ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dll, dst, sbb, etc.
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.
CHAPTER 3
Sudah 2 bulan Ino menjadi sekretaris pribadi Gaara. Dan tak hanya menjadi sekretarisnya seperti menyiapkan laporan atau menemani Gaara meeting dengan klien namun terkadang Gaara juga minta untuk menemaninya makan siang berdua, jalan-jalan diluar jam kerja, membawakan barang-barang Gaara dan menjadi bantalan tidur Gaara saat mereka ditaman. Seperti perintah Gaara adalah mutlak alias tak terbantahkan.
Bukan berarti Ino biasa saja akan sikap Gaara yang terkadang berlebihan, dia hanya bisa memendam dalam hati, karena sedikit saja dia protes, Ino sudah tau apa akibatnya. Bukan takut dipecat oleh Bosnya karena disebut dengan 'pembangkang' tapi Gaara akan lebih membuatnya menderita dengan memberi setumpuk pekerjaan-yang tentu saja membuat Ino harus 'lembur'.
Pagi hari ini seperti biasa Ino sudah berada dimeja kerjanya. Membersihkan tempat kerja dan memulai untuk menganalisis laporan produksi perusahaan. Namun aktifitasnya harus terganggu dengan kedatangan seseorang.
"Hallo Gaa-chaaan," seru seseorang wanita dengan penampilan formal dan rambut pirang berombak kuncir 4. Membuka pintu tanpa permisi. Tentu saja sang tamu yang tak diundang tak perlu harap lapor 2 x 24 jam, karena sang tamu adalah anak pertama pewaris perusahaan ini dan Ino tau hal itu karena Ino pernah menjadi sekretaris pribadinya.
"Hah? Temari-sama. Kenapa anda bisa disini?" Tanya Ino menghampiri wanita bernama Temari itu.
"Emm.. Hai Ino. Mana Gaara? Apa dia belum datang?" Bukan menjawab pertanyaan Ino. Temari malah mencari adik kesayangannya.
"Beliau belum datang ke kantor Temari-sama. Mungkin sebentar lagi."
"Ya baiklah. Sepertinya aku harus bertemu dirumah saja. Katakan saja pada Gaara jangan lupa datang ke acara nanti malam dan katakan juga jangan terlambat. Ok Ino ?" jelas Temari dengan tersenyum.
"Baiklah Temari-sama."
"Oke kalau begitu. Bye Ino. Lain kali kita makan siang bersama ya? Jaa~" Lambai Temari ke arah Ino sambil membuka pintu dan pergi.
'Memang ada apa sih? Sepertinya penting' batin Ino penasaran. Karena jarang Temari mau repot-repot ke kantor untuk membahas hal pribadi. Ino pun berbalik menuju meja kerjanya.
"Apa jadwal hari ini?'. Seperti biasa suara baritone itu selalu membuat bulu kuduknya Ino berdiri.
"Hah~. Gaara-sama. selalu saja anda datang tiba-tiba," kata Ino yang sudah membiasakan memanggil Bosnya dengan nama kecilnya walaupun tetap sopan. Bukan Ino yang sengaja agar SKSD ( Sok Kenal Sok Dekat ) dengan memanggil nama kecil bosnya. Karena Gaara sendiri yang menyuruhnya dan seperti biasa Ino hanya menurut saja.
"Salah mu," untuk kesekian kali yang tak tehingga. Gaara menjawab dengan singkat.
"Hmm.. Apa anda tak bisa mengingat jadwal sama sekali, Gaara-sama?"
"Tidak. Untuk apa ada sekretaris jika aku yang harus mengingatnya." Balas Gaara sambil berjalan ke mejanya.
"Oke-oke baiklah. Jadwal hari ini makan Siang dengan anak pemilik perusahaan Diamond corp. Nona Matsuri." Ino sedikit merasa aneh mengapa makan siang dengan anak pemilik perusahaan yang jelas-jelas tak ada kaitannya dengan pekerjaan bisa masuk jadwal agenda Gaara.
