ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.
CHAPTER 6
"Hah~ hah~, kenapa aku tiba-tiba mimpi buruk? Dan kenapa juga harus berkaitan dengan Gaara-sama!?" gerutu Ino heran yang baru terbangun dari tidur sorenya. Baru pukul 09.00 malam, tapi mata sudah terbuka dan alamat akan begadang menunggu kantuk datang lagi. "Sepertinya aku salah mengambil keputusan. Apa aku batalkan saja ya ?" Teringat kembali kesepakatan konyol yang dia buat dengan Gaara. Tapi salahnya sendiri kenapa bisa dengan cepat mengambil keputusan.
'Drrt.. Drrtt' Handphone Ino yang dimode silent terdengar bergetar diatas meja. Rasa kantuk yang tersisa dimata Ino merasa enggan mengangkat telfon, tapi karena sudah terlanjur mata terbuka, Ino mengangkat telfon tanpa melihat nama kontak yang muncul dilayar.
'Sedang apa ?' Kata pertama yang to the point didengar oleh Ino, tanpa harus bertanya siapa lawan bicaranya, Ino sudah tau pengganggu tidurnya, plus penyebab mimpi buruknya.
"Sedang mengalami mimpi buruk," jawab Ino malas dengan mata tetutup. 'Apa sudah lebih baik?' Tanya Gaara.
"Tidak, mimpi buruknya menjadi kenyataan," jawab Ino cuek.
'Benarkah ? mimpi buruk apa ?' Jarang sekali Gaara bertanya lebih dari satu kali dalam satu kalimat. Dan terdengar mengisyaratkan kekhawatiran.
Ino yang merasa aneh akan pertanyaan bosnya yang sok perhatian membuatnya curiga. "Tunggu! Kenapa anda tiba-tiba menelfon?"
'Sebenarnya merasa sedikit bersalah atas kejadian tadi' jelas Gaara.
"Sebenarnya anda tau siapa orang yang ingin ku hindari bukan ? tapi anda malah berpura-pura tidak tau dan malah memanfaatkan situasi!" Bukan merasa iba atas pengakuan dosa Gaara, malah membuat Ino bertanya akan apa yang ada dibenaknya tadi siang. Rasa kantuk pun terasa hilang berganti dengan emosi.
'Aku memang tidak tau. Tapi dari sikap mu padanya yang membuatku tau,' balas Gaara santai. 'Dan aku tidak memanfaatkan mu. Tapi lebih tepatnya menguntungkan,' lanjut Gaara.
"Hah !? Menguntungkan ? dari mananya ?" Tanya Ino sewot.
'Apa kau tidak lihat dia cemburu ? itu langkah awal yang bagus. Bukankah kau setuju tentang kesepakatan kita' Gaara mengungkit kesepakatan yang baru disetujui tadi pagi dikantor.
"A-aku ingin membatalkan kesepakatan bodoh ini!" Ino merasa jika kesepakatan itu tidak menguntungkannya dan akan membawanya kedalam masalah yang rumit. Apalagi Gaara tau siapa orang yang ingin ia hindari, yang tak lain dan tak bukan adalah calon kakak iparnya sendiri. Ino takut jika ia merasa akan dipermainkan oleh Gaara nantinya dengan dalih bukan membantunya tapi malah membantu Temari untuk lebih dekat dengan Shikamaru.
'Tidak bisa. Kau sudah ku beri kesempatan untuk berfikir, tapi kau menolak. Jadi, mulai asah akting mu. Drama sabun mu tadi jelek sekali.'
"Apa ? jadi yang tadi itu hanya akting ?" Entah ia bodoh atau polos saat ini. Tidak merasa jika ia tadi sedang diajak ke dalam sebuah permainan tanpa ia tau sudah siap atau belum.
'Kau pikir sungguh-sungguh ? Kheh, jangan berharap.' Ino dapat mendengar suara tawa kemenangan diseberang sana. Tertawa ? Gaara tertawa ? ah tidak mungkin, pasti dia sedang berkhayal.
"Siapa yang berharap ? Dasar bos seenaknya sendiri!" Ino menjulurkan lidah ke arah layar telfon, untung bukan video call.
'Hmm. Lebih baik kau tidur. Jangan mimpi buruk lagi. Good night dear' kata akhir dari sang penelfon dengan suara lembutnya. Entah kenapa menjadi penenang emosi Ino yang baru meluap.
"Heh? Dia kenapa sih. Sedikit-sedikit baik. Lalu tiba-tiba seenaknya sendiri, lelaki yang sulit dimengerti." Ucap Ino ke arah layar telfon di depannya. Layar sudah hitam yang artinya ada yang memutuskan telfon terlebih dahulu.
