ONE GO, ONE GET

Pairing : Ino x Gaara

slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari

Rate : T ( maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)

NO BASHING CHARA

Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.

Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dll, dst, sbb, etc.

Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).

Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.

Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.


CHAPTER 4

"Ya, kau memang cantik Ino" puji Ino sendiri didepan cermin, ia terus membenahi kain dress dan memutarkan tubuhnya. Harus sempurna. Walau terkesan 'alay', tapi orang yang melihat penampilannya saat ini pasti akan berkata 'cantik'.

Ino mengenakan dress ungu yang tadi ia pilih dibutik bersama Gaara, memperlihatkan pundak yang terbuka dan kaki jenjangnya yang terulur. Rambut digulung keatas seperti video klip 'taylor swift – love story ' dan sepatu berhak tinggi berwarna senada dengan dress. Tanpa memakai aksesoris yang berlebihan, hanya jam tangan berwana putih gading dan anting-anting mutiara model tindik.

"Yak, sudah siap!" Ino bercermin terakhir kalinya dan ia pun turun ke bawah karena mendengar klakson mobil Gaara didepan rumahnya.

"Kenapa lama sekali," ucap Gaara yang bersandar didepan mobilnya. Gaara mengenakan setelan jas nampak pergi ke kantor, tapi lebih santai dan tanpa dasi, mengenakan kemeja ungu-yang sepertinya sengaja couple dengan Ino. "Anda saja yang terlalu cepat menjemput," kilah Ino.

"Bagaimana penampilan saya, Gaara-sama. Tidak terlihat aneh kan ?" Tanya Ino. "Lumayan, sudah cepat masuk!" perintah Gaara.

"Aishh, dari tadi hanya bisa bilang 'lumayan saja'. Apa dia tak suka memuji wanita ?" ucap Ino lirih. " Jangan berbisik, jika aku bisa mendengarnya." Ino heran kenapa ucapannya bisa didengar Gaara, padahal hanya berbisik. Daripada memikirkan hal itu, Ino pun langsung masuk ke mobil Gaara. Hanya diam yang menyelimuti mereka disepanjang perjalanan.

.

.

.

Ino membuka mata dan mulutnya lebar-lebar, bukan karena melihat tindakan senonoh ataupun kekerasan dihadapannya, melainkan takjub dengan suatu keindahan didepan matanya. Ino dan Gaara sudah tiba ditujuannya saat ini. Sebuah pesta kebun yang luas dengan hamparan rumput hijau asli-bukan seperti lapangan futsal- dan tatanan dokorasi meja, kursi, panggung kecil, tiang yang penuh ukiran, gorden serba putih susu penuh hiasan mawar putih. Lampion-lampion kertas minyak berwarna orange temaram menggantung diatas lilitan kawat antara ujung tiang dengan tiang lainnya. Membuat suasana romantis dimalam hari.

"Wahh, indah sekali Gaara-sama. Memang Temari-sama mengadakan acara apa ?" Tanya Ino masih wajah takjub. Karena baru kali ini Ino melihat acara seperti ini.

"Kau akan tau setelah masuk kedalam." Gaara menggandeng tangan Ino lagi, membuatnya berjalan beriringan. Ino merasa heran atas kelakuan Gaara saat ini, apa Gaara tidak malu bergandengan dengan sekretaris pribadinya sendiri, bagaimana dengan pandangan orang-orang relasi Gaara atau jika nanti Temari melihat kesalahpahaman ini. Bisa menjadi skandal hits dikantor. Pikiran takjub tentang tempat ini seketika luntur dengan ketakutan. Ino mulai menarik secara halus tangannya yang digenggam Gaara. "Kenapa? Apa kau takut jika orang lain salah paham tentang kita saat ini ?" Seakan pikirannya terbaca oleh Gaara, Ino hanya menggangguk. "Untuk apa kau pikirkan orang lain, jika kenyataannya tidak. Aku tak senang jika nanti ada wanita lain yang menggoda ku," kata Gaara dengan merangkul pinggul Ino. Lebih terlihat ekstrim dari tadi.

