ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T (Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.
CHAPTER 5
Tak terasa, hari kemarin berganti hari sekarang. Merasa cobaan yang kemarin dirasakan tak akan bisa hilang dengan bergantinya petang. Ino terus saja berguling dikasur empuknya. Memejamkan mata rapat-rapat. Takut jika membuka matanya, mimpi buruk yang dialaminya menjadi kenyataan.
"Haarrrghhh.. ini pasti mimpi… iya ini pasti hanya mimpi!" Ino bangun dari tidurnya dalam posisi duduk, mencengkram kuat rambutnya. Hal yang 'seharusnya' menyenangkan baginya karena baru saja bertemu pangeran yang hilang entah kemana dan akhirnya dapat bertemu kembali, tapi nyatanya dalam acara yang membuatnya tidak bisa tidur semalam. Lingkaran hitam disekitar mata terlihat mengerikan. Membuktikan dia begadang samalam dengan air yang bercucuran membasahi bantal. Iya, Ino menangis mengulang kejadian kemarin yang tidak terduga. Ingin rasanya tetap bergulung dibawah selimut dan tak harus berangkat kerja, tapi kalau bukan karena bosnya yang lebih mengerikan, lebih baik dia membolos kerja.
'Rasa sakit ini pasti berlalu' gumam Ino sambil berjalan mengambil handuk bergambar keroro dan masuk kamar mandi.
.
.
.
"Wow! Apa yang terjadi pada mu, Ino? Apa kau sekarang mulai meniru Sabaku-sama menjadi mata panda juga?" Tanya Sakura yang baru menghampiri Ino dikantin. Sakura melihat lingkaran hitam disekitar mata Ino dan sembab. Sakura tau kenapa, pasti karena begadang dan menangis, tapi penyebabnya masih akan dikoreknya.
"Kau tidak akan percaya, Sakura" balas Ino sambil mengaduk tehnya berulang-ulang. "Aku tidak akan percaya, jika kau belum menceritakannya." Sakura mulai duduk manis didepan Ino. Melipat kedua tangan didepan dada. Siap mendengarkan curhatan sang sahabat.
"Aku bertemu dia." Hanya terucap inisial 'dia' yang dipakai untuk Shikamaru. Ino merasa malas jika dia harus mengucap nama itu.
"Dia? Dia siapa ? Yang jelas Ino!" Tanya Sakura semakin penasaran. "Mantan kekasih ku dulu." Ino masih tetap tidak mau mengucap nama kramat itu.
"Maksud mu.. Shikamaru ?" tebak Sakura. Hanya gumaman dan anggukan Ino yang menyatakan jawaban Sakura benar. "Hah? Yang benar, Ino ? Kapan ? Dimana ?" Sakura merasa tak percaya, jika sahabatnya akan bertemu kekasihnya dulu, karena Sakura tau kisah percintaan meraka dan bagaimana sedihnya Ino saat tak ada Shikamaru disisinya. Sakura tau benar.
"SStt, Bisa kau pelankan suara mu, Dekorin!" Ino melihat sekitarnya, untung saja masih sepi diarea kantin. "Ups, maaf. Kapan kau bertemu dengannya ?" Tanya Sakura sedikit berbisik. "Kemarin. Dipesta pertunangan nona Temari-sama." Jawab Ino datar. "Kenapa dia ada disana ? apa dia diundang jadi tamu ?"
"Bukan. Tapi.. jadi tunangannya." Pada akhirnya Ino harus menceritakan sebab kenapa ia menangis kemarin malam ke pada sahabatnya, untung matanya saat ini sudah kering dengan airmata sehingga dia tidak perlu menangis lagi didepan umum bahkan didepan sahabatnya sendiri.
"Aapp-" Sakura menutup mulutnya. Hampir saja ia berteriak. "-pa ?! kenapa bisa ?" Sakura terlihat shock atas apa yang ia dengar dari sahabatnya itu.
"Hmm, aku juga tidak tau kenapa harus dia, Sakura." tunduk lesu Ino. Semangat cerianya hari ini benar-benar hilang entah kemana.
"Tunggu saja, Ino! Dia pasti akan menyesal dan kau pasti mendapatkan lebih baik dari si nanas brengsek itu!" Ino mau tak mau tersenyum melihat semangat konyol Sakura. Saat di SMA, Sakura selalu memanggil Shikamaru dengan sebutan nanas.
"Yah~ kau benar, Sakura. Dia akan menerima akibatnya karena berani meninggalkanku. Hehe" senyum Ino sudah kembali walau masih harus dipaksakan.
"Nah, beginikan lebih baik kalau kau tersenyum dan jangan lupa semangat muda mu, Ino!"
