Happy Reading! :D


Chapter 14: 'Their' Letter?


Pagi yang indah di NNG, dimana kelas 9E akan diajarkan oleh guru baru dan selalu aja ada rumpian kayak gini:

"Kira-kira guru barunya kayak gimana, ya?"

"Orangnya baik kagak, sih?"

"Ngajarnya kayak gimana?"

Rumpian para murid pun terus berlangsung, sampai...

"Selamat pagi!" sapa seorang gadis berambut pirang memasuki kelas 9E.

"Pagi, bu!" balas para murid.

"Well... Should I introduce myself?" tanya gadis itu datar.

Para murid pun mengangguk tanpa suara.

"My name is-"

Tok Tok!

"Masuk!"

"Maaf... Saya dari 'Aernas Post Office' ingin mengantarkan sebuah surat untuk seseorang yang bernama Luthias Oersted..." kata seorang pria berambut biru ponytail yang sukses membuat seisi kelas (min Luthias dan guru baru itu) cengo karena mereka teringat seseorang.

'Rambutnya mirip banget sama Giro...' batin seluruh murid (min Luthias).


Di kelas 9C, Giro pun langsung bersin di tempat saat sedang latihan aransemen lagu yang sukses membuat seluruh teman di kelasnya langsung kaget.


Back to 9E Class...

"Saya orangnya, mas!" Luthias mengangkat tangannya.

"Oh..."

Pria itu pun memberikan suratnya kepada yang bersangkutan dan langsung keluar.

"Lanjut, bu!" ujar Switch dan Hadi.

"My name is-"

Tok Tok!

"Masuk!"

Tampaklah pria berambut biru yang tadi.

"Kenapa, mas? Ada yang ketinggalan?" tanya 3-chan.

"Kagak! Saya cuma mau bilang makasih sama orang yang terima suratnya!" jawab pria itu sambil melirik Luthias. "Makasih, ya!"

Sementara orang yang bersangkutan hanya mengangguk.

"Ecieeeeeeee~" seru Dark.

Webek, webek...

"Lu kenapa, sih?" tanya Hazuki.

"Dasar orang sesat..." gumam Haruka.

"Apaan, sih?! Kagak asik lu pada!" bantah Dark sambil memainkan pensil untuk menutupi rasa malunya.

Pria itu pun pergi lagi.

Heran... Bisa aja tuh orang nyasar ke NNG... Kayaknya 'Aernas Post Office' udah masuk kancah antar dimensi, deh!

Tok Tok!

"MASUK AJA!"

Ternyata pria itu lagi.

"Ada apaan lagi, mas?" tanya Chalice.

"Anu... Sekalian saya mau mempromosikan 'Aernas Post Office'! Bagi kalian yang mau menggunakan jasa kami bisa langsung telepon ke nomor 088213964051 (Jangan dihubungi karena itu nomornya Author! *plak!*) dan bisa dihubungi di ponsel teman anda! Bonus akhir tahun untuk yang menggunakan jasa 3 kali berturut-turut akan dapat bonus tas cantik, sekalian peluk cium dari saya kalau perlu..."

"KAGAK BUTUUUUUUUUUUUUH!"

"Oh, kalau gitu saya permisi..."

Pria itu pun keluar.

"Gila tuh orang..." gumam Aiko sweatdrop.

Tok-

"UDAH MASUK AJAAAAAAAAAA!"

"Saya mau minta maaf kalau mengga-"

"Pintu keluarnya di sana, mas..."

Sontak, semua murid pun langsung ngeri melihat orang itu ditangani langsung oleh sang guru baru tersebut.

"Oh, oh, kalau gitu saya permisi!" kata pria itu sambil ngacir saat melihat wajah sang gadis pirang yang pengen bilang 'Kau mau diperas jadi saus tomat, hah?!'.

Eh, tunggu bentar! Memangnya saus tomat itu buatnya diperas, ya? =_="a

Daripada memperdulikan kejadian barusan, mari kita skip saja sampai istirahat! *Narator dihajar massa.*


Saat istirahat di ruang guru...

"Kau yakin mau pakai novel ini untuk tugasmu?" tanya Add kepada Renka yang meminta saran untuk tugas resensi buku.

Dia adalah guru Matematika dengan tampang yang lumayan (walaupun rada gila *Narator ditabok Add.*), apalagi yang bersangkutan masih menyandang status lajang (Ehem!) dan kebetulan Renka juga masih cari pacar. (Eh?)

"Yakin, pak!" jawab Renka mantap.

"Memangnya apa yang membuatmu yakin untuk memilih novel ini sebagai tugasmu?"

