Balas Review! :D

Jeremiah Gerrandy: Begitu, ya! Terima kasih atas pujian dan Review-nya! :D

Happy Reading! :D


Chapter 5: Luthias, Acara Tebengan, dan Merka


Kendaraan kesukaan Luthias semasa bersekolah di NNG adalah bajaj.

Sejujurnya, dia sendiri juga heran kenapa banyak yang tidak suka naik bajaj. Padahal enak, lho! Bisa main cegat kalau lewat depan rumah atau kalau mau nyanyi-nyanyi di dalam bajaj (menurut pengalamannya saat naik bajaj berdua dengan Mathias) pun juga kagak bakalan ketauan jelek.

Bajaj sudah menjadi bagian dari kehidupan pemuda Greenland yang satu ini selagi tinggal bersama Mathias dan para Nordic. Berangkat sekolah naik bajaj, pulang sekolah naik bajaj, bahkan kabur dari kejaran Lukas yang ngamuk pun juga naik bajaj. (Sungguh kagak elit banget, sumpah!)

Tapi kesetiaan Luthias kepada bajaj berubah setelah Idham, teman satu sekolahnya, melewati rumah Nordic dengan mengendarai mobil pribadi setiap pulang sekolah. Daripada dia terkena 'Bajaj Syndrome' (gejala dimana penderitanya suka bergetar kalau lagi bengong, itupun menurut penuturan Mathias), pemuda jabrik itu selalu nebeng bersama anak itu sepulang sekolah.

Saat hari pertama Luthias nebeng sama Idham, ternyata dia tidak sendiri. Ada dua makhluk yang juga memanfaatkan kebaikan Idham dengan memaksanya nganterin pulang. Mereka berdua adalah Luthfi dan Dark. Jika ditambah dengan Luthias sendiri, lengkap sudah Trio Nebeng (?).


Inilah daftar orang yang suka nyempil di dalam mobil Idham!


1. Luthfi

Dua kata yang bisa digambarkan Luthias mengenai anak yang satu ini: pohon jati! Beneran, lho! Alasannya menyamakan Luthfi dengan pohon jati adalah kulitnya yang kecoklatan kayak kayu jati. Saat pemuda Greenland itu mengatakannya kepada yang bersangkutan, dia malah disemprot habis-habisan sama Luthfi. (Setelahnya dia langsung ditemukan dalam keadaan mengenaskan di kelas 9C dengan tubuh babak belur karena dihajar sang ketua guru yang notabene kakak kembarnya Luthias!)

Luthfi juga merupakan seorang vokalis band sekolah mereka. Dia pernah saat manggung lupa lirik dan berimprovisasi karena panik. Kalau biasanya seorang penyanyi berimprovisasi dengan membuat lirik secara spontan, dia malah berimprovisasi dengan... Errr, berjoget. Masih mending kalau jogetnya bagus, tapi Luthfi malah terlihat lebih mirip kesurupan daripada berjoget. Seluruh penonton yang udah ketakutan ngeliat pohon jati hidup itu joget hanya bisa diem aja, bahkan ada beberapa orang yang sampai berdoa dalam hati dengan gemetaran.


2. Dark

Orangnya lumayan asik, walaupun kadang juga agak nyebelin. Pernah waktu Luthias lagi heboh curhat tentang kehidupannya di Greenland, dia malah diem aja. Luthias mengira kalau teman sekelasnya ini diem karena terkesan. Tapi setelah selesai bercerita, Dark malah ngomong, "Gue mau makan salak!" dan itu sungguh kagak nyambung banget, sumpah!


