Happy Reading! :D


Chapter 8: Saat Harus Membangunkan Teman


Sesosok pemuda bersurai silver mulai membuka kelopak matanya untuk memperlihatkan iris violet yang sungguh mahal harganya (?).

"Unggh!" Dia merenggangkan kedua tangannya sambil melirik ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamarnya.

Jam 5 lewat 30 menit. Oh, masih pagi!

Eh?

JAM 5 LEWAT 30 MENIT?!

Sosok yang diketahui bernama Emil itu pun langsung ngacir ke kamar mandi dan dalam waktu kurang dari 4 menit, dia sudah selesai mandi dan segera berlari menuju kamar tamu.

Untuk apa? Tentu saja untuk membangunkan tamu!

"Oy, Lance! Bangun!" teriak Emil sambil menggoyangkan tubuh pemuda bersurai merah yang tertidur pulas bagaikan bayi (?) tersebut.

"Nggg!" Tangan Lance pun mendorong sosok di hadapannya dan Emil pun langsung jatuh ke lantai.

Sial! Anak ini tidurnya kayak kerbau!

Kalau tau Lance susah banget bangun kayak saudara-saudaranya, Emil kagak bakalan mau mengajak Lance menginap di rumah Nordic. Tapi karena kemarin mereka berdua pulang dengan basah kuyup gara-gara hujan, apa boleh buat? Selain itu juga, Lance mengajak para Nordic berlibur ke pantai. Sebenarnya bukan Lance yang mengajak mereka, tapi Mathias yang mengajaknya. Katanya dia kagak tega melihat Emil sendirian tanpa pasangan.

Akhirnya, Emil mulai meluncurkan cara-cara yang biasanya dipakai untuk membangunkan saudara-saudaranya. Mulai dari menebarkan serbuk es di badan Lance, menyumpel mulutnya dengan scone Arthur (Oke! Yang ini malah membuat Lance semakin pulas sampai nyaris kagak bisa bangun lagi!), dan bahkan sampai mengatur suhu ruangan menjadi minus satu derajat Celcius.

Tapi semuanya gagal!

Tiba-tiba, sebuah lampu millivolt (?) muncul di atas kepala Emil. Mungkin pemuda Icelandic itu baru saja dapat ide. Dia pun pergi keluar kamar dan kembali lagi dengan sebuah toa di tangannya.

Itu toa milik Lukas yang biasanya dipakai untuk membangunkan Mathias.

"Ekhem!" Emil pun berdehem pelan sebelum...

"BANGUN WOI, BOCAH MERAH!"

Berteriak menggunakan toa yang sudah diletakkan tepat di telinga Lance.

Ajaibnya, si surai merah itu masih tidur. Padahal, Emil merasa kalau siapapun yang mendengar teriakannya, gendang telinganya bakalan rusak parah atau lebih parahnya, sampai harus dioperasi.

Maka Emil pun mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan berniat membangunkan saudaranya yang lain saat mendengar ocehan Lance atau lebih tepatnya, Lance lagi mengigau.

"Kue... Zzz... Licorice..."

Emil pun langsung menjedukkan kepalanya ke tembok terdekat. Kenapa dia sampai lupa untuk menggunakan kue licorice sebagai umpan? Ah, sudahlah!

Emil langsung berlari ke dapur untuk mengecek persediaan kue licorice.

Sialan, sudah habis!

Mungkin karena semalam para Nordic dan tamu mereka itu mengadakan pesta makan kue licorice.

Untuk kedua kalinya, bohlam lampu muncul kembali di atas kepala sang Icelandic. Pemuda berambut silver itu pun langsung kembali ke kamar dimana sang ehemkekasihehem tamu masih tidur.

Emil pun perlahan menaiki kasur tersebut dan membisikkan sesuatu ke telinga Lance. Sebenarnya bukan bisikan, tapi...

"LANCE! BANGUN, WOY! ADA KUE LICORICE LAGI LARI, TUH!"

Teriakan, sebuah teriakan gaje!

Respon yang didapatnya malah berbeda jauh dari yang diharapkan. Pemuda Icelandic itu mengira kalau sang Gunner akan terbangun dan mencari kue kesukaannya itu dengan tatapan linglung, tapi pemuda berambut merah itu malah memeluk Emil.

Ya, memeluk!

"Kudapat kau, licocake-ku!" igau Lance lagi.

