Happy Reading! :D
Chapter 12: Swimming Club and Poetry
Pernahkah kalian berpikir kalau sebuah puisi bisa dijadikan sarana curhat tidak langsung yang bisa diandalkan?
Yah, semuanya berawal saat Lukas sang guru Bahasa Indonesia NNG sedang mengoreksi tugas puisi dari kelas 9E!
Haruskah aku lari dari masalah?
Yang telah membuatku bimbang?
Kenapa aku harus melakukannya?
Tanpa berpikir apa akibatnya?
Awalnya hanya sebuah ketidaktahuan
Yang berubah menjadi bencana untukku!
Oh, Ibu Scandia!
Apa yang harus kulakukan?
Tak ada pilihan untukku!
Aku tak bisa mengubah kembali
Semua yang telah terjadi
Dan terlambat untuk kuulangi lagi
Masih adakah harapan?
Aku sudah mulai putus asa!
Haruskah aku menyerah?
Dan memilih untuk pergi dan menghilang?
Membiarkan semua yang terjadi?
Tanpa penyelesaian yang pasti?
Diriku ini sudah lelah!
Gelisah, galau, merana, dan capek!
Perasaanku mulai kacau!
Bimbangnya hatiku adalah bukti
Rasa sakit dan penderitaan yang besar
Dari semua kejadian yang kualami!
Cara inilah yang kugunakan
Untuk mengunggkapkan semua yang berasal dari
Isi hatiku yang paling dalam!
Isi puisi dari salah satu anak muridnya sukses membuat sang Norwegian terkejut dan berniat memanggil kawannya yang merupakan ketua guru untuk berundingkan hal tersebut.
"Anko!" panggil Lukas.
"Kenapa, Norge?" tanya Mathias bingung.
"Baca saja ini!" jawab Lukas datar sambil menyerahkan kertas puisi itu kepada sang Danish.
Mathias pun mengambil kertas itu dan langsung kaget membacanya. Pasalnya, puisi itu merupakan tulisan tangan seseorang yang dikenalnya.
'Greeny, apa benar kau...' batin pria jabrik itu menggantung.
Di rumah Nordic...
"Setidaknya lebih baik aku tetap di sini!" gumam Luthias sambil menghela nafas kecil.
Dia sekarang berada di dalam lemari pakaiannya. Ada alasan tertentu yang tidak bisa dijelaskannya karena sebenarnya, Luthias sedang 'lari' dari sebuah masalah yang dialaminya kemarin.
-Flashback-
"Kau sudah isi formulir pendaftaran klub, Greeny?" tanya Fiorel sambil membawa setumpuk kertas.
Luthias hanya mengangguk sebagai jawaban dan dia juga membawa tumpukan kertas yang sama.
Hari ini mereka berniat menyerahkan formulir pendaftaran klub kelas mereka ke ruang guru.
Ada dua alasan kenapa mereka yang diminta mewakili kelas mereka untuk menyerahkan formulir: kedua anak itu sama-sama adik ketua guru dan ketua kelas dari 9A dan 9E tidak mau ke ruang guru karena pernah berurusan dengan ketua guru!
Garing? R*** Jelolo!
"Kau isi klub apa di formulirmu, Faeroe-chan?" tanya Luthias sambil menengok ke arah sang Faeroese yang berada di sebelahnya.
"Hmmm, nanti aja deh kalau udah masuk!" balas Fiorel watados sambil melangkah mendahului saudaranya dan menengok ke belakang. "Kau sendiri gimana?"
"Aku berniat masuk klub Clubs Pool, sih!" ujar sang Greenlander datar.
"Apa aku tidak salah dengar? Klub itu kan..." gumam Fiorel menggantung sambil berhenti berjalan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya pemuda jabrik itu bingung sambil ikut berhenti di belakang gadis pirang tersebut.