"Baiklah," jawab Gaara santai.
"Hah? tumben sekali anda menerima tawaran untuk makan siang, Gaara-sama?" Tanya ino penasaran. Karena menurutnya, Gaara adalah laki-laki anti sosial apalagi terhadap wanita. Kenapa mendadak berubah?
"Kenapa ? Apa kau ingin aku selalu makan siang dengan mu ?"
"A-apa? Ti-tidak. Bukankah anda yang selalu memaksa saya untuk makan siang bersama?"
"Jadi kau terpaksa?" Tanya Gaara dengan menaikkan alis tipisnya sebelah.
"Bu-bukan itu maksudnya Gaara-sama. Aiishh.. sudahlah. Sebaiknya saya menyelesaikan laporan saja," Ino menahan rasa jengkelnya karena lagi-lagi Gaara membuatnya tak berkutik. Ino berjalan ke arah mejanya namun terhenti dan berbalik menghadap meja Gaara lagi.
"Oh ya. Tadi Temari-sama datang ke kantor mencari anda, tapi anda belum datang. Beliau berpesan jangan lupa datang ke acara Temari-sama nanti," ucap Ino dengan cepat. "Kau ikut dengan ku nanti," Kata Gaara membuat Ino menautkan alisnya.
"Hah? Ikut ? kenapa saya harus ikut, Gaara-sama?
"kau harus ikut saja atau kau akan menyesal"
Ino mulai merinding mendengar ucapan Gaara, entah kenapa. Mungkin ada setan lewat. "Kenapa ? kau menolak ?"
"Bu-bukan itu maksudnya Gaara-sama. Ya baiklah saya ikut." Ino hanya mampu meng'iya'kan saja apa perintah Gaara walau perintah itu diluar jam kerjanya. Ino harap ada uang lemburnya.
"Sebelum itu, nanti kau harus ikut aku dulu ke suatu tempat."
"Kemana Gaara-sama?" Tanya Ino
"Sudahlah. Ikut saja. Cepat kau selesaikan laporan mu! Aku akan periksa." Perintah Gaara."Baiklah Gaa-ra-sa-ma," jawab Ino penuh penekaan disetiap suku katanya. Yang artinya jengkel Ino kambuh lagi.
'Dasar Bos yang suka seenaknya jidat Sakura saja' gumam Ino yang ternyata terdengar oleh Gaara."Aku mendengarnya!"
'Ups'
.
.
.
.
Restaurant Nouvelle
Seorang gadis berambut coklat lurus sebahu tergerai indah dengan hiasan bando putih diatasnya. Memakai dress renda perpaduan biru dan putih selutut dengan memakai jaket cardigan putih untuk menutupi lengan tangannya sampai siku. Gadis itu sangatlah cantik dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Dia memasuki sebuah restaurant ala Perancis di tengah kota Tokyo. Gadis itu berlari kecil ke arah meja yang ditujunya. Dia bukannya tak dapat menahan lapar sehingga terlihat terburu-buru tapi karena ia sudah terlambat untuk menemui seseorang.
"Hah-hah. Maaf Gaara-kun. Aku terlambat," kata sang gadis dengan tersengal-sengal mengatur nafas.
"Cih. Kau yang membuat janji. Kau yang terlambat"
"Maaf ya Gaara-kun. Aku bingung memilih baju yang cocok. Apa aku terlihat cantik memakai ini ?" Tanya sang gadis dengan mengangkat sedikit ujung dressnya.
"Ya. Matsuri" balas Gaara singkat karena malas jika dimintai pendapat oleh wanita soal fashion.
"Terimakasih Gaara-kun. Apa kau sudah pesan sesuatu?" Gadis yang benama Matsuri itu menatap Gaara dengan wajah yang berseri-seri. "Kau bisa lihat sendiri kan?" tunjuk Gaara dengan arah mata ke meja makan dihadapannya.