Emil merona hebat dibuatnya. Untung saja saudaranya yang terjahil, Mathias, belum terbangun. Kalau Mathias terbangun, hancur sudah hidup Emil!

Mathias yang masih tertidur pun langsung bersin di kamarnya.

"L-Lance! Ba-bangun! Lepaskan aku!" seru Emil yang menyesal menggunakan ide kue licorice dalam daftar 'Cara Untuk Membangunkan Orang'.

Sang Gunner menggelengkan kepalanya dalam keadaan masih tidur sambil ngigau, "Tidak akan, licocake~ Kau milikku sekarang~"

Wajah Lance dan Emil berhadapan. Sang Icelandic mulai merasakan firasat buruk tentang ocehan Lance barusan. Dia pun berusaha untuk melarikan diri, tapi nihil karena...

CHUUU!

Emil langsung merona lebih hebat dari sebelumnya. Lance menciumnya, tepat di bibir. Sang pemuda berambut silver itu langsung mendorong dada Lance dan dia pun terlepas dengan suksesnya.

Bodoh! Kenapa dari awal dia kagak melakukannya?

Oh! Mungkin kau menikmati saat Lance memelukmu, Mil!

Tapi karena dia mendorong terlalu keras, Emil pun kembali terjatuh untuk kedua kalinya. Bokongnya mencium lantai kamar dengan 'romantis'-nya.

Emil tidak peduli lagi dengan rasa sakitnya. Sang Icelandic buru-buru berdiri dan lari ke pojokan sambil menatap horror Lance yang masih tertidur dengan pulasnya, kemudian menyentuh bibirnya perlahan.

"GYAAAAAAAAAAAAAA! FIRST KISS-KU! TIDAAAAAAAAAAAK!"

Teriakan itu pun berhasil membangunkan Lance yang kemudian menatap Emil dengan bingung.


Sang Swedish yang semula tertidur pulas membuka matanya tiba-tiba saat mendengar teriakan dari saudaranya yang entah siapa. Matanya melotot kaget dan langsung naik pitam saat itu juga kepada sumber teriakan sialan yang membangunkannya.

Setelah sudah cukup (baca: belum) tenang, dia berjalan menuju sumber teriakan itu dengan langkah yang tanpa menyentuh lantai. Sepertinya lantai takut menghadapi amarah pria berkacamata tersebut.

BLAM!

Berwald menjelajahi isi kamar tamu dimana teriakan itu berasal. Dilihatnya Emil yang tengah menatap horror Lance sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya dan beralih kepada Lance yang menatap bingung Emil.

Kepala Emil pun berputar sedikit dan berusaha menatap siapa yang masuk kamar itu. Terlihat salah satu saudaranya yang menatapnya dengan datar (baca: emosi).

"SVIIIIIIIIIIIIII! FIRST KISS-KU! FIRST KISS!" teriak sang Icelandic sambil merengek-rengek gaje di kaki Berwald.

"First kiss?" Berwald yang awalnya emosi langsung kebingungan mendengar rengekan barusan.

Oh, ternyata dia masih belum connect! Begitu juga dengan Lance!


Beberapa detik kemudian...

"BWAHAHAHAHAHA!" Berwald yang mulai OOC langsung tertawa terbahak-bahak sambil gegulingan (?) di lantai.

Enil menjerit semakin keras, sementara Lance menaikkan satu alisnya dengan bingung.

"Berwald-san bisa jelaskan apa yang terjadi di sini?" tanya Lance polos.

Aduh, dasar Gunner polos!

Berwald langsung terdiam dan berhenti bertingkah OOC. Pria berkacamata itu pun berdiri dan melihat ke arah Lance dengan tampang mau nahan tawa.

"Tad' k'u m'nciumny' tanp' sad'r sa't k'u t'rt'dur!" jelas sang Swedish sambil berusaha menahan tawanya.

Lance terbelalak kaget, Emil masih menjerit gaje, sementara Berwald melangkah keluar kamar sambil berkata, "'ku m'u b'ngun'n Fin d'lu! T'long k'u 'rus Ice y', Lance! D'a k'lau ud'h nang's sus'h d't'nang'n!"

Sang Swedish pun pergi dan memasuki sebuah kamar yang berantakan seperti kapal pecah.

Ya, tak apalah! Asalkan tampang pemiliknya kagak berantakan! Itulah isi pikiran Berwald!

"Fin! B'ngunl'h! M'u 'kut l'buran, k'gak?" kata Berwald.