3. Luthias

Dia merupakan satu-satunya bule yang numpang mobil Idham. Idham suka protes sama dia karena kadang suka membahayakan keselamatan mereka. Soalnya, kalau Luthias lagi mabuk karena kebanyakan makan licorice-nya Emil atau minum Yoggi-nya Lukas, dia suka menge-grepe Idham yang lagi bawa mobil dan bikin jalannya jadi oleng. Bisa-bisa malah bikin seluruh penumpang mobil itu dalam bahaya. Kan kagak lucu kalau mereka beneran tabrakan dan di koran nanti ada tulisan 'Empat Remaja SMP Tewas Dalam Mobil Akibat Di-grepe Salah Satu Temannya Yang Merupakan Seorang Bule!' di headline-nya.

Selain itu, Luthias juga suka main 'tarik rem tangan saat Idham kagak liat'. Jadi saat mobil lagi kencengnya, tiba-tiba dia langsung narik rem tangan dan bikin mobil itu berhenti mendadak. Well, itu memang cukup brutal dan isengnya pun mirip banget sama abangnya!


4. Idham

Supir mobil yang satu ini kagak terlalu cakep banget, dah! Tapi karena dia cukup normal dan selalu melakukan sesuatu dengan logika, ketiga penumpang di mobilnya selalu menganggapnya sebagai bapak tiri mereka. Walaupun Idham cukup baik, tapi dia agak Himedere, maniak laptop, dan kagak suka dilempari telur busuk. (Memangnya siapa juga yang suka?)


Siang itu, Luthias duduk berdua di belakang bareng Dark. Di depannya, terdapat Luthfi yang duduk di sebelah Idham yang menjadi supir mereka. Mereka sedang menunggu agar bisa keluar dari tempat parkir sekolah mereka karena antrian yang sangat panjang dan juga terdapat Valkyrie Tank milik Lance sang guru Sejarah yang lupa dipindahkan pemiliknya terparkir di depan pintu gerbang sekolah. (Ngapain juga Valkyrie Tank diparkir di situ?)

"Lut! Gue baru aja beli HP, lho!" panggil Dark sambil mainin HP Luthfi.

"Terus?" tanya Luthfi.

"Gue udah save nomor gue di HP lu, nih!" jawabnya sambil balikin HP Luthfi.

"Memangnya lu kasih nama apa?" tanya Luthfi lagi.

"Andri Irwansyah!" jawab Dark kalem.

'Andri' itu nama asli Dark, sementara 'Irwansyah' itu nama artis (bener kagak, ya?) favoritnya.

"Najis! Irwansyah kagak jadi lu!" gerutu Luthfi. "Terus, lu kasih nama apa nomor gue di HP lu?"

"Si Kulit Jati Gila!" balas Dark watados.

"Anjrit!" sembur anak itu sewot.

Idham dan Luthias pun langsung ngakak di tempat mendengarnya. Dikasih nama 'Kulit Jati' karena kulit Luthfi yang kecoklatan kayak kayu jati dan 'Gila' itu sikap yang... Err, semua orang pasti udah tau lha!

"Kalau gue apaan?" tanya Idham sambil nengok dari spion belakang dengan kagak sabaran.

"Kalau lu mah 'The Driver Rahman'!" jawab Dark dengan polosnya.

'Driver' adalah pekerjaan Idham sekarang dan 'Rahman' adalah nama marga pemuda berkacamata yang satu ini.

"Oh! Jadi ceritanya lu nganggep gue supir, nih?! Kenapa nama lu kagak gue ganti aja jadi KETIKA KAU MENEBENG?!" balas Idham sewot.

Ketiga temannya pun langsung ngakak mendengarnya.

"Kalau nomor lu enaknya dikasih nama apaan ya, Thias? Gue belum ngasih nama, nih!" tanya Dark kepada teman sekelasnya yang duduk di sebelahnya tersebut.

'Thias' itu adalah nama pendek Luthias untuk menghindari salah paham dengan Luthfi jika dipanggil dengan nama pendek 'Lut', tapi bisa aja bikin salah paham yang lain kalau seandainya Mathias juga berada di dalam mobil Idham. (Yah ngapain juga tuh ketua guru ikutan nebeng mobil muridnya?)