"Hehe, maaf. Baiklah aku pesankan dulu ya." Matsuri hendak melambaikan tangannya ke arah pelayan. "Kau makan sendiri saja, Matsuri. Aku ada urusan lain," ucap Gaara dengan santai tanpa melihat ekpresi Matsuri yang tiba-tiba merasa kecewa."Apa karena aku terlambat, Garaa-kun. Maafkan aku ?". Mimik sedih terlihat diwajah Matsuri.
"Bukan itu, Matsuri. Aku ada urusan lain," kata Gaara yang hendak pergi. "Ta-tapi Gaara apa kau tidak bisa menemaniku sebentar saja ?" pinta Matsuri dengan menahan tangan Gaara.
"Sorry. I can't do it. Next time,Ok?"
"Emm.. ya baiklah Gaara. Apa kau akan datang ke acara Temari-neesan nanti?"
"Ya." Matsuri mencoba menahan tangis saat Gaara sudah mulai menjauh. Meninggalkannya sendiri dimeja restaurant yang sudah dipesan secara privat. Dia bahkan sudah berusaha tampil sesempurna mungkin untuk bertemu Gaara.
"Huaa.. huaaa… Gaara-kun jahat! Lihat saja kau akan menjadi milikku Gaara!" Matsuri menangis deras karena ia sadar bahwa cintanya pada Gaara tak terbalas. Matsuri tau kalau Gaara susah ditaklukkan seperti pria-pria lain yang mengicarnya. Tapi ia pun sudah terlanjur cinta pada Gaara saat pertama kali bertemu dan sampai saat ini Matsuri masih mencintai Gaara. Entah kapan ia benar-benar menyerah.
-.-.-FLASHBACK-.-.-
"Dia siapa Ayah?" Tanya gadis kecil berumur 8 tahun yang baru saja menghampiri ayahnya. "Ah, hime. Dia namanya Sabaku No Gaara. Dia lebih tua 2 tahun dengan mu. Coba sana kenalan dengannya hime". Dengan sedikit ragu-ragu Matsuri pun berjalan ke arah anak laki-laki yang ada dibawah pohon taman rumahnya sedang asyik membaca buku. Dia merasa ingin berbalik saja pada ayahnya karena takut tapi melihat ayahnya sedang mengobrol dengan temannya-ayah Gaara, maka Matsuri pun terus berjalan ke arah anak laki-laki itu.
"Haii.. Kau Sabaku no Gaara ya? Aku Matsuri," salam Matsuri dengan menjulurkan tangan kanannya hendak ingin berjabat tangan dengan Gaara. "Hn" balas Gaara tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
'Aduh, sepertinya dia galak, oke coba lagi' batin Matsuri.
"Emm, kau baca apa Gaara-kun". Tanpa malu-malu, Matsuri sudah mencoba mengakrabkan diri dengan memanggil nama kecil. Sang gadis duduk disebelah teman barunya itu -mungkin masih calon teman.
Matsuri merasa bosan karena Gaara sama sekali tak menoleh ataupun mengucap 1 huruf pun, hanya berkutat pada bukunya saja. Matsuripun mulai memandangi dan menulusuri setiap lekuk wajah Gaara dari rambut, hidung yang mancung, pipi yang lembut untuk disentuh. Dia pun mengangkat telunjuknya untuk menyentuh pipi Gaara yang gembul. Matsuri sedikit terkekeh geli saat telunjuknya akan sampai.
"Apa-apaan kau!" sergah Gaara dengan menggenggam tangan mungil Matsuri yang hendak menyentuhnya. Dengan tatapan yang marah menatap langsung ke arah bola Mata Matsuri. Onyx bertemu dengan turquoise.Sang lawan yang tangannya masih tergenggam hanya diam saja tak bergerak seperti patung. Memandang lebih dalam mata Gaara. Serasa terhipnotis oleh mata Gaara. Seperti tak menyadari detak jantungnya sudah berdegup kencang seperti orang dewasa yang sedang jatuh cinta. Aiish cinta sekarang tak memandang usia balita dan batita.
'Dia sangat tampan sekali.' Matsuri sudah dimabuk asmara. Serasa melihat banyak bunga sakura bertebaran disekitarnya.
