre alias 'CSO Shoot Training'.
Mari kita kembali ke ruang tengah rumah Girl-chan!
Luthias yang baru balik dari 'panggilan alam' pun langsung cengo seketika melihat kerusuhan di depannya tersebut. Sontak, dia pun langsung mengeluarkan tombaknya dan segera menusukkannya ke atas meja.
SREK!
Untungnya tuh tombak kagak mengenai Luthfi yang lagi tidur, tapi yang bersangkutan langsung terbangun dengan muka shock karena nyaris terkena tusukan tombak dari adik kembar sang ketua guru merangkap mantan Viking tersebut. Sementara penghuni ruang tengah yang lainnya langsung menghentikan kegiatan mereka masing-masing dan gemetaran melihat Luthias yang jiwa Viking-nya mulai muncul.
Yeah, one message from Thundy the Narator: Watch out if you meet the Viking!Greenland or you can get the super living hell from him!
Cowboy: "Thun! Sejak kapan lu bisa lancar ngomong English begitu? Setau gue lu demennya ngomong pake German, deh!"
Thundy: "Gue pengen aja belajar ngomong English!" *nyengir.*
Cowboy: *sweatdrop.*
Hehehe! Es tut uns leid zu dem Vorfall gerade jetzt (Maaf soal kejadian barusan)! Silakan disantap (?) ceritanya! (Mathias: "Lu kate makanan?" *sweatdrop.*)
"KALIAN KAGAK MALU APA BIKIN KERUSUHAN DI RUMAH ORANG?! BISA TENANG KAGAK, SIH?!" bentak Luthias kagak nyelow.
Seisi ruang tengah pun langsung merinding melihatnya, bahkan Luthfi langsung menjauh secepat kliat dari meja yang sempat ditidurinya karena takut bakalan dibantai pake tombak.
"Greeny! Jangan marah-marah! Aniki kan pernah bilang kalau marah terus nanti cepat tua, lho!" nasihat Fiorel.
'Cia elah! Kayak Denmaku-pyon kagak pernah marah aja, deh!' batin Giro-kun sweatdrop.
"Hold kæft (Diam kau), Faeroe-chan! Mood gue lagi rusak karena kerusuhan di sini, tau!" balas pemuda jabrik itu emosi.
"Thias! Mending lu jangan marah-marah ke Fiorel, deh! Kasihan dia! Tuh anak kalau udah nangis, entar lu yang diomelin sama pak Kambing!" nasihat Idham agak risih melilhat Fiorel yang mulai ngeluarin air mata dari mata biru kehijauannya tersebut.
Thundy: "Halah! Bilang aja lu kagak bisa nenangin dia karena takut dikira suka!" *digaplok laptop sama Idham.*
Idham: "Urusai!" *blushing.*
Mathias: *tiba-tiba langsung nonggol.* "Tenang aja, Dham! Entar gue restuin lu kalau lu mau nikahin Faeroe-chan!"
Idham: "SEJAK KAPAN PAK KAMBING ADA DI SINI?!"
Cowboy: "Oy, kalian! OOT-nya di Author Note aja, jangan di sini!"
Mathias: "Oke!" *langsung ngacir.*
Thundy, Idham, dan Cowboy: *sweatdrop.*
Well, it's very OOT! Back to Story!
"Eh? B-beklager, Faeroe-chan!" ujar Luthias sambil memeluk gadis Faeroe yang pengen nangis tersebut.
"Hiks! Gue jadi terharu!" ujar Luthfi sambil menghabiskan sekotak tisu hanya untuk mengelap air mata dan air liurnya. (Cowboy: "Idih! Jorok banget, sumpah!" *dihajar Luthfi.*)
"LUTHY(-KUN/-PYON), NGAPAIN LU ABISIN TISUNYA?!" jerit seisi ruang tengah (min Idham, Luthias, Fiorel, dan Luthfi) emosi melihat Luthfi menghabiskan sekotak tisu sendirian.
"Entah kenapa, aku jadi teringat kejadian 'itu', deh!"
Seisi ruang tengah (min Luthias dan Fiorel) pun langsung melirik Luthias yang memasang tampang khas-nya (baca: meletakkan jari tengah di 'jembatan' kacamatanya) dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menepuk punggung Fiorel untuk menenangkannya.