"Tidak ada! Ayo terus jalan!" Fiorel pun meneruskan jalannya sambil membatin dengan cemas, 'Padahal itu sebenarnya Klub Renang dalam bahasa Jerman! Haduh, Greeny! Apa kau lupa kalau kau tidak suka berenang?'
-skip time-
"Lu serius mau masuk klub itu?" tanya Luthfi kaget saat mendengar cerita Luthias yang mau masuk klub (yang dia tidak tau nama aslinya) tersebut ketika mereka berdua plus Idham lagi ngobrol di salah satu meja Kantin.
"Memangnya ada apa dengan itu?" Luthias nanya balik sambil mengangkat alisnya.
"Tanya noh sama Idham! Dia seklub sama lu!" balas Luthfi sambil nunjuk ke arah yang bersangkutan.
"Thias, gue tanya deh sama lu! Lu bisa bahasa Jerman, kagak?" tanya Idham dengan tampang serius.
"Naamik!" Luthias hanya bisa menggeleng.
"Apaan artinya?" tanya Luthfi bingung.
"Artinya 'tidak' dalam bahasa Greenlander!" jawab Luthias datar. "Oh iya, Dham! Kenapa kau menanyakan itu?"
"Soalnya gue dikasih tau sama Giro kalau Clubs Pool tuh artinya 'Klub Renang'!"
Webek, webek...
"HVAD?! DEMI KAOS KAKI SU-NII YANG MASUK KE DALAM MANGKUK SUP AISU-NII (?!), SERIUS LU?!" pekik Luthias kaget sambil berdiri dari kursinya.
Sontak, seisi Kantin pun langsung nengok ke arah meja ketiga anak itu. Bahkan, Emil yang lagi makan sup langsung muntah karena mendengar kata 'kaos kaki Berwald yang masuk ke dalam mangkuk sup-nya'.
Luthias yang merasa diperhatikan langsung nyengir dan kembali duduk dengan tenang di kursinya.
"I-ini serius, kan?" tanya pemuda jabrik itu sambil merinding disko.
Pasalnya, siapa sih yang kagak tau kalau Luthias takut berenang?
"Memang dari sananya begitu!" balas Idham tanpa ekspresi.
"NEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEJ!" jerit sang Greenlander histeris sampai terdengar seluruh sekolah.
Sementara itu...
"Sudah kuduga dia akan menjerit sehisteris itu!" gumam Mathias yang sedang mengecek formulir pendaftaran klub adiknya di atas meja kerjanya saat mendengar jeritan barusan. "Kenapa sampai sekarang Greeny masih trauma sama yang namanya berenang?"
Yah, itulah bencana bagi seorang Luthias Oersted: Masuk Klub Renang hanya karena kagak ngerti bahasa Jerman!
-Flashback End-
"Aku tidak akan keluar, aku tidak akan keluar!" gumam pemuda jabrik itu berulang-ulang sampai...
Tok tok!
"Green-kun, apa kau di dalam?" tanya Tino dari luar kamar.
Karena tak ada jawaban, sang pemuda Finland pun mengetuk pintu kamar lagi.
Tok tok!
"Green-kun kenapa, ya?" gumamnya bingung dan memilih meninggalkan kamar tersebut.
Sementara itu...
"Baiklah, anak-anak! Mari kita absen!" kata Raven selaku pembina Klub Renang.
Absen untuk para anggota Klub Renang pun berlangsung lancar, sampai...
"Luthias Oersted!"
Setelah terdengar nama itu, suasana pun langsung hening. Tiba-tiba, Idham mengangkat tangannya.
"Luthias phobia berenang, pak!" ujar Idham.
"HAH?! MASA, SIH?!" pekik teman-temannya kaget.
"Terus, kenapa dia bisa masuk klub ini kalau anaknya takut berenang?" tanya Raven yang juga kaget mendengarnya.
"Dia kagak ngerti bahasa Jerman, pak!" jawab Idham datar yang sukses bikin Raven hanya bisa facepalm dan yang lainnya langsung cengo.