Banyak tamu undangan yang hadir, kolega-kolega dari perusahaan Sabaku. Tak sedikit pengusaha yang Ino kenal. Saling bertegur sapa dan mengobrol dengan Ino dan Gaara. Setelah beberapa menit berbincang-bincang, ada seseorang yang merangkul punggung Gaara dari belakang.

"Haii, Gaara-kun. Ku pikir kau tak datang, aku mencari mu," ucap seorang gadis masih memeluk Gaara.

Gaara pun berbalik dan mendorongnya menjauh. "Aku tak suka orang lain menyentuh tubuhku tanpa seizinku." Gaara sudah tau siapa gadis itu, gadis yang selalu mengejarnya dan berharap menjadi miliknya. "Sekarang mejauhlah, Matsuri!". Ino yang sedari tadi ada disebelah Gaara tak tau apa yang terjadi, tapi melihat Gaara sedikit kasar terhadap gadis itu, Ino harus ikut campur. "Sudahlah Gaara-sama. Dia kan hanya menegur anda, mengapa anda seperti itu?" Tanya Ino lembut.

"Ayo Ino, lebih baik kita ke Temari-nii," kata Gaara dengan menggenggam tangan Ino-lebih tepatnya menyeret- menjauh dari Matsuri. "Eeh.. tunggu Gaara-sama.. " Ino tak mungkin bisa menahan Gaara dan meminta maaf pada gadis itu, karena sudah pasti Gaara lebih kuat untuk menyeretnya menjauh.

"Gaara-kuunnn" teriak Matsuri tanpa mengejar Gaara, 'Mengapa sangat sulit untuk mendapatkan hati mu, Gaara-kun?' ucap lirih Matsuri dengan menahan tangisnya. Matanya yang berkaca-kaca hanya mampu melihat Gaara menjauh dengan menggenggam tangan gadis lain. Padahal dia baru saja tak ingin disentuh oleh orang lain tanpa seizinnya. Apa ini berarti Gaara tanpa perlu izin untuk bisa menyentuh gadis itu. Siapa gadis itu ?

.

.

"Gaara-sama mengapa anda begitu pada teman anda?" Tanya Ino yang sudah menjauh dari gadis tadi. "Aku tak mau membahas hal-hal yang tidak penting bagiku" jawab Gaara. Ino hanya menghela nafas mendengarnya.

"Aku ingin menemui Temari-nii dulu, kau tunggu dulu disini". Angguk Ino mengerti. Ino mencoba menikmati suasana pesta, mengambil beberapa camilan dan bertegur sapa dengan orang lain. Sebuah panggung kecil yang penuh dengan taburan mawar putih diatas lantai, menarik perhatian Ino. Disamping panggung nampak seorang lelaki membelakanginya sedang berbincang-bincang dengan beberapa lelaki dewasa. Bukan karena Ino jatuh cinta pada pandangan pertama pada lelaki itu, tapi Ino seperti mengenalnya dari ciri-ciri fisiknya. Berambut nanas. Mengingatkan Ino pada seseorang dimasa lalunya.

Ino berjalan ke depan ingin menghampiri sang lelaki itu, saat jarak kurang 1 meter lagi. Seseorang menepuk pundak Ino. "Ayo Ino, acaranya akan dimulai." Ino mengikuti Gaara duduk dikursi yang disediakan. Rasa penasaran akan lelaki itu masih ada dalam benak Ino.

"Baiklah, acara yang membahagiakan ini, akan kita mulai." sambut seorang pembawa acara pesta memulai.

"Hari ini, kita akan menyaksikan ikatan cinta 2 insan dalam sebuah pertunangan. Sekilas info.. " jeda pembawa acara dengan senyum. "Ke 2 insan ini telah saling mencintai saat mereka dibangku kuliah dan menjadi rekan kerja antar 2 perusahan besar. Dan kali ini, mereka akan meresmikan hubungan mereka, bukan hanya sebagai sepasang kekasih remaja tapi dalam pertunangan." Suara tepuk tangan tamu undangan beriuh diudara.