"Awas aja kalau namanya ngaco!" ancam Luthias yang jiwa Viking-nya mulai kambuh.


Setelah beberapa menit, suasananya cukup hening karena mereka berempat kesulitan mencari topik pembicaraan.

"Eh, Thias! Menurut lu, nama 'Merka' itu kayak apaan ya?" tanya Dark.

Luthias pun berusaha menahan tawa mendengarnya, begitu juga Dark. Luthfi dan Idham pun langsung bingung dengan kelakuan kedua orang di belakang mereka. Luthias dan Dark sekelas di kelas 9E dan keduanya pasti membicarakan hal pribadi di kelas mereka yang tidak dimengerti kedua anak dari kelas 9C tersebut.

"Merka itu siapa, sih?" tanya Luthfi bingung.

"Merka itu anak cewek pindahan di kelas kami!" jawab Dark sambil cekikikan. "Lu berdua tau kagak?"

"Kagak! Memangnya ada ya anak yang namanya Merka?" balas Idham nanya balik.

"Bukan begitu, bego! Nama aslinya bukan Merka, tapi kami yang manggilnya kayak gitu!" jawab Luthias yang masih cekikikan.

"Kenapa dipanggil Merka?" tanya Luthfi bingung.

"Ceritanya panjang, dah! Biar kagak ketauan pas kita omongin dia!" balas Dark sambil nyengir.

"Gile lu, Darukun! Dosa lu gosipin orang!" bentak Idham.

"Bukan gosip, sih! Habisnya, orangnya kacau banget, sih!" ujar Luthias sambil tersenyum nista.

"Kacau gimana?" tanya kedua orang di kursi depan penasaran.

Kedua anak itu pun malah ngikik kagak jelas.

Mereka berdua pun bercerita kalau Merka adalah anak pindahan dari Kamerun. Walaupun dia kayak murid pindahan pada umumnya, tapi kepolosannya telah mengundang tawa bagi Luthias dan Dark.

"Lu berdua harus tau dia ngapain pas ngenalin diri!" kata Dark.

Mereka pun bercerita tentang kepolosan Merka sebagai pendatang dari Afrika. Dia memperkenalkan diri dengan gaya kayak seorang pejuang kemerdekaan plus tangan dikepalkan sambil ngomong begini, "NAMAKU ADALAH ***** YANG BERASAL DARI KAMERUN!" yang sukses bikin seisi kelas 9E cengo seketika melihatnya dan beberapa menit kemudian, mereka pun langsung ngakak di tempat.

Ini mau perkenalan atau mau mengusir penjajah?


Selama beberapa hari ke depan, topik pembicaraan di dalam mobil Idham pun berkisar soal Merka. Luthias dan Dark masih sangat hot dan update dalam menceritakan keanehan dan kepolosan Merka yang mengundang tawa.

"Bulu keteknya pasti keriting, makanya pake deodoran khusus cowok!" celetuk Luthfi setelah Dark bercerita tentang Merka yang membawa deodoran khusus cowok di dalam tasnya.

"Kagak mungkin, lha!" timpal Luthias. "Soalnya, deodorannya pasti bakalan meledak pas dipake! Hahahaha!"

Luthias juga bercerita kalau beberapa telasnya berusaha mengajari Merka menjadi anak kota. Maklum, dia itu kan dari desa!

Para telasnya ngomong begini, "Merka! Kalau mau ngomong sama orang kota tuh mesti pake lu-gue aja, jangan pake aku-kamu lagi!"

"Iya, deh! Gue ngerti!" balas Merka pasrah.

Tau-taunya, pas lagi pembagian nilai ulangan Sejarah, Merka nanya kepada Lance dengan suara nge-bass kayak gini, "NILAI GUE MANA, PAK?!" sampai bikin guru Sejarah berambut merah itu langsung cengo parah mendengarnya.

Idham dan Luthfi yang mendengar cerita itu pun ikutan tertawa dengan hal tersebut.