"Hahaha, sepertinya kau mulai selingkuh dengan si alis tebal itu ya, sampai-sampai katanya masuk ke otak mu." Ya beberapa hari ini, Sakura selalu didekati oleh pegawai laki-laki bernama Rock Lee, teman sekantor yang saat ini duduk disebelah Sakura, menggantikan Ino yang sudah pindah ke ruangan Gaara. Dan selalu membuat Sakura merinding didekatnya. Biasa, ceramah pagi, semangat muda yang selalu diucapkan Rock Lee dan tentu saja alis tebal yang rasanya memiliki hormone pertumbuhan yang cepat. Walau dicukur akan tumbuh dengan pesatnya.
"Enak saja! Sasuke-kun tetap dihati ku dan dihati mu akan ada Sabaku-sama, hehe.. peace," goda Sakura dengan jari kanan membentuk huruf 'V' yang tentu saja membuat Ino salah tingkah dan mengejar Sakura yang sudah kabur.
"Awas kau ya, dekoriiiinnnn !"
.
.
.
"Huh! cepat juga si dekorin itu lari. Yah, secepat dia mengejar cinta Sasuke." Ino sudah masuk ke ruangannya. Masih tersengal-sengal mengatur nafas habis mengejar Sakura ditangga darurat. Mengejar dari lantai 2 ke lantai 4. Entah ada berapa banyak anak tangga yang ia tapaki. Dan yang paling gila mengejar dengan menggunakan sepatu highheels 7 cm.
"Hmm, apa ya agenda hari ini ?" Ino bertanya kepada dirinya sendiri. Entah karena suatu masalah membuatnya lupa akan apa yang ia kerjakan. Yang tidak punya masalah saja sering lupa (nunjuk-nunjuk Gaara ^_^ )
"Hari ini, ada meeting dengan perusaahan furniture e-gloss dari Eropa. Oke baiklah, siapkan materinya." Ino sudah hendak menuju tempat duduknya yang menghadap pintu tapi ia mendengar pintu dibuka. 'Gaara-sama selalu saja telat. Cihh,' gerutu Ino dalam hati.
"Sekarang anda akaaa… nn," baru saja Ino berbalik untuk memberitahukan jadwal agendanya pada Gaara. Tapi sayang bukan bosnya hari ini yang muncul.
"Shi-ka! Kenapa kau ada disini ?" Ino hampir saja terjungkal kebelakang melihat penampakan yang paling ia takuti muncul. Orang yang paling ia ingin hindari.
"Emm, aku ada kerjasama dengan Gaara, tapi sepertinya dia belum datang." Shikamaru tampak kikuk bertemu Ino. Ya memang sudah lama tak ada perbincangan antara mereka.
"Ooo, kau bisa menunggunya diruang meeting." Ino berusaha menutupi kegugupanya senormal mungkin, menunjukan tak ada yang terjadi.
"Ino, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." Shikamaru mulai menuju topik pembicaraan yang sebenarnya. "Tidak perlu, Shika. Bukankah ini terlalu troublesome untukmu ?" Ino mencoba menghindari topik-topik yang akan membuatnya menangis dan terlihat rapuh.
"Ya sedikit, tapi kumohon Ino. Apa yang terjadi kemarin malam bukanlah keinginanku." Wajah Shikamaru terlihat sendu. Lingkaran hitam disekitar matanya juga tampak sama dengan Ino.
"Apa itu terdengar penting?" Tanya Ino sarkatis.
"Terserah. Yang penting aku masih sangat mencintaimu Ino, selama ini aku selalu mengingat mu." Shikamaru mulai mendekati Ino. Tapi Ino malah mundur setiap langkah yang Shikamaru ambil.
"Lalu ? Jika kau masih mencintaiku. Apa semua akan menjadi baik-baik saja, Shika ? Aku rasa dengan otak jeniusmu kau pasti tau ini akan menjadi sia-sia. Buktinya walau kau mencintaiku, kau tetap melangsungkan pertunangan itu bukan ?" Tanya Ino mulai terpancing emosi kekecewaan. "Yah, tapi itu diluar keinginanku. Sungguh Ino. Aku menginginkan mu. Kerjasama antar perusahaan gila ini yang membuatku menjadi bodoh"
"Kerena kejadian kemarin. Aku sedang berusaha melupakan mu, Shika. Melupakan kenangan kita. Aku sadar menunggumu selama ini juga membuatku terlihat bodoh."
Tegar. Adalah sikap yang Ino ambil saat ini. Hanya mencoba untuk terlihat tegar, walau didalam hatinya benar-benar rapuh dan bisa saja dengan 1 sentuhan bisa membuatnya hancur berkeping-keping.