"Yang berbahagia, Nona Sabaku no Temari, silahkan ke atas panggung." Seorang gadis cantik walaupun sudah tak lagi remaja, berjalan keatas panggung dari sisi kiri panggung. Mengenakan dress putih panjang berlengan panjang dengan bordiran silver dan emas, memberi kesan dewasa namun anggun. Rambut terikat 1 dan digulung seperti cepolan. Polesan make-up yang terlihat natural. Cantik. Itulah Kesan yang terlihat. Apalagi kebahagian terpancar dari wajah sang wanita.

"Dan lelaki yang berbahagia, tuan Nara Shikamaru." Na-ra Shi-ka-ma-ru. Ejaan kata itu terucap dibibir ino. Wajah tak percaya, dia melihat lelaki yang terus ia cari salama ini. Detik kemudian, Ino seperti terjerumus ke dalam masa lalunya. Dunia berputar bak mesin waktu menariknya menjauh.

=:= FLASHBACK =:=

"Apa kau akan pergi, Shika-kun?" Tanya sang kekasih.

"Iya, Ino. Orang tuaku ingin aku kuliah di Amerika. Dan setelah lulus aku akan mengembangkan perusahaan ayah disana," jelas lekaki berambut nanas membelai halus pipi sang kekasih.

"Kau tak akan kembali ke Jepang?" Ino berusaha menggali kepastian akan kelangsungan hubungannya.

"Aku tidak tahu Ino, maafkan aku." Jawab sang kekasih bernama Shikamaru, kekasih Ino sejak kelas 1 SMA. Sebuah hubungan yang tidak terduga. Idola para lelaki perpacaran dengan idola para guru. Ratu kecantikan sekolah dengan raja pemalas nan pintar.

Awal pertemuan yang mengesankan akan berakhir dengan perpisahan."Lalu?" Tanya Ino lebih lanjut.

"Tunggu lah aku, karena akan tidak meninggalkan mu Ino. Tapi jika kau lelah untuk menunggu ku, maka suatu saat aku akan mengejar mu." Sebuah untaian kata penenang melegakan hati sang kekasih.

"Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya" jawab Ino dengan senyum yang membuat Shikamaru selalu takluk dengan wanita yang merepotkan dihadapannya ini. "Terimakasih, Ino. Aishiteru," ucap Shikamaru terakhir sebelum ia menundukkan kepalanya dengan tangan masih tetap membelai pujaan hatinya. "Aishiteru yo, Shika." Ino tau apa yang akan dilakukan Shikamaru, ia memejamkan mata, menikamati setiap rangkulan, deru nafas, dan merasakan kebahagian yang tertinggal dibibir mereka yang saling menyatu, tapi meninggalkan rasa sakit dihati dan menyediakan air mata setelahnya.

.

.

"Hati-hati, Shika-kun. Jaga kesehatan mu disana" kata Ino membenahi syal yang dikenakan Shikamaru. Suasana ramai yang berlalu lalang terlihat dibandara. Ino mengantarkan kepergian Shikamaru.

"Kau juga, Ino. Aku pasti akan merindukanmu"

"Aku juga, Shika-kun" terlihat raut sedih diwajah Ino. "Pesawat mu akan segera take-off, pergilah Shika." Ino mundur beberapa langkah menjauh dari Shikamaru. Menunduk, tak ingin menunjukkan air bening yang keluar dari matanya.

Shikamaru mendekat dan memeluk Ino begitu erat, tak memikirkan suasana ramai dibandara. Dia hanya ingin menenangkan kekasihnya. "Ino, aku pasti akan kembali." Shikamaru merangkum kedua pipi Ino, melihat mata aquamarine yang ia sukai, namun tak akan dapat ia lihat lagi. Shikamaru mencium kening Ino, menandakan ia harus segera pergi dan meninggalkan gadisnya sendiri.

"Bye, Ino" kata terakhir yang terucap dari bibir shikamaru, suara terakhir yang ia dengar, deru nafas yang tak akan ia rasakan lagi, pelukan yang tak akan menghangatkannya lagi. Ino menguatkan hatinya, bahwa ini akan berlalu dengan cepat, Shimakaru akan kembali dan seperti cerita dongeng, akan menjadi happy ending dan happy ever after.