Jahat juga mereka menertawakan orang kayak begitu!

"Eh, lu kagak nyadar kalau kita ngomongin dia terus?" tanya Luthfi mengingatkan.

"Mau bagaimana lagi? Dia tuh lucu banget, sumpah!" jawab Luthias yang mulai menjadi titisan Lucifer.


Selama pembicaraan mengenai Merka berlangsung, Luthfi dan Idham tidak tau seperti apa penampilan Merka sampai mereka berdua melihatnya sendiri saat baru keluar dari Kantin karena kelas mereka lagi kosong dan kebetulan kelas 9E lagi olahraga. Rambutnya memang keriting dan terlihat seperti Negro pada umumnya, tapi Luthias dan Dark masih aja menganggap Merka itu aneh bahkan sampai mengatakan kalau wujudnya mirip banget sama 'botol kecap dikasih wig' atau 'bulu ketek tumbuh di ban kempes'.


Cerita tentang Merka yang paling ekstrem terjadi saat Gerrard mengajar di kelas 9E. Awalnya suasananya masih adem ayem aja, sampai Merka mengangkat tangannya dan ngomong, "Gue mau nanya, pak!"

"Yes, Merka?"

"ARTINYA KAMPRET ITU APA, SIH?!"

Sontak, seisi kelas 9E pun langsung ngakak di tempat mendengarnya. Kayaknya tuh anak kagak sengaja mendengar 'kata mutiara' itu dari seseorang dan kagak tau artinya sampai akhirnya bertanya kepada orang yang salah: Guru Bahasa Inggris!

Untungnya, Gerrard masih bisa bersabar sambil ngomong, "Itu perkataan yang tidak baik, Nak!" kepada Merka. Kalau kagak, dia pasti bakalan ngomong begini, "Apa bapak perlu kasih contoh dengan deodoran kamu?!"


Setelah mendengar tentang tragedi saat pelajaran Bahasa Inggris di kelas 9E, Idham dan Luthfi pun kagak bisa berhenti ngakak sampai kejang-kejang.

Ternyata cerita Dark dan Luthias tentang keanehan Merka seperti tidak ada habisnya. Seperti saat Merka naik sepeda dengan daster atau pas diajakin nongkrong bareng ke Gramedia di dekat kost para guru, dia malah bilang begini, "Nanti aku akan mengajak saudara-saudaraku ke sana!" karena Merka mengira kalau Gramedia itu semacam taman hiburan.


Setelah dua minggu membicarakan Merka, hal aneh pun mulai terjadi.

Pas sepulang sekolah, Dark duduk di bangku belakang mobil Idham dengan muka yang agak kusut sambil ngomong begini, "Lu berdua tau kagak? Tadi tuh kacau banget!"

"Kacau kenapa?" tanya Luthfi heran sambil duduk di sebelah Dark.

"Tadi Merka disuruh bacain karangan buatannya sama Noru-nii di depan kelas dan isinya kacau banget!" jawab Luthias dengan wajah yang sama kusutnya dengan Dark sambil duduk di sebelah Idham.

'Noru-nii' yang dimaksud Luthias adalah Lukas Bondevik alias sang Norway yang mengajar Bahasa Indonesia di NNG.

"Bener banget, tuh!" timpal Dark. "Dia bilang kalau di Kamerun teman-temannya baik dan kagak suka ngomongin orang, tapi di Indonesia orangnya jahat dan suka ngomongin dia terus!"

"Anjrit! Gile lu berdua, ngomongin orang sampe ketauan begitu!" bentak Idham.

"Ja, Dham! Viser sig han allerede ved, at vi har griner ad ham (Ternyata dia sudah tahu kalau kita sudah menertawakannya)! Ini salahnya Darukun, sampe bikin 'Merka Fans Club' segala!" balas Luthias datar.

