Happy Reading! :D
Chapter 6: When Trapped in Flood
Lukas sangat benci dengan banjir.
Alasannya karena Lukas pernah harus melewati banjir yang muncul sejak jam sepuluh malam saat berangkat jam lima subuh ke NNG. Mengingat ancaman Mathias akan mengawinkannya dengan Tadakatsu milik Ieyasu jauh lebih mengerikan daripada melihat sekumpulan ikan lele (?) yang berenang di dalam air banjir, dia terpaksa menerobos banjir dengan telanjang kaki dan celana digulung sampai selutut. Alhasil, sang Norwegian sering nyusruk ke dalam got yang kagak keliatan saking keruhnya air banjir di sana dan sukses bikin dia jadi kerendam air setengah sisi miring badannya.
Tapi pas udah nyampe sekolah dengan tubuh basah kuyup, Ieyasu yang udah berada di NNG bilang begini, "Kok Bondevik-san datengnya pagi banget? Bukannya ini hari Minggu, ya?"
Sejak saat itulah Lukas tidak bernafsu melihat genangan air lagi.
Tapi, ada satu hal lagi yang paling dibenci Lukas: terjebak banjir bersama empat orang paling kagak waras di Nordic atau bahkan di seluruh dunia (menurutnya)!
Kalian penasaran, ya? Mari kita simak cerita Lukas saat terzalimi (?) di tengah banjir bersama keempat saudaranya.
Kejadiannya berawal saat dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Nordic setelah seharian ngajar di NNG. Saat itu, jalanan sedang terkena banjir karena hujan deras yang turun beberapa hari terakhir ini.
Tentu saja hal itu membuatnya kesal setengah mati, apalagi kalau terjebak bersama empat orang yang (menurutnya) sangat kagak waras di dalam angkot (?) yang mereka tumpangi saat ini. Sialnya, hanya satu orang yang (mungkin) paling normal di antara mereka berempat yang notabene adalah adiknya sendiri, Emil. Tiga orang lainnya yang sangat menyebalkan (menurut Lukas) adalah dua orang kembar jabrik kayak pinang dicelupin ke dalam segentong bir (?) dan satu-satunya anak perempuan yang kepolosannya minta ampun sampai Lukas pengen banget ceburin dia ke comberan terdekat (?).
"Kok angkotnya kagak maju-maju, sih?!" tanya Emil agak emosi.
"Iya! Kok kagak maju, ya?" timpal Luthias.
"Sabarlah kalian berdua! Ini kan gara-gara banjir!" nasihat Mathias datar sambil memijat keningnya.
"Aku mau pipis!" kata Fiorel yang paling kagak nyambung di antara mereka berempat.
Sementara Lukas hanya bisa diam saja menanggapi keempat makhluk itu di dalam angkot. Mereka berempat duduk di bangku belakang, sementara Lukas sendiri duduk di samping bangku supir untuk menghindari teriakan kagak karuan mereka.
Sang Norwegian merasa kalau terjebak banjir bersama keempat makhluk kagak jelas itu membuat harinya menjadi sangat buruk.
"Noru-nii, aku mau pipis!" rengek Fiorel semakin menjadi-jadi.
"Nanti aja, Faeroe-chan!" balas Lukas sambil nengok ke belakang.
"Tapi aku kebelet banget!" kata gadis Faeroe itu dengan tampang jujur. (Ngapain juga dia harus bohong?)
Di saat seperti ini, mungkin Lukas bakalan ngomong, "Mendingan kamu pipis aja di luar jendela!". Tapi diurungkannya karena takut Mathias bakalan menceramahinya berjam-jam sampai kupingnya budeg karena suara pria jabrik itu yang kayak klakson dan kuping Lukas pasti udah berdengung duluan saking kerasnya suara sang Danish merangkap ketua guru NNG tersebut.
"Noru-nii, aku mau pipis!" rengek Fiorel lagi.
"Baiklah! Kalian berempat diam!" perintah Lukas menenangkan suasana yang mulai tidak terkendali.
Kalau melihat keadaan jalanan di depan mereka, pasti bakalan tergenang air yang bikin mobil-mobil mandek dan kagak bisa maju. Hal pertama yang harus dilakukan Lukas adalah mencari jalan untuk bisa cepat pulang, bagaimanapun caranya.
Pria berjepit itu melihat keluar jendela dan mendapati beberapa motor naik ke atas trotoar untuk menghindari banjir. Akibatnya, trotoar pun sesak oleh motor dan mobil-mobil di jalan lambat pun kagak bisa bergerak lagi. Angkot mereka yang berada di jalan cepat pun juga ikutan mandek.