Terlihat semakin menjauh punggung Shikamaru. Ingin Ino menahan Shikamaru tetap disisinya dan berkata 'I love you'. Tapi kebahagian selalu butuh pengorbanan untuk diadu. Walau penantian penuh ragu. Tuhan pasti merencanakan sebuah kebahagian dibalik sesuatu. Hanya perlu untuk menunggu. Semua pasti akan indah pada suatu waktu. Ya, pasti akan begitu.

=:= FLASHBACK END =:=

.

.

Tanpa sadar, Ino menangis. Kembali pada kenangan masa lalu yang membuatnya menangis. Lelaki yang 'bahagia' di atas panggung itu yang juga membuatnya menangis dan tujuan dari pesta inipun yang membuatnya tak bisa berhenti menangis.

"Hapuslah air matamu itu, jangan terharu begitu," ucap Gaara yang ada disampingnya mengulurkan sapu tangan.

Gaara tau apa yang Ino saat ini tangisi, tapi belum saatnya membuka sebuah fakta. Belum saatnya.

"Saya ingin pulang Gaara-sama." Pikiran Ino kacau. Terasa sesak didada. Semakin tak nyaman dengan pemandangan 'menyakitkan' baginya atau pemandangan 'kebahagian' bagi yang menikamati didepan sana. Seorang lelaki yang ia cinta dan selama ini ia tunggu mulai menyematkan cincin tunangan-walau dengan ekspresi datar- ke jari manis pasangannya. Sang wanita menjadi wanita yang paling bahagia saat ini, juga menyematkan tanda ikatan lebih dalam ke jemari yang akan menjadi calon suaminya. Tepuk tangan dari pada tamu yang hadir membuat telinga Ino berdengung, terlalu berisik untuk didengar.

"Tunggulah sebentar, akan kuperkenalkan dengan tunangan Temari-nii," ucap Garaa menhapus air mata Ino dan menggenggam lembut tangan Ino, menuntunnya ke suatu arah.

Ino tak tau harus berbuat apa, disaat ia hanya bisa diam dan tertunduk. Bersembunyi dibalik punggung Gaara. Andai saja ia bisa bersembunyi dari kenyataan.

"Selamat neesan, akhirnya kau tunangan juga, walau lambat dari Kankuro-nii," goda Gaara pada kakaknya. "Hai, Shikamaru, kau 'pasti' sangat bahagia hari ini. Selamat," sapa Gaara menjabat tangan calon kakak ipar. Sang lawan bicara hanya tersenyum getir.

"Kau dengan siapa Gaara, apa dengan Matsuri?" Tanya Temari melihat seorang gadis dibelakang punggung adiknya. Gaara bergerak ke samping dan merangkul pundak Ino.

Ino masih tertunduk, memainkan dressnya. "Aku dengan Ino, neesan"

"Wah, Ino! Aku tak menyangka kau bisa mengajak gadis juga Gaara, kau kan anti emansipasi wanita" balas Temari atas ejekan adiknya tadi.

"I-no." tiba-tiba Shikamaru berucap yang membuat Ino reflex mendongak ke arah Shikamaru.

"Iya, Shika-kun, dia gadis yang dulu pernah kuceritakan sebagai sekretarisku. Dia sekarang menjadi sekretaris Gaara." Jelas sang tunangan.

"Oh ya, Ino. Ini tunanganku, namanya Nara Shikamaru." Temari menarik tangan Shikamaru untuk menjabat dengan Ino.

"Ha-hai, sa-saya Yamanaka I-Ino, selamat atas pertunangan anda. Semoga bahagia," ucap Ino menahan air mata dan rasa sesak didadanya saat ini. Ino merasakan tangan Shikamaru yang dulu selalu memeluknya, membelainya, menghapus air matanya saat sedih, tapi sentuhan itu sekarang terasa hampa.

"Terimakasih." Hanya itu kata yang bisa Shikamaru ucapkan setelah sekian lama tak bertemu Ino.

"Aku ingin mencari udara segar dulu, nesaan. Kalian selamat bersenang-senang menjadi sepasang tunangan"

"Baiklah. Antar Ino kerumah baik-baik ya Gaara. Jangan kau turunkan ditengan jalan seperti Matsuri."