"MERKA FANS CLUB?! LU KATE DIA TUH ARTIS APA?! NGACO BANGET LU, DARUKUN!" pekik Luthfi kagak nyelow kepada Dark yang duduk di sebelahnya.

"Eh, si Thias tuh ketuanya!" balas Dark sambil menunjuk pemuda jabrik di depannya tersebut.

"Lu kali yang ketuanya, geblek!" bentak Luthias yang (kagak sengaja) menge-grepe Idham.

"Thias! Jangan grepe gue apa?!" jerit Idham sewot.

"Eh, beklager!" balas pemuda jabrik itu sambil menjauhkan dirinya dari Idham.

"Terus, gimana reaksi yang lainnya pas dengerin karangannya Merka?" tanya Luthfi menenangkan suasana.

"Pokoknya kasihan banget, deh! Satu kelas pada diem semua, termasuk kita berdua yang sering ngatain dia!" jawab Dark risih.

"Mampus lu!" gumam Idham.


Keesokan harinya, terdengar berita yang lebih parah.

Merka kabur dari rumah. Menurut kabar yang tersebar ke seluruh NNG, Merka stress karena mendapat tekanan dari teman-teman sekolahnya sekaligus saudara-saudaranya. Ternyata dia juga diperlakukan kurang baik oleh saudara-saudaranya di rumah.

Bahkan, Anna sang guru Biologi sampai datang ke kelas 9E dan bertanya tentang keberadaan Merka karena orangtuanya di Kamerun nyariin dia dan kagak ketemu. Tapi kenyataannya, kagak ada yang tau!

Teori lain yang beredar mengatakan kalau Merka salah ambil bus dan nyasar ke Amerika atau diculik alien untuk dibawa kembali ke planet asalnya. Luthias malah mencetuskan teori paling ekstrem dengan mengatakan kalau Merka itu sebenarnya hanya khayalan mereka saja, padahal ketiga temannya tau kalau pemuda Greenland itu ngomong begitu karena kebanyakan dicecokin bir sama Mathias.

Kabar yang paling masuk akal mengatakan kalau Merka terdorong stress dan mencari cara agar bisa kembali ke kampung halamannya.

"Kita bakalan kena karma!" ujar Luthias setelah mendengar berita hilangnya Merka. "Ini gara-gara kita ngomongin dan nertawain dia sampe kabur begitu! KITA BAKALAN KENA KARMA!"

"Iya, jahat banget lu!" timpal Luthfi.

"Hayo lho, Thias!" kata Dark.

"Enak aja! Ini kan ulah lu juga, Darukun!" bentak Luthias membela diri. "Kan lu yang paling sering ngomongin dia!"

"Lu berdua bakalan kena karma!" celetuk Luthfi.

"LU JUGA BAKALAN KENA, LUTHFI!" pekik Luthias dan Dark bersamaan ke arah Luthfi.

"Kenapa gue juga kena?!" tanya Luthfi kaget.

"Lu kan yang sering dengerin cerita kita dan ikutan ketawa juga!" balas Dark emosi.

"Tunggu bentar! Kalau Luthfi juga bisa kena karma, BERARTI GUE JUGA KENA DONG?!" teriak Idham panik.

"Kita semua bakalan kena karma, Dham! WE ARE SO FUCKED UP!" jerit pemuda Greenland itu stress.


Ternyata karma Merka menjadi kenyataan!

Spion mobil Idham digondol maling saat diparkir di depan rumah Nordic, Luthias sering ribut sama Emil hanya gara-gara licorice, Dark tiba-tiba terkena serangan usus buntu (sebenarnya Luthias curiga kalau tuh anak memang dari dulu udah terkena usus buntu), tapi Luthfi masih biasa-biasa aja.

Sudah seminggu Merka hilang dan sampai saat ini, masih belum ada tanda akan segera ditemukan. Keempat anak itu pun mulai gelisah karena kutukan Merka tidak akan hilang sebelum dia ditemukan. Karena itulah, Luthfi mengusulkan mereka mengikuti progran 'Tali Kasih' yang merupakan acara dimana orang-orang bisa mempertemukan kembali keluarga yang telah lama menghilang.