"Arrgh! Aku harus bagaimana ?!" erang Ino menekan pipinya.
.
.
=:= FLASHBCK=:=
"Hai, Shikamaru. Maaf lama menunggu," sapa Gaara saat bertemu Shikamaru yang sudah menunggu diruang meeting.
"Oh. Tidak apa-apa," jawab Shikamaru santai.
"Baiklah. Silahkan duduk. Kita akan membahas kualitas bahan furniture yang kita buat dan perhitungan export yang kita lakukan…. "
"Bagaimana pendapatmu Shika ?" Tanya Gaara yang baru saja mempresentasikan bahasan meetingnya. Tapi Gaara tau jika calon kakak iparnya itu dari tadi tak memperhatikan sama sekali. "Ee.. ya cukup menguntungkan" jawab Shikamaru dengan menggaruk tekuknya.
"Baiklah. Kita kan membahasnya lebih lanjut saat kita ke pabrik pembuatan furniture."
"Ya," Jawab Shikamaru tanpa menoleh pada Gaara yang ada didepannya. Masih menatap sesuatu objek yang tak bisa membuatnya berpaling. "Sepertinya kau sedang lelah hari ini Shika atau kau sedang merindukan kakak ku ?" Goda Gaara dengan senyum yang dibuat-buat.
"Oh. Ya aku sedikit lelah karena acara kemarin." Bohong Shikamaru.
"Hmm. Oh ya Ino kau jadwalkan untuk keberangkatan ku ke pabrik e-gloss di Singapore minggu depan," ucap Gaara kepada sekretarisnya yang berjarak 3 bangku disebelahnya.
"Baik. Gaara-sa. Eh, maksud saya Sabaku-sama." Ino sudah terlanjur keceplosan memanggil bosnya dengan nama kecilnya. Terdengar begitu akrab. Membuat seseorang merasa heran disana.
"Kau tak perlu seperti itu, Ino. Panggil aku seperti biasanya," ucap Gaara dengan senyum lembut pada Ino.
"Sepertinya kalian akrab sekali." Entah mengapa Shikamaru merasa terganggu dengan kedekatan dua orang didepannya. "Memang. Karena aku tidak hanya sebagai bosnya. Tapi juga kekasihnya." Ujar Gaara santai.
"Hah ?"
"Gaara-sama !?"
Sebuah kalimat yang menjadi bom atom bagi Shikamaru dan Ino yang mendengarnya. Sedangkan yang mengucapkan hanya santai saja tanpa ekpresi seperti biasanya.
"Sepertinya kita tak perlu menyembunyikan hubungan ini dari kakak iparku sendiri, Ino." Gaara berdiri mendekati Ino dan berhenti dibelakang Ino. Menumpukan kedua telapak tangannya ke pundak Ino.
"Bukankah kalian baru saja bertemu, dan kalian bos dengan sekretaris, bukan ?" Tanya Shikamaru penasaran.
"Apa itu perlu dijelaskan, Shika? Kau lebih tau arti cinta dibandingkanku. Cinta tak ada perbedaan. Aku mencintainya pada pandangan pertama. Seperti kakakku pada mu."
"Dan apa Ino mencintaimu ?" Tanya Shikamaru pada Gaara. Mencari kepastian akan apa yang baru saja ia tau. Namun bukan sebuah kepastian yang ia harapkan tapi sebuah jawaban untuk hatinya yang merasa cemburu. "Sepasang kekasih harus saling mencintai bukan? Daripada berdusta untuk mencintai seseorang. Kau bisa menanyakan langsung pada Ino?"
'Kenapa Gaara-sama tiba-tiba berkata seperti itu ? Apa maksudnya ? Apa yang harus kulakukan ?' banyak pertanyaan yang Ino ucapkan dalam batinnya, walau tau tak ada yang menjawabnya bahkan ia sendiri. Ino hanya bisa menatap jemari yang saling terkait di pahanya, saling berperang jempol. Mengatasi kegugupan yang ia hadapi saat ini. Ino juga tak sanggup menatap ke arah Shikamaru yang terus terarah kepadanya sejak tadi. Dan ia tak mampu mendongak mencari perlindungan kepada Gaara yang ada dibelakangnya.
"Kau mencintainya, Ino ?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Shikamaru tiba-tiba ke arah Ino. Pertanyaan yang lebih sulit mencari jawabannya daripada matematika.