"Ya-ya." Gaara menggenggam tangan Ino lagi, entah keberapa kali. Yang dia mau saat ini hanya menenangkan perasaan Ino.

"Kau kenapa Shika-kun?" Tanya Temari melihat Shikamaru masih memandangi Gaara dan Ino yang sudah menjauh.

"Aah. Tak apa-apa, Temari. Aku hanya sedikit lelah berdiri saja" bohong Shikamaru. Mungkin orang lain akan berkata dia sedang berbahagia saat ini bertunangan dengan orang yang dicintai. Tapi hanya dia yang tau saat ini dia merasa sedih dan menyesal. Semua ini tak pernah ia inginkan. Ia masih menginginkan Ino. Tak pernah melupakan gadis dari masa lalunya dan akan selalu menjadi masa depannya. Apa takdir cinta bisa diubah ?

.

.

.

"Maaf."

"Kenapa harus minta maaf," balas Gaara tanpa menoleh pada Ino.

"Karena menangis."

"Lalu, kenapa kau menangis?

"Tidak tau." Ino terus menunduk, tak melihat ke arah yang sama dengan Gaara, memandangi hamparan lapangan luas dengan beberapa pohon tinggi yang menjulang. Menjauh dari keramaian yang mengganggu.

"Maka kau harus selalu tersenyum, agar tak menangis lagi." Ino sontak menoleh pada Gaara, walau kata-katanya biasa dan datar tapi entah terdengar bermakna. "Karna kau sangat jelek saat menangis, lihat! make-up mu saja luntur," ujar Gaara dengan menyentuh ujung hidung Ino.

"APA!" Ino merasa kesal dengan ejekan Gaara, memusatkan perhatian penuh pada Gaara. Ino akan marah pada Gaara tapi...

"Lebih baik begini kan? Kau marah-marah seperti biasanya daripada menangis tidak jelas. "Ino terpana akan ucapan Gaara, baru kali ini kata-katanya dapat menenangkan, mau tak mau Ino pun tersenyum,"Terimakasih, Gaara-sama."

"Huh? Jangan GR, marah atau menangis kau tetap jelek"

"Iiih… dasar bos yang tak bisa memuji" ejek Ino kepada Gaara dengan menjulurkan lidah. Rasa gelisah dan kecewa dipesta tadi begitu cepat sirna. Ino merasa lebih baik saat ini. Entah lebih baik karena sedang kesal atau karena ada seseorang yang mampu menghiburnya.

"Kau ingin pulang kan ? ayo akan ku antar." Hanya anggukan arti setuju dari Ino. Tangan Ino sudah nyaman digenggam Gaara. Tak protes atau malu seperti tadi. Meninggalkan pesta yang baru saja membuatnya sakit hati.

'Aku akan mengejarmu lagi, Ino! Akan ku jelaskan yang harus kau ketahui' gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan Ino dibalik layar. Menyiapkan beribu untaian kata yang akan dia jelaskan pada sang gadis. Diterima atau tidak. Semoga Tuhan membantu rencananya. Dia akan mengambil apa yang seharusnya miliknya dan membuang apa yang seharusnya bukan untuknya. Keinginannya seperti itu saat ini. Tapi tidak ada yang tau rencana masa depan bukan ? walau kau mengharapkan Tuhan selalu disisi mu.

-TBC-


HAHAHAHAHAHAHAHA… Akhirnya saya update kilat cuyyy…

Sebenarnya sih ceritanya sudah tersajikan sudah lama-tinggal diangetin dengan edit-edit dibagian sana-sini.

Karena saya banyak kerjaan kantor diminggu-minggu ini dan depan. Jadi gak bisa edit cerita yang next chapter dan publish cerita baru dengan pair Ino dan Sasori yang berita tentang percintaan aneh, sang laki-laki suka berdandan ala cewek untuk main drama, jadinya yang repot si cewek—ada yang tau ? (terinspirasi dari komik yang ku baca waktu SD- tahun barapa ya itu '-') yang masih tersimpan dilemari es.

Kalau ada kritik dan saran, monggo corat-coret di kotak Review. ^_^

Terimakasih untuk semua para Readers dan Viewers, I Love uu all :)