Bodoh! Dia tidak akan bangun kalau tidak mengguyurnya dengan air. Sayangnya, otak Berwald agak sama leletnya dengan Emil!

Tidak ada jawaban. Hening. Berwald pun mengulangi perkataannya kembali dan masih hening.

Tino! Cepat bangun sebelum ehemseme-muehem saudaramu yang sedang lemot ini mulai naik pitam!

"FIN!" teriak Berwald sambil melempar sebuah bantal ke arah pemuda Finnish yang tertidur dengan posisi terlentang tersebut.

Tino masih tertidur. Berwald sudah berusaha lebih dari 10 menit untuk membangunkan Tino, tapi tidak berhasil. Mana dia belum mandi pula!

"Svi! Cepetan bangunin Fin! Kalian kan belum mandi! Nanti malah telat, lho!" seru Emil dari lantai satu.

Sepertinya dia sudah mulai normal. Ternyata Lance hebat juga menghentikan tangisan sang Icelandic tersebut.

Berwald mendengus kesal. Dia sudah kehabisan cara untuk membangunkan saudara ternakalnya yang satu ini, sampai akhirnya dia mendapatkan cara yang cukup licik.

Apakah itu? Mari kita saksikan~

Berwald dengan sigap merangkak menaiki ranjang Tino dan sekarang dia berada di bawahnya dan Berwald di atasnya. Tangan sang Swedish perlahan membuka kancing baju tidur sang Finnish yang berwarna kehjiauan tersebut.

"Kalau kau tak mau bangun, aku akan membantumu bersiap-siap! Kita harus cepat kalau kagak mau telat!" bisik pria berkacamata itu.

Perilaku licik Berwald masih tidak bisa membangunkan sang Finnish itu, sampai ketika sang Swedish hendak membuka kancing baju terakhirnya...

"Nggg!" Tino mulai membuka matanya perlahan dan samar-samar menangkap sosok sang pria berkacamata di hadapannya. "S-Su-san?"

"Ya?"

"Su-sa-" Perkataan Tino terhenti saat dia benar-benar sudah terbangun dari tidurnya.

"SU-SAN?!" seru Tino dengan nyaringnya.

Berwald mengabaikan seruan Tino dan sibuk dengan kegiatannya.

"KAU MAU APA?!" Jarak wajah mereka berdua hanya berbeda satu centimeter dan tentu saja hal itu membuat Tino merona hebat karenanya.

Berwald gemas dengan sang Finnish tersebut. Semakin memerah wajahnya, semakin manis pula wajahnya. Kira-kira itulah yang ada di pikiran Berwald sekarang. Dan...

CHUUU~

Dia pun mencium Tino.

Mata Tino terbelalak dibuatnya. Baru saja dia bangun tidur, malah dikasih pelayanan kayak gini. Tino mendorong Berwald dengan keras dan sang Swedish pun melepaskan ciumannya. Berwald pun duduk di samping Tino yang berniat untuk duduk juga.

"SU-SAN! TADI ITU MAKSUDNYA AP-" Perkataan Tino pun kembali terpotong ketika jari telunjuk pria berkacamata itu menunjuk badannya.

Tino dengan ragu menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi.

Oh, bagus! Kancing bajunya terbuka semua!

"KYAAAAAAAAAAAAA! SU-SAN MAU NGE-RAPEKU!"

Berwald dengan cepat membungkam mulut Tino dengan ciuman lainnya.


Sang pria beriris biru yang masih mengantuk berat itu terus mengucek matanya. Emil membangunkannya terlalu pagi. Ini kan masih jam...

06.45 a.m.

Oh sial!

Sang Danish bernama Mathias itu pun langsung berlari menuju kamar di sebelahnya mengingat Emil menyuruhnya untuk membangunkan penghuni kamar sebelah tersebut.

GDOR! GDOR! GDOR!

Mathias menggedor pintu kamar itu dengan kecepatan 170 km/jam (?). Setelah beberapa saat, pintunya tak kunjung dibuka oleh sang pemilik kamar.

Kagak seperti saudaranya yang lain, otak Mathias berjalan lebih cepat. Dia ingat kalau Luthias pernah memberinya kunci duplikat kalau sang Greenlander ketiduran dan kagak bangun-bangun.

CKLEK!