"Kejadian apaan?" tanya Luthfi penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, bahkan aku bingung harus mulai darimana!" jawab pemuda jabrik itu.
"Ceritain, dong!" pinta Dissa antusias.
"Yah, baiklah!" balas Luthias sambil menghela nafas. "Tapi tolong rahasiakan ini, aku takut Aniki bakalan membunuh kalian kalau sampai tau hal ini!"
Mereka semua pun hanya bisa manggut-manggut walaupun hanya Girl-chan, Giro-kun, Luthfi, Idham, Dark, Sakazaki, dan Fiorel yang tau siapa kakaknya Luthias. Keempat orang pertama karena udah dikasih tau sama sang ketua guru, dua orang di tengah karena mereka sekelas dengan Luthias, dan satu orang terakhir karena dia juga adiknya Mathias.
"G-Greeny! Kau yakin soal ini?" tanya Fiorel agak cemas.
Pemuda Greenland itu pun menghela nafasnya lagi sambil menatap datar gadis Faeore di sebelahnya seolah mengatakan 'aku-tidak-punya-pilihan-lain-!'.
-Flashback-
Beberapa bulan sebelumnya...
"Faeroe-chan, hati-hati!" kata Luthias sambil mengejar Fiorel yang berlari di sekitar bandara.
Sekarang keduanya sudah tiba di bandara setelah terbang dari Kepulauan Faeroe untuk berlibur bersama para Nordic.
"Aku tidak sabar ketemu Aniki yang lainnya!" balas gadis itu dengan wajah senang sambil terus berlari di sekitar bandara.
"Iya, aku tau! Tapi aku kagak mau tau kalau nanti kau sampai nyasar, ya!" ujar pemuda Greenland itu sambil terus mengejar Fiorel.
Fiorel pun langsung berhenti berlari dan berbalik sambil mencembungkan pipinya. Luthias juga ikut berhenti dan menatap gadis di depannya dengan tidak enak hati.
"Huuh! Iya, deh!" keluh gadis Faeroe tersebut.
"Maaf, Faeroe-chan! Tapi kita harus ke terminal bus dulu! Kau ingat pesan Aniki, kan?" kata Luthias mengingatkan sambil memegang tangan kiri Fiorel dengan tangan kanannya dan menuntunnya pergi dari bandara.
"Hah? Pesan apa?" tanya Fiorel bingung.
Sontak, sang Greenlander langsung facepalm dengan tangan kirinya.
"Apa aku perlu memperlihatkan HP-ku lagi?" Luthias menanyakan hal itu dengan tampang tidak sabaran.
Kemudian, pemuda jabrik itu pun mengambil HP yang tersimpan di tas slempangnya dan memperlihatkan isi pesan yang dimaksud kepada Fiorel.
Aku tidak bisa menjemput kalian, jadi kalian harus pergi sendiri! -Mathias-
Fiorel pun hanya bisa manggut-manggut membacanya.
"Nah, kau sudah ngerti kan? Sekarang kita ke terminal bus dan awasi Kopenhagen baik-baik! Aku tak bisa menjaganya terus!" ujar sang Greenlander sambil menunjuk kucing peliharaannya di dalam tasnya. (Kenapa kucing dimasukin ke dalam tas?!)
"Baiklah, Greeny!" sahut Fiorel sambil menggendong Kopenhagen dan mengikuti Luthias menuju ke terminal bus.
Di terminal bus...
"Lho? Katanya Aniki kagak bisa jemput!" kata Luthias kaget saat mendapati kakak kembarnya sudah berada di terminal.
Fiorel juga sempat kaget melihatnya sampai tak sengaja menjatuhkan Kopenhagen. Sang kucing (yang untungnya bisa mendarat dengan baik) pun langsung menyelonong pergi tanpa mereka sadari.
"Hehehe! Tadi itu salah ketik!" balas Mathias sambil nyengir. "Err, sebagai permintaan maaf, apa aku boleh minta tisu sekotak?"
"Untuk apa tisu sekotak?" tanya kedua adiknya bingung.
"Yah, ada aja!" jawab pria jabrik itu tanpa menghilangkan cengirannya.