Shikamaru tau apa yang saat ini dirasakan Ino. Kekecewaan dan sakit hati. Shikamaru mendekat dan memeluk Ino, mendekapnya begitu erat. Meredakan tubuh Ino yang bergetar, tanda Ino menangis. Shikamaru hanya ingin seperti dulu, kebahagian bersama Ino.
"Tapi hanya kau yang bisa membuatku bahagia, Ino" ucap Shikamaru sambil menghirup aroma tubuh Ino. Sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Menenangkan.
Hampir saja Ino terbuai akan masa lalunya. Menerima perlakuan yang sama seperti dulu saat ia menangis. Ino melepas pelukan Shikamaru pelan. Mundur untuk memberi jarak yang jauh. "Tidak Shika. Masaku membahagiakan mu sudah lama berakhir. Sekarang saatnya kau yang harus membahagiakan seseorang yang mencintaimu, yaitu Temari-sama. Kau calon suaminya, Shika. Aku yakin suatu hari kau akan mencintainya melebihi kau mencintai ku. Jika aku punya waktu untuk menunggu mu, sepertinya aku juga punya waktu untuk melupakanmu."
Bohong. Kata-kata yang keluar tak sealur dengan kata hatinya. Entah ingin membohongi hatinya, mencoba tegar atau sebuah pengharapan agar Shikamaru bisa melupakannya.
Ino mengela nafas mengatur isakan tangisnya. Berbalik membelakangi Shikamaru. Megusap sisa air mata dan berpura-pura membereskan meja. "Sekarang kau bisa menunggu Sabaku-sama diruang meeting. Aku akan mencarinya dan memberitahukan kalau kau sudah menunggu."
"Hemm, baiklah Ino. Maaf " kata terakhir yang terdengar oleh telinga Ino. Entah suara itu akan terdengar kembali atau tidak. Hanya suara pintu menutup yang mengakhiri percakapan diantara mereka.
.
.
.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa dia belum cukup untuk menyakiti ku ? alasan cinta yang malah membuatku sakit. Dasar Nanas brengseekk !" Ino berusaha menguras segala emosi dan air mata yang masih tersisa dimatanya. Mencoba menenangkan diri didalam toilet.
"Hiks.. hiks,, aku juga masih mencintaimu, Shika. Dan kau masih ada dalam hati ku. Aku belum tau bagaimana cara melupakan mu, apakah ada cara melupakan mu ?" Pertanyaan yang harusnya tertuju pada Shikamaru, hanya mampu ia lontarkan didepan cermin. Mengisyaratkan bayangannya akan menjawab dan memberikan solusi padanya.
"Sudah ku bilang jangan terharu disini," ucap sesorang dengan memberikan sapu tangan ke arah Ino.
"Terima.. kasih ?" Ino menerima pemberian seseorang itu tanpa menoleh. Tapi Ino merasa curiga kepada seseorang itu. Dia tadi sudah memastikan bahwa toilet kosong. Lalu siapa seseorang dibelakangnya saat ini ? apa hantu penunggu toilet ? tapi kenapa suaranya terdengar serak-serak basah dan familiar ?
Sepertinya Ino harus segera ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan jantung, karena dia mengalami shock jantung 2 kali dalam sehari. "Garaa-sama ! kenapa anda ada disini? anda tidak sedang mengintip wanita kan ?" Tanya Ino dengan raut muka ketakutan, seperti baru saja melihat hantu penunggu toilet.
"Bodoh! Pikiran mu kotor sekali. Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gaara dengan wajah datar seperti biasanya.
"Saya masuk karena ini toilet wanita," jawab Ino sambil cepat-cepat mengusap sisa air mata dan ingus menggunakan sapu tangan pemberian Gaara.
Gaara hanya bisa menggelengkan kepala bosan dan menunjuk sesuatu dibelakang Ino. Ino mengikuti arah jemari Gaara dan melihat gambar yang terpajang dipintu bagian atas. Suatu simbol yang anak-anak juga tau. Ini adalah toilet… 'laki-laki'.
'Bodoh! bodoh kau Ino. Sudah berapa kali kau terlihat bodoh didepan Garaa –sama, Ino. Untung hanya dia yang ada ditoilet, bagaimana jika lelaki genit yang mempergoki mu.' Ino merutuki kecerobohannya yang tidak bisa hilang dari dulu.
"Ah benar juga, he-he. Maafkan saya Gaara-sama. Sepertinya saya harus pergi segera." Ino sudah akan kabur dari toilet, tapi..