"Apa perlu alasan untuk memilih bapak?"

"..." Add pun langsung speechless mendengarnya.

Rupanya Renka salah fokus.

Reaksi guru lain yang mendengarnya? Mereka semua hanya bisa cengo plus sweatdrop berjamaah.


Di pojok Kantin, Ciel sibuk mencari wi-fi yang bisa dipakai karena (katanya) banyak.

Banyak sih iya, tapi...

Jaringan wi-fi ditemukan:

DILARANG NUMPANG! (terkunci)

Cari gratisan mulu. Modal dikit dong, bro (terkunci)

Ciee nggak punya paket internet (terkunci)

Wi-fi mulu dicariin, pantesan jomblo (terkunci)

Ciel pun tidak tau harus tertawa atau malah sakit hati membaca nama wi-fi yang terakhir.


Mari kita lihat sang Greenlandic yang sedang penasaran dengan surat yang diterimanya!

"Siapa yang mengirim ini, ya?" tanya Luthias sambil membuka amplop surat itu dan membaca isinya.


Untuk Grønland tersayang.

Besok kami akan datang ke rumah. Tapi jangan beritahu Aniki, karena kami mau ngasih kejutan buat dia.

Salam cinta~

Dari København dan kawan-kawan.


'Mereka mau datang besok?!' batin Luthias shock.

Puk puk!

Merasakan tepukan di leher belakangnya, dia pun dengan refleks langsung berlatah ria sambil menjerit, "BATU, PASIR, KERIKIL, AIR COMBERAN, DAN LELE DUMBO ADALAH BARANGKALI, PAK LUKAS!"

Reaksi Nordic Five yang (kebetulan Tino dan Berwald lagi mampir ke NNG) melihat kejadian itu? Berwald jawdrop sampai kacamatanya melorot dan jatuh dari hidungnya, Tino cengo sampai Hanatamago yang dipangkunya langsung kabur karena ketakutan, Lukas facepalm karena merasa terpanggil, Emil tepar mendengar isi latahan barusan, dan Mathias hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan adiknya yang diluar dugaan tersebut.

"Errr, Luthias-pyon... Ini aku..." panggil orang yang menepuknya agak kagok karena speechless mendengar latahan yang sangat 'wow' tersebut.

Pemuda jabrik itu pun menengok dan ternyata yang menepuknya adalah seorang anak cowok berkacamata dengan rambut hitam ponytail yang memakai seragam anak cewek.

Eh, sebentar! Cowok dengan seragam anak cewek?

"Gi-Giro?!" Luthias pun langsung cengo melihatnya.

"Iya, ini gue, bukan adek lu! Mentang-mentang gue pake seragam cewek, lu pake bengong kayak bangau kesambet ular kobra begitu!" balas Giro sewot.

"Aku hanya heran, kenapa kau pake seragam itu?" tanya Luthias yang masih cengo.

Cowok itu pun hanya bisa menghela nafas pasrah sambil ngomong, "Rydina-pyon ngajakin taruhan, gue kalah dan disuruh pake seragam cewek, bahkan Nee-chan sampe mau minta tuker baju! Gila kagak, tuh?"

Sang Greenlandic pun hanya bisa bengong mendengarnya, sampai...

Puk!

"Du er okay, Grønland?" tanya Mathias sambil menepuk pundaknya.

"A-ah, j-ja!" Pemuda jabrik itu pun langsung berdiri dari kursinya sambil memasukkan surat yang dipegangnya ke dalam saku celana. "Beklager, tapi aku harus kembali ke kelas!"

Luthias pun langsung pergi diikuti tatapan bingung dari Giro dan Mathias.

"Aneh sekali..." gumam Giro sambil menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Kalau sedang gugup begitu, pasti ada sesuatu!" kata Mathias sambil masang tampang berpikir, kemudian sang Danish pun melirik Giro sambil menyeletuk, "Tapi moncong-moncong, baju cewek itu cocok juga denganmu, Giro!"

"DENMAKU-PYOOOOOOOOON!"

Alhasil, Mathias pun langsung kabur dikejar-kejar Giro dengan biola keramatnya yang digunakan untuk menghajar sang ketua guru jabrik tersebut.

'Sebenarnya ada apa, ya?' batin keempat anggota Nordic lainnya sambil berpandangan satu sama lain dengan tatapan bingung.


Berlanjut ke Fic 'Danish Family Story'...


Yah, maaf kalau singkat karena inilah akhir dari 'Journey from The Personification of Danish Autonomous Region'! Tapi bukan berarti belum selesai, masih ada lanjutannya kok! ^^V

Review! :D