Gaara yang tak tahu apa yang sedang terjadi pada gadis itu. Langsung segera saja melepas tangannya dan meninggalkan gadis itu sendiri dan menghampiri Ayahnya.
Matsuri masih mematung beberapa saat tapi dia tersadar dan menoleh kanan-kiri mencari Gaara. Ia langsung pergi ke arah ayahnya juga setelah tau Gaara disana.
"Baiklah, kami permisi dulu Nagashi-san. Kita akan membahasnya lagi nanti," ucap Ayah Gaara dengan menjabat tangan teman atau rekan bisnisnya itu.
"Ya, Sabaku-san" balas Ayah matsuri
"Arigatou, Nagashi-san. Hime-chan, paman pamit dulu ya. Ayo Gaara ucapkan sesuatu pada Matsuri-chan." Gaara pun hanya membalas, "Bye."
"Hehe, dah Gaara-kun" balas Matsuri dengan senyum yang lembut dan melambaikan tangannya ke arah Gaara. Walau Gaara tak melihatnya karena Gaara telah pergi menuju mobil lebih dulu tapi ia merasa senang bisa bertemu sesaat dengan Gaara.
'Kau akan menjadi milikku Gaara-kun!' gumam Matsuri dengan tertawa kecil.
"Kau kenapa hime?" Tanya sang Ayah yang melihat anaknya tertawa sendiri.
"Tidak. Oh ya Ayah, apa aku bisa minta Gaara untukku ?"
"Hah? Kenapa kau meminta itu Hime?" Tanya sang Ayah heran. Matsuri memang selalu dimajakan oleh orang tuanya. Apapun yang diminta anak semata wayangnya itu maka orang tuanya akan memunuhinya. Tapi meminta seorang anak laki-laki yang baru dikenal anaknya bukanlah hal yang mampu dipenuhi.
"Karena aku suka dia. Ku mohon ayah. Aku mau dia jadi milikku," rengek Matsuri.
"Ya baiklah, hime. Tapi sekarang kau harus les piano dulu," jawab Ayahnya untuk dapat menenangkan anaknya itu. Karena Sang ayah belum tau apa yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan anaknya.
"Iyaa ayaah!" Seru Matsuri dengan ceria dan menggenggam tangan Ayahnya masuk ke dalam rumah.
-.-.-FLASHBACK END-.-.-
.
.
.
Sedangkan di tempat lain.
Gaara berada didalam mobil lamborghini hitamnya dibasemant restaurant. Dia mengambil Handphone di saku jasnya dan menekan speed dial pada layar sentuh handphone.
"Kau dimana?"
'Saya dikantor, Gaara-sama. Mau ke kantin dengan Sakura. Ada apa Gaara-sama?' Tanya seorang wanita diseberang telepon. Sudah pasti Gaara menghubungi sekretarisnya, Yamanaka Ino.
"Jangan ke kantin. Ikut makan siang denganku. Ku tunggu didepan kantor. Cepat!" perintah Gaara pada Ino.
'Bukankah anda ada acara makan siang dengan Nona Matsuri?'
"Dia membatalkannya. Sudah cepat keluar. Aku akan segera kesana!" ucap Gaara bohong. Entah kenapa Gaara berbohong yang pasti dia sudah mengaitkan sabuk pengamannya dan menyalakan mobil menuju kantor.
.
.
.
"Kenapa Ino ?" Tanya Sakura.
"Ah maaf, Sakura. Sepertinya kau harus makan siang sendiri lagi. Aku harus pergi dulu. Ada urusan sebentar," ujar Ino yang merasa tak enak pada Sakura.
"Ya baiklah. Aku tau kau mau makan siang berdua dengan Gaara-sama kan ?"
"Eh, kok tau?"
'Mengapa Sakura bisa tau kalau aku sering makan siang dengan Gaara?' Batin Ino penasaran.