Tiba-tiba, Lukas melihat ada halte Busway dan dia pun langsung dapat ide bagus.
"Oy, kalian berempat! Ayo kita naik Busway!" ajak Lukas kepada keempat makhluk di bangku belakang.
"Apa itu Busway?" tanya Luthias heran.
"Itu lho, Greeny! Bus yang warnanya kuning!" jawab Mathias.
"Terus?" tanya Emil yang keliatannya kagak tertarik.
"Pokoknya warna kuning, deh!" jelas Mathias yang mulai kagak sabaran.
"Warna bus-nya kuning semua?" tanya Fiorel kagak nyambung sama sekali.
"KAYAKNYA KAGAK PENTING BANGET MEMBAHAS ITU, DEH!" teriak Lukas yang berusaha menghentikan percakapan yang hanya akan menghabiskan nafas mereka.
Sontak keempat orang itu pun langsung diam seketika.
"Lebih baik kalian turun dari angkot dan patungan bayar ongkosnya! Kita nyeberang jalanan macet ini, naik jembatan penyeberangan, naik Busway, dan pulang secepatnya dengan selamat sentosa!" perintah Lukas kepada keempat makhluk bermental anak TK (?) tersebut.
"OKE, NORGE/NORE/NORU-NII!" koor keempatnya serentak.
"Ih, seru!" celetuk Mathias watados.
"Ini serius, Dan!" balas Emil sewot.
Lukas mulai meragukan apakah keempat orang itu bisa berjalan menuju Busway dengan selamat.
"Udahlah kalian ini! Anko, lu bawa Green dan Faeroe-chan! Aisu, lu ikut sama gue aja!" instruksi Lukas kepada keempatnya sambil turun dari angkot.
Setelah bayar ongkos ke supir angkot, Lukas dan Emil pun menyeberangi jalanan yang memang udah mandek banget dan akhirnya sampai di dekat jembatan penyeberangan. Tapi pas sampai di sana, dia kagak ngeliat Mathias dan kedua adik sarapnya.
"Aisu! Anko sama adeknya kemana?" tanya Lukas panik.
"Lho? Perasaan tadi masih ada di angkot, deh!" jawab Emil bingung.
"ITU MAH GUE JUGA TAU!" balas Lukas emosi.
Akhrinya, keduanya pun mencari ketiga makhluk itu di sekitar trotoar. Lukas khawatir kalau mereka diculik. Tapi dia khawatirnya bukan karena masalah tebusan, tapi karena kasihan sama penculiknya nanti. Nafsu makan mereka kan gede banget, apalagi Mathias yang bisa ngabisin segentong bir dalam waktu sekejap.
Setelah lama mencari, akhirnya keduanya berhasil menemukan mereka bertiga dan ternyata ketiganya lagi foto-foto di trotoar.
Reaksi mereka berdua melihat kegilaan ketiga makhluk itu? Emil hanya bisa facepalm, sementara Lukas langsung mendatangi mereka dengan tampang sangar.
"Anko Uzai! Ngapain lu pake acara foto-foto segala, sih?!" bentak Lukas sewot.
"Abisnya, seru banget foto-foto di sini!" balas Mathias watados.
"Bener itu!" bela Luthias.
Lukas pun langsung ber-facepalm ria mendengarnya.
"Udahlah, kembali ke posisi awal! Kita harus siap-siap ke jembatan penyeberangan dan naik Busway dengan selamat!" perintah Lukas yang mulai kagak sabaran mengatasi ketiga bocah tersebut.
"Nore!" panggil Emil.
"Hva?" tanya Lukas.
"Gue boleh ikutan foto-foto, kagak?"
Sepertinya Lukas pengen banget nyari kendaraan buat menggiles adiknya yang satu ini!
"Mendingan kita naik Busway dulu, baru foto-foto!" ingat Lukas yang hampir kehabisan kesabaran.
Entah kenapa, dia teringat sebuah film dimana para prajurit di film itu harus mengarungi arena perang agar bisa mencapai tujuannya dengan Lukas dan keempat makhluk itu sebagai prajurit di film itu. Tapi bedanya, pria Norway itu merasa kalau keempat saudaranya bertingkah seperti sekumpulan siswa playgroup kebanyakan minum susu kuda liar (?).
Kelima Nation itu pun menaiki jembatan penyeberangan. Fiorel dan Luthias udah menjerit kagum karena baru pertama kali naik jembatan penyeberangan. Lukas pun berusaha dengan sekuat tenaga mengalihkan nafsu keempat saudaranya itu untuk tidak foto-foto di jembatan penyeberangan.
Sesampainya di depan halte Busway, Lukas udah bersiap sujud syukur sambil berteriak, "Ya Tuhan! Aku udah berhasil menjalankan cobaan berat ini!"