Ino tak tau harus mengucapkan apa, lidahnya kelu. Jika ia jujur, bahwa masih mencintai Shikamaru. Pasti Shikamaru akan membuatnya sakit lagi dengan memintanya ia kembali kepelukannya, tapi jika ia berbohong dan berkata mencintai Gaara, pasti akan membuat Shikamaru sakit hati. Kami-sama ! Tolong ! Kata apa yang harus ku keluarkan dari mulut ini ?
"Ya. Aa-aku mencintainya." Jawaban yang menggantung dari Ino.
"Mencintai siapa?" Tanya Shikamaru menguratkan ekpresi kecewa diwajahnya.
"Aku mencintai Gaara-sama!" ucap Ino cepat dengan wajah menunduk dan memejamkan mata rapat-rapat.
"Oh, baguslah. Temari pernah bilang kalau kau tidak pernah dekat dengan perempuan. Aku senang kau bisa memiliki hubungan. Sebaiknya kau menjaga dan jangan menyakiti Ino, dia kelihatannya baik." Kata-kata nasehat yang malah keluar untuk menenangkan hati Shikamaru kepada Gaara. Tak lupa membubuhkan senyuman getir sebagai pelengkap, agar tak ada yang tau dia merasa sakit mendengar penjelasan Ino.
"Ya, aku akan menjaganya, aku tidak akan meninggalkannya. Kau juga tidak akan meninggalkan kakakku kan ?"
"Aaa..," Shikamaru bingung harus menjawab apa. Selama kebingungannya mencari kata-kata, Gaara berucap, "Kau sudah pasti tidak akan meninggalkannya, kau sudah tinggal serumah dengan kakakku bukan ?"
"Ya." hanya itu yang mampu mempertegas pertanyaan Gaara. Walaupun bukan pengganti kata janji untuk terus bersama Temari.
Ino yang mendengar itu hanya merasa sesuatu telah mencabik dadanya. Rasa cemburu, rasa iri, rasa tak terima akan kebersamaan pasangan tunangan baru itu membuatnya sesak. Tapi ia tak tau jika perasaan sesak juga dialami oleh Shikamaru.
"Hn. Sebaiknya aku pergi dulu, Gaara. Aku harus kembali kekantor. Sampai jumpa lagi." Jabat tangan Shikamaru ke Gaara. Mengakhiri rapat kerjasama antara dua perusahaan dan juga rasa tak enak yang mendera hati antara 2 insan yang membohongi hati masing-masing.
"Terimakasih, Shikamaru." Balas Gaara.
Shikamaru pergi meninggalkan ruang meeting tanpa menoleh atau menyapa Ino. Menatapnya lagi membuat lebih sakit.
.
.
.
"Gaara-sama, apa yang anda lakukan tadi?!" Tanya Ino dengan kesal atas sikap Gaara yang berlebihan tadi.
"Rapat."
Ino semakin geram dengan kelakuan bosnya yang tidak menentu, kadang cerewet , kadang juga pendiam. "Bukan itu. Maksud ku apa yang anda katakan pada Shikamaru-sama ? kenapa anda berbohong ?"
"Kau juga berbohong."
"Berbohong apa ?"
"Entahlah, hanya hati mu yang tau," jawab Gaara dengan mengangkat bahunya. "Anda mau kemana Gaara-sama?" Tanya Ino saat Gaara mau meninggalkan ruangan.
"Aku mau menemui seseorang dulu. Jangan lupa kerjakan tugas laporan presentasi mu untuk minggu depan." Gaara yang tak ingat akan jadwalnya sendiri malah mengingatkan tugas orang lain.
"Ya-ya."
=:= FLASHBCK END =:=
.
.
Azabu Apartement, 21.30.
"Tadaima," salam sesorang yang baru saja masuki kediamannya, meletakkan sepatu begitu saja. Tergambar diraut wajahnya jika si pendatang sedang lelah.
"Okaerinasai, Shika!" balas seorang wanita berkucir empat berbalut celemek ungu bermotif bunga yang senang mendapati ada yang datang, seseorang yang ia tunggu kepulangannya sejak tadi, terlihat rasa rindu terpancar dari senyumnya. "Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya si wanita itu begitu melihat pasangannya pulang terlambat tidak seperti biasanya.
"Maaf, aku tadi sedang sibuk dikantor," jawab si laki-laki berambut nanas ke arah wanitanya. Shikamaru tertegun melihat penampilan yang tersaji didepannya. Celemek ungu motif bunga. Sama seperti milik mantan kekasihnya dulu. Persis. Celemek yang Ino gunakan saat masak bersama dirumah Shikamaru.
'Cih. Saat kau tak bersama ku pun, ternyata kenangan mu tetap membayangi ku, Ino' batin Shikamaru mereplay kejadian masa lalu.