Ternyata adik kembarnya masih terlelap di pulau kapuk. Wajahnya yang imut saat tidur itu membuat Mathias langsung gelindingan di lantai dan kagak peduli dengan dinginnya suhu di ruangan tersebut. Tapi lama-kelamaan dingin juga. Pria jabrik itu langsung bangkit dan melirik termostat di kamar itu.

"GILA! MINUS LIMA DERAJAT?!" seru Mathias yang mulutnya langsung mangap lebar sampai jatuh ke lantai.

Luthias masih tidur mendengar seruan kakak kembarnya.

"WOI, MATHIAS! CEPETAN, NIH! KITA BAKALAN TELAT KALAU LU LAMA BANGET!"

Mathias memanyunkan bibirnya. Itu pasti suara Lance, tamu paling kagak tau diri yang pernah ada. Tapi bagaimana caranya membangunkan adiknya yang satu ini? Sang Danish mulai males mikir dan kagak sengaja mendapatkan hidayah dari seseorang di alam sana (?).

Hidayah nyasar dari makhluk gaib itu pun langsung dijalankan oleh Mathias. Dia meletakkan tubuh Luthias di atas punggungnya dan menggendongnya. Kepala pemuda jabrik itu bersandar di pundak kanan kakak kembarnya dan menghadap ke wajah sang Danish. Mathias sempat meliriknya sebentar sebelum penyakit mimisannya mulai kambuh.

"NORGE, TOLONG! AKU MIMISAN LAGIII!" jerit pria jabrik itu panik sambil berlari ke arah Lukas yang tengah memasak bersama Fiorel di dapur.

Sang Norwegian yang biasanya bakalan marah kalau kegiatannya terganggu malah kelabakan saat melihat penyakit Mathias kambuh lagi.

"Adududuh, Anko! CEPAT SINI!" teriak Lukas sambil langsung ngacir mencari tisu dan kembali dengan sekardus tisu.

Mathias yang awalnya mau mangap lagi karena kejadian barusan malah menjerit gaje karena panik. Tanpa aba-aba, Lukas langsung menggulung beberapa lembar tisu dan menyumpalnya ke lubang hidung kiri Mathias dimana darah itu keluar.

"Fyuuuh~ Akhirnya!" kata Mathias sambil bernafas lega dan melirik kembali ke arah Luthias. "Eh, ajaib! Dia masih tidur!"

"Ya elah! Noru-nii juga kayak gitu, kok!" timpal Fiorel dengan nada mengejek.

Lukas pun langsung menatap tajam Fiorel yang sukses membuat sang Faeroese bergidik ngeri. Mathias hanya bisa memutar matanya sambil bertanya, "Sverige sama Fin kemana?"

Fiorel yang sibuk merayu Lukas agar mau memaafkannya dengan 'puppy meong meong (?) eyes no jutsu'-nya langsung menoleh sambil menjawab, "Lagi mandi bareng!"

"HVAD?! KOK MEREKA KAGAK NGAJAK, SIH?!" jerit sang Danish lagi.

Sang Norwegian yang mulai budeg dengan jeritan-jeritan saudaranya pun langsung ngomong, "Kan lu sama Green!"

"OH, IYA! GUE LUPA!" Pria jabrik itu pun langsung berlari menuju ke kamar mandi lain dengan riangnya sambil melompat-lompat kayak kangguru berkaki belalang (?).


Ketika di depan kamar mandi, Luthias terbangun karena lompatan gaje kakak kembarnya tersebut. Walaupun baru terbuka sedikit, mata violet-nya mampu menangkap dengan jelas sosok yang menggendongnya. Eh? Dia sedang digendong, ya? Sejak kapan?

Sejak kau susah dibangunkan, Thias!

"A-Aniki?"

"Wah! Greeny udah bangun, ya!" Mathias menengok ke samping kanannya dan...

CHUUU~

Karena wajah mereka berdekatan, ciuman bibir itu tak bisa dihindari. Sang Greenlander langsung melek menyadari apa yang terjadi padanya, begitu juga dengan sang Danish.

Mereka pun sama-sama merona hebat dengan background gunung meletus plus lope-lope (?).


Begitu ciuman itu dilepas...

"KYAAAAAA! FIRST KISS-KU SAMA GREENY! YESS! YESS! YESS!" jerit Mathias dengan happy-nya sambil bersujud menciumi lantai karena mensyukuri keberuntungannya.

Sementara Luthias yang sudah turun dari gendongan kakak kembarnya hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu.


To Be Continue...


Review! :D