Tapi ternyata takdir berkata lain! Pas mereka berlima udah nyampe, pintu Busway pun langsung tertutup di depan mata mereka semua. Mathias, Luthias, Fiorel, dan Emil langsung kecewa melihatnya, tapi Lukas jauh lebih kecewa lagi. Perjuangan berat mereka ternyata menghasilkan hal yang sia-sia.
"Maaf, Mas! Busway-nya mau ditutup buat dilewati mobil pribadi! Habisnya macet banget!" kata salah satu petugas Busway.
"Yah, gimana dong, Noru-nii?" tanya Luthias.
"Mendingan kita balik aja, deh!" jawab Lukas.
"Aku mau pipis!" rengek Fiorel.
"GUE LAPEEEEEEEEEEEEEEEEEER!" teriak Mathias.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!" jerit Lukas stress. "Mendingan kita cari Toilet sama tempat makan aja, deh!"
Rencana pun berubah dari 'pulang dengan cepat dan selamat' menjadi 'memenuhi kebutuhan dasar mereka alias makan dan pipis'. Setelah menyeberangi jembatan penyeberangan, mereka berlima pun berdiri di depan sebuah gedung tinggi.
"Makan dimana enaknya?" tanya Emil.
"Di seberang aja!" jawab Lukas sambil menunjuk sebuah rumah makan di seberang jalan.
"Kagak mau!" tolak Luthias dan Fiorel bersamaan.
"Di sono aja, yuk!" ajak Mathias sambil menunjuk sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kagak! Yang penting kita makan di seberang, siapa tau aja lebih murah!" balas Lukas yang lagi pelit sama urusan duit.
"TAPI KAMI MAU MAKAN DI SONO!" teriak keempatnya berkomplot melawan sang Norwegian.
Karena kalah suara, akhirnya Lukas terpaksa mengalah dan mereka pun berjalan menuju ke tempat tujuan. Tapi pas sampai di sana, ternyata rumah makan itu tutup.
"KOK TUTUP, SIH?!" jerit Lukas setengah tidak percaya.
"Iya, Noru-nii! Kenapa tutup?" timpal Luthias.
"Norge! Kenapa bisa tutup, ya?" tanya Mathias.
"GUE JUGA KAGAK TAU!" pekik Lukas emosi.
"Jadi kita mesti makan dimana, nih?!" tanya Emil panik.
"Noru-nii! Kagak ada Toilet, nih!" rengek Fiorel yang sejak awal sangat kagak nyambung.
Sontak, Lukas merasa kalau urat otaknya hampir mau putus. Dia stress berat menanggani keempat makhluk kagak jelas tersebut. Pria berjepit itu berharap ada orang yang muncul di belakangnya sambil ngomong, "Selamat! Anda telah masuk di acara 'Spontan Nation' (?)! Silakan beri salam kepada kamera bersama tiga kambing berkostum manusia (?) dan satu gadis normal di dekatmu sekarang!"
Beberapa menit kemudian, mereka pun mencari informasi dari beberapa orang yang mereka temui untuk mencari tau rumah makan yang buka hari ini. Walaupun mereka belum tau apakah mahal atau tidak, yang penting mereka kenyang dan Fiorel kagak kebelet pipis lagi. Itu yang ada di pikiran Lukas.
Kelima Nation itu pun sampai di sebuah restoran cina yang mereka ketahui dari salah satu pejalan kaki yang mereka temui.
"Berapa orang?" tanya seorang pelayan restoran yang menyambut mereka dari depan pintu.
"Segini aja, dah!" jawab Lukas yang malas menghitung jumlah orang pun menunjuk ke arah keempat saudaranya.
Pelayan itu pun menunjukkan sebuah meja dan mereka semua pun langsung duduk (kecuali Fiorel yang langsung ngacir buat nyari Toilet terdekat). Mathias memperhatikan pemandangan dari jendela di dekat meja mereka dan langsung cengo mendapati genangan air di jalanan.
Pantesan aja mobil-mobil di belakang jalanan itu kagak bisa maju!
Tiba-tiba, seorang pelayan memberikan daftar menu kepada Lukas. Sang Norwegian pun melihatnya dan ternyata harganya mahal semua.
"Baiklah!" Lukas hanya bisa menghela nafas pasrah. "Aisu, lu punya uang berapa?"
"Seratus ribu!"
"Green?"
"Adanya dua puluh ribu doang!"
"Faeroe-chan?"
"Aku bawa lima puluh ribu, Noru-nii!"
"Anko?"
"Gue kagak bawa duit! Dompet gue ketinggalan di sekolah!"