"Tunggu! Apa kau benar-benar ingin melupakan dia ?" Tanya Gaara yang membuat Ino memiringkan kepala arti tak mengerti. "Hem, maksud anda Gaara-sama ? apa anda mendengar apa yang saya katakan tadi?"
"Ya begitulah. Mungkin aku punya solusi untuk itu. Walau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dan siapa 'dia' itu," ucap Gaara bersender ditembok dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. ( Ditoilet pun harus terlihat cool donk )
"Solusi ? Apa ?" Tanya Ino penasaran.
"Kau jadi kekasih ku."- Kau- jadi- kekasih-ku. Kata per kata masuk ketelinga Ino dan terangkai jadi satu diotaknya.
Krik.. krikk… alis kiri Ino berkedut.
"Bukankah kau ingin menghindarinya atau mungkin kau juga bisa melupakannya. Dengan kau memiliki kekasih baru kau bisa mewujudkannya," jelas Gaara.
"Jika itu memang solusi. Apa untungnya ?" walau ini bukan percakapan tentang hubungan bisnis. Tapi sebuah kesepakatan harus ada keuntungan dan kerugiannya bukan ?
"Pertama. Kau bisa membuatnya cemburu. Kedua. Perhatianmu bisa teralihkan dari dia. Dan yang ketiga. Aku tidak perlu melakukan perjodohan."
"Perjodohan ? apa keluarga anda suka melakukan perjodohan ?" Ino tidak habis pikir tentang keluarga terkaya Sabaku. Apa anaknya tidak ada yang bisa mencari jodoh sendiri. Perjodohan yang menguntungkan 1 pihak saja. Orang tua diuntungkan tapi perasaan anaknya tidak diperdulikan.
"Maybe." Gaara mengangkat bahunya. "Status kekasih akan putus saat kau sudah bisa melupakan dia atau perjodohanku dibatalkan." Sambung Gaara. "Kenapa anda tidak mencari wanita lain saja yang bisa anda jadikan pacar pura-pura?"
"Aku tak punya banyak waktu untuk mencari hal yang tidak penting. Bukankah ini suatu hal yang menguntungkan kedua belah pihak. Bagaimana ?"
"Hanya itu kesepakatannya ?" Tanya Ino memastikan. Dia tau kesepakatan ini ada keuntungan untuknya. Tapi dia tak mau dapat masalah setelahnya. "Ya. Aku memberikan solusi untuk membuatmu melupakan seseorang dan keuntungan pribadi ku juga. Bukan sebagai pengisi hati mu. Atau Kau ingin lebih dari itu ?" Tanya Gaara menunduk dan memajukan wajahnya ke arah Ino. Menyisakan jarak 3 cm. Untung saja tidak ada CCTV dikamar mandi.
"Ti-tidak. Aku setuju!" jawab Ino gugup. Wajahnya sudah memanas karena tidak AC didalam kamar mandi.
"Benarkah? Sebaiknya kau pikirkan dulu."
"Tidak perlu," jawab Ino cepat. Dia sudah pusing untuk mencari jalan keluar akan masalahnya. Selagi ada yang mau membantunya walau itu bosnya sendiri. Tak ada ruginya untuk mengambil kesempatan itu. Masa bodohlah.
"Oke. Deal my dear." Kecup bibir Gaara tepat dipipi kanan Ino. Sebuah tanda kesepakatan telah disetujui kedua belah pihak, tak perlu hitam diatas putih dan permainanpun dimulai.
"Sebaiknya kita keluar. Aku tak mau kau dikira sedang mengintip lelaki," ucap Gaara santai.
Kata-kata Gaara terdengar samar ditelinga Ino. Dia belum sadar akan apa yang baru saja terjadi. Mematung dengan wajah seperti kepiting rebus. Sedangkan Gaara hanya menaggapinya biasa dan pergi meninggalkan Ino.
Yaps. Takdir apa yang mereka buat? Akankan takdir itu sejalan dengan Tuhan rencanakan. Kebahagiaan dan penyesalan akan datang pada akhir keputusan yang kau pilih diawal. Sebelum kau tau apa rencana Tuhan pada akhirnya. Sudahkan kau membuat keputusan esok apa yang akan kau ambil ? pikirkanlah baik-baik.
TBC
OMG Hueellloo! Maaf ya kalau lama updatenya ( gak ada yang nungguin kok :'( )
Banyak kerjaan dikantor membuat saya gak update*.
Tapi khayalan tentang kelanjutan cerita masih mengalir deras dipikiran saya.
Semoga tidak ada yang kecewa dengan kelanjutan cerita ini.
Kritik dan saran ditunggu di kotak Review.
I love U All..