Well, kalau berminat, gue bisa ajarin Grönland bahasa Jerman! Gue cukup berpengalaman, lho! *Narator digampar Mathias.*
Mathias: "Halah! Yang bener aja lu?!" *death glare.*
Thundy: "Beneran, tau! Gue bisa kasih privat gratis, serius!" ^^V
Cowboy: "Lu berdua jangan OOT di sini, goblok!" *getok kepala Thundy dan Mathias pake sapu.*
Mathias dan Thundy: "Beklager/Es tut leid (Maaf)!"
Oke, Back to Story!
Back to Nordic's House...
"Hmm? D'a t'dak 'kut Kl'b R'nang?" tanya Berwald saat menerima telpon dari seseorang.
Tino yang kebetulan lewat langsung mengamatinya.
"Ba'klah, 'k'n 'ku b'rit'u D'nmark!" Sang Swedish pun langsung menutup telponnya.
"Ada apa, Su-san?" tanya Tino khawatir.
"Man' Green?" Berwald nanya balik.
"Di kamarnya! Aku berusaha mengetuk pintu, tapi dia tidak mau keluar!" jawab Tino cemas.
"Greeny kenapa?" tanya Mathias yang baru pulang.
"D'a t'dak m'u k'lu'r d'ri k'marny' d'n 'da t'lpon k'lau d'a tid'k 'kut Kl'b R'nang!" jelas Berwald panjang lebar.
Mathias tanpa banyak bicara langsung nyelonong pergi ke kamar adiknya yang berada di lantai atas.
"Greeny!" panggil sang Danish sambil langsung mendobrak pintu dan mendapati kalau kamar Luthias kosong.
'Pergi kemana dia? Tak mungkin dia kabur lewat jendela!' batin pria jabrik itu sambil menggaruk kepalanya.
Kemudian, dia pun langsung facepalm karena teringat sesuatu.
Mathias lupa kalau Luthias suka ngumpet di dalam lemari pakaian kalau sedang sedih.
Dia pun membuka pintu lemari dan mendapati adiknya meringkuk sambil memeluk lutut di salah satu sudut dalam lemari tersebut.
"Jangan meringkuk di situ, Greeny! Aku sudah tau apa yang terjadi!"
Tanpa disangka, Luthias langsung memeluk erat kakaknya dan terisak sedih.
"Sudahlah, tidak apa-apa!" Mathias menepuk punggung adiknya agar pemuda itu tenang.
Keesokan harinya...
"Kemarin lu kemana aja?" tanya Idham saat dia dan Luthias duduk berhadapan di salah satu meja Kantin.
"Di rumah!" jawab Luthias sambil meminum susunya.
"Ngapain?" tanya Idham lagi.
"Meringkuk di lemari!" balas pemuda jabrik itu datar.
Alasan tersebut langsung bikin Idham sweatdrop sambil membatin, 'Seharian kagak ikut renang cuma buat meringkuk di lemari, yang bener aja?'
"Eh, sayurannya jangan dibuang!" seru Idham saat melihat Luthias berniat membuang sayuran dari makanannya.
"Aku alergi!" ujar Luthias tanpa ekspresi.
Tambah sweatdrop-lah Idham dengan pemuda Greenlander tersebut.
Yah, satu lagi hal dari Luthias yang perlu dicatat dalam sejarah: Dia alergi sayuran!
To Be Continue...
Entah kenapa, humor sense-ku sedikit berkurang karena sekolah!
Aku mulai baper sama isi puisi yang ada di Chapter ini karena sebenarnya itu bikinanku sendiri saat nyesek sama masalah ekskul!
Oh iya, bagian 'Ibu Scandia' itu berawal dari ketidaksengajaan melihat fanart Female Scandia di Zerochan! Entah kenapa, aku punya 'feeling' kalau Scandia itu ibu dari para negara Skandivania! Yah, aku kagak yakin itu bener atau kagak! So, kayaknya sedikit berhubungan sama Nordic! Please don't blame me! ^^V
Review! :D