"Berarti lu kagak makan, ya? Gue kagak mau bayarin lu!"
"Tega banget lu, Norge!"
"Bercanda, deng! Gue liatin dompet gue dulu!"
Lukas pun mengecek dompetnya dan ternyata dia cuma bawa uang sepuluh ribu. Dia pun berdehem sebentar sambil ngomong, "Errr, mendingan Aisu aja yang bayarin gue! Anko kagak boleh makan hari ini!"
"HVAD?! TAPI GUE LAPER BANGEEEEEEET!" protes Mathias dengan suara klakson khas-nya.
Lukas pun terpaksa nyerah dan berniat membayar mereka semua dengan debit card miliknya sambil ngomong, "Oke, oke! Tapi makanannya harus murah, ya!"
Beberapa saat kemudian, pelayan yang tadi pun datang dan bertanya, "Jadi, kalian mau pesan apa?"
"Hainan Chicken Rice!" celetuk Luthias.
"GREEN, YANG MURAH!" bentak Lukas. "Err, kayaknya baru ketauan minumnya, deh! Air putih lima biji, ya!"
Setelah beberapa menit menunggu, makanan mereka pun datang dan kelima Nation itu pun langsung makan. Semuanya masih baik-baik saja sampai Fiorel ngomong, "Ugh! Kagak enak!"
"Iya, nih!" timpal Luthias.
"Kenapa kita kagak makan di seberang aja, ya?" tanya Emil sambil menunjuk rumah makan di seberang jalan.
Lukas pun langsung pengen nyari garpu terdekat untuk nusukin hidung pemuda Icelandic tersebut.
"Tadi katanya kagak mau makan di seberang dan pengen makan di sini, tapi kenapa sekarang mau makan di sana?!" bentak Lukas yang merasa otaknya udah mau putus.
"Tadinya memang kagak mau!" kata Mathias.
"Iya!" sambung Luthias.
"Tapi sekarang jadi mau, deh!" sahut Fiorel yang tumben nyambung.
"KENAPA SEKARANG JADI MAU?!" pekik Lukas emosi.
"Abisnya kagak enak, sih! Kayaknya enakan di seberang, deh!" balas Emil.
Lukas pun langsung terdiam dan suasana di sana mulai mencekam.
"Norge! Kok diem, sih?" tanya Mathias.
"DIEM AJA LU SEMUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Lukas yang otaknya langsung meledak seketika.
Akhirnya, kelima Nation itu sudah berada di dalam rumah makan di seberang jalan. Tino dan Berwald sempat menelpon mereka dan sedang dalam misi menyelamatkan kelima saudara mereka. Menurut penjelasan Tino di dalam telpon Lukas, kemacetan di jalanan itu parah banget sampai orang-orang di dalam mobil turun dari mobil mereka dan duduk di jalanan.
Untuk mengisi waktu agar tidak terganggu oleh keempat saudaranya, Lukas pun menelpon Lance untuk diajakin curhat soal hari buruk yang dialaminya barusan. Dia pun menceritakan hal buruk yang terjadi padanya kepada pemuda berambut merah yang ditelponnya tersebut.
"Gimana? Banjir hari ini membawa hikmah, ya?" tanya Lance di dalam telpon.
"Hikmah dari Kanada?! Lu kate dizalimi empat bocah kagak sehat kebanyakan main Digimon itu hikmah?!" bentak Lukas kagak nyelow.
Di depan Lukas, terlihat Luthias dan Emil yang lagi sibuk rebutan licorice dan Mathias berusaha melerai mereka. Fiorel? Kayaknya dia mulai kebelet pipis lagi, deh!
"Hey! Ayolah, Lukas-san!" balas Lance yang sedikit ketakutan mendengar bentakan barusan. "Bukannya belakangan ini kau sibuk dan jarang bersama mereka?"
"Ja, memangnya kenapa?" jawab Lukas nanya balik dengan bingung.
"Seharusnya kau bersyukur dengan hal itu! Setidaknya, you have more time with them! So, I think that's not a bad day if I am you!" jelas Lance dengan bijaknya.
Pria Norway itu terdiam sejenak dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Fiorel masang tampang 'mau pipis' miliknya, sementara Luthias dan Emil sibuk mengejar Mathias yang membawa kabur licorice yang menjadi sengketa mereka.
"Yah, mungkin lu benar juga!" balas Lukas dengan tampang pasrah.
Setelah itu, Lukas menyadari satu hal: walaupun terjebak bersama Emil, Luthias, Mathias dan Fiorel sangat buruk baginya, tapi tanpa keempat makhluk pembawa mimpi buruk itu...
Mungkin aja harinya bakalan lebih buruk lagi!
To Be Continue...
Review! :D