"Bukan hanya aku yang tau, Pig. Tapi seluruh kantor pun tau kau dan Gaara-sama sering berdua. Apa jangan-jangan Gaara-sama menyukai mu, Ino?" Kata Sakura dengan meletakkan telunjuk kearah dagu.
"Hey. Jangan ngawur kau, Pink! Aku tak mau hal ini akan menjadi gossip dan tambahkan kata 'mustahil' dalam kalimat kalau Gaara-sama menyukai ku."
"Hehe, aku hanya bercanda, Ino. Cepat! Kau pasti sudah ditunngu didepan"
"Baiklah, Sakura. Maaf ya~" ucap Ino meninggalkan Sakura.
.
.
.
"Masuklah," ucap Gaara pada Ino yang sudah ada didepan kantor.
Ino yang menyadari mobil Gaara sudah didepannya, langsung saja ia masuk ke dalam.
"Kita mau kemana, Gaara-sama?" Tanpa menjawab pertanyaan Ino sebelumnya, Gaara sejenak memandangi Ino dari atas sampai bawah lalu Gaara mulai mendekat dan terus mendekat ke wajah Ino.
Ino merasa bingung apa yang dilakukan Ino terhenti. Jantungnya agak tidak karuan dengan kelakuan yang mendadak seperti ini. 'Inikan masih didepan kantor? Tidak bisa ia memintanya nanti.' Pikiran Ino sudah menjadi kacau. Pipinya bersemu merah saat wajah Gaara dan Ino tinggal 3 cm lagi. OMG ! Ino memejamkan matanya. Siap dengan apa yang akan mendarat nanti.
Tangan Gaara seperti akan menggapai sesuatu. 'Set,' Gaara berhasil meraihnya.
"Sebaiknya kau pasang sabuk pengamanmu dulu," ucap Gaara tepat ditelinga kiri Ino dan memasangkan sabuk pengaman Ino.
Bagaikan telinganya baru saja terkena angin semilir yang lembut yang ia sadar bahwa itu adalah suara Gaara. Jatungku Ino behenti berdetak untuk sekian detik dan menghembuskan nafas panjang. Gaara yang pura-pura tak menyadari tingkah lucu sang sekretarisnya pun hanya membenahi posisi duduknya dan mulai menjalankan mesin mobil.
'Bodoh ! Bodoh kau Ino ! kenapa kau bisa berfikir jika Gaara akan menciummu !' batin Ino merutuki dirinya sendiri sambil memegang ke dua pipinya yang terasa panas. Malu untuk kesekian kali pun tak bisa terhindarkan. Ino memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
"Kau mau makan apa?" Tanya Gaara yang sudah melajukan mobilnya.
"Karena Gaara-sama telah membuatku tak jadi makan dengan Sakura. Aku ingin makan Steak daging Kobe?". Ino tau kalau daging kobe adalah daging sapi yang mahal dan rasanya sangat enak walaupun ia tak pernah memakannya, hanya mendengar ditelevisi. Bukan maksud untuk kurang ajar pada bosnya, tapi jahil sedikit tidak apa-apa kan ?
"Baiklah," ucap Gaara singkat.
'Hah? tumben sekali dia baik dan tidak menjengkalkan ? Huh, pasti hanya bertahan beberapa jam saja' batin Ino melihat keanehaan Gaara.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sudah tertarik pada ku?"
"APA! Ti-tidak. Si-siapa yang tertarik dengan anda, Gaara-sama?" elak Ino yang memang sedari tadi melihat Gaara yang tiba-tiba berubah. Bukan jadi Power Ranger lo ya.. tapi sifatnya.
'Suatu saat kau pasti akan tertarik pada ku' gumam Gaara.
"Anda bicara apa Gaara-sama?" Tanya Ino karena ia seperti mendengar Gaara bicara.
"Tidak."
"Iiih, ya sudah." Ino memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela mobil dan memilih untuk diam.
.
.
.
"Turunlah"
"Kita dimana Gaara-sama?"
Ino mendongak keatas memalui jendela mobil. Gaara yang sudah turun dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Ino.