Mereka berdua pun hanya bisa sweatdrop dan Luthias pun mengeluarkan sekotak tisu dari dalam tasnya.
"Terserah Aniki saja!" kata sang Greenlander sambil menyerahkan kotak tisu tersebut kepada kakaknya.
Apa yang akan dilakukan sang Danish dengan tisu itu? Ternyata Mathias dengan sok cakepnya berlagak kayak para SPG yang membagikan brosur promosi sebuah produk di supermarket.
Reaksi Luthias dan Fiorel yang melihat kekonyolan kakaknya? Mereka berdua langsung double sweatdrop dengan apa yang dilakukan pria jabrik tersebut.
"Psst! Faeroe-chan, Faeroe-chan! Kopenhagen mana?" tanya Luthias setelah menyadari kalau kucingnya hilang.
"T-tapi aku masih gendong, deh!" jawab Fiorel yang juga menyadari hal itu. "Apa jangan-jangan tak sengaja kulepas, ya?"
"Haduh!" Pemuda jabrik itu pun langsung facepalm di tempat. "Mendingan kita cari Kopenhagen aja! Soal Aniki, dia bisa nyari kita kalau udah nyadar kita ngilang tanpa dia sadari!"
Thundy: "Wah, wah, Grönland! Sie waren einst Gottlosen mit deinem Bruder, ja (Ternyata kau durhaka sekali dengan kakakmu sendiri, ya)!" *nyengir nista.*
Luthias: "Aku hanya bisa pasrah ngikutin naskah cerita! Mendingan lanjutin aja daripada kita digebukin dia!" *nunjuk Cowboy yang udah nyiapin pentungan.*
Thundy: *langsung menelan ludah.* (batin: "Mampus gue! Kayaknya pulang-pulang Mein Freund bakalan gebukin gue, deh!")
Ich war zu abwegig, oder (Aku terlalu melenceng, ya)? Mari kita kembali ke cerita!
Kedua anak itu pun pergi meninggalkan Mathias tanpa pamit. Bener-bener sepasang adik yang durhaka banget, ya! *Narator dilempar kapak.*
-Flashback End-
"Setelah itu aku kagak tau lagi apa yang dilakukan Aniki!" kata Luthias mengakhiri ceritanya.
Reaksi mereka yang mendengar cerita Luthias barusan? Kesembilan anak itu hanya bisa memasang tampang cengo dan berpikir seperti ini: 'Baru tau gue kalau ternyata tuh ketua guru bisa bertingkah laku konyol begitu!'.
"Greeny!" panggil Fiorel.
"Ja, Faeroe-chan?" tanya Luthias.
"Kita kan udah janji sama Aniki mau ke 'sana'!" kata gadis itu setengah berbisik.
"ASTAGANAGA! SEKARANG KAN WAKTUNYA WORLD MEETING! KITA HARUS CEPAT PULANG!" pekik pemuda jabrik itu sambil menarik tangan Fiorel dan langsung kabur dengan kecepatan Sonicboom (?) dari rumah Girl-chan.
'World Meeting itu apaan, sih?' batin Dissa, Mea, Sakazaki, Bunga, Luthfi, dan Idham sweatdrop.
Biarlah hal itu menjadi misteri Ilahi~ XD *Narator ditimpuk sepatu sama Reader.*
To Be Continue...
Me: "Ini kelewatan nista, ya?"
Mathias: "Banget, Thor! Banget!"
Luthias: "Moncong-moncong, Aniki! Hvor den blå-hårede fortælleren, hva ' (Narator berambut biru tadi kemana, ya)?"
Me: "Oh, si Thundy? Dia lagi-"
PRANG! DUAR!
Me: *langsung kicep.* (Batin: "Jangan bilang kalau...")
Di luar rumah Author (?)...
Thundy: "AMPUNI AKU, MEIN FREUND!" *langsung kabur dengan kecepatan Mini Smile Joker (?).*
Cowboy: "KAGAK ADA AMPUN!" *ngejar Thundy sambil nembakin bazzoka.*
DUAR! DUAR!
Back to Author home (?)...
Me: "Well, kalian bisa nebak sendiri, kan?"
Mathias dan Luthias: *sweatdrop.*
Me: "Review!" :D