"Mendingan kita ikutan 'Tali Kasih' aja, terus kita nangis-nangis!" usul Luthfi.

"Kalau buat Merka mah, nama program-nya 'Tali Koteka' (?)! Hahaha!" celetuk Dark sambil tertawa garing.

Luthias pun juga ikutan tertawa karena membayangkan di program 'Tali Koteka' itu, Dark (yang memakai koteka) akan bilang ke pemirsa, "Pulanglah, Merka! Koteka ini takkan aku lepaskan sampai kau pulang, Nak!".

Pemuda jabrik itu pun berusaha mengembalikan Dark ke jalan yang benar dengan ngomong, "Parah banget lu, Darukun! Udah hilang begitu masih aja dikatain! Entar kita kena karma lagi, bego!"

Dark pun langsung menelan ludahnya.

Begitu mereka membicarakan Merka dan program 'Tali Koteka', mobil tumpangan mereka pun kena tilang di perempatan menuju rumah Nordic.

"Yah! Kena karma lagi, deh!" gumam Idham sambil ngasih uang lima puluh ribu kepada polisi.


Sejak saat itulah, mereka berempat sering mengaitkan kejadian sial yang mereka alami dengan Merka. Band sekolah mereka gagal manggung di festival World Meeting karena Merka, Luthias kena omel Mathias gara-gara nilai ulangan Kimia-nya yang jeblok karena Merka, bahkan Luthfi yang belum mandi seminggu karena pemadaman listrik pun juga karena Merka.

Bahkan, mereka berempat sampai membayangkan kalau karma Merka tidak hanya berhenti sampai di situ. Mereka takut kalau tau-tau dia bakalan jadi Yandere dan keempatnya akan bernasib seperti kejadian di film horror dimana mereka berempat harus kabur dari kejaran Merka yang akan membantai mereka satu per satu dengan senjata yang biasa dipakai para penjahat di film Thriller.

Luthias malah membayangkan kalau Merka nanti akan mengendarai sepedanya dan wajah teman-temannya akan dilindes satu per satu sampai tewas yang akhirnya hanya akan menyisakan pemuda jabrik itu. Dalam aksi pengejaran Merka, Luthias akan menatapnya sambil ngomong, "Kamu orang baik, Merka! Sungguh!"

"Aku tidak perduli!" kata Merka sambil memperlihatkan segumpal daging di tangan kirinya.

"Apa itu?" tanya Luthias ketakutan.

"Ini adalah sisa daging dari tubuh Idham setelah aku lindas dengan sepedaku!" jawab Merka sambil tersenyum psikopat.

"NEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEJ! KALAU BEGITU JADINYA, NANTI AKU HARUS NEBENG SAMA SIAPA KALAU PULANG?!" jerit pemuda Greenland itu sambil nangis kejer.


Karma Merka yang paling parah dialami oleh Luthfi dan Idham saat mereka janjian sama Girl-chan mau ke Gramedia. Mengingat gadis itu ada urusan sama Mathias sebentar dan Giro-kun pergi entah kemana, jadi mereka berdua disuruh menunggu di rumahnya sampai dia balik.

"Lu yakin nih kita dateng tapi lu kagak ada di rumah?" tanya Luthfi dari dalam telepon.

Mereka berdua memang sering main ke rumahnya, tapi jarang banget berdua kayak Lance dan Emil yang kencan di warteg (?).

"Kagak apa-apa, kok! Gue ada urusan sama pak Mathias dulu, nih!" balas Girl-chan di seberang sana.

Kedua anak cowok berkacamata itu pun akhirnya datang ke rumah Duo bersaudara yang merupakan teman sekelas mereka.

Kakak ipar Girl-chan yang bukain pintu ngomong, "Maaf, Dek! Kalau ****-nya kagak ada, kagak boleh masuk!"