Ino yang terlihat kaget dengan sikap romantis Gaara -ya walaupun 'agak romantis' sih. Ino turun dari mobil dengan kikuk. "Kita ada diMall Konoha Square, bukankah kau bilang ingin makan steak kobe?" ucap Gaara dengan menyentuh tangan Ino.
Ino melangkah mundur karena tiba-tiba tangan Gaara menggenggam tangannya. "Kau kenapa?" Tanya Gaara. "Ah, tak apa-apa Gaara-sama." Ino mencoba menghilangkan debaran jantungnya saat ini atas perlakuan Gaara yang berubah. Tapi Ino tetap pada keyakinannya jika sifat Gaara ini hanya sementara. Gaara kembali menggenggam tangan Ino masuk kedalam Mall. Ino hanya bisa menelan ludah ketika ia masuk kedalam dan melihat terpanjang disisi kanan dan kiri koleksi Fashion branded terkenal. OMG! Mulai dari Armani Exchange, Gucci, Hugo Boss, Prada, Chanel, Louis Vuitton dan Cristian Louboutin. 'Sepertinya gajiku 3 bulan hanya bisa membeli pakaian dalam Victoria's Secret saja' batin Ino sedih meyakinkan dirinya kalau pakaian, tas dan sepatu di Mall ini sangat mahal dan pasti akan menguras dompetnya seumur hidup. Ingat! Seumur hidup !
Gaara terus saja menggenggam tangan Ino, yang tanpa Ino sadari kalau banyak pasang mata di Mall itu melihat mereka seperti sepasang kekasih yang serasi. Sedangkan Gaara santai saja tapi para pasang mata itu tak bisa melihat kalau Gaara tersenyum tipis.
"Berapa banyak air liur yang kau buang karena melihat itu semua?" ujar Gaara menyadarkan lamunan Ino. "Ayo masuk." Gaara menghampiri Sang resepsionist restaurant, sang resepsionist pun sudah tau apa yang dimaksud dan langsung saja menyuruh pelayan mengantar tamu khusus ke meja makannya.
Gaara dan Ino sudah berada dimeja makannya. Tempatnya sangat privat hanya 2 kursi dan 1 table dari kayu eboni. Sangat simple tapi elegan. Dan paling membuat Ino takjub adalah mereka makan dengan menghadap pemandangan semua penjuru kota.
"Ini indah sekali, Gaara-sama" Kata Ino dengan tersenyum. "Hn, duduklah"
"Eh, maaf Gaara-sama, sebenarnya saya cuma bercanda kalau minta steak kobe. Ternyata anda benar-benar mengajak saya kesini. Sepertinya saya tidak sanggup membayarnya, Gaara-sama. Disini makanannya pasti mahal sekali"
"Bodoh! Tentu saja aku mentraktir mu."
"Hah? Yang benar Gaara-sama. Tapi tunggu! Anda tidak kenapa-kenapa kan? Kenapa anda tiba-tiba jadi baik." Tanya Ino penasaran.
"Cih, kau pikir aku monster yang selalu jahat," jawab Gaara nada kesal.
"Bukan Monster sih, tapi Panda, Hehe. Maaf Gaara-sama" canda Ino dengan tangan membentuk huruf 'V' yang artinya 'peace'. Gaara tersenyum-yang kali ini garis senyum yang terlihat- saat mendengar candaan Ino dan melihat Ino tertawa lepas. Ino merasa aneh, bosnya bukannya marah karena diledek tapi tersenyum!. Seakan terhipnotis dengan senyum Gaara, Ino pun tersenyum lembut kearah Gaara. Mereka saling memandang dan saling memberi senyuman. Namun tak bertahan lama karena sang pelayan telah datang untuk menyajikan hidangan.
Gaara dan Ino pun memakan hidangan yang telah disajikan dalam diam-kecuali Ino yang selalu memberi komentar setiap menu yang ia makan, yang sudah seperti pembawa acara kuliner.
.
.
.