"Ya tak apa-apa. Sekarang mandilah, aku akan menyiapkan makan malam mu," sahut wanita yang baru saja menjadi tunangan sah Shikamaru kemarin malam. Temari, tanpa membuang banyak waktu langsung mempersiapkan barang-barang miliknya ke rumah Shikamaru dan tanpa perlu persetujuan dari sang empu. Temari sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bersama pujaan hatinya. Layaknya sudah seperti sang istri idaman, Temari menyiapkan segala sesuatunya untuk Shikamaru. Dari baju kerja, makanan yang akan disantap Shikamaru, air panas dan berencana mendesign ulang dekorasi setiap ruang dirumah Shikamaru. Tentu saja Shikamaru setuju-setuju saja, dari pada berdebat dengan wanita, yang tentu saja akan merepotkan, maka Shikamaru lebih memilih diam.
"Aku sudah makan, Temari. Kau makan sendiri saja. Aku lelah." Shikamaru masuk ke kamar tanpa memberi sambutan special untuk Temari. Sebuah kecupan ataupun senyuman.
"Oo, baiklah. Air panas sudah ku siapkan." Temari hanya bisa memajukan bibirnya saja seperti anak kecil yang tak diberi permen oleh ayahnya. Sambutan yang hampa.
'Oke baiklah, Shika. Lihat saja ! Aku akan membuat mu tergila-gila padaku!'
.
.
.
'Shzzz… shzzz….' Pancuran air shower yang dingin membasahi tubuh Shikamaru. Mendinginkan tubuh yang merasa lelah dan medinginkan otaknya yang panas. Mengurangi sedikit beban yang ia rasakan. Air panas yang disiapkan Temari dibiarkan saja mendingin dibathup.
'Dug.' Hantaman kepalan tangan Shikamaru ke arah tembok. 'Mendokusai' hanya ucapan trendmarknya yang mewakili kekesalan yang dialaminya.
'Aku mencintai Gaara-sama!'
'Aku mencintai Gaara-sama!'
'Aku mencintai Gaara-sama!'
Kata-kata Ino masih terngiang jelas dibenak Shikamaru. Berdengung terus menerus membuat amarahnya semakin bertambah. Shikamaru terbiasa mengendalikan emosi dan perasaannya dibalik sikap cuek dan pemalas yang menjadi topengnya. Tapi entah kenapa sekarang ia tak bisa mengendalikan amarahnya. Bahkan hanya karena rasa cemburu. Bukan 'hanya', tapi banyak perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Dan itu semua tentang Ino.
"Apa ini alasan yang membuatmu tak mau kembali padaku Ino ?"
"Atau hanya sebuah kebohongan untuk menghindari ku ?" gerutu Shikamaru mencari jawaban yang seharusnya ia tujukan pada Ino.
"Lalu apa yang beda dengan diriku?"
"Aku yang membuatmu menjauh dari ku dan aku juga telah membohongi perasaan ku. Apa aku harus sembunyi dan membuat waktu berlalu dengan kebohongan yang tersimpan rapi atau aku harus mengubah takdir sebelum waktu berjalan?" Tanya Shikamaru dalam butiran tangis yang menyatu dengan tetesan air. Menyamarkan jejak kesedihan dan kepiluannya.
"Arrgg, shiit !"
'dug'
.
.
Benar kata orang, kita akan merasa kehilangan saat orang itu jauh. Tapi disaat dia masih bersama kita, terlalu banyak alasan untuk menghindarinya.
Apa kau ingin benar-benar memohon pada Tuhan agar rencanamu berjalan lancar atau memohon agar rencana Tuhan menjalankan rencana-Nya yang terbaik untuk mu.
Hanya kau yang bisa memilih.
Teret.. teret.. Sswiiiwiittt... aku hadir lagi… melanjutkan next chapter yang tertunda publishnya.
YA AMPUUN ! YA REMPONG !
kenapa website FFN gak bisa dibuka ?!
aku hampir putus asa untuk meninggalkan cerita yang ku anggurin beberapa bulan ini.
Tapi ternyata setelah berusaha dan berjuang untuk mencari solusi di mbah Google, akhirnya dapat juga caranya, ternyata banyak juga yang mengalaminya, ku pikir masalahnya diinternet, atau diproxy, maklum iploadnya pake komputer kantor.. hehehe
Waahhh, klo tau ada solusi buka FFN ini dari dulu, udah upload dari dulu.. :(
Buat yang nungguin ya sabar yaa,, buat yang enggak nungguin yaa tetap sabar aja deh, hehehe..
Thanks & Regards,
Love U All.