"Tapi kita ke sini disuruh sama orangnya sendiri!" balas Idham sok keren.

"Begitu, ya!" kata sang kakak ipar.

"Iya!" sahut Luthfi mendukung Idham dengan rasa solidaritas yang tinggi.

Begitu keduanya masuk ke kamar Giro-kun, Luthfi langsung menyalakan PS 3 dan Idham hanya tidur-tiduran di kasur. Mereka sering begitu kalau kedua temannya berada di rumah.

Keadaannya masih baik-baik saja, sampai abangnya Girl-chan masuk ke kamar Giro-kun dengan tampang sangar. Kayaknya abang kandung gadis itu lagi stress berat entah karena pekerjaan atau sesuatu.

Begitu sang abang masuk kamar, dia langsung shock melihat Luthfi mainin PS 3 di kamar adik sepupunya. (Catatan: Karena Giro-kun itu genderbend-nya Girl-chan, jadi dia dianggap adik sepupu sama keluarga mereka!)

Sang abang sangat kaget karena memang baru pertama kali melihat Luthfi dan mengira kalau dia adalah sepotong kayu jati yang bisa main PS (?). Luthfi sendiri juga langsung mangap lebar melihat abangnya Girl-chan tersebut.

Begitu sang abang melihat Idham yang tengkurep di atas kasur Giro-kun, dia pun langsung shock lagi karena melihat Idham yang diam karena sedang pura-pura mati. (Sebenarnya dia mau kentut biar sekalian dikira bangkai tikus raksasa, tapi kagak keluar!)

Suasana pun langsung hening seketika. Luthfi masih mangap lebar, Idham masih pura-pura mati, dan sang abang masih terdiam melihat kedua makhluk tersebut. Akhirnya, sang abang pun keluar dari kamar Giro-kun.

Beberapa menit kemudian, kakak iparnya Girl-chan pun datang dan ngomong kepada Luthfi dan Idham, "Mendingan kalian berdua pulang aja, nanti saya yang kena marah!"

Mereka berdua pun langsung ngacir tanpa basa-basi.


Lima bulan sudah berlalu dan sampai saat ini, Luthias masih dapet SMS dari Dark yang isinya seperti ini:


From: Dark

Memperingati lima bulan hilangnya Merka. Semoga dia bisa ditemukan oleh pihak yang berwajib. Harap dengarkan lagu galau (?) sebagai tanda keprihatinan.


Luthias bertemu dengan Idham saat pulang dari toko buku untuk membeli beberapa buku 'Goosebumps' di dekat tempat parkir depan supermarket. Setelah masuk ke dalam mobil Idham, pembicaraan tentang Merka pun tak bisa dihindari.

"Gimana, Dham? Udah ketemu?" tanya Luthias.

"Iya, katanya dia udah balik ke Kamerun!" jawab Idham datar.

"Bagus, deh! Terus, kagak kena karma lagi?" tanya Luthias lagi.

"Lu liat mobil gue?" Idham malah nanya balik.

"Memangnya kenapa?" Pemuda jabrik itu pun langsung bingung.

"Coba lu liatin radio-nya!" pinta Idham sambil menunjuk dashboard mobilnya.

Luthias pun melihat ke arah dashboard dimana radio mobil biasanya berada. Pemuda Greenland itu pun langsung bengong plus heran melihatnya.

"Kagak ada radio-nya, tuh!" kata Luthias dengan tampang skeptis karena ternyata dashboard-nya kosong.

"NAH, ITU DIA! Lusa kemaren radio gue digondol orang pas diparkir di depan Basara Café!" balas Idham setengah menjerit.

"Dosa lama memang susah hilang, Dham!" gumam Luthias datar sambil menepuk pundak temannya tersebut.

Saat Luthias nebeng sama Idham kali ini, hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua.


To Be Continue...


Review! :D