"Hah~ kenyangnya" lega Ino sambil memegang perutnya setelah keluar dari restaurant.
"Sepertinya kau yang monster, makanmu banyak sekali, seperti tidak pernah makan saja"
"Bukan tak pernah makan, salah sendiri makanannya enak sekali, hehe. Apa sekarang kita kan ke kantor, Gaara-sama? karena kita sudah lama keluar kantor."
"Tunggu dulu, ikut aku," kata Gaara dengan menggengam tangan Ino lagi-yang kali ini kelihatan menarik. Gaara dan Ino sudah didepan suatu butik dengan koleksi pakaian yang bagus.
"Pilihlah." Ino hanya menoleh ke arah Gaara heran kenapa ia disuruh memilih pakaian disini.
"Sudah cepat pilih yang kau suka," ucap Gaara dengan merangkul pundak Ino masuk kedalam butik. Bagaikan kejatuhan duren montong alias Hoki. Ino pun langsung memilih sebuah dress ungu yang bentuknya dari dada hingga atas lutut dengan pita berbentuk bunga melilit bagian pinggang. Kesan glamor terlihat dibagian dada, banyak payet-payet gemerlap dengan warna senada dengan dress. Ino langsung mengambil dress itu dan berlari ke ruang ganti.
"Bagaimana Gaara-sama ? bagus tidak ?" Tanya Ino.
"Ehem, lumayan." Butuh beberapa detik untuk Gaara membalas pertanyaan Ino, selain memang dia tidak jago mengomentari hal-hal yang berbau fashion wanita, tapi karena sedikit terpesona dengan wanita dihadapannya itu. Cantik, elegan, manis. Hah? Apa dia baru saja memuji kecantikan wanita? Sepertinya Gaara lupa apakah ini pertama kali memuji seseorang atau tidak ?
"Sudah, cepat ganti baju mu. Kita harus kembali kekantor secepatnya" kata Gaara mengibas-ngibaskan tangan dihadapan wajahnya layaknya mengusir kucing.
"Yaa.. baiklah."
.
.
.
"Emm, Gaara-sama. Terimakasih untuk makan siang dan pakaiannya. Tapi kenapa anda membelikan dress ini ?" Tanya Ino yang sudah berada dimobil menuju kantor."Pakailah saat acara Temari-nii nanti malam, akan ku jemput diapartemenmu." Gaara memang sudah begitu hafal jalan ke rumah Ino, karena terkadang Ino diantar pulang oleh Gaara.
"Memang acara apa nanti, Gaara-sama. Sampai-sampai harus ikut segala ?" Tanya Ino penasaran.
"Sudahlah, ikut saja."
Ino tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Berkaitan tentang hidupnya atau tidak. Sebuah rencana Tuhan atau rencana manusia. Nasib baik atau jahat. Beruntung atau sial.
Tak ada seorangpun yang bisa menduga masa depan bukan ?
-TBC-
'AAGGGHHHRRRR' kenapa komputer saya gak bisa buka websitenya FFN :( gak bisa update* sudah mencoba berminggu* tapi gak nongol*
Mau ke warnet, tapi warnetnya ada dipelosok sono.. disonoh noh… ( nunjuk-nunjuk) terlalu jauh dari rumah.
.
.
Saya hadir kembali dengan update-an Fict yang lama-kelamaan akan semakin gak tau alurnya kemana (saya aja masih bingung )
Terimakasih atas kritik, pujian dan saran kalian. Saya terus belajar dan berusaha memperbaiki tulisan saya.
Awalnya saya hanya ingin menuangkan khayalan saya saja, karena terlalu banyak khayalan tentang Naruto diotak saya, tapi tidak dapat menuangkannnya dalam bentuk tulisan. Benar-benar saya bukan tipe orang yang bisa merangkai kata dan terkesan kaku, hehehe.. J
Tapi saya harap kalian tidak bosan memberi saya Review, Flame juga gak apa-apa kog. Saya hargai semua review kalian., karena kalian sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan menghargai karya saya.
See you next chapter.
Love you all :)
